cover
Contact Name
Indri Seta Septadina
Contact Email
indri.andriansyah@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
rulanadnindya.md@fk.unsri.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. ogan ilir,
Sumatera selatan
INDONESIA
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
Published by Universitas Sriwijaya
ISSN : 24067431     EISSN : 26140411     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya with registered number ISSN 2406-7431 (Print) and ISSN 2614-0411 (Online), is a scientific journal managed by Faculty of Medicine Universitas Sriwijaya, Indonesia. It publishes original research articles and reviews in Biomedical Sciences, Medicine (Neurology, Cardiovascular, Respiratory, Gastrointestinal, Urogenital, Endocrine and Metabolism, Integument, Mental Health, Obstetry and Gynecology, Ophtalmology, ENT, Musculusceletal) and Public Health Medicine.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2023)" : 15 Documents clear
INSIDENSI DAN FAKTOR RISIKO CORONARY SLOW FLOW: SYSTEMATIC REVIEW Aulia Firdha Tariza; Yudhie Tanta; Emma Novita
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V10I2.21087

Abstract

Studi epidemiologis tentang kejadian CSF penting untuk lebih memahami faktor risiko dan menentukan riwayat alami kondisi tersebut. Oleh karena itu, systematic review ini dibuat untuk membahas insiden terjadinya CSF, serta mengetahui berbagai prediktor yang terkait dengan terjadinya CSF. Tinjauan sistematis ini dianalisis dengan menggunakan metode PRISMA-P 2015. Berdasarkan hasil pencarian, terdapat 10 artikel relevan yang memenuhi kriteria untuk dianalisis. Hasil analisis didapatkan hasil kejadian CSF 34% dan 34,2% pada artikel berdesain case control, sedangkan 1 artikel berdesain cross sectional yang didapatkan 1,43% kejadian CSF. Faktor risiko terkait atau prediktor terkait dengan terjadinya fenomena coronary slow flow (CSF) yaitu, BMI tinggi, lingkar pinggang tinggi, hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia, merokok dan jenis kelamin laki-laki, usia >50 tahun, tingkat SII (systemic immune inflammation), kadar urotensin II, dan faktor psikologis. Kesimpulan didapatkan Angka kejadian coronary slow flow (CSF) cukup tinggi. Berbagai faktor risiko atau prediktor fenomena CSF terdapat faktor yang bisa diubah maupun yang tidak bisa diubah. 
FUNCTIONAL ANATOMY OF MANDIBULAR NERVE Msy Rulan Adnindya; Indri Seta Septadina; Tri Suciati; Wardiansah Wardiansah
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V10I2.21252

Abstract

The mandibular nerve is the largest branch of the trigeminal nerve. It innervates the mandibular teeth, gums, skin of the temporal region, ear, lower lip, the lower part of the face, muscles of mastication, and mucous membrane of the anterior 2/3 of the tongue. The mandibular nerve is the main pharyngeal nerve arch. The sensory and motor fibers in the mandibular nerve originate from two roots: the sensory root, which originates from the semilunar ganglion, and the motor root, which originates from the motor nucleus. The mandibular nerve has a mixture of sensory and motor nerves and motor and sensory functions. Face, cheeks and temples, oral cavity, teeth and gums, nasal cavity and sinuses, and temporomandibular joints and muscles. Trauma to the mandible can damage or tear the inferior alveolar nerve in the mandibular canal, causing sensory loss distal to the lesion. Local anesthesia of the inferior alveolar nerve is generally reserved for dental procedures. Local anesthetic injection into the oral mucosa on the medial side of the mandible can also involve the nearby lingual nerve, thus affecting the tongue and the inside of the mouth. The close connection between the submandibular canal and the lingual nerve is important in root canal infections and surgical procedures.
DAYA HAMBAT EKSTRAK GYNURA PSEUDOCHINA TERHADAP BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS PADA PLAT AKRILIK POLIMERISASI PANAS Nabilah Putri; Martha Mozartha; Sri Wahyuningsih Rais
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V10I2.21362

