cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
BAHASA DAN SASTRA
ISSN : 14120712     EISSN : 25278312     DOI : -
Core Subject : Education,
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA (Journal of Language and Literature Education) is published by Faculty of Language and Literature Education, Universitas Pendidikan Indonesia. It publishes research-based articles in the field of language, literature, and its teaching and learning. It is published twice a year, namely in April and October. The scopes of the topics include: 1) Foreign language learning, Indonesian language, vernacular language and Malay language learning; (2) Linguistics; (3) Applied Linguistics, and; (4) Literature.
Arjuna Subject : -
Articles 287 Documents
THE ANTONYM OF LEXEME USING THE AFFIXATION ‘ME-KAN’: MORPHOSEMANTICS ANALYSIS Anis, Muhammad Yunus; Saddhono, Kundharu
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16, No 1 (2016): Volume 16, Nomor 1, April 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v16i1.3057

Abstract

AbstractThis research deals with morphosemantic analysis of lexemes. The main source of data in this research was taken from the Arabic-Indonesian dictionary, Al-Munawwir, with the primary focus on lexemes using the affixation of “me-kan”. The lexemes with affixation “me-kan” can be compared in the Arabic language using the dominant measure or pattern (wazan). This research adopts a qualitative descriptive analysis, employing the distributional approach and the technique of dividing units of language, as well as the technique of marker. The study shows that the lexemes using affixation “me-kan” in Indonesian have similarities with the wazan fa-‘a-la in Arabic. The affixation of “me-kan” is one of the forms of transitive verb in the Indonesian language, and wazan fa-‘a-la in Arabic is a form of ta’diyyah (close meaning with the transitive form). Many lexemes using the affixation “me-kan” in Al-Munawwir Indonesian–Arabic dictionary were translated by the wazan fa-‘a-la. This study indicates that there is a strong connection between the transitive form in Arabic and Indonesian, as indicated through the analysis of the aforementioned lexemes.Keywords: antonym, lexeme using the affixation of “me-kan”, morpho-semantics, and Al-Munawwir Indonesian-Arabic dictionary.  Abstrak Sumber data dalam penelitian ini diambil dari kamus Al Munawwir versi Indonesia-Arab. Pembahasan antonim di dalam kamus tersebut masih terasa luas, belum mengerucut. Oleh sebab itulah peneliti akan memfokuskan pembahasan antonim hanya pada leksem yang mendapat imbuhan “me-kan”. Selanjutnya leksem “me-kan” di dalam bahasa Indonesia ternyata memiliki padanan wazan(measure) di dalam bahasa Arab yang sangat dominan. Penelitian ini menggunakan model penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode distribusional dan teknik bagi unsur langsung dan teknik pemarkah. Dengan memanfaatkan metode tersebut, maka penelitian secara masif di dalam kamus tersebut akan menemukan pemakaian wazan untuk leksem berimbuhan me-kan dengan frekuensi lebih banyak dibandingkan dengan wazan lainnya. Sehingga imbuhan me-kan pada bahasa Indonesia dapat ditemukan padanannya pada wazan bahasa Arab. Beberapa data berupa leksem berimbuhan “me-kan” di dalam kamus al munawwir versi Indonesia-Arab diterjemahkan dengan menggunakan wazan fa'ala. Imbuhan me-kan merupakan salah satu bentuk dari kata kerja transitif. Begitu pula wazan fa'ala di dalam bahasa Arab digunakan untuk "ta'diyyah" yang secara tidak langsung menyerupai dengan proses pembentukan kata kerja transitif di dalam bahasa Indonesia. Oleh sebab itulah wazan fa'ala menjadi wazan yang paling dominan pada pemberian makna leksem berimbuhan me-kan yang berfungsi sebagai kata kerja transitif.Kata kunci: antonim, leksem yang menggunakan afiks me-kan, morfosemantik, kamus Al-Munawwir Indonesia- Arab.
TRANSFORMASI FOLKLOR LISAN NINI ANTEH KE NOVEL DONGENG NINI ANTEH KARYA A.S. KESUMA Harini, Yostiani Noor Asmi
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 2 (2012): Volume 12, Nomor 2, Oktober 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i2.3706

