cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Pendidikan Geografi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 57 Documents
TERAPAN PENDEKATAN KERUANGAN DALAM PENELITIAN GEOGRAFI SUDARYONO, LUCIANUS
Pendidikan Geografi Vol 11, No 22 (2013): Volume 11 Nomor 22 Desember 2013
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

    Abstrak. Penelitian merupakan suatu proses yang mencakup serangkaian langkah-langkah yang dijalankan secara sistematis. Pada umumnya setiap bidang studi memiliki kharakteristik atau kekhasan tersendiri dalam penelitian. Tulisan ini mengulas tentang penerapan pendekatan keruangan dalam penelitian geografi dengan mengutamakan hal-hal yang pokok dan praktis. Dalam bidang geografi, setiap masalah penelitian akan dikenali dan dirumuskan berlandaskan konsep fenomena geosfir sebagai obyek kajian geografi. Perbedaan yang cukup jelas antara penelitian bidang geografi yang menerapkan pendekatan keruangan dengan penelitian bidang ilmu yang lain adalah berkenaan dengan cara pengumpulan datanya. Geografi akan selalu mengaitkan obyek penelitian dengan ruang atau wilayah tertentu di muka bumi. Aspek-aspek keruangan meliputi letak, luas, bentuk atau batas dari sebaran unsur-unsur yang diamati dalam kesatuan wilayah di permukaan bumi. Selain itu penetapan populasi penelitian yang dibataskan pada kesatuan-kesatuan wilayah / ruang muka bumi berdasarkan sudut pandang keekologian dan keregionalan, yang membedakan antara wilayah formal dan wilayah fungsional, merupakan kekhasan  yang menjadi ciri utama penelitian bidang geografi.      Kata kunci : penelitian geografi, geosfer, ruang.
UPACARA ADAT NYADAR (TELAAH SOSIAL MASYARAKAT PESISIR SUMENEP) Khairi, Ahmad Imam
Pendidikan Geografi Vol 11, No 22 (2013): Volume 11 Nomor 22 Desember 2013
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Upacara adat Nyadar merupakan bentuk ungkapan rasa terima kasih kepada leluhur masyarakat, yaitu Anggasuto yang telah memberikan pengetahuan bagaimana cara memanfaatkan tanah Pinggir Papas yang tandus dengan cara membuat talangan yang kemudian menjadi garam. Dibalik itu semua terdapat nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Maka dari itu kajian ini mencoba untuk mengkaji kondisi sosial masyarakat yang ada di daerah Pinggir Papas, Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep.        Studi menggunakan paradigma fenomenologi untuk mengungkap makna sosial masyarakat di wilayah pesisir dibalik upacara adat Nyadar. Hasil menunjukkan bahwa kondisi lahan di wilayah kajian tidak cocok untuk kegiatan pertanian. Hal tersebut pulalah yang menjadikan masyarakat daerah tersebut menjadi petani garam sebagai kegiatan ekonomi masyarakanya. Rasa syukur masyarakat Pinggir Papas terhadap kondisi tersebut diwujudkan dalam upacara adat Nyadar. Upacara budaya tersebut berfungsi sebagai media sosial, yaitu merupakan media untuk mengutarakan pikiran, pesan, kepentingan dan kebutuhan hajat hidup orang banyak. Pesan, harapan, nilai atau nasehat yang disampaikan melalui upacara itu mendorong masyarakat untuk mematuhi warisan dari para leluhurnya. Selain itu, upacara adat Nyadar berfungsi sebagai media interaksi sosial atau kontak sosial antar warga masyarakat serta sebagai norma dan pengendali sosial dalam masyarakat tersebut. Nilai, aturan, dan norma yang terdapat dalam upacara nyadar tidak hanya berfungsi sebagai pengatur perilaku antar individu dalam masyarakat, tetapi juga menata hubungan manusia dengan alam lingkungannya terutama kepada Tuhan Yang Maha Esa.   Kata Kunci: Nyadar, Sosial Masyarakat
ANALISIS KARAKTERISTIK AKUIFER BERDASARKAN PENDUGAAN GEOLISTRIK DI PESISIR KABUPATEN CILACAP JAWA TENGAH Purnama1, Setyawan; Febriarta, Erik; Cahyadi, Ahmad; Khakhim, Nurul; Ismangil, , Lili; Prihatno, Hari
Pendidikan Geografi Vol 11, No 22 (2013): Volume 11 Nomor 22 Desember 2013
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Airtanah merupakan sumberdaya potensial untuk memenuhi kebutuhan air manusia. Keberadaanya di alam berbeda-beda menurut ruang dan waktu. Keberadaan airtanah sangat terkait dengan karakteristik akuifer di suatu wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik akuifer. Peneiltian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik akuifer yangmeliputi jenis material dan ketebalan akuifer. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode geolistrik dengan konfigurasi Schlumberger. Hasil analisis menunjukkan bahwa  akuifer potensial terdapat pada titik A,C,D dan E. Titik-titik tersebut memiliki material akuifer berupa pasir sampai dengan krakal dengan ketebalan lebih dari 70 meter. Selain itu,  hasil penelitian menunjukkan bahwa material pada titik B,F,G,H dan I. didominasi oleh material lempung dan lanau dengan kedalaman lebih dari 70 meter. Hal ini menunjukkan bahwa pada titik-titik tersebut merupakan lokasi dengan potensi airtanah yang kecil.   Kata Kunci: Airtanah, Akuifer, Cilacap, Geolistrik, Pesisir
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TANAH REGOSOL BETING GISIK DENGAN PUPUK ORGANIK HARI P, NUGROHO
Pendidikan Geografi Vol 4, No 7 (2005)
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

    Abstrak: Permasalahan tanah regosol yang berkernbang pada beting gisik untuk budidaya pertanian adalah ketidaktnampuannya menahan air dan terbatas kandungan unsur hara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui takaran optimal pupuk organik dengan bahan baku sampah yang didekomposisi oleh cacing tanah dalam me.ningka.tkan produktivitas pertanian tanah regosol yang berkernbang pada beting gisik. Penelitian menggimakan pendekatan agronomis dengan metode percobaan lapangan berupa Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL), dilanjutkan uji statistik kontras orthogonal. Perlakuan dikombinasikan dalam 4 petak perlakuan dengan 3 ulangan. Perlakuan berupa pengujian takaran pupuk organik berbahan baku sampah sebesar 10, 20, 30, dan 40 ton/hektar.Bahan yang diuji adalah tanaman mentimun (Cucurnis sativus L.). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian takaran 30 ton/liektar mampu menghasilkan nilai produktivitas pertanian paling optimal. Pupuk organik berperan dalam suplai unsur hara dan perekatan partikel-partikel tanah sehingga tanah mampu menahan air untuk dimanfaatkan bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.   Kata kunci :  Produktivitas, Tanah Regosol,  Beting Gisik, Pupuk Organik
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN HUTAN MANGROVE PANTAI PASURUAN Muryani, Chatarina
Pendidikan Geografi Vol 8, No 16 (2009): Volume 8 Nomor 16, Desember 2009
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN HUTAN MANGROVE PANTAI PASURUAN   Chatarina Muryani *)   ABSTRACT : The aim of this research is  to know  the differences of environmental factors toward the thickness of mangrove forest. Samples chosen were the mangrove forest which had various thickness. Semare Village was chosen to represent west part of research area, Bugul Kidul District was chosen to represent middle part of research area, Penunggul Village and Kedawang Village at Nguling District were chosen to represent east part of the research area. For each thickness of mangrove forest, there were made 3 line transects from the mangrove forest land edge to the mangrove forest sea edge, upright the shore line. There were determined 3 plot samples to represent “less thick” mangrove forest, 6 plot samples to represent “middle thick” mangrove forest, and 9 plot samples to represent “high thick” mangrove forest.The results of this research showed that there were differences environment factors especially in organic matter of water and soils, soil texture, on the thickness mangrove forest.  Based on MANOVA analysis (simultaneous) there were differences on the environment factors on the thickness of mangrove forest.   Key words : mangrove forest , environment factors   PENDAHULUAN Hutan mangrove seringkali juga disebut hutan pantai, hutan pasang surut, hutan payau, atau hutan bakau. Disebut hutan pantai karena hutan mangrove hanya dapat ditemui di kawasan pantai; disebut hutan pasang surut karena pertumbuhan vegetasi mangrove sangat tergantung pada pasang surut air laut dan disebut dengan hutan payau karena pada umumnya hutan mangrove tumbuh dan berkembang pada sekitar muara sungai dengan karakteristik khas air payau. Bakau sendiri merupakan nama lokal dari salah satu tumbuhan yang menyusun hutan mangrove, yaitu Rhizopora sp., dan hutan mangrove sudah ditetapkan sebagai nama baku untuk mangrove forest. Dari definisi di atas sudah menunjukkan bahwa faktor lingkungan sangat berpengaruh pada keberadaan dan pertumbuhan hutan mangrove. Kathiresan (2000) menyatakan bahwa lingkungan hutan mangrove mempunyai sifat fisik dan kimia khusus baik salinitas, arus pasang surut, angin, temperatur tinggi dan tanah berlumpur. Menurut Bengen (2000) secara umum karakteristik habitat hutan mangrove digambarkan sebagai berikut  Umumnya tumbuh pada daerah intertidal yang jenis tanahnya berlumpur, berlempung atau berpasir, Daerahnya tergenangi air laut secara berkala baik setiap hari maupun hanya tergenang pada saat pasang purnama. Frekuensei genangan menentukan komposisi vegetasi hutan mangrove Menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat, Terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat, air bersalinitas payau (2 – 22 ‰) hingga asin (38 ‰).   