cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Psikologika : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi
ISSN : 14101289     EISSN : 25796518     DOI : -
Core Subject : Education,
Psikologika - Journal of Discourse and Research on Psychology, publishes research and innovative ideas on psychology. Psikologika is published by Department of Psychology, Islamic University of Indonesia. Psikologikan coverage the fields on clinical psychology, educational psychology, developmental psychology, industrial and organizational psychology, social psychology, islamic psychology, and psychological testing. Psychology is published 2 times a year in January and July.
Arjuna Subject : -
Articles 460 Documents
Welas Asih Diri dan Kesejahteraan Subjektif pada Remaja dengan Orang Tua Bercerai Ayulanningsih, Ayulanningsih; Karjuniwati, Karjuniwati
Psikologika: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Vol. 25 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/psikologika.vol25.iss1.art7

Abstract

Kesejahteraan subjektif merupakan elemen penting kesehatan mental pada remaja. Kesejahteraan subjektif yang tinggi pada remaja akan membantu pula dalam optimalisasi perkembangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara welas asih diri dan kesejahteraan subjektif pada remaja dengan orang tua bercerai di kota Banda Aceh. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 40 orang remaja yang orang tuanya bercerai di kota Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah non-probabil ity sampl ing dengan teknik quota sampling dan snowball sampling. Hasil analisis data diuji dengan teknik korelasi Spearman. Hasil uji korelasi menunjukkan koefisien korelasi (r) sebesar .348 dengan taraf signifikansi .028 (p < .05). Hal ini menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara welas asih diri dan kesejahteraan subjektif pada remaja dengan orang tua bercerai di kota Banda Aceh.Kata Kunci: kesejahteraan subjektif, remaja yang orangtuanya bercerai, welas asih diriSelf-Compassion and Subjective Well-Being in Adolescents with Divorced ParentsAbstract. Subjective well-being is one of the important elements of mental health in adolescents. A high level of subjective well-being among adolescents will help them to optimize their development. This research aims to determine the relationship between self-compassion and subjective well-being in adolescents with divorced parent in Banda Aceh city. The samples of this research were 40 adolescents with divorced parent in Banda Aceh city. This research used quantitative methods. The data, however, was revealed by using the method of non-probability sampling with quota sampling and snowball sampling technique. Output data analysis applied the Spearman correlation technique. The result of correlation test showed a correlation coefficient (r) by .348 with a significance level of .028 (p < .05). It means that there is a relation between self-compassion and subjective well-being among adolescent with divorced parent in Banda Aceh city.Keywords: adolescents with divorced parent, self-compassion, subjective well-beingArticle History:Received 20 December 2019Revised 30 May 2020Accepted 30 May 2020
Rantai Perilaku untuk Meningkatkan Keterampilan Memakai Baju Berkancing pada Anak Sindrom Down Mirza, Rina; Rizky, Salman; Wulandari, Rizki Ayu; Cryptia, Rinda Ridanti; Sembiring, Venny Kristia; Wahyuni, Juli Indah
Psikologika: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Vol. 25 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/psikologika.vol25.iss1.art4

Abstract

Sindrom Down memiliki keterlambatan dalam hal kemandirian, salah satunya adalah mengancing baju. Mengancing baju merupakan kegiatan sehari-hari yang tidak dapat dihindari. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan memakai baju berkancing melalui penerapan rantai perilaku (behavior chains) dengan teknik forward chaining (penetapan urutan perlakuan mulai dari awal hingga target perilaku tercapai) pada anak sindrom Down di SLB-C di kota Medan). Subjek penelitian ini berjumlah empat orang anak sindrom Down (7 – 12 tahun) yang belum mampu mengancing baju secara mandiri. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen Small-N desain ABA. Pengaruh sebelum dan setelah diberikan intervensi diukur dengan menggunakan bantuan (prompt) sebagai dasar penilaian. Analisis keberhasilan efektivitas program menggunakan perbandingan data yang diperoleh dari hasil penilaian awal, intervensi, dan tindak lanjut. Terapi ini diberikan sebanyak 13 sesi. Hasil menunjukkan bahwa empat anak tersebut mampu untuk mengancing baju dengan menggunakan teknik forward chaining dari metode rantai perilaku. Setelah diberikan intervensi, maka terjadi peningkatan keterampilan memakai baju berkancing. Indikator dari peningkatan tersebut adalah dua anak mampu untuk mengancing baju tanpa bantuan dan dua anak lainnya mampu mengancing baju dengan sedikit bantuan instruksi secara verbal. Dengan demikian, hasil penelitian ini membuktikan bahwa rantai perilaku dengan teknik forward chaining mampu meningkatkan keterampilan memakai baju berkancing pada anak sindrom Down.Kata Kunci: keterampilan, mengancing baju, rantai perilaku, sindrom DownBehavior Chains to Improve The Skill of Wearing Buttoned Clothes in Down Syndrome ChildrenAbstract. Down syndrome has a delay in terms of independence. one of which is buttoning a shirt. Buttoning of clothes is a daily activity which cannot be avoided. Therefore the purpose of this study is to improve the skills to wear buttoned clothes through the application of behavior chains in children with Down syndrome at SLB-C Medan. The subjects of this study were four children with Down syndrome (7 – 12 years) who have not been able to button his clothes. This study was used the ABA small-N experimental design. The effect of before-after intervention measured by using “prompt” as basis of assessment. The analysis of program effectiveness based on comparison obtained from baseline, intervention, and follow up. A therapy was given in 13 sessions. The results showed that the four children were able to button their clothes using the forward chaining technique (sequential steps for achieving targeted behavior) from the behavior chains method. After the intervention was given, there was an increase in the skills to wear buttoned clothes, where two children were able to button clothes without prompt and the other two children were able to button clothes with a verbal prompt. Therefore, the results of this study prove that behavior chains with forward chaining technique can improve the skill of wearing buttoned clothes for children with Down syndrome.Keywords: behavior chains, buttoning clothes, down syndrome, skillsArticle History:Received 5 November 2019Revised 1 February 2020Accepted 20 February 2020
Sikap Qana’ah Sebagai Pendekatan terhadap Perilaku Belanja Kompulsif Tri Rahayuningsih
Psikologika: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Vol. 21 No. 2 (2016)
Publisher : Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/psikologika.vol21.iss2.art1

