cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota palu,
Sulawesi tengah
INDONESIA
Academica
Published by Universitas Tadulako
ISSN : 14113341     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal ilmiah Fakultas Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tadulako
Arjuna Subject : -
Articles 194 Documents
PEMILIH MUDA DI SULAWESI TENGAH MENYONGSONG PEMILU 2014 Waris, Irwan
Academica Vol 5, No 2 (2013)
Publisher : Academica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (54.353 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jawaban perihal penanganan pemilih muda danmengetahui peran agen sosialisasi politik (pendidikan politik) atas penanganan pemilih mudasehingga mereka mau berpartisipasi sebagai pemilih pada Pemilu tahun 2014 (PemiluLegislatif dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden). Penelitian ini diselenggarakan di Prov.Sulawesi Tengah dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif.Penelitian ini menyimpulkan penanganan pemilih muda menyongsong Pemilu 2014,khususnya yang diselenggarakan oleh penyelenggara Pemilu, belum sepenuhnya dilakukansecara baik, yaitu terencana, terstruktur, dan massif. Sedangkan agen sosialisasi politik yangmelaksanakan pendidikan politik di dalam masyarakat, juga belum sepenuhnya menjalankanperannya memberikan pemahaman dan pengetahuan politik kepada pemilih muda.Kata kunci: pemilih muda, pemilu, partisipasi politik, dan sosialisasi politik.
ANALISIS PEMEKARAN WILAYAH DAN POTENSI KONFLIK DI KABUPATEN DONGGALA Riyadi, Slamet
Academica Vol 1, No 2 (2009)
Publisher : Academica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.556 KB)

Abstract

Pemekaran wilayah di lokasi penelitian sangat direspon olehmasyarakat. Terbukti dari 100 responden yang di wawancara dikedua lokasi penelitian rata-rata 66% memberi persetujuan akanterjadinya pemekaran wilayah didaerahnya, dengan alasan bahwapemahaman mereka dilandasi pemekaran wilayah membawa anginperubahan baik pada tingkat kesejahteraan maupun kemudahandalam mengakses layanan publik. Namun ada juga (34%) yang tidaksetuju, dengan alasan bahwa pemekaran wilayah sebenarnya bukanuntuk kepentingan masyarakat kecil namun untuk para elit politikmaupun elit birokrat .Konflik pada daerah pemekaran pada lokasi penelitian disebabkan,tidak puasnya masyarakat dan elit-elit politik tertentu pada pascapemekaran. Menurut hasil penelitian seperti tidak meratanya kursikekuasaan, pemerataan pada akses-akses potensial serta masih sulitmengakses layanan publik seperti yang dijanjikan pada PRApemekaran (kampanye pemekaran wilayah).Dari hasil penelitian, ditemui fakta bahwa konflik yang terjadi didaerah penelitian lebih dominan issunya tapal batas (batas wilayah).Hal ini didasari bahwa adanya keragu-raguan pemerintah dalammenentukan tapal batas (54%), apalagi wilayah yang disengketakanseperti di Kecamatan Sindue (desa Lero) mengandung emas dantelah ada penambangan rasional. Desa tersebut belum jelas bataswilayah karena masih dilingkari oleh kepentingan penentu kebijakan(birokrat lokal).
DESINTEGRASI (Suatu Tinjauan Sosiologis) Hasan, Dahlan Hi
Academica Vol 5, No 2 (2013)
Publisher : Academica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.173 KB)

