Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

KETERSEDIAAN PANGAN POKOK PADA RUMAH TANGGA PETANI PADI SAWAH IRIGASI DAN TADAH HUJAN DI KABUPATEN KARANGANYAR Rahayu, Wiwit
Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.563 KB)

Abstract

This study aims to determine the supply pattern of staple food , the  availability of staple food, and energy  avaibility from staple foods on the irrigated and rainfed rice farmers household in Karanganyar Regency. Samples totaling 150 rice farming households consisting of 90 irrigated rice farmers households and 60 rainfed rice farmers households  in four districts ( Karanganyar, Gondangrejo, Jaten, and Jatipuro District ) in the Karanganyar  Regency. Data used include the primary and secondary data. Data were analyzed descriptively. The results showed that the supply pattern  of staple food on rice farmer households in Karanganyar is from  production itself  and production itself plus of purchase. Average of staple food avaibility on irrigated rice farmer household  was 64.75 Kg per month and 65.05 kg per month on rainfed rice farmers  household. Average availability of energy from staple food on irrigated rice farmers household  was  2516.69 kcal / person / day and on the rainfed rice farmer households    was3584.53kcal/person/day.Keywords: Availability, staple food, energy, Karanganyar Regency
RANCANG BANGUN MODEL KELEMBAGAAN AGRIBISNIS PADI ORGANIK DALAM MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN Kusnandar, Kusnandar; Padmaningrum, Dwiningtyas; Rahayu, Wiwit; Wibowo, Agung
Jurnal Ekonomi Pembangunan: Kajian Masalah Ekonomi dan Pembangunan Vol 14, No 1 (2013): JEP Juni 2013
Publisher : Universitas Muhammdaiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this research was to design an institutional model for organic rice agribusiness. Data were collected through interviews and focus group discussion which includes the primary and secondary data. Data analysis methods for organic rice agribusiness institutional development were: system analysis, institutional analysis and interactive analysis. Result of the research indicated that organic rice agribusiness system in Sragen was supported by a strong superstructures. There were Go Organic 2010 program and many policies of Sragen government includes: cultivation, extension, marketing, and certification. Profile community of organic rice agribusiness includes organic rice farmers, farmer groups, associations of farmer groups (gapoktan), extension agents, organic rice farmer associations, organic rice agro-industry companies, government, and consumers. Designing models with the agribusiness system suggested a cluster of industry (industrial cluster) which composed of five subsystems, namely: upstream agribusiness, on farm agribusiness, down stream agribusiness, supporting agribusiness system, and marketing subsystem.
RANCANG BANGUN MODEL KELEMBAGAAN AGRIBISNIS PADI ORGANIK DALAM MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN Kusnandar, Kusnandar; Padmaningrum, Dwiningtyas; Rahayu, Wiwit; Wibowo, Agung
Jurnal Ekonomi Pembangunan: Kajian Masalah Ekonomi dan Pembangunan Vol 14, No 1 (2013): JEP Juni 2013
Publisher : Universitas Muhammdaiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jep.v14i1.163

Abstract

The aim of this research was to design an institutional model for organic rice agribusiness. Data were collected through interviews and focus group discussion which includes the primary and secondary data. Data analysis methods for organic rice agribusiness institutional development were: system analysis, institutional analysis and interactive analysis. Result of the research indicated that organic rice agribusiness system in Sragen was supported by a strong superstructures. There were Go Organic 2010 program and many policies of Sragen government includes: cultivation, extension, marketing, and certification. Profile community of organic rice agribusiness includes organic rice farmers, farmer groups, associations of farmer groups (gapoktan), extension agents, organic rice farmer associations, organic rice agro-industry companies, government, and consumers. Designing models with the agribusiness system suggested a cluster of industry (industrial cluster) which composed of five subsystems, namely: upstream agribusiness, on farm agribusiness, down stream agribusiness, supporting agribusiness system, and marketing subsystem.
Analisis Nilai Tambah Melinjo pada Sentra Industri Emping di Desa Bandar Kecamatan Sukomoro Kabupaten Magetan Adityaningrum, Eka; Marwanti, Sri; Rahayu, Wiwit
Agriecobis : Journal of Agricultural Socioeconomics and Business Vol 2, No 1 (2019): Maret
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.34 KB) | DOI: 10.22219/agriecobis.Vol2.No1.58-66

