cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts)
ISSN : -     EISSN : 23386770     DOI : https://doi.org/10.24821/resital
Core Subject : Humanities, Art,
Resital : Jurnal Seni Pertunjukan merupakan jurnal ilmiah berkala yang ditujukan untuk mempublikasikan karya ilmiah hasil penelitian, pengembangan, dan studi pustaka di bidang seni pertunjukan. Jurnal Resital pertama kali terbit bulan Juni 2005 sebagai perubahan nama dari Jurnal IDEA yang terbit pertama kali tahun 1999.
Arjuna Subject : -
Articles 303 Documents
Adaptasi Konserto pada Ensambel Gitar sebagai Upaya Pengayaan Bahan Ajar Matakuliah Ensambel Andre Indrawan
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.971 KB) | DOI: 10.24821/resital.v16i2.1509

Abstract

Penelitian ini membahas sebuah upaya pengembangan formasi ensambel gitar dalam rangka pencapaian suatu kesetaraan artistik terhadap penyajian sebuah konseto untuk orkestra dan solois instrumen tiup. Proses penelitian ini diterapkan dalam konteks pembelajaran dan pengajaran paket mata kuliah Koor/ Orkes/ Ensambel (KOE) pada kurikulum pendidikan tinggi musik di Indonesia. Permasalahan utama yang dibahas dalam studi ini ialah bagaimana menerapkan repertoar orkestra pada sebuah ensambel gitar? Tujuan dari pemecahan masalah tersebut ialah untuk memperkaya materi pengajaran ensambel gitar yang termasuk salah satu kelompok studi dari paket kelas-kelas KOE. Kontribusi hasil penelitian ini adalah rekonstruksi model pembelajaran ensambel gitar dari tingkat menengah hingga tinggi. Guna mencapai target yang telah ditetapkan, penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kombinasi metodologis di antara metode transkripsi musikologis dengan metode tindakan kelas yang diadopsi pada studi material dan proses belajar ensambel gitar. Permasalahan yang teridentifikasi disimpulkan dengan pembuatan prototipe aransemen baru sebagai alternatif materi pengajaran melalui proses pengolahan editorial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keterbatasan gitar dalam menghasilkan kesetaraan terhadap kulalitas artistik orkestra dapat diatasi tidak hanya dengan mentranskrip reduksi pianonya tapi langsung dari skor orkestranya. Oleh karena itu, ensambel gitar dapat menjadi alternatif yang lebih baik dari versi pengiring piano dalam menyajikan sebuah konsert The Adaptation of Concerto on a Guitar Ensemble as the Enrichment Effort of the Ensamble Teaching Materials. This study discusses an effort in developing guitar ensemble formation in order to achieve an artistic equality to the performance of a concerto for orchestra and wind soloist. This is applied in the context of Indonesian higher music education’s curriculum for the class room teaching and learning of the choir/ orchestra/ ensemble (COE) subject package. The main problem discussed in this study is how to apply an orchestral repertoireire to an ensemble guitar? The purpose of this study is to enrich the teaching material of guitar ensemble, which is one among the COE classes. The result of this study is contributed to the reconstruction of guitar ensemble teaching model from middle to higher grades. To achieve the target that have formerly been set, this study has combined musicological transcription method and the class room action research which are adopted to research material study as well as guitar ensemble learning process. Problems that had identified was concluded by prototyping the new arrangement through transcription process from the concerto repertoire as the teaching material alternative, by editorial treatment. This study concludes that the guitar limitedness to result the equality with the orchestral artistic quality could be overcome not by transcribing from its piano reduction but directly from orchestral score. Because of that reason, guitar ensemble could be a better alternative to the piano accompaniment in performing a concerto for a wind solist, and at the same time it enriches guitar ensemble repertoire.
Pyang Pyung: Sebuah Komposisi Karawitan Anon Suneko
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 17, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.327 KB) | DOI: 10.24821/resital.v17i1.1690

