cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
BAHASA DAN SASTRA
ISSN : 14120712     EISSN : 25278312     DOI : -
Core Subject : Education,
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA (Journal of Language and Literature Education) is published by Faculty of Language and Literature Education, Universitas Pendidikan Indonesia. It publishes research-based articles in the field of language, literature, and its teaching and learning. It is published twice a year, namely in April and October. The scopes of the topics include: 1) Foreign language learning, Indonesian language, vernacular language and Malay language learning; (2) Linguistics; (3) Applied Linguistics, and; (4) Literature.
Arjuna Subject : -
Articles 287 Documents
THE ACQUISITION OF PRAGMATIC DIMENSION IN THE TEACHING AND LEARNING OF MALAY: AN EARLY REVIEW Wahid, Lokman Abd
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 15, No 2 (2015): Volume 15, Nomor 2, Oktober 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v15i2.1237

Abstract

AbstractThis study is focussing on the acquisition of pragmatic structure in the first language parameter, particularly in Malay.  The pragmatic structure assumes that a speaker innately has a choice for Face Threatening Acts (FTA's) in his construction of sentences for a particular conversation. The structure of FTA’s are Bald On-Record (BOR), Negative Politeness (NP), Positive Politeness (PP), and Off-Record-indirect strategy (OR).  From the pragmatic perspective, each of the FTA’s consists of a certain purpose. To look at the competency of pragmatic acquisition structure, subjects of this study were exposed through classroom interactions based on three learning outcomes.   For each learning outcome, subjects were given six situations which totalling to 18 situations for all the three learning outcomes mentioned.  Each situations demands subjects to discuss and interact using the FTA’s that they have already acquired.  The study shows that in regard of the acquisition of FTA’s among subjects, BOR acquired the highest score, followed by PP, NP, and OR in all the six situations undergone by the subjects.  Keywords: Face Threatening Acts (FTA’s), language acquisition, pragmatic AbstrakPenelitian ini berfokus pada akuisisi struktur pragmatis dalam parameter bahasa pertama, terutama dalam bahasa Melayu. Struktur pragmatis berasumsi bahwa seorang penutur memiliki pilihan untuk Tindak Tutur yang Mengancam Muka (Face Threatening Acts/FTA) dalam konstruksi kalimatnya dalam percakapan tertentu. Struktur FTA adalah Bald On-Record (BOR), Kesopanan Negatif (Negative Politeness/NP), Kesopanan Positif  (Positive Politeness/PP), dan strategi tidak langsung Off-Record (OR). Dari perspektif pragmatis, masing-masing dari FTA mengandung tujuan tertentu. Untuk melihat kompetensi akuisisi struktur pragmatis, subyek penelitian ini mengikuti interaksi kelas berdasarkan tiga hasil belajar. Untuk setiap hasil belajar, mata pelajaran diberi enam situasi sebanyak 18 situasi untuk ketiga hasil belajar yang disebutkan. Setiap situasi menuntut subyek untuk membahas dan berinteraksi menggunakan FTA yang telah mereka peroleh. Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam hal akuisisi FTA, BOR memperoleh skor tertinggi, diikuti oleh PP, NP, dan OR dalam semua enam situasi yang dialami oleh subyek.Kata kunci: Tindak tutur mengancam muka (FTA), penguasaan bahasa, pragmatis
Reviewer acknowledgements for Journal of Bahasa & Sastra, Vol.15, No.1, April 2015 Sukyadi, Didi
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 15, No 1 (2015): Volume 15, Nomor 1, April 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v15i1.1568

Abstract

 Reviewer AcknowledgementsJournal of  bahasa sastra wishes to acknowledge the following individuals for their assistance with peer review of manuscripts for this issue. Their help and contributions in maintaining the quality of the journal are greatly appreciated.
ANALYZING AUDIENCE AWARENESS IN ACADEMIC WRITING AMONG UNDERGRADUATES Rahmat, Noor Hanim
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16, No 1 (2016): Volume 16, Nomor 1, April 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v16i1.3065

