cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
ISSN : 02160439     EISSN : 25409689     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 716 Documents
MODEL KONSERVASI PRIMATA ENDEMIK DI CAGAR BIOSFER PULAU SIBERUT, SUMATERA BARAT M. Bismark
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2012.9.2.151-162

Abstract

Cagar Biosfer Pulau Siberut terdiri dari kawasan konservasi Taman Nasional Siberut sebagai zona inti dan hutan produksi yaitu IUPHHK PT Salaki Suma Sejahtera (S3) seluas 48.420 ha di bagian utama Pulau Siberut dan eks IUPHHK Koperasi Andalas Madani (KAM) seluas 49.650 ha sebagai zona penyangga. Kawasan taman nasional dan hutan produksi adalah habitat dari empat jenis primata endemik, Hylobates klossii Miller, 1903; Simias concolor Miller, 1903; Presbytis potenziani Bonaparte, 1856; dan Macaca pagensis Miller, 1903, 65% populasinya berada di hutan berbukit. Populasi keempat jenis primata di areal bekas tebangan kawasan Siberut Utara masing-masing 6,54 individu/km²; 8,70 individu/km²; 10,32 individu/km²; dan 33,10 individu/km². Populasi ini dua kali lebih tinggi dari populasi di taman nasional, sedangkan di areal penebangan setelah lima tahun di bagian selatan populasi primatanya 35% lebih rendah dari populasi bagian utara. Untuk melindungi populasi primata taman nasional dari dampak penebangan, diperlukan daerah penyangga hutan produksi dengan taman nasional selebar 1.500 m, sedangkan pelestarian populasi primata efektif di hutan produksi dilakukan dengan membangun wilayah konservasi di setiap blok areal kegiatan tebangan selama lima tahun (RKL) seluas ±2.300 ha, dan wilayah konservasi habitat primata di tujuh RKL mencapai luas 30% dari kawasan hutan produksi.
KERAGAMAN POTENSI TUMBUHAN BERGUNA DI CAGAR ALAM MANDOR, KALIMANTAN BARAT Marfu’ah Wardani
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2008.5.3.251-266

Abstract

Tujuan penelitian ini  adalah untuk memperoleh data  dan informasi ilmiah tentang potensi tetumbuhan berguna di Cagar Alam Mandor, Kalimantan Barat. Pengamatan keberadaan tumbuhan tersebut dilakukan di lima petak pengamatan yang tersebar di bagian utara cagar alam. Petak pengamatan berupa transek empat persegi panjang berukuran 1.000 m x 20 m yang terletak pada ketinggian 10-60 m dpl. Contoh tumbuhan yang diamati dibuat spesimen herbarium untuk identifikasi jenis. Pada lokasi pengamatan ditemukan 30 jenis tumbuhan berguna, 11 jenis di antaranya berpotensi sebagai tumbuhan buah-buahan, empat jenis berpotensi untuk bahan kerajinan, delapan jenis berpotensi untuk bahan ramuan obat, satu jenis sebagai bahan insektisida, dan enam jenis lainnya berpotensi sebagai tanaman hias.
KARAKTERISTIK TEMPAT TUMBUH POHON PALAHLAR GUNUNG (Dipterocarpus retusus Bl.) DI KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG CAKRABUANA, SUMEDANG, JAWA BARAT Istomo Istomo; Andita Pradiastoro
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2011.8.1.1-12