Abstract

Staphylococcus aureus merupakan salah satu mikrobial yang sering ditemukan pada permukaan gigi tiruan pasien denture stomatitis. Salah satu pencegahan dari penyakit ini adalah dengan menggunakan pembersih gigi tiruan. Gynura pseudochina merupakan tanaman herbal yang sering digunakan di Indonesia dan diketahui memiliki kandungan bioaktif sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas ekstrak Gynura pseudochina konsentrasi 5%, 10%, 15%, 20%, 25% terhadap pertumbuhan bakteri S.aureus pada plat resin akrilik polimerisasi panas. Tiga puluh lima plat akrilik polimerisasi panas berukuran 10x10x1mm dikontaminasi dengan bakteri S.aureus, dibagi menjadi 7 kelompok (n=5). Sampel direndam pada ekstrak G.pseudochina, sodium hipolorit, dan akuades selama 30 menit. Sampel dipindahkan kedalam larutan NaCl 0,9% kemudian diambil 0,1 ml dibenihkan pada media PCA lalu diinkubasi selama 24 jam. Jumlah koloni S.aureus dihitung menggunakan colony counter. Data dianalisis menggunakan uji one way ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Post Hoc Games-Howell. Terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik pada hampir seluruh kelompok (p<0,05) kecuali kelompok perlakuan ekstrak 5% dengan 10% dan kelompok perlakuan ekstrak 5%, 10% dengan kontrol negatif (akuades) (p>0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak G.pseudochina 15%, 20%, 25% efektif dalam menghambat pertumbuhan koloni bakteri S.aureus dan konsentrasi 25% merupakan konsentrasi paling efektif.
ANALISIS KADAR DAN KEAMANAN PENGAWET ASAM BENZOAT PADA MANISAN BUAH KEDONDONG YANG DIJUAL DI KAWASAN WISATA MUSEUM TSUNAMI BANDA ACEH Elfariyanti Elfariyanti; Irma Zarwinda; Zunaili Rihadhatul Aisy; Dwi Putri Rejeki
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V10I2.20761

Abstract

Asam benzoat adalah pengawet buatan yang diperbolehkan penggunaannnya dalam makanan dan minuman dengan kadar tertentu. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) nomor 036 tahun 2013 menetapkan bahwa syarat  penggunaan asam benzoat pada manisan buah tidak melebihi dari 500 mg/Kg berat bahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan asam benzoat yang terdapat dalam manisan buah kedondong yang dijual di kawasan Wisata Museum Tsunami Banda Aceh memenuhi persyaratan BPOM atau tidak. Adapun metode penelitian bersifat deskriptif analitik menggunakan Spektrofotometer UV-Vis. Penelitian ini dilakukan di laboratoriun penelitian Akafarma Banda Aceh dan laboratorium instrumentasi Fakultas MIPA Unsyiah. Sampel pada penelitian ini adalah 6 sampel manisan buah kedondong yang dijual di kawasan Wisata Museum Tsunami Banda Aceh. Hasil penelitian didapatkan bahwa dari keenam sampel yang diuji terdapat 5 sampel yang positif mengandung asam benzoat  yaitu sampel A, C, D, E dan F dan 1 sampel negatif yaitu sampel B. Adapun kadar asam benzoat pada sampel A, C, D, E dan F berturut-turut sebesar 31,96 mg/Kg; 14,7 mg/Kg; 15,77 mg/Kg; 7,85 dan 15,41 mg/Kg. Hal ini menunjukkan  bahwa  kadar  asam benzoat  pada kelima sampel  tersebut  memenuhi syarat yang ditetapkan oleh BPOM yaitu 500 mg/Kg berat bahan.   
RESULTS OF INTRAVENOUS ALINAMIN AND ALCOHOL EXAMINATION RESULTS IN PATIENTS COMPLAINTS OF SNACTING DISORDERS AT RSMH PALEMBANG Yoan Levia Magdi; Guntur Bayu Bima Pratama; Erial Bahar
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V10I1.21350