Abstract

Abstract The teaching of writing has undergone many stages over the years—from product approach, to process approach, and then to cognitive approach. Recently, the approaches to the teaching of writing have shifted to social orientation. Researchers are encouraged to write for specific audiences. We undergo through three basic writing stages: (a) planning, (b) translating and (c)evaluating. Generally all writers will undergo these three processes, but what differentiates one writer form the other is the way they behave in each process. Nevertheless, better writers write with the audience in mind and are more careful with their writing process. As such, audience awareness is a characteristic of skilled writers and some writers write with the audience, while some do not. This study explores the writing process and audience awareness of undergraduates who have undergone a semester of a course in research writing. Using a questionnaire as the instrument, the quantitative data reveal interesting implications towards the teaching of academic writing in higher institutions. Keywords: writers, writing process, audience awareness, research writing, undergraduates AbstrakPengajaran penulisan telah melalui banyak tahap selama beberapa tahun ini. Ia bermula dengan cara pengajaran secara produk, kemudian cara proses dan selepas itu secara kognitif. Kebelakangan ini, pengajaran penulisan telah berpaksikan orientasi sosial. Penulis disaran agar menulis dengan memikirkan pembaca yang berlainan. Lazimnya, penulis akan melalui tiga peringkat yang asas iaitu (a) perancangan, (b) penterjemahan, dan (c) penilaian. Secaranya, semua penulis akan melalui ketiga-tiga proses ini, yang berbeza Cuma cara setiap apa yang setiap penulis buat dalam setiap peringkat. Walau bagaimanapun, penulis yang lebih baik akan menulis dengan mengambil apa pembaca fikir dan akan lebih berhati-hati dalam proses penulisan. Kesedaran pembaca merupakan satu karekistik penulis yang mahir.Kajian ini mengkaji proses penulisan dan kesedaran pembaca di kalangan pelajar universiti. Pelajar-pelajar dalam kajian ini telah melalui satu semester kursus dalam penilisan kajian. Kajian ini menggunakan sola selidik sebagai instrument. Data kuantitatif ini akan menunjukkan penemuan yang menarik dalam pengajaran penulisan akademik di peringkat pengajian tinggi.Kata kunci: penulis, proses penulisan, kesedaran pembaca, penulisan kajian, pelajar university
ADVERBIA STATIF DALAM BAHASA SUNDA: KAJIAN STRUKTUR DAN SEMANTIK Sudaryat, Yayat
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 2 (2012): Volume 12, Nomor 2, Oktober 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i2.3705

Abstract

Abstrak Adverbia Statif dalam Bahasa Sunda: Kajian Struktur dan Semantik. Kajian ini bertujuan mendeskripsikan adverbia statif dalam bahasa Sunda yang dikaji dari segi struktur dan semantik. Deskripsinya mencakup batasan dan karakteristik, fungsi, keterikatan, jumlah unsur, distribusi, makna, dan bentuknya. Dalam kajian ini digunakan metode deskriptif. Sumber data kajian ini berupa ragam bahasa Sunda lisan dan tulis. Untuk mengumpulkan data digunakan teknik teks, instuisi atau intropeksi, dan teknik elisitasi. Untuk mengolah data digunakan metode distribusional dengan analisis unsur langsung sebagai teknik dasar, yang diikuti teknik permutasi, subsitusi, ekspansi, dan teknik interupsi sebagai teknik lanjutan. Kajian ini menyimpulkan bahwa (a) adverbia statif merupakan adverbia yang secara khusus dan kolokatif menerangkan adjektiva; (b) adverbia statif berfungsi sebagai pewatas belakang adjektiva; (c) adverbia statif dengan adjektiva memiliki keterikatan yang sangat erat dan berkolokatif; (d) jumlah unsur adverbia statif dan adjektiva bersifat saling melengkapi; (e) posisi adverbia statif selalu di belakang adjektiva; (f) adverbia statif memiliki makna inhern ‘sifat kesangatan (kualitas elatif )’ yang dapat di dahului kata mani ‘sangat’; dan (g) adverbia statif pada umumnya berbentuk kata tunggal (71,42%).Kata kunci: adverbia statif, adjektiva, struktur, semantik, pewatas  Abstract The Study of Structure and Semantics of Stative Adverbs in Sundanese Language. This study aims to describe stative adverbs in Sundanese language studied in terms of structure and semantics. Descriptions include definition and characteristic, function, relationship, number of elements, distribution, meaning, and form. This study used a descriptive method. Data source for this study were in the forms of spoken and written language varieties. Tecniques used to collect data are text, intuition or introspection, and elicitation tecniques. To process the data, the study used distributional methods with direct factorial analysis as the basic tecnique, followed by permutation, substitution, expansion, and technical interruptions tecnique, follow-up techniques. The study concludes that (a) stative adverbs are adverb that explain adjectives speciically and collocatively; (b) stative adverbs serves as adjective limiters; (c) stative adverbs with adjectives are bound very tightly and collocated; (d) the number of elements stative adverbs and adjectives are complementary; (e) the position of stative adverbs ia always in the back of the adjectives; (f) stative adverbs have an inherent meaning of ‘excessive nature (elative quality) ‘which may be preceded by the word mani ‘very’, and (g) stative adverbs are generally inthe form of a single word (71,42%)Keywords: stative adverbs, adjective, structure, semantics, limiter
PEMBELAJARAN MEMBACA BAHASA MELAYU DALAM KALANGAN PELAJAR TAMIL: KAEDAH GABUNG BUNYI KATA Bin Husin, Muhammad Saiful Haq; Abd Rahman, Nik Hafizah Binti; Syahrani, Agus
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 1 (2012): Volume 12, Nomor 1, April 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i1.3619

