cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Pendidikan Geografi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 57 Documents
SIKAP MASYARAKAT KABUPATEN TUBAN TERHADAP PENGEMBANGAN OBJEK-OBJEK WISATA DI KABUPATEN TUBAN Agus Sutedjo,
Pendidikan Geografi Vol 10, No 19 (2011)
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pengembangan objek-objek wisata di Kabupaten Tuban dilakukan dengan tingkat yang berbeda. Perbedaan tersebut menimbulkan perbedaan jumlah wisatawan yang berkunjung dan hal ini dapat disikapi secara berbeda pula oleh masyarakat. Sehubungan dengan pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Tuban, ingin diketahui: 1) sikap masyarakat terhadap pengembangan kepariwisataan, 2) hubungan antara jarak tempat tinggal masyarakat dari objek wisata dengan sikap masyarakat. Untuk mencapai mencapai hal itu digunakan sampel penelitian penduduk yang tinggal di suatu dusun/kampung yang diambil secara random sampling melalui 3 tahap. Data penelitian diambil dengan menggunakan kuesioner yang selanjutnya dianalisis dengan menggunakan Skala Likert dan Chi Square. Observasi juaga dilakukan terhadap objek-objek wisata untuk mengetahui kondisinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada masyarakat Kabupaten Tuban yang bersikap antagonism, sebagian kecil bersikap euphoria, dan dalam jumlah yang hamper seimbang bersikap apathy dan annoyance. Di samping itu terdapat hubungan yang signifikan antara jarak tempat tinggal masyarakat dengan sikap penduduk yakni tempat tinggal masyarakat makin jauh dari objek wisata makin menunjukkan keramahan terhadap wisatawan yang berkunjung
KAJIAN KERUANGAN PENGGUNAAN LAHAN DALAM PENGEMBANGAN KOTA AMBON BERBASIS EKOLOGI M. A. Lasaiba,
Pendidikan Geografi Vol 11, No 21 (2013)
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI PEMBELAJARAN E-LEARNING PADA MATA KULIAH GEOGRAFI TRANSPORTASI DAN KOMUNIKASI MAHASISWA YANG MEMPROGRAM DI SEMESTER GASAL TAHUN AKADEMIK 2012/2013 Agus Sutedjo,
Pendidikan Geografi Vol 11, No 21 (2013)
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Teknologi bidang pendidikai dapat dilihat dengan semakin banyaknya penggunaan fasilitas internet untuk membantu proses belajar mengajar. Implementasi sistem e-learning yang bisa memberi lebih banyak waktu dan kesempatan untuk berdiskusi bagi perkuliahan mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengimplementasikan pembelajaran berbasis elektronik ke dalam mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi serta mengevaluasi dari pelaksanaan pembelajaran yang menggunakan web ini. Jenis penelitian adalah penelitian pengembangan dengan sasaran mahasiswa geografi angkatan 2009 A, B dan C  yang memprogram mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi sejumlah 106 mahasiswa. Penelitian ini menggunakan model pengembangan prosedural yang dimulai dari menyusun deskripsi, silabus, materi ajar, menyusun jadwal perkuliahan sebanyak 16 kali pertemuan, mengupload materi ajar, menyusun kuis, tugas dan UTS. Juga mengembangkan instrumen penelitian untuk mengetahui tanggapan, kritik dan saran dari  mahasiswa dalam pelaksanaan pembelajaran yang berbasis e-learning. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlunya persiapan yang matang sebelum mengimplementasikan sebuah pembelajaran  yang berbasis internet karena hal ini memegang peran penting demi kelancaran proses pembelajaran Segala persiapan seperti penjadwalan dengan penentuan teknik komunikasi selama proses pembelajaran merupakan tahapan penting dalam melaksanakan pembelajaran berbasis web. Dari hasil evaluasi dapat diketahui bahwa partisipasi mahasiswa dalam mengunjungi web rata-rata 68 kali, nilai UTS rata-rata 85,2 dan nilai tugas rata-rata 85,5 serta sebagian besar mahasiswa memberikan tanggapan yang positif. Tanggapan tersebut adalah  pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, mandiri, praktis, baik, membantu, mudah, fleksibel, efisien, efektif, memotivasi, menarik, dapat pengalaman langsung, lebih dulu mengetahui materi, memperlancar proses belajar mengajar, dapat memilih materi dan sebagainya. Sementara itu beberapa kekurangan atau penghambat adalah tidak semua mahasiswa mempunyai sarana laptop, jaringan intranet (wifi) di kampus sering mengalami gangguan. Hambatan yang lain tidak semua tempat mudah untuk mengakses, kadang wifi lambat.   Kata Kunci: Pembelajaran E-learning, implementasi, evaluasi.   PENDAHULUAN Salah satu bidang yang mendapatkan dampak yang cukup berarti dengan perkembangan teknologi ini adalah bidang pendidikan, dimana pada dasarnya pendidikan merupakan suatu proses komunikasi dan  informasi dari pendidik kepada peserta didik yang berisi informasi-informasi pendidikan, yang memiliki unsur-unsur pendidik sebagai sumber informasi, media sebagai sarana penyajian  ide, gagasan dan materi pendidikan serta peserta didik itu sendiri (Oetomo dan Priyogutomo, 2004), beberapa bagian unsur ini mendapatkan sentuhan media teknologi informasi, sehingga mencetuskan lahirnya ide tentang e-learning. Skenario mengajar dan belajar perlu disiapkan secara matang dalam kurikulum pembelajaran yang memang dirancang berbasis internet. Mengimplementasikan pembelajaran berbasis internet bukan berarti sekedar meletakkan materi ajar pada web. Selain materi ajar, skenario pembelajaran perlu disiapkan dengan matang untuk mengundang keterlibatan  peserta didik secara aktif dan konstruktif dalam proses belajar mereka. Teknologi baru terutama dalam bidang ICT  memiliki peran yang semakin penting dalam pembelajaran. Banyak orang percaya bahwa multimedia akan dapat membawa kita kepada situasi belajar dimana "learning with effort" akan dapat digantikan dengan " learning with .fun". Apalagi dalam pembelajaran orang dewasa, learning with effort menjadi hal yang cukup menyulitkan untuk dilaksanakan karena berbagai faktor pembatas seperti usia, kemampuan daya tangkap, kemauan berusaha, dan lain lain. E-learning adalah bentuk pembelajaran yang memanfaatkan teknologi elektronik (radio, televisi, film, komputer, internet, dll). Koran (2002)  mendefinisikan e-learning sebagai sembarang pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau bimbingan. Ada pula yang menafsirkan e-learning sebagai bentuk pendidikan jarak jauh yang dilakukan melalui media internet. Sedangkan (Kamarga, 2002) dalam Suyanto (2005) mendefinisikan e-learning sebagai kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat elektronik komputer untuk memperoleh bahan belajar yang sesuai  dengan kebutuhannya. Rosenberg (2001) dalam Suyanto (2005) menekankan bahwa e-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Hal ini  senada dengan Cambell (2002), Kamarga (2002) dalam Suyanto (2005)  yang intinya menekankan penggunaan internet dalam pendidikan sebagai hakekat e-learning. Bahkan Purbo (2002) menjelaskan bahwa istilah “e” atau singkatan dari elektronik dalam e-learning digunakan sebagai istilah untuk segala teknologi yang digunakan untuk mendukung usaha-usaha pengajaran lewat teknologi elektronik internet. Jadi e-learning merupakan bentuk pembelajaran konvensional yang dituangkan dalam format digital melalui teknologi internet. Oleh karena itu e-learning dapat digunakan dalam sistem pendidikan jarak jauh dan juga sistem pendidikan konvensional. Dalam pendidikan konvensional fungsi e-learning bukan untuk mengganti, melainkan memperkuat model pembelajaran konvensional. Dalam hal ini, Cisco (2001) dalam Suyanto (2005) menjelaskan filosofis e-learning sebagai berikut: (a) e-learning merupakan penyampaian informasi, komunikasi, pendidikan, pelatihan secara on-line.(b). e-learning  menyediakan seperangkat alat yang dapat memperkaya nilai belajar secara konvensional (model belajar konvensional, kajian terhadap buku teks, CD-ROM, dan pelatihan berbasis komputer) sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan globalisasi.(c). e-learning tidak berarti menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas, tetapi memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan content dan pengembangan teknologi pendidikan. (d). Kapasitas siswa amat bervariasi tergantung pada bentuk isi dan cara penyampaiannya. Makin baik keselarasan antar content dan alat penyampai dengan gaya belajar, maka akan lebih baik kapasitas siswa yang pada gilirannya akan memberi hasil yang lebih baik Keberhasilan belajar siswa menjadi tujuan utama dalam pembelajaran yang berbasis e-learning. Keberhasilan belajar dapat dilihat dari efektivitas hasil belajar siswa. Pengertian efektivitas secara umum menunjukkan sampai seberapa jauh tercapainya suatu tujuan yang terlebih dahulu ditentukan. Hal tersebut sesuai dengan pengertian efektivitas menurut Hidayat (1986) menjelaskan bahwa efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan waktu) telah tercapai. Dimana makin besar prosentase target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya. Dengan pemanfaatan e learning sebagai sarana pembelajaran diharapkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar diharapkan akan semakin baik, meskipun inovasi ini menimbulkan pro dan kontra dengan berbagai dalih. Karena bagaimanapun bahwa hasil beberapa ujicoba pembelajaran dengan e learning telah memberikan banyak masukan untuk perbaikan sistem. Oleh karena itu, perlu adanya kajian dan penelitian untuk mengetahui bagaimana implementasi dan evaluasi pembelajaran e-learning pada mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi pada mahasiswa Jurusan Pendidikan Geografi Angkatan tahun 2009 di semester gasal tahun ajaran 2012/2013.   METODE PENELITIAN Sasaran penelitian ini adalah  mahasiswa Prodi Pendidikan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya angkatan 2009A/B/C yang memprogram mata kuliah geografi tramnsportasi dan komunikasi dengan jumlah 106 mahasiswa. Dalam penelitian pengembangan ini menggunakan model pengembangan prosedural. Model prosedural adalah model yang bersifat deskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menggunakan e-learning dalam pembelajaran geografi transportasi dan komunikasi. Langkah-langkah yang dimaksud yaitu : 1.    Merumuskan kembali deskripsi mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi sesuai dengan deskripsi yang termuat dalam buku pedoman Unesa tahun 2009-2010. 2.    Menyusun silabus mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi agar perkuliahan berbasis e- learning berjalan secara sistematis. 3.    Mengembangkan bahan ajar sebagai materi perkuliahan yang mendukung mahasiswa 4.    Menyusun lembar evaluasi berupa soal-soal untuk kuis, tugas dan UTS. 5.    