cover
Contact Name
Akhsanul In'am
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jkpp_pedagogi@umm.ac.id
Editorial Address
Jl. Raya Tlogomas 246 Malang, East Java, Indonesia, Postal Code: 65144 3rd Campus, 4th Building (GKB 4), 3th Floor
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan
ISSN : 23377623     EISSN : 23377615     DOI : 10.22219
Core Subject : Education,
Jurnal Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan, adalah jurnal open access. Diterbitkan oleh Magister Pedagogi yang sebelumnya bernama Magister Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang. Terbit dua kali dalam satu volume, pada bulan April dan Oktober. Berisi tulisan ilmiah hasil penelitian dan ulasan literatur dibidang kebijakan dan pengembangan pendidikan.
Arjuna Subject : -
Articles 388 Documents
An Analysis on Teachers’ Professional Competence at SMP Muhammadiyah 3 Gending Probolinggo Lufi Kartika Sari
Jurnal Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan Vol. 2 No. 1 (2014): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.217 KB) | DOI: 10.22219/jkpp.v2i1.1729

Abstract

Lufi Kartika SariLecturer Language Center University of Muhammadiyah Malange-mail: loe_phie_sr@yahoo.comAbstract:This research used qualitative method. Based on the findings, 1) teachers’ professional competence was influenced by non-permanent teachers. They prioritize their main school instead of their subordinate school. It was proven by most of them teach carelessly, focused on textbooks and worksheets, do not develop teaching materials, copy and download teaching equipment; 2) school policies in SMP Muhammadiyah were based on government’s instruction. Some others were initiated by the principal regarding the school condition; 3). the most significant supporting factor was teachers’ main schools that held more trainings; 4) the inhibiting factors were fund, students, workforce, facilities, the evaluation of training, teachers’ personality, and school management, society which was non-Muhammadiyah; government prioritized public schools.Keywords: teachers’ professional competence, instructionAbstrak:Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Dapatan kajian menunjukkan: 1) kompetensi profesional guru dipengaruhi oleh guru-guru tidak tetap. Mereka memprioritaskan tempat utama mengajar bukan. Hal ini terbukti dengan sebagian besar dari mereka mengajar sembarangan, berfokus pada buku pelajaran dan lembar kerja, tidak mengembangkan bahan ajar, dan hanya menggunakan peralatan mengajar dan tidak mengembangkannya, 2) kebijakan sekolah di SMP Muhammadiyah didasarkan pada instruksi pemerintah. Beberapa orang lain yang diprakarsai oleh kepala sekolah mengenai kondisi sekolah; 3). faktor pendukung yang paling signifikan adalah adanya pelatihan bagi guru; 4) faktor penghambat adalah dana, siswa, tenaga kerja, fasilitas, evaluasi pelatihan, guru, dan manajemen sekolah, masyarakat yang non-Muhammadiyah, dan sekolah negeri diprioritaskan.Kata kunci: kompetensi profesional guru, pembelajaran
Evaluasi Kebijakan Peraturan Majelis Dikdasmen Muhammadiyah tentang Kinerja Guru Di SMA Muhammadiyah 1 Gresik Any Faizah
Jurnal Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan Vol. 2 No. 1 (2014): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.564 KB) | DOI: 10.22219/jkpp.v2i1.1731

