cover
Contact Name
Mochamad Rochim
Contact Email
mochammad.rochim@unisba.ac.id
Phone
+6224-8508013
Journal Mail Official
yasir.alimi@gmail.com
Editorial Address
https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/komunitas/about/editorialTeam
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE
ISSN : pISSN246     EISSN : eISSN246     DOI : DOI: 10.15294/komunitas.v8i1.4516
Core Subject : Education, Social,
Di Data GARUDA saya, jurnal KOMUNITAS yang diterbitkan oleh UNNES belum terakreditasi, seharusnya sudah terakreditasi SINTA 2 sesuai data SINTA. https://sinta.kemdikbud.go.id/journals?q=komunitas
Articles 855 Documents
EKSPLOITASI PADA PEREMPUAN SALES PROMOTION GIRLS Afta Lestari, Nur
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v4i2.2402

Abstract

Terjadi perubahan posisi perempuan yang semula hanya berada di sektor domestik, kini beralih ke sektor publik. Kondisi di perkotaan yang relatif lebih heterogen membuka peluang perempuan untuk bekerja di berbagai bidang, salah satunya adalah sales promotion girls (SPG). Dalam penelitian ini, penulis mengeksplorasi bagaimana profil SPG dan eksploitasi yang dialaminya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi dalam pengambilan datanya. Penampilan cantik dan menarik menjadi modal utama dalam pekerjaan ini. Sales Promotion Girls pada industri rokok dan minuman  berumur sekitar 21-30 tahun dengan jam kerja sekitar 5-7 jam perhari. Alasan bekerja di bidang ini adalah bahwa bidang ini merupakan pekerjaan ringan dan tidak memerlukan pendidikan yang tinggi, walaupun di sisi lain mereka hanya mendapatkan upah yang rendah. Perempuan dalam pekerjaan ini seringkali mengalami eksploitasi fisik berupa pelecehan seksual dan eksploitasi ekonomi berupa waktu kerja yang sampai malam hari dan tidak terpenuhinya hak-hak pekerja perempuan seperti faktor keselamatan dan hak untuk cuti. Dengan kondisi seperti ini, maka perlindungan terhadap perempuan bekerja pada umumnya dan sales promotion girls pada khususnya menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan.A change in economic condition in Indonesia brings about a change of woman position, from formerly domestic sector to recently public sector. Urban areas that is relatively more heterogeneous than rural ones open opportunities for women to work in various fields, one of which is sales promotion girls (SPG). In this study, the author seeks to explore the SPG profile and the exploitation they experienced. The method used in this study are qualitative approach, with observation, interviews, and documentation. The research uncovered the following facts. Beautiful and attractive appearance becomes a priority in this work. Sales promotion girls on cigarettes and beverage industry are about 21-30 years old with working hours of about 5-7 hours per day. The reason for choosing this job is that it is an easy job and does not require higher education, although the wages is low. Women in these jobs often experience physical and sexual exploitation, also  economic exploitation of labor. They have to work until very late, andand they do not have the rights of women workers such as safety and the right to have time off. Considering these conditions, the protection of working women in general and sales promotion girls in particular become very important thing that must be considered.
SISTEM BAGI HASIL MARO SEBAGAI UPAYA MEWUJUDKAN SOLIDARITAS MASYARAKAT Wahyuningsih, Tri
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 3, No 2 (2011): Tema Edisi: Pendidikan Karakter Perspektif Sosial Budaya
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v3i2.2316

