cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
WALISONGO
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Walisongo adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian IAIN Walisongo Semarang. Jurnal ini memiliki spesifikasi sebagai media untuk mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan bidang sosial keagamaan Islam. Jurnal ini terbit berkala setiap enam bulan sekali pada bulan Mei dan November
Arjuna Subject : -
Articles 92 Documents
THE ROLE OF GOVERNMENT IN REVITALIZATION OF ISLAMIC SCHOOL IN TURKEY jo, Rahar
WALISONGO Vol 22, No 1 (2014): “RELASI AGAMA DAN NEGARA (POLITIK)”
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selama berabad-abad Islam telah menjadi agama negara di Turki. Tetapi ituberubah saat Turki mendeklarasikan diri sebagai negara Republik pada tahun1923. Turki menjadi negara sekuler dan membuat Islam tertekan. Namun saatsistem politik Pemerintah Turki mengadopsi multipartai dan partai itu kemudiandidukung oleh masyarakat Muslim dan memimpin pemerintahan, perlahankeberadaan Islam kembali tampak. Kondisi ini memengaruhi keberadaanpendidikan dan sekolah-sekolah Islam, yang pada dua dekade terakhir jumlahnyameningkat tajam. Penelitian ini mengumpulkan data tentang kontrol kualitaspendidikan, bentuk-bentuk pendidikan Islam dan peran pemerintah terhadappendidikan Islam. Melalui teknik dokumentasi, observasi dan interview, penelitianini menunjukkan bahwa: 1) kontrol kualitas pendidikan di Turki dilakukan dibawah kementerian pendidikan nasional; 2) bentuk sekolah dibagi menjadinegeri dan swasta, dan 3) peran pemerintah terhadap sekolah-sekolah Islamtidak dilakukan secara langsung, namun melalui kebijakan Kementerian PendidikanNasional yang diberlakukan secara umum kepada sekolah negeri.***Islam had been the religion of the state in Turkey for many centuries, but it wasdisappeared when the type of the state was changed into republic in 1923. Turkeythen has become a secular state and Islam has been depressed. However, when thepolitical system in Turkey adopted multiparty and the party supported by Muslimcommunity run the ruling government, Islam gradually has existed. This affected theIslamic education and schools, which have been sharply increased in number duringthe last 2 decades. This research was conducted to identify the quality control ofeducation, the types of Islamic education and the role of government towardsIslamic schools. By using techniques of documentation, observation and interview,this research indicated that: 1) the quality control of education in Turkey is doneunder ministry of national education; 2) the types of Islamic education are dividedinto public and private and 3) the role of government towards Islamic schools is notimplemented straight forward, but through the policy in the Ministry of NationalEducation addressed towards the public schools.Keywords: quality control of education, İmam Hatip school, role ofgovernment
REFORMULASI HUBUNGAN AGAMA DENGAN NEGARA: Dialog Pemikiran Yusuf al-Qardhawy dengan Ulama Klasik tentang Politik Kenegaraan dan Implikasinya bagi Perpolitikan di Indonesia hudi, Mashudi
WALISONGO Vol 22, No 1 (2014): “RELASI AGAMA DAN NEGARA (POLITIK)”
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research describes the formulation want state politics and religious ties withthe country according to Yusuf al-Ulama Qardhawy and Classical. The results ofthe analysis of their thinking as outlined in his works, can be explained that Yusufal-Qardhawy reformulate the concept of the relationship between religion and thestate as well as the state political through and istiab syumuli method, a problem ofhow to resolve the impasse in state politics as well as the relationship betweenreligion and state product classical scholars thought. Reformulation of the conceptof the relationship between religion and the state is the solution to the stagnation(stagnation) patterns of thought classical scholars. The concept of state politics byYusuf al-Ulama Classical Qardhawy and there are points in common with theIndonesian state politics in the context of the present though not totally, so thatsome can be implemented to control the practice of politics in Indonesia latelyaway from religious ethics.