Articles
855 Documents
PASEDHULURAN AS A SOCIAL CAPITAL FOR LOCAL ECONOMIC DEVELOPMENT: EVIDENCE FROM POTTERY VILLAGE
Karmilah, Mila;
Nuryanti, Wiendu;
Soewarno, Nindyo;
Setiawan, Bakti
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/komunitas.v6i1.2942
The increase in both industrialization and tourism in Kasongan village famous with its pottery being the tourism Village since 1988, radically altered the local economy and domestic life. Based on oral history, survey, and documentary sources, this paper examine the impact of economics globalization to the diversity of culture in Kasongan. Globalization has two faces. If it can be managed properly, globalization can certainly give sufficient benefit to the country. The result of study indicated that pasedhuluran kinship systems in pottery production chain as one of social capital in socio-economic development in Kasongan, play an important role. This can be seen in terms of hiring local labor, then the pottery associated with the ordering system, and the use of the showroom to promote their pottery. Based on this note that the negative impact of globalization, especially the pottery in Kasongan indsutry can be minimized by pasedhuluran system. Peningkatan industrialisasi dan pariwisata di Desa Kasongan yang terkenal dengan kerajinan gerabah yang telah berkembang sejak tahun 1972 dan menjadi desa wisata pada tahun 1988, secara radikal telah mengubah ekonomi lokal dan kehidupan masyarakat di desa tersebut. Berdasarkan wawancara terkait sejarah, survei, dan sumber-sumber dokumenter lainnya, maka tulisan ini akan mengkaji dampak globalisasi ekonomi terhadap keragaman budaya masyarakat setempat. Globalisasi memiliki dua sisi. Jika globalisasi dapat dikelola dengan baik, maka globalisasi dapat memberikan manfaat yang cukup baik bagi negara. Namun, jika suatu negara tidak dapat beradaptasi dan menentukan strategi yang perlu diterapkan dalam rangka menghadapi globalisasi, negara akan menjadi korban dari globalisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasedhuluran adalah sistem kekerabatan di rantai produksi kegiatan produksi gerabah. Pasedhuluran sebagai salah satu modal sosial dalam pembangunan sosial-ekonomi di Kasongan, memainkan peranan yang penting. Hal ini terlihat dalam sistem tenaga kerja, dimana sebagian besar merupakan keluarga.  Selain sistem tenaga kerja pasedhulran juga terlihat pada sistem pemesanan (order gerabah), dan menggunakan showroom sebagai tempat mempromosikan gerabah mereka. Berdasarkan studi ini diketahui bahwa dampak globalisasi dapat diminimalisir dengan adanya sistem kekerabatan (pasedhuluran).
KEARIFAN LOKAL ADAT MASYARAKAT SUNDA DALAM HUBUNGAN DENGAN LINGKUNGAN ALAM
Indrawardana, Ira
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 4, No 1 (2012): Tema Edisi: Kearifan Lokal Tidak Pernah Kering
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/komunitas.v4i1.2390
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskusikan kearifan lokal adat masyarakat Sunda dalam hubungan dengan lingkungan alam. Penelitian dilakukan secara kualitatif terhadap masyarakat Sunda Kanekes. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa pada dasarnya kearifan lokal masyarakat Sunda Kanekes disarikan dari pengalaman masyarakat Sunda lama yang sangat akrab dengan lingkungannya dan sudah lama hidup dalam budaya masyarakat peladang. Kearifan lokal adat, suatu kondisi sosial dan budaya yang didalamnya terkandung khasanah nilai-nilai budaya yang menghargai dan adaptif dengan alam sekitar, dan tertata secara ajeg dalam suatu tatanan adat istiadat suatu masyarakat. Walau sering dianggap kuno, nilai-nilai yang mereka ajarkan dan praktek yang mereka jalankan masih merupakan cara yang terbaik untuk memelihara lingkungan di zaman post-modern. The objective of this study is to discuss the wisdom of indigenous traditional Sundanese community in relation to natural environment. The research is done qualitatively in Kanekes Sundanese traditional community. The research found that the distinguished Kanekes local knowledge regarding to the environment is creatively developed by the community from their everyday exepriences of living with natures, being friends with nature and their experience as farming communities. The local wisdom of Kanekes community, which contains cultural values of respect and adaptive to the environment, and life based upon traditional norms. Though often stereotyped as primitive, their living values and practices of life are still the best instrument to conserve environment in post-modern age.
