cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts)
ISSN : -     EISSN : 23386770     DOI : https://doi.org/10.24821/resital
Core Subject : Humanities, Art,
Resital : Jurnal Seni Pertunjukan merupakan jurnal ilmiah berkala yang ditujukan untuk mempublikasikan karya ilmiah hasil penelitian, pengembangan, dan studi pustaka di bidang seni pertunjukan. Jurnal Resital pertama kali terbit bulan Juni 2005 sebagai perubahan nama dari Jurnal IDEA yang terbit pertama kali tahun 1999.
Arjuna Subject : -
Articles 300 Documents
Kendhangan Pamijen Gending Gaya Yogyakarta Bambang SRI Atmojo
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v11i1.495

Abstract

Kendangan Pamijen of Yogyakarta Gamelan Performance. Kendhangan gaya Yogyakarta dibedakan menjaditiga yaitu: (1) kendhangan dengan kendang setunggal kendang ageng antara lain kendhangan Pengrawit, Mawur,Mawur Tungkakan, Semang, Jangga, Candra, Sarayuda, Raraciblon, Bandholan, Majemuk, Lahela, Ladrang,Ketawang, Pinatut (Srepeg dan Ayak-ayak); (2) kendhangan dengan kendang kalih ( kendang ageng dan ketipung)antara lain kendhangan Gandrung-gandrung, Ladrang, Ladrang Gangsaran, Bimakurda, Sabrangan, Raja, Ketawang, Bubaran, Lancaran; dan (3) kendhangan dengan kendang batangan atau gembyakan antara lain kendhangankebar, ciblon, playon, srepeg, sampak, dan kendhangan yang mengikuti gerak baik tari ataupun wayang. Beberapakendhangan yang menggunakan kendang ageng, kendang kalih dan kendang batangan, ada yang memiliki bentukdan garap yang sifatnya umum dan khusus atau pamijen. Kendhangan pamijen adalah kendhangan gawan gending,sehingga kendhangan ini merupakan kendhangan khusus untuk ngendhangi suatu gending bawaannya yang memilikibentuk dan garap khusus. Kendhangan pamijen antara gending satu dengan yang lain ada yang sama bentuknya,tetapi berbeda sekaran-nya, bahkan ada yang bentuk dan sekaran-nya berbeda, perbedaan tersebut menjadi kekayaanbentuk dan garap serta merupakan ciri khas dari gending tertentu.
Pementasan Teater Lingkungan “Sirna Ilang Kertaning Bumi” Refleksi Konflik Horizontal di Indonesia Wahid Nurcahyono
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v13i1.496

Abstract

Bentuk teater lingkungan merupakan sebuah karya seni yang bukan saja menghibur tetapi juga memberikan tawaran-tawaran bentuk penyajian lain dari yang lazim dipergunakan. Bentuk semacam ini diharapkan mampu mendekatkan permainan kepada penonton secara langsung karena penonton tidak perlu lagi mendatangi tempat pertunjukan akan tetapi permainanlah yang akan menjemput mereka di ruang-ruang publik di luar panggung. Aksi dan interaksi secara langsung antara penonton dan permainan mengajak peran serta aktif penonton untuk merasakan langsung teks-teks yang disampaikan pemain. Meskipun bentuk-bentuk kesenian yang melibatkan penonton secara aktif telah dimiliki oleh masyarakat, misalnya upacara adat dan seremoni yang lain, akan tetapi hal tersebut jarang dilakukan pembaharuan dan hanya bersifat warisan atau tradisi saja. Maka dalam proses inisutradara mencoba menghadirkan bentuk teater lingkungan dalam sebuah ruang ‘Rumah Makan’ yang mengambilcerita rakyat masa lalu yang diolah dan disesuaikan dengan masyarakat saat ini. Kemampuan sutradara untuk mengarahkan serta memberi ruang dalam berkreasi bagi pemainnya sangatlah penting. Sementara itu pemain yangmemiliki kecakapan di bidangnya harus siap melakukan improvisasi untuk menghadapi aksi dan interaksi secaraspontan dengan penonton.Kata kunci: teater lingkungan, ruang publik, sirna ilang, interteks.ABSTRACTPerforming Environment Theatre “Sirna Ilang Kertaning Bumi”. A Refl ection on the Horizontal Confl ict in Indonesia.The form of environmental theater is a work of art which is not only entertaining but also providing a way of presenting different forms than that commonly used. This form is expected to bring the theatre to a live audience because the audience does not need to go to the venue but the theatre will meet them in public spaces outside stage. Action and direct interaction between the audience and the theatre invite active participation of the audience to feel directly the texts presented by the actors. Although the art forms involving the audience actively have been owned by the community, such as custom ceremonies and other ceremonies, those are rarely renewed, and they remain as customs and tradition. Therefore, inthis process the director tried to present the form of environment theater in a space of “Restaurant” presenting a folklore which had been processed and adapted to today’s society. The ability of the director in directing and providing room for the players to be creative was very important. While players who have skill in their art, they must be ready to confront improvised acts and spontaneous interaction with the audience.Keywords: environmental theater, public space, sirna ilang, intertex.
Penyutradaraan Teater Bangsawan Dengan Naskah Melayu Peterakna Episode Peri Bunian Karya G.P. Ade Dharmawi Asri Nofriani
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v13i1.497

