cover
Contact Name
Suharto
Contact Email
suharto@mail.unnes.ac.id
Phone
+628122853530
Journal Mail Official
suharto@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Gedung B2 Lt.1 Kampus Sekarang Gunungpati Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Harmonia: Journal of Research and Education
ISSN : 25412426     EISSN : -     DOI : 10.15294
Core Subject : Education, Art,
Harmonia: Journal of Arts Research and Education is published by Departement of Drama, Dance, and Music, Faculty of Language and Arts, Universitas Negeri Semarang in cooperation with Asosiasi Profesi Pendidik Sendratasik Indonesia (AP2SENI)/The Association of Profession for Indonesian Sendratasik Educators, two times a years. The journal has focus: Research, comprises scholarly reports that enhance knowledge regarding art in general, performing art, and art education. This may include articles that report results of quantitative or qualitative research studies.
Articles 1,219 Documents
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PERTUNJUKAN MUSIK DANGDUT ORGAN TUNGGAL Andaryani, Eka Titi
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i2.2209

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  : (1) Bentuk pertunjukan dan budaya masyarakat setempat terhadap pertunjukan musik dangdut organ tunggal; (2) Persepsi masyarakat Kota Tegal terhadap pertunjukan musik dangdut organ tunggal. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan cara menggambarkan atau menguraikan keadaan yang terjadi pada objek penelitian yang dalam hal ini pertunjukan musik dangdut organ tunggal di kota Tegal. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi pustaka, observasi, wawancara serta dokumentasi. Data dianalisis dengan menggunakan analisis data deskriptif. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pertunjukan musik dangdut organ tunggal di kota Tegal seringkali dihadiri oleh banyak penonton dari berbagai tingkatan usia. Lagu-lagu yang disajikan pada pertunjukan organ tunggal sebagian besar berupa tarling dangdut. Pertunjukan musik dangdut tersebut dijadikan cerminan status sosial masyarakat Kota Tegal. This study is aimed to find out: (1) Performing Arts and Culture of local people in solo organ dangdut musical performance; (2) Tegal People’s Perception towards solo organ dangdut musical performance. This study uses descriptive-qualitative approach by describing or figuring out the facts in the solo organ dangdut musical performance in Tegal. Techniques of data collection in this research include library study, observation, interview and documenting. This research uses descriptive analysis. From this research, it is concluded that the solo organ dangdut performance in Tegal attracts more audience of different ages. The songs that are presented in the solo organ performance are mostly dangdut. The dangdut musical performance can reflect social status of Tegal people.
DESKRIPSI KUALITATIF SEBAGAI SATU METODE DALAM PENELITIAN PERTUNJUKAN -, Subandi
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i2.2210

Abstract

Seni pertunjukan merupakan salah satu manivest dari kebudayaan yang awal mulanya  dikenal sebagai seni tontonan.  Seni pertunjukan mulai menjadi perhatian setelah meningkatnya kebutuhan masyarakat dan anggautanya untuk merefleksikan dirinya dalam berbagai medium. Diperlukan penelitian yang seksama dari berbagai disiplin  ilmu sosial terutama sosiologi seni untuk memperkuat landasan teori yang akan dibangun. Deskripsi sebagai sebuah model penelitian kualitatif dengan pendekatan Sosiologi seni merupakan salah model analisis yang memadai. Seni pertunjukan merupakan proses dan produk kreatifitas pencipatan seniman berkaitan erat dengan masyarakat pendukungnya. Seni Pertunjukan rentan dalam ruang, waktu dan alat, sehingga kecermatan peneliti sebagai instrumen penelitian menjadi kunci untuk mengambil kesimpulan yang tepat. Performing arts is one manifestation of culture that was once known as a showbiz. Performing arts began to attract people’s interest since people and their members found the need for reflecting themselves in many kinds of medium. It is necessary to have a thorough study from various social sciences especially Art Sociology to bolster theoretical foundation. Description as a qualitative research model by means of Art Sociology approach is an appropriate analysis model. Performing arts is a process and a creative product of the artist in accordance with their supporting community. Performing arts is susceptible to space, time, and tools so that a researcher’s accuracy as a research instrument becomes the key to make a correct decision.
KIDUNG KANDHASANYATA SEBAGAI EKSPRESI ESTETIK PESINDEN WANITA MARDUSARI -, Darmasti
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i2.2211