Abstract

Compulsive buying as an impulse control disorder that is characterized by a person's mind to shopping and excessive spending behavior, thus making the culprit problematic in terms of self-esteem and anxiety, that there is no standard treatment. Research from various countries have reported this problem, especially in the case of women and adolescents. The demands of the times and ease of transactions made consumers more interested in worldly and feel not quite over his life, so that consumers can get stuck in consumer lifestyle and go into debt. Hamka (2007) expressed gratitude for favors and patiently accept the divine decree, although not unpleasant self is the intent of qana'ah. When someone does not have qana’ah attitude, his mind would be chaotic if not get what they want, but like to be proud of themselves when having the appropriate expected. Compulsive buying can cause psychological distress, interpersonal, and significant financial. Black (2007) developed a cognitive-behavioral therapy as an alternative to overcome this disorder, also with a circle of simplicity, this paper presented in the form of qana'ah as an Islamic solution on psychological disorders.
Sikap dan Kontrol Perilaku: Kesediaan sebagai Mediator dari Sikap dan Peluang Mengemudi Agresif Nu'man, Thobagus Mohammad; Ramdhani, Neila
Psikologika: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Vol. 25 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/psikologika.vol25.iss1.art10

Abstract

Perilaku mengemudi agresif masih menjadi penyebab utama dari peristiwa kecelakaan lalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran sikap dan kontrol perilaku yang dirasakan terhadap perilaku mengemudi agresif, dan kesediaan untuk mengemudi agresif. Penelitian ini melibatkan 96 responden mahasiswa berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan yang menggunakan kendaraan bermotor untuk aktivitas sehari-hari. Pengumpulan data menggunakan Aggressive Driving Behavior Scale (ADBS) (alfa = .846) dari Houston et al. (2003), skala Sikap terhadap Mengemudi Agresif (alfa = .814), skala Kontrol Perilaku yang dirasakan (alfa = .858) yang disusun peneliti dengan mengacu pada Theory of Planned Behavior (Ajzen & Fishbein, 2005), serta skala Kesediaan Mengemudi Agresif (alfa = .846). Hasil uji fit menunjukkan bahwa sikap dan kontrol perilaku yang dirasakan terhadap perilaku mengemudi agresif dimediasi oleh kesediaan untuk mengemudi agresif yang diperlihatkan dari kai kuadrat = .399 (p > .05), nilai RMSEA = .000 (</= .08), nilai GFI = .998 (> .90), dan nilai AGFI = .977 (> .90). Walaupun sikap secara signifikan memengaruhi perilaku mengemudi agresif, namun perannya menjadi lebih kuat apabila ada variabel kesediaan individu untuk mengemudi agresif.Kata Kunci: kesediaan, kontrol perilaku yang dirasakan, perilaku mengemudi agresif, sikapThe Attitude and Behavioral Control: Willingness as a Mediator of Attitudes and Opportunities on Aggressive DrivingAbstract. Aggressive driving behavior is still a major cause of catastrophic accident events. This study aims to determine the role of attitudes and perceived behavioral control towards aggressive driving behavior, and willingness to drive aggressively. The study involved 96 respondents who drived motorized vehicle for daily activities. Data collection used Aggressive Driving Behavior Scale (ADBS) (alpha = .846) from Houston et al. (2003), Attitude toward Aggressive Driving scale (alpha = .814), Perceived Behavioral Control scale (alpha = .858) compiled by researchers with reference to the Theory of Planned Behavior (Ajzen & Fishbein, 2005), and Willingness to Drive Aggressively scale (alpha = .846). The fit test results showed that the attitude and control of perceived behavior towards aggressive driving behavior was mediated by the willingness to drive aggressively as shown from chi-square = .399 (p > .05), RMSEA value = .000 (</= .08), GFI value = .998 (> .90), and AGFI value = .977 (> .90). Although the attitude significantly influences aggressive driving behavior, its role, however, becomes stronger when there was a variable in the willingness of individuals to drive aggressively.Keywords: aggressive driving behavior, attitude, perceived behavioral control, willingnessArticle History:Received 7 February 2020Revised 31 May 2020Accepted 31 May 2020
Implementasi Konsep Belajar Humanistik pada Siswa dengan Tahap Operasional Formal di SMK Miftahul Khair Maslukiyah, Nailil; Rumondor, Prasetio
Psikologika: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Vol. 25 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/psikologika.vol25.iss1.art8

