cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bahtera Sastra: Antologi Bahasa dan Sastra Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 73 Documents
FUNGSI PELESETAN ABREVIASI NAMA KAMPUS DI INDONESIA (KAJIAN SEMIOTIKA) Erlina Handyani; Aceng Ruhendi Saifullah; Mahmud Fasya
Jurnal Bahtera Sastra Indonesia Vol 3, No 2 (2021): JBSI Vol. 3. No. 2
Publisher : Jurnal Bahtera Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan pelesetan dalam bahasa Indonesia sering digunakan masyarakat sebagai bentuk realitas dalam komunikasi. Hal tersebut dapat dilihat dari pelesetan singkatan nama kampus di Indonesia. Pada awalnya, pelesetan singkatan nama kampus hanya dibuat sebagai kejenakaan biasa yang bertujuan untuk menghibur. Namun, pada perkembangannya mulai muncul pelesetan-pelesetan yang bekerja sebagai sindiran secara tidak langsung kepada situasi atau orang tertentu. Penelitian ini menggunakan teori semiotika dengan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif. Data penelitian ini adalah pelesetan singkatan nama kampus di Indonesia. Data penelitian ini bersumber dari penggunaan pelesetan abreviasi nama kampus yang berasal dari Twitter dan Kaskus. Tujuan penelitian ini adalah memaparkan fungsi pelesetan yang terkandung dalam pelesetan singkatan nama kampus di Indonesia. Temuan penelitian ini adalah sebagai berikut. Temuan tentang fungsi pelesetan singkatan nama kampus di Indonesia. Temuannya meliputi dua hal, yaitu fungsi humor dan fungsi sindiran. Terdapat 30 fungsi humor pelesetan singkatan nama kampus di Indonesia yang terungkap melalui (1) identitas kampus, (2) lokasi kampus, (3) tampilan dan bentuk fisik kampus, (4) stereotip kampus, (5) kegiatan kampus, serta (6) biaya kuliah kampus yang murah. Selanjutnya, terdapat 20 fungsi sindiran pelesetan singkatan nama kampus di Indonesia yang terungkap melalui (1) kondisi kampus dan (2) biaya kampus yang mahal. Kesimpulannya adalah fungsi humor dalam pelesetan abreviasi nama kampus di Indonesia memiliki jumlah yang dominan dibandingkan fungsi sindiran dalam pelesetan abreviasi nama kampus di Indonesia.
STYLE GURUH SOEKARNOPUTRA MENULIS LIRIK LAGU DALAM ALBUM PUSPA RAGAM KARYA Indra Rasyid Julianto; Yostiani Noor Asmi Harini; Ma'mur Saadie
Jurnal Bahtera Sastra Indonesia Vol 3, No 2 (2021): JBSI Vol. 3. No. 2
Publisher : Jurnal Bahtera Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Album Puspa Ragam Karya berisi lagu ciptaan Guruh Soekarnopura. Sebagai mahakarya, kajian stilistika lirik lagu karya Guruh Soekarnoputra penting dilakukan. Artikel ini mendeskripsikan diksi, gaya bahasa, dan citraan yang digunakan Guruh Soekarnoputra pada lirik-lirik lagu yang terdapat dalam album tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa Guruh Soekarnoputra memanfaatkan diksi yang terdiri atas sinonim, homoni, pelisemi, konotatif, dan denotatif. Diksi tersebut dimanfaatkan Guruh Soekarnoputra untuk menciptakan mahakaryanya.