***Penelitian ini ingin menjelaskan formulasi politik kenegaraan dan hubunganagama dengan negara menurut Yusuf al-Qardhawy dan Ulama Klasik. Hasilanalisis dari pemikiran mereka yang dituangkan dalam karya-karyanya, dapatdijelaskan bahwa Yusuf al-Qardhawy mereformulasi konsep hubungan agamadan negara serta politik kenegaraan tersebut melalui metode shumulī dan isti’ab,suatu cara menyelesaikan kebuntuan problematika politik kenegaraan sertahubungan agama dan negara produk pemikiran ulama klasik. Reformulasi konsephubungan agama dan Negara tersebut merupakan solusi atas stagnasi (kejumudan)corak pemikiran ulama klasik. Secara teoritis, konsep politik kenegaraanmenurut Yusuf al-Qardhawy dan Ulama Klasik terdapat titik kesamaan denganpolitik kenegaraan Indonesia dalam konteks sekarang meskipun tidak secaratotal, sehingga sebagian dapat diimplementasikan untuk mengendalikan praktikperpolitikan di Indonesia yang akhir-akhir ini jauh dari etika agama.Keywords: reformulasi, agama, negara, politik kenegaraan
AN ISLAMIC SEARCH OF NOBLE VALUES: The Prevalence of Modern Principles and the Resilience of Local Traditions in Indonesian Da‘wa Suwarno, Peter
WALISONGO Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThe variety of da‘wa (Islamic preaching) in Indonesia indicated not only thediversity in Islamic groups and identities, but also the varieties and changes invalues and principles embraced by Indonesian Muslims. This paper argued thatthese da‘wa activities constitute searches of most suitable Indonesian Islamicprinciples that inevitably include the negotiation of Islamic, global, and localvalues. For this purpose, this paper showed examples of various international andIndonesian Islamic scholars and leaders who help change social, political, andreligious rhetorical landscape through various arguments involving especiallyIslamic and modern-international values. This paper maintained that, in additionto Muslims exposure to modern global principles such as democracy and humanrights, the increasing popularity and resilience of local-traditional rituals, performances,and expressions in Indonesian da‘wa have significantly shaped thesearch of the Indonesian Islamic noble values.***Keragaman dakwah Islam di Indonesia tidak hanya tampak dalam keragamankelompok serta identitas Islam, tetapi juga dalam varian dan perubahan nilai-nilaiserta prinsip-prinsip yang dianut oleh umat Islam Indonesia. Tulisan inimenegaskan bahwa kegiatan dakwah ini merupakan pencarian prinsip-prinsipIslam Indonesia yang paling sesuai yang mau tidak mau merupakan upayanegosiasi nilai Islam, global, dan nilai-nilai lokal. Untuk tujuan tersebut, tulisan inimenunjukkan beberapa contoh ulama dan pemimpin Islam internasional danIndonesia yang membantu mengubah landscape retorika sosial, politik dan agamamelalui berbagai argumen yang secara khusu melibatkan nilai-nilai Islam danmodern-internasional. Tulian ini berpendapat bahwa, disamping Muslim harusberhadapan dengan prinsip-prinsip global modern seperti demokrasi dan hakasasi manusia, meningkatnya popularitas dan ketahanan dari ritual, pertunjukan,dan ekspresi lokal-tradisional dalam dakwah Indonesia telah membentukpencarian nilai-nilai luhur Islam Indonesia secara signifikan.Keywords: da‘wa, Islam, modernity, local-traditional rituals,noble values
MULTICULTURAL DA‘WA IN SCHOOLS FROM A SOCIOLOGICAL PERSPECTIVE Dwiningrum, Siti Irene Astuti