Menurut English, et. al  (1993) beberapa faktor lingkungan mempengaruhi diversitas dan produktifitas ekosistem hutan mangrove, yaitu iklim, geomorfologi, besarnya pasang surut, input air tawar dan karakteristik tanah. Menurut Aksornkoae (1993), baik struktur maupun fungsi dari ekosistem hutan mangrove  sangat  dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan sebagai berikut :   (a) Fisiografi pantai, (b) Curah hujan, (c) Pasang Surut, (d) Ombak dan gelombang (e) Salinitas,  (f) Oksigen terlarut, (g) tanah, (h) Nutrien.   Input penting dalam produktivitas hutan mangrove adalah air (terutama keseim-bangan antara air tawar dan air asin), substrat dan nutrien (baik yang ada di substrat maupun di dalam air. Salah satu sumber nutrien di ekosistem hutan mangrove berasal dari sedimen yang terperangkap oleh vegetasi mangrove tersebut. Sedimen yang  berasal dari darat dan mengandung banyak nutrien dibawa oleh aliran sungai ke laut, dan oleh arus pasang surut sedimen tersebut dibawa kembali ke pantai dan ditangkap kemudian diendapkan di dasar vegetasi mangrove (Kamaruzzaman et al., 2001).     Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor lingkungan di sekitar hutan mangrove Pantai Pasuruan dan mengkaitkan-nya dengan struktur hutan mangrove pada daerah yang bersangkutan.   METODE PENELITIAN Penelitian di lakukan di sepanjang Pantai Pasuruan, dengan alasan di daerah ini banyak dijumpai muara sungai sebagai habitat hutan mangrove dan hutan mangrove di daerah ini mempunyai ketebalan yang bervariasi. Lokasi sampel ditentukan berdasarkan kriteria: -          mewakili daerah bagian barat, bagian tengah dan bagian timur daerah penelitian -          mempunyai ketebalan , kerapatan  dan diversitas hutan mangrove yang bervariasi -          mempunyai kondisi geografis yang hampir sama Pengambilan  sampel dalam ekosistem hutan mangrove menggunakan metode plot garis transek  (Transect Line Plots). Pada setiap lokasi dibuat transek memanjang dari tepi laut ke arah darat. Metode yang dipakai untuk pengambilan sampel adalah metode kuadrat dengan penentuan stand secara sistematik reguler. Plot kuadrat untuk pohon 10 x 10 m, untuk anak pohon 5 x 5 m dan untuk herba 1 x 1 m (Oosting, 1956).  Penentuan lokasi transek dan plot sampel adalah sebagai berikut  : -          untuk masing-masing kriteria ketebalan hutan mangrove ditentukan 3 (tiga) buah garis transek, -          penentuan jumlah plot sampel adalah sebagai berikut : Untuk ketebalan hutan mangrove kategori “tipis” masing-masing garis transek ditentukan satu plot sampel Untuk ketebalan hutan mangrove kategori “sedang” masing-masing garis transek ditentukan dua plot sampel Untuk ketebalan hutan mangrove kategori “tebal” masing-masing garis transek ditentukan tiga plot sampel Plot sampel terletak di kanan atau kiri garis transek yang lokasinya ditentukan secara acak. Gambaran penentuan garis transek dan plot sampel adalah sebagai berikut :               Mangrove Tipis  Mangrove Sedang    Mangrove Tebal Keterangan :        : garis transek            : plot sampel   Plot sampel terletak di kanan atau kiri garis transek yang lokasinya ditentukan secara acak. Alat-alat  yang diperlukan untuk penelitian di  lapangan adalah : Global Positioning System (GPS) Receiver dan Kompas , digunakan untuk penentuan posisi  dan arah suatu tempat di lapangan pH meter untuk mengukur tingkat keasaman tanah dan air Termometer untuk mengukur suhu air Refractometer untuk penentuan kadar garam substrat dan air laut Botol sampel, untuk mengambil sampel air Oxymeter untuk mengukur oksigen terlarut (DO) air laut Meteran dan tali untuk pembuatan transek   Faktor-faktor lingkungan yang diamati meliputi kondisi pantai, kualitas air dan kualitas tanah yang diduga berpengaruh terhadap ekosistem hutan mangrove. Jenis data  yang dikumpulkan dan metode pengumpulan data  dapat dilihat pada Tabel 1.   HASIL PENELITIAN Letak dan Luas Daerah penelitian termasuk pada dua wilayah administrasi, yaitu Kabupaten Pasuruan dan Kota Pasuruan.  Daerah penelitian  membujur dari barat ke timur, di sebelah barat dibatasi oleh Sungai Porong yang merupakan batas antara Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Sidoarjo; sedangkan di sebelah timur dibatasi oleh sungai Laweyan yang merupakan batas antara Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Probolinggo. Kabupaten Pasuruan terletak antara 112o30’ – 113o30’ BT dan 7o30’ – 8o30’ LS (Peta Rupa Bumi Indonesia Th 2000 skala 1 : 25.000), luasnya adalah 1474 km2 atau 147401,5 hektar, terdiri atas 24 Kecamatan, 341 Desa dan 24 Kelurahan. Kecamatan-         Tabel 1. : Parameter penelitian dan metode / alat yang digunakan   No Parameter Metode/Alat Satuan Pelaksanaan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Iklim Topografi pantai Kedalaman sedimen Tekstur tanah/sedimen Total C Organik Suhu Air Salinitas air + tanah pH air + tanah DO air BO air (TOM) Data sekunder Clinometer Tiang pengukur Feeling meth + Lab Pembakaran Termometer Hand Refractometer pH stick Oxymeter Titrasi - % cm % % oC ‰ - mg/l mg/l Di lapangan Di lapangan Di lapangan Di Lap + Lab Di laboratorium Di lapangan Di lapangan Di lapangan Di lapangan Di Laboratorium     kecamatan di Kabupaten Pasuruan yang mempunyai pantai (berbatasan dengan Selat Madura) adalah Kecamatan Bangil (4460 Ha), Kecamatan Kraton (5075 Ha), Kecamatan Rejoso (3700 Ha), Kecamatan Lekok (4657 Ha) dan Kecamatan Nguling (4260 Ha). Kota Pasuruan  secara astronomis terletak antara 112o40’ – 112o50’ Bujur Timur  dan 7o35’ – 7o45’ Lintang Selatan (Peta RBI tahun 2000 skala 1 : 25.000 lembar Pasuruan), terdiri atas  3 Kecamatan dan memiliki  34 Kelurahan. Kelurahan-kelurahan di Kota Pasuruan yang mempunyai pantai (berbatasan dengan Selat Madura) adalah Desa Blandongan, Desa Kepel, Kelurahan Mandaranrejo,   Kelurahan   Panggungrejo    (Kec. Bugul Kidul), Desa Ngemplakrejo (Kecamatan Purworejo), Desa  Tambaan dan Desa Gadingrejo (Kecamatan Gadingrejo).   Bentuk Pantai Secara umum pantai Pasuruan merupakan pantai datar dengan ketinggian sekitar 0 – 5 meter di atas permukaan air laut. Ombak di sepanjang pantai kecil dan ditambah dengan banyaknya sungai yang bermuara di daerah ini serta keberadaan hutan mangrove di daerah pantai,  menjadikan bentuk pantai merupakan pantai sedimentasi (bukan pantai abrasi). Keseluruhan wilayah Kota Pasuruan sendiri merupakan dataran rendah dengan kemiringan kurang dari 3 %  dan ketinggian tempat antara 0 – 10 meter dari muka air laut. Alih fungsi lahan pesisir misalnya penebangan hutan mangrove menjadi tambak, daerah permukiman, lokasi wisata dan sebagainya dapat mengubah bentuk pantai dari pantai sedimentasi menjadi pantai abrasi. Di Kecamatan Nguling bagian barat (Watuprapat) dan Kecamatan Lekok bagian timur (Wates dan Semedusari) bentuk pantai agak terjal. Jika tidak dikelola, abrasi pantai di daerah ini dapat menyebabkan lahan pantai menjadi semakin mundur. Sebaliknya upaya rehabilitasi hutan mangrove ternyata dapat mengubah pantai abrasi menjadi pantai sedimentasi. Di Desa Penunggul Kecamatan Nguling misalnya, lahan  bertambah ke arah pantai cukup luas akibat penanaman hutan mangrove. Berdasarkan ... Berdasarkan hasil analisis Sistem Informasi Geografis (SIG) dari tumpang susun antara Peta Bentuk Pantai Kabupaten dan Kota Pasuruan tahun 1981, tahun 1994 dan tahun 2008 terdapat perubahan bentuk pantai yang cukup nyata di sepanjang pantai Pasuruan selama kurun waktu tahun 1981 sampai tahun 2008. Tumpang susun (overlay) antara Peta Bentuk Pantai Kabupaten dan Kota Pasuruan tahun 1981 dan tahun 1994 menunjukkan terjadinya perubahan garis pantai yang cukup nyata. Di Beberapa tempat  terjadi penambahan pantai (garis pantai maju) cukup besar antara lain di Desa Gerongan dan Desa Pulokerto Kecamatan Kraton, Desa Blandongan (Kota Pasuruan), Desa Patuguran (Kecamatan Rejoso), Desa Jatirejo (Kecamatan Lekok), Desa Watuprapat dan Kedawang (Kecamatan Nguling). Sedangkan di beberapa tempat terjadi pengurangan pantai (garis pantai mundur) cukup nyata antara lain terjadi di  Desa Semare dan Desa Kalirejo (Kecamatan Kraton), Kelurahan Tambaan (Kecamatan Gadingrejo Kota Pasuruan, Kelurahan Panggungrejo dan Mandaranrejo (Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan), Desa Wates (Kecamatan Lekok). Penambahan pantai (garis pantai maju) menunjukkan terjadinya sedimentasi sedangkan pengurangan pantai (garis pantai mundur) menunjukkan terjadinya abrasi. Kemungkinan hal ini berkaitan erat dengan pengurangan dan penambahan luas hutan mangrove pada suatu wilayah. Lihat Peta 1 :  Peta Bentuk Perubahan Bentuk Pantai Kabupaten dan Kota Pasuruan Tahun 1981 –  1994. Tumpang susun (overlay) Peta Bentuk Pantai Kabupaten dan Kota Pasuruan tahun 1994 dan tahun 2008  menunjukkan terjadi penambahan pantai (garis pantai maju) di sepanjang  pantai  utara  Kabupaten dan Kota Pasuruan  selama kurun waktu 14 tahun terakhir. Penambahan pantai yang nyata (cukup besar) terjadi di daerah-daerah  Desa Raci (Kecamatan Bangil), Desa Pulokerto dan Desa Semare (Kecamatan Kraton), Desa Blandongan (Kota Pasuruan), Desa Patuguran (Kecamatan Rejoso), dan Desa Penunggul (Kecamatan Nguling). Lihat Peta 2 :  Perubahan Bentuk Pantai Kabupaten dan Kota Pasuruan tahun 1994 – tahun 2008. Dari Peta Perubahan Bentuk Pantai Kabupaten dan Kota Pasuruan th 1981 – th 1994 dan  Peta Perubahan Bentuk Pantai Kabupaten dan Kota Pasuruan th 1994 – th 2008 dapat diidentifikasi bahwa penambahan pantai (garis pantai maju) terutama terjadi di muara-muara sungai besar di sepanjang pantai. Hal ini menunjukkan sedimentasi yang besar dari material-material yang dibawa oleh arus sungai-sungai tersebut. Fenomena ini juga menunjukkan adanya peningkatan erosi di daerah hulu yang mungkin disebabkan adanya pembalakan hutan, pertambangan atau usaha pertanian yang kurang memperhatikan konservasi lingkungan.     