Mengembangkan instrumen penelitian untuk mengetahui tanggapan mahasiswa, pelaksanaan perkuliahan berbasis e learning dan evaluasi yang dikembangkan dosen. Uji coba pengembangan pembelajaran dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menetapkan tingkat keefektifan . Dalam bagian ini secara berurutan  dikemukakan desain uji coba, jenis data, instrumen pengumpulan data, dan teknik analisis data.   Desain Uji Coba Secara lengkap, uji coba produk pengembangan dalam penelitian  dilakukan melalui dua  tahapan, yaitu  uji kelompok kecil hanya dengan melibatkan 15 orang saja yang terdiri masing-masing kelas 5 orang, dan kelompok besar yang melibatkan semua mahasiswa angkatan 2009 A/B/C dan tidak melakukan uji lapangan karena keterbatasan waktu.   Jenis Data Uji coba produk dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menetapkan tingkat keefektifan dan atau daya tarik dari produk yang dihasilkan. Penekanan pada efektifitas suatu pemecahan masalah akan membutuhkan data tentang efektivitas produk yang dikembangkan. Penekanan pelaksanaan pembelajaran berbasis e learning pada keefektivan atau daya tarik. Atas dasar ini, maka jenis data yang perlu dikumpulkan akan disesuaikan dengan informasi apa yang dibutuhkan tentang produk yang dikembangkan. Data yang dimaksudkan adalah data penilaian dari pakar desain pembelajaran berbasis e learning, penilaian dari mahasiswa selaku pelaku yang terlibat dalam perkuliahan yang berbasis e learning dan tanggapan  mahasiswa  tentang     pelaksanaan perkuliahan yang   berbasis e learning. Sedangkan untuk mengetahui implementasi digunakan dengan cara deskriptif sedangkan evaluasi digunakan teknik diskriptif  dengan prosentase yang kemudian disajikan dengan cara deskriptif.   HASIL PENELITIAN Penelitian pada mata kuliah Geografi Transportasi dan Komunikasi ini dilaksanakan sesuai jadwal perkuliahan yang telah ditetapkan oleh Unesa selama 16 kali tatap muka (pertemuan) yaitu dimulai tanggal 3 September 2012 dan berakhir pada tanggal 21 Desember 2012.  Ketidaksesuaian jadwal perkuliahan muncul ketika yang memprogram adalah mahasiswa angkatan 2009 yang berada pada semester VII dimana mereka tersebut masanya untuk menempuh Praktek Pengajaran Lapangan (PPL) yang jadwalnya melewati permulaan perkuliahan. Perkuliahan untuk Geografi Transportasi dan Komunikasi pada mahasiswa Jurusan Pendidikan Geografi angkatan 2009 A/B/C yang berjumlah 106 orang dimulai tanggal 24 September 2012 dan berakhir pada tanggal 21 Desember 2012. Meskipun dalam pelaksanaan perkuliahan hanya 13 kali pertemuan namun hal ini tidak menjadi masalah karena terbantu oleh model pembelajaran yang berbasis e-learning. Hal inilah barangkali yang menjadikan keuntungan  dari model pembelajaran yang berbasis e-learning dalam pembelajaran dengan situasi yang demikian. Jadi kekurangan dalam pertemuan sebanyak tiga kali dapat diatasi dengan penggantian pembelajaran yang berbantuan e-learning. Untuk mengimplementasikan pembelajaran e-learning di Jurusan pendidikan geografi dapat dikatakan masih beberapa mata kuliah yang menguji coba, khusus untuk mata kuliah Geografi Transportasi dan Komunikasi pembelajaran e-learning merupakan  model pembelajaran yang pertama kalinya dilakukan sehingga dibutuhkan persiapan  yang banyak. Persiapan dilakukan tidak hanya mengimplementasikan materi ajar pada web tetapi juga menciptakan skenario pembelajaran dengan matang untuk mengundang keterlibatan peserta didik secara aktif dan konstruktif dalam proses belajar mengajar. Persiapan yang terkait dengan mahasiswa adalah memberitahukan mahasiswa untuk benar-benar dapat menerima pembelajaran yang berbasis e-learning, seperti menyiapkan laptop, modem, wifi  dan juga password untuk dapat login ke mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi yang sudah dionlinekan. Pengimplementasian e-learning pada  proses belajar mengajar mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi ini, sebelum  pembelajaran dimulai dosen memberitahukan dan  menyediakan materi di web untuk diunggah oleh mahasiswa  sehingga dalam hal ini mahasiswa akan tahu terlebih dahulu sebelum dosen mengadakan tatap muka. Namun fungsi dari materi yang disediakan di web adalah opsional artinya mahasiswa diberikan kebebasan untuk memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Disamping itu, dosen juga memberikan  materi yang fungsinya komplemen yang artinya adalah materi pembelajaran yag disediakan di web ini sifatnya hanya sebagai pelengkap dari materi yang utama, dalam hal ini mahasiswa diberi kebebasan untuk memanfaatkan atau tidak. Dan fungsi pembelajaran yang terakhir adalah substitusi yaitu dapat digunakan sebagai pengganti ketika antara dosen dan mahasiswa tidak dapat tatap muka seperti ketika mahasiswa PPL sehingga harus mundur tiga kali pertemuan, ketika jadwal kuliah tanggal merah (Idul Adha, libur fakultatif 1 Muharrom) juga dapat dimanfaatkan oleh dosen untuk menggantikan tatap muka dengan kuis dan UTS. Berikut adalah prosedur dalam pengimplementasian e-learning dalam mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi. a.       Dosen membuat deskripsi mata kuliah yang sesuai dengan silabus b.      Dosen menyiapkan materi yang fungsinya sebagai suplemen maupun komplemen yang sesuai dengan silabus. c.       Materi tersebut dibagi dalam 16 kali pertemuan, juga menyiapkan kuis, tugas dan UTS d.      Materi akan dapat didownload 1 minggu  sebelum perkuliahan karena materi sudah disiapkan sesuai jadwal e.       Mahasiswa sudah harus diberitahukan di awal pertemuan terkait dengan semua aturan f.       Perkuliahan berjalan seperti biasa yaitu dengan tatap muka, dengan demikian dalam hal ini peran dosen  menegaskan dari materi yang sudah dionlinekan g.       Ketika ada jadwal yang tidak dapat dilakukan tatap muka maka mahasiswa diminta untuk mengerjakan kuis dan UTS sehingga perkuliahan dapat berjalan sesuai jadwal h.      Untuk jawaban kuis dikirim lewat email sedangkan UTS dapat dikerjakan langsung sehingga mahasiswa akan segera tahu nilainya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sebelum mengimplementasikan sebuah pembelajaran berbasis internet memegang peran penting demi kelancaran proses pembelajaran. Segala persiapan seperti penjadwalan sampai dengan penentuan teknik komunikasi selama proses pembelajaran merupakan tahapan penting dalam melaksanakan pembelajaran berbasis web. Sementara itu dalam pembelajaran e-learning pada mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi yang sudah dilakukan dapat  dikatakan berjalan lancar sesuai harapan meskipun dijumpai beberapa kendala. Untuk lebih jelasnya maka hasil tanggapan, kritik dan saran  dari mahasiswa yang mengikuti kuliah geografi transportasi dan komunikasi pada semester gasal tahun ajaran 2012/2013 dapat dievaluasi sebagai disajikan pada Tabel 1. Dengan melihat tabel 1 dapat diketahui bahwa dalam pembelajaran E-leaning mendapat tanggapan positif. Artinya bahwa mahasiswa dalam mengikuti proses pembelajaran yang baru pertama kalinya dengan internet ini sebagian besar menyatakan senang. Hal ini karena sarana laptop dan modem/wifi bagi mahasiswa sudah merupakan suatu kebutuhan primer. Terlebih pembelajaran ini dilaksanakan untuk mahasiswa semester VII yang sudah mempersiapkan penenlitian  sehingga dapat dikatakan sebagian besar mahasiswa sudah memiliki sarana belajar seperti laptop.   Tabel 1.  Tanggapan Mahasiswa Terkait Pembelajaran E-learning No. Jenis Tanggapan Jumlah( mhs) Persentase (%) 1. Menyenangkan 91 86 2. Memotivasi 89 84 3. Materi lebih lengkap 90 85 4. Membantu pembelajaran 79 75 5. Efektif, efisien 87 82 6. Baik 88 83 7. Mandiri 65 61 8. Dapat mendowload materi 99 93 9. Belajar lebih mudah, kapan dan dimana saja 89 84 10. Melihat materi lebih fleksibel, 70 66 11. Memperlancar PBM 78 74 12. Mampu menerapkan gaya belajar yang berbeda 52 49 13. Dapat memilih materi 68 64 14. Menarik 90 85 15. Praktis 74 70 16. Dapat pengalaman langsung 57 54 17. Lebih mudah 65 61 18. Dapat interaksi langsung 56 53 19. Tahu materi lebih awal 92 87 20. Senang adanya pojok diskusi 48 45 Sumber : Data primer yang diolah, 2012   Disamping mendapatkan tanggapan yang positif terkait ranah kognitif, dalam pembelajaran ini juga menggali aspek afektif yang berusaha untuk mengadakan interaksi antara mahasiswa dengan dosen maupun mahasiswa dengan mahasiswa lewat  pojok diskusi. Di pojok diskusi ini dosen memberikan pernyataan sedangkan mahasiswa menanggapi disamping itu mahasiswa juga dapat bertanya langsung kepada dosen terkait dengan materi dan pengetahuan umum. Banyak mahasiswa (48 mahasiswa)  yang menggunakan pojok diskusi untuk menanyakan materi yang dirasa kurang paham. Disamping itu  fasilitas pojok diskusi dapat memberanikan mahasiswa untuk bertanya tanpa malu dan takut, jadi mahasiswa yang awalnya diam saja maka mahasiswa tersebut terbantu untuk mau bertanya lewat pojok diskusi. Dengan e-learning ini juga dapat dilihat frekuensi partisipasi mahasiswa untuk mengakses materi, kuis, tugas , UTS ataupun menggunakan fasilitas pojok diskusi. Dari hasil rekap absensi (istilah dalam menú e-learning) dapat menunjukkan  frekunesi partisipasi setiap mahasiswa untuk memanfaatkan web yang sudah disediakan tersebut baik untuk mengunggah materi, mengerjakan kuis, tugas, UTS maupun memanfaatkan pojok diskusi.  Sebagian besar mahasiswa 104 mahasiswa dapat mengerjakan kuis dengan waktu yang sudah ditentukan, demikian pula untuk pengerjaan UTS sebagian besar 105 mahasiswa dapat mengerjakan UTS dengan lancar sedangkan 1 mahasiswa mengalami kendala teknik sehingga tidak dapat tuntas mengerjakan soal UTS. Dalam pembelajaran e-learning pada mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi ini juga mendapat beberapa kritik terkait dengan pemberian kuis dan UTS yang terkesan mendadak dan beberapa kali berubah-ubah jadwal. Hal ini disebabkan karena ketika mengumumkan jadwal pelaksanaan kuis yang memang waktunya dibatasi tiba-tiba sebagian mahasiswa tidak dapat mengikuti kuis karena ikut remidi kuliah lapangan,  kejadian ini berlangsung sebanyak tiga  kali. Disamping mendapat kritik yang terkait dengan pelaksanaan kuis, juga sebagian kecil mahasiswa atau sebanyak  8 orang mengeluh  karena  tidak mempunyai laptop dan modem sehingga agar dapat mengakses internet harus ke warnet. Sementara ketika  wifi jurusan tersedia dan yang menggunakan banyak dalam waktu yang bersamaan maka  wifi menjadi lambat. Saran yang dapat diberikan dalam pembelajaran yang berbasis internet adalah perlu akses  yang lebih baik,  perlu penambahan materi dan untuk pelaksanaan UTS (ujian tengah semester) sebaiknya tetap dilaksanakan di kelas karena pengerjaan UTS di luar kelas dengan model e-learning yang tanpa pengawasan hasil yang diperoleh tidak dapat dikatakan obyektif.   