cover
Contact Name
Suharto
Contact Email
suharto@mail.unnes.ac.id
Phone
+628122853530
Journal Mail Official
suharto@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Gedung B2 Lt.1 Kampus Sekarang Gunungpati Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Harmonia: Journal of Research and Education
ISSN : 25412426     EISSN : -     DOI : 10.15294
Core Subject : Education, Art,
Harmonia: Journal of Arts Research and Education is published by Departement of Drama, Dance, and Music, Faculty of Language and Arts, Universitas Negeri Semarang in cooperation with Asosiasi Profesi Pendidik Sendratasik Indonesia (AP2SENI)/The Association of Profession for Indonesian Sendratasik Educators, two times a years. The journal has focus: Research, comprises scholarly reports that enhance knowledge regarding art in general, performing art, and art education. This may include articles that report results of quantitative or qualitative research studies.
Articles 1,219 Documents
MELATIH TUBUH: SEBUAH METODE BARU OLAH TUBUH DALAM TARI Setiyastuti, Budi
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i1.2069

Abstract

Tubuh untuk keperluan tari adalah tubuh berdaya dan berjiwa yang diaktulisasikan lewat ekspresi. Tubuh tari memiliki makna. Tubuh yang aktif, terlatih, terampil, dan cerdas. Melatih Tubuh merupakan metode latihan untuk mencapai kepenarian,   yang dikembangkan merujuk  berbagai sumber olah tubuh  seperti  tari tradisi Jawa Surakarta,  yoga, t’ai chi, aerobik dan body languange.  Dalam susunannya, terdiri dari pernapasan dan peregangan, kelenturan, kekuatan, keseimbangan, penguatan otot perut, koordinasi, kelincahan, vibrasi, dan pendinginan.  Penataan pentas Melatih Tubuh menggunakan pendekatan natural, dekorasi panggung secara terbatas menggunakan backdrop hitam sebagai batas belakang panggung, tata artistik lebih ditekankan kepada penguatan cahaya untuk memperjelas visualisasi penari di atas panggung, irama musikal  sebagai pendukung digunakan  rekaman album Music for Yoga produksi Domo Records. The body for this dancing is the powerful and spirited one actualized through physical expression. Dancing body has meaning. It is also an active, trained, dexterous, and smart one. The dancing body is responsive and highly coordinative showing intellectual, emotional, and spiritual abilities. Body rehearsal is a method to achieve one’s dancing skill and developed referring to various sources of body movement such as Surakarta Javanese dance, yoga, t’ai chi, aerobics, and body language. Among the steps include breathing and stretching; keeping elasticity, strength, balance, coordination, dexterity, vibration; stomach muscles strengthening; and cooling down. The staging of Body Rehearsal uses a natural approach, and a minimal stage decoration with black backdrop as the upstage border. The artistic setting is more focused on stronger lighting to illuminate dancers’ visualization on the stage. The sound effects as accompaniment use Music for Yoga album produced by Domo Records.
APRESIASI SEBAGAI SALAH SATU PENDEKATAN DALAM PEMBELAJARAN SENI TARI DI SMP Ispahani, Valentina Susi
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i1.2070

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan pembelajaran seni tari dengan menggunakan pendekatan apresiasi.  Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah bahan masukan kepada guru seni budaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa  melalui pendekatan apresiasi dan siswa dapat meningkatkan keterampilan dalam mempraktekkan dan memahami seni tari khususnya tari.  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan studi kasus di SMP Negeri 33 Semarang. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisa dengan cara mendeskripsikan dan menyimpulkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi siswa dalam mempelajari tari tinggi, suasana pembelajaran yang menyenangkan, guru mampu menggunakan pendekatan, metode serta teknik pembelajaran yang tepat, media pembelajaran yang cukup memadai. This research is aimed to fi nd out and describe dance learning by means of appreciation approach. The expected advantages of this approach serve as inputs for dance teachers to enhance students’ learning through appreciation approach and students could likewise improve their skill in practicing and understanding dancing. This research used qualitative method by means of case study held at Public Secondary High School 33 Semarang. Data sampling was done by observation, interview, and documentation. The collected data was analyzed by means of description and conclusion. The result showed that the students’ motivation in learning dancing was high, and the learning class was enjoyable. Accordingly, teachers could make use of a more appropriate learning approach, method, and technique by this appreciation approach.
PENGARUH TARI JAWA PADA TARI BALADEWAN BANYUMASAN -, Indriyanto
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i1.2071