Abstract

      Abstrak            Transformasi Folklor Lisan Nini Anteh ke Novel Dongeng Nini Anteh Karya A.S. Kesuma. Cerita Nini Anteh merupakan folklor lisan masyarakat Sunda. Folklor lisan dan novel cerita Nini Anteh ini dijadian sumber data penelitian dalam penelitian ini. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori tentang transformasi yang dikemukakan oleh Riffaterre. Berdasarkan hasil penelusuran struktur kedua karya tersebut ditemukan adanya ekspansi, konversi, modifikasi pada tataran alur dan pengaluran, karakter, dan latar. Dalam kedua karya terdapat irisan berupa penggambaran Nini Anteh yang pekerjaanya berkaitan dengan produksi tekstil, tidak dapat mengandung dan melahirkan anak. Pergi kebulan karena suatu hal, dan ditemani Candramawat (kucing yang memiliki tiga warna bulu: putih, kuning, dan hitam). Irisan terjadi karena ada hal-hal yang ingin dipertahankan oleh penulis novel. Yaitu bahwa masyarakat Sunda yang memiliki religiusitas “ibu” memandang sosok Nini Anteh sebagai sosok yang tidak bisa “memberi” kehidupan. Oleh sebab itu, Nini Anteh ditempatkan di bulan, tepat terpisah dari masyarakat bumi.           Kata kunci: transformasi, folklor lisan, novel, dongeng Nini Anteh  Abstract            The Transformation From Oral Folklore Of Nini Anteh To The Novel Of Nini Anteh Tale By A.S. Kesuma. The paper is entitled “The Transformation from Oral Folklore of Nini Anteh to the Novel of Nini Anteh Tale by A.S Kesuma “. The data in this study are in the form of an oral folklore and a novel. The theory used in this research is the transformation theory proposed by Riffaterre. Based on the results of exploration of the structure of the two works, it was found that there are some expansions, conversions, modifications at the level of plot and plotting, character, and background. In both works, there are intersections between them in the form of the depictions of Nini Anteh whose work related to the production of textiles, who was unable to conceive and bear childern, who went to the moon for a reason, and was accompained by Candramawat (a three-colored fur cat: white, yellow, and black). The intersections occur because there are things to be maintained by the novelist: that the Sundanesse people who have religiosity of “mother” figure view Nini Anteh as someone who cannot “provide” life. Therefore, Nini Anteh is placed on the moon, a place apart from the earth.           Keywords: transformation, oral folklore, novel, tale of Nini Anteh
DEUTSCH ZUM SPASS: MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF BAHASA JERMAN Triyono, Sulis
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 2 (2012): Volume 12, Nomor 2, Oktober 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i2.3696