PEMBAHASAN Implementasi pembelajaran E-learning dalam mata kuliah geografi transportasi dan komunikasi ini dilakukan sebelum jadwal tatap muka  setiap minggunya dengan dosen pengampu. Untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berbasis internet ini memang dibutuhkan persiapan yang matang. Tanpa persiapan  yang baik maka pembelajaran ini dapat dikatakan tersendat atau bahkan gagal. Hal ini dialami ketika dalam pelaksanaan proses belajar mengajar tidak dapat dilakukan tatap muka karena jadwal kuliah yang libur yang kemudian diganti dengan waktu yang berbeda maka tidak dapat diterima oleh semua mahasiswa dengan baik. Hal ini dimaklumi karena dengan jumlah mahasiswa yang demikian banyak (106  mahasiswa) tentunya mereka juga sudah mempunyai jadwal pribadi sehingga ketika jadwal itu dirubah maka akan mengganggu jadwal mereka yang sudah tertata dengan baik. Oleh karena itu sangat diperlukan sekali persiapan yang cermat untuk meminimalkan kegagalan. Persiapan menyangkut banyak hal, mulai dari kesiapan mahasiswa maupun  persiapan dosen pengampu. Persiapan yang terkait dengan mahasiswa adalah melibatkan mahasiswa sebanyak mungkin secara aktif dan kondusif dalam proses belajar mengajar dan mengkomunikasikan agar senantiasa update supaya tidak ketinggalan. Sementara untuk dosen pengampu adalah menyiapkan materi untuk bisa diunggah, menyusun jadwal, membuat kuis, tugas, UTS dan evaluasi yang menyeluruh. Untuk menerapkan  model pembelajaran elektronik di dalam kelas (classroom instruction)  ini memiliki 3 fungsi yaitu sebagai suplemen yang sifatnya pilihan/opsional, pelengkap (komplemen), atau pengganti (substitusi) (Siahaan, 2002). Dalam mengimplementasikan pembelajaran yang berbasis internet ini meskipun mendapatkan kendala namun banyak manfaat yang diperolehnya. Manfaat tersebut antara lain dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara dosen dengan mahasiswa (enhance interactivity) maupun mahasiswa dengan mahasiswa. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Wulf (1996) bahwa apabila dirancang dengan cermat maka pembelajaran elektronik dapat meningkatkan kadar interaksi antara dosen dengan mahasiswa dan antarmahasiswa. Berbeda halnya dengan pembelajaran yang bersifat konvensional. Tidak semua peserta didik dalam kegiatan pembelajaran konvensional dapat, berani atau mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan ataupun menyampaikan pendapatnya di dalam diskusi. Hal ini disebabkan karena pada pembelajaran yang bersifat konvensional, kesempatan yang ada atau yang disediakan dosen untuk berdiskusi atau bertanya jawab sangat terbatas ditambah lagi dengan sifat malu atau takut yang dimiliki oleh mahasiswa. Manfaat yang kedua  memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility, seperti yang disampaikan oleh sebanyak 89 mahasiswa. Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses oleh peserta didik melalui internet, maka peserta didik dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan dari mana saja. Demikian juga dengan tugas-tugas kegiatan pembelajaran, dapat diserahkan kepada dosen begitu selesai dikerjakan. tidak perlu menunggu sampai ada janji untuk bertemu dengan dosen. Meskipun sebagian kecil dari mahasiswa juga menyatakan mendapatkan masalah misalnya sulitnya untuk mengakses di pelosok, wifi yang lambat, jaringan internet yang kadang terganggu.  Beberapa gangguan yang disampaikan tersebut akan mengganggu proses pengerjaan kuis, tugas dan UTS yang waktunya sudah sangat terbatas sekali. Manfaat lainnya bagi dosen adalah mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities). Fasilitas yang tersedia dalam teknologi  internet dan berbagai perangkat lunak (software) yang terus berkembang turut membantu mempermudah pengembangan bahan belajar elektronik. Demikian juga dengan penyempurnaan atau pemutakhiran bahan belajar sesuai dengan tuntutan  perkembangan materi keilmuan-nya dapat dilakukan secara periodik dan mudah. Di samping itu, penyempurnaan metode penyajian materi pembelajaran dapat pula dilakukan berdasarkan atas umpan balik dari mahasiswa. Apabila dilihat dari  efektivitasnya, dapat dikatakan bahwa hasil pembelajaran dengan menggunakan  internet ini dikatakan sangat efektif karena hasil yang diperoleh oleh mahasiswa menunjukkan partisipasi mahasiswa untuk berkunjung ke web rata-rata 68 kali, sebanyak 2 mahasiswa dengan jumlah kunjungan minimal 2 kali dan 1 mahasiswa terbanyak berkunjung dengan jumlah 226 kali. Sementara itu untuk nilai UTS  rata-rata mahasiswa memperoleh nilai rata-rata 85,2 sehingga dapat dikatakan bahwa pembelajaran model ini secara nyata dapat meningkatkan prestasi belajar mahasiswa.  Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Depdiknas (2002) bahwa efektivitas adalah berasal dari kata efektif yang berarti membawa hasil, berhasil guna, ada efeknya, pengaruhnya, akibatnya/ kesannya (Depdiknas, 2002). Pengertian efektivitas secara umum menunjukkan sampai seberapa jauh tercapainya suatu tujuan yang terlebih dahulu ditentukan. Hal tersebut sesuai dengan pengertian efektivitas menurut Hidayat (1986), menjelaskan bahwa efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan waktu) telah tercapai. Dimana makin besar persentase target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya. Lebih lanjut dikatakan bahwa efektivitas dapat dinyatakan sebagai tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan dan sasarannya. Lebih lanjut dikatakan bahwa pembelajaran efektif  merupakan suatu pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk dapat belajar  dengan mudah, menyenangkan dan dapat mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian pembelajaran dikatakan efektif apabila tujuan dari pembelajaran tersebut tercapai. Vietzal (1999) mengemukakan bahwa efektivitas tidak hanya dilihat dari sisi produktivitas, tetapi juga dilihat dari sisi persepsi seseorang. Dengan demikian dalam pembelajaran, efektivitas bukan semata-mata dilihat dari tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai konsep yang ditunjukkan dengan nilai hasil belajar tetapi juga dilihat dari respon siswa terhadap pembelajaran yang telah diikuti. Senada dengan apa yang disampaikan oleh Vietsal bahwa dalam pembelajaran elektronik ini memberiskan respon yang positif. Berdasarkan uraian diatas disimpul-kan bahwa efektivitas pembelajaran adalah  ukuran keberhasilan dari suatu proses interaksi antar mahasiswa maupun antara mahasiswa dengan dosen dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Efektivitas pembelajaran dapat dilihat dari aktivitas mahasiswa selama  pembelajaran berlangsung, respon siswa terhadap pembelajaran dan penguasaan konsep oleh mahasiswa. Aktivitas mahasiswa dapat dilihat dari partisipasi mahasiswa  ketika mengunjungi web yang menunjukkan rata-rata 68 kali kunjungan yang digunakan baik untuk mengunggah materi, membuka tugas, mengerjakan kuis ataupun mengerjakan UTS. Respon mahasiswa menunjukkan sebagian besar mahasiswa atau sebanyak  91 orang (86%) menyatakan senang dengan pembelajaran ini. Dan untuk mengetahui penguasaan konsep dapat dilihat dari hasil nilai yang diperoleh mahasiswa selama mengerjakan tugas yang rata-ratanya 85,5 sedangkan UTS rata-ratanya adalah 85,2. Berdasarkan hasil seperti di atas, dapat dikatakan bahwa dalam pembelajaran sistem e-learning ini ternyata memberikan banyak tanggapan positif terhadap mahasiswa yang pada akhirnya berdampak pada meningkatnya nilai yang diperoleh baik komponen nilai partisipasi, nilai tugas nilai kuis maupun nilai UTS.   SIMPULAN 1.    Untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berbasis internet dibutuhkan kesiapan yang matang untuk memperoleh hasil yang maksimal baik persiapan  untuk mahasiswa maupun persiapan untuk  dosen pengampu. 2.    Banyak hal positif yang dapat diperoleh mahasiswa terkait dalam pembelajaran yang berbasis internet ini, misalnya: menyenangkan, mandiri, praktis, baik, fleksibel, efisien, efektif, bisa chatting, dapat materi lebih awal,  memotivasi, materi lebih lengkap, membantu pembelajaran, dapat mendownload, lebih berinteraksi, dapat menerapkan pembelajaran baru, dan mendapatkan pengalaman seara langsung, 3.    Pembelajaran yang berbasis elektronik ini secara nyata dapat meningkatkan prestasi belajar mahasiswa dengan jumlah kunjungan partisipasi rata-rata 68 kali, nilai tugas 85,5 dan nilai UTS rata-rata 85,2.   SARAN 1.    Perlu adanya sosialisasi kepada dosen  di lingkungan Unesa untuk  menerapkan pembelajaran e-learning mengingat banyak mahasiswa yang memberikan tanggapan yang positif yang pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar 2.    Untuk mendukung kegiatan yang berbasis internet perlu adanya  sarana pendukung seperti hot spot di lingkungan Unesa yang konsisten   DAFTAR PUSTAKA   Suyanto,  Asep, H., 2005. Mengenal e-learning. http://www.asep hs.web.ugm.ac.id   Depdiknas. 2002. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Depdiknas, Jakarta   Koran, J.K.C. 2002. Aplikasi E-learning dalam Pengajaran & Pembelajaran di Sekolah-sekolah Malaysia: Cadangan Pelaksanaan pada Senario Masa Kini. Pasukan Projek Rintisan Sekolah Bestari Bahagian Teknologi Pendidikan, Kementerian Pendidikan Malaysia, Kualalumpur   Oetomo, B.S.D. dan Priyogutomo, Jarot. 2004. Kajian Terhadap Model e-Media dalam Pembangunan  Sistem e-Education. Makalah Seminar Nasional Informatika 2004. Universitas Ahmad Dahlan 21 Februari 2004, Yogyakarta   Purbo, Onno, W., 2002. E-Learning Berbasis PHP & MySQL. Penerbit Elex Media Komputindo, Jakarta   Pannen, Paulina, 1999. Cakrawala Pendidikan. Universitas Terbuka, Jakarta   Siahaan, Sudirman. 2002. Studi Penjajagan Tentang Kemungkinan Pemanfaatan Internet Untuk  Pembelajaran SLTA di Wilayah Jakarta dan Sekitarnya. Dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Tahun Ke-8, No. 039, November 2002. Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta   Slameto, 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta, Jakarta   Soekartawi, 2002. Pembelajaran Elektronik (E-Learning). Rafa Pustaka, Jakarta   Sugandi, Achmad, 2000. Belajar dan Pembelajaran. IKIP PRESS, Semarang   Sugandi, Achmad, dkk. 2004. Teori Pembelajaran. Semarang: UPT MKK     UNNES   Sukarmin, 2011, Petunjuk Penggunaan Situs E Learning Unesa bagi Dosen. Surabaya:  UPT P4 Universitas Negeri Surabaya   Tim PLPG Unesa, 2011. Modul PLPG Geografi Rayon 114 Universitas Negeri Surabaya. Unipress, Surabaya   Tim UPT P4 UNESA, 2008. Buku Pedoman Program Pengalaman Lapangan Universitas Negeri Surabaya. Unipress, Surabaya   Wikipedia, 2009, Pengertian E-Learning, wikipedia.com.   Wulf, 1996. Training via Internet: Where Are We? Training & Development 50 No.5.   ______________, 2011. Buku Pedoman Akademik Tahun 2011. Surabaya: Unipress Universitas Negeri Surabaya   Arikunto, Suharsimi, 2000. Manajemen Penelitian. PT. Rineka Cipta, Jakarta.