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan sistem bagi hasil maro dalam bidang pertanian serta manfaatnya dalam kehdupan masyarakat. Sistem perjanjian bagi hasil merupakan bentuk kerjasama yang dilakukan oleh masyarakat desa sejak dahulu. Mekanisme sistem perjanjian bagi hasil yang dilakukan adalah menggunakan sistem maro yaitu penggarap yang membiayai semua biaya pertanian dan hasilnya dibagi dua dengan pemilik sawah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang dilaksanakan di Desa Jagung Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik pengamatan, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan perjanjian bagi hasil tidak hanya dapat meningkatkan perekonomian tetapi juga dapat juga memupuk solidaritas dalam masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan adanya kepedulian antara pemilik dan penggarap sawah yang diwujudkan dengan saling bantu saat salah satu dari mereka mengalami kesulitan. Namun demikian, perhatian dari pemerintah tetap diperlukan guna menjamin hubungan baik antara kedua belah pihak yang bekerjasama.The purpose of this study is to describe the  traditional sharing system known as ”maro” in agriculture and its usefulness in society life. Maro sharing system has been conducted ​by the villagers long ago. In maro, the peasant pays for all the costs of agriculture and the crops will be shared with the owner of the fields. This study is a qualitative study conducted in the Village of Jagung, Kesesi, Pekalongan district. Data collection was done by using observation, interview and documentation. The results of the research show that the implementation of sharing system agreement can not only boost local economy but also can also foster solidarity within the community. This is evidenced by the concern among the owners and cultivators of rice fields, realized with helping each other when one of them have difficulties. However, the attention of the government is still needed to ensure good relations between the two sides who are working together.
TARI SEBAGAI GEJALA KEBUDAYAAN: STUDI TENTANG EKSISTENSI TARI RAKYAT DI BOYOLALI Alkaf, Mukhlas
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v4i2.2401

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskusikan tari sebagai kebudayaan. Keberadaan tari merupakan gejala yang sangat umum ditemukan dalam berbagai komunitas masyarakat. Keberadaan berbagai ragam tari pada berbagai lapisan masyarakat, sesungguhnya merupakan suatu bentuk penting kebudayaan sekaligus sosial yang menarik diteliti. Penelitian ini dilakukan  sebagi upaya memperoleh penjelasan  lebih jauh mengenai tari berdasar berbagai studi pustaka serta pengalaman penelitian dengan menggunakan data kualitatif melalui metode partisipasi observasi  terhadap keberadaan beberapa tari rakyat yang ada di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Penelitian ini menunjukkan bahwa eksistensi tari, termasuk wujud teks tari ternyata senantiasa bersentuhan dengan dimensi-dimensi sosial, budaya, ekonomi, bahkan politik yang ada di sekitarnya. The objective of this study is to gain an understanding of a cultural phenomenon called dance. Until now, dance is one of the many artistic expressions, which attracted the attention of researchers, especially the social and cultural researchers. The existence of many forms of dance is a  common in many levels of communities. The existence of a wide range of dance at various levels of society indicate that dance is an important ”form of culture”. This research was carried out as efforts to obtain more detail about folk dance as culture and the research was done on the existence of folk dances that exist in the District Selo, Boyolali, Central Java. The research reveals that the existence of dance never stands alone, it always and constantly intesects with  its surrounding social, cultural, economic, and political events.
Developing Research Base Learning in Urban Sociology Class Arofah, Lumban
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v7i1.3665

Abstract

This article aims to describe an introduction research base learning in the urban sociology class. The idea came after evaluating answer sheet from previous year students. Although the student had an ability to demonstrate their understanding on the subject, but they could not be able to relate and describe the subject into the local urban case. The lecture developed the lesson plan that enable student to do a small research and will be presented in the class. The research report and participation of presentation will be counted in for final score. The project divided into 5 steps; preparation - research – presentation – discussion – summarizing. Reflecting the lesson process, there are several important points as a lesson learned; student have an ability to reflect the theories and perspective in urban sociology, understand the differences of formal migrant and informal migrant, describe the behavior of inhabitant in public sphere, analyzing survival mechanism of informal trader, and understand how urban sub culture maintain their culture and develop their group as a place of fellowships for other sub culture members.Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan digunakannya metode pembelajaran berbasis riset pada mata kuliah Sosiologi Perkotaan. Hal tersebut merupakan hasil dari evaluasi lembar jawaban Mahasiswa pada tes final semester pada tahun sebelumnya. Hasil tes final menunjukkan bahwa Mahasiswa mampu menjelaskan materi yang diajarkan dalam pembelajaran namun kesulitan ketika harus mengkaitkannya terhadap permasalahan lokal perkotaan. Pengajar kemudian membuat rencana pembelajaran yang memungkinkan siswa melakukan penelitian sederhana yang nantinya dipresentasikan di depan kelas. Laporan penelitian dan partisipasi dalam pembelajaran diperhitungkan sebagai komponen penilaian dalam skor akhir. Proyek tersebut dibagi kedalam lima tahapan; persiapan – penelitian lapangan – presentasi – diskusi – simpulan.  Berpijak dari pembelajaran yang telah dilakukan, didapat beberapa hal yang penting sebagai hasil refleksi belajar; Mahasiswa memiliki kemampuan dalam menjelaskan teori dan pendekatan dalam Sosiologi Perkotaan, memahami proses migrasi antara migran formal dan informa, menjelaskan perilaku penduduk kota di ruang publik, melakukan analisa terhadap mekanisme survival pedagang Usaha Kecil dan Menengah (UKM), memahami bagaimana masyarakat perkotaan membentuk organisasi berbasis primordial dan bagaimana mereka mengambil manfaat dari organisasi tersebut.
MODEL PENDIDIKAN PARTISIPATIF EMPAT PILAR BANGSA BAGI INTEGRASI NASIONAL Haryono, Bagus; Sulistyo, Edy Tri; Zuber, Ahmad
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v5i2.2742