Abstract

Abstrak Pembelajaran Membaca Bahasa Melayu dalam Kalangan Pelajar Tamil: Kaedah Gabung Bunyi Kata. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis keberkesanan Kaedah Gabung Bunyi Kata (KGBK) dalam proses pengajaran dan pembelajaran membaca dalam bahasa Melayu. Hal ini diharapkan dapat membantu murid yang lemah dalam aspek penguasaan bacaan bahasa Melayu. Penyelidik memberi tumpuan kepada aspek bacaan kerana aspek bacaan merupakan aspek yang paling penting dalam penguasaan bahasa Melayu murid. Penyelidik juga akan menguji kesesuaian Kaedah Gabung Bunyi Kata sebagai satu kaedah yang digunakan dalam proses pengajaran dan pembelajaran membaca bahasa Melayu dalam kalangan murid-muridnya yang terdiri daripada pelajar berbangsa India dan mempelajari bahasa Melayu sebagai bahasa kedua bagi mereka. Selain daripada itu kajian ini dilakukan bagi melihat perkembangan dan prestasi murid setelah mengikuti Kaedah Gabung Bunyi Kata (KGBK) ini. Kajian ini dilakukan di Sekolah Jenis Kebangsaan Tamil (SJKT) Methodist Kapar di Klang Selangor. Sampel tediri daripada 40 orang  murid tahap 1 yang dipilih berdasarkan tahap kecerdasan mereka. Dapatan kajian diperoleh melalui rekod pencapaian murid yang telah dilakukan selama 6 bulan iaitu dan bulan Mei hingga Oktober. Hasil dapatannya ternyata bahwa Kaedah Gabung Bunyi Kata (KGBK) ini amat sesuai untuk meningkatkan prestasi murid tersebut. Hal ini dapat dibuktikan bahawa 65 peratus bersamaan dengan 26 subjek kajian berjaya menguasai kemahiran membaca dengan lancar dan 35 peratus bersamaan 14 subjek kajian yang masih belum menguasai kemahiran bacaan dengan lancar itu memerlukan tempoh masa yang lebih lama (lebih kurang 3 bulan lagi) untuk mengguasainya.Kata kunci: membaca, bahasa Melayu, kaedah Gabung, bunyi kata AbstractReading of Learning in Malay Language of Indian Student: word sound Combination Ruler. This study aims at analyzing the effectiveness of the Rules for Word Sound Combination (KGBK) in teaching an learning to read in Malay language. It is expected to help students who are weak in the aspect of mastering Malay literature. The researchers focus on reading aspect because the reading aspect is the most important aspect in student’s learning Malay language. The researchers will also test the suitability of KGBK as a method used in the process of teaching and learning to read in the Malay language of the students consisting of Indian students learning Malay language as a second language for them. In addition, this study was conducted to monitor the progress and performance of students after attending KGBK. This study was conducted at the Tamil Nationality School (SJKT) Methodist Kapar in Klang Selangor. The sample consists of 40 students at level I who were selected based on the level of their intelligence. Findings were obtained through the records of student achievement that has been done for six months from the months of May to October. Findings show that KGBK is particularly suitable to enhance the performance of the students. It can be proved that 65 percent which is equal to 26 subjects who have yet to master the skill of reading fluently requires a longer period of time (about 3 months) to master it.Keywords: reading, Malay language, rules for combining, word sound
PEMBELAJARAN BAHASA JERMAN BERBASIS PROJEK Santoso, Iman
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 1 (2012): Volume 12, Nomor 1, April 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i1.3609