Abstract

Awalnya kita begitu yakin bahwa Ideologi Pancasila sebagai Dasar Negara dengansemboyan Bhineka Tunggal Ika dianggap mampu merajut perbedaan yang adasehingga menjadi pilihat terbaik dari sekian banyak Ideologi pda saat itu, dan dalamperjalanan bangsa ini kita menyaksikan adanya dukungan masyarakat, setidaknyapada tataran elit, interaksi antara mereka yang berbeda suku bangsa, agama dangolongan dengan mudah biasa dirajut. Terlebih dengan tingkat pendidikan memilikikorelasi yang kuat terhadap tumbuhnya semangat saling bisa memahami perbedaanperbedaanpandangan, seperti yang ditunjukkan kerjasama antar suku bangsa yangberbeda, dengan mudah bisa dilakukan dengan pertimbangan yang rasional. Tetapikita dikagetkan dengan adanya gejala desintegrsi yang dimulai pada lapisan”Grassroot” dimana konvergensi antara suku bangsa, agama yang berbeda sudahtidak mudah diciptakan, kalaupun ada (yang sudah terbentuk) bisa ditelusuri, bahwarealitas semacam itu berakar pada tradisi yang sudah cukup lama, ketika intevensistate belum terlampau banyak mempengaruhi mereka.Kata Kunci: Desintegrasi, Konflik, Ssiologis
MASALAH DAN PROSPEK DEMOKRASI Patta, Abdul Kadir
Academica Vol 1, No 1 (2009)
Publisher : Academica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (43.877 KB)

Abstract

Demokratrisasi dapat diartikan sebagai suatu transformasi atauproses untuk mencapai suatu system yang demokratis. Sedangkanmakna dan subtansi kata demokrasi itu sendiri berarti-secarasederhana-pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat. Dalam artiyang (relative) agak luas, demokrasi sering dimaknai sebagaipemerintahan dengan segenap kegiatan yang dikelola, dijalankandengan menjadikan rakyat sebagai subjek dan titik tumpu rodapenentu berjalannya kepolitikan dan kepemerintahan. Oleh karenademokrasi merupakan system yang bertumpu pada daulat rakyat,maka nihilisme terhadap daulat elite, atau daulat partai, atau daulatNegara, ataupun daulat militer musti disingkirkan.Kata kunci : Prospek dan demokrasi
Resensi buku: Barrington Jr Moore.1967 SOCIAL ORIGINS OF DICTATORSHIP AND DEMOCRACY: LORD AND PEASENT IN THE MAKING OF THE MODERN WORLD Sulthan, Sulthan
Academica Vol 5, No 2 (2013)
Publisher : Academica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.619 KB)

Abstract

Dalam bukunya “Social Origins of Dictatorship and Democracy: Lord and Peasent in theMaking of the Modern World” Barrington Moore Jr, ingin menunjukkan bahwa kaum tanidan golongan keluarga baik-baik memegang peran penting dalam menentukan kekuatankekuatansosial dan politik suatu negara terutama proses transformasi dari masyarakatagraris ke industri. Membandingkan delapan negara-negara besar, baik di Timur dan Barat,Moore terlihat secara rinci berbagai peran politik yang dimainkan oleh dua kelompok danmengidentifikasi tiga jalur utama dari dunia pra-modern - iindustrial - revolusioner borjuis,reaksioner dan kapitalis, dan komunis. buku Moore memungkinkan kita untuk lebih memahamisituasi di Inggris dan perang sipil Amerika, karakter dan kondisi sosial ekonomi dari fasismeJepang dan sifat non-kekerasan di India. Barrington Moore Jr membandingkan revolusimodernisasi di Cina, Inggris, Amerika Serikat, Rusia, Perancis dan Jepang, dan India sertamengembangkan sebuah teori tentang kapan dan mengapa proses ini menghasilkan j sistempolitik melalui studi tiga jalur bangsa modern.Kata Kunci: Social Origins, Dictatorship and Democracy
KAJIAN PERILAKU MENONTON TAYANGAN TELEVISI DAN PENDIDIKAN LITERASI MEDIA PADA REMAJA Suryadi, Israwati
Academica Vol 5, No 1 (2013)
Publisher : Academica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.882 KB)

