cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Intuisi
ISSN : 25412965     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah is the scientific publication media to accommodate ideas and innovation research results of psychology academicians and other experts who are interested in the field of Psychology. Vision intuition is to encourage the development of science-based psychology, indigenous psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 558 Documents
Faktor Eksternal dari Orangtua atau Faktor Internal Diri Sendiri yang Memprediksi Emosi Moral Remaja? Pratiwi, Margaretha Maria Shinta; Subandi, Subandi; Adiyanti, Maria Goretti
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 1 (2020): Maret 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i1.24080

Abstract

Emosi moral memegang peran penting yang berfungsi sebagai motif munculnya kecenderungan tindakan moral dan mengantisipasi pelanggaran moral remaja, dan mampu memikirkan kesejahteraan orang lain. Namun, belum ada penelitian yang mengkaji model yang memprediksi emosi moral remaja. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan: 1) Menguji model prediktif sosialisasi emosi orang tua yang dipersepsi oleh remaja dan perspective-taking terhadap emosi moral remaja; 2) Menguji peran perspective- taking mediator terhadap emosi moral remaja. Metode penelitian ini adalah metode kuantitatif. Pemilihan partisipan menggunakan teknik multistage sampling, partisipan berjumlah 936 remaja usia 12-18 tahun di Semarang yang diambil menggunakan Teknik analisis data menggunakan SEM PLS (Partial Least Square ). Hasil penelitian ini menunjukkan: 1) Model prediktif sosialisasi emosi orang tua yang dipersepsi oleh remaja dan perspective-taking terhadap emosi moral remaja mampu membuktikan kesesuaian teoretis dan teruji berdasarkan data empiris. Berdasarkan pengujian model struktural, diperoleh data bahwa: a)Terdapat pengaruh signifikan sosialisasi emosi orangtua yang dipersepsi oleh remaja terhadap perspective-taking ( =0,353,T-Stat >1,96); b) Terdapat pengaruh signifikan perspective- taking terhadap emosi moral( =0,188,T-Stat>1,96);c)Terdapatpengaruhsosialisasiemosiorangtuayangdipersepsiolehremaja emosi moral( =0,132,T-Stat >1,96); 2) Peran perspective-taking terbukti sebagai variabel mediator. Berdasarkan analisis data, maka dapat disimpulkan bahwa sosialisasi emosi orangtua yang dipersepsi oleh remaja dapat memengaruhi emosi moral secara langsung maupun secara tidak langsung melalui perspective-taking. Oleh karena itu, penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi perkembangan teori terkait moral serta memberikan informasi pada masyarakat secara luas, remaja dan orangtua secara khusus berkaitan dengan faktor yang dapat memengaruhi perkembangan emosi moral dan fungsi dari emosi moral.  Moral emotions hold an important role that functions as a motive for the emergence of moral acts and anticipates the moral violations of adolescents, and be able to think about the interests and welfare of other people. However, there has no studies that examine models that predict moral emotions in adolescents. Therefore, this study aims to: 1) Test the predictive model of parental emotions socialization perceived by adolescents and perspective-taking on adolescent moral emotions; 2) Test the role of perspective-taking as mediators mediator between parental emotion socialization and adolescent moral emotion. The research method used is quantitative. Partisipant selection was conducted through multi-stage sampling, 936 teenagers aged 12-18 years in Semarang. The statistical data analysis used is SEM PLS (Partial Least Square). The research results indicate: 1) The predictive model of parental emotions socialization perceived by adolescents and perspective-taking on adolescent moral emotions can prove theoretical and tested suitability based on empirical data. Based on structural testing of the model, the data obtained that: a) There was a significant influence on parental socialization perceived by adolescents on perspective-taking(γ = 0.353, T-Stat> 1.96); b) There was a significant influence of perspective-taking on moral emotions (β = 0.188, T-Stat> 1.96); c) There was an influence of parental socialization of emotions perceived by adolescents moral emotions (γ = 0.132, T-Stat> 1.96) s; 2) The role of perspective-taking is proven as a mediator variable. Based on data analysis, it can be concluded that the parental emotions socialization perceived by adolescents can influence moral emotions directly or indirectly through perspective-taking. Therefore, this study can provide benefits for the development of moral theory, and provide information to the wider community, adolescents and parents specifically related to factors that can influence the development of moral emotions and the function of moral emotions.
Apakah Pasutri Puas dengan Pernikahannya? Peranan Neuroticism terhadap Marital Satisfaction Wijaya, Katherine; Elvinawanty, Rianda; Manurung, Yulinda Septiani
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 1 (2020): Maret 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i1.22978