Abstract

Tradisi besar akan mempengaruhi tradisi kecil. Tari Jawa sebagai tradisi besar berpengaruh pada tari Baladewan Banyumasan sebagai tari tradisional kerakyatan dan sebagai tradisi kecil.   Pengaruh tari Jawa pada tari Baladewan dapat ditelaah melalui gerak tarinya.  Norma dasar menari pada tari Baladewan mempunyai kesamaan dengan norma dasar menari pada tari Jawa yaitu sikap kaki mendak, pupu mlumah, kaki malang, dada ndegég, perut ngempis dan pantat ditarik ke belakang.  Kategori tari Baladewan mirip dengan kategori tari Putera Gagah pada tari Jawa.  Pengaruh tari Jawa pada gerak tari Baladewan terdapat pada unsur-unsur gerak kepala, tangan, badan, dan kaki yang membentuk ragam-ragam gerak tari Baladewan. Unsur-unsur gerak tersebut mempunyai banyak kesamaan dengan unsur-unsur gerak pada tari Jawa. A big tradition will infl uence a small one. Javanese dance as the big tradition had some infl uence on Banyumas Baladewan dance as a traditional folk dance and the small tradition. The infl uence of Javanese dance on Baladewan dance could be identifi ed in its dance movement. The basic norms of dance in Baladewan dance have some affi nities with those of Javanese dance, namely kaki mendak (descending feet), pupu mlumah (lying thigh), kaki malang (crossed-legged), dada ndegeg (throwing out chest), perut ngempis (shriveling belly), and buttock pulled backward. The category of Baladewan dance resembles the one of Putera Gagah (sturdy son) dance in Javanese dance. The infl uence of Javanese dance on Baladewan dance movement is discernible in the movements of head, hands, body, and feet that shape the diverse moves of Baladewan dance. The moves have many affi nities to the ones in Javanese dance.
MODEL PEWARISAN KOMPETENSI DALANG Jazuli, M.
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i1.2072

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan model pembelajaran (pewarisan) kompetensi dalang. Untuk mengetahui model pembelajaran digunakan pendekatan pembelajaran tidak langsung dari Roger yaitu non-directive interview. Untuk mengetahui persyaratan dalang yang kompeten itu digunakan pendekatan strukturasionistik. Setting penelitian adalah jagat pedalangan, sedangkan lokasi penelitian bersifat situasional yakni bergantung dimana dan kapan siswa belajar mendalang. Hasil penelitian menemukan tiga model pembelajaran dalang. Pertama, model pembelajaran dalang di Sekolah dengan sistem dan aturan yang ketat, seperti  kurikulum, jadwal belajar, memiliki standar kompetensi dan standar kelulusan. Kedua, model pembelajaran dalang di Luar Sekolah, yaitu lembaga kursus. Ketiga,  model pembelajaran dalang di Luar Sekolah yang berbentuk Sanggar Seni. This study aims to describe the learning model (inheritance) of dalang competence. Efforts to overcome  the problems of  the study used qualitative research paradigms. To determine the learningmodel it was used an indirect approach of  Roger namely a non-directive interview. To fi nd out the requirements for competent dalang it was used structurasionistic approach. Setting of  the reseach is  world of puppetry, while research sites are situational, ie, depends where and when students learn a performer. The reseach founded three dalang learning models. First, the dalang learning model school system and the strict rules, such as a curriculum, a schedule of learning, competency standars and graduation standards.  Second, learning models are in out of school (non-formal school),for instance in the course  institution. Third, the dalang learning model in out of school (non-formal school) named  art studios.
SERAMPANG XII: TARI KREASI YANG MENTRADISI PADA MASYARAKAT MELAYU PESISIR SUMATERA TIMUR -, Nurwani
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i1.2073