Abstract

Karya seni “Pyang Pyung” ini merupakan apresiasi seni musik gamelan Jawa yang sesungguhnya tidak statis, namun tetap dapat dikembangkan seiring kemajuan zaman. Minoritas kempyang dalam instrumen gamelan merupakan potensi yang diolah sehingga karya ini merupakan wujud dari keinginan penulis untuk menunjukkan makna subyektif dari benda yang begitu kecil sehingga bisa membawa potensi luar biasa sebagai subyek seni dalam penciptaan musik. Adanya polaritas dan estetika antara siliran dan musikalitas kêmpyung sebagai jenis kombinasi dua nada, dipandang oleh penulis sebagai dua titik menarik kontras dalam dinamika penciptaan karya seni, terutama komposisi karawitan. Kêmpyang dan kêmpyung adalah dua bentuk kombinasi nada yang bisa disesuaikan untuk saling melengkapi dan keduanya berperan dalam membangun dinamika musik gamelan melalui efek suara dan karakter yang mampu diciptakan. Keduanya merupakan potensi dari substansi dasar musikal karawitan dimana kontras setiap efek suara yang nampaknya seimbang sesuai dengan persepsi estetika penyajian dan orientasi penulis melalui penciptaan komposisi musik yang menggabungkan kedua kombinasi seperti dua hal berlawanan yang saling melengkapi dalam keseimbangan harmoni komposisi musik nusantara.
Peranan Metode Eurhythmics Terhadap Peningkatan Kreativitas Gerak Oriana Tio Parahita Nainggolan
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 16, No 3 (2015): Desember 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.028 KB) | DOI: 10.24821/resital.v16i3.1677

Abstract

Penelitian ini mengkaji peranan metode pembelajaran musik eurhythmics terhadap peningkatankreativitas gerak anak usia 0,8 - 10,0 tahun. Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk membuatatau menciptakan sesuatu yang baru dari apa yang telah ada maupun yang belum pernah ada, yang secaraoperasional tercermin dari kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas dalam berpikir, serta kemampuanuntuk mengelaborasi. Kreativitas dapat dipelajari dan ditingkatkan. Salah satu cara dalam meningkatkankreativitas adalah melalui pembelajaran musik. Penelitian ini menggunakan desain penelitian RandomizedGroup Pretest-Posttest, dimana pengukuran kreativitas gerak dilakukan pada saat sebelum dan sesudahdilakukan pembelajaran musik dengan menggunakan metode eurhythmics. Analisis data yang digunakanadalah T-test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode eurhythmics memiliki peranan dalampeningkatan kreativitas gerak anak usia 0,8 - 10,0 tahun.
Transmisi Kelentangan dalam Masyarakat Dayak Benuaq Eli Irawati
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 17, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1076.945 KB) | DOI: 10.24821/resital.v17i1.1686

Abstract

Kelentangan merupakan praktik musikal masyarakat Dayak Benuaq yang masih berkembang hingga saat ini. Musik ini diwariskan dari generasi ke generasi.  Artikel ini bertujuan untuk memaparkan aspek-aspek transmisi kelentangan meliputi konten, pelaku, dan mekanisme transmisi. Pelaku utama dari transmisi kelentangan ialah para pemusiknya, sedangkan kontennya yang utama adalah kelentangan itu sendiri sebagai praktik musikal. Kelentangan ditransmisikan hampir selalu secara tidak disadari, baik oleh guru maupun murid. Guru melakukan eksternalisasi, sementara murid mengalami internalisasi. Proses ini umumnya terjadi dalam setting informal kehidupan masyarakat Dayak Benuaq, misalnya dalam ritual pengobatan, berbagai pesta, dan peristiwa-peristiwa lain, bukan dalam sebuah setting pembelajaran yang formal.
Aluang Bunian Karawitan Minangkabau dalam Pamenan Anak Nagari dari Penyajian Bagurau ke Presentasi Estetik sri rustiyan
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.392 KB) | DOI: 10.24821/resital.v16i2.1510