Abstract

Abstrak Deutsch Zum Spass: Model Pembelajaran Inovatif Bahasa Jerman. Model pembelajaran Deutsch zum Spass merupakan alternatif model pembelajaran inovatif bahasa Jerman yang menyenangkan. Model pembelajaran ini meliputi pembelajaran aktif, kreatif, efektif, kolaboratif, partisipatif, dan menyenangkan. Dalam pembelajaranya, model ini mengintegrasikan semua kompetensi kebahasaan yang meliputi Hoverstehen, Sprechfertigkeit, Leseverstehen, dan Schreibfertigketi kedalam satu kesatuan pembelajaran bahasa Jerman yang utuh. Model ini juga disebut contextual teaching and learning. Tujuan pembelajaran untuk mengetahui tindakan yang telah dilakukan seseorang pengajar dalam satu team teaching sehingga pengajar lainnya dapat melanjutkan materi pembelajaran secara urut dan berkesinambungan. Kolaborasi antarpengajar dapat dipantau melalui buku protokol. Hal ini digunakan untuk refleksi terhadap tindakan yang dilakukan seorang pengajar agar pengajar lainnya dapat menjaga terciptanya suasana pembelajaran yang menyenangkan. Refleksi juga digunakan untuk menentukan langkah pembelajaran berikutnya yang dilakukan oleh pengajar, agar bermanfaat dan dapat mengoptimalkan tercapainya keberhasilan pembelajaran. Materi ajar diunggah ke dalam media belajar yang telah disediakan oleh UNY dengan alamat http://besmart.uny.ac.id/ yang merupakan media e-learning. Deutsch zum Spass mampu menumbuhkan suasaa aktif, kreatif, dan partisipatif pada diri pembelajar, sehingga keefektifan proses belajar mengajar dapat optimal. Dengan demikian, tujuan pembelajaran bahasa Jerman dapat tercapai dengan maksimal. Untuk mengukur penguasaan kompetensi yang dimiliki oleh peserta didik pada keempat keterampilan bahasa Jerman tersebut, dapat dilakukan melalui tes kebahasaan secara online.Kata kunci: model pembelajaran Deutsch zum Spass, pembelajaran inovatif, e-learning Abstract Deutsch Zum Spass: Innovative Teaching Model for Teaching German. It is an alternative teaching model for teaching German which is fun. This teaching model is also an active, creative, effective, collaborative model. It integrates all the language skills, Hoverstehen, Sprechfertigkeit, Leseverstehen, and Schreibfertigketi, into one contextual teaching and learning process. The model aims to find out the actions done by a teacher in one teaching team to facilitate another member of the team to continue the material in a continous and well-structured order. Between-teacher collaboration is recorded through a protocol book, which records the fun class activities of one member to be continued and maintained by other members. The book also records the teachers’ reflective ideas and notes that can be used as points to consider. The teaching materials are provided and uploaded into http://besmart.uny.ac.id/ by UNY. Deutsch zum Spass as a teaching model is able to create active, creative, and participation encouraging atmosphere that allow students to achieve their learning goals. Students ‘language mastery is tested through online language test.Keywords: deutsch zum spass model teaching, e-learning, innovative teaching model.
SIKAP MASYARAKAT PENGRAJIN DAN PEDAGANG KERAMIK TERHADAP BAHASA INDONESIA DAN BAHASA SUNDA Baginda, Putrasulung
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 1 (2012): Volume 12, Nomor 1, April 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i1.3611

Abstract

Abstrak Sikap Masyarakat Pengrajin dan Pedagang Keramik terhadap Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda. Masyarakat indonesia pada umumnya merupakan komunitas yang mampu menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, kedua bahasa ini digunakan sesuai dengan konteks yang dipandang relevan oleh pengguna bahasa. Tulisan ini berupaya menjelaskan, pada konteks apa saja bahasa Sunda dan bahasa Indonesia digunakan oleh masyarakat Plered, Purwakarta. Lokasi ini dipilih karena merupakan domisili para pedagang Sunda di wilayah yang sering dilalui oleh warga dari wilayah yang tidak berbahasa Sunda. Selain itu, diungkap pula latar belakang penggunaan tiap bahasa dalam konteks masing-masing. Melalui kajian ini, diungkap sikap masyarakat terhadap bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Kata kunci: bahasa sunda, bahasa indonesia, sikap terhadap bahasa Abstract Community Attitudes of Ceramics Creators and Traders towards Indonesian and Sundanes Language. Indonesian society in general is a community that is able to use two languages, the local language and the Indonesian language. In everyday life, the two languages are used in the context that is relevant to the user of the language. This paper attempts to explain, in which context are Sundanese and Indonesian languages are used by people in Plered,  Purwakarta. This location was chosen because it is the residence of the Sundanese traders in areas frequently traveled by residents of the area who do not speak Sundanese. In addition, the background of the use of each language is also revealed in the context of each. Through this study, the attitudes of the community towards Sundanese and Indonesian are revealed. Keywords: sundanese, indonesian, attitudes towards language
FONOLOGI BAHASA ABUN DI KABUPATEN TAMBRAUW PROVINSI PAPUA BARAT Maturbongs, Antonius; Asmabuasappe, Asmabuasappe
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16, No 1 (2016): Volume 16, Nomor 1, April 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v16i1.3062

