cover
Contact Name
Suharto
Contact Email
suharto@mail.unnes.ac.id
Phone
+628122853530
Journal Mail Official
suharto@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Gedung B2 Lt.1 Kampus Sekarang Gunungpati Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Harmonia: Journal of Research and Education
ISSN : 25412426     EISSN : -     DOI : 10.15294
Core Subject : Education, Art,
Harmonia: Journal of Arts Research and Education is published by Departement of Drama, Dance, and Music, Faculty of Language and Arts, Universitas Negeri Semarang in cooperation with Asosiasi Profesi Pendidik Sendratasik Indonesia (AP2SENI)/The Association of Profession for Indonesian Sendratasik Educators, two times a years. The journal has focus: Research, comprises scholarly reports that enhance knowledge regarding art in general, performing art, and art education. This may include articles that report results of quantitative or qualitative research studies.
Articles 1,219 Documents
KEMAMPUAN MENYUSUN KOMPOSISI MUSIK TARI PADA  MAHASISWA JUR. TARI UNJ (The ability to Compose Music Dance at Dance Departemen Students,  Jakarta University) Supriadi, Didin
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 4, No 2 (2003)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v4i2.712

Abstract

Penelitian   ini   untuk   data   kemampuan   menyusun   nada,   membuat komposisi musik mahasswa tari sebagai iringan koreografi tarinya. Sampelpenelitian   adalah   para   mahasiswa   Jurusan   Seni   Tari   FBS­UNJ   yang mengikuti mata kuliah iringan tari berjumlah 20 orang mahasiswa.Penelitian   in   menggunakan   metode   analisis kualitatif   menyangkut kemampuan menyusun nada­nada, membuat komposisi musik sekaligus mengadaptasikan   musik   iringan   pada   koreografi   tarinya   secara   selaras dan memiliki kesesuaian dengan penampilannya.Identifikasi kesesuaian musik dan koreografi tari mahasiswa melalui verifikai   penyesuaian   garapan   menentukan   nada­nada   kromatisasi, instrumen   yang   dipakai,   hingga   membuat   partitur   iringan   untuk disesuaikan kedalam koreografi tariannya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk dan pola musik yang digarap   mahasiswa   sangat   beragam.   Penyesuaian isntrumen ditekankanpada alat perkusi yang memiliki fungsi sama digunakan seperti Demung,   Saron,   untuk   pola   musik   Lancaran,   Ladrang,   dan   Ketawang. Pengembangan   pola   musik   garapan   seperti   unsur   vokal,   senggakan menjadi   variasi   penguat     untuk   memadukan   pola   lancarsan,   pola   ritmik musik   secara   dinamis.   Unsur   luk   dan   mebas   dipertunjukkan sebagai wujud   tekanan   suara   agar   mampu   menimbulkan   suara   bebas dikumandangkan secara teratur dan bervariasi.Kesimpulan bahwa hasill penyusunan musik koreografi mahasiswa lebih   menekankan   pada   bentuk   dan   pola   I   tipe   umum   dalam   karawitan biasa. Bentuk dan pola II pada akumulasi jenis sengakan dan virtualisasi vokal   secara   variatif,  dan   bentuk   dan   pola   III yang   lebih   mengandalkan variasi bervariasi sesuai penata musik yang dapat dihembuskan sebagai feeling semata.Kata   Kunci :   Pola­pola   Garap/Penyusunan   Musik   Koreografi,   koreografi untuk mahasiswa tari UNJ.
SIMBOL BARONG DALAM KEHIDUPAN SOSIAL­RELIGIUS UMAT HINDU DI BALI (The Barng Simbol in Sosial­Religius Life of Hindunist in Bali) Astini, Siluh Made
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 4, No 2 (2003)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v4i2.713