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami peristiwa musik dalam masyarakat Minangkabau dari perspektif budaya. Dalam kajian budaya, semiotika dan estetika tidak dapat dipisahkan. Kekuatan menafsir, memahami, menginterpretasi, dan menganalisis merupakan hal utama dalam penelitian budaya. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa kesenian tradisi di Minangkabau disebut pamenan anak nagari karena merupakan kesenian tradisi yang tumbuh dan berkembang di tengah kehidupan rakyat dan dimainkan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, sedangkan karawitan Minang disebut sebagai aluang bunian karena berbentuk musik (bunyi-bunyian). Peran dan fungsi aluang bunian sebagai hiburan masyarakat Minang dikenal dengan istilah bagurau yaitu acara kesenian yang diadakan semalam suntuk, dimulai dari setelah sholat isya’ hingga menjelang subuh. Bagurau adalah bentuk seni pertunjukan tradisi lisan yang merupakan salah satu ciri khas budaya Minangkabau. Dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan, teknologi, dan konsep estetik aluang bunian (karawitan Minang) tidak hanya sekedar hiburan pamenan anak nagari tetapi mengalami perkembangan dengan mempertimbangkan kaidah-kaidah sebagai presentasi estetik. The Minangkabau Karawitan of Aluang Bunian in Pamenan Anak Nagari from the Performance of the Aesthetic Presentation Bagurau. Traditional arts in Minangkabau in general are called pamenan anak nagari. The phrase implies the fact that it originated in Minangkabau or Minang folk culture, grew as one of traditional aspects of Minangkabau folk group, and performed by and for the group. Karawitan or traditional musical arts in Minangkabau is called aluang bunian that means musical sounds. An aluang bunian which is presented as an entertainment for Minang people is called bagurau. Bagurau is performed as a cultural event that goes on from dusk (after the evening prayer) till dawn (before the fajr prayer). It is a kind of performing arts—among many other kinds of arts in Minang oral tradition—that exemplifies Minangkabau tradition. Throughout periods of development in science and technology, aluang bunian (Minang karawitan) has underwent an enhancement in its aesthetic values in that it is no longer considered a mere entertainment of pamenan anak nagari but a richer aesthetic presentation with its guiding principles. This article presents cultural, semiotic, and aesthetic studies in which the three contributory aspects (culture, semiotics, and aesthetics) are inseparable since cultural studies involve comprehensions of significations and aesthetic values derived from meaning and sensibility. The abilities in interpreting, inferring, understanding, and analyzing play important role in qualitative research where descriptive analysis method is employed.
Garap Gending Sekaten Keraton Yogyakarta Subuh Subuh
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 17, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1765.433 KB) | DOI: 10.24821/resital.v17i3.2227

Abstract

Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi garap gending sekaten keraton Yogyakarta. Metode deskriptif analitis digunakan untuk menganalisis unsur-unsur musikal gending melalui transkripsi notasi dan analisis garap. Gending Sekaten Keraton Yogyakarta merupakan salah satu jenis gending tradisi pakurmatan yang memiliki keunikan garap dan fungsi penting dalam upacara ritual. Gending Sekaten menjadi bagian integral dalam tata upacara Keraton Yogyakarta. Dalam sebuah catatan dari masa Sultan Hamengku Buwono VIII, ditulis 63 titi laras gending, 16 di antaranya adalah gending khusus untuk sekaten yang ditulis lengkap dengan racikan yang digunakan dalam penyajian gending tersebut. Selebihnya adalah gending-gending mares (mars) atau gending gati. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa bahwa faktor yang mempengaruhi garap gending sekaten adalah keharmonisan antar unsur garap yang didominasi oleh pembonang sebagai pimpinan penggarap, karena bonang berfungsi sebagai pamurba lagu dan pamurba wirama, sedang pengrawit lainnya merupakan pendukung yang berkontribusi dalam suatu kerja kolektif untuk mewujudkan sajian yang ideal.
Ornamentasi Seni Baca Al-Qur’an dalam Musabaqoh Tilawatil Qur’an sebagai Bentuk Ekspresi Estetis Seni Suara Suryati Suryati; G.R.Lono L. Simatupang; Victor Ganap
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.059 KB) | DOI: 10.24821/resital.v17i2.2219

