cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Caraka Tani - Agriculture Science Journal
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 17 Documents
Search results for , issue " Vol 25, No 1 (2010)" : 17 Documents clear
TAMPILAN PRODUKSI SUSU SAPI PERAH YANG MENDAPAT PERBAIKAN MANAJEMAN PEMELIHARAAN Utomo, B.; D P., Miranti
Caraka Tani - Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian Vol 25, No 1 (2010)
Publisher : Caraka Tani - Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan kajian dilakukan untuk mengetahui pengaruh perbaikan manajemen pemeliharaan terutama peningkatan kualitas pemberian pakan dan perkandangan terhadap produksi susu sapi perah. Kajian dilakukan di  Desa  Kembang Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali.   Lokasi kegiatan kajian tersebut merupakan Program Prima Tani (Program Rinitisan  dan  Akselerasi   Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian). Kegiatan kajian dilakukan dengan melibatkan anggota kelompok tani ternak secara partisipatif. Pengamatan dilakukan terhadap sapi perah periode laktasi kedua sebanyak delapan ekor, dimana empat ekor sapi perah dipelihara dengan sistem petani dan empat ekor dipelihara dengan sistem introduksi (perbaikan manajemen pemeliharaan/perbaikan kualitas pakan dan perkandangan). Pakan yang yang diberikan berupa konsentrat, hijauan (rumput gajah) dan singkong segar. Pemerahan susu dilakukan satu kali pada pagi hari. Data yang diambil meliputi produksi susu, konsumsi pakan dan berat jenis (BJ) susu. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan nilai rataan dan simpangan baku dan selanjutnya diuji dengan uji t. Hasil kajian  menunjukkan bahwa  terdapat  perbedaan antara  pemeliharaan pola  petani  dengan  pola  perbaikan manajemen pemeliharaan. Produksi susu sapi perah yang dihasilkan rata-rata sebanyak 7,08 + 0,31 l/ekor/hr dan 4,59 + 0,39 l/ekor/hr, masing-masing untuk sistem perbaikan manajemen pemeliharaan dan sistem petani. Konsumsi Bahan Kering (BK)  dengan sistem petani  rata-rata 7,79 + 0,61 kg/ekor/hr dan sistem perbaikan manajemen pemeliharaan 8,29 + 0,61 kg/ekor/hr. Berat jenis susu dengan sistem petani  rata-rata 1,0253 dan1,0271 sistem perbaikan manajemen pemeliharaan. Hasil kegiatan kajian dapat disimpulkan bahwa dengan sistem perbaikan manajemen pemeliharaan sapi perah dapat meningkatkan produksi susu.
ANALISIS EFISIENSI EKONOMI PENGGUNAAN FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI KEDELAI DI KABUPATEN SUKOHARJO Rahayu, Wiwit; Riptanti, Erlyna Wida
Caraka Tani - Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian Vol 25, No 1 (2010)
Publisher : Caraka Tani - Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research  ordering  to analyze  the greatest  affecting  of production  factors  to the production result in soybean farm in Sukoharjo Regency and to find out whether the farmer in  Sukoharjo Regency had  reached  the highest  economic  efficiency.    The  main  method  of research  was  descriptive  and  the technique was by using survey. The research was conducted in Sukoharjo Regency.  The research took 30 farmers  as  the  sample.  The  samples  are  monoculture  soybean    farmer  which  selected  by   purpusive sampling.    The  result  of the doubled-linier  regression  analysis  performed  that  the  production  factors which gave the greatest affecting to the result of soybean production is large of land.  The large of land has linier comparison effect to the production result of soybean and affected to the  production result of soybean,  means addition of production factor of seeds exactly will be bring increase the production result of soybean. Based on the maximum profit  approach can be found out that the combination of the use of production factors in soybean farm in Sukoharjo Regency not yet optimal. It means that the soybean farm needs combination of increasing and or decreasing production factors to optimize the use of production factor.
INTRODUKSI DAUN KERING LEGUMINOSA POHON SEBAGAI SUMBER PROTEIN DALAM PAKAN-KOMPLIT UNTUK TERNAK DOMBA DARA Nuschati, Ulin; Utomo, Budi; Prawirodigdo, S.