Abstract

Konsep belajar yang diusung humanistik adalah memanusiakan manusia, dan lebih menekankan proses dari pada hasi l belajar. Penel i ti an i ni di lakukan untuk mengetahui pengimplementasian konsep belajar humanistik bagi siswa tahap operasional formal di SMK Miftahul Khair yang berada di bawah naungan pesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara semi terstruktur dan observasi. Hal itu dilakukan untuk mengetahui validitas dan konsistensi data yang diperoleh. Adapun hasil dari penelitian ini adalah terdapat beberapa strategi yang digunakan guru dalam mengimplementasikan pembelajaran humanistik pada siswa, yaitu: (1) Memberikan respon positif terhadap siswa baik verbal maupun nonverbal, seperti menghargai siswa, memberikan apresiasi (misal pujian), berlaku adil, tersenyum, dan lain-lain; (2) Memberikan cerita inspiratif untuk menumbuhkan serta meningkatkan hasrat dan minat belajar siswa, di mana hal tersebut berdampak terhadap perubahan siswa (meliputi pengetahuan, sifat, dan perilaku siswa); (3) Pemilihan metode belajar yang tepat dan menyenangkan agar proses pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa; dan (4) Membuat siswa merasa nyaman dengan tidak memberikan ancaman atau kecaman terhadap siswa, sehingga siswa merasa bebas berekspresi dalam pembelajaran.Kata Kunci: belajar humanistik, sekolah menengah kejuruan, tahap operasional formalThe Implementation of Humanistic Learning Concept on Students with Formal Operational Stage at Miftahul Khair Vocational SchoolAbstract. The concept of learning which so called humanistic was humanizing human beings and emphasizes the process rather than learning outcomes. This research was conducted to determine the implementation of the concept of humanist learning for students in the formal operational stage at the Miftahul Khair’s Vocational High School under the auspices of the Pesantren. The study used a descriptive qualitative approach. The data collection, however, used semi-structured interviews and observations. it was done to determine the validity and consistency of the data obtained. The results stated that there were several strategies used by teachers in implementing humanistic learning in students, namely: (1) Giving positive responses to students both verbally and non-verbally such as respecting students, giving appreciation (ex: praise), acting fairly, smil ing, etc.; (2) Provide inspirational stories to foster and increase the desires and interest in student learning, where it has an impact on student change (including knowledge, nature, and behavior of students); (3) The selection of appropriate and fun learning methods so that the learning process becomes meaningful for students; and (4) Make students feel comfortable by not giving threats or criticism to students, so students feel free to express themselves in learning. Keywords: formal operational stages, humanistic learning, vocational high schoolArticle History:Received 31 January 2020Revised 20 April 2020Accepted 30 May 2020
Makna Religiusitas pada Orang dengan HIV/AIDS di Banda Aceh Safrilsyah Safrilsyah; Rena Irmayani; Nurafni Nurafni
Psikologika: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Vol. 21 No. 2 (2016)
Publisher : Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/psikologika.vol21.iss2.art3

Abstract

This study aims to understanding the spirituality meaning on HIV/AIDS Survivor. Subjects in this study is 1 HIV/AIDS survivors at the age of 15-30 years old. This study is a qualitative study. Data obtained by interview and observation. Results of this study show that religiousity has an influence to survivor’s acceptance. When subjects were diagnosed by the doctor, they felt depressed and unstable. They even thought that God is unfair. But after one or two months, some of the subject became more religious. They thought that the religion’s ritual had a good effect for their mental and spiritual health.
Konseling Eklektik Dengan Kerangka Kerja Skilled Helper Model Yulianti Dwi Astuti
Psikologika: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Vol. 21 No. 2 (2016)
Publisher : Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/psikologika.vol21.iss2.art2