Abstract

Setiap pasangan memiliki pengalaman sendiri di dalam pernikahannya. Pernikahan tidak terlepas dengan permasalahan rumah tangga. Permasalahan-permasalahan yang muncul tersebut mampu mempengaruhi kepuasan dalam pernikahan yang dirasakan oleh setiap pasangan. Faktor yang mempengaruhi kepuasan tersebut adalah salah satu trait kepribadian Big Five yaitu neuroticism. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan neuroticism dengan marital satisfaction. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan subjek berjumlah 167 pasangan atau 334 subjek yang dipilih dengan metode purposive sampling. Alat ukur yang dalam penelitian ini adalah Skala Neuroticism dan Skala Marital Satisfaction. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data Pearson Product Moment Correlation. Hasil analisis data menunjukkan r = -0.544, p=.000 (p < 0.01), yang menunjukkan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara neuroticism dengan marital satisfaction. Hal ini yang berarti bahwa emosi atau tingkat neuroticism pasangan yang tinggi akan menurunkan kepuasan pernikahan yang dirasakan.  Every spouse has their own experience in their marriage. Marriage is inseparable from household problems. These problems can influence spouse‟s satisfaction in their marriage. One of the factors that influence this satisfaction is one of the Big Five personality traits which is neuroticism. This study aims to find relationship between neuroticism and marital satisfaction. This study is a quantitative study with 167 spouses or 334 subjects as sample that was chosen with purposive sampling method. The measuring instruments used are Neuroticism Scale and Marital Satisfaction Scale. Analysis data used is Pearson Product Moment Correlation. The data analysis result showed r= -0.544, p=.000 (p< 0.01), means there is a negative relationship between neuroticism and marital satisfaction. This means that the higher emotion or neuroticism level can reduce the marital satisfaction that spouses sense.
“Ngobrolin Seks” Dalam Persepsi Perempuan Pada Usia Dewasa Awal Menggunakan Pendekatan Psikologi Indigenous Caroline, Anita; Yunanto, Taufik Akbar Rizqi
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 1 (2020): Maret 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i1.19686