WALISONGO Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractMulticultural da‘wa for the sake of building the paradigm of multicultural educationis not an easy work due to the determinants in social structure like social, cultural,economic and political determinants. The implementation of multicultural educationrelated to various social elements in society which are not in synergy one another.This article will reveal multicultural preaching carried out in schools and look at thestrategies of multicultural education is implemented in schools. Applying qualitativestudy by describing the initial data associated with a multicultural dakwah activity atthe three high schools in Yogyakarta Indonesia, this research concluded that multiculturalda‘wa in schools is a combination of several approaches namely the contributionapproach, the additive approach, the transformation approach, and the socialaction approach. Multicultural da‘wa can help students to develop a social identitythat to be achieved based on the values of justice, equality and respect the diversity.The strategy developed by the school for implementing multicultural dakwah is bydeveloping language skills, language classes, art performance, the use of culturalsymbols, student exchange between tribes or between countries, and uniformity.***Dakwah multikultural untuk membangun paradigma pendidikan multikulturaltidak mudah karena struktur masyarakat memiliki diterminan sosial, budaya,ekonomi dan politik. Pelaksanaan pendidikan multikultural terkait dengan berbagaiunsur sosial dalam masyarakat yang satu dengan yang lain belum sinergis. Paparanini akan mengungkap dakwah multikultural yang dilaksanakan di sekolah dan melihatstrategi pendidikan multikultural dilaksanakan di sekolah. Melalui penelitiankualitatif dengan menggambarkan data awal terkait dengan aktivitas dakwahmultikultural pada tiga SMA di Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia.Penelitian ini berkesimpulan dakwah multikultural di sekolah merupakan kombinasidari beberapa pendekatan yakni pendekatan kontribusi, pendekatan aditif,pendekatan transformasi, dan pendekatan aksi sosial. Dengan dakwah multikulturaldapat membantu siswa untuk mengembangkan identitas sosial yang hendakdicapainya berdasarkan nilai-nilai keadilan, kesetaraan dan menghargai perbedaan.Adapun strategi yang dikembangkan oleh sekolah untuk melaksanakan dakwahmultikultural adalah dengan cara mengembangkan kemampuan berbahasa, kelasbahasa, perfomance seni, penggunaan simbol budaya, pertukaran pelajar antar sukuatau antar negara, unifomitas.Keywords: multicultural da‘wa, education, strategy, social identity
PENGAJIAN YASINAN SEBAGAI STRATEGI DAKWAH NU DALAM MEMBANGUN MENTAL DAN KARAKTER MASYARAKAT Hayat, Hayat
WALISONGO Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractDa‘wa strategy has an important role and function in improving the quality ofpeoples lives. Pengajian Yasinan is one of NU strategy in developing and spreadingthe religion. Pengajian Yasinan can be found in various areas, especially inrural or neighbourhood whose citizen originately from the NU tradition. However,the influence of modernization caused the change within society. By using aqualitative approach and applying library research for data collection, this paperwill explain the role and function of Pengajian Yasinan as da‘wa strategy of NU forthe connectivity integration This strategy is implemented for fortifying thecommunity members from the social complexity as well as for developing themental of society members through practicing the value of religion, society, andmutual cooperation for the benefit of the entire community.***Strategi dakwah mempunyai peran dan fungsi penting dalam meningkatkankualitas kehidupan masyarakat. Pengajian Yasinan merupakan salah satu amalanNU yang menjadi strategi di dalam mengembangkan dan menyebarkan agama.Keberadaan Pengajian Yasinan dapat ditemukan di berbagai daerah, terutama dipedesaan atau perkampungan yang masyarakatnya dari kalangan NU. Namundemikian pengaruh modernisasi telah mengakibatkan perubahan dalam masyarakat.Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulandata menggunakan studi kepustakaan, tulisan ini akan menjelaskan peran danfungsi Pengajian Yasinan sebagai strategi dakwah NU di dalam integrasi konektivitas.Hal itu dilakukan dalam rangka membentengi masyarakat darikompleksitas sosial serta untuk pembangunan mental masyarakat melaluipengamalan nilai-nilai agama, sosial, dan kegotongroyongan untuk kemaslahatanbagi seluruh masyarakat.Keywords: pengajian, yasinan, strategi dakwah, pengembangan mentaldan karakter
