cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
WALISONGO
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Walisongo adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian IAIN Walisongo Semarang. Jurnal ini memiliki spesifikasi sebagai media untuk mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan bidang sosial keagamaan Islam. Jurnal ini terbit berkala setiap enam bulan sekali pada bulan Mei dan November
Arjuna Subject : -
Articles 92 Documents
MAKNA KULTURAL DAN SOSIAL-EKONOMI TRADISI SYAWALAN Anwar, Khoirul
WALISONGO Vol 21, No 2 (2013): Walisongo, "agama lokal"
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThis article tries to uncover the cultural reason on Syawalan tradition in the villageof Morodemak in Bonang, Demak. It also intends to reveal the meaning of thetradition for today’s society. Observations, interviews and examination of secondarydata, can be conluded that the tradition of Syawalan in Morodemak is one oftraditions that expresses the religious Javanese culture in coastal area. ForMorodemak community, tradition of Syawalan is a form of gratitude to GodAlmighty for the gift of the abundance of seafood as well as an expression of prayerfrom dangerous things in life that can arise from the sea. Syawalan tradition also hasthe meaning of caring for nature, especially the sea as well as the meaning ofcohesion and communality among fishing communities. In addition to the culturalmeanings, traditions Syawalan also have economic and socio-cultural significancefor the local governments and communities.***Tulisan ini berusaha untuk mengungkap nalar kebudayaan pada tradisi Syawalandi Desa Morodemak Bonang Demak. Selain itu juga bermaksud mengungkapmakna tradisi tersebut bagi masyarakat saat ini. Hasil pengamatan, wawancaraserta telaah terhadap data sekunder, dapat dijelaskan bahwa tradisi Syawalan diMorodemak merupakan salah satu tradisi masyarakat yang mengekspresikankebudayaan masyarakat Jawa pesisiran yang religius. Bagi masyarakatMorodemak, tradisi Syawalan merupakan wujud rasa syukur pada Tuhan YMEatas karunia melimpahnya hasil laut sekaligus ungkapan doa keselamatan darisegala mara-bahaya yang bisa timbul dari laut. Tradisi Syawalan juga memilikimakna kepedulian kepada alam, khususnya laut serta makna membangunkerukunan dan keguyuban di antara masyarakat nelayan. Selain makna-maknakultural tersebut, tradisi Syawalan juga memiliki makna ekonomis dan sosialbudaya bagi pemerintah lokal dan masyarakat.Keywords: tradisi Syawalan, makna kultural, makna sosial ekonomi
JANENGAN SEBAGAI SENI TRADISIONAL ISLAM-JAWA Junaidi, dkk., Akhmad Arif
WALISONGO Vol 21, No 2 (2013): Walisongo, "agama lokal"
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThis paper is based on the cultural reality of Javanese Muslim society especially inIslamic Javanese traditional music. The cultural expression of Islamic-Javanese musicis very diverse and reflecting the diversity of the “face” of Islam that has been adaptedto the local culture. Janengan’s Islamic Javanese traditional music is an expressionfrom three different cultural music traditions: Javanese music tradition, MiddleEastern music traditions (Arabic), and currently has been developed with acombination of Western music such as pop. The combination of three differentmusical traditions creates a unique creativity in Javanese music character. Thecharacter also encourages the values covering musical values, cultural values, andreligious values. Thematically, the Janengan’s lyrics contain a variety of Islamicteaching such as monotheism, shari’ah and sufism.