Abstract

AbstractAbun language is a kind of native language in Tambrauw Regency, West Papua Province. This language belongs to group of Non Austronesia language. This study is qualitative one and using descriptive method in order to get complete description of phonology of Abun language. There are three stages in this study. They are data supplying stage, data analysis, and presentation of data analysis result stage. The aim of this study is to describe Abun phonology, especially phonemes in Abun language as well its distribution and phonotactic. The result shows that Abun language has 26 phonemes which is divided into 16 consonant phonemes and 8 vowels phonemes. Furthermore, Abun language has eight diphtongs and fourteen consonant clusters.Keyword: Abun language, phonology, phonemes, diphtong, consonant clusters.  AbstrakBahasa Abun merupakan salah satu bahasa daerah yang ada di Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat. Bahasa Abun termasuk dalam kelompok bahasa Non Austronesia. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif, dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran lengkap tentang fonologi bahasa Abun. Penelitian ini menggunakan tiga tahapan. Ketiga tahapan itu yakni tahap penyediaan data, tahap penganalisisan, dan tahap penyajian hasil analisis data. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan fonologi bahasa Abun, khususnya fonem-fonem bahasa Abun beserta distribusi dan fonotaktiknya. Hasil penelitian menunjukkan bahasa Abun memiliki 26 fonem yang terdiri atas 16 fonem konsonan dan delapan fonem vokal. Di samping itu, bahasa Abun juga memiliki delapan kelompok deret vokal dan 14 kelompok gugus konsonan. Kata kunci: bahasa Abun, fonologi, fonem, deret, vokal, gugus konsonan.
TRADISI LISAN MALE-MALE: NYANYIAN KEMATIAN DALAM MASYARAKAT CIACIA: KAJIAN SOSIOLOGIS DAN UPAYA PEWARISAN Asrif, Asrif
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 2 (2012): Volume 12, Nomor 2, Oktober 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i2.3702

Abstract

      Abstrak Tradisi Lisan Male-Male: Nyayian Kematian dalam Masyarakat Ciacia: Kajian Sosiologis dan upaya Pewarisan. Male-Male merupakan syair yang dinyanyikan sesaat setelah seorang warga yang dianggap sosok sempurna meninggal dunia. Tradisi lisan ini menggambarkan penghargaan masyarakat terhadap sosok sempurna melalui ungkapan kesedihan, kerinduan, ketabahan, dan puji-pujian. Pelaksanaan Male-Male memiliki sejumlah fungsi, baik fungsi pribadi (penutur dan tuan rumah) maupun fungsi bagi masyarakat (warga yang melayat). Bagi penutur dan tuan rumah, tradisi ini berfungsi untuk menghibur, kepedulian sesama, penyebaran nilai-nilai sosial dan agama, prestise, dan mewariskan tradisi. Bagi masyarakat, Male-Male berfungsi sebagai sarana mengingatkan diri akan kematian, memperkokoh keimanan, dan meningkatkan empati, serta solidaritas sesama. Diperlukan upaya pewarisan dalam menjaga keberlanjutan tradisi ini. Pewamisan formal yakni melalui sekolah, sedangkan pewarisan informal melalui penguatan lembaga adat.Kata kunci: Tradisi Lisan, Male-Male, Sosiologis, dan Pewarisan         Abstract Oral Tradition of Male-Male: Death Anthem Ciacia: Sosiological Studies and an Effort to Pass It On to the next Generation. Male-Male is lyrics sung upon the death of a member of the society who is considered a perfect person. This oral tradition shows the society appreciation towards the person through the expression of sadness, longing, partience and praises. Male-Male serves various functions; both private functions (the singer and host), and societal function (the guests). For th singer and the host, this tradition serves as consolation, caring towards other members, dissemination of social values and religion, prestige, and passing on a tradition. For the society, Male-Male functions as a self remainder of death, strengthening faith, increasing empathy and solidarity. Efforts to guarantee the continuity of this tradition by the next generation are required. Formal effortcan be made through schools, and the informal ones can be made through the strengthening of tradition bodies.Keywords: Oral tradition, Male-Male, Sociology, and Passing the tradition
LINGUISTIC ETIQUETTE IN INSTANT MESSAGING TEXT-BASED COMMUNICATION IN WRITING CLASS Rakhmawati, Deny Efita Nur
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 1 (2012): Volume 12, Nomor 1, April 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i1.3616