Abstract

Agricultural commodities are generally produced as raw materials and are easily damaged, so they need to be directly consumed or processed first. The processing can increase the added value of agricultural products. The purpose of this study was to determine the cost, revenue, profit, efficiency, and value added of melinjo chips industry in Industrial Center at  Bandar Village Sukomoro District Magetan Regency. The basic method of research used is descriptive analytical method. The determination of the sample area is purpossive which is Bandar Village Sukomoro District Magetan Regency because those village is the center of the melinjo chips industry in Magetan Regency. The respondents are found and gathered by using the proportional method and the respondents are found gathered simple random sampling method. The result of this research shows that total average cost spent by those industrialists in Bandar village is Rp5.816.109,00 per month. The average revenue for each of them is Rp7.826.667,00  per month and the profit is Rp2.010.492,00 per month. The running of melinjo chips industries is efficient. It can be known by efficiency value (R/C ratio) 1,42. The business of melinjo chips in Bandar Village, Sukomoro District, Magetan Regency provides added value of Rp. 8,645.00 / kg
PENINGKATAN NILAI TAMBAH WORTEL MELALUI PEMBUATAN MIE WORTEL DI DESA GONDOSULI KECAMATAN TAWANGMANGU KABUPATEN KARANGANYAR Rahayu, wiwit; Setyowati, Setyowati
Jurnal Abdimas Vol 24, No 3 (2020): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M), Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wortel merupakan sayuran yang sudah sangat dikenal masyarakat Indonesia dan populer sebagai sumber vitamin A karena memiliki kadar karotena (provitamin A) yang tinggi.  Tawangmangu merupakan salah satu wilayah sentra produksi wortel di Kabupaten Karanganyar. Pada tahun 2016, produksi wortel di Kabupaten Karanganyar sebanyak 14.454 kuintal.  Ketersediaan wortel yang melimpah dan sifat produk yang mudah rusak menyebabkan harga jual wortel rendah. Hal ini mengakibatkan petani sering mengalami kerugian. Oleh karena itu perlu adanya proses pengolahan wortel lebih lanjut yang dapat meningkatkan nilai ekonomis dan umur simpan  wortel. Berdasarkan permasalahan tersebut, pengabdian ini dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah wortel  melalui pembuatan mie wortel. Mitra dalam kegiatan ini adalah Kelompok Tani Wortel (KTW) Bina Taruna Sejahtera dan  Ngudi Makmur 3 yang berada di Desa Gondosuli Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar.  Kegiatan yang dilakukan meliputi pelatihan pembuatan mie wortel, pelatihan manajemen usaha, dan introduksi peralatan untuk membuat mie wortel.  Hasil dari  kegiatan pengabdian yang dilakukan adalah anggota kelompok tani mitra memiliki pengetahuan dan ketrampilan tentang cara membuat mie wortel, memiliki peralatan untuk membuat mie wortel, dan memiliki pengetahuan tentang manajemen usaha. Anggota kelompok tani mitra juga memiliki motivasi untuk mengembangkan usaha mie wortel. Anggota kelompok tani mitra berencana memproduksi mie wortel untuk menambah pendapatan keluarga dan menjadikannya makanan khas Desa Gondosuli Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar.. Kata Kunci: mie wortel, nilai tambah, Gondosuli
PENINGKATAN NILAI TAMBAH WORTEL MELALUI PEMBUATAN MIE WORTEL DI DESA GONDOSULI KECAMATAN TAWANGMANGU KABUPATEN KARANGANYAR Rahayu, wiwit; Setyowati, Setyowati
Jurnal Abdimas Vol 24, No 3 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/abdimas.v24i3.16258