Abstract

Relasi anak dengan televisi telah menjadi persoalan yang problematik. Di satu sisitelevisi adalah sarana transformasi ide, nilai, norma, dan transformasi mental ke arahpenyadaran, pencerahan, dan kemajuan kehidupan. Namun disisi lain televisi menularkanpengaruh buruk yang mendegradasi format kemanusiaan dan kemampuan berpikir anak.Dampak buruk media massa tersebut, terutama televisi melahirkan gagasan yang disebutmedia literacy. Suatu keterampilan yang diperlukan setiap orang dalam interaksinyadengan pesan media massa, di mana seseorang dapat memilih tayangan yang positif danmampu secara kritis menilai tayangan televisi yang relevan, baik ditinjau dari segipsikologi, etika, ekonomi dan agama.Penelitian ini diharapkan mampu mengidentifikasi dampak negatif pengaruhtontonan televisi bagi siswa SMP serta dapat memberikan alternatif solusi bagi khalayakterhadap dominasi media massa dalam mengembangkan, baik pemahaman kritis maupunpartisispasi aktif, sehingga memampukan anak muda sebagai konsumen media membuatpenafsiran dan penilaian berdasarkan informasi yang diperolehnya.Kata Kunci: Perilaku, Televisi, Literasi dan Media
PERSPEKTIF SOSIOLOGIS TENTANG KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DALAM RUMAH TANGGA Syufri, Syufri
Academica Vol 1, No 1 (2009)
Publisher : Academica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.735 KB)

Abstract

Kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga adalah masalahkeluarga yang sulit terekspos dirana publik, sebagai akibat dariadanya anggapan masyarakat bahwa masalah tersebut adalah suatuhal yang wajar dan dapat diselesaikan secara intern dalam suatukeluarga. Budaya Patriarki dan Pemahaman yang keliru terhadapajaran agama dan kepercayaan serta Peniruan seorang anak laki-lakiterhadap karakter ayahnya, adalah faktor-faktor dominan penyebabterjadi kekerasan tersebut. Oleh sebab itu, pendekatan-pendekatansecara idologis seperti kampanye untuk menghentikan pelbagaibentuk ketidak adilan gender serta mempelajari berbagai teknik olehkaum perempuan dalam menghentikan kekerasan.Kata Kunci : Kekerasan Terhadap Perempuan.
EFEKTIVITAS TUGAS CAMAT DALAM MENGEVALUASI PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DESA DI KECAMATAN PAGIMANA KABUPATEN BANGGAI halim, Rahmawati
Academica Vol 5, No 1 (2013)
Publisher : Academica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.191 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas tugas Camat terhadapevaluasi penyelenggaraan pemerintahan desa di Kecamatan Pagimana KabupatenBanggai. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah staf Camat, kepala desa, perangkatdesa yang berjumlah 63 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian inimenggunakan teknik purpossive sampling. Untuk menganalisis data hasil penelitiandigunakan metode analisis statistik deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakankuesioner (angket) dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas tugasCamat dalam mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan desa di Kecamatan Pagimanatermasuk kriteria baik dengan prosentase 66,4%. Hal ini dibuktikan dari analisis subvariabel penyelenggaraan evaluasi dan pembinaan kepala desa termasuk kriteria baik(69,5%), bimbingan dan supervisi kepala desa kriteria cukup (59,4%), pelaksanaanevaluasi dan monitoring kriteria cukup (60,3%), sementara pelaksanaan pengawasanpembangunan desa termasuk kriteria baik (68,3%), dan penyusunan laporan sudahtermasuk kategori baik (74,6%). Dengan demikian dapat dikemukakan bahwapenyelenggaraan pemerintah desa di wilayah Kecamatan Pagimana sudah berjalan denganbaik meskipun masih perlu dilakukan perbaikan khususnya kinerja perangkat desa.Kata Kunci: Evaluasi Penyelenggaraan, Pemerintahan Desa
IKLIM KOMUNIKASI ORGANISASI PADA AHASS 8287 CV ANUGERAH PERDANA PALU Shofiyah, Siti
Academica Vol 4, No 1 (2012)
Publisher : Academica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.869 KB)