Abstract

Palahlar gunung (Dipterocarpus retusus Bl.) adalah salah satu jenis pohon famili Dipterocarpaceae yang bernilai tinggi yang terdapat di Jawa Barat. Keberadaan jenis tersebut terancam punah dan belum diketahui pembudidayaannya, oleh karena itu dengan tujuan untuk mengkaji karakteristik tempat tumbuh palahlar gunung (Dipterocarpus retusus Bl.) penelitian ini dilakukan. Penelitian dilakukan di wilayah Hutan Lindung Gunung Cakrabuana, Sumedang, Jawa Barat. Penelitian dilakukan dengan jalur pengamatan lebar 20 m, arah tegak lurus kontur dari ketinggian 1.000-1.600 m dpl sebanyak tiga jalur dengan jarak antar jalur 500 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pohon palahlar gunung (Dipterocarpus retusus Bl.) dijumpai pada ketinggian 1.000 sampai 1.225 m dpl dengan kelerengan 4-100% pada tanah Latosol yang bertekstur geluh debuan sampai lempung dengan tingkat kemasaman tanah masam sampai cukup masam. Pada ketinggian 1.000-1.099 m dpl pohon palahlar gunung (Dipterocarpus retusus Bl.) sebanyak sembilan pohon. Pada ketinggian 1.100-1.199 m dpl ditemukan sebanyak 12 pohon dan pada ketinggian 1.200-1.299 m dpl ditemukan sebanyak lima pohon. Pada kelas lereng 26-50% kelimpahan palahlar gunung (Dipterocarpus retusus Bl.) paling besar yaitu sebanyak 15 pohon. Pada kelas lereng 51-75% kelimpahan palahlar gunung (Dipterocarpus retusus Bl.) sebanyak lima dan empat pohon dan kelimpahan palahlar gunung (Dipterocarpus retusus Bl.) paling kecil terdapat pada kelas lereng 76-100% yaitu sebanyak dua pohon.
PERDAGANGAN SUKU LABI-LABI (Tryionichidae) UNTUK KONSUMSI DI PROVINSI DKI JAKARTA Dhian Eko Prastiwi; Mirza D. Kusrini; Ani Mardiastuti
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2015.12.1.75-87

Abstract

Di dalam negeri dijumpai sejumlah pasar yang menjual labi-labi untuk dikonsumsi, akan tetapi perdagangan domestik labi-labi belum banyak diketahui. Sementara itu, ijin kuota pemanfaatan  (90% untuk ekspor dan 10%  untuk  pemanfaatan  dalam  negeri)  lebih  didasarkan  hasil  survei populasi  labi-labi  di alam;  belum memperhatikan kebutuhan konsumsi dalam negeri. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi tentang perdagangan labi-labi untuk konsumsi di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian dilakukan Desember 2013 sampai Maret 2014 dengan teknik wawancara kepada informan yang dipilih secara snowball sampling dan observasi lapang untuk   identifikasi pedagang hasil olahan labi-labi. Jumlah labi-labi yang diperdagangkan untuk konsumsi di Jakarta selama tiga bulan adalah 8.818,1 kg, terdiri atas 7.171,6 kg  jenis Amyda cartilaginea (atau 2.390,5 kg per bulan) dan 1.646,5 kg   jenis Trionyx siamensis (atau 548.8 kg per bulan). Asal A. cartilaginea   terbanyak dari Sumatera Selatan (49%), Jambi (20%) dan Lampung (19%), diikuti beberapa daerah di Jawa Barat dan Banten. Sejumlah 34 rumah makan dan tiga pedagang kaki lima yang menjual hasil olahan labi-labi dijumpai di beberapa wilayah di Jakarta, kecuali Jakarta Timur dengan jumlah kebutuhan per hari berkisar empat kg per pedagang (setara dengan 4.440 kg per bulan) dengan harga Rp 26.000-Rp 200.000 per porsi
FRAGMENTASI HUTAN ALAM LAHAN KERING DI PROVINSI JAWA TENGAH Hendra Gunawan; Lilik B. Prasetyo; Ani Mardiastuti; Agus P. Kartono
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2010.7.1.75-91