KRITIK SOSIAL DALAM KUMPULAN PUISI NEGERI TERLUKA KARYA SAUT SITUMORANG Renny Mey Adiyanti; Ma’mur Saadie; Dheka Dwi Agustiningsih
Jurnal Bahtera Sastra Indonesia Vol 3, No 1 (2021): JBSI Vol. 3 No. 1
Publisher : Jurnal Bahtera Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan sosial tidak dapat kita dihindari. Permasalahan tersebut dapat berupa berbagai masalah di berbagai lini kehidupan, baik pendidikan, ekonomi, kejahatan, atau kesehatan. Permasalahan tersebut memunculkan kritik di masyarakat. Permasalahan mendasar lain adalah ketidaksesuaian antara harapan dan realitas cenderung memunculkan kritik di dalam masyarakat. Berbagai masalah di Indonesia dapat disampaikan melalui berbagai media. Salah satu media yang dapat digunakan adalah karya sastra. Hal tersebut disebabkan karya sastra lahir dari keadaan sosial budaya sehingga menjadi cerminan keadaan sosial yang sebenarnya. Oleh sebab itu, peneliti tertarik untuk mengkaji kumpulan puisi Negeri Terluka karya Saut Situmorang yang mengandung unsur kritik sosial. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kritik sosial yang terkandung dalam kumpulan puisi Negeri Terluka karya Saut Situmorang. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analisis. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiologi sastra. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah delapan puisi pada kumpulan puisi Negeri Terluka, yaitu (1) “potret Kota Medan”; (2) “banyak orang menebang hutan”; (3) “HARTO” (4) “aku adalah mayat”; (5) “PERINGATAN RAKYAT”; (6) “Negeri Terluka”; (7) “Matamu”; dan (8) “Apakah Kita Harus Diam Saja?!”. Data dikumpulkan dengan teknik dokumentasi. Setelah dianalisis, kumpulan puisi Negeri Terluka karya Saut Situmorang ditemukan kritik sosial berupa kritik sosial masalah lingkungan hidup, masalah birokrasi, masalah kependudukan, masalah pelanggaran norma-norma masyarakat, masalah kejahatan, dan masalah kemiskinan.
PENGGUNAAN AKRONIM DALAM VARIASI BAHASA GAUL SEBAGAI WUJUD KREATIVITAS REMAJA DI DUNIA MAYA (KAJIAN SOSIOLINGUISTIK) Stefanie Dita Permata Sari Prasetya; Mahmud Fasya
Jurnal Bahtera Sastra Indonesia Vol 3, No 2 (2021): JBSI Vol. 3. No. 2
Publisher : Jurnal Bahtera Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh terdapatnya penggunaan akronim dalam variasi bahasa gaul di kalangan remaja masa milenial di dunia maya. Terjadinya variasi bahasa yang disebabkan oleh penuturan yang heterogen, dan aktivitas interaksi sosial yang sangat beragam. Hal ini juga mempengaruhi komunikasi antar remaja, yang terlihat pada penggunaan akronim dalam variasi bahasa gaul yang digunakan pada media sosial. Penelitian ini menarik untuk dikaji karena penelitian ini menghadirkan bukti nyata dari perkembangan bahasa yang terus beraneka ragam dan sebagai bukti wujud kreativitas remaja yang bervariasi. Adanya perbedaan diakronis dalam variasi bahasa gaul inilah yang membuat akronim-akronim di masa milenial berbeda dengan akronim di masa yang akhirnya. Tujuan penelitian ini adalah (1) menjelaskan bentuk akronim; dan (2) makna akronim. Teori yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah teori Kridalaksana yang menjelaskan mengenai bentuk dan makna akronim dalam variasi bahasa. Objek kajian dalam penelitian ini adalah akronim dalam variasi bahasa gaul di kalangan remaja di dunia maya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan sosiolinguistik sebagai pendekatan teoretisnya. Hasil dari penelitian ini ditemukan 80 data bentuk akronim yang termasuk dalam teori Kridalaksana, dan 40 data penambahan bentuk baru pada akronim variasi bahasa gaul sebagai wujud kreativitas remaja.
IDEOLOGI MARXIS SERTA LATAR EKSPRESIF DALAM CERITA MERAH KARYA LIEM KHING HOO Syahril Sugianto; Yulianeta Yulianeta; Dheka Dwi Agustiningsih
Jurnal Bahtera Sastra Indonesia Vol 3, No 2 (2021): JBSI Vol. 3. No. 2
Publisher : Jurnal Bahtera Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses penciptaan sebuah karya sastra tak terlepas dari hal-hal yang melatarbelakangi, segala faktor lingkungan dan ideologi penulis ataupun ideologi etnis seringkali menjadi faktor penting yang dapat mendorong lahir dan terciptanya sebuah karya sastra. Liem Khing Hoo tentu mempunyai sebuah ideologi pribadi yang menjadi landasan fundamental dalam menjalankan hidupnya, serta Liem Khing Hoo mempunyai ideologi bersama sebagai ras peranakan Cina di tengah masyarakat melayu yang bersuku-suku. Dalam cerita Merah karya Liem Khing Hoo perjuangan kelas sangat kentara. Buruh- buruh pabrik rokok yang tidak mendapatkan haknya melakukan aksi tuntutan terhadap tuan pabrik. Adanya pengumpulan massa sehingga tercipta suatu kekuatan massa yang berawal dari solidaritas karena merasa tertipu oleh seorang tuan pabrik, menimbulkan gejolak perlawanan terhadap sesuatu yang lebih superior. Penelitian ini berjenis dekriptif kualitatif. Pada cerita Merahkarya Liem Khing Hoo terdapat nilai-nilai marxismyang terlihat dalam filsafat materialisme, kritik ekonomi politik, doktrin perjuangan kelas dan unsur kesemestaan. Sedangkan dalam latar ekspresif dapat diketahuo bahwa Liem Khing Hoo adalah seorang dengan konsep lokalitas yang kental, beruapaya melakukan propaganda ekonomi sosialis, menentang stratifikasi kelas. Segi kesemestaan dalam cerita ini merujuk pada tahun 1937 di mana terdapat banyak pabrik rokok pada masa itu.