Abstract

Seksualitas melingkupi kehidupan manusia sejak lahir sampai sepanjang hidupnya. Seksualitas menyangkut berbagai dimensi, diantaranya dimensi kultural, sosial, biologis, dan psikologis. Namun isu seksualitas kerap dipandang tabu untuk diperbincangkan karena terkotak hanya pada pandangan sempit terkait perilaku seksual. Fenomena ini khususnya lebih sering ditemukan diantara perempuan dan kecenderungan ini dipengaruhi oleh identitas gender. Penelitian deskriptif ini bertujuan untuk mengidentifikasi bagaimana persepsi perempuan Indonesia dalam menguraikan tentang konsep seksualitas. Pengumpulkan data diambil dari 293 partisipan perempuan yang diperoleh melalui sampling acak, 88 partisipan telah menikah dan 205 partisipan belum menikah pada jarak usia 18 – 40 tahun. Berdasarkan hasil dari angket terbuka menunjukkan bahwa istilah seksualitas masih cenderung dipandang sebagai suatu hal yang tabu untuk dibicarakan (40,96%) oleh perempuan Indonesia. Sekitar seperlima bagian (21,16%) memandang bahwa seksualitas sebagai sesuatu yang wajar untuk dibicarakan jika sesuai dengan konteks dan berada dalam situasi tertentu. Sedangkan sisanya (37,88%) beranggapan bahwa seksualitas bukanlah hal yang tabu untuk didiskusikan. Jika dijabarkan dikategorikan berdasarkan dimensinya, 23,89% mencakup dimensi biologis, 10,58% mencakup dimensi psikologis, 11,6% mencakup dimensi sosial / kultural dan 53,93% mencakup dimensi perilaku. Adapun harapannya adalah agar dapat bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan seksualitas yang komprehensif.  Sexuality covers human life from birth to throughout his life. Sexuality involves a wide range of dimensions, such as: biological, social / cultural, psychological, and behavior dimensions. But the issue of sexuality is often seen as taboo to be discussed because it is compartmentalized only in the narrow view of sexual behavior. This phenomenon is particularly common among women and this tendency is influenced by gender identity. This descriptive study aims to identify how Indonesian women perceive in describing the concept of sexuality. Collecting data was taken from 293 female participants obtained through random sampling, 88 married participants and 205 unmarried at the age range of 18-40 years. Based on the results of the open questionnaire, the term sexuality still tends to be seen as a taboo thing to talk about (40.96%) by Indonesian women. While (21.16%) the rest view sexuality as something natural to talk about if it is appropriate to the context and in certain situations. And only a small percentage (37.88%) think that discussing sexuality is no longer a taboo thing to talk about. If described as categorized by dimensions, 23.89% includes the biological dimension, 10.58% includes the psychological dimension, 11.6% includes the social / cultural dimension and 53.93% includes behavior dimension. The hope is that it can be useful to increase awareness of the importance of comprehensive sexuality education.
Perceived Stress, Self-Compassion, dan Suicidal Ideation pada Mahasiswa Febriana, Yane; Purwono, Urip; Djunaedi, Achmad
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 13, No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v13i1.28912

Abstract

Suicidal ideation pada mahasiswa menjadi salah satu masalah kesehatan mental yang berdampak negatif terhadap fungsi-fungsi kehidupan termasuk meningkatkan resiko perilaku bunuh diri. Akan tetapi penelitian mengenai suicidal ideation belum banyak ditemukan di Indonesia. Berbagai teori suicidality menjelaskan perceived stress sebagai faktor kerentanan individu untuk memiliki ide bunuh diri. Meskipun demikian, tidak semua mahasiswa yang mengalami stress pada akhirnya memikirkan untuk bunuh diri. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara perceived stress dengan suicidal ideation yang dimoderasi self-compassion. Pengambilan data dilakukan kepada 261 mahasiswa aktif di perguruan tinggi dengan menggunakan Perceived Stress Scale, Self-compassion Scale, dan Suicidal Ideation Scale. Analisis statistik digunakan untuk menguji peran moderasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa hipotesis diterima, yakni terdapat efek moderasi self-compassion terhadap hubungan antara perceived stress dengan suicidal ideation (b3= -.019, R2= 0.424, p<.05). Self-compassion, khususnya komponen common humanity dan mindfulness dapat melemahkan hubungan antara perceived stress dengan suicidal ideation. Peranan perceived stress terhadap kemunculan suicidal ideation tergantung dari self-compassion yang dimiliki individu. Jika mahasiswa memiliki self-compassion yang tinggi maka kecenderungan persepsi stress berkembang menjadi ide bunuh diri menjadi berkurang.Suicidal ideation among college students was a mental health problem that caused negative impact to various life functions and also increasing suicide risk. Unfortunately, studies regarding suicidal ideation were still scarce in Indonesia. Various suicidality theories explained perceived stress as an individual's vulnerability factor to have suicidal ideation. Even so, not all college students who experience stress would develop suicidal ideation. The purpose of this study was to investigate the relationship between perceived stress and suicidal ideation moderated by self-compassion. Data collection was done on 261 active college students using Perceived Stress Scale, Self-compassion Scale and Suicidal Ideation Scale. Statistical analysis was used to test the moderation effect. The results support the notion that self-compassion act as moderating variable in relationship between perceived stress and suicidal ideation (b3= -.019, R2= 0.424, p<.05). One's self-compassion especially common humanity and mindfulness had potential role for weaken the relationship between perceived stress and suicidal ideation. These findings highlighted the importance of self-compassion among college students. If a college student has a high level of self-compassion, the tendency of perceived stress developing into suicidal ideation will be reduced.
Apakah Mahasiswa Yang Tidak Resilien Rentan Mengalami Kesepian Selama Masa Pandemi Covid-19? Hardiani, Riska; Andromeda, Andromeda
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 3 (2020): November 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i3.26201