Abstract

Salah satu karya sastra berbahasa daerah yang berbentuk puisi adalah macapat. Macapat bila disuarakan dinamakan tembang macapat. Tembang macapat termasuk seni vokal yang bersifat mandiri atau sajian vokal yang menyertai gamelan. Pada masa Mangkunagara VII, muncul seorang seniwati profesional di bidang tari dan karawitan, memiliki kemampuan sebagai pesindhen, penyusun teks sindhenan berbentuk karya sastra, yang berpengaruh hingga sekarang didunia olah vocal pesinden. Kidung Kandhasanyata merupakan ekpresi estetik yang mencerminkan peristiwa serta ‘nilai-nilai’ yang berlaku. Kidung Kandhasanyata merupakan cakepan sindenan hasil karya sastra Mardusari yang berbentuk tembang mocopat. Macapat kandungan isinya berfungsi sebagai pembawa amanat, sarana penuturan, penyampai ungkapan rasa, sarana penggambaran suasana, penghantar teka-teki, alat penyuluhan dan dilagukan berirama. One of poetic works written in local language is macapat. It is named so when it is recited. Macapat chants constitute an autonomous recitation or a vocal that accompanies traditional musical instruments. During the times of Mangkunegara VII, there was a professional female artist in dancing and karawitan (traditional music instruments), having skills as pesindhen (Javanese female singer), and in composing literary sindhenan (Javanese chants) texts, that gives influences to pesindhen (Javanese female singers) even to this present time. Kidung Kandhasanyata (Kandhasanyata chants) is an aesthetic expression that reflects prevailing events and values. This chant is cakepan of chants of Mardusari literature in the form of macapat. The contents of macapat function as the harbinger of messages, oracy media, expression of feelings, illustration of atmosphere, delivery of puzzles, instruction media, and rhythmic chants.
KESADARAN ESTETIS MENURUT HANS-GEORG GADAMER (1990-2002) -, Sunarto
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i2.2212

Abstract

Hans-Georg Gadamer (1900-2002) adalah seorang filsuf dalam bidang hermeneutika yang sangat terkenal. Menjelang pensiunnya tahun 1960, kariernya menanjak dengan diterbitkan bukunya, Wahrheit und Method atau Truth and Method. Dalam bukunya Gadamer memberikan pemahaman pada tingkatan ontologis bukan metodologis. Di sini Gadamer ingin mencapai kebenaran tidak lewat metode melainkan dengan dialektika. Alasannya, dengan dialektika mengandaikan suatu kebebasan dalam mengajukan berbagai pertanyaan dibanding dalam proses metodis. Berangkat dari hal tersebut Gadamer merambah ke persoalan estetik (seni). Gadamer mengatakan bahwa dalam estetis ditemukan kebenaran, tetapi bukan kebenaran melalui metodis (penalaran) melainkan kebenaran yang menurut faktanya “berlainan dengan kebenaran metodis”. Gadamer juga mencetuskan tentang konsep “permainan”. Hans-Georg Gadamer (1990-2002) is a famous philosopher in Hermeneutics. During his retirement in 1960, his career escalated by the publishing of his book, Wahrheit und Method or Truth and Method. In his book, Gadamer gives an ontological and not a methodological understanding. In this case, Gadamer wanted to achieve the truth, not through method but by dialectics. The reason is that the dialectics enables people to imagine freedom in proposing various questions rather than those in methodical process. Starting from these things, Gadamer explored more on aesthetic subjects (arts). Gadamer said that in aesthetics, he found truth, but not the truth through methodical process (reasoning) but the truth based on its facts, “different from its methodical truth.” Gadamer also proposed a concept of “games.”
MEMBANGUN INDUSTRI KREATIF DI MALUKU MELALUI PENDIDIKAN SENI Ganap, Victor
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i1.2213