Caraka Tani - Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian Vol 25, No 1 (2010)
Publisher : Caraka Tani - Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suatu  penelitian  dilakukan  untuk  menguji  pengaruh  tiga  formula  pakan  komplit  menggunakan sumber  protein daun lamtoro  (Pakan1),  glirisidia  (Pakan2),  dan kaliandra  (Pakan3)  terhadap  penampilan reproduksi domba ekor tipis.  Penelitian menggunakan 18 ekor domba dara ekor tipis (kira-kira berumur 8 bulan)  yang  ditempatkan   dalam  ruangan  bersekat  (individual)   pada  kandang  pangung  milik  Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah di Ungaran.  Masing-masing ternak secara acak diberi salah satu di antara ketiga macam pakan percobaan tersebut.  Di samping itu penelitian ini juga menggunakan 3 ekor pejantan  domba ekor gemuk.   Variabel yang dievaluasi  antara lain konsumsi  pakan, pertumbuhan ternak,  umur  awal  kawin,  bobot  awal  kawin  serta  tingkat  kebuntingan   ternak.     Hasil  penelitian menunjukkan bahwa domba dara yang diberi Pakan2  mengkonsumsi bahan kering pakan (535,7 g/h) lebih tinggi  (P<0,05)  dari  pada  yang  menerima  Pakan1   (489,7  g/h)  maupun  Pakan3   (500,3  g/h).    Data  ini menjelaskan bahwa palatabilitas Pakan2  adalah yang terbaik di antara ketiga pakan percobaan.  Konsisten dengan  itu, pertambahan  bobot hidup (37,4 g/h) dan bobot  kawin awal (17,88  kg) domba  yang diberi pakan komplit daun glirisidia (Pakan2) juga lebih tinggi (P<0,05) dari yang menerima Pakan1  (21 g/h dan 15,88kg)  maupun yang mengkonsumsi  Pakan3  (20,4 g/h dan 16,37 kg).   Meskipun  demikian,  pengaruh perbedaan penggunaan daun leguminosa kering dalam pakan terhadap tingkat kebuntingan ternak domba tidak bermakna  (66.7% : 66,7% : 60%, masing-masing  untuk ternak yang menerima  Pakan1  : Pakan2  : Pakan3).  Secara keseluruhan penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa penggunaan daun leguminosa kering sebagai sumber protein dalam pakan komplit pada perbibitan domba tidak menimbulkan  dampak negatif.
STUDI POTENSI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) SAMPAH “PUTRI CEMPO” SURAKARTA SEBAGAI SUMBER PAKAN SAPI POTONG Sudiyono, Sudiyono; Handayanta, Eka
Caraka Tani - Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian Vol 25, No 1 (2010)
Publisher : Caraka Tani - Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian  ini bertujuan untuk mengetahui  potensi dari tempat pembuangan  sampah akhir ( TPA) Putri Cempo Surakarta sebagai sumber pakan sapi potong. Penelitian dilaksanakan selama enam bulan di beberapa  lokasi  antara  lain 1) TPA  sampah  “Putri  Cempo”  Mojosongo  Surakarta,  untuk  pengambilan sampel  sampah  2) Laboratorium  Biokimia  Nutrisi  Fakultas  Peternakan  UGM  untuk analisis  proksimat (kandungan   nutrien)   sampel  sampah  (organik),   3).  Laboratorium   Pengujian   Veteriner   Balai  Besar Veteriner  (BBVET), Wates Yogyakarta untuk analisis kandungan logam berat (Pb dan Hg) pada sampah organik.  Hasil  pengambilan  sampel  (sampling)  sampah  yang  dibuang  ke  TPA  “Putri  Cempo”  dan dipisahkan     antara sampah organik dan sampah anorganik,  terlihat bahwa jumlah sampah organik jauh lebih banyak daripada yang anorganik. Jumlah sampah organik dari masing-masing sumber sampah yang dibuang di TPA, diantaranya sampah domistik   adalah 63,82%, sampah pasar adalah  83,21% dan sampah umum 67,53%. Hasil analisis proksimat terlihat bahwa kandungan protein (PK)  sampah organik  berkisar antara 10,00 – 12,79%. dan bahan kering (BK) 26,88-34,01 %. Berdasarkan kandungan bahan keringnya, maka total BK sampah organik selama 5 (lima) tahun terakhir adalah berkisar antara 15,81 – 16,56 ribu ton/tahun, jika diasumsikan  bakalan sapi potong yang digemukan dengan bobot badan 300 Kg/ekor dan kemampuan  mengkonsumsi  pakan  (dalam  BK)  sebesar  3%  bobot  badan  (9  Kg/ekor/hari  atau  3.285 Kg/ekor/tahun)   maka   sampah organik tersebut dapat mencukupi 4812 – 5041   ekor. Kandungan logam berat Timbal  atau Plumbum  (Pb) dari sampah organik yang dibuang ke TPA “Putri Cempo”  Surakarta sebesar 12,34 ppm adalah cukup tinggi. Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini bahwa TPA Putri Cempo Surakarta,  potensial  sebagai sarana penggembalaan  ternak sapi potong,  mengingat  jumlah sampah organik (Bahan Kering) yang dibuang  secara kuantitatif cukup besar yakni 15,81 – 16,56 ribu ton /tahun dan secara kaulitatif masih mengandung  nutrien yang cukup baik yang   dapat dimanfaatkan  oleh sapi potong, akan tetapi tercemar oleh Timbal atau Plumbum (Pb), tetapi tidak tercemar oleh Mercury atau Hydrogyrum (Hg).