PENGARUH SANITASI LINGKUNGAN DAN PERILAKU SEHAT SANTRI TERHADAP KEJADIAN SKABIES DI PONDOK PESANTREN KABUPATEN PASURUAN JAWA TIMUR Kuspriyanto,
Pendidikan Geografi Vol 11, No 21 (2013)
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak :  Skabies dikenal sebagai penyakit gudiken yang sangat menular terhadap siapa saja baik anak-anak, muda, dewasa maupun tua. Penyakit kulit yang disebabkan oleh mikro-organisme (mite) Sacraptes scabiei var haminis yang membuat terowongan didalam kulit; mengakibatkan rasa gatal yang hebat dan dapat menimbulkan infeksi sekunder, masih dijumpai di pondok pesantren. Infestasi scabiei pada orang dapat dicegah apabila kondisi hunian memenuhi syarat kesehatan, dan perilaku yang sehat penghuninya.   Kata kunci : Skabies, perilaku sehat   PENDAHULUAN Skabies merupakan penyakit kulit menular yang dapat terjadi di mana saja dan terhadap siapa saja. Penyakit ini disebabkan Infestasi scabiei var hominis melakukan kontak langsung maupun tidak langsung maupun tidak langsung (Sungkar, 1997). Penderita mengeluh rasa gatal yang menghebat pada malam hari dan kemudian timbul erupsi kulit pada tempat-tempat predileksi, terutama bagian kulit yang tipis, llipatan dan sabagainya. Akibat samping dari scabies adalah timbulnya infeksi sekunder yang lebih parah dan akan menggangu produktivitas kerja penderitanya serta menularlkannya kepada orang lain (Harahap, 2000). Salah satu tempat untuk mempersiapkan generasi mendatang adalah pondok pesantren. Tempat ini menyediakan tempat pemondokan kepada santri-santrinya selama menempuh pendidikan. Berdasarkan UU RI No. 23/1992 tentang kesehatan ; pemerintah dalam hal ini petugas di bidang kesehatan lingkungan melaksana-kan kegiatan berupa pengawasan dan pembinaan terhadap tempat-tempat umum, termasuk didalamnya adalah pondok pesantren. Oleh karema itu diterbitkan syarat dan standar kesehatan lingkungan tempat-tempat umum (Depkes RI, 1993). Hasil observasi awal di pondok-pondok pesantren wilayah kabupaten Pasuruan diperoleh data masih tingginya prevalensi scabies yaitu 64%. Kemungkinan masih tingginya privalensi scabies tersebut karena kurang baiknya sanitasi dasar di lingkungan pondok pesantren  atau kemungkinan masih kurang baiknya perilaku sehat santrinya. Dari uraian tersebut di atas, rumusan masalahnya adalah 1) apakah ada pengaruh faktor-faktor  sanitasi dasar lingkungan pondok pesantren terhadap kejadian scabies ?; 2) apakah ada pengaruh perilaku sehat santri terhadap kejadian scabies?; 3) faktor-faktor apa saja yang paling berpengaruh terhadap kejadian scabies?   METODE PENELITIAN Dengan menggunakan cara acak bertahap (multi stage random sampling) dan rumus besar sampel oleh Lemeshow (1997), diperoleh jumlah sampel sebesar 288 santri yang menyabar di 6 pondok pesantren. Sedangkan penentuan sakit scabies melalui keluhan santri berupa gejala-gejala khas awal dari scabies dan diperkuat adanya pemeriksaan kanal (terowongan) pada kulit penderita oleh dokter. Sedangkan variabel-variabel yang diteliti adalah variabel independen yang kemungkinan dapat mempengaruhi terjadinya scabies meliputi : penyediaan air bersih, kepadatan hunian, kondisi ruang, ventilasi ruang dan tata ruang, serta perilaku sehat, lama tinggal dan umur santri. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kejadian scabies. Untuk menganalisis pengaruh faktor resiko terhadap efek, digunakan uji statistik regresi logistik sederhana dan regresi logistik ganda. HASIL DAN PEMBAHASAN Dengan dasar data variabel dependen bersifat dikotomus (sehat dan sakit scabies) maka cara analisis yang digunakan adalah uji statistik regresi logistik sederhana dan regresi logistik ganda.   Pengaruh penyediaan air bersih terhadap kejadian scabies Di dalam penelitian ini penyaediaan air bersih dibagi dalam dua kategori berdasarkan sumber air yaitu sumber air berasal dari sungai dan sumur pompa/gali. Dari data yang diperoleh dilapangan, sebagian besar santri manggunakan air sungai sebagai sumber air bersih (72,9%) dan hanya 27,1% yang menggunakan sumur pompa/gali. Sedangkan hasil perhitungan regresi logistik sederhana, insiden scabies yang menggunakan air sungai mencapai 59% dengan nilai probabilitas (p) sebesar 0,020 berarti < α = 0,05 dan odds ratio 0,536.Dengan demikian penyediaan air bersih berpengaruh terhadap kejadian scabies. Dari odds ratio sebesar 0,536 berarti santri yang menggunakan air sungai kemungkinan terkena scabies sebesar 1/ 0,536 (1,866 = 2) kali lebih besar dari santri yang menggunakan air sumur. Penyediaan air bersih yang kurang baik kualitas maupun kuantitas merupakan pendukung di dalam scabies, sebab S.scabiei organisme penyebab scabies akan mati dan hilang apabila tersedia air dengan baik dan cukup. Sedangkan sungai pada umumnya tempat pembuangan berbagai limbah, karena itu pemanfaatan sungai secara langsung sebagai sumber air baik hanya untuk MCK apalagi untuk memasak dan minum mengandung resiko untuk terkena penyakit.     Pengaruh kepadatan hunian terhadap kejadian scabies Kepadatan hunian adalah perbandingan antara luas lantai yang ditempati untuk tidur setiap santri. Berdasarkan persyaratan kesehatan pemondokan hunian yang baik sebesar ≥ 4 m2 / jiwa. Dalam kenyataan, kepadatan hunian ruangan/bilik pemondokan rata-rata sebesar 1,51 m2 / jiwa. Dengan demikian pemondokan di pondok pesantren masih tergolong padat. Dalam hubungannya dengan kejadian scabies, dengan analisis regresi logistik sederhana diperoleh nilai p = 0,000 berarti < 0,05 dan  odds ratio = 0,072. Dari angka p = 0,000 < 0,05 membuktikan kepadatan hunian mempunyai hubungan yang bermakna terhadap kejadian skabies. Sedangkan odds ratio sebesar 0,072 mempunyai arti bahwa santri yang menempati bilik dengan kepadatan < 4 m2 / jiwa mempunyai resiko 1/0,072 (13,89 = 14) kali lebih besar terkena scabies dibanding santri yang menempati ruangan/bilik yang tidak padat (≥ 4 m2 / jiwa). Variabel kepadatan hunian mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kejadian skabies. Hal ini dapat dijelaskan bahwa dengan kepadatan hunian yang tinggi akan mengakibatkan kontak langsung antar penghuni sangat besar. Apabila dalam satu ruang/bilik terdapat penderita skabies, kemungkinan untuk tertular sangat besar sebab kontak langsung antar penghuni juga sangat besar.   Pengaruh ventilasi ruang terhadap kejadian skabies Ventilasi ruangan adalah lubang angin yang selalu berhubungan dengan udara luar, berfungsi sebagai perputaran udara dalam ruangan (bukan jendela ataupun pintu). Lubang ventilasi dihitung berdasarkan persentase dengan luas lantai. Berdasarkan ketentuan persyaratan kesehatan, ventilasi yang baik adalah antara 7-15% dari luas lantai. Dari hasil penelitian, rata-rata luas ventilasi ruangan di pondok pesantren dibawah minimal yang ditetapkan oleh Depkes yaitu 6,69% dari luas lantai. Dalam hubugannya dengan insiden skabies dengan ventilasi, diperoleh angka perhitungan p = 0,000 dan odds ratio = 0,363. Dengan p = 0,000 berati < 0,05 maka antara ventilasi dengan kejadian scabies terdapat hubungan yang bermakna. Sedangkan angka odds ratio sebesar 0,363 berarti santri yang menempati ruang berventilasi kurang baik (< 7% dari luas lantai) mempunyai resiko terkena skabies sebesar 1/0,363 (2,7 = 3) kali lebih besar disbanding dengan santri yang menempati ruangan dengan ventilasi yang cukup (> 7% dari luas lantai). Hal tersebut dapat dijelaskan, bahwa ruangan dengan ventilasi yang kurang kondisi udara dalam ruang tidak terdapat sirkulasi yang baik. Adanya sirkulasi yang tidak baik, ruangan menjadi panas dan penhuninya akan berkeringat. Jika dalam ruangan tersebut terdapat penderita skabies kemungkinan akan menularkannya lebih besar yaitu melalui kontak langsung.   Pengaruh Kondisi Ruang Terhadap Kejadian Skabies Kondisi ruangan dalam penelitian ini adalah rata-rata  kelembaban relative ruang (dalam satuan %) yang dapat diketahui dengan alat hygrometer. Dalam ketentuan ruagan dengan kelembaban relative > 60% dikatakan lembab dan 40-60% normal serta < 40% kering. Dari hasil pengukuran rata-rata kelembaban relative ruangan di pondok pesantren sedikit diatas 60% yaitu 62,25%. Hasil perhitungan uji statistik diperoleh nilai p = 0,003 dengan odds-ratio sebesar 0,457. Dengan nilai p = 0,003 < 0,05 berarti terdapat hubungan yang bermakna antara kondisi ruangan dengan kejadian skabies. Sedangkan nilai odds-ratio sebesar 0,457 berarti santri yang menempati ruangan yang lembab (> 60%) kemungkinan untuk terkena skabies 1/0,457 atau (2,188 = 2) kali lebih besar disbanding dengan santri yang menempati ruangan yang normal (40-60%). Seperti juga keadaan ventilasi, ruangan yang lembab bukan faktor yang berdiri sendiri tanpa sebab lain. Oleh sebab itu variabel ini dipengaruhi juga faktor lain seperti keadaan iklim setempat, kondisi ventilasi ruangan, tingkat kepadatan  ruangan, intentas sinar matahari yang masuk dalam ruangan dan sebagaimya. Namun dalam hubungannya kejadian skabies, sama seperti ventilasi, hanya yang perlu diprthatikan bahwa masa hidup Scabies akan lebih lama di luar kulit manusia apabila kondisi ruangan lembab mencapai 19 hari, sedangkan dalam kondisi biasa (normal) tungau (mite) ini hanya tahan diluar kulit manusia selama 2-3 hari (Kusmarinah dan Siti Aisyah 1985; Harahap, 1988). Dengan masa hidup diluar kulit lebih panjang, maka organism ini dapat leluasa pindah ke orang lain. Pengaruh Tata Ruang Dengan Kejadian Skabies Tata ruang merupakan kelengkapan suatu pemondokan, pemondokan yang sehat terdiri atas pembagian ruang berdasarkan fungsinya antara lain terdiri atas ruang tidur, ruang belajar, gudang, kamar mandi/WC, dapur dengan konstruksi yang kuat dan baik. Dalam penelitian ini, kategori tata ruang dilihat dari fungsi atau tidaknya tata ruang yang ada, sebab rata-rata ruang/bilik yang ada di pondok pesantren sudah ada tata ruangnya. Dari hasil uji statistik ternyata tata ruang dan fungsinya tidak mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian skabies, karena nilai p = 0,981 dengan odds ratio sebesar 1,007. Dengan nilai p = 0,981 > 0,05 berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara tata ruang dengan kejadian skabies. Sedangkan angka odds ratio sebesar 1,007 berarti 1/1,007 = 0,993 sehingga antara santri yang menempati bilik dengan tata ruang maupun tidak ada tata ruang risikonya 1 : 1 atau sama saja terhadap kejadian skabies. Variabel ini perannya sangat kecil dalam hubungannya dengan kejadian skabies sebab variabel ini akan berperan apabila diikuti variabel-variabel yang lain seperti adanya peraturan pondok, kebiasaan tidur, kebiasaan belajar dan sebagainya.   Pengaruh Perilaku Sehat Terhadap Kejadian Skabies Perilaku sehat yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah tindakan sehari-hari yang dilakukan oleh santri dalam mencegah terjadinya skabies, menjaga kesehatan diri dan pengobatan yang baik. Perilaku sehat ini dapat diketahui melalui jawaban santri yang diperoleh dari sejumlah pertanyaan yang diajukan dengan kuesioner kemudian dikategorikan dalam perilaku sehat dan kurang sehat. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa perilaku sehat santri di dalam mencegah, menghadapi skabies serta pengobatannya pada umumnya masih rendah. Dari uji statistik hubungan antara perilaku sehat dengan kejadian skabies diperoleh nilai p = 0,000 dan odds-ratio sebesar 0,301. Dengan nilai p =  0,000 < 0.05 berarti perilaku sehat dengan kejadian skabies terhadap hubungan yang bermakna, dan nilai odds ratio sebasar 0,301 berarti perilaku yang kurang sehat mempunyai resiko 1/0,301 atau 3,32 = 3,5 kali lebih besar dibanding dengan santri yang berperilaku sehat. Faktor risiko ini berperanan penting dalam kejadian skabies baik berperan dalam mendukung terjadinya kontak langsung maupun tidak langsung. Dalam kontak langsung dapat berupa kebiasaan sehari-hari dalam mempererat tali silaturohmi sesama santri berupa salam dengan berjabat tangan pada saat bertemu maupun sesudah melaksanakan ibadah sholat. Sedangkan tidak langsung berupa kebiasaan pinjam-meminjam pakaian, handuk, perlengkapan sholat atau peralatan yang lainnya. Kebiasaan lainnya adalah menjaga kesehatan diri maupun tempat tinggalnya (ruangan) seperti cara mandi, mencuci, menjemur perlengkapan dan alat tidur dan sebagainya masih belum mencapai apa yang diharapkan. Sedangkan cara pengobatan skabies masih belum baik seperti misalnya apabila dalam satu ruangan ada penderita seharusnya penghuni lainnya juga perlu diobati, pemberian obat cukup sekali, dalam praktenya sampai berkali-kali.   