Iklim Indonesia termasuk salah satu negara yang mempunyai hutan mangrove luas dengan keanekaragaman vegetasi yang tinggi di dunia. Salah satu faktor adalah iklim Indonesia yang mendukung untuk pertumbuhan vegetasi mangrove. Sebagian besar pantai-pantai di Indonesia mempunyai iklim tropika basah dengan ciri-ciri temperatur tinggi, curah hujan tahunan tinggi, kelembaban udara tinggi. Suhu dan curah hujan merupakan faktor iklim yang paling dominan yang berpengaruh terhadap berbagai kehidupan wilayah pantai.  Jumlah, lama dan distribusi curah hujan merupakan faktor yang mempengaruhi perkembangan dan distribusi vegetasi mangrove. Hutan mangrove di Indonesia berkembang dengan tipe curah hujan A, B, C, dan D dengan nilai Q yang bervariasi mulai 0 sampai 73,7% menurut klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson. Sedangkan menurut Aksornkoae et.al., (1984) vegetasi mangrove umumnya tumbuh baik di daerah dengan curah hujan rata-rata 1.500 – 3.000 mm per tahun. Berdasarkan data iklim Kabupaten Pasuruan dan Kota Pasuruan dapat disimpulkan bahwa  suhu rata-rata tahunan  24oC – 32oC , besarnya rata-rata curah hujan di daerah penelitian adalah antara 1300 – 1800 mm per tahun, dengan jumlah hari hujan antara 80 – 100 hari per tahun.  Analisis iklim Schmidt dan Ferguson berdasarkan tipe hujan menunjukkan bahwa daerah penelitian termasuk tipe C.   Pasang Surut Air Laut Dalam hubungannya dengan pasang surut, komunitas pada ekosistem hutan mangrove banyak dipengaruhi oleh lama penggenangan air laut. Berdasarkan pola penggenangan hutan mangrove di Cilacap, de Haan (1931) dalam SEAMEO BIOTROP (1989) mengklasifikasikan ada 4 tipe penggenangan di ekosistem hutan mangrove, yaitu : Klas 1  :  tergenang satu atau dua kali dalam sehari atau setidaknya tergenang  20 hari dalam satu bulan Klas 2  : tergenang 10 – 19 kali dalam sebulan, Klas 3 :            tergenang  9 kali atau kurang dalam sebulan, Klas 4  :  tergenang hanya beberapa hari dalam sebulan Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan pasang surut di Pantai Pasuruan antara 1 – 2 m dan kebanyakan hutan mangrove di daerah ini termasuk dalam klas 1, yaitu tergenang satu atau dua kali dalam sehari atau setidaknya tergenang  20 hari dalam satu bulan   Salinitas air laut Dari banyak faktor lingkungan, salinitas mempunyai pengaruh besar pada perkembangan hutan mangrove. Pada umumnya salinitas air di sepanjang pantai di Indonesia berkisar antara 31 ‰ sampai 33 ‰.  Variasi salinitas di daerah estuaria menentukan organisme yang berada dan berkembang biak  di daerah tersebut. Hewan-hewan yang hidup di perairan payau (salinitas 0,5 – 30 ‰) biasanya mempunyai toleransi terhadap kisaran salinitas yang lebih besar (Supriharyono, 2003) Hasil pengukuran salinitas air laut di ketiga stasiun yaitu Semare, Kota Pasuruan dan Nguling untuk ketiga kategori yaitu ”tipis”, ”sedang” dan ”tebal” tidak menunjukkan variasi yang berarti, yaitu sekitar 37 ‰ atau 37,5 ‰. Hal ini menunjukkan bahwa salinitas air di ekosistem mangrove hampir sama untuk ketiga stasiun yang disebabkan daerah penelitian merupakan suatu hamparan pantai yang kondisi geografisnya hampir sama, pola pasang surutnya juga hampir sama, sehingga kualitas air laut hampir sama untuk masing-masing daerah.   Oksigen Terlarut (DO) Oksigen terlarut sangat penting bagi pernafasan makrozoobentos dan organisme-organisme akuatik lainnya (Odum, 1983). Pada suhu tinggi kelarutan oksigen rendah dan pada suhu rendah kelarutan oksigen tinggi. Tiap-tiap spesies biota akuatik mempunyai kisaran toleransi yang berbeda-beda terhadap konsentrasi oksigen terlarut di suatu perairan. Biasanya spesies yang mempunyai kisaran toleransi lebar terhadap oksigen terlarut biasanya penyebaranya lebih luas dibanding yang kisaran toleransinya sempit. Pengukuran Oksigen terlarut di perairan hutan mangrove daerah penelitian digunakan Oxymeter; contoh air diambil di lapangan, pengukuran DO dilakukan di base camp. Hasil pengukuran DO rata-rata untuk masing-masing lokasi hutan mangrove dapat dilihat pada tabel 2 dan gambar 1.   Tabel 2.  Hasil pengukuran Oksigen Terlarut (DO) di perairan hutan mangrove   No Kategori’ Oksigen terlarut (mg/l) Semare Kota Nguling 1 Tipis 5,46 5,15 4,4 2 Sedang 5,26 5,19 4,65 3 Tebal 4,85 5,16 4,77       Gambar 1.     Histogram Oksigen Terlarut (DO) di perairan hutan mangrove   Semare, Kota Pasuruan dan Nguling   Dari gambar 1 terlihat bahwa meskipun nilai kadar oksigen terlarut hampir sama untuk ketiga stasiun, namun Oksigen terlarut di hutan mangrove Kota Pasuruan  dengan struktur paling bagus dilihat dari kerapatan, diversitas juga nilai INPnya menunjukkan konsisten tinggi, sedangkan DO di stasiun Nguling menunjukkan nilai yang paling rendah. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa pada hutan mangrove dengan kerapatan sedang, diversitas besar dan nilai INP seimbang mempunyai kandungan DO tertinggi dibandingkan dengan yang lain.   Kandungan Bahan Organik (BO) air laut Kehadiran suatu organisme di suatu perairan didukung oleh kandungan bahan organik perairan tersebut, namun belum tentu kandungan bahan organik yang tinggi menjamin kelimpahan organisme, karena faktor lingkungan satu dengan yang lain saling berkaitan.  Hasil pengukuran kandungan bahan organik perairan di ekosistem hutan mangrove daerah penelitian dapat dilihat pada tabel 3 dan gambar 2. Tabel 3 : Kandungan Bahan Organik (BO) air  Hutan Mangrove Hutan mangrove Kandungan BO air (mg/l) Semare Kota Nguling Tipis 25,9 25,5 34,9 Sedang 31,8 27,8 37,9 Tebal 32,6 29,3 42,6       Gambar 2: Perbandingan kandungan BO air pada masing-masing ketebalan hutan mangrove   Data tersebut menunjukkan bahwa untuk masing-masing stasiun sampel, semakin tebal hutan mangrove semakin tinggi kandungan bahan organik air lautnya. Disamping itu pada ekosistem hutan mangrove Nguling menunjukkan rata-rata kandungan bahan organik lebih tinggi dibanding Semare dan kota Pasuruan .   Kondisi Tanah Kedalaman Sedimen Kedalaman sedimen dilakukan pada waktu air surut menggunakan tiang pancang. Untuk akurasi data pengukuran masing-masing plot sampel diulang tiga kali. Hasil pengukuran kedalaman sedimen adalah : Hutan mangrove Semare Substrat berlumpur dalam, meskipun kondisi air surut kandungan air dalam substrat masih tinggi -       Pada daerah yang tidak ada vegetasinya, merupakan lahan rawa dengan kedalaman lumpur sekitar 80 cm -       Pada hutan mangrove tipis kedalaman lumpur rata-rata 40 cm -       Pada hutan mangrove sedang kedalaman lumpur rata-rata 30 cm -       Pada hutan mangrove tebal kedalaman sedimen rata-rata 20 cm Hutan mangrove Kota Pasuruan Substrat berlumpur dangkal, bahkan di bagian-bagian tertentu yang kerapatan vegetasinya tinggi substratnya tidak berlumpur. -       Pada daerah yang tidak ada vegetasinya, kedalaman lumpur sekitar 20 cm -       Pada hutan mangrove tipis kedalaman lumpur sekitar 15 cm -       Pada hutan mangrove sedang kedalaman lumpur sekitar 10 cm -       Pada hutan mangrove tebal kedalaman lumpur sekitar 5 cm Hutan mangrove Nguling Substrat  tanah di hutan mangrove Nguling dibagi menjadi dua, yang di Desa Penunggul substrat tidak berlumpur, sedang di Desa Kedawang substratnya berlumpur. -       Pada  daerah yang tidak ada vegetasinya di Desa Penunggul kedalaman sedimen sekitar 15 cm -       Pada hutan mangrove tipis kedalaman sedimen sekitar 10 cm -       Pada hutan mangrove sedang kedalaman sedimen sekitar 5 cm -       Pada hutan mangrove tebal di Desa Kedawang kedalaman sedimen sekitar 50 cm. Pengukuran kedalaman sedimen semacam ini tidak mencerminkan ketebalan sedimen yang sesungguhnya, karena pengukuran ketebalan sedimen harus dengan pembuatan profil tanah. Oleh sebab itu parameter kedalaman sedimen tidak dikut sertakan dalam perhitungan statistik. Tekstur Tanah Tanah mangrove terbentuk dari akumulasi sedimen sehingga karakteristiknya berbeda-beda tergantung darimana sedimen tersebut berasal.  Disamping berpengaruh terhadap komunitas vegetasi mangrove , tekstur substrat juga mempengaruhi komunitas fauna yang tinggal di ekosistem tersebut. Bentos yang hidup pada substrat berlumpur tergolong pada ”suspended feeder”, yang umum ditemukan adalah kelompok Polychaeta, Bivalvia dan Crustacea, juga bakteri. Pada substrat berpasir biasanya miskin organisme dan bentos pada substrat berpasir umumnya mengubur diri dalam substrat. Hasil pengukuran tekstur tanah di bawah tegakan hutan mangrove daerah penelitian dapat dilihat pada tabel 4.   Tabel 4.: Hasil pengukuran tekstur tanah di ekosistem hutan mangrove   No Lokasi % Pasir % Debu % Liat Kelas Tekstur 1 Semare              Tipis 30,6 49,8 19,6 Silty Clay      Sedang 34,1 39,7 26,2 Clay Loam      Tebal 34,7 40,2 25,2 Clay 2 Kota Pasuruan            Tipis 32,2 48,5 19,4 Silty Clay      Sedang 34,1 39,7 26,2 Clay Loam      Tebal 35,0 36,7 30,3 Clay Loam 3 Nguling              Tipis 45,5 40,1 14,4 Silty Clay      Sedang 36,0 47,8 16,2 Silty Clay      Tebal 33,0 37,7 29,3 Clay Loam Sumber : data primer     Bahan Organik (C) Tanah Kandungan bahan organik tanah terutama berasal dari dekomposisi serasah baik dari daun, ranting, bunga , buah, maupun akar vegetasi mangrove.  Hasil pengukuran C organik tanah di daerah penelitian dapat di lihat pada tabel  5 dan gambar 3.   