Abstract

Virus Corona (covid-19) saat ini masih menyebar luas sehingga menyebabkan pemerintah menerapkan kebijakan stay at home dan social distancing kepada seluruh masyarakat termasuk para mahasiswa untuk belajar di rumah. Kebijakan tersebut tentu berdampak pada berbagai aspek kehidupan mulai dari ekonomi, pendidikan, hingga kesejahteraan psikologis masyarakat. Salah satu permasalahan psikologis yang muncul adalah kesepian. Menurut beberapa literatur psikologi, ketahanan yang baik dibutuhkan untuk menghadapi kondisi yang sulit dan mengubahnya menjadi suatu hal yang wajar untuk diatasi. Inilah yang disebut sebagai resiliensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara resiliensi dan kesepian pada mahasiswa selama masa social distancing pandemi Covid-19. Survei online dilakukan dengan menggunakan dua skala, yaitu skala kesepian dan skala resiliensi. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik convenience sampling. Subjek yang terlibat adalah sebanyak 355 mahasiswa. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan dengan teknik korelasi Rank Spearman, diperoleh koefisien korelasi antar variabel sebesar -0,558 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 sehingga p<0,01. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan negatif yang signifikan antara resiliensi dan kesepian pada mahasiswa selama masa social distancing yang mereka jalani. Maknanya adalah semakin tinggi resiliensi maka akan semakin rendah kesepian pada mahasiswa di masa social distancing pandemi Covid-19, dan begitupun sebaliknya.The corona virus (covid-19) is currently still widespread, its causing the government has implemented to stay at home and social distancing for the entire community including students to study at home. This policy certainly has an impact on various aspect of life from the economy, education, to the psychological well-being of society. One of the psychological problems that emerge is loneliness. According to some psychological literature, good resilience is needed to face difficult conditions and turn them into something that is normal to overcome. This is what known as resilience. This study aimed to determine the relationship between resilience and loneliness in students during the social distancing period of the covid-19 pandemic. The online survey conducted using two scales; they were the loneliness and the resilience scale. The technique used in this study was the convenience sampling technique. The participants were 355 subjects. According to the results of data analysis performed using the Spearman Rank correlation technique, the correlation coefficient of -0.558 with a significance value of 0,000 so that p<0.01. The result showed that there was a significant negative relationship between resilience and loneliness in students during the social distancing they live. The negative direction of the relationship means that the higher the resilience, the lower the loneliness of students during the social distancing of the Covid-19 pandemic, and vice versa.
Gangguan Kepribadian Skizotipal pada Perempuan di Bali Ariyanti, Ni Made Putri; Ambarini, Tri Kurniati; Widiasavitri, Putu Nugrahaeni
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i2.22913