Abstract

Hutan alam di Provinsi Jawa Tengah terus mengalami penurunan luas dan fragmentasi sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan. Hal ini tentu berdampak negatif pada kelangsungan hidup keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi tentang proses dan laju fragmentasi hutan alam lahan kering di Provinsi Jawa Tengah dan informasi mengenai kemungkinan dampaknya bagi kelestarian keanekaragaman satwaliar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa selama 16 tahun (1990-2006) Provinsi Jawa Tengah telah kehilangan hutan alam lahan kering seluas 446.561,09 ha atau 88%. Sisa-sisa hutan alam lahan kering umumnya ada di puncak-puncak gunung yang sulit diakses oleh aktivitas manusia. Fragmentasi hutan alam di Jawa Tengah yang terjadi antara tahun 1990-2000 telah menyebabkan peningkatan Total Edge (TE) dari 42,43 km menjadi 133,88 km. Dari tahun 2000-2006, seiring dengan hilangnya fragment-fragment hutan (proses attrition) total edge menurun menjadi 8,75 km.  Edge Density (ED) hutan alam lahan kering di Provinsi Jawa Tengah juga mengalami peningkatan dari tahun 19902000, yaitu dari 151.061,8 m2  menjadi 473.200,6 m2 . Edge density kembali menurun seiring hilangnya beberapa fragment hutan menjadi 31.076,6 m2  pada tahun 2006. Fragmentasi hutan alam lahan kering di Provinsi Jawa Tengah umumnya disebabkan oleh konversi menjadi lahan pertanian, hutan tanaman, perkebunan, pemukiman, dan pembangunan infrastruktur, seperti jalan arteri, jalan tol serta jaringan listrik tegangan tinggi (SUTET). Fragmentasi hutan di Provinsi Jawa Tengah harus dihentikan. Penataan ruang yang memperhatikan bukan saja proporsi luas hutan tetapi juga kekompakan dan konektivitas antar kelompok hutan harus diimplementasikan. Untuk menghambat laju kepunahan dan meningkatkan survival satwaliayang ada di hutan terfragmentasi, maka perlu dibuat koridor dan perluasan habitat dengan menambahkazona penyangga. Kawasan hutan negara yang tidak berhutan perlu dihutankan kembali. Hutan produksi hardifungsikan sebagai perluasan habitat dan koridor antar habitat satwa yang terfragmentasi
MODEL PEGUKURAN BIOMASSA POPULASI PRIMATA M Bismark
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2005.2.5.491-496

Abstract

Kualitas  Ekosistem  hutan  ssebagai habitat dapat dinilai dari biomassa primata  arboreal yang pergerakan dan sumber pakan sangat tergantung   pada Struktur fisik tegakan. Pendugaan berat badan  (Bb) individu sebagai biomassa secara langsung  di habitat alami dilakukan dengan mcngukur gaya, elastisitas  cabang berdiameter   kurang dari 10  cm dimana primata duduk atau istirahat. Penelitian  ini menggunakan bekantan Nasalis larvatus Wurmb) sebagai satwa model. Model regresi sebagai penduga Bb (kg) dengan parameter geometrik  tubuh yang berhubungan erat dengan berat  badan, telah  diujikan   terhadap panjang badan dan kepala  (td, dalam  cm) sena luas permukaan tubuh (L, dalam m2). Dalam penelitian, Td diukur pada posisi duduk bekantan. Hasil menunjukan  bahwa korela L terhadsp td pada jantan  dan betina  berbeda,  Dengan luas permukaan tubuh betina setengah dari luas permukaan  tubuh  jantan (dimorfisme seksual),nilai korelasi L  dengan td adalah L .  c1'-0,0514.sedangkan L  t-0,1048e dan korelasi  L dengan Bb mengikuti persamaan L • 0, 1324 Bb°".
MODEL ANALISIS SISTEM DINAMIKA PERTUMBUHAN DAN PENGATURAN HASIL HUTAN RAWA BEKAS TEBANGAN DI RIAU Aswandi Aswandi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.3.239-249