Abstract

Any FaizahGuru Biologi SMA Muhammadiyah 1 Gresik.e-mail: anyfaizah69@yahoo.co.idAbstract:The approach used in this research is a qualitative approach using observation, questionnaires, interviews and documentation as the instruments of data collection. The results of this research showed that the regulation of Muhammadiyah Regional Leadership Council of Primary and Secondary Education about teachers’ performance is proved effective in the implementation at State Senior High School of Muhammadiyah 1 Gresik. The implementation of regulation on teachers’ performance assessment in State Senior High School of Muhammadiyah 1 Gresik addressed with full readiness, and dedicated in accordance with their each field. The effectiveness was shown from the values of performance achieved by teachers of State Senior High School of Muhammadiyah 1 Gresik, which obtain an average "good". This success cannot be separated from the hard work of the Muhammadiyah Regional Leadership Council of Primary and Secondary Education Gresik, and all the teachers and staff, as well as the strength of the rules and policies set by the education providers.Keywords: evaluation of policies, regulations council of basic education, the regional leadership of muhammadiyah.Abstrak:Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan menggunakan teknik observasi, kuesioner, wawancara dan dokumentasi sebagai alat pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peraturan Majelis Dikdasmen Pimpinan daerah Muhammadiyah tentang kinerja guru terbukti efektif dalam pelaksanaannya di SMA Muhammadiyah 1 Gresik. Pelaksanaan peraturan tentang penilaian kinerja guru di SMA Muhammadiyah 1 Gresik disikapi dengan penuh kesiapan, dan penuh dedikasi sesuai dengan bidangnya masing-masing. Efektivitas itu ditunjukkan nilai kinerja yang diraih oleh guru SMA Muhammadiyah 1 Gresik rata-rata “baik”. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kerja keras Majelis Dikdasmen Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Gresik, dan semua guru dan karyawan, serta kekuatan peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh penyelenggara pendidikan.Kata kunci: evaluasi kebijakan, peraturan majelis dikdasmen, pimpinan daerah muhammadiyah.
Optimalisasi Penerapan Kelas Bilingual menuju Pembelajaran Efektif Di SMP Negeri 1 Dukun Gresik Bambang Sugianto
Jurnal Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan Vol. 2 No. 1 (2014): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.277 KB) | DOI: 10.22219/jkpp.v2i1.1732

Abstract

Bambang SugiantoGuru SMP Negeri 1 Dukun Gresike-mail:bamsririn@gmail.comAbstract:This research used a qualitative descriptive approach. The subjects in this research were school principals, curriculum division, teachers, and employees of State Junior High School 1 of Dukun Gresik and school committees. The data collection is obtained through observation, interviews, and documentation. While data analysis through descriptive analysis is implemented in three ways, they are: 1) data reduction, 2) display or the presentation of data, 3) Withdrawal of conclusion or verification. The validity of data in this research used the triangulation technique of data sources. Planning and learning in the classroom of State Junior High School 1 of Dukun have been prepared in accordance with The Regulation of National Education Minister Number 41 of 2007 and the characteristics of bilingual classroom learning. In bilingual classroom learning process, the implementation of the bilingual classroom learning on science and mathematics subjects in English language uses two learning models, which are separate learning model (parallel) and an integrated learning model (integrated). The assessment and supervision of learning outcomes of Bilingual classes in State Junior High School 1 of Dukun is implemented in accordance with the Ministerial Regulation number 41 of 2007Keywords: bilingual, learning mathematics and scienceAbstrak:.Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Adapun subyek dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, urusan Kurikulum, guru, karyawan SMP Negeri 1 Dukun Gresik dan komite sekolah. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan untuk menganalisa data melalui analisis deskriptif dilakukan dengan tiga cara, yaitu: 1) reduksi data, 2) display atau penyajian data; 3) Penarikan kesimpulan atau verifikasi. Keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber data. Perencanaan, pembelajaran di kelas SMP Negeri 1 Dukun telah disusun sesuai dengan Permendiknas nomor 41 tahun 2007 dan karakteristik pembelajaran kelas bilingual. proses pembelajaran kelas bilingual, sedangkan pelaksanaan pembelajaran kelas bilingual mata pelajaran IPA dan Matematika dalam bahasa Inggris menggunakan dua model pembelajaran yaitu model pembelajaran terpisah (parallel) dan model pembelajaran terpadu (integreted). Adapun penilaian dan pengawan hasil pembelajaran Kelas Bilingual di SMP Negeri 1 Dukun dilaksanakan sesuai dengan Permendiknas nomor 41 tahun 2007.Kata kunci: Bilingual, Pembelajaran Matematika dan IPA
Model Pendekatan Scaffolding untuk Peningkatan Kemampuan Sholat Siswa Tuna Grahita Sedang Di SDLB Dharmawanita Ujungpangkah – Gresik Eny Mahsusiyah
Jurnal Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan Vol. 2 No. 1 (2014): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.799 KB) | DOI: 10.22219/jkpp.v2i1.1733

