cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
WALISONGO
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Walisongo adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian IAIN Walisongo Semarang. Jurnal ini memiliki spesifikasi sebagai media untuk mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan bidang sosial keagamaan Islam. Jurnal ini terbit berkala setiap enam bulan sekali pada bulan Mei dan November
Arjuna Subject : -
Articles 92 Documents
INTEGRASI SOSIAL DALAM MASYARAKAT MULTI ETNIK dkk., Eka Hendry Ar.,
WALISONGO Vol 21, No 1 (2013): Walisongo,Resolusi Konflik
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThis is a social research focused on the processes of society integration in the periodof post-conflict. Locus of research is in Kelambu, a village in Sambas Regency WestKalimantan Province in which in 1999 a bloody violence broken between ethnicgroups living there. Applying sociological approach and the perspective of conflictstudy, it was revealed that so far community living in Sungai Kelambu village is innegative peace because negative effect of the last confict is still there.***Penelitian ini merupakan penelitian ilmu sosial yang mempelajari tentang prosesintegrasi dalam masyarakat post konflik. Penelitian ini difokuskan di sebuah desadi Kabupaten Sambas Kalimantan Barat yang pada tahun 1999 diketahui pernahterjadi konflik sosial berdarah antarsuku. Dengan menggunakan pendekatansosiologis dengan perspektif studi konflik ditemukan bahwa masyarakat saat inidalam keadaan damai negatif karena ekses negatif dari konflik tersebut dirasakansampai hari ini.Key words: integrasi, konflik sosial, post konflik, Sambas, damai, negatif
KONFLIK PEMEKARAN WILAYAH DI NANGGROE ACEH DARUSSALAM (NAD) PASCA PERJANJIAN HELSINKI dkk., M. Sahlan Hanafi,
WALISONGO Vol 21, No 1 (2013): Walisongo,Resolusi Konflik
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThe purposes of this research are to describe the processes of the emerge of ideas toestablish the province of ABAS and explain the factors supporting the idea and toexplain the reasons of NAD government to reject the expand of ABAS province.Applying qualitative methods using field observation and media discourse study. Itwas found that media discourse and the proposal for province expand of ABAS rosepro and contra in all level of society that impacted in horizontal and vertical conflict***Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses munculnya idepembentukan Provinsi ABAS dan menjelaskan faktor-faktor yang mendorongmunculnya ide tersebut serta menjelaskan mengapa Pemerintah pusat NAD tidakmenyetujui pemekaran Provinsi ABAS. Metode penelitian yang digunakan dalampenelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Tekhnik pengumpulan datayang digunakan adalah observasi di lapangan dan mengamati perkembanganwacana pemekaran melalui media. Ditemukan bahwa wacana dan usulanpemekaran Provinsi ABAS dari Provinsi NAD telah menimbulkan pro dan kontradi berbagai lapisan masyarakat sehingga memunculkan konflik horizontal danvertikal.Keywords: pemekaran wilayah, konflik horizontal, konflik vertikal
RESISTENSI AGAMA DAN BUDAYA MASYARAKAT Samiyono, David
WALISONGO Vol 21, No 2 (2013): Walisongo, "agama lokal"
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractEthnic group, religion, and cultural interactions are familiar phenomena in Bali.Such an interraction had been there since the island became the locus for tradingactivities. The concept of Tri hita karana is underlying the harmony on the relationsof human beings and God (perhyangan), human beings each others (pawongan)and human beings with the environment (palemahan). Bali is changed now. Theculture orientation is on services related to tourism. Bali blast on October 2002 and2005 effected on the on guard among Baliness. Ajeg Bali is a local wisdom of Baliness–religions and cultures— in order to anticipate outside influences effected towardany aspect of life. The problem in this research is weather Ajeg Bali, as local wisdomable to damm outside culture toward Baliness culture, religion, and economics.***Interaksi antar etnis, agama dan budaya bukanlah barang langka di Bali. Sejaksemula hal tersebut sudah ada, ketika pulau ini menjadi locus perdagangan hasilbumi. Sebab sesungguhnya kebudayaan Bali menjujung tinggi nilai-nilaikeseimbangan dan harmonisasi antar manusia dengan Tuhan (perhyangan),dengan sesama (pawongan) dan dengan lingkungan (palemahan). Konsep inidisebut Tri hita karana. Bali kini berubah. Budayanya berorientasi pada jasa, yangberkait dengan industri pariwisata. Sikap orang Bali kini tidak lagi ramah danharmoni. Akibat ledakan bom dalam bulan Oktober 2002 dan 2005, masyarakatlebih berhati-hati terhadap para pendatang. Ajeg Bali merupakan kearifan lokal –agama dan budaya– masyarakat Bali dalam rangka menanggulangi pengaruh luaryang mengakibatkan perubahan di berbagai bidang sehingga identitas kebalianmengalami degradasi. Ajeg Bali merupakan bentuk resistensi masyarakat Balidalam rangka membatasi pendatang dari luar Bali. Kajian ini berusaha untukmenjawab pertanyaan “apakah Ajeg Bali, sebuah kearifan lokal masyarakat Balidapat membendung pengaruh budaya, agama dan ekonomi masyarakat Bali?”Keywords: Bali, pluralisme, harmoni, budaya, Ajeg Bali
REVITALISASI ISLAM KULTURAL Jamil, M. Mukhsin