ANALISIS PENDAPATAN PETERNAK SAPI PERAH LOKAL DAN EKS-IMPOR ANGGOTA KOPERASI WARGA MULYA DI KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA Sundari, Sundari; Katamso, Katamso
Caraka Tani - Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian Vol 25, No 1 (2010)
Publisher : Caraka Tani - Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pendapatan dan kelayakan usaha peternak sapi perah lokal dan impor pada peternak  anggota  koperasi  Warga Mulya. Penelitian  ini dilaksanakan  pada tanggal  15 Mei  sampai  dengan  20 Juni  2005.  Materi  yang  digunakan  dalam  penelitian  ini  adalah  27 peternak sapi perah lokal dan 6 peternak sapi perah impor anggota koperasi Warga Mulya di Kabupaten Sleman,  dilakukan  dengan  metode  survey.  Dari hasil penelitian  menunjukkan  bahwa usaha ternak sapi perah lokal mengalami keuntungan sebesar Rp. 565.394,26 per UT/tahun, sedangkan peternak sapi perah impor mengalami  kerugian  sebesar  Rp.84.585,81  per UT/tahun.  Nilai RCR responden  sapi perah lokal1,11  sedangkan  responden  sapi perah  impor  0,98.  Nilai  rentabilitas  peternak  sapi perah  lokal  10,77% sedangkan peternak sapi perah impor –1,55 %. Kesimpulan penelitian ini adalah peternak sapi perah lokal menguntungkan,  sedangkan  peternak sapi perah impor rugi, dan dari analisis secara ekonomi keduanya tidak layak diusahakan.
TEKNOLOGI GELATINISASI PADA PAKAN SUMBER ENERGI DAN SUPLEMENTASI ASAM AMINO SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI PERTUMBUHAN TERNAK RUMINANSIA Widyawati, Susi Dwi
Caraka Tani - Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian Vol 25, No 1 (2010)
Publisher : Caraka Tani - Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian  yang  bertujuan  untuk  mengetahui  pengaruh  gelatinisasi  bahan  pakan  sumber  energi dengan cara pengukusan (steaming) dan penggunaannya dalam ransum dalam upaya perbaikan performan domba,  telah dilakukan  di kandang  percobaan  Jatikuwung,  Jurusan  Peternakan  UNS selama  4 (empat) bulan, mulai dari bulan Juni sampai dengan September 2009. Analisis bahan pakan percobaan dikerjakan di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Pertanian UNS.Dua puluh ekor domba jantan dengan bobot badan individual berkisar antara 10 +  0.4 kg, dibagi secara  acak  kedalam  6  perlakuan  ransum.  Ransum  percobaan  terdiri  atas  rumput  raja  dan  konsentrat dengan perbandingan  = 60 : 40 (dasar BK). Perlakuan yang diterapkan  adalah P1:dedak padi, P2:dedak padi kukus, P3:dedak padi kukus +MHA, P4:Onggok,  P5:Onggok kukus dan P6:Onggok  kukus +MHA. Setiap perlakuan diulang 4 kali dan setiap ulangan terdiri dari satu ekor domba. Anova digunakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diamati dan uji DMRT untuk uji beda nyata antar perlakuan.Hasil penelitian  menunjukkan  bahwa  pengukusan  dan suplementasi  MHA tidak mempengaruhi konsumsi ransum, PBBH dan konversi ransum, keadaan ini memberikan gambaran bahwa perlakuan yang diterapkan   belum   dapat   memperbaiki   konsumsi   yang   berakibat   pada   PBBH,   walaupun   terdapat kecenderungan  peningkatan  pada  konsumsi  dan  PBBH  terutama  pada  dedak  padi.  Namun  konsumsi protein  nyata  (P<0.05)  dipengaruhi  oleh  perlakuan.  Dedak  padi  dalam  ransum  memberikan  konsumsi protein  yang  lebih  tinggi  (P<0.05)  dibandingkan  onggok.  Penurunan  konsumsi  protein  secara  nyata (P<0.05)  diikuti dengan  kecenderungan  PBBH,  hal ini menunjukkan  adanya perbaikan  kualitas  protein dengan pengukusan  dan suplementasi  MHA sehingga terdapat pula kecenderungan  peninglatan  efisiensi penggunaan protein ransum. Pengukusan dedak padi dan suplementasi MHA serta penggunaannya  dalam ransum memberikan pengaruh yang baik pada pertumbuhan dan kualitas protein ransum domba.