PERILAKU MASYARAKAT DESA HUTAN DALAM MEMANFAATKAN LAHAN DI BAWAH TEGAKAN
Mustofa, Moh. Solehatul
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/komunitas.v3i1.2287
Kelestarian hutan dan kehidupan ekonomi masyarakat desa hutan merupakan dua isu penting. Pada saat muncul masalah kerusakan hutan, seringkali yang dianggap penyebabnya adalah masyarakat desa hutan. Terkait dengan isu tersebut muncul alternatif pemanfaatan lahan hutan untuk mendukung perekonomian masyarakat khususnya di sekitar hutan tanpa menimbulkan gangguan kerusakan hutan yang disebut lokasi Pemanfaatan Lahan Di bawah Tegakan. Tujuan artikel ini adalah membahas bagaimana perilaku masyarakat desa hutan dalam memanfaatkan lahan di bawah tegakan tanpa menimbulkan gangguan kerusakan hutan. Dalam penelitian ini pendekatan kualitatif menjadi basisnya, dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi dalam pengambilan datanya. Triangulasi sumber sebagai teknik validitas data dan analisis interpretatif sebagai teknik analisisnya.Perilaku penduduk sekitar terhadap lingkungan hutan ditunjukkan dengan hal-hal berikut: membuka lahan, memanfaatkan lahan hutan untuk pertanian, menjaga kelestarian hutan, dan menjaga keamanan hutan. Pemanfaatan lokasi ini berpengaruh pada kelembagaan dalam masyarakat petani desa hutan. Jenis-jenis tanaman yang bervariasi juga mulai dikembangkan baik itu palawija maupun buah-buahan. Pemanfaatan lahan di bawah tegakan ini perlu terus dilakukan sebagai solusi peningkatan aspek perekonomian dan upaya pelestarian hutan.Forest conservation and economic life of the rural community are two important cross-cutting issues in environmental conservation and economic empowerment. When deforestation rises, rural communities around the forest are often stereotypes as the cause of deforestation. To address the problem, an alternative is offered. People can use the land without damaging the forest by planting crops under the trees. This planting under trees system can increase the community’s economy, especially for the community near the forest. The objective of this article is to discuss the behavior of rural community in the use of land under the forest trees without causing forest destruction. The study method used id qualitative approach. The result of the research indicates that behavior of the population around the forest environment can be classified in the following: open land, forest land use for agriculture, forest preserve, and maintain the security of the forest. The use of under trees site for farming has the institutional impact on rural farming community forest. The farmers have different the types of plants to develop both the crops and fruits. Land use under this trees stand appears to be successful solution to increase the economic welfare on the one side and forest conservation efforts on the other side.
Social Strategy of Ciliwung River Bank Community
Maring, Prudensius;
Hasugian, Fordolin;
Kaligis, Retor AW
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/komunitas.v7i1.3600
This article explains relation of social economic strategy applied by the community on the setting of watershed area with dinamics and complexity of urban life. To explain the problem, this article use the perspective of ecological anthropology and urban anthropology. This research uses indepth-interview, participatory observation, and focus group discussion. This research was conducted on the community of Ciliwung watershed on Kampung Melayu and Cawang village in East Jakarta. This research shows that the community on Ciliwung watershed area have social organization based on primordial and religion. The social organization have inclusive orientation and have goal to overcome everyday social problem. The community have model of ecological adaptation and social-economic strategy that have characteristics of resistance (control, protect, defend, and resist) as respon to uncertainty of policy and involution of Ciliwung watershed development.Tulisan ini menjelaskan hubungan antara strategi sosial ekonomi yang dijalankan masyarakat dalam latar ekologi bantaran sungai dengan kondisi kehidupan perkotaan yang dinamis dan kompleks. Untuk menjelaskan masalah tersebut, penelitian ini menginspirasi kepada perspektif antropologi ekologi dan antropologi perkotaan. Penelitian ini mengacu kepada pendekatan kualitatif dengan menerapkan metode wawancara mendalam, pengamatan terlibat, dan diskusi kelompok terfokus. Penelitian lapangan dilakukan pada masyarakat bantaran sungai Ciliwung di Kelurahan Cawang dan Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa masyarakat bantaran sungai Ciliwung memiliki organisai sosial berbasis asal-usul daerah dan agama berorientasi inklusif dan bertujuan mengatasi masalah sosial yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat memiliki pola adaptasi ekologi dan strategi sosial ekonomi berciri bertahan (menguasai, melindungi, bertahan, dan melawan) sebagai respon terhadap ketidakpastian kebijakan dan involusi pembangunan bantaran sungai Ciliwung.