REVITALISASI FUNGSI MASJID SEBAGAI PUSAT EKONOMI DAN DAKWAH MULTIKULTURAL Dalmeri, Dalmeri
WALISONGO Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article had the purpose to analyze the functions of the mosque that is notonly as a center of activities of ibadah, but also as the center of da‘wa and Muslimsocial and economic activities. The orientation of da‘wa that emphasizedindividual improvement dealing with in the quality of faith have neglected oneimportant dimension of da‘wa, namely the development and empowerment of theMuslims as a whole. Through a qualitative descriptive approach and collectingdata through observation and interviews, it was founded that communities whichare empowered are not seen as passive recipient of the service, but a communitythat has a variety of potential and capabilities that can be empowered. Muslimcommunity empowerment activities can be done through mentoring by boastingmotivation, increasing awareness, developing knowledge and attitudes toenhance their capabilities, mobilizing productive resources and developingeconomic and da‘wa activity.***Artikel ini berupaya menganalisis bahwa fungsi masjid bukan hanya sebataspusat kegiatan ibadah, tetapi juga sebagai pusat dakwah dan aktivitas sosialmaupun ekonomi umat Islam. Orientasi dakwah yang lebih mengedepankanperbaikan kualitas keimanan individual telah mengabaikan satu dimensi pentingdalam dakwah yaitu pengembangan dan pemberdayaan umat Islam secaramenyeluruh. Melalui pendekatan deskriptif-kualitatif dengan proses penggaliandata melalui observasi dan wawancara, dapat ditemukan bahwa komunitas yangdiberdayakan tidak dipandang sebagai komunitas yang menjadi objek pasifpenerima pelayanan, melainkan sebuah komunitas yang memiliki beragampotensi dan kemampuan yang dapat diberdayakan. Kegiatan pemberdayaankomunitas umat Islam dapat dilakukan melalui pendampingan dengan memberikanmotivasi, meningkatkan kesadaran, membina aspek pengetahuan dansikap meningkatkan kemampuan, memobilisasi sumber produktif dan mengembangkankegiatan ekonomi maupun aktivitas dakwah.Keywords: pusat dakwah, pemberdayaan ekonomi, aktivitas sosial,kesejahteraan umat
URGENSI REGULASI PENYELESAIAN KONFLIK UMAT BERAGAMA: Perspektif Tokoh Lintas Agama M. Arja Imroni, Abu Hapsin, Komarudin,
WALISONGO Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed to determine the attitudes and views of interfaith leaders to theexistence of regulations related to issues of religious harmony in Indonesia. Does theregulation have significant benefits for a variety of efforts to resolve religious conflictsin Indonesia, or precisely the opposite. Locating the research in in Central Java , thisstudy used a qualitative approach. The data is taken from the idea or notion ofinterfaith leaders in Semarang as well as a variety of references related to the centraltheme of research. The data collection extracted by means of interviews and study ofdocuments/ literature. Then, the data were analyzed critical descriptively. The resultsshowed that the religious conflicts that occur due to various factors or root causes ofthe conflict are very diverse. Each of these religious leaders has a different view. Somepeople regarded pluralism as the root causes of conflict, there is also an opinion thatthe cause of the conflict is the existence of discrimination contained in the formulationof laws and regulations are regulated. Despite their differing views on the root causesof the conflict issue, they agreed that in order to maintain religious harmony inIndonesia there needs to be a regulatory laws governing religious life in Indonesia.***Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap dan pandangan tokoh lintas agamadengan keberadaan peraturan yang terkait dengan isu-isu kerukunan umatberagama di Indonesia, apakah peraturan tersebut memiliki manfaat yang signifikanbagi upaya penyelesaian konflik agama di Indonesia, atau sebaliknya. Penelitian inidilaksanakan di Jawa Tengah dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Datatersebut diambil dari ide (gagasan) tokoh lintas agama di Semarang serta berbagai referensiyang terkait. Pengumpulan data diambil dengan wawancara dan studiliteratur. Data dianalisis secara deskriptif kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwakonflik agama yang terjadi karena berbagai faktor atau akar penyebab konflik sangatberagam. Masing-masing tokoh agama memiliki pandangan berbeda. Beberapaorang menganggap pluralisme sebagai akar penyebab konflik, ada juga pendapatbahwa penyebab konflik adalah adanya diskriminasi dalam perumusan undangundangdan peraturan yang diatur. Meskipun pandangan mereka berbeda pada akarpenyebab masalah konflik, mereka sepakat bahwa untuk menjaga kerukunanberagama di Indonesia perlu ada sebuah hukum yang mengatur peraturan kehidupanberagama di Indonesia.Keywords: keragaman agama, kerukunan beragama, konflik agama,peraturan
MELACAK AKAR IDEOLOGI PURITANISME ISLAM: Survei Biografi atas “Tiga Abdullah” Jinan, Mutohharun
WALISONGO Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper examined the variant of Islamic movement with biographical point ofview to three muslims figures, namely Abdullah Sungkar (the founder of JemaahIslamiyah), Abdullah Marzuki (the founder of Majelis Pengajian Islam), andAbdullah Thufail Saputro (the founder of Majelis Tafsir Al-Qur’an). They havebeen known as the “Triple A”. They have been being very influential in thedynamics of Islam in Surakarta since the 1970s until today. They have workedtogether to spread the teachings of Islam in many religious activities. Applyingqualitative approach and using documentation study, it was founded that due tomany differences in intellectual backgrounds and ideological orientations of eachother that lead them to choose different strategies to realize the ideal Islamicsociety. The first figure selected resistant position and fight against the hegemonyof the state, the second figure chose neutral and do not care about political issues,and the third figure to choose the path of accommodative policy of the state.***Artikel ini membahas tentang varian gerakan Islam di Surakarta dengan pendekatanbiografi tokoh. Tokoh yang dijadikan objek kajian adalah AbdullahSungkar (pendiri gerakan Jamaah Islamiyah), Abdullah Marzuki (pendiri MajelisPengajian Islam), dan Abdullah Thufail Saputro (pendiri gerakan Majelis Tafsir Al-Quran). Tiga tokoh ini dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Tiga A. Pemikirandan lembaga mereka sangat berpengaruh dalam dinamika perkembangan dandakwah Islam di Surakarta pada tahun 1970-an hingga sekarang. Mereka pernahbekerja sama dalam lembaga dakwah. Dengan pendekatan kualitatif dan kajiandokumen ditemukan bahwa karenas beberapa perbedaan latar belakang,pandangan, dan orientasi ideologi menjadikan mereka berpisah dan membentukgerakan sendiri-sendiri. Abdullah Sungkar memilih jalur berseberangan dengannegara, Abdullah Marzuki memilih jalur pendidikan pesantren dan tidak berpolitik,sedangkan Abdullah Thufail Saputro memilih jalur akomodasi danbekerjasama dengan negara.Keywords: puritanisme, dakwah Islam, tiga Abdullah, Surakarta
DAKWAH DAN PEMAHAMAN ISLAM DI RANAH MULTIKULTURAL Jailani, Imam Amrusi
WALISONGO Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Development of Islam in Indonesia or in the local domain did not show the sameperformance as in his home land, namely in the Arab lands. This is due to theacculturation the values of Islam and the local culture. Variabilities in Islamicappearance is also showed the variabilities in understanding on Islam. Applyingvariable approaches on Islam, textual-contextual and functional-structural, willshow the varieties of Islam too: normative Islam, factual Islam, ideal Islam oruniversal Islam, and Local Islam. From this illustrates that in reality, we are oftenconfronted with the face of normative Islam, Islamic factual, ideal or universalIslam and the local Muslim. The study found the patterns of understanding andattitude of inclusive-exclusive, with all the effects that will be caused, eitherconstructive or destructive, supporting or undermined the development of Islam.Based on the finding, it is needed a concept and strategy of da‘wa which is reallyeffective and approved by multy-culture society like Indonesia.