Abstract

Smell is a chemical substance mixed in the air that humans perceive with their sense of smell. Loss of smell or loss of smell has become very important in recent years. Currently, research on odor is very interesting because it can determine the type of odor, as well as the function of smell. Examination of the intravenous smell test and alcohol smell test is one of the gold standard examinations that can be done to determine the type of smell disorder. To determine the concordance between the results of the intravenous alinamin smell test and the alcohol smell test in patients with olfactory disorders at RSMH Palembang. Observational and analytic research using cross sectional. Data collection was carried out using the medical records of RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang for the period October 2022 to January 2023. Data were analyzed with IBM SPSS 25. In this study, there were 49 patients with complaints of smell disturbances to the THTBKL department of RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. The mean age in the study was 33 years old with the most vulnerable population aged <20 years (26.5%). With the majority of the female sex (57.1%). While the majority of the work is mostly students (26.5%) and complains of gradual disturbance smells (91.8%). Most of the patients who came with complaints of smell disturbances were patients with sinonasal masses (53.1%). The correlation between intravenous alinamin and alcohol smell tests using the Spearman correlation test showed a very strong correlation (r=0.908) and in the conformity test using Cohen's kappa value obtained was 1.000 which means that perfect agreement was reached between the two tests. There is a concordance in the examination results between the alinamin smell test and the alcohol smell test in patients with complaints of smell disorders.
FORMULASI SEDIAAN MASKER GEL PEEL OFF EKSTRAK DAUN WALAY (MEISTERA CHINENSIS) ASAL SULAWESI TENGGARA Eny Nurhikma; Randa Wulaisfan; Musdalipah Musdalipah; Yulianti Fauziah; Nirwati Rusli
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V10I2.19864

Abstract

Masker gel peel off merupakan salah satu jenis masker praktis yang bermanfaat untuk merawat kulit wajah, melembabkan kulit serta membersihkan, dan memberi nutrisi sehingga kulit menjadi lebih bersih. Daun walay (Meistera chinensis) merupakan salah satu tumbuhan termaksud dalam famili Zingiberacea yang memiliki kandungan kimia yaitu senyawa alkaloid, terpenoid, flavonoid, fenol, tanin, steroid dan saponin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak daun Walay dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan masker gel peel off yang memenuhi syarat evaluasi fisik dan uji stabilitas sediaan. Ekstraksi daun Walay dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol ekstrak daun Walay diformulasi ke dalam tiga formula yaitu formula F1 konsentrasi 1%, F2 konsentrasi 3%, dan F3 konsentrasi 5%. Uji evaluasi fisik terhadap sediaan dilakukan dengan beberapa parameter pengujian yaitu uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji daya sebar, uji waktu mengering, uji iritasi dan uji cycling test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun Walay pada konsentrasi 1%, 3% dan 5% dapat dibuat dalam bentuk sediaan masker gel peel off  dan  memenuhi syarat evaluasi fisik sediaan, namun tidak stabil pada pengujian cycling test uji organoleptik bentuk sediaan dan uji daya sebar.
TINJAUAN PENGGUNAAN SUPLEMEN MULTIVITAMIN-MINERAL DAN HERBAL PADA ALOPESIA AREATA: LAPORAN KASUS Marina Astrid Rumawas; Ferina Angelia
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V10I2.21000

Abstract

Alopesia areata telah dikenal sejak 20 abad yang lalu, namun sampai saat ini penyebab pasti belum diketahui. Pengobatan terhadap alopesia areataAA banyak macamnya, baik pengobatan topikal, injeksi intralesi atau , sistemik, dll. Setiap dokter berusaha memberikan pengobatan sesuai dengan teori-teori etiologi yang dianutnya. Tujuan dari laporan kasus ini untuk menelaah penggunaan suplemen multivitamin dan mineral serta herbal pada kasus alopesia areataAA. Seorang laki-laki berusia 18 tahun datang ke rumah sakit (RS) untuk kontrol berkala atas keluhan kebotakan yang dialaminya. Pasien terdiagnosis alopesia areata (AA) sejak 3 tahun yang lalu. Selama rawat jalan, pasien pernah mendapatkan terapi injeksi kortikosteroid intralesi (KIL) dan topikal, laser diode, minoksidil 2% topical solusio, methisoprinol oral, antivirus oral, serta berbagai supplemen multivitamin dan mineral per oral. Meskipun pengetahuan terkait peran mikronutrien dan herbal pada alopesia areataAA terus berkembang, tetapi bukti ilmiah belum cukup untuk dapat dijadikan suatu rekomendasi klinis definitif seperti anjuran pemeriksaan kadar nutrien dalam darah secara rutin atau suplementasi sebagai terapi alopesia areata AA. Oleh karena itu, klinisi perlu memberikan edukasi yang baik kepada pasien terkait penggunaan suplemen dan bahan herbal untuk terapi alopesia areatapenyakit kulit. 
PERBEDAAN LATIHAN FISIK PAGI HARI DAN MALAM HARI TERHADAP PERSENTASE LEMAK TUBUH PADA PESILAT Aini Yatuz Zulfa; Rochman Basuki; Bintang Tatius
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V10I2.20812