Abstract

AbstrakPembelajaran Bahasa Jerman Berbasis Projek. Pembelajaran bahasa jerman sebagai bahasa asing saat ini diselenggarakan di tingkat sekolah menengah atas dan perguruan tinggi. Salah satu tujuan utama pembelajaran bahasa Jerman adalah agar para pembelajar bahasa Jerman memiliki kompetensi komunikatif, yang diwujudkan dalam bentuk keterampilan berkomunikasi menggunakan bahasa Jerman secara lisan dan tulis dengan baik dan benar. Guna mencapai tujuan tersebut para pengajar harus mampu mengembangkan metode dan teknik yang tepat berdasarkan pada pendekatan komunikatif sebagai landasan filosofisnya. Kenyataan di lapangan menunjukan bahwa upaya tersebut sulit untuk dicapai, karena pembelajaran bahasa Jerman baik di SMA maupun di Perguruan Tinggi lebih didominasi dengan pembelajarn yang bersifat teacher oriented. Salah satu alternatif bentuk pembelajaran bahasa Jerman sebagai bahasa asing yang dapat mengintegrasikan berbagai aspek kebahasaan dan non-kebahasaan adalah pembelajar untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuannya dan mengkaitkannya dengan konteks kehidupan di luar kelas, serta berkreativitas secara luas. Kata Kunci: pendekatan komunikatif, kompetensi komunikatif, pembelajaran berbasis projek AbstractGerman Language Based Project Learning. Learning German as a foreign language is currently held at the high school and college levels. One of the main objectives to be achieved by learning German language is for German language learners to have communicative competence, which is manifested in the form of communicative skill using German language in both spoken and written language properly. To achieve these objectives the teachers should be able to develop appropriate methods and techniques based on the communicative approach as the philosophical foundation. The reality on the field shows that the effort is difficult to achieve, because the German language learning both in school and at university is dominated by the learning that is teacher-oriented. One alternative form of learning German as a foreign language that can integrate various aspects of language and non-language is a project-based language learning. This form of learning also provides opportunities for learners to construct their own knowledge and to relate it to the context of life outside the classroom, and creativity at large. Keywords: communicative approach, communicative competence, project-based learning
ENGLISH WRITING SKILL ANALYSIS OF FIRST YEAR INDONESIAN TERTIARY STUDENTS IN A UNIVERSITY IN BANDUNG Yuliana, Dian; Imperiani, Ernie D.A.; Kurniawan, Eri
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16, No 1 (2016): Volume 16, Nomor 1, April 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v16i1.3061

Abstract

Abstract This article reports a study on English writing skill of Indonesian tertiary students. The purpose of the study is to examine students’ initial ability in writing English compositions.  The subjects of the study are 22 university students in their first year at English Language and Literature study program at one university in Bandung. The data are taken from students’ descriptive essays written in the classroom. The texts are then analyzed based on writing rubrics developed by Lane and Lange (1999) to see the recurrent global and local errors, supported by analytic writing rubrics proposed by Jacobs et al. (1981) to see the students’ writing ability in general. The results of the study show that the recurrent errors made in twenty-two English descriptive essays are singular/plural nouns for local errors and sentence structure for global errors. In terms of analytic view, errors in language use are the most frequent errors made by the students. The findings provide useful information for constructing teaching materials for English writing in this study program.Keywords: writing skill, descriptive text, composition scoring technique, analytic scoring technique, global and local errors. Abstrak Artikel ini melaporkan hasil kajian mengenai keterampilan menulis bahasa Inggris mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk memotret kemampuan awal menulis mahasiswa dalam bahasa Inggris. Adapun subjek penelitian adalah 22 orang mahasiswa tingkat I di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, di sebuah universitas di Bandung  yang dipilih untuk mengetahui kemampuan awal mereka. Data diperoleh melalui karangan deskriptif yang ditulis di kelas.Teks dianalisis dengan menggunakan rubrik penilaian yang dikembangkan oleh Lane and Lange (1999) untuk tataran global dan lokal (global and local errors); dan rubrik penilaian analitik yang dikembangkan oleh Jacobs (1981) untuk melihat keterampilan menulis mahasiswa secara umum. Analisis data menunjukkan bahwa kesalahan yang paling banyak dilakukan mahasiswa pada tataran lokal terkait pemarka nomina tunggal dan jamak (singular/plural nouns), sedangkan pada tataran global, kesalahan pada struktur kalimat (sentence structure) merupakan kesalahan yang paling sering dilakukan oleh mahasiswa. Dari sisi analitik, kesalahan pada penggunaan bahasa merupakan kesalahan yang paling sering ditemukan dalam kebanyakan tulisan mahasiswa.Hasil temuan ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi penyusunan bahan ajar matakuliah menulis di lingkungan program studi. Kata kunci: keterampilan menulis, teks deskriptif, teknik penilaian tulisan, teknik penilaian analitik, kesalahan global dan local.
ANALISIS KONTRASTIF KOTOWARI HYOUGEN ANTARA PEMBELAJAR BAHASA JEPANG DAN PENUTUR ASLI Hayati, Novia
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 2 (2012): Volume 12, Nomor 2, Oktober 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i2.3701