Abstract

Tari Serampang XII merupakan tari kreasi yang selalu hidup dalam masyarakat pendukungnyaterutama pada masyarakat Melayu Pesisir Sumatera Timur. Tari Serampang XIIdiciptakan oleh Sauti pada tahun 1938. Tari Serampang XII yang berkembang pesat padamasyarakat Melayu Pesisir Sumatera Timur berakar dari gerak-gerak tari ronggeng Melayu.Konsep tari Serampang XII yang mengisahkan percintaan sampai ke jenjang pernikahandisusun kedalam XII ragam. Nilai estetika yang terdapat dalam tarian ini disesuaikandengan nilai estetika masyarakat Melayu itu sendiri. Tari ini tidak hanya berfungsi sebagaihiburan dan sebagai persentasi estetis, tetapi juga berfungsi sebagai kesinambungan kebudayaan,sebagai sarana pensisikan dalam menyampaikan pesan-pesan moral, dan jugapernah berfungsi sebagai propaganda politik Serampang XII Dance is a creative dance that keeps lingering on the tradition of Coast MalayPeople in East Sumatra. Serampang XII dance was created by Sauti in 1938. The dance which grewrapidly in Coast Malay People, East Sumatra was rooted in Malay ronggeng dance. The concept ofSerampang XII dance, which tells about a love story from courtship to marriage, was composed intoXII varieties. The aesthetic value in this dance is adjusted to the aesthetic one of the Malay people.This dance does not only serve as a cultural sustainability but also as scaling means in conveyingmoral messages and political propaganda.
CAMPURSARI MANTHOUS : ANTARA MUSIK JENIS BARU DAN FENOMENA SOSIAL MASYARAKAT PENDUKUNG -, W a d i y o; Haryono, Timbul; Soedarsono, R.M.; Ganap, Victor
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i2.2204

Abstract

Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah hubungan fenomena Campursari Manthous sebagai ‘jenis musik Jawa baru/kreasi’ dengan fenomena kondisi sosial budaya masyarakat pendukung. Pendekatan penelitian ini adalah sosiologis dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian, Gunung Kidul, Klaten, Boyolali, dan Semarang. Hasil penelitian menunjukkan, Campursari Manthous merupakan paduan antara musik diatonik gamelan dengan musik non diatonik utamanya langgam dan pop. Basik  garapan Campursari Manthous ada tiga, yakni berbasis gending,  langgam, dan  pop. Melalui fenomena Campursari Manthous yang dijadikan sebagai sarana berkesenian sehari-hari oleh masyarakat pendukung dapat diketahui aspek kehidupan sosial budaya masyarakat pendukungnya. Aspek kondisi sosial budaya masyarakat tersebut dikaitkan dengan aspek mentalitas. Dalam konteks ini masyarakat pendukung Campursari Manthous adalah masyarakat yang bukan kategori masyarakat  tradisional murni tetapi juga bukan masyarakat yang murni modern. The problem in this research is focused on the relationship between Campursari Manthous as a new Javanese music and social phenomena of its supporting community. This research uses sociological approach by means of descriptive-qualitative method. It was located in Gunung Kidul, Klaten, Boyolali and Semarang. The result shows that Campursari Manthous harmonizes the diatonic traditional Javanese musical instrument and non-diatonic music such as langgam and pop. The basic instruments of Campursari Manthous are three, namely gending, langgam, and pop. The phenomena of Campursari Manthous used as daily musical media by its supporting community could reveal the socio-cultural aspects of its community. These are related to mentality aspect. In consideration of this latter aspect, the community does not either characterize a purely traditional community or a purely modern one.
MAKNA SIMBOLIS DAN PERANAN TARI TOPENG ENDEL Ratnaningrum, Ika
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i2.2205

Abstract

Tari Topeng Endel termasuk dalam jenis tari tradisional kerakyatan, karena di ciptakan oleh masyarakat setempat. Tari topeng Endel penciptaannya pada masa itu dipengaruhi oleh seni pertunjukan dari kota Cirebon, yaitu dengan adanya tari Topeng Cirebon. Tari Topeng Endel yang memiliki makna simbolik yang menjeng, lenjeh, kemayu dan genit, serta gerakan yang kasar. Makna simbolik tersebut menggambarkan karakter masyarakat Tegal sendiri khususnya kaum perempuannya. Tari Topeng Endel sendiri sudah tercatat sebagai rekor Muri, yaitu pernah menampilkan 1000 penari pada saat hari jadi kota Tegal. Setelah mendapatkan predikat rekor Muri, pemerintah kota Tegal mempopulerkan dengan  menjadikan tari Topeng Endel sebagai tarian yang dimanfaatkan sebagai upacara sakral kabupaten, sebagai hiburan dan sebagai sarana pendidikan. Dengan harapan, tari Topeng Endel bisa dikenal dan diakui oleh seluruh kalangan masyarakat kota Tegal sendiri dan masyarakat sekitarnya.Topeng Endel is one of traditional folk dances since it was created by the local people. The creation of Endel mask dance was influenced by performing arts from Cirebon, which was Cirebon Mask Dance. Endel Mask Dance has a symbolic meaning such as being effeminate, coquettish, and having rough motions. The symbolic meaning shows the characters of Tegal people especially the women. Endel Mask Dance has been noted in Muri Record for performing 1000 dancers during the anniversary of Tegal. After having the award from Muri, the local government of Tegal has popularized Endel Mask Dance as a dance used as a sacred rite at Tegal regency, as an entertainment and an education media. Tegal people hope that Endel Mask Dance will be widely known and recognized by the local people as well as by people from other towns.
KEBERADAAN KEYBOARD PADA GENDANG GURO-GURO ARON DAN PENGARUHNYA TERHADAP KARAKTER MUDA- MUDI KARO Rahmah, Siti
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i2.2206