Tabel 5:   Kandungan C organik tanah di ekosistem hutan mangrove  Pasuruan   Ketebalan mangrove C organik  tanah  (%) Semare Kota Nguling Tipis 12,57 14,89 13,90 Sedang 16,31 13,98 14,225 Tebal 19,73 15,42 16,07 Sumber : Analisis data primer       Gambar  3.    Perbandingan C organik tanah pada ketebalan  Hutan mangrove   Di lapangan, bahan organik tanah ditemui pada tingkatan dekomposisi yang bervariasi, ada yang masih berupa luruhan daun, ada yang setengah terdekomposisi dan ada yang sudah bercampur dengan substrat membentuk tanah. Dari tabel 5 di atas terlihat bahwa untuk masing-masing lokasi hutan mangrove, semakin tebal hutan mangrove semakin tinggi kandungan bahan organiknya. Kadar C organik tanah di Semare relatif lebih tinggi dibanding dengan yang lain, hal ini kemungkinan karena lokasinya lebih dekat ke muara, ada penambahan bahan organik yang terangkut oleh sungai.     Salinitas Substrat Salinitas substrat tanah dikukur berdasarkan EC tanah dengan satuan milimos. Hasil pengukuran EC tanah pada masing-masing lokasi hutan mangrove dan pada variasi ketebalan dapat dilihat pada tabel 6 dan gambar 4.   Tabe 6 :  Perbandingan EC tanah di hutan mangrove Pantai Pasuruan   Ketebalan mangrove EC tanah (mmos) Semare Kota Nguling Tipis 3,05 5,26 3,9 Sedang 3,61 4,61 4,62 Tebal 2,99 3,83 5,12 Sumber : analisis data primer     Dari tabel 6 di atas dapat disimpulkan bahwa untuk parameter EC tanah variasi nilainya tidak begitu besar dan tidak menunjukkan pola tertentu baik pada perbedaan lokasi mangrove maupun pada perbedaan ketebalan hutan mangrove       Gambar 4. Perbandingan EC tanah pada variasi ketebalan hutan mangrove         PEMBAHASAN   Untuk penelaahan perbedaan faktor-faktor lingkungan  pada ketebalan hutan mangrove daerah penelitian dipakai uji statistik. Parameter faktor-faktor lingkungan yang dipakai dalam uji statistik  adalah Oksigen terlarut (DO) air, kandungan bahan organik (BO) air, salinitas (EC) substrat, kandungan C Organik tanah, tekstur tanah. Faktor-faktor lingkungan ini yang diduga berperanan dalam penentuan karakteristik ekosistem hutan mangrove baik terhadap struktur komunitas  hutan mangrove maupun terhadap komunitas fauna  yang tinggal di ekosistem hutan mangrove tersebut.   Uji Normalitas Uji normalitas data untuk faktor-faktor lingkungan  menggunakan metode Kolmo-gorov Smirnov. Hasil uji normalitas data di atas semua nilai signifikansi dari enam variabel faktor lingkungan ternyata lebih besar daripada 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data-data menyebar secara normal, oleh karenanya dapat dilakukan analisis statistik parametrik berikutnya.   Uji Beda Uji MANOVA Uji beda secara simultan (bersama-sama) untuk mencari perbedaan faktor-faktor lingkungan  terhadap parameter ketebalan hutan mangrove menggunakan metode Multivariate Analysis of Variance (MANOVA) dengan menggunakan kaidah : jika nilai signifikansi Wilks Lambda < 0,10 (atau 10 %) terdapat perbedaan, sedangkan jika nilai signifikansi Wilks Lambda > 0,10 (atau 10 %) maka tidak terdapat perbedaan. Hasil uji beda dengan metode MANOVA menghasilkan nilai signifikansi Wilks Lambda  Karena nilai signifikansi Wilks Lambda sebesar 0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa secara multivariate (bersama-sama keenam variabel parameter lingkungan) maka pada setiap tingkat ketebalan hutan mangrove memiliki  faktor-faktor  lingkungan yang berbeda-beda atau terdapat perbedaan  faktor lingkungan pada variasi ketebalan hutan mangrove   Uji ANOVA Pada pengujian secara parsial, yaitu pengujian secara sendiri-sendiri keenam variabel faktor lingkungan, maka metode yang digunakan adalah Analysis of Variance (ANOVA). Kaidah pengambilan keputusan: jika signifikansi F < 0,10 (atau 10%) maka terdapat perbedaan, sebaliknya jika nilai signifikansi F > 0,10 (atau 10%) maka tidak terdapat perbedaan. Dari hasil pengujian dapat disimpulkan sebagai berikut: a.   Untuk variabel DO Air, nilai signifikansi F sebesar 0,10 = 0,10 maka dapat disimpulkan bahwa pada setiap tingkat ketebalan memiliki DO Air yang berbeda, atau terdapat perbedaan nilai DO air pada variasi ketebalan hutan mangrove b.   Untuk variabel BO Air, nilai signifikansi F sebesar 0,000 < 0,10 maka dapat disimpulkan bahwa pada setiap tingkat ketebalan memiliki BO Air yang berbeda atau terdapat perbedaan nilai BO air pada variasi ketebalan hutan mangrove. c.   Untuk variabel EC, nilai signifikansi F sebesar 0,526 > 0,10 maka dapat disimpulkan bahwa pada setiap tingkat ketebalan memiliki EC yang sama atau tidak ada perbedaan nilai EC tanah pada variasi ketebalan hutan mangrove d.   Untuk variabel C Organik Tanah, nilai signifikansi F sebesar 0,745 > 0,10 maka dapat disimpulkan bahwa pada setiap tingkat ketebalan memiliki C Organik Tanah yang sama atau tidak ada perbedaan nilai C organik tanah pada variasi ketebalan hutan mangrove. e.   Untuk variabel % Pasir, nilai signifikansi F sebesar 0,280 > 0,10 maka dapat disimpulkan bahwa pada setiap tingkat ketebalan memiliki % Pasir yang sama atau tidak ada perbedaan nilai % pasir pada variasi ketebalan hutan mangrove.   f. Untuk variabel % Liat , nilai signifikansi F sebesar 0,019 < 0,10 maka dapat disimpulkan bahwa pada setiap tingkat ketebalan memiliki % Liat  yang berbeda atau terdapat perbedaan nilai % liat  pada variasi ketebalan hutan mangrove.   KESIMPULAN          Hasil pengukuran parameter lingkungan menunjukkan perbedaan yang tipis antara kualitas lingkungan hutan mangrove di beberapa lokasi dan beberapa kategori. Namun demikian untuk suatu lokasi ada kecenderungan semakin ke arah darat kandungan bahan organik tanah dan air mengalami peningkatan, sedangkan semakin ke arah timur menunjukkan % liat (clay) yang semakin keci (tanah semakin kasar)          Hasil kajian statistik menunjukkan bahwa secara bersama-sama terdapat perbedaan nilai parameter lingkungan pada ketebalan, kerapatan, dan diversitas hutan mangrove yang berbeda-beda.       DAFTAR PUSTAKA   Aksornkoae, S. 1993. Ecology and Management of Mangroves. IUCN. Bangkok : IUCN   Bengen, DG. 2000. Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangove. Bogor : PKSPL – IPB   Bunt, JS and WT. Williams. 1981. Vegetation Relationships in The Mangrove  Forest of Tropical Australia. Marine Ecology – Progress Series. 4 : 349 – 359.   Chapman, VJ. 1977 . Wet Coastal Ecosystem. Amsterdam : Elsevier Scientific Publishing Company.   Dahuri, R, J. Rais, SP Ginting dan M.J. Sitepu. 2001. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu . Jakarta : Pradnya Paramita.   English, S , C. Wilkinson and V Baker . 1993. Survey Manual for Tropical Marine Resources . ASEAN-Australia Marine Science Project : Living Coastal Resources.  Bangkok.   Garcia, P.R. , J.L Blanco. , and D Ocaffa. 1997. Mangrove Vegetation Assessment in The Santiago River Mouth  Mexico, by Means of Supervised Classification Using landsat TM imagery . Elsevier : Forest Ecology and Management (105) : 217 – 229   Hardjowigeno, S. 1988. Mangrove  Soil in Indonesia. BIOTROP Speciall Publication, 37 : 257 -264   Kamaruzzaman, B.Y. , Mohd-Lokman H. , Sulong I., and Razanudin I. 2001. Sedimentation Rates on the Mangrove Forests of Pulau Che Wan Dagang, Kemaman Terengganu . The Malaysian Forester 64 (1) :   6 – 13   Mann, K.H . 1982.  Ecology of Coastal Water, A. Syatem Approach . Oxford : Black Well Scientific Publication .   Mustafa, M . 1982. Hasil Penelitian Sifat Fisik dan Kimia Tanah Di Bawah Tegakan Mangrove. Lingkungan dan Pembangunan. 97 - 118   Oosting, HJ. 1956. The Study of Plant Communities, An Introduction to Plant Ecology. Second Edition, San Fransisco : WH Freeman and Co .   Pariwono, JI. 1985. Tides and Tidal Phenomena in Asean Region . Australian Cooperative Programmes in Marine Sciences . Prelim. Rep . FIAM, South Australia.   Pirzan Marsanbuana, Suharyanto, Rohama Daud dan Burhanuddin. 2002. Pengaruh Keberadaan Mangrove terhadap  Kesuburan Tanah di Tambak Sekitarnya . Jurnal Penelitian Perikanan . Vol 8 No 4 Th 2002.     Saenger, P . 1999. Sustainable Management of Mangroves. Proc. Of International Symposium Integrated Coastal and Marine Resource Management.  National  Institute of Technology (ITN) Malang in  Association with BAKOSURTANALand Proyek Pesisir.   Samingan , MT . 1980. Notes on Vegetation of The Tidal Area of South Sumatera Indonesia with Special Reference of Karang Agung. International  Social Tropical Ecology. Kuala Lumpur , 1107 – 1112   Sasekumar, A , VC Chong, MU Leh , and RD D’Cruz. 1992 . Mangroves as a Habitat For Fish and Prawns . Hydrobiologia : 247 : 195 – 207   Soemarno. 2004.  Model Pengelolaan Sumberdaya Hutan. Program Pasca Sarjana Universitas Brawijaya , Malang   Soemodihardjo, S and  I. Soerianegara. 1989. The Status of Mangrove Forest in Indonesia. dalam Mangrove  Management : Its Ecological and Economic Consideration . BIOTROP Special Publication . No 37    Sugiharto,A and  N. Polunin. 1982. The Marine Environment of Indonesia. Dept. Zoology University of Cambridge . 257 p.   Suprayogo D, Sri Sudaryanti, Edy Dwi Chahyono dan Sudarmanto. 1996. Pembangunan dan Konservasi Hutan Mangrove di Kabupaten Bangkalan, Madura .  Jurn. Univ. Brawijaya . 8 (2) : 77 – 92.   Supriharyono. 2002. Pelestarian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam Di Wilayah Pesisir Tropis. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. 246 hal.   Tam NFX and Wong YS . 1998 . Variation of Soil Nutrient and Organic Matter Content In Subtropical Mangrove Ecosystem . Water, Air and Soil Polution . (103) : 245 – 261.  