Abstract

Di Bali ada beberapa kesenian yang meanrik untuk diamati, lebih ­lbih p[ada seni pertunjukanya. Barong adalah salah satu seni pertunjukan yang sangat digemari oleh masyarakat Bali sendiri, turis­turis domestik, maupun turis­turis mancanegara yang datang ke Pulau Dewata.  Barong yang dipertunjukkan di tempat profan yang fungsinya hanya untuk menghibur para tamu merupakan barong yang tidak sakral. Barong yang disakralkan adalah barong yang dianggap sebagai pelindung masyarakat karena barong sendiri dianggap mempunyai kekuatan gaib yang terletak pada mata dan anggotanya. sakral tidaknya beberapa barong di Bali, tergantung dari proses pembuatannya. Di samping itu umumnya barong­barong yang telah disakralkan tempatnya selalu berada di tempat suci umat Hindu. Barong­barong yang ada di Bali banyak sekali bentuk dan jenisnya, diantaranya barong macan, barong bangkal, baron landung, danlain sebagainya.Kata Kunci :  Simbol Barong, Jenis­jenis Barong, dan Proses  Pembuatannya
PERBEDAAN EFEKTIVITAS ANTARA PENGGUNAAN NOTASI BALOK DENGAN NOTASI ANGKA DALAM MENINGKATKAN KETRAMPILAN MEMAINKAN REKORDER SOPRAN PADA MAHASISWA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA (The Effectiveness difference between the using of Adi S., Tuti  Tarwiyah
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 4, No 2 (2003)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v4i2.714

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektifitas antara penggunaan notasi balok angka dalam meningkatkan ketrampilan memainkan rekorder sopran pada Mahasiswa PAUD UNJ.Yang menjadi masalah adalah : mana yang lebih efektif, penggunaan notasi balok atau notasi angka dalam meningkatkan ketrampilan memainkan rekorder sopran pada Mahasiswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Universitas Negeri Jakarta (UNJ).Hipotesis yang peneliti ajukan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : penggunaan notasi balok lbih efektif daripada penggunaan notasi angka dalam memainkan rekorder sopran pada mahasiswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Univesitas Negeri Jakarta.Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. sampel penelitian ini terdiri dari 60 orang mahasiswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Universitas Negeri  Jakarta dengan perincian : 30 orang mendapat perlakuan notasi balok dan 30 orang mahasswa mendapat perlakuan notasi angka.Sebelum data diolah kedalam rumus uji­t, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. hasil uji normalitan dari kedua kelompok ternyata menunjukkan bahw ahanya satu kelompok yan populasinya dapat dinyatakan normal yaitu didapat LO = 0,0247 dan Lt = 0,161 pada derajat 0,05 untuk n = 30. jadi dengan kata lain Ho yang menyatakan populasi asal sampel berdistribusi tidak normal ditolak. Sedangkan hasil dari uji homogenitas didapat x2 = 1,3608 dan xt2 =* 42,557.   ternyata   X2   <   Xt2   maka   Ho   :   d12   =   d22   diterima   pada   taraf signifikan   0,05   yang   berarti   data   yang   terdapat   pada   sampel   2   dan   II adalah homogen.Setelah   data   diuji   dengan   uji   normalitas   dan   homogenitas   lalu dianalisis melalui rumus ujit. Hasil analisi tersebut adalahs ebagai berikut : Nilai uji t yang didapat sebesar 3,306, sedangkan nilai tabel untuk db 50 pada  alfa 0,05 = 2,008 dan pada alfa 0,01 = 2,671. Jadi, dengan demikian dapat   dikatakan   bahwa   hasil   belajar   ketrampilan   memainkan   rekorder sopran   melalui   notasi balok   jauh   lebih   efektif   daripada   hasil   belajar kerampilan   memainkan   rekorder   sopran   melalui notasi   angka.   Dengan demikian, Ho ditolak dengan taraf signifikan 0,01.Kata Kunci : efektifitas, Notasi Balok, Notasi Angka, Rekorder Sopran.
TEORI DAN MASALAH PENJELMAN SENI DALAM PERSPEKTIF SOSIO­KULTURAL (Theory and Problem of Art Research in Socio­cultural Perspective) Wadiyo, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 4, No 3 (2003)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v4i3.727

Abstract

Perumusan masalah penelitian selalu menjadi problematik utama dalam penelitian seni.   Problematik   ini   biasanya   datang   dari   peneliti   sendiri   karena   mereka merumuskan   masalah   penelitian   berangkat   dari   judul   penelitian.   Setelah   judul penelitian   ditentukan   lalu   peneliti   mencari   latar   belakang   masalah   dan merumuskan   masalah   penelitiannya.   Cara seperti   ini   menurut   perspektif   sosio­kultural, yang dalam hal ini kesenian mestinya juga masuk di dalamnya sangat mengacaukan  gerak  langkah   berikutnya. Semestinya judul  penelitian ditentukan dari masalah penelitian. yang masalah penelitian itu sendiri harus berpijak pada teori   tertentu   yang   akan   digunakan   untuk   menjawab   dan   menjelaskan   masalah penelitian yang diangkatnya. Dengan demikian begitu masalah penelitian selesai ditentukan   akan   begitu   mudah   menentukan   judul   yang   tepat   sesuai   masalah penelitiannya   itu   dan   peneliti   tidak   perlu   bingung­bingung   mencari   teori   yang akan digunakan untuk menjawab dan menjelaskan masalah penelitiannya.Kata kunci: teori, masalah, penelitian seni, sosio­kultural, tekstual, kontekstual
MENULUSURI SARANA PENYEBARAN MUSIK KRONCONG (EXPLORING A DISSEMINATION MEDIUM OF KERONCONG MUSIC) Widjajadi, R.Agoes Sri
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 6, No 2 (2005)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v6i2.721