Abstract

Eny MahsusiyahGuru SDLB Dharma Wanita – Ujungpangkah Gresike-mail:enymahsusiyah@gmail.comAbstract:This research was conducted on prayer learning for medium mentally disabled. Learning in this way aims to develop a cognitive map of medium mentally disabled students in mastery of the practice of prayer with scaffolding models. The research approach uses the research in Second class of elementary school for special needs Dharmawanita Ujungpangkah focused on prayer movements for medium mentally disabled students. After focusing on the prayer movements, it is continued with their du’a. Based on the analysis of the needs and the constraints, the characteristics of scaffolding prayer learning toward medium mentally disabled students were, as follows: 1) every stage of prayer movement process should be understood carefully by teachers with various improving strategies on students' ability prayers for medium mentally disabled; 2) teachers should develop the creativity as the creator and conceptor in designing and implementing learning; 3) there are examples of scaffolding in learnings, methods or strategiesKeywords: scaffolding, the ability of students to pray mentally disabled being.Abstrak:Penelitian ini dilakukan pada pembelajaran sholat bagi tuna grahita sedang. Pembelajaran dengan cara tersebut bertujuan mengembangkan peta kognitif siswa tuna grahita sedang dalam penguasaan praktek sholat dengan model scaffolding. Pendekatan penelitian menggunakan penelitian pada siswa kelas II SDLB Dharmawanita Ujungpangkah menfokuskan tentang gerakan sholat bagi siswa-siswi tuna grahita sedang. Setelah menfokuskan gerakan sholat maka dilanjutkan dengan bacaan-bacaannya. Berdasarkan analisis kebutuhan dan kendala tersebut maka karakteristik dari scaffolding pembelajaran sholat terhadap siswa tuna grahita sedang sebagai berikut: 1) setiap tahapan proses prak-tek gerakan sholat hendaknya dipahami guru dengan cermat dengan berbagai variasi strategi pening-katan kemampuan sholat pada siswa tuna grahita sedang; 2) guru hendaknya mengembangkan kreati-vitasnya sebagai kreator dan konseptor dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran; 3) terdapat contoh scaffolding dalam pembelajaran, metode atau strategi. Katakunci: Scaffolding, kemampuan sholat siswa-siswi tuna grahita sedang.
Implementasi Kebijakan Kepmendiknas Nomor: 044/U/2002 tentang Peran dan Fungsi Komite Sekolah di SMA Muhammadiyah 1 Gresik Nur Hidajati
Jurnal Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan Vol. 2 No. 1 (2014): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.5 KB) | DOI: 10.22219/jkpp.v2i1.1734

Abstract

Nur HidajatiGuru SMA Muhammadiyah 1 Gresike-mail: hidajatinur@gmail.comAbstract:This research used a qualitative descriptive approach. From the analysis, it can be found that: 1) Senior High School of Muhammadiyah 1 Gresik has responded the policy on the school committee issued by the government since the determination of legislation. The activity manifested by this educational institution is the establishment of official decision about the organization structure of the school committee periodically. They are having AD/ART (The constitution and bylaws) of school committee; meetings conducted by the committee administrators with the principal, as well as a signatory on the letters of external aid. 2) The supporters of the policy implementation about school committee are the participation of society and parents as an educational resource. The constraint on the policy implementation of school committee is the similarity of editorial between the regulation of school committee and the Primary and Secondary Education Council of Muhammadiyah. 3) The solutions to solve the problems in the implementation on the policy of the school committee Senior High School of Muhammadiyah 1 Gresik is the involvement of the school committee on public relations activitiesKeywords: policy, school committeeAbstrak:Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Dari analisis didapatkan bahwa: 1) SMA Muhammadiyah 1 Gresik telah merespon kebijakan tentang komite sekolah yang dikeluarkan oleh pemerintah sejak ditetapkannya peraturan. Aktivitas yang diwujudkan oleh lem-baga pendidikan tersebut adalah penetapan surat keputusan tentang struktur organisasi komite sekolah secara berkala; memiliki AD/ART komite sekolah; adanya pertemuan pertemuan yang dilakukan oleh pengurus komite dengan kepala sekolah; serta penandatangan surat surat pemberian bantuan dari pihak eksternal; 2) pendukung implementasi kebijakan tentang komite sekolah adalah partisipasi masyarakat dan orang tua sebagai sumber daya pendidikan dan kendala implementasi kebijakan tentang komite sekolah adalah adanya kesamaan redaksi antara peraturan komite sekolah dan Majelis Dikdasmen Muhammadiyah; 3) Solusi untuk mengatasi permasalah-an implementasi kebijakan komite sekolah di SMA Muhammadiyah 1 Gresik adalah pelibatan komite sekolah pada kegiatan bidang kerja kehumasan.Kata kunci: kebijakan, komite sekolah
Penerapan Penjaminan Mutu Pendidikan pada Sekolah Menengah Atas berstandar Internasional Sri Uchtiawati; Irwani Zawawi
Jurnal Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan Vol. 2 No. 1 (2014): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.134 KB) | DOI: 10.22219/jkpp.v2i1.1735