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesenian guro-guro aron pada masyarakat Karo yang menyangkut perubahan, dan pengaruh keyboard pada musik Guro-guro Aron. Pada awalnya keyboard digabungkan dengan ensambel kesenian tradisional Karo dalam mengiringi seni pertunjukan tradisional gendang guro-guro aron, namun belakangan alat musik Barat tersebut digunakan secara tunggal untuk mengiringi gendang guro-guro aron, tanpa disertai musik tradisional.  Masuknya instrumen keyboard, menambah semaraknya pertunjukan. Namun demikian, hadirnya musik keyboard memunculkan masalah yang  baru pada satu sisi, yaitu  masalah etika menjadi tidak diperhatikan bagi muda-mudi Karo sebagai penerus budaya Karo. Tata cara menari yang semakin seronok dan serampangan sering terjadi dengan atau tanpa sengaja oleh komunitas pendukungnya. Terjadinya penyimpangan dan pergeseran justru membuat survive keberadaannya. This research is meant to describe guro-guro aron musical arts of Karo community, dealing with changes and influences of keyboard on Guro-guro Aron music. Formerly, keyboard was combined with ensemble of Karo’s traditional music in accompanying gendang guro-guro aron performance. Yet, recently the western music instrument has been used as a solo instrument to accompany gendang guro-guro aron, without any traditional musical instrument. The use of keyboard embellishes the musical performance. Nevertheless, the use of keyboard causes a new problem, the indifference to local ethics of the Karo youngsters as the next generation of Karo culture. The perfunctory and vulgar dancing styles are often practiced deliberately or unintentionally by the supporting community. Yet, the changing dancing practices have indeed established its existence.
PENGEMBANGAN TEKNIK KONDAKTING DAN PENDOKUMENTASIAN DALAM MEDIA REKAM DAN CETAK UNTUK MENDUKUNG PROSES LATIHAN KONDAKTING Susetyo, Bagus
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i2.2207

Abstract

Ada kebutuhan untuk melakukan formulasi di dalam teori dasar suara dan pengembangan agar dalam pembuatannya menjadi referensi bagi guru seni budaya di kota Semarang, dalam bentuk  pengembangan teknik dan dokumentasi  media rekam dan cetak dalam rangka memungkinkan pelaksanaan yang tepat dan lebih baik serta dalam penerapannya lebih estetis. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yang dikombinasikan dengan penelitian dan pengembangan. Pengumpulan data melibatkan reduksi data, interpretasi, presentasi, dan, kemudian, verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya sinkronisasi teori dan pola dasar dan perkembangannya berdasarkan gerakan yang dilakukan oleh guru seni dan budaya dan dilaksanakan di dalam kelas. Pola-pola pembangunan meliputi: postur berdiri,  sikap, insetting dan attack. Pelaksanaan gerakan komando merupakan perkembangan tempo. 2/4, 3/4, 4/4, dan 6/8. Dalam gerakan penutupan, beberapa variasi yang dikembangkan, yaitu MOR, dan thriller. Dinamik, tempo, ekspresi dan fermata dikembangkan lebih bervariasi. There was a need for a conducting formulation under a sound basic theory and development in order to make it a reference for those teachers of arts and cultures in Semarang municipality, in the form of conducting technique development and documentation in recorded and printed media in order to enable appropriate and better implementation as well as more aesthetic conducting. The research method used was a descriptive qualitative one combined with research and development. The data collection involved data reduction, interpretation, presentation, and, then, verification. The research result indicated the presence of synchronization of theory and basic pattern of conducting and its development based on the movement practiced by teachers of arts and cultures and implemented in the classroom. Those development patterns included: standing posture, set attitude, insetting and attack. The implementation of command movement constituted the development of tempo of. 2/4, 3/4, 4/4, and 6/8. In closure movement, several variances were developed, i.e. called, MOR, and thriller. The dynamics, tempo, expression and fermata were developed more variedly.
KIDUNG SEKATEN ANTARA RELIGI DAN RITUS SOSIAL BUDAYA Utami, Hadawiyah Endah
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i2.2208

