cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Intuisi
ISSN : 25412965     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah is the scientific publication media to accommodate ideas and innovation research results of psychology academicians and other experts who are interested in the field of Psychology. Vision intuition is to encourage the development of science-based psychology, indigenous psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 558 Documents
Pengaruh Work Life Balance dan Disiplin Kerja terhadap Kinerja Guru SMA di Kota Semarang pada Saat Pandemi Covid-19 lestari, Pitri; violinda, Qristin; Goeltom, Henry Casandra
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 3 (2020): November 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i3.26777

Abstract

Pandemi Covid-19 memaksa guru yang ada di Indonesia untuk dapat berkompetisi menjadi guru yang dapat menyesuaikan diri dengan kondisi yang penuh dengan tantangan berbagai macam perubahan. Menurut beberapa hasil penelitian work life balance, disiplin kerja serta kinerja guru saling berkaitan disaat individu menghadapi kondisi yang penuh dengan tantangan perubahan. Saat individu memiliki work life balance yang baik maka akan diikuti dengan disiplin dan kinerja yang baik juga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh work life balance dan disiplin kerja terhadap Kinerja Guru pada saat pandemi Covid-19. Populasi pada penelitian ini yaitu seluruh guru yang sedang menghadapi pandemi Covid-19 di Kota Semarang, sedangkan sampel pada penelitian ini yaitu 158 responden. Dalam melakukan pengumpulan data penelitian ini menggunakan skala Likert, dengan 5 kriteria penilaian serta untuk mengukur 35 item pertanyaan. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan jenis probability sampling. Teknik analisis data yaitu analisis regresi linear berganda. Hasil analisis menyatakan bahwa work life balance berpengaruh positif secara parsial terhadap kinerja guru yaitu sebesar 64.6%, disiplin kerja berpengaruh positif secara parsial terhadap kinerja guru sebesar 39.2% pada saat pandemi Covid-19. Guru diharapkan mampu menyeimbangkan antara kehidupan pribadi dan kehidupan kerja supaya antara keduanya tidak terjadi konflik dan disiplin kerja guru harus ditingkatkan supaya meningkatnya kinerja guru guna tercapainya tujuan dari sekolah menciptakan generasi bangsa yang unggul.The Covid-19 pandemic forces teachers in Indonesia to be able to compete to become teachers who can adjust to challenging conditions. According to several research results, work life balance, work discipline and teacher performance are interrelated when individuals face conditions that are full of challenges. When individuals have a good work-life balance it will be followed by discipline and good performance as well. This study aims to determine the effect of work life. balance and work discipline on teacher performance during the Covid-19 pandemic. The population in this study were all teachers who were facing the Covid-19 pandemic in Semarang City, while the sample in this study was 158 respondents. In collecting the data, this research uses a likert scale, with 5 assessment criteria and to measure 35 question items. The sampling technique in this study uses a type of probability sampling. The data analysis technique is multiple linear regression analysis. The results of the analysis state that work life balance has a partial positive effect on teacher performance, namely 64.6%, work discipline has a partial positive effect on teacher performance by 39.2% during the Covid-19 pandemic. Teachers are expected to be able to balance between personal life and work life so that there is no conflict between the two and teacher work discipline must be improved so that teacher performance increases in order to achieve the goals of the school to create a nation that has good achievements.
“Positif atau Negatifkah Konsep Diri pada Narapidana Residivis?” Studi Deskriptif pada Narapidana Residivis di Lapas Kelas I Kusumaningsih, Luh Putu Shanti; Syafitri, Diany Ulfieta
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i2.23563