PERSPEKTIF MAKRO PEMBANGUNAN WILAYAH DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN , SUHARNINGSIH; , MURTEDJO
Pendidikan Geografi Vol 8, No 16 (2009): Volume 8 Nomor 16, Desember 2009
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PERSPEKTIF MAKRO PEMBANGUNAN WILAYAH DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN   Suharningsih *) Murtedjo *)   Abstrak: Pembangunan wilayah secara konvensional lebih berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Asumsi dasar pembangunan wilayah tersebut bahwa proses pembangunan berlangsung dalam keseimbangan matrik wilayah yang terdiri dari pusat pusat pertumbuhan dan daerah penyangga. Pusat pusat pertumbuhan mendorong terjadinya efisiensi lokasi dan menimbulkan akselerasi pada daerah daerah penyangga. Untuk itu dibutuhkan paradigma pembangunan wilayah yang lebih fungsional. Paradigma pembangunan wilayah  menyangkut community empowerment yang pada akhirnya dapat meningkatkan kemampuan masarakat untuk mengendalikan live-space-nya dan peningkatan kinerja .pembangunan wilayah dan penanggulangan kemiskinan. Kemiskinan di Indonesia merupakan fenomena multidimensional. Memahami atas kompleksitas pembangunan wilayah dan penanggulangan kemiskinan maka sejak awal Indonesia menganut strategi pertumbuhan sekaligus pemerataan dan penanggulangan kemiskinan secara langsung. Melalui tahapan tahapan konsolidasi-rehabilitasi dan stabilisasi  ekonomi kebijakan pembangunan wilayah dan penanggulangan kemiskan serta pemerataan hasil pembangunan semakin manifest. Manifestasi itu nampak pada penurunan jumlah penduduk miskin  di Indonesia sejak periode tahun 1970-an  sampai dengan sekarang.   Kata-Kata Kunci : kemiskinan, keruangan, kinerja, pembangunan wilayah
PENGEMBANGAN KEPARIWISATAAN DI KABUPATEN KEDIRI SEBAGAI DAERAH TUJUAN WISATA LOKAL DAN NASIONAL (DEVELOPMENT OF TOURISM IN REGENCY KEDIRI AS AREA OF  TARGET LOCAL TOURISM AND NATIONAL) , KUSPRIYANTO
Pendidikan Geografi Vol 8, No 16 (2009): Volume 8 Nomor 16, Desember 2009
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGEMBANGAN KEPARIWISATAAN DI KABUPATEN KEDIRI SEBAGAI DAERAH TUJUAN WISATA LOKAL DAN NASIONAL (DEVELOPMENT OF TOURISM IN REGENCY KEDIRI AS AREA OF  TARGET LOCAL TOURISM AND NATIONAL)   Kuspriyanto *)   Abstrak: Dari beberapa obyek wisata yang ada di Kabupaten Kediri hanya Sumber Ubalan yang sudah dikembangkan sementara yang lain belum dikembangkan karena terkait dengan dana dan sumberdaya manusianya. Meskipun banyak terdapat obyek wisata namun secara keseluruhan  jumlah kunjungan wisatanya belum menggembirakan.  Tujuan penelitian ini adalah 1) untuk mengetahui 10 potensi obyek wisata di Kabupaten Kediri, 2) untuk mengetahui aksesibilitas obyek wisata di Kabupaten Kediri, 3)  menentukan lokasi obyek wisata  untuk dijadikan pusat pertumbuhan. Lokasi penelitian ini adalah Sumber Ubalan Kalasan, Taman Ria Corah, Sendang Kamandanu, Wanawisata Sumber Podang, Air Terjun Tronggolo, Gereja Poh Sarang, Pamuksan Joyoboyo, Gunung Kelud, Arca Totok Kerot dan Candi Surowono. Sampel diambil masing-masing obyek wisata sebanyak 30 wisatawan secara accidental sampling. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dokumentasi dan pengukuran. Analisis data dengan menggunakan diskriptif kuantitatif dengan teknik skoring. Hasil penelitian menunjukkan potensi daya tarik wisata paling tinggi adalah kawasan ziarah Puh Sarang yang mempunyai  21 jenis sarana/prasarana wisata sedangkan paling rendah Candi Surowono yang hanya memiliki 5 jenis sarana/prasarana, sementara itu dari 10 lokasi obyek wisata di Kabupaten Kediri yang mempunyai  aksesibilitas paling mudah bila diukur dari lokasi  Kabupaten Kediri adalah Pamuksan Sri Aji Jooyoboyo sedangkan aksesbilitas paling sulit adalah Gunung Kelud. Berdasarkan hasil perhitungan, lokasi  wisata paling tepat untuk menjadi pusat pertumbuhan kepariwisataan di Kabupaten Kediri adalah Kawasan Ziarah Puh Sarang.   Kata Kunci : aksesibilitas, potensi, lokasi.
MIGRASI DAN PERUBAHAN PEKERJAAN DARI PETANI KE NELAYAN ( KASUS MIGRASI LOKAL DI PANTAI GESING DESA GIRIKARTO KECAMATAN PANGGANG KABUPATEN GUNUNGKIDUL) , Sapar
Pendidikan Geografi Vol 8, No 16 (2009): Volume 8 Nomor 16, Desember 2009
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

MIGRASI DAN PERUBAHAN PEKERJAAN DARI PETANI KE NELAYAN ( KASUS MIGRASI LOKAL DI PANTAI GESING DESA GIRIKARTO  KECAMATAN PANGGANG KABUPATEN GUNUNGKIDUL)   Sapar *)   ABSTRAK : Migrasi penduduk Desa Girikarto dari wilayah pedalaman yang memiliki kondisi lingkungan alam kritis menuju ke lokasi baru yang memiliki peluang untuk memperoleh pekerjaan yang lebih menjanjikan hasilnya yaitu Pantai Gesing di desa Girikarto Kecamatan Panggang Kabupaten Gunung Kidul.. Migrasi penduduk itu bertujuan untuk merubah lapangan pekerjaan dari petani menjadi nelayan. Dipilinya Pantai Gesing karena alasan dekat tempat asal, tersedia rumah dan paralatan bagi nelayan, adanya jaminan kebutuhan hidup selama 6 bulan. Permasalahan dalam melaksanakan perubahan pekerjaan menjadi nelayan adalah alasan memilih bermigrasi ke pantai Gesing, alasan perubahan pekerjaan menjadi nelayan, proses perubahan menjadi nelayan dan pendatan mereka. Penelitian dilkukan di Pantai Gesing. Populasi para migran 50 kepala keluarga (kk), tetapi yang nyata hanya ada 42 kk sehingga dipakai sebagai respponden semua. Pengumpulan data dengan wawancara untuk mengumpulakan tentang alasan memilih bermigrasi ke Pantai Gesing, alasan memilih menjadi nelayan, Proses perubahan pekerjaan menjadi nelayandan pendapatan mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alasan memilih Pantai Gesing sebagai lokasi bermigrasi semua migran  menyatakan bahwa dekat dengan tempat asal, mendapat rumah dan paralatan baginelayan,jaminan kebutuhab hidup selama 6 bulan. Alasan berpindah menjadi nelayan karena (100%) hasil pertanian rendah, (100%) dekat tempat asal, (83%) usia muda, !100%) waktu luang banyak, (76%) hasil tangkapan banyak. Proses perubahan menjadi nelayan (78,5%) melalui kegiatan antara dan (21,5%) tidak melalui kegiatan antara. Kondisi sosial ekonomi para migran menunjukkan bahwa (57,15% ) nelayan berusia muda, (61,91%) berpendidikan SD, (83,33%) memiliki pengalaman melaut < 5tahun, dan (66,66%) memiliki tanggungan keluarga antara 4 – 5 jiwa.Di tinjau dari aspek ekonomi yaitu pendapatan mereka pada musim panen ikan (80,96%) memperoleh pendapatan  yang cukup atau sedang yaitu antara Rp.750.000 – 1.500.000 perbulan.sedangkan pada musim paceklik (78,57$) memperoleh pendapatan rendah yaitu , Rp.750.000 per bulan.   Kata kunci : Migrasi ,Perubahan pekerjaan , nelayan.
PENANDA KAJIAN GEORAFI FISIK HARI PURNOMO, NUGROHO
Pendidikan Geografi Vol 8, No 16 (2009): Volume 8 Nomor 16, Desember 2009
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENANDA KAJIAN GEORAFI FISIK   Nugroho Hari Purnomo *)   Abstrak : Geografi fisik mengkaji fenomena fisik permukaan bumi yang mempengaruhi kehidupan manusia atau dikenal sebagai geosfer. Geosfer dikaji oleh banyak bidang keilmuan, menjadikan geografi fisik harus memiliki ciri sebagai suatu keilmuan yang berbeda dengan keilmuan lainnya, yaitu berdasarkan pada pendekatan geografi. Akan tetapi luasnya geosfer sebagai objek kajian, kiranya masih perlu adanya penciri geografi fisik yang dapat ditandai berdasarkan pada : (1) adanya keteraturan alam semesta berupa sistem yang seimbang, (2) penyederhanaan fenomena permukaan bumi menjadi suatu model, dan (3) pembatasan luasan atau skala kajian yang diamati. Dengan adanya penanda kajian geografi fisik tersebut diharapkan adanya ketegasan antara keilmuan geografi fisik dengan keilmuan lainnya serta fenomena geosfer yang keterkaitannya tidak terbatas dapat lebih mudah dipahamai.   Kata kunci : geografi fisik,  sistem, model, skala   GEOGRAFI FISIK Geografi menurut Blij dan Muller (1993) adalah disiplin akademik yang berkaitan dengan penjelasan karakteristik fisik dan manusia di permukaan bumi dengan penekanan pada mengapa sesuatu berada di tempat tertentu. Karakteristik fisik dan manusia di permukaan bumi akan mewujudkan suatu fenomena permukaan bumi. Fenomena permukaan bumi merupakan wajah permukaan bumi yang tersusun oleh sebagian atau semua unsur geosfer yang terdiri dari litosfer, atmosfer, hidrosfer, pedosfer, biosfer, dan antroposfer.  Fenomena permukaan bumi tersebut merupakan objek material geografi. Geografi fisik didefinisikan sebagai studi distribusi dan saling hubungan fenomena-fenomena alami dari litosfer, atmosfer, hidrosfer, dan biosfer (Slaymaker dan Spencer, 1998). Keempat fenomena alami tersebut merupakan komponen pembentuk lapisan kehidupan, yang dapat digambarkan seperti pada Gambar 1.                       Gambar 1. Skema Hubungan Fenomena Alami Pembentuk Lapis Kehidupan (Sumber : Strahler dan Strahler, 1997)   Menurut Blij dan Muller (1993), geografi fisik mempelajari kondisi fisik permukaan bumi, yang mencakup studi tentang tanah, lautan, atmosfer, batuan, air, vegetasi, dan binatang. Keberadaan geografi fisik merupakan kombinasi dari beberapa kajian ilmu lain. Secara skematis hubungan antara disiplin ilmu lain dengan geografi fisik disajikan pada Gambar 2. Gambar di bawah memperlihatkan bahwa kajian geosfer yang dikaji oleh banyak ilmu, menjadikan geografi atau geografi fisik belum memiliki ciri sebagai suatu ilmu yang mandiri. Supaya geografi atau geografi fisik memiliki ciri sebagai ilmu, maka objek formalnya harus spesifik yang membedakan dengan keilmuan lainnya. Objek formal geografi yang selama ini telah menjadi identitas ilmu geografi adalah pendekatan keruangan, ekologikal, dan kompleks wilayah (Haggett, 2001). Pendekatan merupakan upaya untuk lebih menjadi dekat kepada objek material yang dikaji. Pendekatan keruangan menekankan pada karakteristik penyusun ruang, pendekatan ekologikal menekankan pada hubungan antara manusia dengan tempat kehidupannya, sedang pendekatan kompleks wilayah menekankan adanya hubungan pengaruh antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Ketiga pendekatan tersebut merupakan kerangka orientasi dalam mengkaji objek material geografi   PENANDA GEOGRAFI FISIK Geografi fisik sebagai suatu ilmu pengetahuan memiliki objek kajian berupa fenomena permukaan bumi pada komponen abiotik dan biotik non manusia akan tetapi berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Objek kajian fenomena permukaan bumi tersebut memiliki cakupan yang sangat luas sehingga akan tumpang tindih dengan ilmu pengetahuan lainnya. Pendekatan geografi secara umum tetap merupakan objek formal dalam kajian geografi fisik. Akan tetapi perlu adanya penanda lainnya yang mencirikan identitas sebagai ilmu geografi fisik.     