Abstract

Sri Uchtiawati 1, Irwani Zawawi 2Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Gresike-mail:1. sri.uchtiawati@gmail.com;2. irwanizawawi@ymail.comAbstract:This research focuses on the enactment of Operational Procedures Standards (SOP) to be able to provide certainty in implementing education system in International standardized Senior High Schools. Based on the Government Regulation 19 of 2005, formal and non-formal education units required to perform quality assurance. These provisions can be implemented in the mechanism of action. Operational Procedures Standard is a system that shows how policy makers based on applied standards to this school carry out the plot. Operational Procedures Standard becomes a measure of the objective achievement. International Standard School (SBI) is a high school level, which must be able to produce qualified and competitive graduates both in domestic and overseas. International Standard School, which is studied, has established 'quality' under the provisions of the National Education Standards Board. However, the mechanism of quality achievement has not based on the clear model. This research was conducted with field studies and documentation, which then can be determined Operational Procedures Standards 'model' for International Standard School. The specification of mechanism includes Content Standards/ Curriculum, Standards of Learning Process, Graduates Competence Standards, Standards of Teachers and Education Personnel, Infrastructure Standards, Management Standards, Financing Standards, Educational Assessment Standards. Based on this standard, then, conceptual procedure is defined, which is a step of logical instructions towards the desired process. As a follow-up, a trial is conducted to achieve the objectives efficiently and effectively. Operational Procedures Standard is equipped with description, a manual procedures and work instructions, then, evaluated so it becomes continuous quality improvementKeywords: quality assurance, Standard Operating ProcedureAbstrak:Penelitian ini menitik beratkan pada pembuatan Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk dapat memberikan kepastian dalam melaksanakan sistem pendidikan disekolah menengah atas berstandar internasional. Berdasarkan PP 19 tahun 2005, satuan pendidikan jalur formal dan non formal wajib melakukan penjaminan mutu. Ketentuan itu dapat dilakukan dalam bentuk mekanisme kerja. SOP merupakan suatu sistem yang menunjukkan bagaimana alur yang dilakukan oleh pembuat kebijakan berdasarkan standar yang diterapkan pada sekolah tersebut. SOP ini menjadi ukuran pencapaian tujuan. Sekolah Berstandar Internasional (SBI), merupakan jenjang sekolah menengah atas yang harus mampu menghasilkan lulusan yang bermutu, dan berdaya saing baik dalam negeri, maupun antar negara. SBI yang diteliti telah menetapkan ‘mutu’ berdasarkan ketentuan dari BSNP. Tetapi mekanisme pencapaian mutu masih belum didasarkan pada model yang jelas. Penelitian ini dilakukan dengan studi lapangan dan dokumentasi, yang kemudian dapat ditentukan ‘model’ SOP bagi SBI. Mekanisme yang ditentukan, meliputi: Standar Isi/Kurikulum, Standar Proses Pembelajaran, Standar Kompetensi Lulusan, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan, Standar Penilaian Pendidikan. Berdasarkan standar ini kemudian ditetapkan konseptual prosedur yang merupakan langkah sejumlah instruksi logis untuk menuju proses yang dikehendaki. Sebagai tindak lanjut dilakukan uji coba untuk mencapai tujuan secara efesien dan efektif. SOP dilengkapi dengan deskripsi berupa manual prosedur dan instruksi kerja, kemudian dievaluasi sehingga menjadi peningkatan mutu berkelanjutan.Kata kunci: penjaminan mutu, Standar Operasional Prosedur.
Implementasi Kebijakan Kurikulum Berbasis Turats pada Mata Kuliah Bahasa Arab dan Nahwu Program Studi Pendidikan Bahasa Arab di Institut Keislaman Abdullah Faqih Gresik Siti Amaliati
Jurnal Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan Vol. 2 No. 1 (2014): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.684 KB) | DOI: 10.22219/jkpp.v2i1.1736