Abstract

Abstrak Norma Linguistik dalam Komunikasi Berbasis Pesan Pendek pada Kelas Menulis. Komunikasi Instant Messaging (Pesan Singkat) berbasis teks diperkaya oleh fitur linguistik, seperti pemendekan teks, gerak tubuh, isyarat intonasi, though-string, dan isyarat backchannel. Kemudian, penggunaan fitur linguistik ini membentuk strategi kesantunan yang sangat perlu untuk dijaga dalam rangka mencipakan komunikasi yang harmonis. Lebih jauh lagi, metode ini untuk mencapai norma linguistik. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pendekatan kualitatif dimana subjeknya adalah mahasiswa jurusan bahasa Inggris dalam kelas menulis. Data tersebut kemudian dianalisis berdasarkan teori fitur linguidstik dalam Instant Messaging, strategi kesantunan, dan etika linguistik. Analisis penelitian ini didukung oleh teknik wawancara sebagai data triangulasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa siswa cenderung menggunakan penyingkatan teks yang mengarahkan mereka untuk menerapkan strategi bald-on-record dan menunjukan bahwa mereka cenderung menghasilkan tingkat kalimat beretika rendah dan ditandai sebagai ungkapan kurang sopan. Akhirnya, dari hasil penelitian ini di harapkan bahwa pengajaran norma linguistik dapat diberikan kepada para siswa.Kata kunci: fitur linguistik, komunikasi pesan singkat, norma linguistik  Abstract Linguistic Etiquette on Instant Messaging Text-Based Communication In Writing Class. Instant Messaging text-based communication is enriched by the linguistic features, such as textual shortening, gestures, itention cues, though-string, and backchannel cause. Then, the use of these linguistic features form the strategy of politeness which is very needed to be kept in order to create harmonious communication. Furthermore, it is the method to achieve the linguistic etiquette. This research is conducted by using qualitative approach in which the subjects are the English department students in writing class. Then the data are analyzed based on the theory of linguistic features in Instant Messaging, politeness strategies, and linguistic etiquette. The analysis is supported by interview method as the triangulation data. The result shows that students tend to use textual shortening which leads them to apply bald-on-record strategy and it indicates that they tend to produce low etiquette sentences level and marked as the impolite highlighed phrase. Finally, it is hoped that the teaching of linguistic etiquette can be given to the students.Keywords: linguistic features, instant messaging communication, linguistic etiquette
PENGARUH INPUT BAHASA ORANG TUA TERHADAP KOMPLEKSITAS BAHASA ANAK: STUDI KASUS PADA ANAK USIA 5 TAHUN MELALUI INTERACTIVE SHARED READING Sundari, Hanna
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16, No 1 (2016): Volume 16, Nomor 1, April 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v16i1.3067