REPRESENTASI AKTOR SOSIAL DALAM PEMBERITAAN AKSI MAHASISWA 24 SEPTEMBER 2019 DI MEDIA CNNINDONESIA.COM Salsabila Salsabila; Kholid Abdullah Harras; Undang Sudana
Jurnal Bahtera Sastra Indonesia Vol 3, No 1 (2021): JBSI Vol. 3 No. 1
Publisher : Jurnal Bahtera Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aksi mahasiswa 24 September 2019 menjadi salah satu aksi mahasiswa yang memiliki sejarah penting bagi bangsa Indonesia. Mahasiswa seluruh Indonesia hadir untuk melakukan penolakan terhadap pengesahan revisi Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) dan revisi Undang-undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK) di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)/Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Berbagai media pemberitaan, baik nasional maupun internasional turut memberitakan peristiwa ini. Salah satunya adalah media cnnindonesia.com. Dalam penelitian ini dibahas lebih lanjut mengenai representasi aktor sosial dalam pemberitaan aksi mahasiswa 24 September 2019 di media cnnindonesia.com. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tuturan inklusi dan eksklusi sesuai dengan teori Van Leeuwen dengan desain penelitian deskriptif kualitatif. Dalam penelitian ini, terdapat 187 kalimat (50,40%) yang termasuk strategi inklusi. Semua kalimat tersebut terbagi menjadi 2 diferensiasi, 16 indiferensiasi, 3 objektivasi, 11 nominasi, 42 kategorisasi, 28 determinasi, 14 indeterminasi, 48 asimilasi, dan 23 individualisasi. Selanjutnya, terdapat enam belas kalimat (4,31%) yang termasuk strategi eksklusi. Enam belas kalimat terbagi atas, 9 pasivasi, 4 nominalisasi, dan 3 pergantian anak kalimat. Selain itu, terdapat 79 aktor sosial (21,29%) dan 89 aksi sosial (23,98%). Aksi sosial tersebut terbagi atas 76 aksi dan 13 reaksi. Dalam teks berita “Kronologi Aksi Mahasiswa di DPR Berujung Rusuh Versi Polisi” terdapat dua aktor penting, di antaranya Irjen Gatot Eddy Pramono seorang Kapolda Metro Jaya dan mahasiswa. Aktor Irjen Gatot Eddy Pramono direpresentasikan secara individual dan aktor yang memiliki kekuasaan untuk mengatur aparat kepolisian ketika menghadapi aksi mahasiswa. Hal itu dapat tergambarkan dari dominasi aksi pada aksi sosial yang dilakukannya. Sementara itu, mahasiswa direpresentasikan sebagai sosok yang termarginalkan dalam teks berita tersebut. Dapat terlihat dari penggunaan reaksi pada aksi sosial yang dilakukannya dan kalimat berkonteks negatif.