***Perkembangan Islam di Indonesia atau di lokalitas yang lain tidak menampakkanwajah Islam yang sama seperti di tanah kelahirannya, yaitu di tanah Arab. Haltersebut disebabkan karena sudah terjadi akulturasi ajaran Islam dengan nilainilaibudaya lokal. Inilah bentuk interkoneksi antara ajaran Islam dengan kearifanlokal. Dari kajian tersebut, didapati pemahaman Islam yang bermacam-macam.Tampilan rumusan Islam tersebut dihampiri dengan berbagai pendekatan untukmemudahkan pemetaan terhadap pemahaman keislaman. Dari tampilan tersebutmenggambarkan bahwa dalam realitas, kita sering diperhadapkan pada wajahIslam normatif, Islam faktual, Islam ideal atau universal dan Islam lokal.Sedangkan pendekatan yang dipakai untuk menelaah hal tersebut adalah pendekatantekstual-kontekstual dan struktural-fungsional. Dari telaah tersebut,didapati pola pemahaman dan pola sikap yang inklusif dan eksklusif, dengansegala dampak yang akan ditimbulkan, baik yang konstruktif maupun yangdestruktif, yang mendukung maupun yang menggerogoti perkembangan Islam.Dari realitas tersebut, diperlukan suatu konsep dan strategi dakwah yang betulbetulmengena dan diterima masyarakat multikultural seperti Indonesia ini.Keywords: dakwah, multikultural, Islam, inklusif, eksklusif
MULTIKULTURALISME DAN HEGEMONI POLITIK PERNIKAHAN ENDOGAMI: Implikasi dalam Dakwah Islam Rahmaniah, Syarifah Ema
WALISONGO Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper described a variety of views on the dynamics of endogamy marriagepracticed by sharif community in Pontianak. This paper used the theory of hegemonyto analyze Surah al-Ahzab: 33 as the cause of endogamy among thedescendants of Isa al-Muhajir (Ba ‘Alawi) that have migrated to the archipelago. Oneof her off spring grew and spread in Pontianak was called sharif or syarifah ofPontianak. The results of this study explained that there are three different attitudesabout endogamous marriage, they are accept, reject and moderate thinking. Thethree different attitudes came out as the result of modernization, contact withforeign cultures, the influence of education, socio-economic, and the existingsettlement pattern. There is a socio-political implications of the verses of hegemonythat is keeping the values of the potential political kinship as social capital to raiseawareness and political culture in the context of community participation andrepresentation of sharif in local and national politics. But in sociocultural context.Once endogamy was understood as an absolute system that must be run so it mayopen space of social stratification that threatens women’s freedom and will open thespaces for subordination.***Tulisan ini mendiskripsikan berbagai pandangan mengenai dinamika pernikahanendogami yang dipraktekan oleh komunitas syarif Pontianak. Tulisan ini menggunakanteori hegemoni menganalisis surat al-Ahzab ayat 33 sebagai penyebabterjadinya endogami di kalangan keturunan Isa al-Muhajir (Ba ‘Alawi) yang bermigrasike Nusantara. Salah satu keturunannya yang berkembang di kota Pontianakdisebut sebagai syarif/syarifah Pontianak. Hasil penelitian menjelaskan terdapat tigasikap yang berbeda mengenai pernikahan endogami yaitu kalangan yang menerima,menolak dan yang berpikir moderat. Tiga sikap yang berbeda ini terjadiakibat adanya modernisasi, kontak dengan budaya luar, pengaruh pendidikan, sosialekonomi, dan pola pemukiman yang ada. Terdapat implikasi sosio politik ayat-ayathegemoni yaitu menjaga nilai-nilai kekerabatan yang secara politik berpotensi sebagaimodal sosial untuk meningkatkan kesadaran dan budaya politik dalam kontekpartisipasi dan keterwakilan komunitas syarif dalam politik lokal dan nasional.Namun secara sosio-budaya jika endogami dipahami sebagai suatu sistem absolutyang mesti dijalankan dapat membuka ruang terjadinya stratifikasi sosial yangmengancam kebebasan perempuan dan membuka ruang terjadinya subordinasi.Keywords: syarif, Pontianak, endogami, hegemoni, stratifikasi sosial

Page 8 of 10 | Total Record : 92