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pendidikan partisipatif tentang empat pilar bangsa pada masyarakat akar rumput. Penelitian ini dilakukan di Sudiroprajan. Penelitian dirancang menerapkan Participatory Action Research, dengan siklus planning, act, observe, dan reflection. Integrasi dianalisis dengan fungsionalisme struktural, sebatas Cina-Jawa, dan sebatas variabel tingkat pengamalan 4 pilar bangsa.  Hasil penelitian menunjukan bahwa melalui gambar dan tulisan yang mereka tuangkan dalam media mural, penelitian menunjukkan bahwa mereka memahami isi 4 pilar bangsa (Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI) dan merepresentasikan pengamalan dan penghayatannya dalam kehidupan sehari-hari. Melalui mural, selain menjadikan tembok tampak terawat, terlihat bersih dan enak dipandang, juga dapat mengaktualisasikan pesan asimilasi alamiah di kampung Mbalong menjadi representasi bahwa mereka tidak lagi mempermasalahkan etnisitas, mampu mereduksi ikatan primordialisme, menguatkan persatuan, nasionalisme, dan mengokohkan integrasi nasional. AbstractThis study aims to develop a participatory education model for educating four nation pillars in grassroots level. The research was concluded in Sudiroprajan Surakarta using participatory action research. The result shows that throught mural citizen can express their understanding of four nation pillars concern on the form of mural drawings and writings indicate that they understanding the content and practice the four nation pillars (Pancasila, the 1945 Constitution, Unity in Diversity, The Unity State Republic of Indonesia) in the everyday life. The murals do not only make the walls clean and pleasing. They also can actualize the message of natural assimilation. This is illustrated in Mbalong mural which suggests an idea that ethnicity there, is not longer a problem, that they can reduce primordial ties, strengthen unity, nationalism, and the national integration.  © 2013 Universitas Negeri Semarang
KONTESTASI DISKURSUS KETAHANAN PANGAN DAN PEMBENTUKAN KUASA PENGETAHUAN PEREMPUAN PADA KELUARGA PETANI SAWAH DI SUMATERA SELATAN -, Yunindyawati; Sumarti, Titik; Adiwibowo, Soeryo; Vitayala S. Hubbeis, Aida; -, Hardinsyah
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i1.2952

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji diskursus ketahanan pangan antaraktor dan pembentukan kuasa pengetahuan perempuan pada keluarga petani sawah lebak di Kecamatan Pemulutan Selatan kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan menggunakan paradigma konstruktivistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga  aktor utama dalam diskursus ketahanan pangan yakni pemerintah, komunitas dan pelaku usaha. Masing-masing aktor berupaya mempraktikkan diskursusnya pada keluarga petani. Pada saat mempraktikkan diskursus terjadi interaksi diskursus antaraktor yang bersifat sinergis. Namun diskursus yang paling dominan dipraktikkan oleh keluarga adalah diskursus komunitas, sementara diskursus pemerintah sebagai pelengkap dan diskursus pelaku usaha sebagai pendorong. Pembentukan kuasa pengetahuan perempuan oleh para aktor bersifat elastis dan terdapat perbedaan akses dalam pembentukan kuasa pengetahuan perempuan berdasarkan perbedaan kelas sosial. This study was to examine food security discourse between actors in the farmers family and the formation of the power of women’s knowledge. The method used was a qualitative method using constructivism paradigm. Research findings indicate that there were three main actors in the discourse of food security namely the government, community and business. Each attempt to practice their discourse on family farmers. It turns out that in practice this discourse, there were interaction between actors in synergy. But the most dominant discourse was discourse of community that practiced by the family while the government discourse as a supplement and entrepreneurs discourse as a spur. Formation of the power of women’s knowledge by actors were flexibles/elastics and there were differences acces of formation in power of women’s knowledge between women in different social classes
MEMBACA DISKURSUS POST-FEMINISME MELALUI NOVEL “PEREMPUAN DI TITIK NOL” Prasetyo, Kuncoro Bayu
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 2, No 2 (2010): Tema Edisi: Perempuan - Perempuan Marginal
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v2i2.2283

