cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
MANUSKRIPTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue " Vol 1, No 1 (2011)" : 12 Documents clear
Menafsirkan Ulang Riwayat Ken Angrok dan Ken Děděs dalam Kitab Pararaton Munandar, Agus Aris
MANUSKRIPTA Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : MANUSKRIPTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kitab Pararaton merupakan karya anonim yang ditulis dalam bahasa Jawa tengahan. Kitab tersebut menguraikan kehidupan Ken Angrok serta raja-raja Singhasari dan Majapahit. Tulisan ini berusaha menjelaskan latar belakang mengapa cerita mengenai Ken Angrok itu mendapat porsi yang lebih besar dibandingkan dengan cerita mengenai kehidupan raja-raja yang lain. Melalui telaah tekstual terhadap Kitab Pararaton dan telaah terhadap bukti-bukti arkeologis  terkait, terlihat bahwa cerita Ken Angrok dalam kitab tersebut merupakan simbol penyatuan dua agama besar yang dianut oleh masyarakat Jawa Kuno: Hindu Saiwa dan Budha Mahayana. Simbolisasi Agama Hindu-Saiwa itu terlihat dari uraian mengenai sosok Ken Angrok sebagai penjelmaan dari tiga dewa: Brahma, Siwa, dan Wisnu, sementara simbolisasi agama Budha Mahayana itu terlihat dari uraian mengenai sosok isteri Ken Angrok, yaitu Ken Děděs, sebagai putri tunggal Mpu Purwa, seorang pendeta Budha Mahayana. Sebagai implikasi dari penyatuan dua agama besar, beberapa candi yang mengandung semangat penyatuan tersebut, yang dikenal dengan candi Syiwa-Budha, dibangun pada masa Kerajaan Singhasari. Bentuk candi tersebut jelas tidak pernah terbayangkan ada sebelum masa Singhasari.
Menafsirkan Ulang Riwayat Ken Angrok dan Ken Děděs dalam Kitab Pararaton Munandar, Agus Aris
Manuskripta Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v1i1.384

Abstract

Kitab Pararaton merupakan karya anonim yang ditulis dalam bahasa Jawa tengahan. Kitab tersebut menguraikan kehidupan Ken Angrok serta raja-raja Singhasari dan Majapahit. Tulisan ini berusaha menjelaskan latar belakang mengapa cerita mengenai Ken Angrok itu mendapat porsi yang lebih besar dibandingkan dengan cerita mengenai kehidupan raja-raja yang lain. Melalui telaah tekstual terhadap Kitab Pararaton dan telaah terhadap bukti-bukti arkeologis  terkait, terlihat bahwa cerita Ken Angrok dalam kitab tersebut merupakan simbol penyatuan dua agama besar yang dianut oleh masyarakat Jawa Kuno: Hindu Saiwa dan Budha Mahayana. Simbolisasi Agama Hindu-Saiwa itu terlihat dari uraian mengenai sosok Ken Angrok sebagai penjelmaan dari tiga dewa: Brahma, Siwa, dan Wisnu, sementara simbolisasi agama Budha Mahayana itu terlihat dari uraian mengenai sosok isteri Ken Angrok, yaitu Ken Děděs, sebagai putri tunggal Mpu Purwa, seorang pendeta Budha Mahayana. Sebagai implikasi dari penyatuan dua agama besar, beberapa candi yang mengandung semangat penyatuan tersebut, yang dikenal dengan candi Syiwa-Budha, dibangun pada masa Kerajaan Singhasari. Bentuk candi tersebut jelas tidak pernah terbayangkan ada sebelum masa Singhasari.
Naskah Klasik di Kota Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara Idham, Idham
Manuskripta Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v1i1.415

Abstract

Tulisan ini merupakan penelusuran lanjutan naskah klasik di Kota Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara. Pada tahun sebelumnya (2009) telah diinventarisir dan digitalkan sebanyak 48 naskah klasik di Kota Ternate dan Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara. Pada tahun 2010, telah ditemukan, diinventarisir, dan digitalkan kembali sebanyak 125 di Kota Tidore Kepulauan. Naskah-naskah klasik tersebut pada umumnya ditulis pada abad 17-19. Adapun naskah yang ditulis pada abad ke-20 merupakan salin ulang dari naskah klasik yang ada. Naskah-naskah tersebut pada umumnya ditemukan pada masyarakat dan milik warga. Karena naskah klasik yang ada sudah berumur, maka naskah tersebut pada umumnya sudah tidak utuh, bahkan banyak yang hanya berupa lembaran-lembaran yang sudah tidak diketahui susunannya. Selain karena usia, penyebab lapuknya naskah tersebut karena pemeliharaan yang tidak memenuhi standar . adapun alas tulis yang digunakan berupa kertas Dluwang, Eropa (mempunyai watermark dan countermark), China, kertas bergaris dengan tinta lokal (mansi) dan tinta import. Sedangkan dari segi isi, naskah-naskah tersebut pada umumnya berisi tentang ajaran Tarekat. Selain Tarekat, juga berisi masalah fikih, nahwu, sharaf, tajwid, khutbah, surat Sultan, sejarah, jimat, dan lain-lain.
Menjadi Jawa: Naskah Cina-Jawa Mastuti, Dwi Woro Retno
Manuskripta Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v1i1.414