EPRESENTASI PEMBERITAAN ISU TINDAK RASISME TERHADAP MAHASISWA PAPUA PADA KOMPAS.COM DAN REPUBLIKA.CO.ID Yunita Fauziyah
Jurnal Bahtera Sastra Indonesia Vol 3, No 2 (2021): JBSI Vol. 3. No. 2
Publisher : Jurnal Bahtera Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Papua merupakan salah satu provinsi yang sangat luas di Indonesia dan memiliki kekayaan alam yang melimpah. Namun, Papua memiliki predikat sebagai daerah yang sering terjadi konflik. Konflik yang baru-baru ini terjadi adalah tindak rasisme yang dilakukan oleh oknum aparat terhadap mahasiswa Papua di Surabaya. Terjadinya tindak rasisme tersebut memicu aksi protes di berbagai daerah. Namun, salah satu aksi protes yang digelar di Papua berakhir dengan kerusuhan. Keberadaan media massa sebagai pemberi informasi turut mempengaruhi kognisi masyarakat terhadap etnis Papua. Penelitian ini dilakukan sebagai upaya penyadaran kepada masyarakat bahwa berita yang disajikan oleh sebuah media tidak selalu bersifat netral, sehingga masyarakat diharapkan dapat lebih objektif, selektif, dan kritis dalam memahami sebuah berita. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis. Data yang diambil adalah seluruh teks berita isu tindak rasisme Papua yang bersumber dari kompas.com dan republika.co.id. Selanjutnya, data dianalisis dari aspek struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro. Selain itu, penganalisisan data juga dilakukan dengan menggunakan pendekatan Linguistik Sistemik Fungsional (LSF). Adapun hasil dari penelitian ini adalah 1) dalam aspek struktur makro, kompas.com mengangkat tema yang dominan berpihak kepada etnis Papua dengan memberitakan hal-hal baik mengenai peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan masyarakat Papua, sedangkan republika.co.id sebaliknya, dan cenderung menempatkan oknum yang melakukan tindak rasisme dalam posisi yang aman, 2) dalam aspek superstruktur, Pada media kompas.com, skema situasi dan komentar yang ditampilkan cenderung berpihak kepada masyarakat Papua dan narasumber yang diambil banyak yang berhubungan erat dengan Papua, sedangkan republika.co.id sebaliknya, 3) dalam aspek struktur mikro, keberpihakan media kompas.com tampak pada latar, detil, leksikon, dan ilustrasi foto dalam pemberitaan., 4) kompas.com menggunakan strategi eksklusi dan marjinalisasi untuk merepresentasikan beberapa aparat keamanan secara negatif, sedangkan republika.co.id menggunakan strategi eksklusi dan marjinalisasi untuk merepresentasikan mahasiswa Papua dan masyarakat Papua secara negatif.
PENGGAMBARAN PEREMPUAN DI DUNIA SIMBOLIK DALAM NOVEL TANGO & SADIMIN KARYA RAMAYDA AKMAL: KAJIAN PSIKOANALISIS Tasya Isarina Maghfira; Yulianeta Yulianeta; Nenden Lilis Aisyah
Jurnal Bahtera Sastra Indonesia Vol 3, No 2 (2021): JBSI Vol. 3. No. 2
Publisher : Jurnal Bahtera Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masalah ketidakadilan gender yang masih dialamiperempuan hingga saat ini. Masalah tersebut diangkat lewat konflik-konflik yang dialami kelima tokoh utama perempuan dalam novel Tango Sadimin karya Ramayda Akmal. Menurut psikoanalisis feminisme Lacan, opresi yang dialami perempuan berasal dari kegagalan perempuan menjadi phallus. Akibatnya, perempuan terpinggirkan di dunia Simbolik. Kegagalan tersebut juga menimbulkan rasa kekurangan dan hasrat. Oleh karenaitu, permasalahan yang berusaha diangkat dalam penelitian ini adalah hasrat dan penggambaran tokoh perempuan di dunia Simbolik dalam novel Tango Sadimin karya Ramayda Akmal. Karena konflik batin dan perwatakan tokoh perempuan lebih menonjol, teks dikaji dengan pendekatan psikologi sastra dan feminisme psikoanalisis dan feminismepostmodernisme. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran perempuan di duniaSimbolik berdasarkan hasrat tokoh utama perempuan dalam novel Tango Sadimin karyaRamayda Akmal. Hal ini bertujuan untuk mengetahui ketidakadilan gender dilihat dari segipsikis tokoh perempuan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka. Teknik pengolahan data dilakukan dengan analisis struktur menggunakan teori Tzvtan Todorov, analisis hasrat menggunakan psikoanalisis Lacan, analisis penggambaran perempuan di dunia Simbolik menggunakan pembacaan dekonstruksi. Adapun hasil penelitian ini adalah: 1) hasrat tokoh utama pere mpuan didominasi oleh fantasi anaklitik aktif dari tatanan YangReal dan hasrat narsisitik dari tatanan Yang Simbolik; 2) terdapat dua representasi perempuan di dunia Simbolik yaitu perempuan yang melawan aturan Simbolik yang represif (tergambar melalui tokoh Nini Randa, Nah dan Sipon) dan perempuan yang ter- represi oleh aturan Simbolik (tergambar melalui tokoh Tango dan Nyai Pertama); 3) kegagalan perempuan menjadi phallus tidaklah bersifat kodrati dan dapat diubah dengan cara perempuan menyadari bahwa ia dapat memilih yang terbaik untuk hidupnya dan bertanggungjawab atas pilihannya tersebut.
