cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Pendidikan Geografi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 57 Documents
KAJIAN PERTIMBANGAN PENENTUAN LOKASI SEKOLAH (STUDI KASUS SMKN 1 GEGER KABUPATEN MADIUN) SIGIT WIDODO, BAMBANG
Pendidikan Geografi Vol 12, No 1 (2014): Volume 12 Nomor 1 Juni 2014
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. This research aims to know the description of: 1) how the consideration of determining the location and school building, and 2)  how the development of school. The research approach is qualitative by case study plan. The procedure of data collection is done by : (1) in-depth interview, (2) participative observation and (3) document study. The data analysis are consisted of: (1) data reduction, (2) data display, and (3) conclusion. But, the data approval check uses credibility, transferability, dependability, and confirmatablity. The finding of those three location show that : (1) the consideration of determining location and building school based on the social need, and (5) the development of school which is observed from the numbers of students, school building, skills program, school achievement and partnerships between schools and external institution has increased, bocause the support and commitment from the district / city and community.   Keywords: consideration, school location, development of school.
KONSEP FENOMENA GEOSFIR SEBAGAI ACUAN RUMUSAN MASALAH DALAM PENELITIAN GEOGRAFI SUDARYONO, LUCIANUS
Pendidikan Geografi Vol 12, No 1 (2014): Volume 12 Nomor 1 Juni 2014
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Rumusan masalah sangat penting dalam penelitian, karena melalui rumusan masalah dijelaskan arah dan tujuan penelitian. Rumusan masalah sering juga disebut pertanyaan penelitian, yang jawabannya merupakan hipotesis yang hendak diuji. Sering terjadi di bidang geografi bahwa rumusan masalah penelitian dikemukakan tanpa memperhatikan batas-batas kepatutannya dengan hakekat hal yang dipersoalkan. Keadaan demikian disebabkan oleh banyaknya anasir pendukung  yang terlibat dalam setiap peristiwa atau fenomena yang menjadi obyek kajian geografi. Kurang fahamnya peneliti terhadap konsepsi obyek kajian geografi yang disebut fenomena geosfir, sering merupakan sebab-musabab terjadinya kerancuan dalam perumusan masalah penelitian. Rumusan masalah yang dikemukakan sering merupakan pertanyaan-pertanyaan yang berdiri sendiri-sendiri, dan tidak sesuai dengan hakekat permasalahan yang dikaji. Dengan memahami secara benar konsepsi obyek kajian geografi dan menggunakannya sebagai acuan dalam pengenalan dan penyataan masalah penelitian, maka kemungkinan terjadinya kesesatan berpikir dapat diatasi, sehingga perumusan masalah penelitian  dapat dilakukan dengan semestinya.   Kata Kunci : Penelitian Geografi, Fenomena Geosfir, Rumusan Masalah.  
KARAKTERISTIK MORFOLOGI CEKUNGAN KARST GUNUNGSEWU MALALUI DATA GDEM ASTER BUDIYANTO, EKO
Pendidikan Geografi Vol 12, No 1 (2014): Volume 12 Nomor 1 Juni 2014
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Kawasan karst memiliki karakteristik alamiah yang berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lain. Pemahaman tentang karakteristik alamiah suatu tempat di daerah karst sangat penting dalam kaitannya dengan pengelolaan wilayah karst. Penelitian ini mengkaji karakteristik morfologi cekungan karst Gunungsewu didasarkan pada parameter pola persebaran cekungan, kemiringan lereng cekungan, dan kekasaran permukaan karst. Data pokok yang digunakan adalah data GDEM ASTER dan diolah dengan menggunakan perangkat lunak Global Mapper 11, dan Quantum GIS. Pola persebaran cekungan dianalisis dengan menggunakan tool Nearest Neighbour. Kemiringan lereng diukur melalui profiling DEM. Kekasaran permukaan diukur dengan menggunakan tool Ruggedness Index. Uji beda dilakukan dengan menggunakan statistik uji T. Hasil pengukuran diketahui bahwa terdapat variasi pada parameter penelitian diseluruh area karst Gunungsewu. Area karst gunungsewu memiliki pola persebaran cekungan yang acak. Kemiringan lereng cekungan terkecil terdapat disebelah barat dan semakin meningkat hingga sisi timur. Untuk kekasaran permukaan diketahui bahwa karst gunungsewu memiliki kekasaran permukaan dari level datar hingga intermediately rugged dan moderately rugged.   Kata Kunci : morfologi cekungan karst, GDEM ASTER
PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI RAWAN BANJIR , SOEGIYANTO
Pendidikan Geografi Vol 12, No 1 (2014): Volume 12 Nomor 1 Juni 2014
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Pada umumnya banjir dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu (1) faktor meteorologis, (2) faktor daerah aliran sungai, (3) faktor manusia. Faktor meteorologis yang penting adalah presipitasi atau hujan. Dalam pendefinisian DAS, pemahaman akan konsep daur hidrologi sangat diperlukan terutama untuk melihat masukan berupa curah hujan yang selanjutnya didistribusikan melalui konsep daur hidrologi. Konsep daur hidrologi DAS menjelaskan bahwa air hujan langsung  sampai ke permukaan tanah untuk kemudian terbagi menjadi air larian, perkolasi dan infiltrasi, yang kemudian akan mengalir ke sungai sebagai debit aliran. Dalam mempelajari ekosistem DAS, dapat diklasifikasikan menjadi daerah hulu, tengah dan hilir. DAS bagian hulu dicirikan sebagai daerah konservasi, DAS bagian hilir merupakan daerah pemanfaatan. Dalam suatu sistem DAS, hujan adalah faktor input, DAS itu sendiri sebagai prosesor, dan tata air di hilir sebagai output. Apabila hujan sebagai faktor yang tidak dapat dikendalikan, maka kondisi tata air akan sangat tergantung pada kondisi DAS. Banjir maupun banjir bandang menunjukkan fenomena perubahan tata air sebagai bentuk respon alam atas interaksi alam dan manusia dalam sistem pengelolaan. Telaah masalah kerusakan siklus air tersebut harus menggunakan satuan Daerah Aliran Sungai (DAS). Untuk menganalisa kinerja suatu DAS, harus melihat keseluruhan komponen yang ada, baik output yang bersifat positif (produksi) maupun dampak negatif. Pengelolaan DAS dapat disebutkan merupakan suatu bentuk pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai suatu unit pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang secara umum untuk mencapai tujuan peningkatan produksi pertanian dan kehutanan yang optimum dan berkelanjutan (lestari) dengan upaya menekan kerusakan seminimum mungkin agar distribusi aliran air sungai yang berasal dari DAS dapat merata sepanjang tahun. Pentingnya posisi DAS sebagai unit perencanaan yang utuh merupakan konsekuensi logis untuk menjaga kesinambungan pemanfaatan sumberdaya hutan, tanah dan air. Dalam upaya  menciptakan pendekatan pengelolaan DAS secara terpadu, diperlukan perencanaan secara terpadu, menyeluruh, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dengan mempertimbangkan DAS sebagai suatu unit pengelolaan.   Kata kunci : Pengelolaan, Daerah Aliran Sungai (DAS)
KAJIAN KERUSAKAN PANTAI AKIBAT EROSI MARIN DI WILAYAH PESISIR KELURAHAN KASTELA KECAMATAN PULAU TERNATE Sofyan, Adnan
Pendidikan Geografi Vol 12, No 1 (2014): Volume 12 Nomor 1 Juni 2014
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Tingkat kerusakan di wilayah pesisir Kelurahan Kastela yaitu  sesuai panjang garis pantai dengan panjang 1.652 meter dan lebar yang tererosi marin  pertahunnya mencapai 1,5 meter. Kerusakan oleh erosi marin di wilayah pesisir Kelurahan Kastela disebabkan oleh faktor alam dan faktor buatan/manusia. Faktor alam yang disebabkan oleh erosi marin adalah arus, pasang surut, gelombang, dan angin. Sedangkan penyebab erosi marin oleh faktor buatan atau manusia yang berupa aktifitas penambangan pasir oleh masyarakat di sepanjang wilayah pesisir Kelurahan Kastela. Dampak yang ditimbulkan erosi marin di wilayah pesisir Kelurahan Kastela secara fisik yang berupa rusaknya fasilitas rekreasi, berubahnya daratan menjadi laut, pergeseran garis pantai, terancamnya permukiman dari terjangan ombak karena jarak permukiman 3 sampai 30 meter dari pasang tertinggi. Kerusakan biotik berupa rusaknya lahan perkebunan, seperti kebun kelapa, rusaknya salah satu tanaman endemik pulau Ternate yaitu pohon capilong/nyamplung (Calophyllum inophyllum)   di sepanjang pesisir Kelurahan Kastela yang disebabkan oleh gelombang yang menghantam wilayah pesisir secara terus menerus, dengan demikian perlu adanya penangan dan pengelolaan untuk mengurangi ancaman erosi marin tersebut.   Kata Kunci : Kerusakan, Pantai, Pesisir, Erosi marin