Abstract

Tujuan penyutradaraan ini adalah menghadirkan unsur-unsur atau elemen-elemen pertunjukan Teater Bangsawan Muda dan Teater Bangsawan Tua sehingga tercipta pertunjukan Teater Bangsawan masa kini. Sejarah dan perkembangan teater bangsawan di Riau memiliki hubungan yang erat dengan teater di semenanjung Malaya. Para peneliti mengkategorikan drama Melayu Bangsawan sebagai drama tradisional. Tulisan berikut membahas drama Peterakna episode Peri Bunian karya GP Ade Dharmawi. Karya yang penulis buat ini menggunakan idiompola teater bangsawan. Peterakna adalah takhta kerajaan Melayu kuno. Peri Bunian merupakan episode yangmenggabungkan dua alam manusia, natural dan supranatural Orang Bunian.Kata kunci: Teater bangsawan, peterakna, orang bunian, teater RiauABSTRACTThe Directing of Bangsawan Theater Using Malay Script Peterakna Episode Peri Bunian Created By G.P. Ade Dharmawi. The aim of this directing is presenting the performance elements of young Bangsawan Theater and old Bangsawan Theater so that the performance of modern Bangsawan Theater can be created. The researchers have categorized Malay drama Bangsawan Theatre as a traditional drama. This article discusses about the show of Peterakna, Episode Peri Bunian created by G.P. Ade Dharmawi which has adopted and used the idiomatic pattern of Bangsawan Theater. Peterakna is the throne of the ancient Malay kingdom. In addition, Peri Bunian is an episode that combines two men’s world, the natural and supranatural of Bunian people.Keywords: Teater bangsawan, Peterakna, Peri Bunian, Riau theatre.
Seni Pertunjukan Teater Asera Berdasarkan Mitos To Balo, Suku Bentong Sulawesi Selatan Prusdianto -
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v13i1.498