Abstract

Naskah-naskah Cina-Jawa, yang ditulis dalam bahasa/aksara Jawa merupakan bagian dari khazanah naskah Jawa yang telah hadir sejak awal abad ke-19. Isi naskah tersebut mengisahkan mitos/legenda Tiongkok, seperti Sam Kok dan Sik Jin Kwi. Jumlah naskah-naskah Cina-Jawa adalah 118 tersebar di berbagai perpustakaan di Pulau Jawa dan mancanegara. Naskah ini merupakan bukti aktifitas masyarakat Cina Peranakan Jawa di bidang tradisi tulis. Selain itu juga bukti upaya “menjadi Jawa” etnis Cina yang pada masa itu tinggal di Pulau Jawa . Aksara Swara dan aksara Rekan yang muncul dalam naskah  Cina-Jawa juga merupakan “bentukan baru” yang diciptakan untuk tetap memunculkan identitas kecinaan. Aksara tersebut digunakan untuk menulis nama-nama tokoh dan teks cerita.
Sastra Sasak Selayang Pandang Meij, Dick van der
Manuskripta Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v1i1.413

Abstract

Dalam tulisan ini dijelaskan secara ringkas mengenai kesusastraan Sasak di Pulau Lombok. Uraian diawali dengan menjelaskan pentingnya Agama Islam bagi orang Sasak dan dua varian agama Islam yang dianut oleh orang Sasak, yaitu Waktu Telu dan Waktu Lima. Sementara itu, dalam pembicaraan mengenai kesusastraan Sasak dijelaskan bahwa kesusastraan di Pulau Lombok diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya lewat penulisan di daun Lontar. Tulisan di daun lontar itu menggunakan sejenis aksara Jawa yang di Lombok disebut aksara Jejawen dan bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang digunakan dalam lontar Sasak itu berbau logat Jawa pesisiran timur tetapi banyak kosa kata yang khas Sasak dan dicampur lagi dengan kata-kata dari bahasa Aran, Melayu, Bali, dan lain sebagainya sehingga bahasa Jawa gaya Lombok selayaknya dianggap sebagai logat Jawa tersendiri.
Mengungkap Naskah Kuna koleksi Masyarakat Cirebon: Sebuah Catatan Filologis sebagai Trend Studi Islam di PTAI eL-Mawa, Mahrus
Manuskripta Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v1i1.416

Abstract

Studi filologi di Kementerian Agama RI, melalui Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), saat ini tengah menjadi trend. Hal itu bisa dilihat dari beberapa ikhtiar yang telah dilakukannya, baik secara praktis maupun strategis. Di antara PTAI yang dimaksud dalam tulisan ini adalah IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Naskah yang digunakan dalam paparan ini terkait dengan warisan Kraton/Kesultanan Cirebon, terutama Kasepuhan dan Kanoman yang berada di masyarakat. Kedua kraton ini merupakan dua dari empat Kraton di Cirebon. Keduanya mempunyai peran penting dalam peradaban Islam di Indonesia. Di antara peranannya antara lain adanya naskah kuna (manuscript) keagamaan yang hingga kini, sebagiannya diselamatkan para pewarisnya sebagai koleksi masyarakat. Tulisan ini mengungkap akses dan identitas naskah kuna Kraton yang di masyarakat, khususnya setelah digitalisasi bersama-sama PTAIN di Cirebon. Harapannya, terdapat tindak lanjut yang lebih strategis untuk penyelamatan dan pelestarian naskah kuna sebagai bukti dari peradaban Islam Indonesia oleh berbagai pihak. Paparan berikut ini dilengkapi pula dengan deskripsi sederhana dari beberapa naskah tersebut.
Karakteristik Naskah Islam Indonesia: Contoh dari Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar Fathurahman, Oman
Manuskripta Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v1i1.417

Abstract

Tulisan ini akan membahas tentang karakteristik naskah Islam koleksi Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar, yang antara lain ditunjukkan melalui berbagai catatan marginalia yang dibuat oleh penyalin naskah, maupun melalui catatan sampul yang dibuat belakangan oleh pemilik naskahnya. Marginalia dan catatan sampul tersebut dapat ditempatkan sebagai salah satu bentuk sumber penting dalam merekonstruksi sejarah sosial Zawiyah Tanoh Abee, yang merupakan salah satu skriptorium naskah keagamaan di Sumatera bagian Utara ini. Selain itu, tulisan ini juga akan mengemukakan karakteristik sejumlah naskah koleksi Zawiyah Tanoh Abee yang dapat memberikan gambaran tentang afiliasi dan kecenderungan pemikiran atau mazhab keagamaan masyarakat Muslim Aceh yang terhubungkan dengannya. Kajian terhadap naskah-naskah koleksi Zawiyah Tanoh Abee sendiri sebetulnya masih sangat terbatas dibanding jumlah naskahnya, padahal sebagian warisan sejarah Islam Aceh abad ke-17 dan 18, naskah-naskah Zawiyah Tanoh Abee jelas sangat penting kedudukannya, baik dalam konteks perkembangan Islam di Aceh maupun Nusantara secara keseluruhan, seperti akan saya kemukakan di bawah.
Pola Rima Syi’iran dalam Naskah di Tatar Sunda dan Hubungannya dengan Pola Rima Syair Arab
Manuskripta Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v1i1.418