Abstract

Kejahatan berulang yang dilakukan oleh sebagian narapidana menjadi satu permasalahan yang patut mendapatkan perhatian. Hal tersebut diantaranya adalah bagaimana narapidana memandang dirinya terkait kejahatan yang dilakukan sehingga merasa tidak terbebani ketika harus berurusan dengan hukum untuk kesekian kalinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep diri pada narapidana residivis. Residivis adalah sebutan untuk para narapidana yang melakukan tindak kejahatan berulang sehingga dinyatakan pula masuk penjara berulangkali. Populasi penelitian ini adalah seluruh narapidana residivis di Lapas Kelas I Kedungpane Semarang yang berjumlah 129 orang. Adapun sampel penelitian berjumlah 87 orang dengan metode pengambilan sampel Simple Random Sampling. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji statistika deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menyebutkan bahwa 79 orang (90,8%) berada pada kategorisasi sangat tinggi, 2 orang (2,3%) berada pada kategorisasi tinggi, 2 orang (2,3%) berada pada kategorisasi sedang, 1 orang (1,1%) berada kategorisasi rendah, dan 3 orang (3,4%) berada pada kategorisasi sangat rendah. Artinya, pandangan dan penilaian narapidana residivis terhadap dirinya dikategorikan sangat tinggi atau sangat positif meskipun berstatuskan sebagai individu yang dikategorikan sering bersinggungan dengan kasus hukum. Konsep diri positif perlu ditumbuhkan pada individu-individu yang memiliki potensi positif untuk melakukan hal-hal yang bersifat positif pula. Namun, konsep diri positif yang dimiliki oleh narapidana residivis digunakan sebagai penyemangat diri ketika berada di situasi negatif yaitu melakukan kejahatan berulangkali. Konsep diri berkaitan dengan kepercayaan diri, dengan demikian artinya, narapidana tetap merasa percaya diri dan tidak terganggu dengan statusnya sebagai residivis. Oleh karena itu, berdasarkan uraian tersebut, maka hasil penelitian yang menyebutkan bahwa 90,8% residivis kategorisasi konsep diri sangat tinggi justru perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut dalam penelitian ini.The recurrent crime committed by some prisoners is an issue that deserves attention. These include how prisoners view themselves as being related to crimes committed so they feel less burdened when they have to deal with the law for the umpteenth time. This study aims to determine self-concept in recidivist inmates. A recidivist is a term for prisoners who commit recurrent crimes so that they are also repeatedly jailed. The population of this research was all 129 recidivist inmates in Lapas Kelas I Kedungpane Semarang. The study sample numbered 87 people with a simple random sampling method. The data analysis technique used is the quantitative descriptive statistical test. The results of the study mentioned that 79 people (90.8%) were in the very high categorization, 2 people (2.3%) were in the high categorization, 2 people (2.3%) were in the medium categorization, 1 person (1.1 %) low categorization, and 3 people (3.4%) are very low categorization. That is, the views and evaluations of recidivist inmates are categorized very high or very positive even though they are categorized as individuals who are categorized as often dealing with legal cases. Positive self-concept needs to be grown on individuals who have positive potential to do positive things as well. However, the positive self-concept possessed by recidivist inmates is used as self-encouragement when in a negative situation, which is to commit crimes repeatedly. Self-concept is related to self-confidence, thus it means that prisoners still feel confident and are not disturbed by their status as recidivists. Therefore, based on the description, the results of the study which states that 90.8% recidivists categorize self-concept is very high actually need to get further attention in this study
School Well-Being Dan Dukungan Sosial terhadap Kecenderungan Perundungan di Pesantren Dewi, Ismira; Purnamasari, Alfi; Rahma, Annisa
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 13, No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v13i1.29649