Pengaruh Lama Tinggal Santri Terhadap Kejadian Skabies Variabel lama tinggal dihitung dari sejak kapan santri terdaftar dan tinggal di pemondokan sampai dengan pelaksanaan penelitian dalam satuan tahun. Dengan perhitungan tersebut, lama tinggal dibagi dalam dua kategori, yaitu santri baru (≤ 1 tahun) dan santri lama ( > 1 tahun). Dengan uji statistik regresi logistik diperoleh nilai p sebesar 0,000 < 0,05 dan nilai odds-ratio sebesar 0.302. Dengan nilai p sebesar 0,000 < 0,05 maka antara lama tinggal santri dengan kejadian skabies terdapat hubungan yang bernakna. Dengan nilai odds-ratio sebesar 0,302 berarti santri yang baru tinggal < 1 tahun mempunyai ratio terkena skabies 1/0,302 atau 3,5 kali lebih besar daripada santri yang sudah lebih lama ( > 1 tahun). Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa santri yang baru saja tinggal di pondok pensantren tentu menghadapi hal yang baru dan kemungkinan sangat berbeda dengan waktu masih tinggal bersama orang tua atau tempat lain. Dengan demikian perlu adaptasi lingkungan pondok yang sama sekali baru baginya. Kecepatan adaptasi santri yang baru  tinggal tersebut lebih lambat dengan kecepatan menularnya berbagai masalah kesehatan dalam  hal ini skabies. Oleh sebab itu skabies atau gudiken bukan merupakan trade-mark atau identik dengan pondok pesantren, yang sebenarnya dapat dicegah penularannya. Sedangkan santri yang sudah lama tinggal kemungkinan sudah kebal terhadap skabies ataupun sudah tahu cara yang ampuh untuk menghadapinya.   Pengaruh Umur Santri Terhadap Kejadian Skabies   Di dalam pondok pada umumnya berisi santri usia sekolah, yaitu dari tingkat sekolah dasar (SD) sampai sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) bahkan perguruan tinggi (PT). Pembagian umur dalam penelitian ini terdiri atas kelompok anak-anak (≤ 13 tahun), remaja (14-16 tahun), muda dewasa (17-19 tahun) dan dewasa (> 19 tahun). Dengan menggunakan uji regresi logistik sederhana, ternyata hubungan antara umur santri dengan kejadian skabies tidak bermakna, karena p = 0,972 > 0,05 dengan odds-ratio  1,004. Dengan demikian berdasarkan uji statistik ternyata faktor umur santri tidak berpengaruh terhadap kejadian skabies. Kenyataan ini membuktikan bahwa skabies tidak pandang bulu terhadap umur, sehingga dapat menyerang siapa saja. Untuk mengetahui faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian skabies, maka dilakukan uji statistik regresi logistik ganda. Dari 8 variabel yang kemungkinan dapat berpengaruh terhadap kejadian skabies ternyata ada 6 variabel yang dapat dimasukkan dalam uji statistik regresi logistik ganda, dan diperoleh hasil perhitungan yang disajikan pada Tabel 1.   Tabel 1.Uji Statistik Regresi Logistik Ganda Tahapan Variabel ᵦ S.E. Wald df P Odds-ratio Step 4 HUNIAN 1) -2.305 .469 24.197 1 .000 -100   PERILAKU 1) .685 .281 5.603 1 .018 .514   LAMA TING1) .859 .274 9.817 1 .002 .423   Constant 2.596 .472 30.262 1 .000 13.411         (Tabel tersebut di atas diperoleh dari print-out computer paket statistik uji) Dari perhitungan uji regresi logistik ganda, dapat diketahui bahwa : 1.    Variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian skabies adalah kepadatan hunian (p – 0,000, lama tinggal santri (p - 0,002), dan perilaku sehat santri (p – 0,008). 2.    Odds-ratio ke tiga variabel sebagai berikut : a)    Kepadatan hunian (0,100) artinya santri yang tinggal di pondok yang padat kemungkinan untuk terkena skabies 1/0,100 = 10 kali lebih besar daripada santri yang tinggal di pondok tidak padat. b)   Lama tinggal (0,423) artinya santri yang tinggal belum lama (baru ≤ 1 tahun) kemungkinan untuk terkena skabies 1/0,423 = 2 kali lebih besar daripada santri yang sudah lama tinggal c)    Perilaku sehat (0,514) artinya santri yang berperilaku kurang sehat kemungkinan untuk terkena skabies 1/0,514 = 2 kali lebih besar daripada santri yang berperilaku sehat. 3.    Dengan melihat nilai   pada table di atas, dapat ditulis dalam bentuk model sebagai berikut : g (x) =  -2,596 (konstanta) + 2,305 (hunian) + 0,859 (lama tinggal) + 0,665 (perilaku) Untuk mengetahui nilai probabilitas seseorang akan sehat atau sakit skabies maka dapat dimasukkan kondisi orang tersebut pada model di atas, dan nilai probabilitasnya dihitung dengan persamaan sebagai berikut :  P(x)    = 1 : { 1 + e-g(x)} = 1 : { 1 + (-2,596+2,305 (hunian) + 0,859 (lama tinggal) + 0,665 (perilaku)}             = 1 : { 1 + 3,9036}             = 1 : 4,9036             = 0,2039 Artinya santri yang menempati bilik yang padat, berperilaku tidak sehat dan lama tinggal kurang dari 1 tahun, probabilitasnya 0,2039 (berpeluang untuk terkena scabies).   KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1.    Insiden scabies di pondok pesantren masih cukup tinggi yaitu 54,9%. 2.    Kondisi sanitasi dasar lingkungan pondok pesantren masih rendah dan tidak      memadai sehingga sering menimbulkan masalah kesehatan antara lain masih terdapatnya kejadian scabies di pondok pesantren. 3.    Kondisi yang paling mendesak diperhatikan adalah kepadatan hunian santri dan peningkatan pendidikan kesehatan di pondok-pondok pesantren.   Saran 1.    Perlunya peningkatan sarana dan prasarana pondok dengan melibatkan pemerintah daerah melalui APBD di bidang pendidikan mengingat pondok pesantren sebagai salah satu lembaga yang mempersiapkan generasi mendatang. 2.    Partisipasi semua pihak untuk meningkatkan hidup sehat dikalangan pesantren masih sangat diperlukan melalui program Departemen Kesehatan, program bakti sosial lembaga-lembaga pendidikan tinggi. 3.    Segala bentuk partisipasi dari luar pondok tidak akan berarti apabila didalam pondok sendiri tidak berusaha untuk keluar dari masalahnya.   DAFTAR PUSTAKA Amsyari, Fuad. 1996. Membangun Lingkungan Sehat : Menyambut 50 Tahun Indonesia Merdeka. Surabaya : Airlangga University Press.   Depkes RI, 1993. Persyaratan Kesehatan Lingkungan Tempat-tempat Umum. Jakarta: Dirjen P2M dan PLP Depkes RI (hal. 29 – 34).   Depkes RI, 1995. Petunjuk Teknis Perbaikan Kualitas Air di Tempat Pendidikan Agama/Pondok Pesantren. Jakarta: Dirjen P2M dan PLP Depkes RI (hal. 1 – 4).   Harahap, M, 1998. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta : Hipokrates.   Kusmarinah dan Siti Aisyah, 1985. Skabies. Majalah Dermatologi Venereologi Indonesia (MDVI) Th. XII No. 33 (20-27).   Lemeshow, Stanley, 1997. Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan. Terjemahan dari Adequacy of Sample Size in Health Studies oleh Dibyo Pramono. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Hal. (57 – 60).   Riono, Pandu, 1992. Aplikasi Regresi Logistik, Jakarta : FKM-UI.   Subarniati, T., Rika, 1996. Dasar-dasar Pendidikan Kesehatan dan Perilaku, Surabaya : FKM – Universitas Airlangga.   Sungkar, Saleba, 1992. Cara Pemeriksaan Kerokan Kulit Untuk Menegakkan Diagnosis Skabies, Medika No. 7 Th. 18, 31 Juli 1992. (60 – 62).   _____________, 1997. Skabies. Majalah Kedokteran Indonesia, Vol. 47 No. 1, Januari 1997 (hal. 33 – 42).
PENGARUH E-LEARNING DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR MAHASISWA Sukma Perdana Prasetya,
Pendidikan Geografi Vol 11, No 21 (2013)
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Penelitian ini  bertujuan:  (1) menguji perbedaan hasil belajar antara mahasiswa yang menerapkan e-learning berbasis web-facilitated dan tradisional, (2) menguji perbedaan hasil belajar antara mahasiswa yang memiliki motivasi belajar tinggi dan rendah (3) menguji interaksi antara e-learning dan motivasi belajar terhadap hasil belajar. Penelitian kuasi eksperimen ini menggunakan desain  faktorial 2 x 2. Subjek penelitian  adalah Mahasiswa Pendidikan Geografi, FIS, Unesa yang memprogram mata kuliah Geografi Politik semester genap tahun  ajaran 2012/2013. Data hasil belajar dikumpulkan  dengan tes hasil belajar  dalam bentuk uraian dan data motivasi belajar dikumpulkan dengan angket motivasi belajar. Data yang terkumpul diolah secara statistik  dengan menggunakan teknik analisis varians (anava) dua jalur dengan menggunakan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) ada perbedaan yang signifikan hasil belajar antara kelompok mahasiswa antara mahasiswa yang menerapkan e-learning berbasis web-facilitated dan tradisional (Fhitung = 6,331; p = 0,021.)  (2) ada perbedaan yang signifikan hasil belajar antara mahasiswa yang memiliki motivasi belajar tinggi dan rendah (Fhitung = 6.332; p = 0,021) dan (3) ada  interaksi antara e-learning dan motivasi belajar terhadap hasil belajar (Fhitung = 4.326; p =  0,036).   Kata Kunci: e- learning, motivasi belajar, hasil belajar     PENDAHULUAN Penyampaian  materi pada matakuliah Geografi Politik di Jurusan Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Surabaya diajarkan masih berkutat pada pengungkapan fakta yang menekankan hafalan seperti menjelaskan definisi, ruang lingkup, dan manfaat Geografi Politik. Sedangkan aspek kognitif yang lebih tinggi seperti menganalisis, mengevaluasi dan  mengkreasi belum dikembangkan secara optimal. pembelajaran  masih menggunakan metode  berupa ceramah. Mahasiswa kurang dilibatkan dalam proses pembelajaran, dimana mahasiswa diminta mendengar dan menghafal serangkaian materi dari dosen. Penerapan metode belajar tersebut menyebabkan hasil belajar yang diperoleh mahasiswa menjadi rendah. Untuk  mencapai tujuan pembelajaran yang ideal diperlukan metode pembelajaran yang inovatif dan menarik. Penerapan metode  ceramah membuat partisipasi mahasiswa relatif rendah. Sebagian besar mahasiswa hanya mampu meniru apa yang dikerjakan dosen. Mahasiswa tidak mampu menggunakan buku teks secara efektif. Mereka cenderung mencatat kembali konsep-konsep yang sudah ada dalam buku teks, sehingga menghabis-kan banyak waktu dan pembelajaran jadi tidak efisien. Mahasiswa cenderung tidak menunjukkan minat yang baik terhadap matakuliah Geografi Politik.  Hasil prates Geografi Politik mahasiswa angkatan 2011 A,B, dan C rata-rata 64,52.  Fakta ini menunjukkan  bahwa mahasiswa  belum memiliki pengetahuan awal baik. Skor rata-rata prates yang rendah ini mengindikasikan perlunya dilaksanakan inovasi pembelajaran Geografi Politik agar mahasiswa dapat meningkatkan hasil belajarnya dengan nilai yang lebih baik. Inovasi pembelajaran yang dilakukan pada pembelajaran Geografi Politik  melalui penerapan e-learning berbasis web-faclitatated. Penyempurnaan metode pembelajaran,  dimana  semula pembelajaran dilakukan secara tradisional dan bersifat statis di dalam kelas dengan sedikit sumber, ditambah dengan menggabungkan  pemberian materi, penugasan dan evaluasi tambahan melalui teknologi web (Web Facilitated).   Gambar 1 menyajikan posisi e-learning berbasis web-faclitated dan tradisional Melalui penerapan e-learning dosen dapat mengelola pembelajaran lebih fleksibel, yaitu: meng-upload silabus, meng-upload RPP, meng-upload materi, memberi tugas,  menerima tugas, melaksanakan e-test/e-quiz, memberi nilai, memantau partisipasi mahasiswa, berinteraksi antara dosen dan mahasiswa melalui menu pojok diskusi dan chat, dan lain sebagainya. Pembelajaran  web-facilated sangat memungkinkan dilaksanakan dalam perkuliahan Geografi Politik, dimana perkuliahan tatap muka di kelas dilaksanakan sebanyak minimal 70%, sedangkan  maksimal 30% mahasiswa dapat mengakses materi di web yang telah dirancang oleh dosen atau dapat mengakses informasi dari web lain (Prasetya, 2011). Tabel 1 menyajikan metode pembelajaran dalam pemanfaatan e-learning. Selain metode  pembelajaran, hal lain yang perlu dipertimbangkan  dalam mempengaruhi hasil belajar adalah karakteristik pebelajar. Salah satu karakteristik pebelajar yang perlu dipertimbangkan adalah motivasi belajar. Reigeluth (1983) memperlihatkan tiga hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran, yaitu: (1) kondisi pembelajaran yang di dalamnya terdapat karakteristik pebelajar (motivasi belajar), (2) strategi pembelajaran, dan (3) hasil pembelajaran. Kerangka teori pembelajaran disajikan pada Gambar 2   Tabel 1. Pemanfaatan E-learning Prosentase Pembelajaran Metode Deskripsi 0% Tradisional Pembelajaran memanfaatkan fasilitas Online, komputer dimanfaatkan sebagai media  visual Pembejajaran dengan tatap muka di kelas. 