Abstract

Keberadaan dan keberlangsungan musik keroncong di Indonesia hingga kini masih tampak jelas sebagai suatu genre musikal yang menjadikan tipikal musik Indonesia. Menyimak pada tahun 1920-an musik keroncong sudah mendapat tempat di hati masyarakat, selain itu lagu-lagu keroncong pun sudah menyebar luas dan digemari masyarakat luas, kendatipun pada waktu itu perbendaharaan lagu-lagu keroncong masih kurang. Dengan demikian persoalan tersebut tak lepas dari suatu proses penyebaran dengan melalui berbagai sarana yang ada. Musik keroncong yang semakin terjaga keberadaannya, berkembang pada berbagai aspek musikal, serta meluas daya jangkaunya. Oleh karena itu ada beberapa peran sarana penyebaran yang ditelusuri, yaitu pola penyebaran melalui: (1) lomba musik keroncong; (2) media cetak; (3) media rekam; (4) radio dan televisi; (5) layar lebar; (6) pementasan; (7) pertumbuhan kelompok orkes keroncong.Kata kunci: penyebaran, musik keroncong
MOTIF KAWUNG SEBAGAI SIMBOLISME BUSANA PARA ABDI DALAM WAYANG KULIT PURWO GAYA SURAKARTA (SIMBOLISM MOTIVE KAWUNG OF FASHION COMUNITY ON WAYANG KULIT PURWA SURAKARTA STYLE) Sarwono, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 6, No 2 (2005)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v6i2.722

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang latar belakang budaya dalam penggunaan motif Kawung, jenis-jenisnya, makna simbolisme serta keterkaitan status, kedudukan dan karakter tokoh abdi dalemdalem wayang kulit purwa gaya Surakarta, dan penelitian ini berbentuk kualitatif dengan pendekatan hemeneutik untuk menghasilkan berbagai interpretasi. Sumber data berupa penjelasan dari informan tentang karya seni batik dan pewayangan, peristiwa seni pertunjukan, arsip dan dokumen. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, serta untuk mendapatkan validitas data, maka dilakukan triangulasi data. Semua informasi yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan cara analisis interaktif. Hasil penelitian diperoleh bahwa; surutnya kekuasaan secara politik dan ekonomi mengakibatkan pengembangan budaya keraton sebagai sarana legitimasi kekua-saan raja dalam masyarakat pendukungnya. Sehingga seni busana keraton juga termanifestasi ke dalam wujud busana wayang kulit purwa gaya Surakarta. Salah satu wujud busana tersebut berupa motif batik Kawung yang digunakan oleh para abdidalem dalam pewayangan. Tiap-tiap jenis motif Kawung memiliki makna simbolisme sesuai setatus, kedudukan serta karakter dari tiap-tiap tokoh wayang tersebut.Kata Kunci: Batik, Motif Kawung, Wayang, Simbolisme.
EFEKTIFITAS PENGGUNAAN METODE SOLFEGIO UNTUK PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BERMAIN MUSIK DI SEKOLAH DASAR (THE EFEKTIVITY OF USE OF SOLFIGIO METHOD TO TEACHING OF MUSIC SKILL IN ELEMENTARY) Sumaryanto, F.Totok
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 6, No 2 (2005)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v6i2.723