Abstract

Kidung Sekaten merupakan karya tari yang dipentaskan pada upacara gerebeg Sekaten di depan Masjid Agung Surakarta.  Perkembangan pengaruh Islam di pusat kerajaan relatif menggunakan sarana adat yang telah dipelihara masyarakat secara turun-temurun. Masyarakat setempat menerima kehadiran Islam sebagai suatu pelengkap kebutuhan rohaniah sehingga tercapai keseimbangn hidup.  Perayaan Sekaten sebagai salah satu wujud percampuran budaya  menyangkut  berbagai aspek multidimensi.  Islam  menyatu dengan kebudayaan setempat dengan cara  elastis, baik yang berhubungan dengan pengenalan simbol-simbol Islami  maupun  ritus-ritus keagamaan.  Kidung  Sekaten merupakan salah satu garapan  tari untuk mendukung upacara ritual pengucapan shahadatain di depan Masjid Agung Surakarta dengan memanfaatkan bunyi gamelan sekaten,  keramaian bunyi rebana, orang mengaji, santiswaran, Kidungan, mainan gasingan, sebagai iringan tari  yang diselenggarakan bersamaan dengan gerebeg Maulud. Sekaten chants constitute a dance performed during Gerebeg Sekaten ceremony in front of Grand Mosque of Surakarta. The development of Islamic influence in Surakarta royal palace relatively used custom rites that have socially been maintained throughout the generations. Local people accepted Islamic religion as their spiritual need for achieving life balance. Sekaten celebration as one of acculturation forms encompasses many kinds of multidimensional aspects. Islam elastically blends into local cultures, either in Islamic symbols or religious rites. Sekaten chants is one of dancing performances to endorse the ritual ceremony of Shahadatain articulation in front of the Grand Mosque by making use of Sekaten traditional musical orchestra, the jingling of tambourine, man’s praying voice, santiswaran, chants, spinning a top, as the dance accompaniment along with Gerebeg Maulud.

Page 20 of 122 | Total Record : 1219


Filter by Year

2000 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1 (2024): June 2024 Vol 23, No 2 (2023): December 2023 Vol 23, No 1 (2023): June 2023 Vol 22, No 2 (2022): December 2022 Vol 22, No 1 (2022): June 2022 Vol 21, No 2 (2021): December 2021 Vol 21, No 1 (2021): June 2021 Vol 20, No 2 (2020): December 2020 Vol 20, No 1 (2020): June 2020 Vol 19, No 2 (2019): December 2019 Vol 19, No 1 (2019): June 2019 Vol 18, No 2 (2018): December 2018 Vol 18, No 1 (2018): June 2018 Vol 17, No 2 (2017): December 2017 Vol 17, No 1 (2017): June 2017 Vol 16, No 2 (2016): (Nationally Accredited, December 2016) Vol 16, No 2 (2016): December 2016 Vol 16, No 1 (2016): June 2016 Vol 16, No 1 (2016): (Nationally Accredited, June 2016) Vol 15, No 2 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2015) Vol 15, No 2 (2015): December 2015 Vol 15, No 1 (2015): June 2015 Vol 15, No 1 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, June 2015) Vol 14, No 2 (2014): December 2014 Vol 14, No 2 (2014): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2014) Vol 14, No 1 (2014): (DOI & DOAJ Indexed, June 2014) Vol 14, No 1 (2014): June 2014 Vol 13, No 2 (2013): December 2013 Vol 13, No 2 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, December 2013) Vol 13, No 1 (2013): June 2013 Vol 13, No 1 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, June 2013) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 3, No 2 (2002) Vol 3, No 2 (2002) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 1 (2000) Vol 1, No 1 (2000) More Issue