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara school well-being dan dukungan sosial dengan kecenderungan perundungan di Pesantren.  Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan teknik analisis data analisis regresi berganda. Analisis data akan dilakukan dengan bantuan SPSS 16.0 for windows. Hasil penelitian menunjukan: (1) terdapat hubungan yang siginifikan antara school well-being dan dukungan sosial dengan kecenderungan perundungan dengan koefisien regresi (R) sebesar 0,383 dan p=0,013 (p<0,05). (2) Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara school well-being dengan kecenderungan perundungan dengan koefisien korelasi (r) sebesar -0,298 dan p=0,024 (p<0,05). (3) Tidak ada hubungan antara dukungan sosial dengan kecenderungan perundungan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pada hipotesis mayor menunjukan ada hubungan yang signifikan antara school well-being dan dukungan sosial dengan kecenderungan perundungan. Pada hipotesis minor pertama menunjukan ada hubungan negatif yang signifikan antara school well-being dengan kecenderungan perundungan dan pada hipotesis minor kedua menunjukan tidak ada hubungan antara dukungan sosial dengan kecenderungan perundungan. Sumbangan efektif yang diberikan variabel school well-being dan variabel dukungan sosial dalam mempengaruhi variabel tergantung kecenderungan perundungan adalah sebesar 14,7%.Bullying cases often attract the attention of the education world, especially in the realm of Islamic boarding schools, which have complex patterns of interaction between students and their environment. This study aims to determine school well-being and social support with bullying tendencies in Islamic boarding schools. The research method in this study is the data analysis technique of multiple regression analysis. The results showed: (1) There was a significant relationship between school well-being and social support with bullying tendencies, the regression coefficient (R) was 0.383 and p=0.013 (p<0.05). (2) There is a significant negative relationship between school well-being and bullying tendencies with a correlation coefficient (r) of -0.298 and p=0.024 (p<0.05). (3) There is no relationship between social support and bullying tendencies. Based on the results of the study, it can be concluded that the major hypothesis shows that there is a significant relationship between school well-being and social support with bullying tendencies. The first minor hypothesis shows that there is a significant negative relationship between school well-being and bullying tendencies and the second minor hypothesis shows that there is no relationship between social support and bullying tendencies. The effective contribution given by the school well-being variable and the social support variable in influencing the dependent variable on bullying tendencies is 14.7%.
Kontrak Psikologis, Keterlibatan Kerja, dan Intensi Turnover Generasi Milenial Putro, Taufik Achmad Dwi; Yani, Luthfina; Aini, Bunga Nur; Qomariyah, Oom
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 3 (2020): November 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i3.24461

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran kontrak psikologis dan keterlibatan kerja terhadap intensi turnover pada tenaga kesehatan generasi milenial. Penelitian ini menggunakan dua dimensi kontrak psikologis yaitu dimensi transaksional dan relasional. Hipotesis pada penelitian ini adalah terdapat peran kontrak psikologis dan keterlibatan kerja terhadap intensi turnover pada tenaga kesehatan generasi milenial di rumah sakit. Partisipan pada penelitian ini berjumlah 118 tenaga kesehatan generasi milenial. Alat ukur yang digunakan yaitu Skala Intensi Turnover, Psychological Contract Inventory, dan Skala Keterlibatan Kerja. Analisis regresi ganda dilakukan untuk mengolah data yang diperoleh. Hasil uji regresi berganda menunjukkan nilai F=25.273 pada taraf signifikansi (p<0.01). Hal ini menunjukkan hipotesis penelitian ini diterima, bahwa terdapat peran yang signifikan dari kontrak psikologis dan keterlibatan kerja terhadap intensi turnover. Kontrak psikologis dan keterlibatan kerja memiliki nilai sumbangan efektif dalam memprediksi intensi turnover sebesar 39,9%. Kontrak psikologis dan keterlibatan kerja dapat dijadikan sebagai usaha bagi perusahaan untuk mengurangi intensi turnover pada karyawan generasi milenial. Perusahaan dapat mengurangi intensitas turnover tenaga kerja generasi milenial dengan lebih memperhatikan pemenuhan kontrak psikologis karyawan baik transaksional maupun relasional.This study aims to examine the role of psychological contracts and job involvement in turnover intention in millennial generation health workers in hospitals. This study uses two psychological contracts dimensions, namely the transactional and relational dimensions. The hypothesis in this study is the role of psychological contracts and job involvement in turnover intention in millennial generation health workers in hospitals. Participants in this study totalled 118 millennial generation health workers. Measuring instruments used are Turnover Intention Scale, Psychological Contract Inventory and Work Engagement Scale. Multiple regression analysis was performed to process the data obtained. The results of multiple regression tests showed the value of F=25,273 at the significance level (p<0.01). This shows that the research hypothesis is accepted, there is a significant role of psychological contracts and work involvement towards turnover intention in millennial generation health workers. Psychological contracts and work involvement have an effective contribution value in predicting the turnover intention of 39.9%. Psychological contracts and work involvement can be used as an effort for companies to reduce turnover intentions on millennial generation employees. Companies can reduce the turnover intensity of millennial generation by paying more attention to fulfilling employees’ psychological contracts, both transactional and relational.
Apakah Kecerdasan Spiritual Memberi Pengaruh Terhadap Stress Tolerance? Studi Pada Mahasiswa Pendidikan Dokter Sari, Andina Felyana; Rizki, Binta Mu’tiya; Haris, Ajeng Octaviani Insani
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 3 (2020): November 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i3.15958