***Tulisan ini dilatarbelakangi satu realitas budaya yang dihasilkan dari kehidupanmasyarakat Muslim Jawa khususnya seni musik tradisional Islam-Jawa. Ekspresikebudayaan Islam-Jawa dalam seni musik ini sangat beragam dan mencerminkankeberagaman “wajah” Islam yang telah beradaptasi dengan budaya lokal. Musiktradisional Islam-Jawa Janengan merupakan perwujudan dari perpaduan tigaunsur tradisi musik, yakni tradisi musik Jawa, tradisi musik Islam Timur Tengah(Arab) dan kini telah dikembangkan dengan kombinasi musik Barat seperti pop.Perpaduan ketiga unsur tradisi musik yang berbeda ini membentuk suatu hasilkreativitas yang unik bercirikan musik Jawa. Musik tradisional Islam-Jawa ini jugamelahirkan nilai-nilai yang meliputi nilai-nilai musikal, nilai-nilai kultural, dannilai-nilai religius. Secara tematik syair-syair Janengan berisi berbagai ajaranseperti akidah (tauhid), syari’at dan tasawuf.Keywords: Janengan, budaya lokal, tradisi Islam-Jawa
DASAR NEGARA DAN TAQIYYAH POLITIK PKS Rokhmad, Abu
WALISONGO Vol 22, No 1 (2014): “RELASI AGAMA DAN NEGARA (POLITIK)”
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article studied about the relationship between Partai Keadilan Sejahtera(PKS/the Prosperous Justice Party) and Pancasila as the state’s philosophy. PKSdidn’t have the experience of the struggle of Indonesian independence and thedifficult period of the Pancasila formulation. PKS was born after Pancasilaconvinced as the national agreement. The political attitude of PKS to Pancasila asthe state’s philosophy is still indistinct. PKS viewed as political party that hide theirtruly intent: between receiving Pancasila and implementing islamic shari’ah. Theaspiration of implementing islamic shari’ah has been concealing in vision andmission as well as in the heart of PKS’s cadres. The aspiration will be done bypeaceful and constitutional ways.Artikel ini mengkaji relasi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan Pancasilasebagai dasar negara. PKS tidak mengalami perjuangan meraih kemerdekaan danmasa-masa sulit perumusan Pancasila. PKS lahir setelah Pancasila diyakinisebagai perjanjian suci kebangsaan. Sikap PKS terhadap Pancasila sebagai dasarnegara masih mengambang. Ia dipandang menyembunyikan maksud hati yangsebenarnya: antara menerima Pancasila atau menegakkan syariat Islam. Cita-citamenegakkan syariat Islam tersimpan dalam visi, misi dan hati para kader PKS,yang akan dilakukan secara damai dan konstitusional.
ISU TERORISME DAN RESPONS AKTIVIS MUDA ACEH Amiruddin, M. Hasbi
WALISONGO Vol 22, No 1 (2014): “RELASI AGAMA DAN NEGARA (POLITIK)”
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article wants to examine the extent of radical thought in the minds of theyounger generation pervasive in Aceh. With the new Aceh conditions experiencedseveral years of post-conflict situation safe again struck by discovered a number ofterrorists who make Jalin mountains forest, Aceh Besar, as a military trainingground. Also found are also a number of books that have a narrative that can bringinspiration radicalism and terrorism acts. The results of in-depth interviews ofyoung activists in Aceh, can be explained that the concept of terrorism modelsstruggle can not be accepted by young activists in the city of Banda Aceh. Theyhave to understand the teachings of Islam that is relatively comprehensive andproportional. But their ideals in order to uphold Islamic shariah in Aceh is anecessity.Artikel ini ingin melihat sejauhmana pemikiran radikal merasuk dalam pikirangenerasi muda di Aceh. Dengan kondisi Aceh yang baru beberapa tahun mengalamisituasi aman pasca terjadi konflik kembali dikejutkan dengan ditemukansejumlah teroris yang menjadikan hutan pegunungan Jalin, Aceh Besar, sebagaimedan latihan militer. Selain itu ditemukan juga sejumlah buku-buku yangmemiliki narasi yang dapat memunculkan inspirasi tindakan radikalisme danterorisme. Hasil wawancara mendalam terhadap para aktivis muda Aceh, dapatdijelaskan bahwa konsep perjuangan model terorisme tidak dapat diterima olehaktivis muda di Kota Banda Aceh. Mereka telah memahami ajaran Islam yangrelatif komprehensif dan proporsional. Namun cita-cita mereka agar tegaknyasyariat Islam di Aceh adalah suatu keniscayaan.