Abstract

Syi’iran merupakan sebuah tradisi yang tidak asing lagi di dunia pesantren, khususnya yang terdapat di Tatar Sunda. Selain dipergunakan untuk menyampaikan buah pikiran yang umumnya berupa ajakan, syi’iran digunakan pula sebagai media untuk menyampaikan ajaran agama Islam, khususnya kepada para santri dan umumnya kepada masyarakat di sekitar pesantren. Penggunaan syi’iran sebagai media pendidikan dipandang sangat efektif karena lebih mudah diingat dan tidak membebani santri  (masyarakat) dengan situasi dan pola formal sebagaimana proses pembelajaran pada umumnya. Karena seringnya dinyanyikan atau diperdengarkan, syi’iran dengan sendirinya dapat dihafalkan di luar kepala tanpa keterpaksaan. Hal ini tentu membawa dampak bagi proses pendidikan di sekitar pesantren. Melalui syi’iran, diharapkan para santri serta masyarakat umum tergugah kesadarannya dan memiliki keinginan untuk mengikuti nasehat serta ajaran agama yang disenandungkan melalui syi’iran tersebut. Demikian mengakarnya tradisi syi’iran yang telah berlangsung sejak lama di Tatar Sunda, selain saat ini masih dapat dinikmati melalui pengeras suara di pengajian-pengajian juga dapat dibuktikan dengan adanya catatan-catatan syi’ir yang terdapat pada naskah klasik. Hal yang paling mudah diketahui dari syi’iran pada naskah adalah adanya pengulangan bunyi akhir yang membentuk musikalitas atau orkestrasi sehingga membuat syi’iran menjadi merdu jika dibaca. Adanya kebiasaan melantunkan syair-syair Arab, baik melalui tradisi pembacaan Barzanji, Shalawat, atau kutipan-kutipan syair pada Kitab Kuning sedikit banyak, baik disadari ataupun tidak, mempengaruhi pola rima syi’iran yang digubah oleh masyarakat lokal. Hal ini memunculkan sejumlah kesesuaian pola rima antara syi’iran dan syair Arab. Pola rima syi’iran dalam naskah Sunda dan hubungannya dengan pola rima syair Arab yang dibahas dalam makalah ini diharapkan dapat membantu proses edisi teks dalam penelitian filologi, khususnya untuk teks yang berbentuk syi’iran.
Kearifan Lokal “Makanan Tradisional”: Rekonstruksi Naskah Jawa dan Fungsinya dalam Masyarakat Dewi, Trisna Kumala Satya
Manuskripta Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v1i1.419

Abstract

Makanan  tradisional merupakan fenomena kebudayaan. Kebudayaan pun ikut menentukan makanan dapat dimakan atau tidak sekaligus memberi cap atau mengesahkannya.  Dengan demikian, makanan bukan sekedar untuk mempertahankan hidup, melainkan juga untuk mempertahankan kebudayaan sebuah kolektif.  Dalam hal ini, makanan mempunyai arti simbolik yang berkaitan dengan fungsi sosial dan keagamaan (religi). Dalam masyarakat Jawa, makanan tradisional erat hubungannya dengan upacara ritual masyarakat Jawa yang hingga kini masih dilaksanakan. Hal tersebut nampak dalam beberapa naskah Jawa yang berisi tentang makanan tradisional, yaitu Serat Centhini, Serat Goenandrija, Serat Wilujengan, Jumenengan, Kraman, Mangkunegaraan, dan Primbon Lukmanahakim Adammakna. Naskah-naskah tersebut berisi berbagai macam makanan tradisional serta fungsinya dalam masyakat Jawa. Melalui tulisan ini, akan dipaparkan kearifan lokal berupa warisan budaya, yaitu pemikiran-pemikiran nenek moyang mengenai makanan tradisional yang terekam dalam naskah-naskah tersebut.
Etika Politik Kesultanan Melayu Bima Islam, M. Adib Misbachul
Manuskripta Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v1i1.420

Abstract

Oman fathurahman (Ed.), “Jawharat al-Ma’arif: Mempertegas Identitas Kesultanan Melayu”, dalam Iman dan Diplomasi: Serpihan Sejarah Kesultanan Bima, (Jakarta: KPG bekerja sama dengan Ecole Francaise d’Extreme-Orient dan Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, 2010), hlm. 191-214

Page 1 of 2 | Total Record : 12