Abstract

Wortel merupakan sayuran yang sudah sangat dikenal masyarakat Indonesia dan populer sebagai sumber vitamin A karena memiliki kadar karotena (provitamin A) yang tinggi.  Tawangmangu merupakan salah satu wilayah sentra produksi wortel di Kabupaten Karanganyar. Pada tahun 2016, produksi wortel di Kabupaten Karanganyar sebanyak 14.454 kuintal.  Ketersediaan wortel yang melimpah dan sifat produk yang mudah rusak menyebabkan harga jual wortel rendah. Hal ini mengakibatkan petani sering mengalami kerugian. Oleh karena itu perlu adanya proses pengolahan wortel lebih lanjut yang dapat meningkatkan nilai ekonomis dan umur simpan  wortel. Berdasarkan permasalahan tersebut, pengabdian ini dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah wortel  melalui pembuatan mie wortel. Mitra dalam kegiatan ini adalah Kelompok Tani Wortel (KTW) Bina Taruna Sejahtera dan  Ngudi Makmur 3 yang berada di Desa Gondosuli Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar.  Kegiatan yang dilakukan meliputi pelatihan pembuatan mie wortel, pelatihan manajemen usaha, dan introduksi peralatan untuk membuat mie wortel.  Hasil dari  kegiatan pengabdian yang dilakukan adalah anggota kelompok tani mitra memiliki pengetahuan dan ketrampilan tentang cara membuat mie wortel, memiliki peralatan untuk membuat mie wortel, dan memiliki pengetahuan tentang manajemen usaha. Anggota kelompok tani mitra juga memiliki motivasi untuk mengembangkan usaha mie wortel. Anggota kelompok tani mitra berencana memproduksi mie wortel untuk menambah pendapatan keluarga dan menjadikannya makanan khas Desa Gondosuli Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar.. Kata Kunci: mie wortel, nilai tambah, Gondosuli
DETERMINANTS OF RICE FARMING EFFICIENCY IN KARANGANYAR CENTRAL JAVA IN THE PERIOD OF ONE DECADE AFTER REFORMATION Barokah, Umi; Rahayu, Wiwit; Agustono, Agustono; Antriyandarti, Ernoiz
Journal of Environmental Science and Sustainable Development Vol. 5, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of the rice producer districts in Central Java is the Karanganyar district. The productivity of rice in Karanganyar district can still be improved because until 2010 the average productivity achieved at the farm level was still below potential or the research results were 8 ton ha-1. The low performance of farming because farmers are faced by the situation of limited production factors used in business to achieve the goal of maximizing income/welfare. The popular approach to measure the level of efficiency at the farm level is to use the frontier production function to determine technical efficiency. This study aims to determine the level of efficiency, in term of technical, allocation, and economy. This study also determines the factors that influence the technical and economic inefficiency of rice farming in Karanganyar district. This study uses Stochastic Production Frontier, by using 159 farmer respondents from 8 villages in 4 selected sub-districts. The result shows that rice farming in Karanganyar district already achieved technical and economic efficiency but has not yet for allocative efficiency. Factors of farmer's age, education, experience in rice farming, type of irrigation, and location (regional elevation) affect the technical inefficiency of rice farming in Karanganyar district significantly. While the factors that influence economic inefficiency are the type of irrigation and location. Farming households need to improve their technical efficiency, allocative efficiency, and economy efficiency.
PENINGKATAN USAHA KERIPIK SINGKONG RASA GADUNG MENUJU UKM YANG BERDAYA SAING rahayu, wiwit; Anam, Choiroel; Riptanti, Erlyna Wida
INOTEKS: Jurnal Inovasi Ilmu Pengetahuan,Teknologi, dan Seni Vol. 22 No. 1 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3672.785 KB) | DOI: 10.21831/ino.v22i1.18314