Abstract

 Abstrak Analisis Kontrastif Kotowari Hyougen  antara Pembelajar Bahasa Jepang dan Penutur Asli. Di antara beberapa aktifitas berbahasa, tindakan menolak sering dianggap sebagai tindakan yang cukup sulit karena memberikan perasaan tidak menyenangkan terhadap lawan tutur. Tindak tutur menolak tidak terlepas dari latar belakang tindak tutur berbahasa oleh pengguna bahasa tersebut. Pembelajar yang berbahasa ibu bahasa Sunda memiliki kemiripan dengan penutur asli dalam membuat tindak tutur penolakan dikarenakan adanya kedekatan aturan undak usuk bahasa sunda dengan tainguu hyougen dalam bahasa Jepang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ungkapan penolakan yang digunakan oleh pembelajar bahasa Jepang kemudian melalui perbandingan dengan penutur asli diketahui persamaan dan perbedaanya serta permasalahan dalam ungkapan penolakan oleh pembelajar. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Discourse Completion Test (DCT). Hasil analisis data menunjukan terdapat persamaan diantara pembelajar dan penutur asli dalam pengguna {wabi} terhadap dosen akrab (penggunanya lebih rendah). Sebagai permasalahan dalam ungkapan penolakan yakni pembelajar menggunakan {fuka} dalam bentuk futsuu no hiteikei, dan {koshou} dalam frekuensi yang cukup tinggi. Sebaliknya, penutur asli menggunakan fukanoukei, dikarenakan apabila menggunakan futsuu no hiteikei akan diterima sebagai arti penolakan yang kuat/keras.Kata kunci: Kotowari hyougen, DCT, Taiguu hyougen, penutur asli, konstraktif  Abstract Contrastive Analysis of Kotowari Hyougen between Learners of Japanese Language and Japanese Native Speakers. Among several speaking activities, action of refusal is often considered a difficult act as it gives an unpleasant feeling againts interlocutors. Refusal speech act cannot be separated from the background of the speech act by the user of the language. Learners whose mother tongue is Sundanese language has similarities with Japanese native speakers in making the speech act of refusal due to the proximity of the undak usuk in Sundanese with tainguu hyougen in Japanese. This study aims to determine the expressions of refusal used by Japanese learners then, through comparison with native speakers, to determine the similarities, differences and problems in the expression of rejection by the learners. The instrument used in this study is Discourse Completion Test (DCT). Form the analysis of the data it was found that there were similarities between learners and native speakers that {riyuu/iiwake}, {wabi}, {fuka} were used as the main semantic formula. There are similarities between learners whose mother tongue is Sundanese and native speakers in using language {wabi} to professors considered familiar (lower usage). The problem of expressions of refusal used by learners {fuka} in the form Futsuu fuka no hiteikei and {koshou} was in a fairly high frequency. In contrast, native speakers use fukanoukei, because using Futsuu no hiteikei will be considered as a strong/hard sense of refusal.Keywords: Kotowari hyougen, DCT, Tainguu hyougen
PEMAKAIAN BILINGUALISME DALAM INTERAKSI SISWA DI KELAS RENDAH DI MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI SINGARAJA BALI Rahmi, Siti
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 1 (2012): Volume 12, Nomor 1, April 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i1.3615