Abstract

Pelaksanaan pembelajaran Kerajinan Tangan dan Kesenian (Kertangkes) SD harus diciptakan PBM secara aktif, kreatif dengan memanfaatkan sarana/sumber belajar yang ada. Didukung kompetensi guru untuk menciptakan, menggunakan metode solfigio untuk pembelajaran keterampilan bermain musik. Kondisi SD menunjukkan belum digunakan metode solfogio untuk meningkatkan pembelajaran keterampilan musik, termasuk di SDN Sekaran 01 Semarang. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tindakan kelas melalui kolaborasi dosen dengan guru SD. Tujuannya adalah mendeskripsikan efektifitas penggunaan metode solfegio untuk pembelajaran bermain musik menggunakan metode solfegio diharapkan dapat meningkatkann bermain musik siswa. Metode Penelitian Tindakan Kelas menggunakan pendekatan kualitatif model siklus dengan langkah: perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Sekaran 01 Semarang, dan waktu pelaksanaan pada semester gasal 2004/2005. Pengurnpulan data dengan observasi partisipatif dan observasi penampilan bermain musik siswa. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa: (1) untuk pembelajaran keterampilan bermain musik di SD dibutuhkan metode solfigio sesuai standar kompetensi kurikulum pendidikan seni 2004: (2) Penggunaan metode solfegio dapat meningkatkan keterampilan bermain musik siswa kelas V SDN Sekaran 01 Semarang; (3) Kendala yang dihadapi dalam PBM adalah keterbatasan waktu, bahan/alat musik, kemampuan bakat musik guru dan siswa. Rekomendasi dari hasil penelitian ini, adalah: model siklus melalui penggunaan metode solfegio dalam pembelajaran keterampilan musik dapat diterapkan di SD untuk siswa kelas V.Kata Kunci: Efektivitas, solfegio, bermain musik, siswa SD.
PERUBAHAN MUSIK REBANA MENJADI KASIDAH MODERN DI SEMARANG SEBAGAI SUATU PROSES DEKULTURASI DALAM MUSIK INDONESIA (THE CHANGE OF REBANA MUSIC TO BECAME MODERN KASIDAH IN SEMARANG A DECULTURATION PROCCES IN INDONESIAN MUSIC) Susetyo, Bagus
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 6, No 2 (2005)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v6i2.724

Abstract

Musik kasidah modern adalah jenis musik yang bercirikan Islam yang ada di masyarakat kota Semarang saat ini, dan merupakan suatu fenomena seni pertunjukan yang ada di masyarakat seiring dengan keberadaan seni pertunjukan musik ke-Islaman yang lain. Jenis musik ini tidak hadir begitu saja seperti yang ada sekarang, tetapi mengalami suatu proses akulturasi, yang diperkirakan berasal dari bentuk bentuk musik Islam yang ada sebelumnya yang membentuk musik rebana, kemudian mengalami proses dekulturasi sehingga terbentuklah musik kasidah modern. Pada proses dekulturasi musik rebana mengalami perubahan budaya musik dan perubahan elemen-elemen musikalnya, baik pada komposisi musiknya maupun pada bentuk penyajiannya yang mengakibatkan satu sisi mengalami kemajuan pada aspek hiburannya dan pada sisi lain mengalami perubahan pada nilai-nilai sakral ke-Islamannya.Kata kunci: Perubahan, Rebana, Kasidah, Dekulturasi
CITRA WANITA DALAM PERTUNJUKAN KESENIAN TAYUB (THE WOMAN IMAGE IN THE TAYUB ART PERFORMANCE) Ratih E.W., Endang; Malarsih, -; Lestari, Wahyu
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 6, No 2 (2005)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v6i2.725

Abstract

Kesenian tayub merupakan seni tari tradisional yang sampai sekarang masih banyak diminati oleh masyarakat di Kabupaten Blora. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana citra wanita dalam pertunjukan kesenian tayub serta upaya apa sajakah yang bisa dilakukan untuk mengangkat kedudukan citra wanita dalam pertunjukan kesenian tayub. Metode penelitian yang diterapkan adalah metode kualitatif. Lokasi penelitian di desa Padaan kecamatan Japah dan di kecamatan Bogorejo Kabupaten Blora. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi serta dokumentasi. Data dianalisis dengan menggunakan teknik analisis gender Hasil penelitian menunjukkan Citra wanita dalam pertunjukan kesenian tayub adalah wanita dianggap sebagai pemuas laki-laki. Kedudukan seorang penari atau joged dalam pertunjukan tayub merupakan daya tarik yang sangat kuat, karena bagi masyarakat sebagai penonton dan sekaligus sebagai penayub dan pengjuyub, menganggap seorang joged merupakan obyek penghibur dan pemuas serta sebagai obat pelepas lelah setelah seharian bekerja. Upaya-upaya yang ditempuh untuk mengangkat citra wanita dalam pertunjukkan kesenian tayub adalah: misalnya dengan dikeluarkan kebijakan baru dari Pemda bahwa: (a) ada aturan yang mengatur tentang pembatasan jam. (b) Pengatur jarak antara joged dan penayub. (c) tidak diperbolehkan memakai minum-minuman keras yang beralkohol. (d) bagi penayub harus bertindak sopan terhadap jogednya Upaya-upaya yang yang lain adalah dari diri si joged itu sendiri,yaitu dengan membentengi dirinya sendiri dari hal-hal yang berakibat negatif, misalnya selalu berhati-hati dalam bertindak. Selalu waspada dan membatasi diri, dan yang lebih penting adalah mempertebal rasa keimanan. Sedangkan dalam hal berbusana (memakai kostum) hendaknya yang sopan dan tertutup.Kata Kunci: Citra Wanita, Pertunjukan, Kesenian Tayub.
Ruwatan (Merti Desa) Masyarakat Gunungkidul Pasca Gempa Bumi Tektonik di Daerah Istimewa Yogyakarta (Ruwatan of Gunungkidul Society After Tectonic Earthquake In Special Province of Yogyakarta Lestari, Wahyu
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 7, No 3 (2006)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v7i3.726