Abstract

Siti AmaliatiGuru KBIT Al Ummahe-mail: amalia_gresik@yahoo.comAbstract:This research used a qualitative approach. Based on the research findings and discussion, it can be concluded 1) in the substance of Turath-based curriculum policy in Arabic and Nahwu courses in Arabic Education program in INKAFA Gresik, the components of curriculum have been based on Turath. 2) The implementation of Turath-based curriculum policy with several stages is started from rector to implementer, which is Arabic Education program. 3) The inhibiting factors in the implementation are a) students who use references beside Turath (books of Indonesian translation or other sources); b) The number of language laboratory is fewer compared to the number of the users. 4) The solution in the implementation of Turath-based policy is the establishment of the Institute for Tutoring Yellow Kitab / Turath (LABBAIK). However, the solution about the addition of language laboratory media to support Arabic language courses has been resolved.Keywords: policy implementation, turathAbstrak:Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Berdasarkan hasil pembahasan penelitian disimpulkan sebagai berikut: 1) Substansi kebijakan kurikulum berbasis turats pada mata kuliah bahasa Arab dan Nahwu di Program studi Pedidikan Bahasa Arab di INKAFA Gresik bahwa komonen kurikulum berdasarkan turats 2) Implementasi kebijakan kurikulum berbasis turats dengan beberapa tahapan mulai dari rektor hingga implementator yaitu program studi PBA 3) adanya penghambat dalam implementasi a) mahasiswa yang menggunakan referensi-referensi selain turats (buku-buku terjemah bahasa Indonesia atau sumber-sumber yang lain) b) Jumlah laboratorium bahasa lebih sedikit dibandingkan dengan penggunanya 4) adanya solusi dalam implementasi kebijakan berbasis turats yaitu dengan adanya Lembaga Bimbingan Belajar kitab kuning/turats (LABBAIK) namnu, belum ditemukannya solusi tentang penambahan jumlah media laboratorium bahasa sebagai pendukung mata kuliah bahasa Arab.Katakunci: implementasi kebijakan, turats
Implementasi Kebijakan Sekolah dalam Penerapan Malcolm Baldrige Education Criteria for Performance Excellence di SD Muhammadiyah 2 Gresik. Rufqotuz Zakhiroh
Jurnal Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan Vol. 2 No. 1 (2014): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.017 KB) | DOI: 10.22219/jkpp.v2i1.1737