Abstract

Kepribadian skizotipal dipandang sebagai sebuah kontinum dari kondisi sehat menuju patologis, dengan ciri kepribadian skizotipal di titik akhir sehat dan gangguan kepribadian skizotipal pada titik akhir patologis. Prevalensi menunjukkan pada populasi klinis yang mengalami gangguan kepribadian skizotipal adalah 0-2% sedangkan pada populasi umum adalah 4%. Gangguan kepribadian skizotipal adalah defisit pada sosial dan interpersonal yang ditandai dengan rasa ketidaknyamanan, berkurangnya kemampuan untuk menjalani hubungan yang dekat dan adanya distorsi kognitif, serta perilaku yang eksentrik. Ketika gangguan kepribadian skizotipal tidak mendapatkan penanganan yang tepat, maka penderita akan memiliki dampak yang serius pada perilaku dan motivasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dinamika kepribadian pada perempuan yang memiliki gangguan kepribadian skizotipal dan penyebab gangguan tersebut. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitiatif dengan pendekatan studi kasus. Penggalian data dalam penelitian ini menggunakan wawancara, observasi, dan tes psikologis (WAIS, DAP, HTP, BAUM, SSCT, dan TAT). Adapun uji kredibilitas yang digunakan adalah dengan teknik triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Subjek dalam penelitian ini adalah satu perempuan berusia 46 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa NR memiliki defisit pada hubungan sosial dan interpersonal yang disebabkan rasa tidak nyaman dan pikiran paranoid yang dimiliki terhadap lingkungannya. NR yang merasa tertekan dan memiliki pengalaman traumatis membuat NR menggunakan mekanisme pertahanan diri dengan mengosongkan pikiran dan terhanyut dalam ‘dunia lain’ untuk memutuskan diri dari hubungan sosial. Hal ini memengaruhi pekerjaan dan aspek sosialnya.Schizotypal personality is seen as a continuum from healthy to pathological, with schizotypal personality traits at the healthy endpoint and schizotypal personality disorder at the pathological endpoint. The prevalence rate of schizotypal personality disorder in the clinical population is 0-2% while the general population is 4%. Schizotypal Personality Disorder is an interpersonal and social deficit marked by discomfort with, and reduced capacity for close relationships as well as by cognitive distortions and eccentrics of behavior. When a schizotypal personal disorder is not treated properly, it can have a serious impact on behavior and motivation. This research aims to describe the dynamics of personality in women and the cause of schizotypal personality disorder. This research was conducted using a qualitative approach with a case study method. The data collected from interviews, observation, and psychological tests (WAIS, DAP, HTP, BAUM, SSCT, and TAT). The credibility test used in this research is the triangulation technique, triangulation of sources, techniques, and time. The subject of this study was a woman aged 46 years old. The result of the study showed that deficits in social and interpersonal are caused by discomfort and paranoid thought while interacting with other people. NR who feels stressed and has a traumatic experience with significant other, made NR use the mechanism defense by blanking out or seeming to drift off into another world to disconnect socially. This affected her work life and social aspect
Ketabahan (Hardiness) dan Dukungan Sosial Ayah yang Memiliki Anak dengan Gangguan Spektrum Autisme Prastuti, Endang; Amrullah, Novita Candra
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 13, No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v13i1.23552

Abstract

Tujuan penelitian ini: (1) mengetahui hubungan dukungan sosial dan ketabahan (hardiness); (2) memberikan gambaran dukungan sosial ayah yang memiliki anak dengan gangguan spektrum autisme; dan (3) memberikan gambaran ketabahan (hardiness) pada ayah yang memiliki anak dengan gangguan spektrum autisme. Penelitian ini menggunakan studi populasi yaitu seluruh anggota populasi yang berjumlah 60 orang dijadikan subjek penelitian. Instrumen yang digunakan ialah skala dukungan sosial dan skala ketabahan (hardiness scale). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan dukungan sosial dan ketabahan pada ayah yang memiliki anak dengan gangguan spektrum autisme (Rxy = 0,824; P<0,01).This study aims to (1) find out the correlation between social support and hardiness; (2) A description of the social support in the father who has children with autism spectrum disorder; and (3) A description of the hardiness in the father who has children with autism spectrum disorder. The study used population studies that amounted to 60 people as the subject of research. The instruments used are the social support and the hardiness scale. The results showed that there was a positive and significant between social support and a hardiness in a father who had children with autism spectrum disorder (rxy = 0,824; p<0,01). 
Tiga Faktor Bahasa Cinta Berdasarkan Sumber Bukti Empirik pada Individu Yang Telah Menikah di Bali, Indonesia Surijah, Edwin Adrianta; Swari, Ni Putu Kris Pradnya; Supriyadi, Supriyadi
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 3 (2020): November 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i3.27326