FORMALISASI SYARI’AT ISLAM DAN DOMINASI NEGARA TERHADAP ELITE AGAMA ISLAM TRADISIONAL DI ACEH
-, Nirzalin;
-, Fakhrurrazi
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/komunitas.v6i1.2948
Berdasarkan studi kasus di Aceh Utara, tulisan ini hendak menunjukkan realitas kompleks tentang komodifikasi Syari’at Islam oleh elite yang sedang memerintah di Aceh. Realitasnya, birokratisasi Syari’at Islam telah menutup ruang bagi lahirnya wacana tandingan (counter discourse) dari masyarakat terhadap wacana yang dikembangkan oleh negara. Hal itu termanifestasi pada pelbagai Qanun yang telah disahkan. Qanun-qanun tersebut justeru memperlihatkan dominasi kepentingan elite yang sedang memerintah daripada aspirasi yang disuarakan oleh masyarakat. Sementara itu, birokratisasi dayah (pondok pesantren salafi/tradisional) dan penciptaan ketergantungan ekonomi dayah pada negara melalui kegiatan yang mengatasnamakan “pembinaan†dayah ternyata merupakan kedok bagi dominasi negara terhadap teungku dayah (elite agama Islam tradisional). Dominasi ini berhasil memposisikan teungku dayah sebagai jastifikator pelbagai kebijakan pemerintah. Akibatnya, peran teungku dayah di Aceh yang pada awalnya adalah aktor sosial yang secara vis a vis sanggup berhadapan dengan pemerintah dalam mengkritisi pelbagai kebijakan berdasarkan aspirasi yang berkembang di masyarakat menjadi pudar. Based on a case study in North Aceh district, this paper wants to demonstrate the complex reality of current commoditization of Syari’ah committed by political elites in Aceh. In fact, the bureaucratization of Syari’ah has closed democratic spaces which enable civil society including local religious elite to counter state’s discourses and policies. Such bureaucratization was manifested in the enactment of several Qanuns which unveil the domination of ruling elites’ interests over society’s interests and aspiration. On the other hand, the bureaucratization of dayah (traditional or salafi pesantren) and the formation of its economic dependence on state’s budgets through what called as “dayah guidance/direction programs†became a powerful means for the state apparatus to co-opt teungku dayah as Islamic local religious elites. Such cooptation has successfully positioned teungku dayah to act as justificatory actor toward various government policies. As the result, the historical role of teungku dayah in Aceh as the main political actor, which able to criticize government policies based on people aspiration, is fading away in the aftermath of conflict in Aceh.
The Role of Social and Cultural Values in Public Education in Remote Island: a Case Study in Karimunjawa Islands, Indonesia
Rochwulaningsih, Yety
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/komunitas.v7i1.3336
This paper aims to analyze education problems in remote islands especially in Parang island of Karimunjawa Islands, Indonesia. Specifically, this paper aims to identify socio-cultural values and its role in education both formal and nonformal. The research was conducted in the Parang Island one of thousand remote islands in Indonesia. The result shows that education in Parang island encounter strategic issues including the teacher attendance who mostly comes from outside of the island. Their mobility of certain matters force the teachers to go out from the island but sometime because of geographical condition their return to the island is unable to be ensured. This natural constraints precisely construct typical socio-cultural values especially in local education. The values which include multiculturalism, mutual cooperation, and togetherness has integrated into some subjects such as, Citizenship Education, Indonesian Language, Islamic Education, and some local contents such as Marine Education. It has been internalized into empirical experiences of the students as part of marine community that is typically open and egalitarian in character. Meanwhile, Islamic tend to be patterned in syncretism which promote balance and harmony of life. These values have been practices transmitted in religious education such as madrasah and some of informal Islamic institutions. The multiculturalism live, in harmony is effectively socialized through education, family life and community.Artikel ini mengkaji permasalahan bagaimana kondisi pendidikan di Pulau Parang sebagai pulau terpencil berlangsung dan bagaimana peranan nilai-nilai sosial budaya di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan di Pulau Parang menghadapi berbagai persoalan strategis antara lain eksistensi guru tetap yang hampir semuanya berasal dari luar pulau dengan mobilitas yang tinggi harus sering ke luar pulau dan karena gelombang laut yang besar sering tidak dapat dipastikan waktu kembalinya ke Pulau Parang. Kendala alamiah ini justru mengkonstruksi nilai-nilai sosial budaya khas Pulau Parang yang berperan penting dalam beragam pendidikan. Nilai multikulturalisme, sambatan, tolong menolong, dan kebersamaan diinternalisasikan secara intensif melalui mata pelajaran IPS, PKN, BI dan PAI yang dintegrasikan dalam pengalaman empirik murid yang multietnik sebagai etnik maritime dengan karakter terbuka dan egaliter. Nilai-nilai religiusitas keIslaman yang cenderung bercorak sinkritisme mengedepankan keseimbangan dan keselarasan hidup ditransmisikan dalam pendidikan Madrasah Diniyah Mathali’ul dan beberapa ‘pondok’ perseorangan. Nilai-nilai multikulturalisme disosialisasikan secara efektif melalui pendidikan, keluarga dan masyarakat.