STRATEGI PRAGMATIK TUTURAN PERINGATAN PELANGGARAN LALU LINTAS DI KOTA BANDUNG Meisya Mustika Fajrin; Aceng Ruhendi Saifullah; Jatmika Nurhadi
Jurnal Bahtera Sastra Indonesia Vol 3, No 1 (2021): JBSI Vol. 3 No. 1
Publisher : Jurnal Bahtera Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh cara petugas Dinas Perhubungan Kota Bandung ketika memperingati pelanggar lalu lintas melalui Area Traffic Control System (ATCS) lewat pengeras suara dan terhubung CCTV. Cara petugas menegur pelanggar terbilang kreatif sehingga menimbulkan gelak tawa dari pengendara lainnya. Hal ini menandakan bahwa bahasa dimanfaatkan petugas sebagai alat komunikasi dalam menginisiasi pelanggar yang semaksimal mungkin tidak menyinggung perasaan para pelanggar, tetapi tetap memberikan efek jera. Oleh sebab itu, peneliti tertarik untuk meneliti tuturan petugas tersebut menggunakan kajian ilmu pragmatik dengan kerangka analisis tindak tutur (speech act) dan implikatur. Adapun metode penelitian ini adalah kualitatif yang bersifat deskriptif dengan teknik simak, catat, dan studi dokumentasi. Tujuan penelitian ini ialah sebagai berikut: (1) mengklasifikasi dan mendeskripsikan tuturan petugas Dinas Perhubungan Kota Bandung ketika memperingati pelanggar lalu lintas berdasarkan jenis tuturan, (2) mendeskripsikan cara bertutur petugas Dinas Perhubungan Kota Bandung ketika memperingati pelanggar lalu lintas, dan (3) mendeskripsikan efek perlokusi petugas Dinas Perhubungan Kota Bandung ketika memperingati pelanggar lalu lintas terhadap pelanggar lalu lintas. Dari 24 data tuturan petugas Dishub Kota Bandung ketika memperingati pelanggar lalu lintas menghasilkan tiga bentuk tindak tutur, yaitu tidak tutur direktif, asertif, dan ekspresif dengan verba performatif yang berbeda. Jenis implikatur dibagi menjadi tiga jenis, yaitu tuturan dengan implikatur (1) konvensional, (2) nonkonvensional, serta (3) konvensional dan nonkonvensional. Adapun fungsi tuturannya sama, yaitu untuk memerintah, meskipun dalam penyampaian maknanya dilakukan secara tersurat dan tersirat. Selain itu, efek perlokusi tuturan petugas terbagi menjadi tujuh macam tingkah laku yang berbeda sebagai respons dari para pelanggar.
TUTURAN NEGASI ANAK DALAM LINGKUNGAN KELUARGA (KAJIAN PRAGMATIK) Intan Zahra Ramadhini; Nuny Sulistiany Idris; Afi Fadlilah
Jurnal Bahtera Sastra Indonesia Vol 3, No 1 (2021): JBSI Vol. 3 No. 1
Publisher : Jurnal Bahtera Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh berbagai fenomena bahasa khususnya penggunaan penanda negasi yang bersifat universal. Hal ini menunjukkan bahwa kehadirannya dalam setiap bahasa mendukung fungsi yang penting. Terdapat jenis, bentuk dan fungsi tuturan penanda negasi. Selain itu terdapat jenis, bentuk, fungsi tindak tutur ilokusi pada bahasa anak. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti data tuturan tersebut menggunakan kajian pragmatik, khususnya tindak tutur ilokusi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini kualitatif deskriptif dengan teknik simak dan catat. Tujuan penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan penggunaan tuturan negasi oleh anak dalam merespons peristiwa dan mitra tuturnya, (2) mendeskripsikan jenis dan bentuk tuturan negasi yang digunakan oleh anak, dan (3) mendeskripsikan bentuk dan fungsi tindak tutur ilokusi yang digunakan oleh anak. Hasil dari penelitian ini yaitu ditemukannya (1) jenis penggunaan penanda negasi berupa tuturan formal dan informal, (2) variasi penggunaan tuturan negasi yang dipengaruhi faktor lingkungan, yang terakhir (3) jenis, bentuk dan fungsi tindak tutur ilokusi yaitu asertif, direktif, ekspresif, komisif dan deklarasi.