Abstract

Bagian Timur Indonesia khususnya kepulauan Maluku terdiri dari banyak pulau, sementara orang-orangnya juga dianugerahi dengan musikalitas yang luar biasa, dilihat dari keterampilannya dalam menyanyi, perbendaharaan folksong besar, dan kekayaan aktivitas sehari-hari yang bersentuhan dengan musik. Namun, keberkahan bakat sejauh ini sudah dianggap sebagai seni yang memiliki tujuan, dimana orang-orang Maluku dengan gembira melakukan kehidupan estetika mereka hanya untuk tujuan mereka sendiri. Pendidikan seni formal telah didirikan di Maluku, di mana kemauan politik pemerintah daerah untuk mencapai seni dengan akulturasi dan metamorfosis nampak belum terpenuhi. Sekarang, waktunya bahwa orang Maluku harus memberdayakan budaya yang kaya mereka terutama kemampuan luar biasa mereka di dunia seni dengan memproduksi seniman-seniman lokal terpadu, yang tidak hanya profesional di bidangnya, tetapi juga mungkin dapat mencari nafkah melalui karya mereka sendiri. Oleh karena itu, pembentukan sebuah sekolah seni formal di Maluku adalah penting, tidak hanya untuk tujuan melestarikan dan menyebarluaskan kearifan lokal Maluku, tetapi juga untuk meningkatkanpengembangan Provinsi Maluku dalam mepromosikan sektor industri kreatif secara ekonomis. The Eastern part of Indonesian archipelago particularly Maluku province consisted of many islands, while its people are also blessed with their incredible musicality, seen from the skillful ability in singing, vast folksongs repertory, and the enrichment of daily activities with musical touch. However, such a talented gift has been so far considered as the art by destination, where Maluku people are happily conducting their esthetical life only for their own purposes. Formal arts education has been scarcely established in Maluku, in which the political will of local government to attain the art by acculturation and metamorphosis seems not in conformity as yet. Now, the time has come that Maluku ethnic people must empower their rich culture especially their outstanding ability in the art world by producing the integrated local artists, who are not only professional in their fields, but may also be able to earn living through their own works. Therefore, the establishment of a formal arts school in Maluku is of important, not only for the purpose of preserving and disseminating Maluku local wisdoms, but also to enhance the development of Maluku province in economically promising sector of the creative industry.
RUWATAN MASSAL MELALUI PERGELARAN WAYANG KULIT -, Tjintariani
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i1.2214

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan:  (1)  struktur ruwatan massal dengan pergelaran wayang kulit purwa lakon Murwakala; (2) makna simbolik yang terkandung dalam ruwatan massal yang dikemas dalam penyelenggaraan dan pergelaran wayang kulit lakon murwakala; dan  (3)  fungsi sosial ruwatan massal yang dikemas dalam pergelaran wayang kulit lakon Murwakala.  Metode penelitian menggunakan pendekatan teori fenomenologi tentang perilaku peserta ruwatan, teori struktural, teori semiotika, dan teori fungsi sosial. Pengumpulan data menggunakan pengalaman terlibat. Hasil penelitian menunjukkan  struktur lakon dan struktur pergelaran wayang kulit lakon Murwakala, makna lakon, jejer atau adegan, terdiri 3 babak permulaan, pertengahan, penyelesaian. Setiap babak memiliki unit-unit yang lebih kecil, lengkap dengan eksposisi, komplikasi, konflik dan penyelesaian. The objectives of this research are to find out (1) the structure of mass ruwatan by purwa shadow puppet show entitled Murwakala, (2) the symbolic meaning inherent in the mass ruwatan embedded in the show of Murwakala shadow puppet. The method of research uses phenomenological approach about the behavior of ruwatan participants, structural theory, semiotic theory, and social function theory. Data collection uses the related experience. The finding of the research shows the play structure of Murwakala shadow puppet show, the meaning of the play, jejer or scenes, which consists of 3 stages: beginning, middle, and ending. Each stage has its smaller units, complete with exposition, complication, conflict and resolution.
TARI GANDRUNG SEBAGAI OBYEK WISATA ANDALAN BANYUWANGI Suharti, Mamiek
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i1.2215