Geologi       à Geomorfologi      Botani Meterorologià Klimatologi Geografi Biogeografi ß      Ekologi Pedologi      à Geografi tanah fisik   Zoologi Oseanografi à Geografi kelautan   Sumberdaya air ß   Hidrologi   Gambar 2. Skema Kajian-Kajian Penyusun Geografi Fisik (Sumber : Blij dan Muller, 1993; dengan modifikasi)   Fenomena permukaan bumi yang luas dan komplek akan memiliki serta memunculkan banyak konsep maupun metode spesifik yang baru. Penanda karakteristik geografi fisik mempertimbangkan tiga pendekatan umum yang meliputi sistem, model, dan besaran. Ketiga penanda tersebut merupakan karakteristik geografi fisik, sehingga dalam studi geografi fisik mutlak digunakan dalam mengkaji objek material.   Sistem Sejak awal di dalam geografi fisik telah terorganisasi adanya suatu sistem kerangka berfikir. Sistem tersebut didasarkan bahwa kajian geogari fisik mengkombinasikan berbagai macam kajian keilmuan secara parsial. Pada kenyataannya fenomena permukaan bumi sebagi objek material merupakan satu kesatuan yang saling kait mengkait antara satu fenomena dengan fenomena lainnya membentuk suatu sistem.  Sistem merupakan suatu rangkaian hubungan kejadian atau objek yang saling berinteraksi (Blij dan Muller, 1993). Kajian geografi fisik menggunakan pendekatan sistem untuk mencari interaksi dan pertalian antar komponen (Strahler dan Strahler, 2006). Dapat dicontohkan bahwa fenomena permukaan bumi seperti hutan atau padang rumput akan terbentuk karena adanya lima unsur geosfer, yaitu litosfer, atmosfer, hidrosfer, pedosfer dan biosfer. Adanya interaksi beberapa geosfer akan mewujudkan suatu fenomena permukaan bumi yang membentuk suatu sistem, yaitu sistem hutan atau sistem padang rumput. Dalam sistem hutan atmosfer memberikan kontribusi cuaca diantaranya berupa panas matahari dan curah hujan. Panas dan hujan yang sampai di permukaan bumi akan mengakibatkan pelapukan litosfer sehingga terbentuk pedosfer, sementara itu hujan juga akan membentuk sistem hidrosfer. Keberadaan pedosfer dan hidrosfer merupakan media bagi biosfer dalam menjalankan proses fisiologis. Hidrosfer sebagai elemen yang bersifat mobil, secara keruangan akan bergerak sampai di laut atau danau. Melalui proses evapotraspirasi air akan kembali ke atmosfer. Uraian contoh di atas menjelaskan adanya suatu sistem dalam hubungan elemen-elemen geografi fisik. Dalam sistem tersebut dapat diidentifikasi adanya siklus dan sub sistem. Elemen hidrosfer mengalami suatu siklus dari atmosfer, permukaan bumi, bergerak scara keruangan, dan akhirnya akan kembali ke atmosfer. Elemen hidrosfer sendiri merupakan sub sistem dari sistem hutan, mapun sub sistem dari elemen geografi fisik lainnya. Di dalam sistem dikenal adanya bentuk sistem terbuka dan sistem tertutup. Sistem terbuka misalnya terjadi pada sungai, sedangkan sistem tertutup seperti pada siklus hidrologi. Sungai merupakan tempat pergerakan air di permukaan bumi dari wilayah hulu ke hilir. Wilayah hulu biasanya terletak di wilayah pegunungan, sedangkan hilir terletak di wilayah pesisir. Pergerakan air sungai dari hulu ke hilir merupakan bentuk sistem terbuka, karena sesampainya di laut air tidak dapat berbalik kembali ke sungai. Sementara untuk siklus hidrologi, air dalam bentuk uap air akan bergerak ke atmosfer, selanjutnya akan kembali lagi ke permukaan bumi dan dialirkan melalui sungai. Sistem tertutup membentuk suatu siklus, yaitu material yang sama akan mengalami proses yang berulang meskipun berubah wujud sementara. Banyak sekali siklus lainnya berlangsung di permukaan bumi. Siklus batuan, siklus oksigen, siklus energi dan lainnya berlangsung di objek material geografi fisik. Demikian juga dengan peristiwa pada sistem terbuka, seperti proses penaplain, pergerakan material sedimen, juga berlangsung pada objek material geografi fisik. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa sistem terbuka mengikuti proses input dan output, sedangkan sistem tertutup tidak. Hasil dari suatu sistem ada yang bersifat keseimbangan dinamik dan umpan balik. Sistem keseimbangan dinamik bukan merupakan suatu proses yang berkembang atau berubah, tetapi bersifat melengkapi dan melanjutkan untuk menyelesaikan suatu proses sampai terjadi adanya keseimbangan. Suatu contoh adalah hubungan antara dinamika gelombang dengan pasokan sedimen yang bembentuk garis pantai. Garis pantai merupakan bentuk keseimbangan dinamik antara pasokan material dengan besaran gelombang. Untuk sistem yang bersifat umpan balik, merupakan suatu perubahan di dalam satu bagian dari sistem yang  menyebabkan perubahan di dalam bagian lain dari sistem tersebut. Suatu contoh adalah efek bangunan kaca pada gedung-gedung bertingkat yang memantulkan kembali radiasi matahari yang menimpanya. Dalam pendekatan sistem, dikenal adanya sistem thinking dan sistem laundry list thinking (Anonim, 1999). Sistem thinking menyatakan bahwa suatu perubahan atau prilaku atau dinamika, akan dimunculkan oleh suatu struktur berupa unsur-unsur pembentuk yang saling bergantung (interdependensi). Pokok dari sistem thinking adalah melihat hubungan saling bergantung, bukan hubungan sebab akibat, dan melihat adanya proses-proses perubahan, bukan peristiwa sesaat. Kebalikan sistem thinking adalah sistem laundry list thinking, yang berangkat dari beberapa asumsi sebagai berikiut : (1) setiap faktor berperan sebagai suatu sebab terhadap akibat, (2) setiap faktor bertindak sendiri-sendiri, (3) bobot faktor selamanya tetap, dan (4) cara pengaruh suatu faktor terhadap faktor lainnya bersifat positif negatif. Sistem laundry list thinking masih menunjukkan ciri parsial dan statis. Dari sini terlihat bahwa dalam geografi fisik pendekatan dengan sistem thinking lebih sesuai dengan realita fenomena permukaan bumi dari pada pendekatan sistem laundry list thinking.       Model Model merupakan ciptaan ideal dari kenyataan seperti aslinya yang kompleks dengan maksud untuk menyederhanakan kenyataan tersebut sehingga mudah untuk dipahami dari suatu kenyataan (Blij dan Muller, 1993). Di dalam geografi fisik model memegang peranan penting untuk mengamati sebagian atau seluruh permukaan bumi di dalam analisis spasial. Model ini merupakan representasi dari permukaan bumi yang disederhanakan. Peta merupakan bentuk model permukaan bumi yang paling tepat bagi geografi fisik, sehingga penggunaan peta merupakan bagian yang penting untuk menjembatani antara dunia nyata dengan teori. Peta merupakan model simbolik dengan tingkat abstraksi menengah, yang berasal dari model ikonik pada abstraksi rendah, dan mampu menghasilkan model analog pada abstraksi tinggi. Hubungan tersebut disajikan  pada Gambar 3.             Gambar 3. Model Sebagi Jembatan Antara Dunia Nyata dengan Teori dalam Geografi   (Sumber :  Haggett, 2001 dan Sutanto 1995 dengan modifikasi         Model ikonik dan simbolik merupakan bentuk model keruangan yang menggambarkan wajah permukaan bumi. Tetapi untuk mengetahui faktor-faktor geosfer yang beroperasi pada ruang sehingga berkontribusi membentuk wajah permukaan bumi, model analog lebih representatif untuk mengetahui keterkaitan antar faktor. Penyusunan model analog diawali dari identifikasi pola tingkah laku spesifik dari faktor yang ada, dan dapat diwujudkan dalam diagram pola hubungan. Sebagai suatu contoh model adalah dinamika kualitas lingkungan. Perubahan yang terjadi terutama di sekitar daerah perkotaan yang begitu cepat, seringkali kesulitan untuk mengantisipasinya sehingga menimbulkan masalah lingkungan seperti pencemaran udara, tanah, dan air. Model kualitas lingkungan di sini hanya menggambarkan seberapa besar perubahan lingkungan terjadi terhadap kondisi normal yang ada. Kualitas lingkungan dibatasai atas kualitas air, tanah, dan udara. Model menggambarkan laju penurunan kualitas lingkungan yang dipengaruhi oleh aktivitas manusia melalui faktor perubah kualitas lingkungan. Sedangkan laju absorbsi pencemaran berfungsi memperlambat proses penurunan kualitas lingkungan. Pada kenyataannya fenomena geosfer sebagai objek material geografi fisik memiliki hubungan saling pengaruh mempengaruhi. Hubungan tersebut dapat disusun dalam model diagram analog untuk melihat keterkaitannya. Skema model kualitas lingkungan tersebut disajikan pada Gambar 4.   Skala Pendekatan terhadap dunia nyata perlu untuk mempertimbangkan ukuran subyek maupun fenomena yang menjadi kajian. Luasan keruangan fenomena permukaan bumi merupakan suatu permasalahan yang dapat di atasi dengan pembatasan luasan keruangan. Skala merupakan perbandingan jarak antara dua titik sembarang di peta dengan jarak horisontal kedua titik tersebut di permukaan bumi dengan satuan ukuran yang sama. Menurut Blij dan Muller (1993), skala kajian geografi meliputi luasan kurang lebih dari 105 cm sampai kurang dari 1010 cm. Ukuran kajian tersebut dapat mencakup fenomena permukaan bumi dari skala lokal sampai global. Ukuran kajian dimaksud apabila di konversikan ke tingkatan administrasi lebih kurang adalah dari tingkat dusun sampai ukuran lingkar equator. Skala mengacu pada tingkatan struktur organisasi fenomena dan variasi pola dari fenomena yang dikaji (Strahler dan Strahler, 2006). Skala merupakan representasi dari ukuran dan pola objek permukaan bumi, semakin besar skala yang diindikasikan dengan angka perbandingan yang semakin kecil, informasi objek kajian menjadi semakin banyak. Sebaliknya semakin kecil skala yang diindikasikan dengan angka perbandingan yang semakin besar, informasi objek kajian menjadi semakin sedikit.                                       