Abstract

Proses penyesuaian diri, manajemen waktu, dan beban akademik merupakan stressor bagi mahasiswa Pendidikan Dokter di tahun pertama. Beberapa penelitian sebelumnya juga menyebutkan tingkat stres pada mahasiswa kedokteran tergolong tinggi dibanding dengan program studi lainnya di sektor non-medis. Hal tersebut tentunya akan meningkatkan stres/permasalahan besar bagi mereka apabila tidak berusaha untuk meningkatkan kemampuan individu dalam menghadapi stres (stress tolerance). Usaha individu dalam meningkatkan stress tolerance dapat dilakukan melalui kecerdasan spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kecerdasan spiritual terhadap stress tolerance mahasiswa tahun pertama Pendidikan Dokter. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dan subjek dalam penelitian ini adalah 167 mahasiswa tahun pertama Pendidikan Dokter di Semarang. Data diambil dengan menggunakan skala stress tolerance dan skala kecerdasan spiritual. Data diolah menggunakan analisis regresi sederhana. Hasil analisis data menunjukkan taraf signifikansi 0.000 (p < 0.05). Hipotesis penelitian ini diterima yaitu kecerdasan spiritual memberikan pengaruh terhadap stress tolerance mahasiswa Pendidikan dokter di Semarang. Selanjutnya, hasil perhitungan R Square menunjukkan kontribusi kecerdasan spiritual adalah sebesar 31,3% terhadap toleransi stres.Problem in adaptation, time management, and academic load are stressors that are experienced by many medical students in their first year. Several previous studies also stated that stress on medical students was high compared to other study programs in the non-medical sector. This certainly will increase stress/ problem for them if they didn't try to improve their individual's ability to deal with stress (stress tolerance). Individual efforts to increase stress tolerance can be done through spiritual intelligence. This study aims to determine the effect of spiritual quotient on stress tolerance in first year students of the Medical Education. This research employs correlational quantitative methodology and the subjects in this study are 167 first-year students of medical education in Semarang. Data were collected using a stress tolerance scale and a spiritual quotient scale. The data were processed using simple regression analysis. The results of data analysis showed significance level of 0.000 (p <0.05), meaning that the hypothesis is accepted, that spiritual quotient has an effect on stress tolerance of first year students of the Faculty of Medicine in Semarang. Furthermore, the results of the calculation of R Square shows that the spiritual quotient contributes 31.3% to the stress tolerance. 
Reality Not Imagination: Konseling Reality Therapy Membantu Penyesuaian Akademik Ridha, Andi Ahmad
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i2.20374