Abstract

Gandrung merupakan salah satu seni tari tradisional khas Kabupaten Banyuwangi Tari  Gandrung merupakan perkembangan dari tari Seblang. Tari Gandrung dalam pertunjukannya didukung berbagai unsur yakni penari, musik, alat musik, nyanyian, gerak tari dan  panggung. Dalam pementasannya setiap satu orang penari gandrung di iringi  4 orang pemaju atau pengibing semuanya laki laki atau semua perempuan. Tari Gandrung Banyuwangi dalam pementasan ada tiga adegan yaitu jejer, rerepen dan seblang subuh. Tari gandrung bisa dipentaskan di berbagai kesempatan antara lain pesta hajatan, hari besar nasional, dalam rangka memperingati hari jadi kabupaten kegiatan pariwisata.Tari gandrung sekarang telah menjadi daya tarik wisata, dikemas secara padat ringkas dan dapat dipentaskan setiap saat. Gandrung is one of Banyuwangi’s traditional dances. The dance is a continuation of Seblang dance. Gandrung dance in performance is supported by various components such as dancers, music, musical instruments, songs, dance movement, and stage. In its performance, each gandrung dancer is accompanied by 4 pemaju or pengibing (choral dancers) of all male or female ones. The dance has three scenes, namely jejer, rerepen and seblang subuh. Gandrung dance is usually performed in various occasions such as wedding, national days, or in commemoration of regency’s anniversary, and in tourism events. Gandrung dance now becomes tourism attraction, produced in a concise way & be performed for any occasion.
BENTUK PERTUNJUKAN ORKES DANGDUT PARODI SENGGOL TROMOL DI SEMARANG: KAJIAN BENTUK DAN FUNGSI Alviani, Euis Septia
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i1.2216

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk pertunjukan musik dan fungsi musik Orkes Dangdut Parodi Senggol Tromol bagi masyarakat Kota Semarang. Orkes Dangdut Parodi Senggol Tromol adalah orkes dangdut parodi yang berada di Kota Semarang. Orkes Dangdut Parodi Senggol Tromol memiliki keunikan yang berbeda diantara orkes musik parodi lainnya. Hal ini ditunjukan bahwa keunikan kolaborasi musik dangdut dan parodi merupakan kolaborasi yang sangat menjunjung nilai norma-norma yang berlaku. Orkes Dangdut Parodi Senggol Tromol memiliki nilai musikalitas yang sangat tinggi karena kelompok musik ini berpendidikan di bidang seni, khususnya seni musik. Ide kreatifitas yang tinggi dan menghasilkan warna baru dalam dunia musik dangdut, menjadikan musim Senggol Tromol menjadi musik yang bisa diterima di semua kalangan masyarakat kota Semarang. This research is aimed to find out the form and function of dangdut orchestra of Senggol Tromol parody for Semarang community. This Dangdut Orchestra is a parody dangdut orchestra in Semarang. This orchestra has its unique characteristics, different from those of other parody music. This is shown by the unique collaboration of dangdut music and parody by respecting prevailing norm values. This orchestra has a very high musical value because the members of the orchestra have education background in music. The high creativity and innovative idea in the music make Senggol Tromol be a favorite music for people from all  groups in Semarang.
MOTIVASI MASUKNYA CAMPURSARI KE DALAM PERTUNJUKAN JARAN KEPANG Wiyoso, Joko
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i1.2217

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motivasi yang mendorong para pendukug Kesenian Jaran Kepang Turonggosari memasukan campursari kedalam pertunjukannya serta dampak yang dirasakan oleh para pendukungnya. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif diskriptif. Hasil Penelitian menunjukkan bahawa Motifasi yang mendorong para pendukung kesenian Jaran Kepang Turonggosari, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal untuk memadukan atau mengkolaborasikan dengan campursari didorong oleh  rasa tanggung jawab untuk tetap menjaga kesenian warisan nenek moyang tersebut tetap hidup dan digemari masyarakat sehingga tidak ditinggalkan masyarakat. Usaha para pendukung kesenian jaran kepang tersebut diatas masuk dalam kategori kebutuhan penghargaan, motif intrinsik, ekstrinsik, motif sadar, dan sosiogenetis. Masuknya campursari ke dalam pertunukan jaran kepang membawa dampak psikologis dan ekonomi kepada para pendukung jaran kepang  baik penari maupun pengrawit. This research is aimed to find out the motivation that encouraged the participants of Jaran Kepang Turonggosari Performing Arts to blend campursari into the performance as well as the impacts on the participants. The research used descriptive-qualitative method. The research finding shows that the motivation of the participants in blending and collaborating with campursari is encouraged by sense of responsibility to keep preserving ancestral arts and familiarizing the society with the arts. The efforts of the participants are categorized into the need for reward, intrinsic and extrinsic motives, conscious and sociogenetic motives. The blending of campursari into Jaran Kepang performance brings psychological and economic impacts on the participants, either on the dancers or pengrawit (the music players).
DIMENSI RAME: GEJALA, BENTUK, DAN CIRI Mulyana, Aton Rustandi; Haryono, Timbul; Simatupang, G.R. Lono Lastoro
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i1.2218