TEO-DEMOKRASI BERBASIS PERTANGGUNGJAWABAN: Studi Komparatif atas Respons S.M. Zafar dan Mehdi Bazargan tentang Sistem Pemerintahan Islam Suharto, Toto
WALISONGO Vol 22, No 1 (2014): “RELASI AGAMA DAN NEGARA (POLITIK)”
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article seeks to examine and analyze how the response of two contemporaryIslamic thinkers of democracy. Both thinkers are S.M. Zafar and Mehdi Bazargan.They have a typical thinking about the system of government. Zafar offers asystem of government based on the Theo-democrcy parliamentary, because of hisopposition to the military system in Pakistan. Whiles Bazargan offers the systemof government based on Theo-democracy, because of his opposition to the ‘ulamā’system of Khomeini’s government. They are looked theo-democrcy governance asa system that needs to be implemented in an Islamic state.Artikel ini ditujukan untuk mengkaji dan menganalisis bagaimana respons duapemikir Islam kontemporer terhadap demokrasi. Kedua pemikir itu adalah S.M.Zafar dan Mehdi Bazargan. Mereka memiliki pemikiran yang khas mengenaisistem pemerintahan. Zafar menawarkan sebuah sistem pemerintahan yang berdasarkanteo-demokrasi parlementer, karena ketidaksetujuannya dengan sistempemerintahan militer di Pakistan. Sedangkan Bazargan menawarkan sebuahsistem pemerintahan yang berdasarkan teo-demokrasi, karena sikap oposisinyaterhadap sistem pemerintahan “keulamaan” Khomeini. Keduanya memandangpemerintahan teo-demokrasi sebagai sistem yang perlu dilaksanakan dalamsebuah negara Islam.
POLITIK DAKWAH DAN DAKWAH POLITIK DI ERA REFORMASI INDONESIA Rosa, Andi
WALISONGO Vol 22, No 1 (2014): “RELASI AGAMA DAN NEGARA (POLITIK)”
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research activity parse Dzikir majlis Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)"Nurussalam" which has a strategic role in the democratic era. His status as asociety organizations (NGOs) are positioned optimally by interest groups, politicalorganizations and even into the container. By analyzing the dataobtained throughinterviews and documentation, the results of this study indicate that this councilmakes verses of the Qur’an that deals with the concept of al-‘ummah, alukhuwwahal-islamiyya, and al-taāwun as a cornerstone in interpreting paragraphintegrative social which is then used as a propaganda entity. Proselytizingas mass communication, political communication line with more likely to usecommunication as a way to mobilize the masses massif. Even activities have beenable to carry out the functions of political propaganda as part of the interest-groupsystem.***Penelitian ini berusaha untuk mengurai kegiatan Majelis Dzikir Susilo BambangYudhoyono (SBY) “Nurussalam” yang memiliki peran strategis di era reformasi.Statusnya sebagai organisasi masyarakat (Ormas) diposisikan secara maksimaloleh kelompok kepentingan, bahkan menjadi wadah lembaga politik. Denganmengganalisis data yang diperoleh melalui wawancara dan dokumentasi, hasilpenelitian ini menunjukkan bahwa majlis ini menjadikan ayat al-Qur’an yangberkaitan dengan konsep al-‘ummah, al-ukhuwwah al-islāmiyyah, dan al-ta’āwunsebagai landasan dalam menafsirkan ayat sosial integratif yang kemudiandijadikan sebagai sebuah entitas dakwah. Dakwah sebagai komunikasi massa,sejalan dengan komunikasi politik yang lebih cenderung memanfaatkankomunikasi sebagai cara massif untuk menggalang massa. Bahkan kegiatannyatelah mampu melaksanakan fungsi politik dakwah sebagai bagian dari sisteminterest-group.Keywords: tafsir integratif, kampanye politik, majelis dzikir, interestgroup
DINAMIKA WACANA FORMALISASI SYARIAT DALAM POLITIK: Ikhtiar Menemukan Relevansi Relasi Agama dan Negara Perspektif Indonesia Iqbal, Mahathir Muhammad
WALISONGO Vol 22, No 1 (2014): “RELASI AGAMA DAN NEGARA (POLITIK)”