Abstract

Ornamentasi atau hiasan merupakan suatu istilah musik yang memiliki arti penambahan beberapa nada atau notasi pada melodi, biasanya satu suku kata untuk beberapa nada yang disebut dengan istilah melisma. Ornamentasi atau hiasan nada sangat diperlukan dalam seni suara untuk memperindah suatu melodi. Ornamentasi melodi juga terdapat pada lantunan seni baca Al-Qur’an dengan gaya Qira’ah atau mujawwad. Seni baca Al-Qur’an tersebut melagukan secara penuh melismatis dengan hiasan-hiasan atau ornamentasi melodi agar lantunan menjadi indah. Seni baca Al-Qur’an termasuk seni suara yang sering dilombakan dalam Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ).  Penelitian ini mengkaji ornamentasi melodi dan cara-cara melantunkan seni baca Al-Qur’an dalam Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ), melalui pendekatan musikologis dan antropologis perilaku pelantun Al-Qur’an. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ornamentasi yang terjadi pada lantunan seni baca Al-Qur’an dengan gaya Qira’ah merupakan bentuk ekspresi estetis seni suara dari Pelantun Al-Qur’an (Qori/Qoriah) sesuai kemampuan dan kreativitas pelantun dalam berolah vokal. Ornamentation the Art of Qur’anic recitation in Musabaqoh Tilawatil Qur’an as a Form of Aesthetic Expression of the Art of Sound. Ornamentation is a musical term that means adding a few notes or notation on the melody, normally one word for several notes known as the melisma. Ornamentation or ornamented notes are needed in the art of sound to reshape a melody. There are also additional melodic chanting on the art of Qur’anic recitation in the style the Qira'ah the mujawwad. The art of Qur’anic recitation practice in full melismatic with decorations or additional melodic chant in order to be beautiful. The art of Qur’anic recitation includes the sound art that is often competed in the Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ). This research examines melodic ornamentation and the ways art of Qur’anic recitation practiced in the Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ), through musikological and anthropological approaches to the behavior of in reading. The results of this study suggest that ornamentation piece of art that happens to read the Qur'anic in style is a form of aesthetic expression the art of sound of Qira'ah of its Chanter (Qori/Qoriah) fits the ability and creativity of chanter in doing the vocals.
Mangandung dalam Perkabungan Masyarakat Batak Toba Rosmegawaty Tindaon; G.R. Lono Lastono Simatupang; Victor Ganap; Timbul Haryono
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 17, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (726.165 KB) | DOI: 10.24821/resital.v17i3.2230

Abstract

Menurut kepercayaan masyarakat Batak Toba kematian bukan sebuah totalitas tetapi sebuah perpisahan parsial. Ada kepercayaan bahwa kematian tidak pernah memisahkan manusia secara total, hal ini terungkap lewat ritual yang dilakukan saat anggota keluarga meninggal, konteks kematian dalam masyarakat Batak Toba adalah adat istiadat mereka. Salah satu ritual adat kematian adalah kebiasaan mangandungi jenazah.Mangandung adalah salah satu ritual kematian yang berasal dari kata andung yang artinya ratap. Kebiasaan mangandungi pada masyarakat Batak Toba berkembang menjadi kesenian yang dikenal dengan tradisi nyanyian andung. Tradisi mangandung dianggap sebagai bagian dari adat dan tergolong penting sebagai bentuk ekspresi kesedihan dengan kata kata dan irama tertentu. Penelitian ini menggunakan metode etnografi.The Cosmology of Tetabuhan in Ngaben Ritual Ceremony. According to the Batak Toba community belief death is not a totality but a partial separation. There is a belief that death never separates humanity totally, it is revealed through the ritual performed when family members died, the context of death in Batak Toba society is their custom. One of the customary rituals of death is the habit of mangandungi bodies. Mangandung is one of the rituals of death that comes from the word that means grandmother wailed.The habit of mangandungi in Toba Batak society developed into an art known as the singing andung tradition. Tradition mangandung is considered as part of custom and is important as a form of expression of sadness with certain words and rhythms. This research used ethnography method.
Lareh Koto Piliang: Sistem Kekuasaan dan Musik Perunggu Dalam Kajian Konsep Estetika Musikal di Luhak Nan Tigo Mingkabau Andar Indra Sastra
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (724.111 KB) | DOI: 10.24821/resital.v17i2.2220