Gambar 4. Model Kualitas Lingkungan (Sumber : Djajadiningrat 2000, dengan modifikasi)   Model permukaan bumi yang diperkecil dalam bentuk peta harus memperhatikan aspek besaran pengecilan permukaan bumi tersebut. Hal ini terkait dengan banyak sedikitnya informasi yang diperoleh. Sebagai contoh adalah tingkat ketelitian peta tematik untuk mendukung rencana tata ruang wilayah (RTRW) berdasarkan yang telah diundangkan berdasarkan Peraturan Pemerintah no.10/2000 tanggal 20 Desember 2000 sebagai berikut :  (1) peta RTRW Nasional minimal 1 : 1.000.000, dengan informasi berupa garis pantai, hidrografi dengan lebar minimal 125 m, kota, jalur transportasi, batas administrasi,  nama-nama geografis, (2) peta RTRW Daerah Propinsi minimal 1 : 250.000, dengan informasi berupa garis pantai, hidrografi dengan lebar minimal 35 m, kota, jalur transportasi, batas administrasi,  nama-nama geografis, kontur 125 m. Untuk propinsi sempit skala dapat 1 : 50.000 - 1:100.000,  untuk skala 1 : 25.000, dan hidrografi minimal 1,5 m dan  kontur 5 m untuk skala 1 : 10.000, (3) peta RTRW Daerah Kabupaten, minimal 1 : 100.000, dengan informasi berupa garis pantai, hidrografi dengan lebar minimal 15 m, kota, jalur transportasi, batas administrasi,  nama-nama geografis, kontur 50 m. Untuk kabupaten sempit skala dapat 1 : 50.000 - 1:25.000, (4) peta RTRW Daerah Kota minimal 1 : 50.000, dengan informasi berupa garis pantai, hidrografi dengan lebar minimal 7 m, kota, jalur transportasi, batas administrasi,  nama-nama geografis, kontur 25 m. Untuk kota sempit skala dapat 1 : 25.000 - 1:10.000, dengan detail informasi hidrografi minimal 5 m dan  kontur 12,5 m    PENUTUP Sistem, model, dan skala bagi geografi fisik merupakan pendekatan yang sangat membantu untuk digunakan secara sadar dalam setiap kajiannya. Realita fenomena permukaan bumi yang menjadi objek material geografi fisik adalah sangat kompleks dan membentuk wajah yang luas di permukaan bumi, memerlukan suatu pendekatan yang dapat memberikan gambaran utuh tetapi sederhana. Banyak penelitian di luar geografi fisik telah memanfaatkan pendekatan yang sama, akan tetapi objek material yang dipandang secara parsial menjadikan pendekatan tersebut bukan hal yang mutlak bagi kajian non geografi fisik.                   DAFTAR PUSTAKA Anonim, 1999. Good Modelling Practice Handbook, Amsterdam: Dutch Dep. of Public Work. Institute for Iland Water Management and Waste Water Treatment   Blij, H.J. de and Muller, Peter O. 1993. Physical Geography of The Global Environment. New York : John Wiley & Sons, Inc.,   Djajadiningrat, H. M., 2000. Model Simulasi Dinamis Untuk Pemantauan Perubahan Lingkungan Wilayah Desa Kota (Kasus Botabek). Makalah Seminar Nasional Pemodelan Dinamis dengan SIG Untuk Pengembangan Wilayah Berwawasan Lingkungan. Jurusan Teknik Geodesi ITB, Bandung   Haggett, P.2001. Geography A Global Synthesis. Essex : Prentice Hall   Slaymaker, T.and Spencer, O., 1998. Physical Geography and Environmental Change., Essex : Longman   Sutanto, 1994. Penelitian Geografi. Majalah Geografi Indonesia, Tahun 8-9 Nomor !4-15. Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. h. 89-101   Strahler, A. and Strahler, A., 1997. Physical Geography, Science and Systems of The Human environmental, New York : John Wiley & Sons, Inc.   _____________ , 2006. Introducing Physical Geography., New York :  John Wiley & Sons, Inc.    
MEMFASILTASI PEMBELAJARAN BERPUSAT PADA SISWA PERDANA PRASETYA, SUKMA
Pendidikan Geografi Vol 12, No 1 (2014): Volume 12 Nomor 1 Juni 2014
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Penerapan pendekatan yang berpusat pada siswa (student centered) dalam pembelajaran Geografi diasumsikan akan menimbulkan hasil yang lebih baik. Hal ini tidak terlepas dari pandangan bahwa proses pembelajaran yang benar adalah pembelajaran yang tidak hanya memindahkan informasi atau pengetahuan dari guru kepada siswa, tetapi juga menggalakkan perkembangan kemampuan siswa (bertanya dan menemukan). Guru  Geografi membutuhkan adaptasi gaya mengajar  dan metode pembelajaran mereka untuk memfasilitasi proses belajar (learning process) dengan menawarkan beragam kesempatan belajar yang sesuai untuk gaya belajar siswa yang berbeda, subjek materi yang berbeda, dan untuk hasil belajar berbagai materi Geografi yang berbeda.   Kata Kunci : Pembelajaran, Geografi, Student Centered.   PENDAHULUAN Pengajaran yang berpusat pada guru masih dominan di Indonesia. Meskipun kurikulum terus berubah dan disempurnakan dengan menuntut keterlibatan aktif siswa dalam belajar, kenyataannya pengajaran tradisional tersebut masih banyak diterapkan. Dalam pengajaran tradisional tersebut siswa menjadi pasif atau tidak lebih hanya sebagai penerima pengetahuan dari guru. Siswa tidak mempunyai kontrol terhadap perolehan belajar mereka. Guru membuat semua keputusan mengenai kurikulum yang mencakup metode, sumber belajar,  media, penilaian, dan sebagainya. Bahkan dengan lugas Duckworth (2013) menegaskan bahwa pengajaran berpusat pada guru sebenarnya mencegah perkembangan pendidikan siswa, dimana siswa tidak diberi kebebasan dan tanggung jawab dalam mengembangkan pengetahuan. Bertentangan dengan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa, dimana siswa diberi kebebasan aktif dalam belajar mengumpulkan pengetahuan, bagaimana mereka  belajar, dan kapan mereka belajar. Artinya siswa mengambil tanggung jawab dan mengarahkan proses belajar mereka sendiri. Guru yang lebih tahu banyak pengetahuan faktual tentang konten materi belum tentu memiliki siswa yang aktif belajar. Guru yang mempunyai banyak pengetahuan faktual kemungkinan mampu membuat  banyak presentasi-presentasi yang lebih jelas dan mudah difahami siswa. Guru yang banyak pengetahuan siap menghadapi semua pertanyaan siswa dan tidak harus berkelit dengan memberikan jawaban yang kabur. Pengetahuan  yang memadai memang perlu dimiliki guru, tetapi tidak cukup untuk proses pembelajarpuan efektif karena pengetahuan akan lebih bermakna apabila diperoleh melalui pengalaman konstruksi oleh siswa baik secara individu maupun kelompok. Guru berperan memfasilitasi dengan merancang strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Jacobsen et al. (2009) mengemukakan strategi-strategi pembelajaran dimana guru berperan sebagai fasilitator, dengan memper-kenankan siswa untuk mengambil bagian yang lebih aktif dalam proses pembelajaran sehingga siswa mampu menkontruksi pengetahuannya sendiri. Guru sebagai fasilitator memberi kesempatan siswa untuk mengoptimal-kan kemampuan-kemampuan memecah-kan masalah dengan mengunakan strategi-strategi yang berpusat pada siswa, dimana siswa memiliki  kebebasan dan otonomi yang lebih luas. Bila dik2aitkan dengan pembelajaran Geografi, strategi  pembelajaran yang berpusat pada siswa sangat sesuai untuk diterapkan. Menurut  Pawson et al. (2006) Geografi merupakan studi multidisiplin (melibatkan berbagai aspek fisik dan sosial). Karakter belajar multidisiplin ini merupakan pembelajaran yang dapat dikembangkan melalui aktivitas aktif siswa untuk memecahkan masalah dengan mengumpulkan beragam sumber informasi dan data, beragam pemikiran dan bahkan beragam latar keilmuan. Pembelajaran Geografi yang diseting dengan melibatkan siswa baik secara individu dan kelompok dalam membangun pemahaman pengetahuan geografi  telah mampu menunjukkan hasil yang sangat baik. Hal ini diakibatkan karena  proses  pengkonstruksian pengetahuan geografi dilakukan secara bersama-sama menggantikan proses pembelajaran klasikal dengan sistem ceramah yang proses pengkonstruksian pengetahuan dilakukan sendiri-sendiri sesuai dengan apa yang ditangkap oleh siswa secara individu dan kelompok. Pengkonstruksian pengetahuan secara bersama-sama melalui kerja kelompok memungkinkan siswa dapat mengungkapkan gagasan, mendengarkan pendapat orang lain dan secara bersama-sama membangun pemahaman. Dalam pembelajaran Geografi  yang berpusat pada siswa, guru harus lebih banyak meninggalkan gaya belajar ceramah dengan menggunkan catatan-catatan dan banyak meninggalkan catatan power point agar pembelajaran  siswa lebih aktif. Keterlibatan guru dan siswa dalam kolaboratif pembelajaran harus lebih ditekankan untuk menelaah fonemena geosfer secara komperhensif. Dalam dua dekade terakhir, gaya mengajar berpusat pada guru digantikan dengan gaya mengajar berpusat pada siswa. Pembelajran berpusat pada siswa dipandang paling pantas karena memberikan lebih otonomi, lebih mengarahkan belajar sendiri (self-directed learning), dimana siswa dapat berpartisipasi tentang apa, bagaimana dan kapan mereka belajar, serta membangun pengetahuan melalui pembelajaran berdasarkan pengalaman mereka sendiri (Weimer, 2012). Penerapan pendekatan yang berpusat pada siswa dalam pembelajaran geografi diasumsikan akan menimbulkan hasil yang lebih baik. Hal ini tidak terlepas dari pandangan bahwa proses pembelajaran yang benar adalah pembelajaran yang tidak hanya memindahkan informasi atau pengetahuan dari guru kepada siswa, tetapi juga menggalakkan perkembangan kemampuan siswa (bertanya dan menemukan). Selain itu, guru harus mampu membantu siswa belajar bertanya dan menemukan sendiri jawaban dari permasalahan yang dihadapi secara efektif dan bukan semata-mata membantu mereka memperoleh pelajaran.   