Abstract

dalam pemberian intervensi psikologi dibandingkan penggunaan pendekatan konseling murni. Artikel ini mencoba untuk memberikan gambaran tentang pelaksanaan konseling eklektik yang mengkombinasikan pendekatan Person Centered dan Rational Emotive Behavior dengan kerangka kerja Skilled Helper Model dari Egan. Person Centered dipilih karena klien merasa tidak diterima oleh lingkungan sehingga tidak dapat beraktualisasi diri dengan baik. Adapun Rational Emotive Behavior diperlukan karena sumber masalah klien adalah pada kecenderungannya untuk berfikir tidak rasional dan melemahkan diri. Oleh karena itu, setelah klien merasa diterima sepenuhnya oleh konselor, klien kemudian diajari untuk mengubah fikiran dan keyakinannya dengan merekonstruksi persepsi dan fikirannya agar menjadi lebih logis dengan menggunakan teknik dan tata cara yang sesuai. Untuk memastikan proses konseling berjalan dengan teratur dan memberikan hasil, konselor menjadikan model Skilled Helper dari Egan sebagai kerangka kerja dalam melakukan sesi konseling ini.
Konseling Eklektik Dengan Kerangka Kerja Skilled Helper Model Astuti, Yulianti Dwi
Psikologika: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Vol 21, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/psikologika.vol21.iss2.art2

Abstract

dalam pemberian intervensi psikologi dibandingkan penggunaan pendekatan konseling murni. Artikel ini mencoba untuk memberikan gambaran tentang pelaksanaan konseling eklektik yang mengkombinasikan pendekatan Person Centered dan Rational Emotive Behavior dengan kerangka kerja Skilled Helper Model dari Egan. Person Centered dipilih karena klien merasa tidak diterima oleh lingkungan sehingga tidak dapat beraktualisasi diri dengan baik. Adapun Rational Emotive Behavior diperlukan karena sumber masalah klien adalah pada kecenderungannya untuk berfikir tidak rasional dan melemahkan diri. Oleh karena itu, setelah klien merasa diterima sepenuhnya oleh konselor, klien kemudian diajari untuk mengubah fikiran dan keyakinannya dengan merekonstruksi persepsi dan fikirannya agar menjadi lebih logis dengan menggunakan teknik dan tata cara yang sesuai. Untuk memastikan proses konseling berjalan dengan teratur dan memberikan hasil, konselor menjadikan model Skilled Helper dari Egan sebagai kerangka kerja dalam melakukan sesi konseling ini.
Peran Psikologi dalam Pencapaian Standar Pendidikan Nasional Gantina Komalasari Gantina Komalasari
Psikologika: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Vol. 17 No. 1 (2012)
Publisher : Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/psikologika.vol17.iss1.art10

Abstract

Among inmates, there is also silent community of drug users. Banceuy prison is the special prison in the city of Bandung, for inmates related to drug use crime. Recent data has shown that there are a lot of IDUs among inmates, and the cases of HIV positive among those are in the range of 20-53%. [(Banceuy- Bandung prison, 24% (2002); (Indonesian HIV/AIDS Prevention Care Project (IHCP) and Indonesian ealth Department, 2003)]. The Objective are to explore and understand the knowledge, perception and attitude of prison staffs regarding the program of reducing high risk behavior related to HIV among inmates. Method of data gathering is Focus Group Discussion, was collected from 42 out of 115 staffs and the analyze using qualitative approach. The conclusions is sometimes conflict between prison rules and prison staffs understanding, about handling the HIV/AIDS inmates creates uncertainty on implementing the policy (such as in the case of condom and MMT programs).Key-words : Prison staff, IDU's, Inmates, HIV/AIDS
Hubungan Antara Religiusitas Dengan Gaya Penjelasan Pada Mahasiswa Muslim Yulianti Dwi Astuti
Psikologika: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Vol. 4 No. 8 (1999)
Publisher : Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berupaya untuk mengetahui apakah ada hubungan antara tingkat religiusitas seseorang dengan gaya penjelasan yang dimilikinya. Hipotesis penelitian ini ada hubungannya yang positif antara religiusitas dengan gaya penjelasan.Subjek penelitian ini berjumlah 151 orang (75 pria dan 76 wanita). Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan angket religiusitas dan angket gaya penjelasan.Dari analisis data korelasi product moment diperoleh hasil penelitian berikut : ada hubungan positif yang sangat signifikan antara tingkat religiusitas dengan gaya penjelasan dengan r = 0,811 (p<0,01). Bobot sumbangan efektif tingkat religiusitas terhadap gaya penjelasan adalah 65,777%.  Kata kunci    :   religiusitas, gaya penjelasan, mahasiswa.       

Page 11 of 46 | Total Record : 460