KEWASPADAAN BENCANA PADA WARGA SUKU DAYAK DI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Ashari, Beny Dwi; Hariyono, Widodo
Pendidikan Geografi Vol 12, No 1 (2014): Volume 12 Nomor 1 Juni 2014
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract : Background: Merapi Volcano is located between Central Java and Yogyakarta Special Region (DIY), considered the most active volcanoes in the world and the intensity of the eruptions tend to be short between 3-7 years. The Island of Borneo, an area for the native Dayak tribesmen, known not pick volcanoes and plate tectonics Earth line. Residents "Dayak" need to know that there are differences in the characteristics of the disaster in Yogyakarta Special Region and the island of Borneo, and to learn and to adapt from the state. The purpose of this study to determine the citizen disaster preparedness "Dayak" in the DIY. Methods: This research uses descriptive qualitative method, which is to describe the disaster preparedness in Dayak tribesmen in the province of DIY, which consists of a description of the difference of potential disaster, the view on the citizens "Dayak" against disasters and security threats of disasters, preparedness, experiences and events trauma caused by natural disasters in the disaster in DIY. Data was collected by observation, interview and documentation. Result: Based on geography, geology, hydrology, and demographic, DIY has a condition that allows disasters (natural, non-natural, and human). Yogyakarta Special Region himself long enough until now has good title to continue their education, not to mention followed by Dayak tribesmen. By the respondents answered all of the characteristics of the narrow scope of the disaster. Yogyakarta Special Region disasters in view of relatively safe. Knowing the signs of a disaster there are lessons that never obtained before and some are aware of social media. Conclusion: Overview of the potential difference between DIY disasters with local residents origin "Dayak" different sources always vigilant and careful, there are misgivings and always alert, sources in the face of a disaster in the province is one accepted (resigned), mediocre, confused, frightened, safe, and there are gearing up to take instructions from the government through electronic media as well as the direction of the surrounding community, and the trauma experienced by interviewees tend to be brief and mild.   Keywords: disaster awareness, Dayak People, Yogyakarta Special Region.
INOVASI PERENCANAAN KOTA TANGGAP PERUBAHAN IKLIM : RESILIENT INFRASTRUCTURE CITIES, SWARM PLANNING, DAN BUILT-IN RESILIENCE
Pendidikan Geografi Vol 12, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Yasin Yusup *) Abstrak. Perubahan iklim akan terus memberi efek pada komunitas, ekologi, dan ekonomi di seluruh dunia. Untuk menghadapinya tidak ada pilihan lain selain adaptasi baru terhadap perubahan iklim dalam bentuk resiliensi terhadap bencana. Resiliensi merupakan kapasitas sistem (bisa komunitas, kota, atau sistem ekonomi) untuk menghadapi perubahan dan terus berkembang. Pemikiran Resiliensi menggeser fokus perencanaan dari berdebat mengenai solusi alternatif menjadi bekerja sama dengan beragam pengetahuan (diverse knowledge) untuk menyusun strategi adaptif yang yang dapat membantu kita bergerak ke arah yang diinginkan. Praktek perencanaan kota yang tanggap terhadap perubahan iklim dapat berupa resilient infrastucture cities, swarm planning, atau built-in resilience.   Kata kunci : perubahan iklim, adaptasi, resiliensi
TUNTUTAN REFORMASI PEMBELAJARAN DALAM KURIKULUM 2013
Pendidikan Geografi Vol 12, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wiwik Sri Utami*)   Abstrak: Implementasi kurikulum 2013 sudah dilaksanakan mtahun pelajaran 2013-2014. Dalam kurikulum 2013 masih menitik beratkan ketercapaian kompetensi sebagaimana yang diharapkan juga terjadi pada kurikulum sebelumnya. Beberapa hal yang mendasar dari implementasi kurikulum 2013 adalah adanya keinginan untuk melakukan reformasi pembelajaran  untuk menghadapi tantangan global yang dihahadapi oleh dunia pendidikan Indonesia. Hal pokok yang menjadi dasar dilaksanakannya reformasi pembalajaran meliputi penetapan kompetensi lulusan, materi pelajaran, proses pembelajaran, penilaian, kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan, serta pengelolaan kurikulum. Dalam makalah ini hanya memfokuskan pada proses pembelajaran yang menyangkut perubahan pendekatan pembelajaran dan pengintegrasian teknologi informasi komunikasi atau information comuniction technology (TIK/ICT) dalam semua mata pelajaran.   Kata kunci: kurikulum 2013, reformasi pembelajaran, TIK/ICT  