Abstract

Iklim akademik di perguruan tinggi menuntut mahasiswa memiliki penyesuaian diri yang mumpuni. Namun, tidak menutup kemungkinan terdapat mahasiswa yang kurang adaptif sehingga memengaruhi pencapaian prestasi akademiknya. Konseling dengan pendekatan reality therapy dapat digunakan untuk membantu mahasiswa menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas konseling dengan pendekatan reality therapy dalam meningkatkan penyesuaian akademik mahasiswa. Penelitian ini menggunakan metode single case experimental design dengan perlakuan berupa pemberian konseling dengan pendekatan reality therapy terhadap seorang mahasiswa semester 5 yang mengalami hambatan penyesuaian akademik. Instrumen penelitian berupa skala penyesuaian akademik. Data dianalisis secara deskriptif dengan menggambarkan perubahan yang dialami subjek sebelum dan setelah mengikuti konseling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek mengalami peningkatan penyesuaian akademik setelah diberikan konseling dengan pendekatan reality therapy. Subjek mengalami kemajuan dalam memetakan target perkuliahan dan mampu menunjukkan kegigihan dalam meningkatkan penyesuaian akademik.Academic climate in Higher Education requires students to have a good adaptation, but it does not rule out the possibility that there are students who are less adaptive and thus affect their academic achievement. Counseling with the reality therapy approach can be used to help students become more responsible individuals. This study aims to determine the effectiveness of counseling with the reality therapy approach in improving student academic adjustment. This study used a single case experimental design method with the treatment in the form of giving counseling with a reality therapy approach to a 5th semester student who experiences obstacles in academic adjustment. The research instrument is an academic adjustment scale. Data was analyzed descriptively by describing the changes experienced by the subject before and after taking counseling. The results showed that subjects experienced an increase in academic adjustment after being given counseling with the reality therapy approach. Subject made progress in mapping the target lectures and were able to show persistence in improving academic adjustment.
Peran Keterlibatan Ayah Dan Kesepian Terhadap Kepuasan Hidup Remaja Sutanto, Sandra Handayani; Suwartono, Christiany
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 13, No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v13i1.28619

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh variabel kesepian yang dialami remaja dan keterlibatan ayah dalam kehidupan mereka terhadap kepuasan hidup yang mereka persepsikan/rasakan. Penelitian terdahulu menyatakan bahwa keterlibatan ayah turut memengaruhi kepuasan hidup remaja. Kesepian yang dirasakan oleh remaja akan menurunkan kepuasan hidup. Metode penelitian yang akan digunakan adalah korelasional non-eksperimental dengan menggunakan kuesioner UCLA Loneliness Scale, Father Involvement Scale dan Satisfation with Life Scale yang diadaptasi sesuai dengan keperluan penelitian. Subjek penelitian adalah remaja yang berusia 14-17 tahun sebanyak 173 orang, yang didapat dengan metode convenience sampling. Data dianalisa dengan teknik regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dan kesepian bersama-sama memberikan pengaruh terhadap kepuasan hidup remaja, dengan dimensi interaksi ayah-anak memberikan kontribusi paling besar terhadap kepuasan hidup remajaThis research aims examined the effect of loneliness and perceived father involvement to adolescence’s life satisfaction. Previous research show that father involvement has an effect or increase to life satisfaction in adolescence, and loneliness has decrease life satisfaction.The study conducted with quantitative method by using UCLA Loneliness Scale, Father Involvement Scale and Satisfaction with Life Scale. Respondents of this research are 173 adolescencein age range 14-17 years old, that we got by convenience sampling technique. All the data analyzed with multiple regression. Result of the study showed father’s involvement and loneliness variable together were effect on teen’s life satisfaction. Engagement between father and adolescence play a significance contribution to teen’s satisfaction of life
Validasi Platform Rising Life untuk Meningkatkan Mental Health First Aid Retreival Knowledge pada Remaja Amalia, Putri; Mahanani, Fatma Kusuma
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 3 (2020): November 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i3.24489