Abstract

Teater tentang absurditas dengan paradoksnya yang aneh merupakan sebuah gejala dari apa yang mungkin paling mendekati pencarian relijius murni, yaitu suatu usaha manusia menyadari realitas mutlak kondisinya, dan mengajarkan kembali kepadanya makna keajaiban kosmis yang hilang dan kegalauan purba. Penciptaan pertunjukan teater Asera mengambil ide tentang kematian yang ditentukan oleh jumlah Sembilan. Ide tersebut terinspirasi dari mitos yang ada pada To Balo, suku Bentong yang berada di Sulawesi Selatan. Hal yang mendasari penciptaan Asera ini adalah keinginan untuk mengangkat sebuah permasalahan yang mengingatkan kita akan kematian. Sebuah proses dalam kehidupan yang sebenarnya mutlak akan dialami oleh manusia, akan tetapi sering dilupakan keberadaanya. Selain menjadikan warisan mitos sebagai sumber ide penciptaan, juga memberikan warna dan corak baru dalam dunia seni, khususnya seni teater. Teater adalah dunia imajinasi dari kehidupan yang sebenarnya.Kata kunci: Teater, Asera, absurd, To Balo, Bentong.ABSTRACTThe Performing Arts of theater Asera based on the myth of To Balo, Bentong tribe South Sulawesi. The absurdity of theatre with its weird paradox is as a phenomenon of what is probably as the closest quest to the purity of religiousity that is a human’s effort to realize the reality of his absolute condition, and to teach him back the meaning of the missing remarkable cosmic and the ancient confusion. The creation of theater performance Asera takes an idea of death which has been decided by number nine. This idea was fi rst inspired from a myth that exists in To Balo, a Bentong tribe lives in South Sulawesi. The basic creating idea of Asera is a willingness to discuss a problem that reminds us to the death. A process in a real life will be absolutely experienced by man, but its existence will often be forgotten. In addition to makinga myth heritage as a source of creating ideas, it also gives the new colours and characteristics in the world of arts, especiallyin the art of theater. However, theater is the real life imagination.Keywords: Theatre, Asera, absurd, To Balo, Bentong.
Dokumentasi Tari Tradisional Budi Astuti
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v11i1.499

Abstract

Documentation of Traditional Dance. Tari merupakan seni sesaat, oleh karena itu dibutuhkan dokumentasiyang baik yang dapat merekam seluruh gerak dan aktivitas yang menyeluruh, sehingga suatu saat dapatdirekonstruksikan kembali. Sistem pendokumentasian secara tertulis atau pencatatan tari telah dilakukan sejakjaman dahulu. Sistem pencatatan tari sebagai salah satu cara mendokumentasikan tari masih dilakukan hinggasekarang. Namun demikian sistem pencatatan tari yang dilakukan oleh seniman satu dengan seniman lainnya ataudaerah satu dengan daerah lainnya, berbeda-beda. Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, perlu dipikirkansistem pencatatan tari yang bisa dipahami oleh semua kalangan sehingga bisa dipakai sebagai bahasa komunikasiyang sifatnya universal. Notasi laban bisa dijadikan alternatif sistem pencatatan tari karena mampu merekam detaildetailposisi dan gerak yang paling lembut dan rumit dari setiap bagian tubuh. Kemajuan teknologi memungkinkansistem pendokumentasian tari melalui perekaman gerak secara visual sangat bermanfaat untuk mendukung danmelengkapi dokumentasi tertulis.
Tari Golek Gambyong Gaya Yogyakarta Tutik Winarti
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v11i1.500

Abstract

Gambyog Dance of Yogyakarta. Tari Golek Gambyong merupakan satu-satunya tari golek gaya Yogyakartayang berbentuk tari kelompok. Tari ini merupakan koreografi lama yang dicipta KGPA Mangkubumi pada masapemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana VI. Tari Golek Gambyong dibawakan oleh tiga orang penari, denganperan dan karakter yang berbeda, yaitu satu peran putri sebagai Golek, dua peran putra masing-masing menjadiKakang Gambyong dan Canthang Balung. Diperkirakan tari ini merupakan penggambaran adanya intrik politik yangterjadi pada masa itu atau sebagai sindiran bagi yang berseteru pada masa itu. Saat tari itu diciptakan, dalam keratonsedang terjadi intrik politik yang terkenal dengan nama pergolakan Suryengalaga.
Teknik Pengelolaan Tenaga: Kajian dalam Koreografi Tunggal Sarjiwo -
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v11i1.501