Abstract

This article aims to discover the concept of Lareh Kotopiliang: Power Systems and Bronze Music in a Study of the Concept of Musical Aesthetics in Luhak Nan Tigo Minangkabau. Lareh Kotopiliang is oriented towards a royal or autocratic system of power, in which the primary figure holds the title of Dt. Katumangguangan. A legendary figure, Dt. Katumangguangan is believed to be the one who first implemented this autocratic system of power or leadership. There are two types of bronze music, namely oguang and talempong. From the aspect of performance, there are two different concepts: (1) oguang (a gong ensemble); and (2) talempong bararak (processional music). As an ensemble, oguang is played on top of a frame (rea), with gandang palalu and paningkah, six talempong, and two gongs. Talempong bararak is performed in procession – in declaration of the title of a headman, and musically is made up of three pairs of talempong – talempong jantan, talempong paningkah, and talempong pangawinan. Each of the talempong pairs plays a different rhythmic pattern, and the combination of the three patterns forms the characteristic melody of talempong bararak. The problems addressed in this article are: first, the traditional historiography of Lareh Koto Piliang as part of the trilogy of power in Luhak Nan Tigo Minangkabau; second, Lareh Koto Piliang and the concept of bronze music; and third, the musical concept of talempong bararak.
Musik Panting di Desa Barikin Kalimantan Selatan: Kemunculan, Keberadaan dan Perubahannya Lupi Anderiani
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 17, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1220.137 KB) | DOI: 10.24821/resital.v17i3.2229

Abstract

Panting is a musical practice of South Kalimantan, Indonesia. The term "Panting" itself either the name of a plucked-lute instrument and of a musical ensemble. Such ensemble emerged ca the 1980s among the Barikin people of South Kalimantan. This study, using the ethnomusicological approach which is emphasized on fieldwork, is aimed to examine the emergence and change of Panting music. Based on the analysis, it appears that the emergence of Panting music is primarily caused by a creative act of its pioneer in response to the existing musical practices. The music is undergoing a number of changes in terms of the functions of music, performance, construction of panting instrument,  and pattern of transmission. These changes are mainly due to the personal desire of the musicians as well as the allowances of surrounding cultural circumstances.Panting merupakan sebuah praktik musik yang berasal dari Kalimantan Selatan, Indonesia. Istilah “Panting” memiliki dua arti, yakni, pertama, sebagai nama sebuah instrumen berdawai yang dimainkan dengan cara dipetik; dan, kedua, nama dari sebuah ansambel musik. Musik Panting muncul sekitar tahun 1980-an. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnomusikologis dengan menekankan pada kerja lapangan, bertujuan untuk menelaah kemunculan dan perubahan musik Panting. Berdasarkan analisis, terlihat bahwa musik Panting terutama muncul sebagai hasil laku kreatif seniman pelopornya dalam menanggapi praktik-praktik musik yang sudah ada. Dalam perjalanannya musik ini mengalami sejumlah perubahan, yakni dalam hal fungsi musik, bentuk penyajian, konstruksi instrumen, dan pola transmisi. Perubahan ini terutama disebabkan oleh keinginan personal para musisinya dan juga kondisi lingkungan kultural yang memungkinkan.

Filter by Year

2008 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 3 (2025): Desember 2025 Vol 26, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 26, No 1 (2025): April 2025 Vol 25, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 25, No 2 (2024): Agustus 2024 Vol 25, No 1 (2024): April 2024 Vol 24, No 3 (2023): December 2023 Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023 Vol 24, No 1 (2023): April 2023 Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022 Vol 23, No 2 (2022): Agustus 2022 Vol 23, No 1 (2022): April 2022 Vol 22, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 22, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 22, No 1 (2021): April 2021 Vol 21, No 3 (2020): Desember 2020 Vol 21, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 21, No 1 (2020): April 2020 Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019 Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 20, No 1 (2019): April 2019 Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018 Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018 Vol 19, No 1 (2018): April 2018 Vol 18, No 3 (2017): Desember 2017 Vol 18, No 2 (2017): Agustus 2017 Vol 18, No 1 (2017): April 2017 Vol 17, No 3 (2016): Desember, 2016 Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016 Vol 17, No 1 (2016): April 2016 Vol 16, No 3 (2015): Desember 2015 Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015 Vol 16, No 1 (2015): April 2015 Vol 15, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 14, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 13, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 11, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 11, No 2 (2010): Desember Vol 10, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 10, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 9, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 9, No 1 (2008): Juni 2008 More Issue