PENGGUNAAN MEDIA KOMIK DALAM PEMBELAJARAN SOSIOLOGI PADA POKOK BAHASAN MASYARAKAT MULTIKULTURAL
Kurnia Wardani, Tri
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/komunitas.v4i2.2418
Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi proses dan tahapan pembelajaran Sosiologi pokok bahasan masyarakat multikultural dengan menggunakan media komik di SMAN I Bawang. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 2 SMAN 1 Bawang Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru mesti melakukan persiapan sebelum pembelajaran dengan menyiapkan atau memilih komik tepat. Penelitian menunjukkan bahwa siswa lebih senang pembelajaran dengan media komik tersebut dibanding dengan metode konvensional ceramah. Saat guru meminta siswa untuk membaca komik, siswa terlihat tertib. Semua siswa membaca komik dengan semangat karena di dalam komik terdapat gambar-gambar yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dan kata-kata yang digunakan merupakan kata-kata yang mudah dipahami. Siswa pun dengan aktif merespon apa yang mereka diskusikan. Pada saat diskusi kelompok berlangsung, siswa terlihat aktif. Kelompok satu menanggapi kelompok yang lain. Dari data tersebut, berarti komik yang diterapkan dapat menunjang aktivitas belajar siswa. The objective of this study is to explore the processes and stages of learning the subject Sociology multicultural society by using comics as learning medium at SMAN I Bawang. The subjects were students of class XI IPS 2 SMAN 1 Bawang. The results show that teachers should make preparations before learning by preparing or selecting appropriate comics. Research also shows that students prefer to study with the comic medium compared with the conventional lecture method. When the teacher asks students to read a comic, students look enthusiatic. All students read the comics with the comic enthusiastically because there are images that relate to everyday life and the words used are words that are easily understood. Students also actively respond to what they were discussing. At last group discussions, students were active. The group responded to the other one. From these data, the comic is applied to support the students’ learning activities.
WOMAN’S POSITION IN UNDOCUMENTED MARRIAGES
Arsal, Thriwaty
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/komunitas.v6i1.2947
The term of undocumented marriage is only known in Muslim community in Indonesia. Undocumented marriage is a legal type of marriage based on Islam as long as it is meets the marriage’s legal requirements; however, it is diverge from the state rules because it is not registered in the authorized institution for marriage. A woman who married with this type of marriage, based on law and administration, has no clear identity before the state. It will make her difficult to have her right as a wife. Undocumented marriage will give weak position for children by law. In addition, women’s position in this type of marriage is the disadvantage object. Although undocumented marriage has negative impact especially on women and children; in Warurejo, however, this marriage is widely dispersed among the community. Research is conducted in Warurejo village, East Java using qualitative, quantitative and semantic approaches. Research result shows that the women’s position in this undocumented marriage is having discrimination, subordination, no bargaining power in the family, and susceptible for cervix cancer. They do not have any option for the future because it is determined by family, norm and value system prevailed in the community. Istilah nikah siri hanya dikenal pada masyarakat muslim Indonesia. Nikah siri adalah bentuk pernikahan yang sah secara agama Islam sepanjang memenuhi syarat sahnya pernikahan tapi dianggap menyimpang dari peraturan negara karena tidak terdaftar pada lembaga yang berwenang mengurusi masalah perkawinan. Perempuan yang nikah siri, secara catatan hukum atau administrasi tidak memiliki identitas yang jelas di hadapan negara. Sulit untuk mendapatkan hak-haknya sebagai seorang istri. Pernikahan siri berdampak pula pada kelemahan posisi anak secara hukum. Selain itu, posisi perempuan dalam nikah siri juga lebih banyak menjadi objek yang dirugikan. Walaupun nikah siri mempunyai dampak negatif khususnya terhadap perempuan dan anak tapi di Warurejo nikah siri begitu berkembang dan meluas pada masyarakat. Lokasi penelitian dilakukan di desa Warurejo Jawa Timur dengan menggunakan pendekatan kualitatif, kuantitatif dan semantik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa posisi perempuan dalam menikah siri mengalami diskriminasi, subordinasi, tidak memiliki posisi tawar dalam keluarga, rentan terhadap kanker serviks. Perempuan tidak memiliki pilihan untuk menentukan masa depannya karena masa depannya ditentukan oleh keluarga dan norma dan sistem nilai yang berlaku pada masyarakat tersebut