Abstract

AbstrakOrang tua merupakan lingkungan sosial dan sumber bahasa pertama bagi anak di awal kehidupannya. Komunikasi antara orang tua dan anak dipercaya dapat memengaruhi perkembangan bahasa dan perilaku anak. Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan apa dan bagaimana input bahasa orang tua (parental language input) khususnya dorongan bahasa ibu dan kompleksitas bahasa yang diproduksi  anak melalui interactive shared reading. Informan dalam penelitian ini adalah 1 orang anak perempuan berusia 5 tahun dan ibunya. Ibu melakukan aktivitas membacakan cerita (story reading) dibantu dengan buku bergambar setelah itu anak diminta menceritakan ulang (retelling story). Melalui teknik rekam dan catat, pengambilan data dilakukan sebanyak 3 kali dan diamati berdasarkan 2 aktivitas tersebut.Setelah transkripsi dilakukan, data lalu dianalisis secara kualitatif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa input bahasa ibu lebih banyak dalam bentuk pertanyaan dan pengisian yang mendorong anak untuk berfikir dan memproduksi bahasa. Bahasa anak juga didominasi oleh bentuk pertanyaan. Anak bertanya mengenai isi cerita maupun kata yang belum diketahuinya. Struktur kalimat anak kerap tidak beraturan dan terdapat beberapa bentukan kata yang belum dikuasai anak. Namun secara makna dapat dipahami. Hal ini menunjukkan anak sedang dalam proses pemerolahan bahasa.Kata kunci: input bahasa orang tua, kompleksitas bahasa anak, interactive shared readingAbstractParents are the first social environment and language source for children in early life. Parents-children interaction and communication influences how children acquire language and how they behave years later. This descriptive research aims at describing what and how parental language input particularly language prompting from mother affect children language development dan how children produce language through interactive shared reading. The informants were a 5-year-old child and her mother. They were videotaped while the mother was reading stories based on picture books; and then, the child was asked to retell the story. The activities were recorded 3 times during those two events run. After having transcripted in verbatim, the data showed that maternal language input mostly contains in questions and filling-ins to promote children thinking dan speech production. Moreover, child language is dominated by questions too. The questions are related to the story and unfamiliar vocabulary.  Sentence structures made by children are often disordered and the children contructs wrong word-forms. However, those utterances are understandle. This actually indicates that child is in the process of acquiring language. Keywords: parent language, the complexity of children's language, interactive shared reading
WRITING GRAMMATICAL SENTENCES: VOICES OF INDONESIAN UNDERGRADUATES IN EFL CLASSROOMS Gai Mali, Yustinus Calvin
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16, No 1 (2016): Volume 16, Nomor 1, April 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v16i1.3058

Abstract

Abstract      This study aims to explore perspectives of Indonesian undergraduates on factors that conceivably help them to write grammatical English sentences. The participants of the study were 40 students in a Procedural Writing class and an Extensive Reading class, at English Language Education Study Program, Dunia University, Indonesia (ED-DU); academic year 2014/2015. The data were collected through students’ written responses and interview. More specifically, the students responded to a statement asking their perspectives towards the issue. In the interview process, the researcher asked 3 participants to provide further clarification of the responses they have written. The findings provide some evidence that friends’ feedback, sufficient time to practice, and lecturer’s feedback are the primary factors perceived by the students. Besides, the overall results of the study would seem to indicate that possessing grammatical competence, specifically in writing the grammatical sentences, needs conscious focus on grammatical aspects through explicit learning of grammar rules and sufficient time to practice the rules, which the study posits as conceivable ways to enhance the students’ grammatical accuracy. Eventually, the study proposes possible pedagogical ideas to help the students to minimize their grammatical errors, as an attempt to support their roles as a future professional English teacher and language user.      Keywords: grammar, grammatical sentence, explicit learning, practice AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pandangan dari mahasiswa calon sarjana di Indonesia tentang faktor yang dapat membantu mereka untuk menulis kalimat bahasa Inggris dengan tata bahasa yang benar. Peserta dalam kajian ini adalah 40 mahasiswa di salah satu kelas Procedural Writing dan Extensive Reading, pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Dunia Indonesia, tahun akademik 2014/2015. Data penelitian diambil dari respon tertulis mahasiswa dan wawancara. Secara lebih rinci, para mahasiswa merespon suatu pernyataan yang menggali pandangan mereka terkait dengan pokok persoalan tersebut. Dalam proses wawancara, peneliti meminta 3 peserta dalam kajian ini untuk menjelaskan lebih jauh tentang respon tertulis mereka. Hasil analisa data memberikan beberapa fakta bahwa umpan balik teman, waktu yang cukup untuk berlatih, dan umpan balik guru merupakan faktor utama yang disebutkan oleh para mahasiwa. Selain itu, keseluruhan hasil dari kaijan ini nampak mengindikasikan bahwa memiliki kompetensi ketatabahasaan, khususnya dalam menulis kalimat dengan tata bahasa yang benar, memerlukan fokus secara sadar pada aspek-aspek tata bahasa melalui pembelajaran eksplisit aturan ketatabahasaan dan waktu yang cukup untuk berlatih aturan tersebut. Pada akhirnya, kajian ini mengusulkan beberapa gagasan pedagogi yang mungkin dapat membantu para mahasiswa dalam mengurangi kesalahan tata bahasa mereka, sebagai suatu usaha untuk menunjang peran mereka sebagai guru bahasa Inggris dan pengguna bahasa yang profesional di masa yang akan datang.Kata kunci: tata bahasa, kalimat dengan tata bahasa yang benar, pembelajaran secara eksplisit, latihan
THE SECONDARY SCHOOL ENGLISH LANGUAGE READING CURRICULUM: A TEACHER’S PERCEPTIONS Abdullah, Hazlina; Abdul Rahman, Nik Suryani; Mohd Adnan, Airil Haimi
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 2 (2012): Volume 12, Nomor 2, Oktober 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i2.3707