Abstract

Gerakan post-feminisme banyak diperjuangkan melalui berbagai wacana pengetahuan baik media massa, buku ilmiah, maupun karya sastra. Melalui novel yang berjudul “Perempuan di Titik Nol” karya sastrawan, jurnalis sekaligus psikiater berkebangsaan Mesir, Nawal El Saadawi, mengekspresikan pandangannya  tentang keperempuanan kontemporer. Tujuan tulisan ini adalah membedah post-feminisme dalam novel “Perempuan di Titik Nol” untuk mendiskusikan akar gerakan feminisme dunia dan hakikat dasar gerakan post-feminisme yang terbingkai dalam paradigma ideologi postmodernisme, serta menghubungkan secara kontekstual dengan situasi di Indonesia.Post-feminist movement fought through many discourse of knowledge, mass media, books, and letters. Through the novel, entitled ”Women at Point Zero”, writer, journalist and Egyptian psychiatrist, Nawal El Saadawi, expresses her points of view about contemporary womanhoond. The objective of this paper is to discuss post-feminism as represented in Women at Zero Point novel to shed light on post-feminist movement framed in ideological paradigm of postmodernism, and from there, make a contextual link with situation in Indonesia.
Efforts to Promote Surakarta and Makassar as Children Friendly Towns Hamudy, Moh Ilham A.
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v7i1.3596

Abstract

This study is about child-friendly city (KLA). This research is motivated by the lack of attention of the local government in protecting children and the issuance of Law No. 35 of 2014 on Protection of Children, which mandates local government obligations in the care of the child. This study sought to describe the various efforts made by the government of Surakarta and Makassar in realizing the KLA, the following supporting factors and obstacles surrounding the KLA embodiment. By using descriptive method and combine it with a qualitative approach, this study found some important points about the efforts of local governments in realizing the KLA. In Surakarta, for example, there have been several child-friendly community health centers (puskesmas). The Puskesmas is equipped with a private lounge complete with a children’s playground. In addition, services for children such as nutrition garden, corner of breast milk, pediatrician, child counseling services and a child abuse victim services also continue to be equipped, and many other programs. No wonder the Ministry of Women Empowerment and Child Protection Republic of Indonesia assessment scoring 713 from a total value of 31 indicators contained in the KLA who had filled the city of Surakarta. Meanwhile, Makassar City has not done a lot of local government programs, because the relatively new Makassar proclaimed KLA and is still central to reform. Among the new programs are being implemented and the Government of Makassar is giving birth certificate free of charge, to build flats in slums, and make the two villages as a pilot project KLA. The factors that affect the embodiment of the KLA it is a commitment. Not only the commitment of the head region, but also all relevant parties. As a cross cutting issue, the KLA also requires institutional capacity. Not only is the capacity of Women Empowerment and Child Protection Agency as a leading sector in the KLA, but also all work units other related areas. The success of the KLA in a city / county is also very dependent on the commitment of all parties concerned built. In addition, the program can not be done KLA in a short time, and require no small cost. Penelitian ini adalah tentang kota layak anak (KLA). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya perhatian pemerintah daerah dalam melindungi anak dan keluarnya UU No 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak yang mengamanatkan kewajiban pemerintah daerah dalam mengurus anak. Penelitian ini berusaha menggambarkan pelbagai upaya yang dilakukan pemerintah Kota Surakarta dan Makassar dalam mewujudkan KLA, berikut faktor pendukung dan penghambat yang melingkupi perwujudan KLA tersebut. Dengan menggunakan metode deskriptif dan memadunya dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini menemukan beberapa poin penting tentang upaya pemerintah daerah dalam mewujudkan KLA. Di Surakarta, misalnya, sudah ada beberapa puskesmas ramah anak. Puskemas itu dilengkapi dengan ruang tunggu khusus anak lengkap dengan alat bermainnya. Selain itu, layanan-layanan untuk anak seperti taman gizi, pojok ASI, dokter spesialis anak, layanan konseling anak dan tempat pelayanan korban kekerasan terhadap anak juga terus dilengkapi, dan masih banyak program lainnya. Tidak heran kalau penilaian Kementerian PPPA memberikan skor 713 dari total nilai yang terdapat dalam 31 indikator KLA yang sudah dipenuhi Kota Surakarta. Sedangkan, Kota Makassar belum banyak program yang dikerjakan pemerintah daerah. Pasalnya, Makassar relatif baru mencanangkan KLA dan kini masih tengah melakukan pembenahan. Di antara program yang baru dan sedang dilaksanakan Pemerintah Kota Makassar adalah pemberian akta kelahiran secara gratis, membangun rumah susun di kawasan kumuh, dan menjadikan dua kelurahan sebagai proyek percontohan KLA. Adapun faktor yang memengaruhi perwujudan KLA itu adalah komitmen. Tidak hanya komitmen kepala daerah, tetapi juga semua pihak terkait. Sebagai sebuah isu yang melibatkan pelbagai pihak, KLA juga membutuhkan kapasitas kelembagaan. Tidak hanya kapasitas Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebagai leading sector KLA, tetapi semua satuan kerja perangkat daerah terkait lainnya. Selain itu, program KLA tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat, dan memerlukan biaya yang tidak sedikit.
PROTEST AND CONSUMER: A CONTENT ANALYSIS OF EBSCO ELECTRONIC DATABASE ACROSS 50 YEARS A. Hendarto, Kresno; Dharmmesta, Basu S.; Purwanto, B.M.; Moeliono, Moira M.M.
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v5i2.2733