Abstract

ABSTRAKKeripik singkong rasa gadung merupakan salah satu hasil olahan dari singkong yang memiliki rasa gadung. Usaha pembuatan kripik ini telah lama dilakukan oleh masyarakat di Desa Pule Kecamatan Jatisrono Kabupaten Wonogiri, diantaranya UKM Jawi rahayu dan UKM Surami. Kegitan pengabdian dilakukan dalam rangka meningkatkan usaha keripik singkong rasa gadung agar memiliki daya saing di tengah persaingan yang ketat dalam usaha pengolahan pangan.  Kegiatan yang dilaksanakan agar kedua UKM mitra menjadi UKM yang berdaya saing meliputi : 1) Pelatihan dan pendampingan manajemen usaha, 2)  Fasilitasi dan pendampingan perijinan usaha, 3) Pelatihan dan fasilitasi kemasan, serta 4) Pendampingan pemasaran.  Hasil yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan adalah  1) perbaikan manajemen usaha khususnya pembukuan keuangan,  2) UKM mitra memiliki sertifikat P-IRT, 3) Kemasan lebih marketable, dan 4) daerah pemasaran semakin luas.  Pada akhirnya kegiatan yang dilakukan dapat meningkatkan jumlah produksi, kualitas produk, dan pendapatan UKM. Kata kunci:  daya saing, keripik singkong rasa gadung,UKM 
STRATEGI PENGEMBANGAN PERTANIAN PERKOTAAN DI KECAMATAN BANJARSARI KOTA SURAKARTA Janah, Nurita Miftakhul; Riptanti, Erlyna Wida; Rahayu, Wiwit
Sebatik Vol. 27 No. 2 (2023): Desember 2023
Publisher : STMIK Widya Cipta Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46984/sebatik.v27i2.2393

Abstract

Semakin sempitnya lahan pertanian, ketidakmerataan pendapatan, serta stigma pertanian hanya dapat dilakukan di pedesaan akan menimbulkan permasalahan terkait ketahanan pangan. Kecamatan Banjarsari merupakan salah satu kecamatan yang masyarakatnya telah menerapkan pertanian perkotaan dengan membentuk kelompok tani. Terdapat 35 kelompok tani yang tersebar di 11 kelurahan di Kecamatan Banjarsari. Terdapat sembilan kelompok tani yang aktif dan sisanya sebanyak 26 kelompok tani tergolong kurang aktif. Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal, mengetahui alternatif dan prioritas strategi pengembangan yang dapat diimplementasikan oleh kelompok tani di Kecamatan Banjarsari. Pengambilan data penelitian dilakukan dengan wawancara, observasi, dan studi literatur. Analisis dilakukan dengan matriks IFE, EFE, IE, SWOT, dan QSPM. Hasil identifikasi faktor internal menunjukkan terdapat lima faktor kekuatan dan enam faktor kelemahan. Identifikasi faktor eksternal menunjukkan terdapat enam faktor peluang dan dua faktor ancaman. Kekuatan utama yang dimiliki yaitu terdapat berbagai macam inovasi produk olahan  dan kelemahan utamanya yaitu kurangnya keberanian dalam mengambil resiko.  Peluang utama yang dimiliki yaitu adanya bantuan modal dan berbagai macam program pelatihan dari Dinas Pertanian. Ancaman utama yaitu adanya persaingan dengan produk serupa di Kota Surakarta. Hasil analisis matriks IE menunjukkan posisi pertanian perkotaan di Kecamatan Banjarsari berada pada sel IV yaitu grow and build. Strategi yang tepat untuk diterapkan yaitu intensif atau integratif. Matriks SWOT menghasilkan sembilan alternatif strategi pengembangan yang kemudian dianalisis dengan QSPM. Prioritas strategi pengembangan pertanian perkotaan yang dapat diterapkan yaitu memasarkan produk secara online melalui marketplace dan media sosial dengan perolehan skor TAS sebesar 7,154.
The Development of Waste Bank Management to Improve Household Income in Surakarta City Antriyandarti, Ernoiz; Barokah, Umi; Rahayu, Wiwit; Mandasari , Putriesti
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 25 No. 2 (2024)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2024.5777

Abstract

Establishing a waste bank in Surakarta City is not only intended to manage household waste The waste bank can also serve to improve the community's economy. Since 2014, the Surakarta City Environmental Services (DLH) has been promoting the formation of waste banks. There were 123 waste banks recorded in Surakarta City until 2020; in 2021, only 70 remained. Furthermore, not all waste banks can run well. Therefore, this study examines how to develop waste bank management to improve household income in Surakarta City. This study used a descriptive method and Miles and Huberman analysis using 120 waste bank customers and 13 managers as respondents. The result showed that the waste bank contribution to the household income was IDR 26,461/month, which means that some aspects need improvements, such as human capacity, infrastructure and facilities, time management, economic incentives, and the program itself. This study provides recommendations on how to maintain and increase waste bank activities to enhance household welfare and environmental quality.