Abstract

Salah satu penyebab rendahnya mental health first aid retrieval knowledge pada remaja yaitu belum adanya media informasi kesehatan mental yang tervalidasi secara empirik dan fungsional untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan mental. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui validitas isi dan fungsional platform Rising Life untuk meningkatkan mental health first aid retrieval knowledge. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen kuasi Nonrandomized Pretest-Postest Control Group Design. Subjek penelitian ini merupakan siswa SMA Negeri 12 Semarang yang memiliki kategori mental health first aid retrieval knowledge rendah. Subjek terbagi dalam kelompok eksperimen (10 orang) dan kelompok kontrol (10 orang). Penelitian ini menggunakan instrumen mental health fist aid retrieval knowledge test. Penelitian validasi dilakukan melalui uji validitas isi dan validitas fungsional. Validitas isi menggunakan teknik Aiken’s V. Hasil validitas isi menunjukkan kisaran antara 0,75 hingga 0,86 yang berarti bahwa platform Rising Life memiliki validitas isi yang berkisar antara kategori sedang hingga sangat valid. Validitas fungsional diperoleh melalui uji empirik dengan metode eksperimen. Data penelitian diolah menggunakan teknik Wilcoxon Rank Test dan Mann Whitney U Test dengan bantuan software pengolahan data. Hasil uji validitas fungsional menunjukkan bahwa terdapat perbedaan skor pre-test dan post-test pada kelompok eksperimen, dengan hasil uji beda sebesar -2,807 dan taraf signifikansi 0,005 (p<0,05). Selain itu, skor post-test pada kelompok eksperimen lebih unggul dibandingkan dengan kelompok kontrol, dengan hasil uji beda sebesar -3,797 dengan taraf signifikansi 0,000 (p<0,05). Berdasarkan hasil tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa platform Rising Life valid untuk meningkatkan mental health first aid retrieval knowledge pada siswa SMA Negeri 12 Semarang.One cause of low mental health first aid knowledge acquisition in adolescents is there is no mental health information media which empirically and functionally validated to improve mental health knowledgement. The purpose of this study is to find out content and functionally validity of Rising Life platform to improve mental health first aid. This research used quantitative approach with quasi experimental design Nonrandomized Pretest-Postest Control Group Design. Subjects in this study were students of SMA Negeri 12 Semarang who had low mental health first aid retrieval knowledge category. Subjects were divided into the experimental group (10 subject) and the control group (10 subject). This study used a mental health test instrument. This validation research is counted by content validity and functional validity test. The content validity used Aiken’s V technique. The result of validity shows a range between 0,75 until 0,86 which means that the Rising Life platform has a content validity in a rangesfrom moderate to strong validity categories. Functional validity was obtained throught empirical tests with experimental methods. Researh data was processed using Wilcoxon Rank Test and Mann Whitney U Test in data processing software. Functional validity test results shows there were differences on the pretest and posttest scores in the experimental group with different -2,807 and significance level 0,005 (p<0,05). In addition, the posttest score in the experimental group was superior compared to the control group with difference result is -3,797 and the significant level is 0,000 (p<0,05). Based on this baseline, it can be concluded that Rising Life plaform is valid to improve the mental health first aid retrieval knowledge for students of Senior High School 12 Semarang.
Tumbuh dari Luka: Gambaran Post-Traumatic Growth pada Dewasa Awal Pasca Perceraian Orang Tua Purwanto, Mayang Dewi; Hendriyani, Rulita
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i2.24697