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research is an effort to find the relevance of the relationship between religionand the state are ideal. Because the formalization of Islamic shariah issue inpolitical discourse is an interesting study in the relation between religion andstate. By using the library approach, this article analyzes the involvement of thestate in regulating citizens to implement Islamic shariah in Indonesia. Neutrality ofthe state to be the key in finding the relationship of both. Theoretically, this studyprovides an explanation that neutrality is not only understood as a state ofdevotion to give the rights of citizens to pray by faith, but also to limit citizens. Forthe implementation of shariah will be established and run well, when the state hasa neutrality. So the state does not attract Islamic shariah becomes an official policyor state laws (shariah formalization). So also a Muslim can bring religion into thepolitical circle, but only in the level of political ethics.***Penelitian ini merupakan ikhtiar untuk menemukan relevansi hubungan agamadan negara yang ideal. Sebab Isu formalisasi syariat Islam dalam politik menjadikajian menarik dalam wacana relasi agama dan negara. Dengan menggunakanpendekatan pustaka, artikel ini menganalisis keterlibatan negara dalam mengaturwarga negara untuk mengimplementasikan syariat Islam di Indonesia. Adanyanetralitas negara menjadi kunci dalam menemukan relasi keduanya. Secarateoritis, studi ini memberikan penjelasan bahwa netralitas tidak hanya dipahamisebagai pengabdian negara untuk memberikan hak-hak warga negara untukberdoa berdasarkan iman, tetapi juga untuk membatasi warga negara. Sebabdalam pelaksanaan syariat akan dapat mapan dan berjalan dengan baik,manakala negara memiliki netralitas. Sehingga negara tidak menarik syariat Islammenjadi sebuah kebijakan resmi atau peraturan negara (formalisasi syariat).Dengan begitu seorang Muslim dapat membawa agama ke dalam lingkaranpolitik, tetapi hanya dalam tingkat etika politik.Keywords: formalisasi syariah, netralitas negara, etika politik
RELASI AGAMA DAN NEGARA DALAM PERSPEKTIF ISLAM khan, Zaprul
WALISONGO Vol 22, No 1 (2014): “RELASI AGAMA DAN NEGARA (POLITIK)”
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One discourse that continues to be discussed in the realm of Islamic politicalphilosophy is about the relation between religion and state. Broadly speaking,there are at least three paradigms of thinking about the relationship betweenreligion and state. First, sekularistik paradigm, which says that Islam has nothingto do with the state, because Islam does not regulate state life or reign. Second,formalistic paradigm, which assumes that Islam is a complete religion, whichincludes everything, including the question of the state or a political system. Third,paradigms substansialistik, which rejects the notion that Islam covers everythingand also rejects the notion that Islam is only governs the relationship betweenman and his Creator alone. This article will take pictures of how the three views ofthis paradigm by showing some of the characters are representative and criticallyusing the comparative method.***Salah satu wacana yang terus diperbincangkan dalam ranah filsafat politik Islamadalah mengenai relasi antara agama dan negara. Secara garis besar paling tidakada tiga paradigma pemikiran tentang hubungan agama dan negara. Pertama,paradigma sekularistik, yang mengatakan bahwa Islam tidak ada hubungannyadengan negara, karena Islam tidak mengatur kehidupan bernegara ataupemerintahan. Kedua, paradigma formalistik, yang menganggap bahwa Islamadalah agama yang paripurna, yang mencakup segala-galanya, termasuk masalahnegara atau sistem politik. Ketiga, paradigma substansialistik, yang menolakpendapat bahwa Islam mencakup segala-galanya dan juga menolak pandanganbahwa Islam hanya mengatur hubungan antara manusia dan Penciptanya semata.Artikel ini akan memotret bagaimana pandangan ketiga paradigma tersebutdengan menampilkan beberapa tokohnya yang representatif dan dengan menggunakanmetode kritis komparatif.Keywords: politik, Islam, negara, paradigma