Abstract

     Abstrak Kurikulum Membaca Pembelajaran Bahasa Inggris di Skolah Menengah: Sebuah Persepsi Guru. Permasalahan yang di hadapi dalam pembelajaran membaca pemahaman tidak hanya terjadi secara khusus pada siswa di Malaysia. Secara faktual banyak siswa di dunia yang mengalami kesulitan dalam memahami bacaan. Secara faktual, terdapat beberapa siswa yang memelukan strategi pembelajaran khusus yang konkret untuk membantu memahami bacaan. Pemikiran awal yang hendak di kedepankan dalam tulisan ini adalah dengan mendefinisikan kegiatan membaca, kemudian diikuti dengan sebuah kajian mendalam berkait dengan pembelajaran bahasa komunikatif (CLT) yang diadaptasi dari bentuk 5 kurikulum membaca bahasa Inggris di Malaysia. Bagi penulis, pembaca, dan teks, membaca merupakan bentuk aktual dari sebuah proses komunikasi yang menempatkan pembaca  memahami aturan-aturan secara aktif dalam sebuah proses membaca. Asumsi dasar dalam penelitian ini adalah pentingnya guru menerapkan aturan-aturan yang didasari pada tujuan belajar dalam meningkatkan kemampuan siswa membaca pemahaman. Hal ini merefleksi pentingnya kurikulum membaca yang akan diimplementasikan guru dalam pembelajaran membaca sebagai pijakan penyususnan ancangan kurikulum. Hal ini yang diharapkan kajian ini dapat memberikan manfaat termasuk dalam pengembangan kurikulum dan penyiapan ujian hanya untuk guru Malaysia tetapi juga di dunia sekitar.Kata kunci: kurikulum membaca bahasa Inggris, kemampuan membaca pemahaman AbstractThe Secondary School English Language Reading Curriculum: A teacher’s Perceptions. The problem of reading comprehension is not unique to only Malaysian graduates. In fact many students experience comprehension difficulties. This, some sudents need explicit comprehension strategy instruction. A rational starting point for this discussion is by defining what reading is. It is then followed by a brief review on Communicative Language Teaching (CLT) which is adopted in the Malaysian Form 5 English Language Reading Curriculum. Involving the writer, the reader and the text, reading is actually a communication process where a reader is seen to perform an active role in a reading process. Based on the many previous researches, it is obvious that the teacher’s role in aiding students’ reading comprehension skills is vital. This also reflects the importance of the reading curriculum, as teachers will impkement their reading instruction based on the outlined curriculum. It is hoped that this study may benefit those involved in the curriulum development and examination syndicate, to enhance the teaching and learning processes of reading in the second language, not only among teachers in Malaysia but also world-wide.Keywords: English language Reading Curriculum, reading comprehension skill

Page 9 of 29 | Total Record : 287