Abstract

Rufqotuz ZakhirohSD Muhammadiyah 2 Gresike-mail: yufro_zakhiroh@yahoo.comAbstract:This research uses descriptive qualitative method to describe the implementation of the policies of the Baldrige in SD Muhammadiyah 2 Gresik. The Implementation of the Baldrige categories that focus on three categories of Leadership, Workforce Focus, and the Operation Focus. The research results show; 1) aspects of leadership, researcher concluded the Headmaster has a strong enough commitment to direct the school component supports the implementation of policies through the establishment of policy implementation of the Baldrige, communication of policy implementation, continuous improvement, allocation the resources needed. The success of the policy implementation of Baldrige in SD Muhammadiyah 2 Gresik was also supported by the ability of Principals in integrating Baldrige with quality management systems which have already exist such as the Standards of National Education and the International Organization for Standardization (ISO 9001: 2008); 2) From Workforce Focus Categories, the school was able to build a conducive environment for the workforce to achieve high performance. Involving, managing and developing the workforce and taking advantages of all their potentials to be aligned with the vision, mission, strategy, and overall school work programmes; and 3) aspect of Operation Focus, the school is able to design, manage and improve the systems and processes of learning to give value to the students and stakeholders in order to achieve the success and sustainability of the school.Keywords: implementation, policy, malcolm baldrige education, performance excellenceAbstrak:Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk menggambarkan implementasi kebijakan Baldrige di SD Muhammadiyah 2 Gresik. Implementasi Baldrige fokus pada tiga kategori yaitu Kategori Kepemimpinan, Fokus Tenaga Kerja, dan Fokus Operasi. Dari hasil penelitian diperoleh gambaran bahwa 1) dari aspek kepemimpinan, peneliti menyimpulkan Kepala Sekolah memiliki komitmen yang cukup kuat untuk mengarahkan komponen sekolah mendukung implementasi kebijakan Baldrige melalui penetapan kebijakan implementasi, pengkomunikasian kebijakan implementasi, perbaikan terus-menerus, pengalokasian sumber daya yang dibutuhkan. Keberhasilan implementasi kebijakan Baldrige di SD Muhammadiyah 2 Gresik juga didukung oleh kemampuan Kepala Sekolah dalam mengintegrasikan Baldrige dengan system manajemen mutu yang sudah ada di sekolah yaitu Standar Nasional Pendidikan dan International Organization for Standardization (ISO 9001:2008); 2) Dari fokus tenaga kerja, sekolah mampu membangun lingkungan tenaga kerja yang kondusif serta mencapai kinerja tinggi. Sekolah melibatkan, mengelola, dan mengembangkan tenaga kerjanya dan memanfaatkan seluruh potensinya agar selaras dengan misi, strategi, dan program kerja sekolah secara menyeluruh; dan 3) Dari Fokus Operasi, sekolah mampu mendesain, mengelola dan meningkatkan sistem dan proses pembelajaran untuk memberikan nilai pada siswa dan stakeholders guna mencapai keberhasilan dan keberlangsungan sekolah.Kata kunci: implementasi, kebijakan, malcolm baldrige , performance excellence
Kecenderungan Gaya Belajar Mahasiswa dalam Menyelesaikan Masalah Fungsi Bijektif Umy Zahroh; Beni Asyhar
Jurnal Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan Vol. 2 No. 1 (2014): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.369 KB) | DOI: 10.22219/jkpp.v2i1.1738