Abstract

JURNAL ACADEMICA Fisip Untad VOL.04 No. 01 PEBRUARI 2012799IKLIM KOMUNIKASI ORGANISASI PADAAHASS 8287 CV ANUGERAH PERDANAPALUOleh: St. ShofiyahABSTRAKSuatu organisasi perusahaan yang hendak meningkatkanproduktivitanya harus memperhatikan beberapa hal, diantaranyaadalah suasana kerja yang nyaman dan harmonis. Suatu organisasiakan berhasil mencapai tujuannya bukan hanya memenuhikebutuhanfisik dan materi saja bagi para pegawainya akan tetapi perusahaanjuga harus mampu menciptakan iklim komunikasi yang baik. Olehkarenanya iklim komunikasi merupakan faktor yang dapatmempengaruhi perilaku karyawan. Terpenuhinya gaji dan fasilitasyang cukup bukan satu-satunya penyelesaian, akan tetapi kebutuhanpsikologis pegawai juga turut mempengaruhi kondisi di perusahaan,dimana para pegawai menuntut para pimpinan untuk menghargai,dan mengakui keberadaanya dalam perusahaan. Hal ini dapat terciptabila iklim komunikasi yang berlangsung baik dalam organisasi.Iklimkomunikasi di dalam sebuah organisasi itu penting karena secaratidak langsung iklim komunikasi organisasi dapat mempengaruhicara hidup orang-orang di dalam sebuah organisasi: kepada siapaorang-orang berbicara, siapa saja yang disukai, bagaimana perasaanmasing-masing orang, bagaimana kegiatan kerja berlangsung danbagaimana perkembangan orang-orang di dalam organisasi. Dari sinidapat dilihat bahwa iklim komunikasi di dalam sebuah organisasi ituperlu untuk diperhatikan agar dapat menciptakan sebuah organisasiyang efektifKata Kunci: Organisasi dan Iklim Komunikasi
MEMAHAMI PERKEMBANGAN DESA DI INDONESIA Alamsyah, Muhammad Nur
Academica Vol 3, No 2 (2011)
Publisher : Academica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.263 KB)

Abstract

Pada umumnya pemerintahan desa di seluruh Indonesiazaman dahulu bentuknya menurut hukum adat adalah "collegial"Desa adalah daerah otonom yang paling tua, dimana desa lahirsebelum lahirnya daerah koordinasi yang lebih besar dan sebelumlahirnya kerajaan (negara), sehingga ia mempunyai otonomi yangpenuh dan asli. Sebelum era kolonialisme, struktur politik dan fungsipemerintahan asli (desa) sudah dikenal luas dalam berbagaimasyarakat, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di daerah lain diluar Indonesia. Contohnya, barangay di Filipina, panchayat di IndoPakistan, sultanates di Malaysia, small kingdoms di Nepal, gamsabbawas di Sri Lanka, desa di Jawa, dan sakdina di Thailand.Nama-nama di atas merupakan struktur politik dengan fungsi-fungsitertentu yang sudah dikenal dan dipraktekkan sangat lama dalammasing-masing masyarakat.Masuknya sistem pemerintahan modern di desa, telahmerobak sejarah panjang hasil buah karsa dan karya perjalananpanjang karakteristik budaya yang mengedepankan komunalismekearah individualistik. Di Indonesia, diperkirakan lebih dari tigaperempat penduduk Indonesia tinggal di daerah pedesaan. Sehinggaselalu menjadi masalah pelik dalam pemajuannya. Salah satunyaadalah bagaimana upaya menghapuskan kesenjangan antara desa dankota dimana hal tersebut selalu dijadikan indikator keberhasilanpembangunan secara nasional. Sementara, dampak umumpembangunan terhadap desa yang membawa efek yang jauh lebihmembahayakan masyarakat desa dalam friksi-friksi yang tajam tidakmenjadi telaah penting. Sementara hal tersebut akan berimplikasiterhadap perubahan nilai fundamental (local identity), sehinggasemakin merapuhkan sendi-sendi tradisi dan kekeluargaan yangmembangun komunitas desa.Kata Kunci : Desa, Pembangunan, Otonomi