Abstract

Power Management Techniques: A Study In Choreography Single Dance. This study aims to reveal thepower management techniques in a single choreographic works (solo dance). Data collection techniques used byobservation and interviews. Observations made by looking at and following the staging of activities undertakenby informants/interviewers. While, the interviews were conducted in a structured interview guide that has beenprepared to crawl processed data so that it can be more focused and directed. Collected data were analyzed byqualitative descriptive analysis techniques with management approach. According to this research it can beconcluded that, in order to make good quality of choreography character and good quality of dancer characteristicrequired planning process by conducting exercises diligently. Exercise is necessary for organisms of the body to becapable to performing its function as a medium for optimal expression of dance. The pattern of organization ormotion compotition could not be separated from the planning process that has been made. Each choreographerhas a different way with each other. Activities of implementation related to the power management at the timechoreography displayed, related to the ability of the dancers on the power control, regulate breathing pattern byplacing a breathing pattern as part of the choreography, and management of emotions that are not easily infl uencedby the presence of spectators. Evaluation is required at the time of the cultivation process and after the choreographyform was displayed. Evaluation is needed so that the creation that has been produced not quit on the spot.
Ande-Ande Lumut: Adaptasi Folklor ke Teater Epik Brecht Philipus Nugroho Hari Wibowo
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v13i1.502

Abstract

Karya ini mengadaptasi folklor “Ande-Ande Lumut” sebagai ide dasar penciptaannya. Folklor ini dituangkan dalam pementasan teater berjudul “Kemuning”. Folklor “Ande-Ande Lumut” merupakan turunan dari cerita Panji yang menceritakan pengembaraan Raden Panji mencari Putri Candrakirana. Cerita Panji tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi dikenal hingga Asia Tenggara dan Jepang. Perkembangan teori adaptasi begitu pesat, apapun kini bisa dijadikan obyek adaptasi, puisi, novel, drama panggung, lukisan, tarian, dan video games. “Kemuning” ini dikemas dengan konsep pemanggungan teater epik Brecht. Hal ini merupakan suatu upaya mencari bentuk baru (pembacaan) dalam cerita “Ande-Ande Lumut”. Teater Epik menolak salah satu unsur utama dari drama Aristotelesyang telah dikembangkan dengan metode Stanislavsky, yaitu harus adanya empati (rasa ikut mengalami) dalam sebuah pementasan. Menurut Brecht proses ini telah menyebabkan suatu akibat yang mestinya dihindari, karena mengakibatkan sikap pasif dalam diri penonton. Maka ia membuat teori tentang menghancurkan ilusi, cara interupsi, dan tetap mengontrol emosi. Brecht identik dengan tema-tema sosial dalam karyanya. khususnya tema yang mengangkat nasib orang kecil yang harus menderita karena kebijakan penguasa. Biasanya kisahnya seputar persoalan buruh dan majikan. Pementasan “Kemuning” ini mengangkat kehidupan para pelacur yang masih identik dengan hal-hal negatif. Padahal mereka dibutuhkan dalam masyarakat. Tapi kadang kala mereka menjadi kambing hitam yang harus selalu disalahkan. Secara tersirat pementasan ini bertujuan memperjuangkan kehidupan para pelacur. Penonton diajak melihat sudut pandang yang lain tentang kehidupan pelacur yang selama ini dianggap buruk oleh masyarakat. Menurut Brecht teater yang baik dan yang dituntut dalam jaman moderen adalah teateryang dapat menggugah aktifi tas berfi kir yang kritis pada diri penonton. Maka pentas ini diharapkan mendorong para penikmat seni untuk melahirkan penafsiran yang penuh dengan kesadaran terhadap lingkungan sosial dan bisamenimbulkan suatu gerakan atau perubahan pada masyarakat.Kata kunci: Folklor, Ande-Ande Lumut, Adaptasi, dan Teater Epik BrechtABSTRACTAnde-Ande Lumut: The Adaptation of Folklore to the Epic Theater of Brecht. This theatrical work is adaptedfrom a popular folklore entitled Ande-Ande Lumut that is as a basic idea of its work. This folklore is performed in theatricalperformance entitled Kemuning. Ande-Ande Lumut is a story derived from the story of Panji which tells us about PrincePanji’s journey to look for Princess Candrakirana. This story is not only popular in Indonesia but also in South East Asiaand Japan. The adaptation theory is developing well; everything can be used as an adaptation object, poems, novels, dramas, paintings, dances, and video games. Kemuning is performed by the performing concept of Brecht’s epic theater. However, this is an effort to fi nd out the new form of reading in Ande-Ande Lumut story. The epic theater against one of the main elements in Aristotle’s drama that has been developed by Stanislavsky’s method; there should be an empathy in every aspect of performance. According to Brecht, this process has caused an effect which should be avoided because it brings audience’s passive attitude. Therefore, he tried to make a theory of destroying the illusion, of interrupting method, and of controlling emotion. Brecht’s identical works focus on the social themes, especially on the themes that show the poor people who are suffering from the authority’s policy. The common problems between the master and its worker are refl ected on hisstory. The Kemuning performance has tried to show the prostitutes’ life that is closed to any negative things. In fact, they are still being needed by the society. Unfortunately, sometimes they become the source of scapegoats to any troubles and are always blamed to. Implicitly, this performance is aimed to fi ght for the prostitutes’ life. The audience is invited to see the other points of view about their life that are often regarded as negative by the people. Moreover, Brecht said that a good and demanded theater in this modern era is a theater that can arouse the audience’s critical thinking activities. Therefore, this performance is supposed to be able to motivate the arts lovers in producing a critical analysis to any social awareness and in creating a new movement to any signifi cant changes in society.Keywords: Folklore, Ande-Ande Lumut, Adaptation, and Brecht’ Epic Theater
Gaya Bernyanyi dengan Teknik Bel Canto: (Re)Konstruksi Subjektivitas Penyanyi Perempuan dalam Pertunjukan Musik Susi Gustina; Timbul Haryono; G.R. Lono L. Simatupang; Triyono Bramantyo
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 11, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v11i2.503