Abstract

AbstractThe objective of this research is to review the articles of protest and consumer in EBSCO electronic journal. The objective will be achieved by answering the following questions: (i) what is the method of reviewed articles with the topic of protest; and (ii) what agenda of future research? The results showed that most reviewed articles  used qualitative approach. Most research are empirical in nature. For articles of empirical research, most of the data were obtained through observation and were analyzed descriptively. Literature on protest and consumer can be classified into 3 main categories: (1) discussing about the frequency, cause, and objective of protest; (2) discussing about the consequence of protest; and (3) discussing about the  motivation of individuals in taking part in the protest. This review also showed that there are major gaps from the previous research including the fact that attitude is not the focal point in explaining why consumers take part in protest and no article discussed consumers’ attitude to the object taking part in the protest.  AbstrakTujuan penelitian ini adalah melakukan ulas balik artikel-artikel bertopik protes dan konsumen pada database elektronik EBSCO. Tujuan tersebut akan dicapai dengan menjawab pertanyaan penelitian sebagai berikut: (i) apa metode dan sifat dasar dari artikel yang bertopik protes; dan (ii) agenda penelitian apa yang masih terbuka ke depan? Hasil analisis menunjukkan bahwa kebanyakan artikel yang direview menggunakan pendekatan kualitatif. Kebanyakan artikel merupakan penelitian empiris. Untuk artikel penelitian empiris, mayoritas data diperoleh dengan cara observasi, dan dianalisis secara deskriptif. Literatur tentang protes dan konsumen dapat digolongkan dalam 3 bagian besar, yaitu (1) yang membahas tentang frekuensi, sebab, dan tujuan protes; (2) yang membahas tentang konsekuensi dari protes; dan (3) yang membahas tentang motivasi individu yang mendasari untuk berpartisipasi dalam protes. Ada beberapa kesenjangan dalam penelitian-penelitian  sebelumnya, diantaranya adalah bahwa sikap bukan merupakan fokus dalam menjelaskan mengapa konsumen melakukan protes dan belum ada dari artikel tersebut yang melihat sikap konsumen terhadap objek yang melakukan protes. © 2013 Universitas Negeri Semarang
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA PADA MATA PELAJARAN SOSIOLOGI Anggorowati, Ningrum Pusporini
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v3i1.2303