1 ≤ 30% Web Facilitated Pemanfaatan web dalam proses pembelajaran untuk membantu peningkatan penguasaan bahan ajar yang tidak terpenuhi dalam proses tatapmuka (pemberian materi tambahan melalui teknologi web). Pemanfaatannya lebih banyak pada pengumpulan tugas (assignments) 31 ≤ 70% Blended/ Hybrid Proses pembelajaran menggunakan kombinasi antara bahan ajar berbasis web dan tatap muka. Porsi pembelajaran online lebih besar dari tatap muka. Dalam proses pembeljaran, interaksi (forum didkusi) lebih banyak dilakukan. 100 % Online Seluruh proses pembelajaran melalui online. Tidak ada pembelajaran tatap muka. Sumber: Praherdiono, 2009                 Gambar     2 Kerangka Teori Pembelajaran (diadaptasi dari Regeluth, 1983)            Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) menguji perbedaan hasil belajar antara mahasiswa yang menerapkan e-learning berbasis web-facilitated dan e-learning berbasis tradisional, 2) menguji perbedaan hasil belajar antara mahasiswa yang memiliki motivasi belajar tinggi dan rendah, 3) menguji interaksi antara penerapan  e-learning dan motivasi belajar terhadap hasil belajar.   METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian Metode yang dipilih dalam penelitian ini adalah metode kuasi eksperimen dengan rancangan faktorial 2 x 2.  Variabel bebas adalah penerapan e-learning yang berbasis web-facilitated dan e-learning yang berbasis tradisional. Kemudian variabel bebas atribut (moderator) adalah motivasi belajar yang diklasifikasikan menjadi dua, yaitu  motivasi belajar tinggi dan  motivasi belajar rendah. Sedangkan variabel terikatnya adalah hasil belajar domain kognitif, yang diukur pada level tingkat tinggi berupa menganalisis, mengevaluasi dan mengkreasi. Tabel 2 menyajikan rencana analisis data penelitian.   Tabel 2  Rancangan Analisis Data Penelitian                       Variabel                       perlakuan                       (A) Variabel atribut (B) e-learning Web-facilitated (A1) tradisional (A2) Motivasi belajar Tinggi (B1) A1B1   A2B1 Rendah(B2)     A1 B2   A2B 2   A1B1   = e-learning berbasis web-facilitated dengan motivasi belajar tinggi A2B1      =  e-learning berbasis tradisional dengan motivasi belajar tinggi A1B2 = e-learning berbasis web-facilitated dengan motivasi belajar rendah A2B2    =   e-learning berbasis tradisional dengan motivasi belajar rendah     Penelitian didesain dimana dua variabel atau lebih  dimanipulasi pada waktu yang sama untuk dipelajari efek-efek yang disebabkan karena interaksi-interaksi beberapa variabel. Peneliti menaruh perhatian pada variabel bebas, dan ingin menilai baik efek-efeknya secara terpisah, maupun secara bersama. Kedua variabel bebas dimanipulasi, disain ini memungkinkan diadakan analisis dari efek-efek utama untuk kedua variabel eksperimen maupun analisis antara perlakuan-perlakuan. Desain faktorial membagi kelompok-kelompok berdasarkan jumlah macam perlakuan dan kelompok yang akan diteliti.  Rancangan prosedur penelitian sebagai disajikan pada Tabel 3.   Tabel  3  Prosedur Penelitian   Kelompok Prates Perlakuan pada kelompok postes 1 O1 X1Y1 O2 2 O1 X1Y2 O2 3 O1 X2Y1 O2 4 O1 X2Y2 O2 Diataptasi dari Tuckman,1999   Keterangan:  X1= e-learning berbasis web-facilitatetd X2= e-learning berbasis tradisional Y1= motivasi belajar tinggi Y2= motivasi belajar rendah O1  = prates O2  = postes   Subjek Penelitian Subjek penelitian adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Geografi, FIS, Unesa angkatan 2010 yang memprogram mata kuliah Geografi Politik pada semester Genap 2012/2013. Subjek ditetapkan dalam penilitian ini melalui tahapan menetapkan kelas yang seluruh mahasiswanya akan mendapat perlakuan e-learning berbasis web-facilitated (kelas eksperimen) dan perlakuan e-learning berbasis tradisional (kelas kontrol). Tabel 4 menyajikan subjek penelitian.         Tabel 4. Subjek Penelitian Mahasiswa Pendidikan Geografi  semester Genap 2012-2013   Kelompok Kelas Jumlah Kontrol 2010 A 52 Eksperimen 2010 B 26 2010 C 30   Prosedur Penelitian    Dalam pelaksanaan eksperimen diterapkan langkah-langkah sebagai berikut: (1) memberikan  inventory motivasi belajar. Mahasiswa diberikan instrumen mengenai motivasi belajar dengan tujuan untuk mengidentifikasikan motivasi belajarnya (tinggi atau rendah), (2) melaksanakan prates dengan menggunakan instrumen tes hasil belajar dalam bentuk esai untuk menguji kemampuan awal mahasiswa mengenai materi Geografi Politik yang hendak dipelajari, (3) melaksanakan perlakuan pembelajaran (eksperimen), dan (4) melaksanakan postes. Setelah kegiatan eksperimen berupa pemberian perlakuan pembelajaran selama delapan kali pertemuan sudah dilaksanakan, maka kedua kelompok diberi tes akhir atau postes. Tes akhir ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh  perlakuan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol terhadap hasil belajar Geografi Politik dan interaksi pengaruh antara variabel bebas dan variabel moderator terhadap hasil belajar.       Instrumen Penelitian Instrumen penelitian terdiri dari: (1) tes hasil belajar yang terdiri dari prates dan postes,  (2) inventory motivasi belajar. Instrumen tes hasil belajar ini diberikan sebelum dan sesudah perlakuan (prates dan postes). Tes digunakan untuk menentukan hasil dari perlakuan yang diterapkan. Tes berupa uraian yang terdiri dari 10 soal dengan nilai masing-masing soal 0 sampai 5 sehingga nilai maksimal yang dicapai 50. Nilai hasil belajar dihitung dengan cara membagi jumlah total nilai yang diperoleh dengan 5 kemudian dikali 10. Dengan demikian apabila mahasiswa memperoleh nilai sempurna maka hasil belajarnya akan mendapat nilai 100. Nilai akhir mengacu pada standar penilaian perguruan tinggi yaitu antara 0-100. Analisis data penelitian menggunakan hasil yang diperoleh dari postes. Jenjang kemampuan diukur mencakup ranah menganalisis, mengevaluasi dan mengkreasi. Untuk mengumpulkan data motivasi belajar mahasiswa digunakan instrumen motivasi belajar. Instrumen motivasi belajar digunakan untuk menilai apakah mahasiswa mempunyai kecenderungan motivasi tinggi atau motivasi rendah.  Instrumen tersebut terdiri dari 14 butir  pertanyaan.     Teknik Analisis Data Penelitian ini membandingkan perlakuan e-learning berbasis web-facilitated  dan e-learning berbasis tradisional berdasarkan tingkat motivai belajar terhadap hasil belajar. Kemudian melaksanakan analisis adanya interaksi antara penerapan  e-learning dengan motivasi belajar terhadap hasil belajar. Sesuai dengan jenis variabel penelitian ini teknik analisis data yang digunakan adalah analisis varians (anava) dua jalur. Penggunaan  desain faktorial  di dalamnya terdapat variabel bebas, variabel moderator dan variabel terikat. Untuk menganalisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui dua tahap, yaitu tahap uji prasarat dan tahap uji hipotesis. Langkah penelitian disajikan pada Gambar 3.   HASIL  PENELITIAN Deskripsi Data Hasil Penerapan E-learning Data mengenai hasil belajar Geografi Politik dengan menerapkan e-learning berbasis web-facilitated diperoleh skor tertinggi 90 dan skor terendah 60, jumlah mahasiswa (N) 56, skor rata-rata (mean) 79,73, simpangan baku (SD) sebesar 8,022.   Data mengenai hasil belajar Geografi Politik dengan menerapkan e-learning berbasis tradisional diperoleh skor tertinggi 89 dan skor terendah 56, jumlah mahasiswa (N) 52, skor rata-rata (mean) 74,12, simpangan baku (SD) sebesar 9,002.     Deskripsi Data  Hasil Angket Motivasi Belajar   Data hasil belajar materi Geografi Politik dengan menerapkan e-learning berbasis web-facilitated pada mahasiswa yang memiliki motivasi belajar : (1) motivasi tinggi dari subjek (N) 27 diperoleh skor tertinggi 90 dan skor tertendah 64, skor rata-rata (mean) 80,93,   simpangan baku (SD) sebesar 7,46. (2) motivasi rendah dari jumlah subjek (N) 29,  skor tertinggi 86 dan terendah 60, skor rata-rata (mean) 72,22,  simpangan baku 6,856. Data hasil belajar Geografi Politik dengan menerapkan e-learning berbasis tradisional pada mahasiswa yang memiliki motivasi belajar : (1) motivasi belajar tinggi dari subjek (N) 25 diperoleh skor tertinggi 89 dan skor tertendah 59, skor rata-rata (mean) 77,05,   simpangan baku (SD) sebesar 9,069. (2) motivasi rendah dari jumlah subjek (N) 27,  skor tertinggi 88 dan terendah 56, skor rata-rata (mean) 70,26,  simpangan baku 9,573. Pengujian Prasarat Dari hasil uji Lillefors Significance Correction dari Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) melalui uji  Kolmogorov-Smirnov didapat baik untuk hasil belajar e-learning berbasis web-facilitated ataupun e-learning berbasis tradisional, tingkat signifikansi atau probabilitas diatas 0,05 (0,200 dan 0,189 lebih besar dari 0,05), maka dapat disimpulkan  distribusi kedua data hasil belajar adalah normal, (2) melalui uji Shapiro-Wilk didapat baik untuk hasil belajar e-learning berbasis web-facilitated ataupun e-learning berbasis tradisional, tingkat signifikansi atau probabilitas diatas 0,05 (0,213 dan 0,192 lebih besar dari 0,05) , maka dapat disimpulkan  distribusi kedua data hasil belajar adalah normal. Dari hasil uji Lillefors Significance Correction dari Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) melalui uji  Kolmogorov-Smirnov didapat baik untuk hasil belajar dari motivasi belajar tinggi dan motivasi belajar rendah, tingkat signifikansi atau probabilitas diatas 0,05 (0,156 dan 0,200 lebih besar dari 0,05) , maka dapat disimpulkan  distribusi kedua data hasil belajar berdasarkan motivasi belajar adalah normal, (2) melalui Shapiro-Wilk didapat baik untuk hasil belajar dari motivasi belajar tinggi dan motivasi belajar rendah, tingkat signifikansi atau probabilitas diatas 0,05 (0,398  dan 0,220 lebih besar dari 0,05), maka dapat disimpulkan  distribusi kedua data hasil belajar berdasarkan motivasi belajar adalah normal. Dari hasil perhitungan data hasil belajar dengan bentuan komputer program SPSS versi 16  diperoleh hasil hitung statistik Lavene dengan tingkat signifikansi  atau probabilitas mean (rata-rata)  berada diatas 0,05 (0,491 lebih besar dari 0,05). Demikian pula  jika dasar pengukuran  adalah median data  angka signifikansi adalah 0,312 yang tetap diatas 0,05. Maka  dapat disimpulkan H0 diterima, sehingga dapat diartikan bahwa variansi sampel homogen. Dengan memperhatikan hasil pengujian kedua prasarat tersebut, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas, maka dapat disimpulkan bahwa untuk pengujian analisis varians (anava) dapat dilakukan.   Pengujian Hipotesis Dari hasil perhitungan data hasil belajar Geografi Politik diperoleh  harga Fhitung = 6,851 dengan taraf signifikansi  0,022. Hal ini menunjukkan bahwa taraf signifikansi α = 0,022 berada di bawah angka signifikansi 0,05 (0,022 < 0,05). Dengan demikian H0 ditolak. Ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar Geografi Politik antara kelompok mahasiswa yang mendapat perlakuan e-learning berbasis web-facilitated ataupun e-learning berbasis tradisional. Dari hasil perhitungan data hasil belajar Geografi Politik diperoleh  harga Fhitung = 6.743 dengan taraf signifikansi  0,014. Hal ini menunjukkan bahwa taraf signifikansi α = 0,014 berada di bawah angka signifikansi 0,05 (0,014 < 0,05). Dengan demikian H0 ditolak. Ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar Geografi Politik antara kelompok mahasiswa yang memiliki motivasi belajar tinggi dan motivasi belajar rendah. Dari hasil perhitungan data hasil belajar  Geografi politik untuk menguji hipotesis mengenai pengaruh interaksi antara penerapan e-learning dan motivasi belajar mahasiswa terhadap hasil belajar Geografi Politik  diperoleh harga Fhitung = 3.529 dengan taraf signifikan α = 0,024 berada di bawah  taraf signifikansi 0,05 (0,024 < 0,05), dengan demikian H0 ditolak. Ini berarti ada pengaruh interaksi antara penerapan e-learning dan motivasi belajar mahasiswa terhadap hasil belajar Geografi Politik.   PEMBAHASAN  Pengaruh E-learning terhadap Hasil Belajar Pengujian hipotesis menunjuk-kan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan  antara kelompok mahasiswa yang belajar dengan e-learning berbasis web-facilitated dan kelompok mahasiswa yang  belajar dengan e-learning berbasis tradisional. Berdasarkan perhitungan nilai rata-ratanya, secara keseluruhan penerapan e-learning berbasis web-facilitated mempunyai pengaruh yang lebih baik daripada penerapan e-learning berbasis tradisional terhadap hasil belajar Geografi Politik. Ada beberapa faktor yang  menjadi penyebab  perolehan hasil belajar pada penerapan e-learning berbasis web-facilitated lebih unggul dibandingkan dengan e-learning berbasis tradisional. Pertama, e-learning berbasis web-facilitated dapat menantang kemampuan mahasiswa serta memberikan kesempatan untuk menentukan pengetahuan baru bagi mahasiswa karena pengetahuan baru didapat berdasarkan skema  yang dimiliki mahasiswa sehingga pembelajaran lebih bermakna.    Pentingnya pembelajaran bermakna ditegaskan oleh Joyce, Weil & Calhoun (2009), yang mengungkapkan bahwa hakikat mengajar adalah membantu para pebelajar memperoleh makna dari aktivitas pebelajar yang mengolah informasi, ide, ketrampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk mengekspresikan dirinnya, dan bagaimana cara belajar.  Pemaknaan belajar yang dimiliki oleh pebelajar memegang peranan penting. Menurut teori kontruktivis pembelajaran merupakan usaha pemberian makna oleh pebelajar (mahasiswa) pada pengalamannya  melalui asimilasi dan akomodasi  yang menuju pada arah pembentukan struktur kognitifnya (Degeng, 1997). Berbeda dengan e-learning berbasis tradisional yang menekankan  besarnya peran pembelajar (dosen) dalam mencari dan menampilkan sumber belajar melalui internet. Hasil pencarian sumber belajar dari dosen tersebut kemudian ditampilkan di dalam pembelajaran di perkuliahan. Keadaan demikian membuat mahasiswa kesulitan untuk mengembangkan pemahaman yang selama ini lebih sering diajarkan dengan menggunakan metode ceramah. Pembelajaran tersebut  menyebabkan dosen menjadi pusat ataupun sumber utama pengetahuan, sehingga mahasiswa  tidak dapat mengembangkan pola berpikirnya. Mahasiswa cenderung menerima hal yang diberikan dosen. Dosen  kurang memberi kesempatan pada mahasiswa untuk mengolah pengetahuan yang mereka miliki, padahal mahasiswa sendiri memiliki pengetahuan dasar untuk dapat dikembangkan. Kedua, Desain pembelajaran dengan memanfaatkan akses internet mempunyai  3 dimensi yaitu, dimensi teknologi, tugas, dan sosial. Dimensi Teknologi sebagai alat komunikasi yang memungkinkan transaksi pembelajaran dapat berlangsung misalnya  ketersediaan perangkat keras (komputer atau laptop), jaringan internet dan kemampuan mengakses informasi. Dimensi Tugas-tugas terdiri dari konten pembelajaran, sumber dari web lain, kegiatan e- test, tugas materi dan aktifitas-aktifitas yang digunakan dalam pembelajaran. Dimensi Sosial mengarah pada interaksi mahasiswa selama proses pembelajaran  virtual tersebut (Prasetya, 2011). Ketiga, Web faciltated memberikan  kesempatan bagi mahasiswa untuk memegang kendali atas kesuksesan belajar masing-masing. Pebelajar tidak hanya menjadi penerima yang pasif melainkan juga menjadi penentu pembelajaran bagi dirinya sendiri,  artinya pebelajar diberi kebebasan untuk menentukan kapan akan mulai, kapan akan menyelesaikan, dan bagian mana dalam suatu konten yang ingin dipelajarinya terlebih dulu. Mereka   bisa mulai dari topik-topik ataupun halaman yang menarik minatnya terlebih dulu, ataupun bisa melewati saja bagian yang ia anggap sudah ia kuasai. Jika ia mengalami kesulitan untuk memahami suatu bagian, mereka  bisa mengulang-ulang lagi sampai merasa mampu memahami. Seandainya, setelah diulang masih ada hal yang belum dipahami, mahasiswa dapat menghubungi dosen selaku nara sumber melalui email atau ikut dialog interaktif pada waktu-waktu tertentu. Komunikasinya juga masih bisa dipilih, mau secara serentak atau tidak. Pebelajaran-pun menjadi lebih bersifat pribadi yang akan memenuhi kebutuhan strategi pembelajaran yang berbeda-beda   Pengaruh Motivasi Belajar terhadap Hasil Belajar   Pada pengujian hipotesis menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok yang memiliki motivasi belajar tinggi dan motivasi belajar rendah terhadap hasil belajar Geografi Politik. Kelompok mahasiswa yang memiliki motivasi belajar tinggi memperoleh hasil belajar lebih baik daripada kelompok mahasiswa yang memiliki motivasi belajar rendah. Motivasi belajar didorong oleh motivasi berprestasi. Mahasiswa yang motivasi berprestasinya tinggi hanya akan mencapai perstasi akademik yang  tinggi apabila ; 1). rasa takut akan kegagalan lebih rendah dari pada keinginannya untuk berhasil, 2) tugas-tugas di dalam kelas cukup memberikan tantangan, tidak terlalu mudah tetapi tidak terlalu sukar, sehingga memberikan kesempatan untuk berhasil. Mengamati upaya meningkat-kan hasil belajar tidak jarang ditemukan adanya Mahasiswa yang kurang memiliki gairah dalam memecahkan masalah yang akan dipecahkan, terutama cara apa yang paling sesuai pada dirinya dan dapat dipakai untuk memecahkan masalah tersebut. Kondisi ini berakibat kurangnya pencapaian hasil belajar. Kurangnya keberhasilan dalam belajar salah satunya disebabkan oleh kurangnya motivasi dalam belajar.   Interaksi E-learning dan Motivasi Belajar terhadap Hasil Belajar   Pada pengujian hipotesis  diperoleh  kesimpulan bahwa terdapat interaksi antara penerapan e-learning dan motivasi belajar terhadap hasil belajar Geografi Pilitik. Artinya, capaian  hasil belajar mahasiswa tidak hanya akibat dari penerapan e-learning, namun juga dipengaruhi oleh karakteristik atau kondisi mahasiswa berupa motivasi belajarnya. Setiap  interaksi antara penerapan e-learning  dengan motivasi belajar, yaitu interaksi penerapan e-learning  berbasis web-facilitateddengan motivasi belajar tinggi (eWF-MT), penerapan e-learning  berbasis web-facilitated dengan motivasi belajar rendah (eWF-MR), penerapan e-learning  berbasis tradisional dengan motivasi belajar tinggi (eT-MT), penerapan e-learning  berbasis tradisional dengan motivasi belajar rendah (eT-MR), memberikan pengaruh berbeda terhadap hasil belajar Geografi Politik. Berdasarkan atas hasil rata-rata menunjukkan bahwa interaksi yang paling baik dalam meningkatkan hasil belajar Geografi Politik adalah interaksi strategi  penerapan e-learning  berbasis web-facilitateddengan motivasi belajar tinggi (eWF-MT) dengan skor 80,93 dan selanjutnya diikuti secara berturut-turut interaksi eT-MT (77,05),  eWF-MR (72,22), dan ET-MR (70,26). Hasil belajar dengan penerapan e-learning  berbasis web-facilitated tidak selalu lebih baik, tergantung motivasi belajar yang dimiliki oleh mahasiswa. Interaksi antara penerapan e-learning  berbasis web-facilitateddengan motivasi belajar tinggi merupakan interaksi yang paling baik dalam meningkatkan hasil belajar Geografi Politik. Kombinasi antara penerapan e-learning  berbasis web-facilitated dengan motivasi belajar tinggi dapat saling memperkuat antara yang satu dengan lainnya. Penerapan  e-learning  berbasis web-facilitateddengan motivasi belajar tinggi mendapat capaian hasil belajar yang lebih baik karena memberi kesempatan kepada pebelajar (mahasiswa) pada pengalaman yang optimal. Pengalaman Optimal mengembang-kan ide relevan  untuk memahami motivasi instrinsik. Pebelajar  lebih termotivasi untuk belajar saat mereka diberi pilihan, senang menghadapi  tantangan yang sesuai dengan kemampuan mereka. Nakamura dan Csikzentmihalyi (dalam Santrock, 2007),  mengembangkan  ide  pengalaman optimal dalam penguasaan teknologi baru dalam pembelajaran akan menghasilkan perasaan senang dan bahagia yang besar. Istilah flow digunakan untuk pengalaman optimal dalam hidup. Pengalaman optimal terjadi ketika individu terlibat dalam  tantangan yang mereka anggap tidak terlalu sulit dan tidak terlalu mudah. Anggapan tentang level tantangan  dan keahlian dapat menghasilkan hasil yang berbeda-beda (Gambar 4). Flow paling mungkin terjadi di area  di mana murid ditantang  dan menganggap diri mereka punya keahlian yang tinggi. Ketika keahlian murid tinggi tetapi aktivitas yang dihadapinya tidak menantang, hasilnya adalah kejemuan. Tantangan di bidang teknologi bagi murid dipandang sebagai aktivitas dunia nyata. Contohnya ketika tugas autentik berbasis komputer (e-learning) juga membutuhkan upaya keras untuk menguasasinya, pebelajar seringkali bersedia melakukan  usaha  itu dalam rangka mencari solusi masalah yang mereka hadapi. Pembelajaran dengan komputer melalui jaringan internet (E-learning) mengandung aplikasi yang relevan secara personal kemungkinan besar akan meningkatkan motivasi pebelajar. Teknologi yang ditujukan untuk membangkitkan minat pebelajar, rasa ingin tahu pebelajar, dan kreativitas pebelajar, besar kemungkinan akan meningkatkan motivasi pebelajar dibanding metode yang hanya berisi ceramah dan latihan soal saja (Santrock, 2007).   SIMPULAN Berdasarkan pengolahan data dan pembahasan terhadap hasil penelitian, maka dalam penelitian ini dapat disimpulkan: 1) hasil belajar Geografi Politik antara kelompok yang belajar dengan penerapan e-learning  berbasis web-facilitated dan penerapan      e-learning       berbasis tradisional berbeda secara signifikan. Secara keseluruhan hasil belajar Geografi Politik mahasiswa yang diajar dengan penerapan e-learning  berbasis web-facilitated lebih tinggi daripada hasil Geografi Politik Mahasiswa yang diajar dengan penerapan e-learning  berbasis tradisional, 2) terdapat perbedaan signifikan  hasil belajar Geografi Politik antara mahasiswa yang memiliki kecenderungan motivasi belajar tinggi dan rendah. Kecenderungan motivasi belajar tinggi lebih baik pada hasil belajar Geografi Politik dari pada mahasiswa yang memiliki kecenderungan motivasi belajar rendah, 3) terdapat interaksi antara penerapan e-learning dan kecenderungan motivasi belajar  terhadap hasil belajar Geografi Politik. Hasil belajar  yang paling baik adalah pada mahasiswa yang memiliki kecenderungan motivasi belajar tinggi dan diajar dengan penerapan e-learning  berbasis web-facilitated. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hasil belajar dipengaruhi oleh penerapan e-learning dan kecenderungan motivasi  belajar mahasiswa.                   DAFTAR  PUSTAKA Degeng, I.N.S, 1997. Strategi Pembelajaran, Mengorganisasikan Isi dengan Model Elaborasi. Malang: IKIP Malang bekerjasama dengan Biro Penerbitan Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan.   Joyce B, Weil, M,  & Calhoun, E. 2009. Models of Teaching 8nd. New Jersey : Pearson Education. Inc, Publishings Allyn & Bacon.   Praherdhiono, H. 2009. Penerapan Konstruktivis Dalam Pembelajara E-learning. Modul Perkuliahan Media Pembelajaran.Teknologi Pembelajaran. Pascasarjana Universitas Neger Malang.   Prasetya, S.P, 2011. Pengembangan E-learning berbasis Web Facilitated pada mata kuliah Kosmografi. Laporan PHKI Universitas Negeri Surabaya.   Reigeluth, C. M. 1983. Instructional-Design Theories and Models: An Overview of Their Current Status. Volume I. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Publishers.   Santrock, John W. 2007.  Educational Psychology, 2nd Edition. McGraw-Hill Company, Inc. University Of Texas. Dallas.   Tuckman, B.W. 1999.  Conducting Educational Research, Fifth Edition. Harcourt Brace & Company. United States Of America.