Abstract

   Abstrak Pemakaian Bilingualisme dalam Interaksi Siswa di Kelas Rendah di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Singaraja Bali. Tulisan ini mengungkapkan realitas dari implikasi bilingualisme dalam pendidikan dasar. Konteksnya tidak hanya memperhatikan pembelajaran bahasa, tetapi terhadap pendidikan dalam arti luas. Hal ini karena bilingualisme memaksa para guru untuk mempertimbangkan pengajaran bahasa dalam pembelajaran di kelas. Umumnya, siswa dari Madrasah Ibtidaiyah Negeri Singaraja Bali -Sekolah Dasar Islam- memiliki latar belakang bahasa Indonesia (L1). Bahasa Indonesia digunakan dengan berbagai dialek dan kosa kata bahasa Bali. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari mereka disebabkan orang tua mereka berasal dari latar belakang lingkungan dan masyarakat multi-etnis. Orang tua mereka adalah generasi keempat dan kelima dari nenek moyang mereka, dan hampir tidak menggunakan bahasa asli mereka dalam ranah keluarga. Para keluarga migran ini sebagian besar adalah pedagang, buruh, dan beberapa dari mereka adalah PNS. Bahasa Bali, sebagai L2 diperoleh dalam lingkungan sosial terutama di sekolah menengah. Implikasi dari Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengajaran lebih “mendidik-akomodatif”, disesuaikan dengan latar belakang bahasa siswa dan tingkat perkembangan bahasanya.Kata kunci: bilingualisme, implikasi, bahasa, pembelajaran     Abstract Bilingualism Implications in Primary Classroom Interactive Students of Madrasah Ibtidaiyah Negeri Singaraja Bali. This paper reveals the reality of these implications. Its context does not concern only in the language learning, but into the education in broadest sense also. It is because bilingualism “force” teachers to consider language teaching in the classroom instruction. Generally, students of Madrasah Ibtidaiyah Negeri Singaraja Bali-as an Islamic Primary School- have Indonesian language background (L1). Indonesian language used with various dialects of Balinese language and its vocabulary. The use of Indonesian as their everyday language is caused their parents from neighborhood background and the multi-ethnic milieu. Their parents are fourth and fifth generation of their forefather, and almost had not used their native language in family domain. The migrant families were mostly traders, laborers, and some of them are civil servants. Balinese language, as L2 acquired in social domain especially in secondary scholl. The implication of Indonesian as language teaching more “educative-accommodative”; adjusted by students’s language background and their level of language development.Keywords: bilingualism, implication, language, learning    
ANALISIS MAKNA “KANYOKU” YANG BERKAITAN DENGAN WARNA: KAJIAN LINGUISTIK KOGNITIF Sekarsari, Widi; Haristiani, Nuria
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16, No 1 (2016): Volume 16, Nomor 1, April 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v16i1.3066

Abstract

Abstrak Makna kanyouku atau idiom penting untuk dipahami pembelajar bahasa Jepang, namun penelitian mengenai kanyouku yang khusus berkaitan dengan warna masih terbatas. Penelitian ini menganalisis kankyouku bahasa Jepang yang berkaitan dengan warna  menggunakan teori linguistik kognitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) makna leksikal warna dalam kanyouku diartikan sesuai makna asli warna berdasarkan referensi kamus. Makna idiomatikal warna merupakan makna khusus dan berbeda dari makna leksikal; (2) terdapat hubungan antara makna leksikal dan makna idiomatikal secara metafora 12 kanyouku, dan metonimi 6 kanyouku; (3) Ciri khas makna warna dalam kanyouku yaitu, merah (warna yang tegas, peringatan bahaya, rasa malu), biru (pengganti warna hijau, muda, dan menunjukkan kondisi seseorang melalui ciri-ciri fisiknya), kuning (warna yang terang dan menyilaukan, peringatan keselamatan, usia muda dan kurang berpengalaman), hitam (warna gelap, tindakan yang jahat, penanda kehidupan), putih (warna yang bersih, hal yang benar, hambar, kurang senang), hitam putih (warna yang bertolak belakang, perumpamaan benar atau salah). Kata kunci: makna kanyouku, warna, linguistik kognitif, metafora, metonimi AbstractKanyouku or idiom meaning is important to be understood by Japanese language learner. However, research about kanyouku, which especially relates to the color, is still limited. In this paper, we analyzed Japanese kanyoku using colours based on the theory of cognitive linguistics. The result showed several points: (1) the lexical meaning of color in kanyouku are defined according to the original meaning of color based on the dictionary reference. The idiomatical meaning of color is a particular meaning that appears to be different from the lexical meaning; (2) there are some connections between lexical meaning and idiomatical meaning. There are 12 meanings metaphorically and 6 meaning metonimycally; (3) Characteristic meaning of color in kanyouku is red (bold color, shame, etc.), blue (a substitute for green color, young, etc.), yellow (bright and dazzling color, young age and inexperienced, etc.), black (dark color, sign of life, etc.), white (clear color, tasteless, etc.), and black and white (contrasting color, parable of right and wrong).Keywords: idiom meaning, color, cognitive linguistics, metaphor, metonymy

Page 8 of 29 | Total Record : 287