AGAMA DAN POLITIK: Teologi Pembebasan sebagai Arena Profetisasi Agama Jati, Wasisto Raharjo
WALISONGO Vol 22, No 1 (2014): “RELASI AGAMA DAN NEGARA (POLITIK)”
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article aims to analyze the comparative study of the liberation theologyperspective. The notion of liberation theology is a form of transformative theologythat concerned within issues of equality and social justice. The relationship amidstreligion and politics is reciprocal due to there are conflicts of interest betweenboth entities. Emergence of liberation theology itself arises because of thepoliticization of religion has become more acute and chronic so it needs to betransformed. The thought of liberation theology is basically grown in the famouscase of Latin America with the spirit church of the poor. However, within Islam, italso found a similar essence that Islam also teaches that there egalitarianism,equality, and social justice. Article will elaborate about this comparison ofliberation theology.***Artikel ini bertujuan untuk menganalisis studi perbandingan perspektif teologipembebasan. Gagasan teologi pembebasan adalah suatu bentuk teologi transformatifyang bersangkutan dalam isu-isu kesetaraan dan keadilan sosial.Hubungan di tengah-tengah agama dan politik adalah timbal balik karena adakonflik kepentingan antara kedua entitas. Munculnya teologi pembebasan itusendiri timbul karena adanya politisasi agama telah menjadi lebih akut dan kronissehingga perlu diubah. Pikiran teologi pembebasan pada dasarnya tumbuh dalamkasus terkenal Amerika Latin dengan semangat gereja kaum miskin. Namun,dalam Islam, itu juga menemukan esensi yang sama bahwa Islam jugamengajarkan bahwa ada egalitarianisme, kesetaraan, dan keadilan sosial. Pasalakan menguraikan tentang perbandingan ini teologi pembebasan.Keywords: teologi pembebasan, agama, politik, egalitarianisme, ekuitas,keadilan sosial
KONSEP HUKUM MODERN: Suatu Perspektif Keindonesiaan, Integrasi Sistem Hukum Agama dan Sistem Hukum Nasional Umar, Nasarudin
WALISONGO Vol 22, No 1 (2014): “RELASI AGAMA DAN NEGARA (POLITIK)”
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

is known as a country with a mixed legal system. The current legalsystem is dominated by three major legal systems, namely Western legal system,customary legal system and Islamic legal system. The mixing of legal system hasbeen emerging problem, because basically each legal system has a differentcharacter. The most basic problem is unbalancing in the formation of legal systemin consequence of the dominance of Western legal system from customary andreligious legal system. This paper try to analyze the concept of integration ofreligious legal system in the national legal system to make its position can bebalanced. Based on the analysis, the concept of Three Pillars of Modern LegalSystems is suitable for modern Indonesian legal system in order to integrate thediversity of cultures, customs and religions.***Indonesia dikenal sebagai negara dengan sistem hukum campuran. Sistemhukum yang saat ini berlaku didominasi oleh tiga sistem hukum besar, yaitusistem hukum Barat, sistem hukum adat dan sistem hukum Islam. Percampuransistem hukum ini bukan tak masalah, karena pada hakekatnya setiap sistemhukum memiliki karakter yang berbeda. Problem paling dasar adalah pembentukanhukum yang tidak berimbang, yaitu dominasi sistem hukum Barat atashukum agama dan adat. Tulisan ini mengurai konsep integrasi sistem hukumagama dalam sistem hukum nasional agar kedudukannya dapat berimbang.Berdasarkan hasil analisa, konsep Three Pillars Sistem Hukum Modern yangintegratif merupakan konsep hukum yang tepat untuk sistem hukum modernIndonesia dalam rangka mengintegrasikan keanekaragaman budaya, adat istiadatdan agama.Keywords: integrasi sistem hukum, hukum agama, hukum nasional

Page 7 of 10 | Total Record : 92