Abstract

Lima Bahasa Cinta merupakan konsep yang memahami pengalaman merasa dicintai seseorang, namun penelitian yang komprehensif berdasarkan konteks Indonesia belum pernah dilakukan sebelumnya. Penelitian ini mengungkap keunikan pengalaman merasa dicintai individu yang telah menikah di Bali, Indonesia. Studi terbagi menjadi tiga bagian. Studi pertama merupakan uji awal reliabilitas dan penelusuran sumber bukti isi dengan melibatkan penilaian pakar. Studi kedua adalah wawancara dengan teknik Cognitive Interviewing untuk memperoleh sumber bukti proses respon. Studi ketiga adalah survey terhadap empat ratus individu yang telah menikah untuk menguji sumber bukti konsistensi internal. Analisis pakar dan wawancara menunjukkan perspektif yang detil terkait waktu yang dihabiskan bersama keluarga (Family Time) dan pemaknaan terhadap pentingnya nafkah lahir/batin pada relasi suami-istri. Analisis faktor dan measurement invariance menunjukkan tiga faktor khas penyusun bahasa cinta di Indonesia yaitu karakter pasangan, ekspresi rasa sayang, dan waktu yang dihabiskan bersama keluarga. Temuan ini menunjukkan keunikan bahasa cinta orang Indonesia yang berbeda dengan teori asal Lima Bahasa Cinta. Orang Indonesia merasa dicintai tidak terbatas pada perlakuan yang diterima pada diri mereka sendiri namun juga dari penilaian mereka terhadap karakter maupun perlakuan yang diberikan kepada orang lain seperti anggota keluarga.Five Love Languages discusses the experience of feeling loved; however, a comprehensive study in Indonesian context has never been done previously. This study uncovered the uniqueness of feeling loved by married individuals who lived in Bali, Indonesia. The study involved three different parts. The first study evaluated the initial reliability and obtained the content-based evidence through the expert judgment. The second study was the Cognitive Interviewing to acquire the process-response-based evidence. The third study was a survey toward four hundred married individuals to gather the internal structure-based evidence.The expert judgment and interview analysis showed a more detailed perspective on the time spent with the family (Family Time) and the meaning of the spiritual/physical needs’ fulfillmen’. Factorial analysis and measurement invariance showed that there was three solutions factor of love languages in the Indonesian context. Those factors are feeling loved because of the spouse’s character, expressive affection, and time spent with family. This finding exhibited the uniqueness of Indonesian love languages and its differences to the original Five Love Languages. Indonesian feel loved not restricted to the treatment they receive but also based on their evaluation of their partner’s characters and their partner’s treatments to the others, such as family members.
Impulse Buying dan Post Purchase Regret pada Mahasiswa Nurohman, Febri; Aziz, Abdul
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i2.28612