MODEL-MODEL GAYA MENGAJAR GURU Menyinggung pembelajaran secara umum, Kain (2013) menjelaskan bahwa pembelajaran berpusat pada siswa mempunyai pendekatan yang mengharuskan berbagai pengetahuan dibangun melalui kegiatan aktif siswa dalam beragam aktivitas. Pendekatan pembelajaran berpusat pada siswa bertujuan untuk mengembangkan program dan materi pembelajaran yang dibangun dengan mengumpulkan pengalaman dan pengetahuan siswa, baik diperoleh secara individu maupun  bersama. Pandangan kontruktivis tentang pengetahuan dan pembelajaran mengusulkan bahwa siswa seharusnya mempunyai kebebasan berfikir aktif sehingga dapat menguji secara kritis prosedur dalam  mengkontruksi pengetahuan. Kelas pembelajaran yang berpusat pada siswa senantiasa mengikutsertakan siswa ke dalam aktivitas yang membutuhkan rasionalitas, penemuan, pemecahan masalah, pengumpulan data, aplikasi dan mengkomunikasikan gagasan. Gagasan utamanya dimulai dari pendekatan kontruktivisme dalam pembelajaran dengan tidak meniadakan arti pentingnya pengetahuan faktual berupa hafalan, tetapi lebih menekankan cara terbaik bagi siswa untuk mencapai dan memahami pengetahuan tersebut. Dengan pemahaman pengetahuan tersebut siswa akan dapat merefkesikan, mengorganisasikan, menganalisis, dan memecahkan masalah. Efektifitas penerapan pembelajaran berpusat pada siswa sangat tergantung pada gaya mengajar guru di kelas. Gaya mengajar guru mengarahkan pada kombinasi dari teknik dan metode yang diterapkan guru di kelas. Pada Pendidikan Geografi secara umum ada tiga model gaya pembelajaran, yaitu transmission-reception models, behavior-shaping models, dan the interactionist models seperti yang disajikan di Gambar 1 (Lambert and Balderstone 2012).                   Gambar 1. Model  Mengajar Guru Geografi (sumber: Lambaert dan Balderstone, 2012)     Model pertama (The Transmission-Reception Model), Siswa merasa sebagai organime  kosong yang menunggu untuk diisi pengetahuan. Kelas dirancang secara formal dengan cara memindahkan pengetahuan langsung dari guru ke siswa. Meja tulis diarah di depan, guru menempati posisi dominan di depan kelas. Informasi lebih bersifat faktual dan hafalan konsep Geografi yang dipresentasikan sampai selesai, sedangkan siswa merekam informasi yang sudah ditentukan oleh guru. The Transmission-Reception Model yang umumnya dilakukan guru,  membuat guru cenderung mengajar monoton. Seperti ceramah, menulis di papan tulis, menggunakan buku bacaan, mencatat di buku tulis, mengerjakan tugas tertulis, dan mengerjakan tes secara tertulis. Semua kegiatan tersebut lebih menitikberatkan pada aspek visual dan auditorial.    Dengan pola pembelajaran sekarang ini yang diuntungkan adalah siswa dengan gaya belajar visua- auditorial. Disisi lain, sistem pengajaran di sekolah mengharuskan siswa untuk diam dan mendengarkan guru. Model kedua (The Behavior-Shaping Model), guru menyediakan contoh dan sekumpulan pengalaman belajar kepada siswa ke dalam sosial grup. Dalam kelas pembelajaran Geografi menekankan pada pemahaman dan penerapan konsep Geografi. Ketika terjadi interaksi komunikasi antara siswa dan guru, beberapa strategi yang digunakan seringkali berupa tanya jawab, diskusi, penugasan, dan umpanbalik kelas dari siswa yang telah menyelesaikan beberapa tugas. Model Ketiga (The Interactionist Model), model ini menekankan pada pembelajaran individu siswa dan guru melibatkan proses inkuiri dan pemecahan masalah secara kolaboratif. Siswa  dipandang sebagai organime sosial dan kelas dirancang adanya interkasi antara siswa dengan siswa dan guru dengan siswa. Model ini menjadikan guru menjadi bagian dari proses pembelajaran dan mempunyai kekhasan berupa tanggungjawab pembelajaran dari guru dialihkan kepada siswa. Beberapa tipe strategi pembelajaran yang dapat diterapkan pada model ini antara lain: pembelajaran cooperative, pemecahan masalah, pembelajaran inkuiri, debat, studi kasus, bermain peran, dan simulasi. Dari Gambar 1, dapat dideskripsikan gaya model pertama merupakan gaya mengajar tradisional dengan pendekatan yang berpusat pada guru. Sedangkan pada model kedua dan ketiga lebih cenderung mengarah pada gaya mengajar yang berpusat pada siswa. Penyesuaian terhadap semua gaya mengajar merupakan bagian penting dalam persiapan guru Geografi untuk mengajar dengan berbagai kondisi, dimana guru Geografi dapat mempertimbangkan perolehan hasil belajar siswa ke tingkat yang lebih tinggi. Buch and Bartley (2012) mengemukakan bahwa guru Geografi membutuhkan adaptasi gaya mengajar  dan metode pembelajaran mereka untuk memfalitasi proses belajar (learning process) dengan menawarkan beragam kesempatan belajar yang sesuai untuk gaya belajar yang berbeda, subjek materi yang berbeda, dan untuk hasil belajar berbagai materi Geografi yang berbeda. Lebih lanjut Prasetya (2013), mengemukakan bahwa gaya dan strategi mengajar diterapkan oleh guru Geografi perlu secara terus-menerus direvisi susuai pada konten dasar materinya. Atau bisa jadi konten materinya sama tetapi menggolongkan siswa berbeda, maka gaya dan strategi mengajar guru Geografi juga perlu memfasilitasi perbedaan karakter belajar siswa tersebut.   PERBANDINGAN TEACHER CENTERED VS STUDENT CENTERED   Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru dan berpusat pada siswa mempunyai perbedaan yang jelas, antara lain dapat dilihat dengan membandingkan paradigma, pedagogis, dan strategi pembelajaran pada Tabel 1, 2, dan 3.     MELIBATKAN SISWA DALAM PENERAPAN PEMBELAJARAN YANG BERPUSAT PADA SISWA Guru secara terus-menerus mencari makna untuk keberhasilan belajar siswa mereka. Hal ini selalu mempunyai arti penting dalam pembelajaran di kelas. Tetapi sering perubahan waktu terjadi pergeseran paradikma pendidikan. Agar pemeblajaran berjalan optimal, guru perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut ini. Kenali karakteristik siswa. Tergantung besarnya kelas, Artinya dapat menyebut karakter umum seperti nama, gaya belajar, kemampuan individual, dan sebaginya. Sebaiknya guru perlu memahami sifat dan karakteristik siswa  terutama kemampuan belajarnya, cara dan kebiasaan belajar, minat terhadap mata  pelajaran, motivasi untuk belajar dan hasil belajar yang dicapainya. Belajar yang baik harus dapat melibatkan siswa secara proses dan  komprehensif baik segi intelektual, emosional maupun psikomotor. Perbedaan tersebut mencakup karakteristik maupun kemampuan fisik dan psikis. Adanya perbedaan secara  individu di  antara siswa dapat    mempengaruhi  proses dan hasil belajar.  Oleh     karena itu, guru  perlu memperhatikan perbedaan siswa, supaya aktivitas dan konten  belajar yang diberikan selaras dengan  penempatan potensi siswa yang bersangkutan. Melalui memahami karakter siswa guru dapat mengadaptasikan strategi pembelajaran yang sesuai dengan siswa, membantu siswa mengembangkan ketrampilan yang mempunyai kemampuan rendah, membantu kekurangsiapan siswa dalam mengembangkan ketrampilan belajar. Gaya mengajar. Guru senantiasa mendukung interktif kelas. Salah satu aspek pembelajaran berpusat pada siswa adalah menyediakan kesempatan kepada siswa untuk berbagi pengetahuan dengan temannya.  Guru harus mampu menjabarkan bahan pengajaran dalam berbagai bentuk, misalnya dalam bentuk pertanyaan-petanyaan problematik untuk didiskusikan antar teman, dalam bentuk skenario atau disimulasikan dan didemonstrasikan oleh siswa, dalam bentuk pernyataan hipotesis untuk dipecahkan melalui problem solving, dalam bentuk konsep dan prisip agar diaplikasikan oleh para siswa. Membuat pelajaran yang relevan. bahan pelajaran yang diberikan benar-benar dibutuhkan untuk pelajaran selanjutnya atau untuk kehidupan mereka di kemudian hari. Bahan pelajaran  yang baru harus dikaitkan dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ada sebelumnya. Materi pelajaran yang baru disediakan secara aktif dengan pengetahuan yang sudah ada. Bahan bahan pelajaran dapat didesain dalam berbagai bentuk, misalnya dalam bentuk  pertanyaan-petanyaan problematik untuk didiskusikan antar teman, dalam bentuk scenario atau disimulasikan dan didemonstrasikan oleh siswa, dalam bentuk pernyataan hipotesisuntuk dipecahkan melalui problem solving, dalam bentuk konsep dan prisip agar diaplikasikan oleh para siswa. Pengajaran aktif (active teaching). Guru  harus dapat mendesain, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran berkadar aktivitas siswa yang tinggi.  Untuk mencapai ke arah itu bukan berati guru cukup hanya dapat memilih dan melaksanakan strategi pembelajaran yang  diklasifikasikan sebagai strategi yang dapat meningkatkan aktivitas siswa. Strategi  belajar yang efektif seperti cara belajar mandiri, berkelompok, cara mempelajari buku, cara bertanya  atau mengajukan pertanyaan, cara mengemukakan pendapat dan sebagainya. Cara-cara tersebut  hendaknya ditanamkan pada siswa sehingga siswa dapat mempraktikkanya.   PENUTUP Pembelajaran yang berpusat pada siswa, menumbuhkan kemampuan  membangun pengetahuan sendiri, berpikir kritis, dan kemampuan membantu teman untuk mencapai ketuntasan belajar baik secara individu maupun klasikal.  Hasil belajar siswa dalam pembelajaran Geografi dapat ditingkatkan apabila guru dapat memilih dan menerapkan strategi inovatif berpusat pada siswa yang tepat sebagai sarana penyampaian materi pembelajaran yang diberikan.         Tabel 1. Perbandingan Paradigma Teacher Centered vs Student Centered        Tabel 2. Perbandingan Pedagogis Teacher Centered vs Student Centered        Tabel 3. Perbandingan Strategi Teacher Centered vs Student Centered        DAFTAR PUSTAKA Buch, K., and S. Bartley. 2012. Learning styles and training delivery mode preference. Journal of Workplace Learning 14 (10): 5–10. Duckworth, E. 2013. Helping students get to where ideas can find them. Journal of The New Educator, 5(3): 10-22.         Jacobsen D.A, Paul Eggen, Donal Kauvhak. 2009. Methods For Teaching. New Jersey : Pearson Education. Inc, Publishings Allyn & Bacon. Kain, D. J. 2003. Teacher-centered versus student-centered: Balancing constraint and theory in the composition classroom. Journal of Pedagogy 3 (1): 104–108. Lambert, D., and D. Balderstone. 2012. Learning to Teach Geography in the Secondary Schools. London: Routledge-Falmer. Prasetya, Sukma. P, 2013. Pengaruh Strategi dan Gaya Belajar Terhadap Hasil Belajar Penginderaan Jauh Siswa SMA Kelas XII IPS,  Disertasi, Malang: Universitas Negeri Malang. Weimer, M. (2012). Learner-Centered Teaching. San Francisco: Jossey Bas