Abstract

Pencak silat merupakan latihan fisik tipe aerobik dan tergolong intensitas berat ini berhubungan erat dengan kelincahan dan berat badan. Kedua hal tersebut dipengaruhi oleh kadar lemak tubuh. Distribusi lemak tubuh dipengaruhi oleh proses lipolisis yang distimulasi oleh hormon kortisol yang diatur oleh irama sirkadian. Proses lipolisis dipengaruhi adanya perbedaan waktu latihan fisik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan persentase lemak tubuh antara kelompok latihan fisik pagi hari dan malam hari pada pesilat PSHT Kota Semarang. Metode penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Latihan fisik pagi hari dan malam hari sebagai variabel bebas dan persentase lemak tubuh sebagai variabel terikat. Sampel penelitian berjumlah 34 pesilat PSHT Kota Semarang lalu dibagi menjadi 2 kelompok dan dipilih menggunakan metode purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengambilan data menggunakan data primer. Persentase lemak tubuh (PLT) diukur menggunakan skinfold caliper lalu hasil ukurnya dikonversikan ke dalam rumus Durnin-Womersley dan Siri. Pengolahan data menggunakan uji T Independen dengan p < 0,05. Rerata dari PLT 17 data pada kelompok pagi hari 13,37% dan PLT 17 data kelompok malam hari 16,7%. Kedua rerata kelompok dikategorikan normal. Uji T Independen perbedaan latihan fisik pagi hari dan malam hari terhadap PLT menghasilkan p = 0,009. Kesimpulannya terdapat perbedaan yang signifikan antara latihan fisik pagi hari dan malam hari terhadap persentase lemak tubuh pada pesilat. Latihan pagi hari lebih efektif memperoleh PLT yang normal.
HUBUNGAN ANTARA GEJALA KLINIS DAN LOKASI PERLENGKETAN LESI PADA PENDERITA ENDOMETRIOSIS Qherine Bhelqis; Hartati Hartati; Fatmawati Fatmawati; Firmansyah Seta Basyir; Rara Inggarsih
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V10I2.19953

Abstract

Endometriosis merupakan kondisi kronik dimana terjadi implantasi jaringan fungsional endometrium di luar kavum uterus.Diagnosis endometriosis cukup sulit dan sering tidak terdeteksi dalam waktu lama sehingga penelitian ini bertujuan untuk membantu penegakkan diagnosis lebih cepat karena dapat memperkirakan lokasi lesi lebih awal. Penelitian ini berjenis observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dengan jumlah sampel berjumlah 102 pasien. Lokasi perlengketan terbanyak berada di uterus sebanyak 54 pasien (52,9%) dan gejala klinis yang paling banyak adalah dismenore yaitu sebanyak 71 pasien (69,6%).  Hubungan gejala dismenore dengan lokasi perlengketan di uterus didapatkan nilai p sebesar 0,732 dan hubungan gejala dispareunia dengan lokasi perlengketan di cul de sac didapatkan nilai p sebesar 0,525. Sedangkan penelitian tentang hubungan antara gejala klinis diskezia dengan lokasi di rektum menghasilkan nilai p value 0,031 dan nilai PR 10,90 (95% CI 1,19 – 99,78). Tidak ada hubungan yang bermakna antara gejala klinis dismenore dengan letak perlengketan di uterus dan hubungan antara gejala klinis dispareunia dengan letak perlengketan di cul de sac. Namun, terdapat hubungan antara gejala klinis diskezia dan lokasi perlengketan di rektum.
ANTIBODY IgG LEVELS AND ADVERSE EVENTS FOLLOWING IMMUNIZATION AFTER THIRD DOSE OF MODERNA VACCINE IN HEALTHWORKERS AFTER TWO DOSES OF SINOVAC VACCINE Ade Tiur Rumondang; Utari Hartati Suryani; Debie Rizqoh; Mardhatillah Sariyanti; Besly Sinuhaji
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V10I2.20872