Abstract

Bel Canto Singing Technique. This article attempting to understand the subjectivity of a woman singer in musicperformance. The poststructuralist feminist perspective is used to focus on the historical and cultural backgroundof the woman’s experiences. Based on the perspective, the research questions refer to: 1) the application of womansinger’s knowledge and cultural perception in songs reproduction so that she can (re)construct her subjectivity; and2) the intention of woman singer to use Western classical music or seriosa in music performance. The life historymethod is used to understand all the subjective experiences of woman singer based on her perspective. The fi ndingsof this research are: 1) subjectivity (re)construction of a woman singer is depend on her knowledge and culturalperception so that her subjectivity is differ from others; and 2) the difference that a woman singer do in musicperformance is related to her intention, i.e. to struggle a music genre that she loves since in the early of her life.
Selawatan Sebagai Seni Pertunjukan Musikal Andre Indrawan
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 11, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v11i2.504

Abstract

The Selawatan as Musical Performance. The selawatan, an Indonesian Islamic performing arts genre, has beenlooked at from different study perspectives. Although mostly understood as a group type of folk dances as well astheatres, this study has found that the selawatan in the DIY is closely related to an Islamic musical genre which wasbased on vocal art. The most important characteristic that relates amongst any types of selawatan is its repertoirematerials which is centered to a classical Arabic text known as mawlid, especially the one that was written by Al-Barzanji.

Page 7 of 30 | Total Record : 300


Filter by Year

2008 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 26, No 1 (2025): April 2025 Vol 25, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 25, No 2 (2024): Agustus 2024 Vol 25, No 1 (2024): April 2024 Vol 24, No 3 (2023): December 2023 Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023 Vol 24, No 1 (2023): April 2023 Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022 Vol 23, No 2 (2022): Agustus 2022 Vol 23, No 1 (2022): April 2022 Vol 22, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 22, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 22, No 1 (2021): April 2021 Vol 21, No 3 (2020): Desember 2020 Vol 21, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 21, No 1 (2020): April 2020 Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019 Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 20, No 1 (2019): April 2019 Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018 Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018 Vol 19, No 1 (2018): April 2018 Vol 18, No 3 (2017): Desember 2017 Vol 18, No 2 (2017): Agustus 2017 Vol 18, No 1 (2017): April 2017 Vol 17, No 3 (2016): Desember, 2016 Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016 Vol 17, No 1 (2016): April 2016 Vol 16, No 3 (2015): Desember 2015 Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015 Vol 16, No 1 (2015): April 2015 Vol 15, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 14, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 13, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 11, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 11, No 2 (2010): Desember Vol 10, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 10, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 9, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 9, No 1 (2008): Juni 2008 More Issue