Abstract

Umy Zahroh1 dan Beni Asyhar21,2 Jurusan Tadris Matematika IAIN Tulungagunge-mail: umyzahroh@gmail.com1; asyhar_beni@yahoo.com2Abstract:Humankinds are created into this world in different conditions. Although humankinds are born in twin, the difference will still exist. One of the differences can be how they learn and how they think. Every human being is born then grows and evolves will have a difference in learning and thinking process. One of the examples in lecturing, students’ learning styles are different. Some students prefer the lecturers who teach by writing everything on the board as well as the time at school, others prefer lecturers who teach by delivering the materials orally and they listen to be able to understand it. In addition, there are also students who prefer to form small groups to discuss questions related to the materials. The subjects of this research were undergraduate students of Tadris Mathematics IAIN Tulungagung that have the level of tendency in learning styles of visual, auditory, and kinesthetic. Based on the tendency level of the learning styles, subjects were given a task to solve the problem of function. The results showed that generally students’ learning styles in solving mathematical problems, especially function problems using a combination of three learning styles, they are visual, auditory, and kinesthetic. Then, in certain stages, there are students who only use one or two combinations of learning styles.Keywords: learning style, student of the S-1, mathemathics educationAbstrak:Manusia diciptakan ke dunia ini dalam keadaan berbeda-beda. Walaupun dilahirkan dalam keadaan kembar, perbedaan itu akan tetap ada. Salah satu perbedaan itu adalah cara belajar dan cara berpikirnya. Setiap manusia lahir yang tumbuh dan berkembang akan memiliki perbedaan dalam proses belajar dan proses berpikirnya. Salah satu contoh dalam perkuliahan, gaya dan cara belajar mahasiswa berbeda-beda. Ada yang lebih suka terhadap dosen yang mengajar dengan cara menuliskan segalanya di papan tulis sebagaimana halnya waktu di sekolah dan ada mahasiswa yang lebih suka dosen mengajar dengan cara menyampaikan secara lisan dan mereka mendengarkan untuk dapat memahaminya. Selain itu, ada juga mahasiswa yang lebih suka membentuk kelompok kecil untuk mendiskusikan pertanyaan yang menyangkut materi tersebut. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa S-1 Tadris Matematika IAIN Tulungagung yang memiliki tingkat kecenderungan gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik. Berdasarkan tingkat kecenderungan gaya belajar tersebut, subjek diberi tugas untuk menyelesaikan masalah fungsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Secara umum gaya belajar mahasiswa dalam menyelesaikan masalah matematika, khususnya masalah fungsi menggunakan kombinasi tiga gaya belajar, yaitu: visual, auditorial, dan kinestetik. Kemudian pada tahap-tahap tertentu ada mahasiswa yang hanya menggunakan satu atau dua kombinasi gaya belajar. Katakunci: gaya belajar, mahasiswa S-1, tadris matematika
Implementasi Kebijakan Adiwiyata Dalam Upaya Mewujudkan Pendidikan Lingkungan Hidup di SMA Kota Malang Ellen Landriany
Jurnal Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan Vol. 2 No. 1 (2014): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.75 KB) | DOI: 10.22219/jkpp.v2i1.1739

Abstract

Ellen LandrianyGuru SMA Negeri 10 Malange-mail: ellenani@yahoo.co.idAbstract:This research used a descriptive qualitative approach. The aims are to describe the implementation of the policy, the supporting factors, inhibiting factors, and provide a description in overcoming the inhibiting factors of Adiwiyata program on Public Senior High Schools 8 and 10 in Malang. The results showed that the policy of living environment in the school already stated in the official decision and integrated in each subject. Then, the schools socialize some of the main activities using the approach to the students to obtain perfect support to create absolute agreement that the school is truly environmental school. Furthermore, researcher still found various situations inhibiting the implementation of Adiwiyata, such as the unit of task is not on time, and there is a group of students who have not been realized in understanding the concept of environmental schools, funding issues, and the support of the society and other parties are still low. Schools have implemented the strategic steps to overcome existing barriers.Keywords: adiwiyata, environmentAbstrak:Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif, dengan tujuan mendeskripsikan implementasi kebijakan, mendeskripsikan faktor pendukung, mendeskripsikan faktor penghambat, dan memberikan deskripsi dalam mengatasi hambatan program adiwiyata pada Sekolah Menengah Atas Negeri 8 dan 10 di Kota Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan lingkungan hidup di sekolah sudah dituangkan dalam surat keputusan dan terintegrasi dalam masing-masing mata pelajaran. Kemudian mensosialisasikan beberapa kegiatan utama dengan pendekatan pada siswa guna mendapatkan dukungan yang sempurna sehingga menciptakan kesepakatan yang mutlak bahwa sekolah tersebut benar-benar sekolah berwawasan lingkungan. Selanjutnya masih dijumpai berbagai situasi permasalahan yang menghambat pelaksanaan adiwiyata, seperti satuan tugas yang tidak tepat waktu serta ada sekelompok siswa yang masih belum sadar dalam memahami konsep sekolah berwawasan lingkungan hidup, masalah pendanaan, dan dukungan masyarakat serta instansi lain yang masih rendah. Sekolah sudah melakukan langkah-langkah strategi guna mengatasi hambatanKata kunci: adiwiyata, lingkungan hidup Menurut Widaningsih (2010) secara formal pendidika

Page 5 of 39 | Total Record : 388