HUBUNGAN STRATEGI BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR MAHASISWA REGULER ANGKATAN 2001 JURUSAN GEOGRAFI FAKULTAS ILMU SOSIAL Sulistinah,
Pendidikan Geografi Vol 4, No 7 (2005)
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  HUBUNGAN STRATEGI BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR MAHASISWA REGULER ANGKATAN 2001 JURUSAN GEOGRAFI FAKULTAS ILMU SOSIAL Sulistinah  *)   Abstrak : Penelitian ini untuk mengetahui strategi belajar mahasiswa terhadap prestasi belajar yang dicapai oleh mahasiswa S-1 reguler angkatan 2001 Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa sebanyak 38 mahasiswa. Dari hasil analisis data penelitian dengan uji korelasi Kendall-tau menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara motivasi belajar, rencana belajar, disiplin belajar, kontinuitas belajar, cara belajar dan usaha mengatasi hambatan belajar terhadap pretasi belajar mahasiswa. Dengan demikian seluruh indikator variabel strategi belajar mempunyai hubungan positif terhadap prestasi belajar mahasiswa, berdasarkan hasil uji statistik Kendall-tau hubungan strategi belajar dengan prestasi belajar diperoleh nilai uji kemaknaan (p) sebesar 0,001 yang berarti < α = 0,01 dan besarnya koefisien korelasi 0,543; yang berarti strategi belajar mahasiswa mempunyai hubungan positif terhadap prestasi belajarnya. Dengan demikian meningkatnya strategi belajar mahasiswa juga akan diikuti dengan meningkatnya prestasi belajar yang dicapai mahasiswa.   Kata Kunci : strategi belajar, prestasi belajar
PENILAIAN KERENTANAN DAN RISIKO PENCEMARAN AIRTANAH DI WILAYAH KARST Diyah, Tri Rafika; Mujib**), M. Asyroful
Pendidikan Geografi Vol 11, No 22 (2013): Volume 11 Nomor 22 Desember 2013
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Air merupakan kebutuhan utama di kawasan karst, akuifer karst yang memiliki karakteristik hidrogeologi dan hidraulik yang berbeda dengan akuifer lain membuat kawasan ini miskin akan aliran permukaan namun disisi lain memiliki potensi airtanah yang cukup melimpah. Sistem drainase karst yang di dominasi oleh drainase bawah permukaan dimana air permukaan sebagian besar masuk ke jaringan sungai bawah tanah melalui ponor dan retakan menyebabkan airtanah di daerah karst sangat rentan terhadap pencemaran. Peningkatan berbagai aktivitas manusia di permukaan bumi akan menghasilkan limbah baik dalam bentuk padat maupun cair yang dapat dengan mudah masuk ke dalam sistem airtanah. Oleh sebab itu, penilaian tingkat kerentanan dan risiko pencemaran airtanah merupakan bagian penting dalam upaya pengelolaan sumberdaya airtanah di kawasan karst. Hasil dari penilaian tersebut yang disajikan sebagai informasi spasial dalam bentuk peta dapat dijadikan sebagai acuan dalam penyusunan rencana penggunaan lahan demi tercapainya keseimbangan antara upaya perlindungan kualitas airtanah dan kepentingan sosial ekonomi masyarakat.    Kata kunci : Pencemaran, airtanah, karst
KAJIAN EROSI TANAH DENGAN PENDEKATAN WISCHMEIER PADA DAS KALIMEJA SUBAIM KECAMATAN WASILE TIMUR KABUPATEN HALMAHERA TIMUR Sofyan, Adnan; Hartono*), Gunawan
Pendidikan Geografi Vol 11, No 22 (2013): Volume 11 Nomor 22 Desember 2013
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Erosi yang terjadi di Sub Das Kalimeja telah menimbulkan kerugian termasuk menyebabkan terjadinya pendangkalan. Akibat dari pembukaan hutan yang tidak terkendali, dan pengelolaan lahan yang keliru dengan intensitas tinggi. Oleh karena itu penting untuk mengetahui faktor-faktor penyebab erosi pada DAS Kalimeja, menentukan tingkat bahaya erosi tanah dan indeks bahaya erosi pada DAS Kalimeja, dan menentukan alternatif teknik konservasi tanah yang dapat dilakukan pada DAS Kalimeja. Prediksi erosi meliputi tingkat bahaya erosi dengan metode  Universal Soil Loss Equation (USLE) yang dikembangkan oleh (Wischmeier dan Smith, 1978 dalam Hardjowigeno dkk., 2001). Tingkat bahaya erosi yang terjadi pada DAS Kalimeja antara sangat rigan 0,05 – 1,66 ton/ha/thn dan tingkat ringan 22,67 – 25,44 ton/ha/thn. Erosi sangat ringan pada SPL I5Aa, III1Cb, III2Cb, V2Cb, dan VI2Bb,  seluas 3.675,38 ha (91,1 %), erosi ringan pada SPL II3Bb dan IV2Bb seluas 360,53 ha (8,9 %) dari luas DAS Kalimeja. Upaya konservasi tanah meliputi tumpang gilir jagung + ubikayu dan kacang tanah pada SPL II 3Bb, kemudian tanpa alternatif konservasi pada SPL I5Aa, III1Cb, III2Cb, IV2Bb, V1Cb, dan VI2Bb.   Kata kunci: erosi tanah, DAS, konservasi, entisol, inseptisol.
ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAN POLA ADAPTASI MASYARAKAT TERHADAP KETERBATASAN LAHAN DI PULAU PANGGANG KEPULAUAN SERIBU DKI JAKARTA Anggraini, Dini Feti; **), Ahmad Cahyadi
Pendidikan Geografi Vol 11, No 22 (2013): Volume 11 Nomor 22 Desember 2013
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Pertumbuhan penduduk menyebabkan bertambahnya luas lahan untuk permukiman. Namun demikian, tidak semua tempat memiliki sumberdaya lahan yang cukup luas untuk mendukung hal tersebut. Salah satu wilayah yang memiliki lahan sangat terbatas adalah Pulau Panggang Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta yang termasuk pulau sangat kecil. Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui perubahan penggunaan lahan yang terjadi di Pulau Panggang, Tahun 2004 sampai 2008, dan (2) mengetahui pola adaptasi masyarakat di Pulau Panggang terhadap keterbatasan lahan. Perubahan penggunaan lahan dianalisis berdasarkan ekstraksi penggunaan lahan dari Citra Ikonos Tahun 2004 dan 2008, sedangkan adaptasi masyarakat terhadap keterbatasan lahan dilakukan dengan melakukan pengamatan lapangan dan in-depth interview. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan lahan permukiman di Pulau Panggang semakin bertambah luas dan telah menutup hampir seluruh daratan Pulau Panggang. Selain itu pembangunan permukiman menyebabkan terjadinya perluasan daratan Pulau Panggang. Hal ini terjadi karena masyarakat Pulau Panggang memperluas daratan dengan menggunakan batu karang untuk mengurug perairan dangkal di sekitar pulau guna membangun rumah.   Kata Kunci: Adaptasi, Keterbatasan Lahan, Perubahan Penggunaan Lahan, Pulau Panggang
POTENSI AIRTANAH di CEKUNGAN AIRTANAH (CAT) PALU BERDASARKAN SATUAN HIDROMORFOLOGI DAN HIDROGEOLOGI *), Zeffitni
Pendidikan Geografi Vol 11, No 22 (2013): Volume 11 Nomor 22 Desember 2013
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Potensi airtanah pada setiap satuan hidromorfologi dan hidrogeologi ditentukan oleh karakteristik akuifer pada setiap sistem akuifer. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengindentifikasi satuan hidromorfologi dan hidrogeologi CAT Palu dalam penentuan tingkat potensi relatif airtanah berdasarkan karakteristik airtanah. Metode analisis dalam penelitian ini adalah analisis spasial dan lingkungan (spasio ekologikal). Analisis spasial ditujukan untuk mengetahui agihan airtanah (bebas, mataair dan tertekan) dengan satuan bentuklahan sebagai satuan evaluasinya. Analisis kelingkungan digunakan untuk mengetahui karakteristik airtanah pada setiap satuan bentuklahan. Metode analisis ditujukan untuk variabel karakteristik airtanah dengan menyusun: 1). satuan hidromorfologi untuk airtanah bebas dan mataair dengan lingkup kajian, antara lain: kedalaman muka airtanah (freatik), fluktuasi airtanah, permeabilitas akuifer, kuantitas dan kualitas airtanah, 2). satuan hidrogeologi untuk penentuan tingkat potensi airtanah tertekan dengan lingkup kajian, antara lain: geometri dan konfigurasi akuifer, litologi penyusun akuifer, parameter akuifer dan non akuifer, muka piezometrik, kuantitas (debit jenis dan debit optimum) dan kualitas airtanah. Meskipun ruang lingkup kajian tersebut berbeda, namun dalam analisis tingkat potensi airtanah baik pada sistem akuifer bebas ataupun tertekan, antara satuan hidromorfologi dan hidrogeologi, diintegrasikan untuk mendapatkan hasil yang lebih komprehensif dan tidak bersifat regional semata. Hasil penelitian sebagai berikut: 1). atas dasar bentuklahan, kondisi geologi dan karakteristik airtanah maka daerah penelitian secara umum dikategorikan sebagai Satuan Hidromorfologi Dataran Aluvial yang disusun oleh satuan geologi Aluvium dan Formasi Pakuli. Meskipun di CAT Palu juga terdapat satuan bentuklahan perbukitan denudasional tapi keberadaan airtanah pada satuan bentuklahan ini hanya setempat – setempat, 2). berdasarkan satuan bentuklahan CAT Palu maka satuan hidromorfologi CAT Palu pada umumnya didominasi oleh satuan hidromorfologi dataran aluvial, 3). karakteristik airtanah di CAT Palu berbeda pada setiap satuan bentuklahan dan dipengaruhi oleh litologi batuan penyusun akuifer pada Aluvium dan Formasi Pakuli, dan 4). tingkat potensi relatif airtanah CAT Palu berdasarkan karakteristik airtanah pada satuan hidromorfologi dataran aluvial, berkisar dari sedang-tinggi.     Kata kunci: cekungan, airtanah, akuifer, hidromorfologi, hidrogeologi