Abstract

  Merti Desa merupakan salah satu upacara ritual yang sudah mentradisi pada masyarakat Jawa khususnya. Merti Desa sebagai bentuk upacara ritual oleh masyarakat Gunungkidul dilaksanakan pada setiap tahun sekali, sebagai tradisi dan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Merti Desa juga merupakan ritual untuk mengucapkan terimakasih atas hasil panen yang telah diterimanya, serta sebagai wahana melestarikan budaya nenek moyang yang dilaksanakan secara turun temurun kepada generasi selanjutnya kepada nenek yang berujud ritus sosial masyarakat. Merti Desa dilaksanakan dalam berbagai rangkaian acara seperti upacara yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, dipimpin oleh Pemerintah daerah pada wilayah desa tertentu, diikuti oleh warga masyarakat setempat, oleh pemerintah atau pamong Desa upacara Merti Desa juga sekaligus dapat digunakan sebagai wahana mengajak masyarakat melestarikan dan nguri-uri tradisi warisan nenek moyang serta mengajak masyarakat mengambil hikmah dan nilai-nilai yang terkandung dalam upacara tradisi Merti Desa. Diharapkan masyarakat dapat menikmati hiburan atau tontonan serta mendapat tuntunan dan mengambil nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, diantaranya manusia harus selalu eling lan waspodho, mengingat dan mengucapkan terimakasih kepada Bumi yang telah memberi segalanya untuk kebutuhan kehidupan manusia. Gempa Bumi yang telah terjadi tidak menghalangi warga masyarakat Gunungkidul untuk menyelenggarakan Upacara Ruwatan Desa. Ruwatan Desa dilaksanakan dengan pertunjukan wayang kulit purwa sebagai upacara tradisi masyarakat yang perlu dilestarikan, terutama konsep Merti Desa.   Kata kunci: ruwatan, ritus, wayang kulit purwa

Page 7 of 122 | Total Record : 1219


Filter by Year

2000 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1 (2024): June 2024 Vol 23, No 2 (2023): December 2023 Vol 23, No 1 (2023): June 2023 Vol 22, No 2 (2022): December 2022 Vol 22, No 1 (2022): June 2022 Vol 21, No 2 (2021): December 2021 Vol 21, No 1 (2021): June 2021 Vol 20, No 2 (2020): December 2020 Vol 20, No 1 (2020): June 2020 Vol 19, No 2 (2019): December 2019 Vol 19, No 1 (2019): June 2019 Vol 18, No 2 (2018): December 2018 Vol 18, No 1 (2018): June 2018 Vol 17, No 2 (2017): December 2017 Vol 17, No 1 (2017): June 2017 Vol 16, No 2 (2016): December 2016 Vol 16, No 2 (2016): (Nationally Accredited, December 2016) Vol 16, No 1 (2016): June 2016 Vol 16, No 1 (2016): (Nationally Accredited, June 2016) Vol 15, No 2 (2015): December 2015 Vol 15, No 2 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2015) Vol 15, No 1 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, June 2015) Vol 15, No 1 (2015): June 2015 Vol 14, No 2 (2014): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2014) Vol 14, No 2 (2014): December 2014 Vol 14, No 1 (2014): June 2014 Vol 14, No 1 (2014): (DOI & DOAJ Indexed, June 2014) Vol 13, No 2 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, December 2013) Vol 13, No 2 (2013): December 2013 Vol 13, No 1 (2013): June 2013 Vol 13, No 1 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, June 2013) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 3, No 2 (2002) Vol 3, No 2 (2002) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 1 (2000) Vol 1, No 1 (2000) More Issue