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaannya model pembelajaran tutor sebaya (peer teaching) di SMAN I Brebes. Subjek dalam penelitian ini adalah guru sosiologi kelas XI IPS 1 dan siswa kelas XI IPS 1. Hasil penelitian menunjukkan peer teaching memerlukan persiapan yang matang, dan setiap tahap pelaksanaan hendaknya dievaluasi untuk mendapatkan hasil yang baik. Faktor pendukung dalam pelaksanaan model pembelajaran tutor sebaya antara lain yaitu adanya interaksi antara guru dengan siswa, minat belajar siswa cukup tinggi, guru dan siswa lebih akrab dalam kegiatan pembelajaran, keterlibatan tutor sebaya dalam kelompok belajar membuat suasana pembelajaran lebih menarik, sedangkan faktor penghambatnya antara lain yaitu kurangnya persiapan dari para tutor, sarana dan prasarana kurang memadai, kegiatan pembelajaran kurang kondusif, dan sumber belajar kurang memadai. The objective of this study is to examine the implementation of peer tutoring learning model (peer teaching) in SMAN I Brebes. Subjects in this study were teachers sociology class XI IPS 1 and class XI IPS 1. Results show that the implementation of peer teaching requires preparation, and each stage of the implementation should be evaluated to obtain good results. Factors supporting the implementation of peer tutoring learning model, among others, the interaction between teachers and students, and also student interest is high; teachers and students are more familiar in learning activities, and peer tutor involvement in the study group to make the learning environment more attractive. The inhibiting factor of peer teaching strategy include among others the lack of preparation of the tutors, inadequate infrastructure, lack of conducive learning activities, and learning resources are inadequate.

Filter by Year

2010 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 2 (2023): September Vol 15, No 1 (2023): March Vol 14, No 2 (2022): September 2022 Vol 14, No 1 (2022): March 2022 Vol 14, No 2 (2022): September Vol 13, No 2 (2021): September 2021 Vol 13, No 1 (2021): March 2021 Vol 12, No 2 (2020): September 2020 Vol 12, No 1 (2020): March 2020 Vol 12, No 2 (2020): September Vol 12, No 1 (2020): March Vol 11, No 2 (2019): September 2019 Vol 11, No 1 (2019): Komunitas, March 2019 Vol 11, No 1 (2019): March 2019 Vol 11, No 2 (2019): September Vol 10, No 2 (2018): Komunitas, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): September 2018 Vol 10, No 1 (2018): March 2018 Vol 10, No 1 (2018): Komunitas, March 2018 Vol 10, No 1 (2018): Komunitas, March Vol 9, No 2 (2017): September 2017 Vol 9, No 2 (2017): Komunitas, September 2017 Vol 9, No 1 (2017): Komunitas, March 2017 Vol 9, No 1 (2017): Komunitas, March 2017 Vol 9, No 1 (2017): March 2017 Vol 8, No 2 (2016): Komunitas, September 2016 Vol 8, No 2 (2016): September 2016 Vol 8, No 2 (2016): Komunitas, September 2016 Vol 8, No 1 (2016): Komunitas, March 2016 Vol 8, No 1 (2016): March 2016 Vol 8, No 1 (2016): Komunitas, March 2016 Vol 7, No 2 (2015): Komunitas, September 2015 Vol 7, No 2 (2015): Komunitas, September 2015 Vol 7, No 2 (2015): September 2015 Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015 Vol 7, No 1 (2015): March 2015 Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015 Vol 6, No 2 (2014): Komunitas, September 2014 Vol 6, No 2 (2014): September 2014 Vol 6, No 2 (2014): Komunitas, September 2014 Vol 6, No 1 (2014): March 2014 Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial Vol 5, No 2 (2013): September 2013 Vol 5, No 1 (2013): March 2013 Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa Vol 5, No 1 (2013): Tema Edisi: Multikulturalisme dan Interaksi Sosial Vol 5, No 1 (2013): Tema Edisi: Multikulturalisme dan Interaksi Sosial Vol 4, No 2 (2012): September 2012 Vol 4, No 1 (2012): March 2012 Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas Vol 4, No 1 (2012): Tema Edisi: Kearifan Lokal Tidak Pernah Kering Vol 4, No 1 (2012): Tema Edisi: Kearifan Lokal Tidak Pernah Kering Vol 3, No 2 (2011): September 2011 Vol 3, No 1 (2011): March 2011 Vol 3, No 2 (2011): Tema Edisi: Pendidikan Karakter Perspektif Sosial Budaya Vol 3, No 2 (2011): Tema Edisi: Pendidikan Karakter Perspektif Sosial Budaya Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan Vol 2, No 2 (2010): September 2010 Vol 2, No 2 (2010): Tema Edisi: Perempuan - Perempuan Marginal Vol 2, No 2 (2010): Tema Edisi: Perempuan - Perempuan Marginal More Issue