Abstract

Umumnya rame dianggap sebagai hal wajar, biasa, dan lumrah. Namun di balik itu, rame adalah sebuah kebutuhan hidup. Rame justru sengaja dibentuk untuk mengisi ruang-ruang hidup yang kosong, sepi, atau nirmakna.  Kehadiran rame sendiri di(ter-) kondisikan, tidak pernah hadir tanpa sebab atau aksi. Sebaliknya, kehadirannya selalu ada di dalam hubungan peristiwa antara apa yang menjadi sebab dan apa akibatnya, atau apa aksinya dan apa reaksinya. Tulisan ini membahas  dimensi rame berdasarkan atas gejala, bentuk, dan ciri-cirinya. Secara gejala, rame berbeda dengan noise, di dalam upacara justru ini disengaja untuk mempertebal lapis simbolis, ritus, agama sekaligus sosialnya. Bentuknya selalu dapat dialami dengan indera, dapat dilihat, didengar, dihirup, dicecap, disentuh/diraba, atau dirasakan. In general rame is considered a commonplace thing. Yet, beyond all this, rame is a life necessity. Rame is indeed created to fill up vacant, lonely, or meaningless living spaces. Rame is always present by some causes or actions. In other words, it is present because of cause and effect relationship, or action and reaction process. This article discusses the dimension of rame based on phenomena, form, and its characteristics. Phenomenologically, rame is different from noise, because in ceremonies rame functions to solidify symbolic, ritual, religious, and social layers. The form could always be experienced by senses it is perceivable, smellable, tasteable, and touchable.

Page 21 of 122 | Total Record : 1219


Filter by Year

2000 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1 (2024): June 2024 Vol 23, No 2 (2023): December 2023 Vol 23, No 1 (2023): June 2023 Vol 22, No 2 (2022): December 2022 Vol 22, No 1 (2022): June 2022 Vol 21, No 2 (2021): December 2021 Vol 21, No 1 (2021): June 2021 Vol 20, No 2 (2020): December 2020 Vol 20, No 1 (2020): June 2020 Vol 19, No 2 (2019): December 2019 Vol 19, No 1 (2019): June 2019 Vol 18, No 2 (2018): December 2018 Vol 18, No 1 (2018): June 2018 Vol 17, No 2 (2017): December 2017 Vol 17, No 1 (2017): June 2017 Vol 16, No 2 (2016): December 2016 Vol 16, No 2 (2016): (Nationally Accredited, December 2016) Vol 16, No 1 (2016): June 2016 Vol 16, No 1 (2016): (Nationally Accredited, June 2016) Vol 15, No 2 (2015): December 2015 Vol 15, No 2 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2015) Vol 15, No 1 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, June 2015) Vol 15, No 1 (2015): June 2015 Vol 14, No 2 (2014): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2014) Vol 14, No 2 (2014): December 2014 Vol 14, No 1 (2014): June 2014 Vol 14, No 1 (2014): (DOI & DOAJ Indexed, June 2014) Vol 13, No 2 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, December 2013) Vol 13, No 2 (2013): December 2013 Vol 13, No 1 (2013): June 2013 Vol 13, No 1 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, June 2013) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 3, No 2 (2002) Vol 3, No 2 (2002) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 1 (2000) Vol 1, No 1 (2000) More Issue