WALISONGO Vol 21, No 2 (2013): Walisongo, "agama lokal"
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThis research aim to explore one of Islamic movements in Indonesia after reformationof 1998. By using qualitative method, it is clear that the demarcation betweeen Islamictradisionalism and Islamic modernism fluided culturally. Although at the same timepolarization both become more political, which is made Indonesian Islamicmainstream loosed elan vital as sosial and cultural movement. There is thecontradictory trends in the dynamic of Islamic thought and movement introduced byIslamc minority groups. In one side the trends are multiculturalism, anti coruptionmovement and appreciation to the local cultures which is ignorenced before by Islamicmovement in Indonesia. In other side, political oriented in many Islamic movement isstronger. The dominant of traditional constructions of Islamic polical thought of sunni(fiqh al-siyasah) influenced to the Islamic movement to state orientation at same timeignored the society with their problem and cultural expression. The cultural Islamproposed new understanding to Islamic traditions with hermeneutic and remove thelocus of movement forum political Islam to civil Islam.***Penelitian ini bertujuan untuk menjelajahi salah satu gerakan Islam di Indonesiasetelah reformasi 1998. Dengan menggunakan metode kualitatif, akan menjadi jelasdemarkasi antara Islam tradisional dan Islam modernis secara kultural. Meskipolarisasi kedua kelompok keagamaan itu kerap bernuansa lebih politis, sehinggamenghilangkan elan vital Islam Indonesia sebagai gerakan sosial dan budaya. Tetapiada tren kontradiktif dalam dinamika pemikiran dan gerakan Islam yang dilakukanoleh kelompok minoritas Islam. Di satu sisi trennya adalah multikulturalisme,gerakan anti korupsi, dan apresiasi terhadap budaya lokal yang telah dikembangkanoleh gerakan Islam sebelumnya. Di sisi lain, orientasi politik kelompok keagamaanjuga semakin meningkat. Dominasi pemikiran politik tradisional Sunni turutmempengaruhi pola gerakan Islam kepada negara dan pada saat yang samamengabaikan masyarakat dengan problem kebudayaan mereka. Islam kulturalmencoba untuk meniupkan pemahaman baru dalam tradisi Islam denganhermeneutika dan menggeser arah gerakan Islam politik kepada Islam sipil.Keywords: Islam kultural, civil Islam, Islam politik
MAKNA SIMBOLIK UPACARA SIRAMAN PENGANTIN ADAT JAWA Irmawati, Waryunah
WALISONGO Vol 21, No 2 (2013): Walisongo, "agama lokal"
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractSiraman (bathing) is a Javanese ritual ceremony that is done one day before thebride does the ijab qabul. In the siraman ritual, the operational rule and theequipments (uborampe) that are used are already definite (maton/pakem) as thesymbols that have meanings. The meanings of the symbols in the siraman cannot beput off from Javanese context. Phenomenology and philosophy approaches usinghermeneutic method towards siraman ritual are interpreted comprehensively tomake the meanings of symbols clearly therefore the symbols in the siraman ritualcan be understood. This research figures the inter relations among philosophy,culture and Islam.***Siraman (mandi) merupakan upacara adat Jawa yang dilakukan sehari sebelumpengantin melaksanakan ijab qabul. Dalam upacara siraman tata pelaksanaan danperalatan (ubarambe) yang digunakan sudah maton/pakem sebagai sebuahsimbol yang memiliki arti dan makna. Makna dan arti simbol dalam siraman tidakterlepas dari konteks Jawa. Model pendekatan fenomenologis, dan kemudiansecara filosofis menggunakan metode hermeneutik diinterpretasikan secarakomprehensif agar makin jelas arti dan makna sehingga akan lebih mudahmemberikan pemahaman tentang saling hubungan (interelasi) antara filsafat,budaya dan Islam.Keywords: interelasi, siraman, filsafat Jawa, budaya Jawa, Islam
KONTRIBUSI UPACARA ADAT MENDIRIKAN DAN PINDAH RUMAH TERHADAP NILAI PENDIDIKAN ISLAM Salim, Moh. Haitami
WALISONGO Vol 21, No 2 (2013): Walisongo, "agama lokal"
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThere are so many kinds of traditional ceremony among Pontianak Malaycommunity performed along their life cycle. All the traditional ceremonies need aspecific properties according to the kinds of the ceremony performed by theperformer. Each of the property as well as the steps of the ceremony had a specificsymbol denoted to specific meaning. One of the traditional ceremony commonlyperformed by the community of Pontianak Malay is traditional ceremony of buildingand moving house that had so deep educational values.***Ragam upacara adat Melayu Pontianak yang dilaksanakan selama sikluskehidupan mereka, mulai dari lahir sampai meninggal dunia sangat banyak.Seluruh amalan upacara adat tersebut menggunakan properti tertentu dengantata upacara (prosesi) tersendiri yang dilakukan secara baik oleh pelakunya. Baikpada properti yang digunakan maupun rangkaian prosesi yang dilakukan masingmasingmenjadi simbol-simbol tertentu yang sesungguhnya memiliki pesanpesanmoral, khususnya nilai-nilai pendidikan Islam. Salah satunya adalahupacara adat mendirikan dan pindah rumah baru.Keywords: upacara adat, Melayu Pontianak, siklus kehidupan, pesanmoral, nilai pendidikan
RITUAL RAMBUT GEMBEL DALAM ARUS EKSPANSI PASAR PARIWISATA Soehadha, Moh.