PERAN GANDA PEREMPUAN PEMETIK TEH
Kusumawati, Yunita
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/komunitas.v4i2.2411
Tingkat sosial ekonomi keluarga yang rendah membuat perempuan memiliki peran ganda. Terbatasnya lapangan kerja di pedesaan, ketrampilan yang terbatas dan pendidikan yang rendah menjadikan pemetik teh sebagai pilihan pekerjaan para perempuan. Penelitian ini bertujuan menggambarkan bagaimana pembagian waktu perempuan pemetik teh sebagai efek dari beban ganda dan bagaimana kondisi sosial ekonominya. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis fenomenologi. Lokasi penelitian ini adalah di desa Keteleng, Batang yang berlokasi di dekat perkebunan teh PT Pagilaran dimana banyak perempuan desa ini yang menjadi pemetik teh. Metode observasi, wawancara, dan dokumentasi digunakan dalam pengambilan data. Validitas data dilakukan dengan triangulasi sumber dan analisis data dilakukan dengan analisis interpretatif. Penelitian ini menjelaskan bahwa perempuan dengan peran ganda, memiliki waktu domestik dan waktu publik yang berdampak dalam kehidupannya. Hal ini berpengaruh pada kondisi sosial, dimana perempuan pemetik teh tetap memiliki interaksi sosial yang baik dengan keluarga, bahkan memperluas pergaulan dengan masyarakat. Dari segi ekonomi, profesi sebagai perempuan pemetik teh tidak menaikkan kesejahteraan secara signifikan karena rendahnya upah yang diterima. Namun dengan kemandirian ekonominya, perempuan ini memiliki peran yang aktif dalam pengambilan keputusan di keluarga. Tuntutan sosial ekonomi yang dibebankan kepada perempuan ini juga mendorong masyarakat untuk tidak bertindak diskriminatif. Levels of low socioeconomic families lead women to have double roles. Limited employment opportunities in rural areas, limited skills and low education make tea picking as the most possible work for women. The objective of this study is to describe the time division of women tea pickers and their social and economic conditions. The study used a qualitative approach and specifically phenomenology. The study site is in the village Keteleng, Batang, located near the tea plantation PT Pagilaran where many women of this village became tea pickers. Observation, interviews, and documentation were used in data collection. The validity of data is done by triangulation of data sources and analysis was conducted by interpretative analysis. This study explains that women has multiple roles in domestic and public, and this has impact in their life. The tea pickers women still have good social interactions with family, and even expanding relationships with the community. In terms of economics, the profession as a tea picker does not significantly raise the women’s welfare because of low wages they receive. But with economic independence that they gain as tea leaves pickers, these women have an active role in decision-making in the family. This socio-economic demands shouldered upon these women also reduce levels of discrimination.
The Season Calendar System of Gorontalo Society: Socio-Cultural Analysis Based on Local Wisdom and Appropriate Technology
Tamu, Yowan;
Dako, Amirudin
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 10, No 1 (2018): Komunitas, March 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/komunitas.v10i1.9552
Gorontalo society is well-known to have a great combination between traditional and cultural nuances. One of the undeniable phenomena is the habit of doing activities and transactions at particular times. This phenomenon then creates several terms such as wedding season, planting season and Hajatan season where those certain custom rituals are only performed in Gorontalo region. The process of inventory of this phenomenon becomes an important step that should be done to ensure that the values contained in the local wisdom of the people of Gorontalo can be documented and become written legacy for future generations. By applying a social research method, this preliminary study aims at creating an inventory for the ongoing local wisdoms in Gorontalo, especially dealing with the creation of a written document containing their season calendar. The draft of season calendar document that had been produced, in the next stage, was then analyzed. Later stage was to create a computer application to be developed in the form of information system prototype containing local calendar module based on local wisdom of Gorontalo society. The application should be easily accessible by local, national and global community, enriched with spatial data presentations and serving as a support for documentation and digital publications. The study is expected to be an effort to preserve local wisdom of Gorontalo as well as become the part of modern culture and knowledge.