Abstract

Salah satu penyebab post purchase regret adalah karena kurangnya pertimbangan dalam membeli barang. Studi pendahuluan pada 74 mahasiswa akftif Unnes 2020, mendapatkan temuan bahwa sebanyak 48 responden mengaku menyesal telah membeli barang di luar rencana awal pembelian. Penelitian bertujuan untuk menguji ada tidaknya hubungan antara impulse buying dan post purchase regret pada mahasiswa Unnes, serta untuk mengetahui gambaran impulse buying dan post purchase regret pada mahasiswa Unnes. Penelitian kuantitatif korelasional menggunakan sampel 400 mahasiswa aktif Unnes 2020, dengan teknik cluster random sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala post purchase regret terdiri 23 aitem dan skala impulse buying terdiri 26 aitem. Koefisien reliabilitas (cronbach alpha) post purchase regret sebesar 0,854 dan koefisien reliabilitas (cronbach alpha) impulse buying sebesar 0,876. Uji hipotesis dengan Correlation Spearman’s Rho diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,143 dengan taraf signifikansi 0,004. Dengan demikian bunyi hipotesis terdapat hubungan antara impulse buying dan post purchase regret pada mahasiswa Unnes diterima. Dengan hasil tingkat impulse buying dan post purchase regret pada mahasiswa Unnes berada pada kategori sedang.One of the causes of post purchase regret is because of the lack of consideration in buying goods. A preliminary study with 74 Unnes college students 2020, get that finding as much 48 respondents are admits regrets buying goods outside of the original purchase plan. This study aims to test wheter there is a relationship between impulse buying and post purchase regret of Unnes college students, as well as to find out the impulse buying and post purchase regret description in Unnes college students. Correlational quantitative is used with 400 active Unnes 2020 college students as sample of research, by cluster random sampling technique. The data were collected using post purchase regret scale consisting of 23 items and a scale of impulse buying consisting of 26 items. The reliability coefficient (cronbach’s alpha) of post purchase regret was 0,854 and the reliability coefficient (cronbach’s alpha) of impulse buying was 0,876. Hypothesis testing using Spearman's Rho Correlation obtained a correlation coefficient of 0,143 with a significance level of 0,004. Thus the sound of the hypothesis is that there is a relationship between impulse buying and post purchase regret for Unnes students accepted. With the results, the level of impulse buying and post purchase regret to Unnes students is in the medium category.© 2020 Universitas Negeri Semarang
Sensation Seeking dan Problematic Mobile Phone Use pada Mahasiswa Ayuningtyas, Alfina Diani; Amawidyati, Sukma Galuh
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 13, No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v13i1.27286

Abstract

Perkembangan teknologi komunikasi yang pesat semakin mempermudah proses interaksi sosial antar manusia.  Namun, disisi lain juga menimbulkan pemasalahan psikologis baru seperti problematic mobile phone used. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sensation seeking dengan empat dimensi dari problematic mobile phone use yaitu dangerous use, dependence, financial problem, dan prohibity use pada mahasiswa. Desain penelitian merupakan penelitian kroseksional. Teknik pengambilan sampel adalah cluster random sampling yang mana subjek penelitian berjumlah 370 orang mahasiswa. Analisis korelasi pada penelitian ini menggunakan range spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara sensation seeking dengan dimensi dangerous use dan prohibity use dengan uji hipotesis didapatkan koefisien korelasi 0,272 dan 0,132. Tidak terdapat korelasi antara sensation seeking dengan dimensi financial problem dan dependence dengan uji hipotesis didapatkan koefisien korelasi 0,049 dan 0,026. Kesimpulannya adalah sensation seeking, financial problem dan dependence pada mahasiswa berada pada kategori sedang sedangkan dimensi dangerous use dan prohibity use berada pada kategori rendah. The rapid development of communication technology has made the process of social interaction between humans easier. However, on the other hand, it also raises new psychological problems such as problematic mobile phone use. This study aims to determine the relationship between sensation seeking and the four dimensions of problematic mobile phone use, namely dangerous use, dependence, financial problem, and prohibited use in students. The research design is crossectional research. The sampling technique was random cluster sampling in which the research subjects were 370 students. Correlation analysis in this study used the spearman range. The results showed a positive correlation between sensation seeking and the dimensions of dangerous use and prohibited use. With hypothesis testing, the correlation coefficients were 0.272 and 0.132. There is no correlation between sensation seeking and the dimensions of financial problems and dependence. With hypothesis testing, the correlation coefficients are 0.049 and 0.026. The conclusion is that sensation seeking, financial problems, and dependence on students are moderate. The dimensions of dangerous use and prohibited use are in the low category.