WALISONGO Vol 21, No 2 (2013): Walisongo, "agama lokal"
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThis article focusing on religious and social change in Dieng tourism society and itsrelation with state capitalism. The government has commercialize gembel hairritual (ritual rambut gembel) by tourism policy, that long have been live in Diengcommunity. In this article indicated that there are two variants of the socialresponse to the change, the people who accept and reject society. The receivingsociety is the people that having an interest in economic on activities of the tourismdevelopment, whereas the rejecter society is the people that hold belief and traditionfaithful. Theoretically, this study gives an explanation that public religiosity into thevalue system which affect people’s behavior to confirm the mode of economicproduction runs, as well as oversee social change.***Tulisan ini mengambil fokus pada agama dan perubahan sosial akibat ekspansipasar pariwisata di dataran tinggi Dieng, dan hubungannya dengan kapitalismenegara. Pemerintah telah mengusahakan ritual rambut gembel sebagai komoditaspariwisata di dataran tinggi Dieng. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada duavarian respon sosial terhadap perubahan akibat ekspansi pasar pariwisata, yaitumasyarakat yang menerima dan masyarakat yang menolak. Masyarakatpenerima adalah orang-orang yang memiliki kepentingan di bidang ekonomidalam kegiatan pengembangan pariwisata, sedangkan masyarakat yang menolakadalah orang-orang yang memegang keyakinan dan tradisi lokal. Secara teoritis,studi ini memberi penjelasan bahwa religiusitas masyarakat dipengaruhi olehmoda produksi ekonomi yang ada.Keywords: rambut gembel, tradisi lokal, religiusitas, pariwisata,produksi ekonomi
KONTRIBUSI UNGKAPAN TRADISIONAL DALAM MEMBANGUN KERUKUNAN BERAGAMA Haryanto, Joko Tri
WALISONGO Vol 21, No 2 (2013): Walisongo, "agama lokal"
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThe Ganjuran society who live in Sumbermulyo Village, District BambanglipuroBantul of DIY, have ability to maintain religious harmony although those people aredifferent religions. It is because Ganjuran society have elements that can be a socialglue in their local wisdom. This research is conducted by qualitative approach toreveal local wisdom in the maintaining harmony through the form of traditionalexpressions and tradition of kenduri (ritual of meal). Ganjuran society has strongsocial harmony perspective which is expressed by traditional idiom like rukun agawesantosa crah agawe bubrah (harmony makes peaceful, hostile makes splits).***Masyarakat Ganjuran Desa Sumbermulyo Kecamatan Bambanglipuro Bantul DIYmampu memelihara kerukunan umat beragama, meskipun berbeda agama. Halini disebabkan adanya elemen-elemen yang menjadi perekat sosial berupakearifan-kearifan lokal yang hidup dalam masyarakat Ganjuran. Penelitian yangdilakukan dengan pendekatan kualitatif ini mengungkapkan kearifan lokal padamasyarakat Ganjuran dalam memelihara kerukunan dalam bentuk ungkapanungkapantradisional dan tradisi kenduri. Masyarakat Ganjuran memilikipandangan sosial guyub rukun yang diungkapkan melalui berbagai ungkapantradisional seperti rukun agawe santosa crah agawe bubrah.Keywords: kearifan lokal, kerukunan, ungkapan tradisional, Ganjuran
KEARIFAN LOKAL SEBAGAI RESOLUSI KONFLIK KEAGAMAAN Jati, Wasisto Raharjo
WALISONGO Vol 21, No 2 (2013): Walisongo, "agama lokal"
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThis article aims to analyze relation between local wisdom within religion conflictsresolution in post conflict divided society of Maluku. In the case of Maluku conflictreligion was not core sources, but rivalry among societal element to compete forbureaucracy position and economic-politic resources. Religion is only becomingsupporting conflict which provides moral legitimation and politic identity to strikeothers. The history of Maluku conflict indicated by subordination and dominationrelations that resulted discrimination and marginalization amidst society. Thefallacy of the new order regime in 1999 can be said conflict escalation in Maluku thatmurdered million innocent peoples. Maluku conflict had resolved by Malino peacetreaty in 2002 and 2003, however potency of conflict in grassroots can be reduced bylocal wisdom values. Pela gandong as local wisdom had a pivotal role inreconciliation process to recapitalize social capital which cracked during conflict. Inaddition to local wisdom, representation in bureaucracy also hold role player toreducing social gap between society elemental in Maluku.***Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis kearifan lokal sebagai resolusi konflikkeagamaan di masyarakat pasca konflik Maluku. Dalam kasus konflik Maluku,agama bukanlah sumber utama, namun rivalitas antar elemen masyarakat dalammemperebutkan sumber daya ekonomi-politik dan birokrasi yang menjadi permasalahannya.Agama hanya menjadi faktor pendukung yang menyediakan adanyalegitimasi moral dan identitas politik untuk melakukan kekerasan terhadaporang lain. Sejarah konflik Maluku ditandai dengan relasi subordinasi dan dominasiyang menghasilkan adanya diskriminasi dan marjinalisasi di tengah masyarakat.Jatuhnya rezim Orde Baru tahun 1999 dapat dikatakan sebagai puncakkonflik Maluku yang telah membunuh jutaan nyawa manusia tidak bersalah.Konflik Maluku telah diselesaikan melalui perjanjian damai Malino tahun 2002dan 2003, namun demikian potensi konflik di akar masyarakat dapat dikurangimelalui nilai-nilai kearifan lokal. Pela gandong sebagai kearifan lokal mempunyaiperan penting dalam rekonsiliasi dengan menyatukan kembali solidaritas masyarakatyang terpecah selama konflik. Selain halnya kearifan lokal, representasidalam birokrasi juga memegang peran utama dalam mereduksi kesenjangansosial antara elemen masyarakat di Maluku.Keywords: kearifan lokal, pela gandong, resolusi konflik, konflik Maluku
DINAMIKA MASYARAKAT LOKAL DI PERBATASAN Prasojo, Zaenuddin Hudi
WALISONGO Vol 21, No 2 (2013): Walisongo, "agama lokal"
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractCommunity members living in borderland areas in Indonesia tended to be clasifiedas under-developed society in development aspects. Study on the borderland areas isstill limited both in quantity and the impact of the study. Nanga Badau located inborderland between West Kalimantan (Indonesia) and Serawak (Malaysia) is one ofthe under-developed borderland area. This paper revealed the dynamic issues andthe existence of local tradition in the context of globalization. It was showed that theoriginal attitude of warn, friendly, and respect visitors express their openess towardglobal trend but still keep on local style. They are also realized on their positionamong global community. The open access abroad effected in the development ofthe interaction, information, and communication patterns among Iban Dayak.Sophisticated devices like mobile phone and television are familiar among Ibandayak in borderland area.***Masyarakat perbatasan yang ada di Indonesia cenderung masuk dalam kelompokmasyarakat yang tertinggal dari berbagai aspek pembangunan. Kajian mengenaimasyarakat lokal di wilayah-wilayah perbatasan di Indonesia belum terlalumenggembirakan baik dari segi jumlah maupun dari segi dampak hasil kajianyang berupa aksi kebijakan pasca kajian. Nanga Badau yang terletak di daerahperbatasan Kalimantan Barat (Indonesia) dan Serawak (Malaysia) merupakansalah satu wilayah perbatasan yang tertinggal. Tulisan ini memoret isu-isudinamika dan eksistensi tradisi lokal dalam kerangka globalisasi. Tampak bahwasikap ramah dan menghormati pendatang merupakan salah satu bentuk nyatabahwa mereka sangat terbuka dengan adanya arus global dan lokal. Mereka jugamemiliki kesadaran diri akan posisi mereka sebagai bagian dari penduduk dunia.Adanya ruang interaksi bagi dunia luar, seperti mudahnya akses keluar masuk kenegara lain mengakibatkan pola interaksi, informasi dan komunikasi etnis Ibanmenjadi berkembang. Hal tersebut dapat dilihat pada aktivitas masyarakat Ibansehari-hari yang telah memanfaatkan dan menggunakan perangkat handphone,televisi dan teknologi modern lainnya.Keywords: perbatasan, Nanga Badau, tradisi lokal, tertinggal,globalisasi

Page 6 of 10 | Total Record : 92