KERENTANAN PENDUDUK DESA NGABLAK DAN DESA NGULANAN KECAMATAN DANDER KABUPATEN BOJONEGORO TERHADAP BANJIR BENGAWAN SOLO
Pendidikan Geografi Vol 12, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Agus Sutedjo*) Abstrak. Beberapa desa di Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro sering mengalami banjir akibat meluapnya Bengawan Solo, antara lain adalah Desa Ngablak dan Desa Ngulanan.  Lokasi ke dua desa tersebut berdekatan dan sama-sama terletak di pinggir Bengawan Solo. Namun pada beberapa tahun terakhir jumlah korban banjir yang tejadi selalu berbeda berbeda, korban banjir di Desa Ngablak selalu lebih besar. Dari kenyataan itu adakah perbedaan  1) tingkat kerentanan sosial, 2) tingkat kerentanan ekonomi, 3) tingkat kerentanan lingkungan terbangun, dan 4) tingkat kerentanan penduduk terhadap banjir Bengawan Solo di Desa Ngulanan dan Desa Ngablak Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro. Untuk itu diperlukan data tingkat pendapatan, mata pencaharian, lokasi pekerjaan, tingkat pendidikan, ikatan sosial, interaksi sosial, kondisi rumah dan kondisi penggenangan banjir dari kepala keluarga sebagai responden yang rumahnya mengalami kebanjiran. Responden sebagai sampel penilitian diambil secara acak untuk setiap desa. Semua data diperoleh melalui wawancara dengan bantuan kuesioner dan observasi lapangan yang selanjutnya dianalisis dengan metode skoring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan tingkat kerentanan ekonomi antara penduduk Desa Ngablak dan Desa Ngulanan, keduanya dalam kategori tingkat kerentanan sangat rendah, sedangkan kerentanan sosial penduduk di kedua desa sama-sama pada kategori tingkat kerentanan tinggi. Untuk kerentanan lingkungan terbangun terjadi perbedaan, yakni tingkat kerentanan sedang pada penduduk Desa Ngablak dan tingkat kerentanan sangat rendah pada penduduk desa Ngulanan. Secara umum, penduduk Desa Ngablak dan Desa Ngulanan kurang rentan dalam menghadapi banjir Bengawan Solo yang datang sewaktu-waktu, namun dari skor yang diperoleh dapat diketahui bahwa penduduk Desa Ngablak mendekati rentan sedangkan penduduk Desa Ngulanan mendekati tidak rentan. Perbedaan tersebut berdampak pada perbedaan cara penanggulangan atau pencegahan berbagai dampak negatif yang ditimbulkan oleh banjir pada masyarakat setempat. Orang tua dan anak-anak di Desa Ngablak  perlu lebih diperhatikan dibandingkan di Desa Ngulanan sehubungan dengan kejadian banjir yang terjadi dan berdampak terhadap kondisi lingkungan tempat tinggalnya. Kata Kunci : kerentanan, banjir
SISTEM INFORMASI PENANGGULANGAN BENCANA LONGSORLAHAN BERBASIS SIG (SUATU TELAAH PUSTAKA)
Pendidikan Geografi Vol 12, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Steeves W. J. Louhenapessy *)   Abstrak : Keberadaan Indonesia dengan kondisi morfologi wilayah yang bergunung dan berbukit dengan sebaran daerah datar yang sempit pada sebagian besar daerah pulau-pulau kecil serta daerah berlereng terjal pada beberapa pulau besar akibat terjadinya proses sejarah pengangkatan dan pembentukan kepulauan Indonesia dapat berakibat pada potensi bencana yang terjadi. Penulisan ini menentukan dan menggambarkan pentingnya suatu kejadian longsor serta pentingnya suatu sistem informasi bahaya longsorlahan berdasarkan tingkat kerawanan yang dihasilkan lewat media-media peta dan SIG.  Kebutuhan akan SIG untuk pemetaan dan proses penyelesaian masalah terkait longsor sangat dibutuhkan dan sangat penting.  Pemanfaatan SIG ini sekaligus dapat meningkatkan daya guna dalam pemanfaatannya mengatasi longsor dengan menilai kharakteristik longsor kemudian di buat menjadi suatu sistem informasi longsor yang dijadikan dasar penetapan tingkat kerawanan serta berfungsi sebagai pencegahan serta pengurangan resiko yang dapat terjadi akibat longsor dalam sistem informasi penanggulangan longsor.   Kata kunci :  Longsorlahan, SIG, Sistem informasi penggulangan bencana longsor