PENGARUH MACAM EKSTRAK BAHAN ORGANIK DAN ZPT TERHADAP PERTUMBUHAN PLANLET ANGGREK HASIL PERSILANGAN PADA MEDIA KULTUR Hartati, Sri
Caraka Tani - Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian Vol 25, No 1 (2010)
Publisher : Caraka Tani - Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian  bertujuan  untuk  mengetahui  pengaruh  macam  komposisi  dengan  penambahan  bahan organik (ekstrak kedelai, jagung dan minyak ikan) dan konsentrasi ZPT pada media kultur terhadap pertumbuhan  planlet  anggrek  hasil  persilangan.  Penelitian  dilaksanakan  di Laboratorium  Fisiologi  dan Bioteknologi Tanaman Fakultas Pertanian UNS mulai bulan April sampai dengan Oktober 2009 Penelitian ini  dilaksanakan  dengan  menggunakan  Rancangan  Acak  Lengkap  dengan  2  faktor  perlakuan,  yaitu  : Faktor I adalah media bahan organik, terdiri dari 3 taraf : ekstrak kedelai,   ekstrak jagung,   dan  minyak ikan. Faktor II adalah konsentrasi  atonik, terdiri dari 3 taraf : 0 cc/ltr, 0,5 cc/ltr, dan 1 cc/ltr. Masing- masing kombinasi perlakuan diulang 4 kali.Hasil   penelitian   menunjukkan    bahwa   anggrek   hasil   persilangan   ♀Phalaeonopsis    pinlong cinderela><  ♂Phalaeonopsis  joanekileup  June”, perlakuan bahan organic jagung memberikan  pengaruh nyata  terhadap  saat  kemunculan  akar  (21,83  HST)  dan  jumlah  akar  (1,92).Perlakuan  bahan  organic minyak  ikan  memberikan  hasil  yang  berbeda  nyata  terhadap  panjang  akar  (2,82  cm) dan jumlah  akar (1,92), serta memberikan  hasil terbaik terhadap panjang daun. Sedangkan  untuk perlakuan  ZPT Atonik dapat menambah jumlah daun dan jumlah akar.
INKORPORASI SULFUR DALAM PROTEIN ONGGOK MELALUI TEKNOLOGI FERMENTASI MENGGUNAKAN SACCHAROMYCES CEREVISIAE Suprayogi, Wara Pratitis Sabar
Caraka Tani - Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian Vol 25, No 1 (2010)
Publisher : Caraka Tani - Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama inkubasi dan dosis  sulfur dalam onggok fermentasi  dengan  Saccharomyces  cerevisiae.    Penelitian  dilakukan  secara  invitro    di  Laboratorium Nutrisi  dan Makanan  Ternak,  Jurusan  Perternakan,   Universitas     Sebelas  Maret surakarta.Pelaksanaan penelitian dilakukan selama 3 bulan.Materi  penelitian  adalah  onggok  yang  difermentasi  dengan  kapang    Saccharomyces  cerevisiae dengan perlakuan dosis sulfur yaitu 0 dan 1500 mg/kg substrat (Kadar air 60%), lama inkubasi 2, 3 dan 4 hari.   Hasil penelitian di analisis ragam dengan menggunakan  Rancangan  Acak Lengkap Pola Faktorial2x3 dan setiap perlakuan diulang 3 kali.Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa onggok yang difermentasi dengan Saccharomyces cerevisiae  dengan lama inkubasi 3 hari dan penambahan  sulfur 1500 mg/kg dapat meningkatkan  bahan organik dan kandungan  protein biomassa hasil fermentasi  secara signifikan  (p<0,05) namun kadar serat kasar menunjukkan pengaruh yang berbeda tidak nyata.