Abstract

Health Care Workers (HCWs) are a top priority to receive the vaccination for Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). After two doses of the Sinovac vaccine as the primary vaccine, protection against Covid-19 weakens over time, so a booster vaccination is considered to produce more antibodies. In addition, each vaccine is inseparable from Adverse Event Following Immunization (AEFI). This study compares antibody levels and AEFIs between two doses of the Sinovac vaccine with the Moderna booster. This research is an observational analytic study with a cross-sectional study design and the sampling method is random sampling with a total of 74 HCWs using a consecutive sampling method. Samples that had received two doses of the Sinovac vaccine or booster doses of the Moderna vaccine after two doses of the Sinovac vaccine were included. Samples that had been infected with Covid-19 before vaccination were excluded. IgG antibody levels were measured using Chemiluminescent Microparticle Immunoassay (CMIA), while vaccine type and AEFI were gathered via questionnaire. The severity of AEFIs is based on WHO classification. The data analysis used the Mann-Whitney and Chi-Square tests with a 95% Confidence Interval (CI) to determine the relationship between variables. Twenty-nine subjects received two doses of the Sinovac primary vaccine (38.2%), and forty-five received the Moderna booster vaccine (59.2%). In booster doses of the Moderna vaccine recipients, antibodies tended to be higher, and the most common AEFIs were systemic. There was a significant difference in IgG antibody levels between recipients of two doses of the Sinovac vaccine (median=2888.8 AU/mL) and booster Moderna vaccine recipients (median=18081.04 AU/mL) (p=0.000, p <0.05). There were significant differences in AEFI in the groups receiving two doses of the Sinovac vaccine and those receiving the booster vaccine (p=0.000, p<0.05). This study concludes that there is a significant correlation between administering the Covid-19 vaccine and post-vaccination IgG antibody levels and AEFI.

Page 1 of 2 | Total Record : 15


Filter by Year

2023 2023


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 3 (2025): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol. 12 No. 2 (2025): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol. 12 No. 1 (2025): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol. 11 No. 3 (2024): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol. 11 No. 1 (2024): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol 10, No 3 (2023) Vol. 10 No. 3 (2023): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol. 10 No. 2 (2023): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol 10, No 2 (2023) Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol 10, No 1 (2023) Vol 9, No 3 (2022) Vol. 9 No. 3 (2022): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol. 9 No. 2 (2022): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 9, No 2 (2022) Vol. 9 No. 1 (2022): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 9, No 1 (2022) Vol 8, No 3 (2021) Vol. 8 No. 3 (2021): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol. 8 No. 2 (2021): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 8, No 2 (2021) Vol 8, No 1 (2021) Vol. 8 No. 1 (2021): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 7, No 3 (2020) Vol. 7 No. 3 (2020): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol. 7 No. 2 (2020): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 7, No 2 (2020) Vol 7, No 1 (2020) Vol. 7 No. 1 (2020): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol. 6 No. 3 (2019): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 6, No 3 (2019) Vol 6, No 2 (2019) Vol. 6 No. 2 (2019): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 6, No 1 (2019) Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 5, No 3 (2018): Oktober 2018 Vol. 5 No. 3 (2018): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 5, No 3 (2018) Vol. 5 No. 2 (2018): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 5, No 2 (2018) Vol 5, No 1 (2018) Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol. 4 No. 3 (2017): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 4, No 3 (2017) Vol 4, No 2 (2017) Vol. 4 No. 2 (2017): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 4, No 1 (2017) Vol 3, No 1 (2016): Januari 2016 Vol 3, No 3 (2016) Vol. 3 No. 3 (2016): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol. 3 No. 2 (2016): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 3, No 2 (2016) Vol. 3 No. 1 (2016): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 3, No 1 (2016) Vol 2, No 3 (2015): OKTOBER 2015 Vol 2, No 3 (2015) Vol. 2 No. 3 (2015): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 2, No 2 (2015) Vol. 2 No. 2 (2015): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol. 2 No. 1 (2015): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 2, No 1 (2015) Vol 1, No 1 (2014): Oktober 2014 Vol 1, No 1 (2014) Vol. 1 No. 1 (2014): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi More Issue