Abstract

Perceraian orang tua menjadi salah satu peristiwa traumatis yang dapat dialami oleh individu. Seringkali perceraian membawa berbagai dampak negatif dan mengguncang psikis anak. Meskipun demikian, beberapa individu mampu melewatinya dengan membentuk kembali pandangannya tentang kehidupan dan menuju perubahan yang lebih positif yang disebut dengan Post Traumatic Growth (PTG). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran PTG pada dewasa awal pasca perceraian orang tua. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dokumentasi, dan tes grafis. Partisipan penelitian ini terdiri dari 3 orang dewasa awal yang memiliki orang tua bercerai sebagai narasumber primer dan 5 orang sebagai narasumber sekunder. Dalam penelitian ini pengecekan keabsahan data menggunakan teknik triangulasi data yang meliputi triangulasi sumber, metode, dan waktu. Dampak ini membuat ketiga narasumber merasa terpuruk pada masa pertumbuhan anak-anak dan memuncak saat remaja. Ketiga narasumber mampu mencapai PTG ketika memasuki masa dewasa awal. Munculnya PTG pada ketiga narasumber dipengaruhi oleh faktor internal (keinginan/dorongan dalam diri, peran spiritual, dan motivasi akan masa depan) dan faktor eksternal (dukungan sosial). Adanya temuan baru yang tidak ditemukan pada penelitian sebelumnya yaitu faktor keinginan atau dorongan dalam diri yang menjadi salah satu faktor paling memengaruhi munculnya PTG pada ketiga narasumber dan faktor motivasi akan masa depan.The recurrent crime committed by some prisoners is an issue that deserves attention. These include Parental divorce is one of the traumatic events that can be experienced by individuals. Divorce often brings negative and psychological shocks to children. However, some individuals are able to get through it by reshaping their views on life and towards a more positive change called Post Traumatic Growth (PTG). This study aims to determine the description of PTG in early adulthood after parental divorce. This study uses a qualitative method with a case study approach. The data was collected by means of interviews, observation, documentation, and graphic tests. Participants in this study consisted of 3 early adults whose parents divorced as primary sources and 5 people as secondary sources. In this study, checking the validity of the data used data triangulation techniques which include triangulation of sources, methods, and time. This impact made the three informants feel depressed during their children's growth period and peaked during adolescence. The three speakers were able to reach PTG when they entered early adulthood. The emergence of PTG in the three sources was influenced by internal factors (desire / drive within, spiritual role, and motivation for the future) and external factors (social support). There are new findings that were not found in previous studies, namely the desire or drive factor in oneself which is one of the most influencing factors for the emergence of PTG in the three sources and the motivational factor for the future
Berserah Diri atau Memaki: Religious Coping dan Suicidal Ideation pada Mahasiswa Savira, Marina; Purwono, Urip; Wardhani, Nurul
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 13, No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v13i1.28884

Abstract

Bunuh diri merupakan permasalahan kesehatan publik global yang serius dan banyak terjadi pada mahasiswa. Salah satu faktor penting dalam upaya pencegahan bunuh diri adalah suicidal ideation. Religious coping ditemukan memiliki hubungan dengan suicidal ideation, namun studi yang meneliti hubungan kedua variabel tersebut pada mahasiswa di Indonesia masih jarang dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan apakah religious coping berkorelasi dengan suicidal ideation pada mahasiswa. Pengambilan data dilakukan pada mahasiswa aktif dengan jumlah sampel 247 orang dengan teknik convenience sampling. Analisis data dilakukan menggunakan Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa negative religious coping berkorelasi positif signifikan dengan suicidal ideation (ρ = .342, p < .05) dan positive religious coping berkorelasi negatif signifikan dengan suicidal ideation (ρ = -.262, p < .05). Artinya, semakin sering mahasiswa melakukan positive religious coping, tingkat suicidal ideation yang dimilikinya semakin menurun, sedangkan jika mahasiswa sering melakukan negative religious coping, maka tingkat suicidal ideation yang dimilikinya akan semakin meningkat.Suicide is a serious global public health problem, and happens often in college student population. One of the important factors in suicide prevention is suicidal ideation. Religious coping has been found to be associated with suicidal ideation, but studies about the correlation of both variables in Indonesian college students are scarce. This study aims to see if religious coping correlates with suicidal ideation in college students. Data collection was carried out on active college students with a total sample of 247 people using convenience sampling. Data analysis was done using Rank Spearman. The results found that negative religious coping has a positive significant correlation with suicidal ideation (ρ = .342, p < .05) and positive religious coping has a negative significant correlation with suicidal ideation (ρ = -.262, p < .05). This means that the more often a college student uses positive religious coping, their suicidal ideation will lower, and if college students use negative religious coping often, their suicidal ideation will rise