MI KERING WALUH (Cucurbita moschata) DENGAN ANTIOKSIDAN DAN PEWARNA ALAMI Anam, Choiroel; Handajani, Sri
Caraka Tani - Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian Vol 25, No 1 (2010)
Publisher : Caraka Tani - Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mie merupakan salah satu jenis makanan yang paling populer di masyarakat. Saat   ini mie menjadi kebutuhan masyarakat luas sebagai bahan yang dapat menggantikan makanan pokok. Mie kering adalah mie segar yang telah dikeringkan hingga kadar airnya mencapai 8-10%. Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan mie kering adalah tepung terigu yang selama ini masih impor. Sehingga perlu adanya pengurangan konsumsi tepung terigu dalam pembuatan mie kering. Hal ini bisa disubstitusi dengan labu kuning. Labu kuning  adalah  tanaman  lokal  yang  melimpah  keberadaannya.  Angkak  merupakan  beras  yang  telah difermentasi dengan Monascus sp yang mengandung antosianin (pembentuk warna merah) yang bisa digunakan sebagai pewarna alami.Oleh karena itu perlu adanya penelitian guna mengetahui prosentase tepung terigu, labu kuning dan tepung angkak yang tepat dalam pembuatan mie kering yang bisa diterima oleh konsumen. Juga untuk mengetahui pengaruh penambahan labu kuning dan tepung angkak terhadap kandungan kadar air, abu dan protein, serta pengaruh terhadap kesukaan panelis terhadap parameter warna, aroma, elastisitas, rasa dan keseluruhan.Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktorial dengan dua faktor, faktor pertama yaitu substitusi labu kuning (0%, 20%, 30%, 40%) terhadap tepung terigu   dan faktor kedua yaitu penambahan tepung angkak (0%, 1%, 2%,3%). Hasil penelitian menunjukkan prosentase penggunaan labu kuning yang paling disukai oleh panelis yaitu mie kering dengan kombinasi perlakuan substitusi labu kuning sebesar 20% dengan tanpa penambahan tepung angkak. Semakin besar substitusi labu kuning akan meningkatkan kadar abu, sedangkan kadar air, kadar protein dan aktivitas antioksidan akan menurun secara tidak berbeda nyata. Semakin besar penambahan tepung angkak akan meningkatkan kadar abu, kadar protein dan aktivitas antioksidan, sedangkan kadar air menurun. Warna, aroma dan rasa mie kering cenderung tidak berpengaruh terhadap perlakuan substitusi labu kuning dan penambahan tepung angkak. Semakin banyak substitusi labu kuning, maka penilaian panelis terhadap parameter elastisitas akan semakin menurun secara tidak berbeda nyata. Semakin banyak penambahan tepung angkak, akan menurunkan penilaian panelis terhadap parameter elastisitas. Parameter keseluruhan cenderung tidak berpengaruh terhadap perlakuan substitusi labu kuning dan penambahan tepung angkak. Sampel dengan nilai tertinggi yaitu perlakuan substitusi labu kuning 20% tanpa penambahan tepung angkak.
PENGARUH KONSENTRASI BAP TERHADAP MULTIPLIKASI TUNAS ANTHURIUM (Anthurium andraeanum Linden) PADA BEBERAPA MEDIA DASAR SECARA IN VITRO Yuniastuti, Endang; Praswanto, Praswanto; Harminingsih, Ika
Caraka Tani - Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian Vol 25, No 1 (2010)
Publisher : Caraka Tani - Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian  bertujuan  untuk  mengetahui  pengaruh  macam  media  tanam  dan  konsentrasi  BAP  (6- Benzyl  Amino  Purine)  terhadap  multiplikasi  tunas  Anthurium  secara  in  vitro.  Perlakuan  penelitian meliputi  macam  media  tanam  yang  terdiri  dari  :  medium  Murashige  dan  Skoog  (MS),  Schenk  dan Hildebrandt (SH) serta Nitsch dan Nitsch (N2) dan konsentrasi BAP terdiri dari : 0 ppm, 2 ppm, 4 ppm. Variabel pengamatan meliputi saat muncul tunas, jumlah tunas, panjang tunas, saat muncul daun, jumlah daun, saat muncul akar, panjang dan jumlah akar. Rancangan penelitian berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data yang didapat ditampilkan secara diskriptif dan uji F taraf 5%, bila ada beda nyata dilanjutkan uji DMRT.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara media dan konsentrasi BAP secara nyata pada  jumlah  dan  panjang  tunas.  Medium  N2  dengan  penambahan  4  ppm  BAP  menunjukkan  adanya jumlah  tunas terbanyak  dan tunas terpanjang.  Medium  MS tanpa penambahan  BAP menunjukkan  saat muncul tunas tercepat.  Saat muncul daun tercepat pada perlakuan  MS dengan 2 ppm BAP dan jumlah daun  terbanyak  ditunjukkan  pada  perlakuan  medium  SH  tanpa  penambahan  BAP.  Saat  muncul  akar tercepat  pada perlakuan  medium  SH dengan  4 ppm BAP, sedangkan  akar terpanjang  ditunjukkan  oleh perlakuan Medium N2 tanpa penambahan BAP.

Page 1 of 2 | Total Record : 17