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan model analisis sistem dinamika struktur tegakan dan pengaturan hasil hutan rawa tidak seumur di Riau. Model disusun berdasarkan pada seri data petak ukur permanen di hutan alam bekas tebangan pada kawasan pengusahaan hutan PT. Diamond Raya Timber, Provinsi Riau. Dinamika struktur tegakan terdiri atas ingrowth, upgrowth, dan mortality. Model yang dibangun didasarkan pada kelompok jenis (Dipterocarpaceae, non-Dipterocarpaceae, dan non-komersial). Hasil simulasi menunjukkan bahwa dengan siklus tebang 35 tahun, tegakan pada siklus tebang kedua belum mencapai kondisi semula. Memperpanjang siklus tebang hingga 40 tahun atau menurunkan limit diameter hingga kelas diameter 40 cm merupakan alternatif untuk menjaga kelestarian hasil. Siklus tebang yang semakin panjang ini juga didukung oleh riap diameter yang lebih kecil dari satu cm/tahun yang menjadi dasar penetapan siklus tebang 35 tahun.
ANALISIS HABITAT KOLONI LEBAH HUTAN APIS DORSATA DAN KUALITAS MADU YANG DIHASILKAN DARI KAWASAN HUTAN DENGAN TUJUAN KHUSUS (KHDTK) RANTAU, KALIMANTAN SELATAN Yelin Adalina
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2018.15.1.25-40

Abstract

ABSTRACTForest Area with Special Purpose (KHDTK) Rantau is a research forest (HP) in South Kalimantan where there is a beehive tree (sialang) regularly inhabited by Apis dorsata forest bee colonies. The existence of sialangtrees are sources of honey for forest honey collectors around the area. The research was conducted to determine (1) the potential of Rantau HP as sialang habitat and (2) the quality of honey produced through survey and observation approaches. Vegetation analysis was used to determine the vegetation structure of plants of bee feed sources in the beehive siege habitat. The physicochemical test of honey was used to analyze the quality of honey based on water content, pH, hydroxymethylfurfural (HMF) content, acidity level, reducing sugar content, and phytochemical content. The analysis showed that there were 17 species of tree, 7 species of poles, 7 species of saplings and 8 species of seedlings. The highest Important Value Index (IVI) at the tree level was Acacia mangium (62.0%) as the source of the nectar, at pole level was Vitex pinnata (63.2%) as the sourceof pollen, at the sapling level was Glochidion sp. (53.5%) as the source of pollen, and at level of seedlings was Ficus variegata (34.3%) as the source of pollen. The results of laboratory analysis showed that harvested foresthoney meet the Indonesian National Standard (SNI) 01-3545-2013, with the exception of the water content. Honey contains phytochemical components of flavonoids, alkaloids, saponins, and triterpenoids.Key words: Vegetation analysis, Apis dorsata, honey quality, bee foragesABSTRAKKawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Rantau merupakan hutan penelitian (HP) di Kalimantan Selatan dimana terdapat pohon sialang yang secara regular dihuni koloni lebah hutan Apis dorsata. Keberadaan pohon sialang menjadi sumber penghasil madu bagi pemungut madu hutan di sekitar kawasan. Penelitian telah dilakukan untuk mengetahui (1) potensi HP Rantau sebagai habitat sialang dan (2) kualitas madu yang dihasilkan melalui pendekatan survei dan observasi. Analisis vegetasi digunakan untuk mengetahui struktur vegetasi tumbuhan sumber pakan di habitat kepungan sialang. Uji fisikokimia madu digunakan untuk menganalisis kualitas madu berdasarkan kadar air, pH, kandungan hidroksimetilfurfural (HMF), kadar keasaman, kandungan gula pereduksi, dan kandungan fitokimia. Hasil analisis vegetasi menunjukkan spesies sumber pakan terdapat 17 jenis untuk tingkat pohon, 7 jenis tingkat tiang, 7 jenis tingkat pancang dan 8 jenis tingkat semai. Nilai INP tertinggi tingkat pohon adalah Acacia mangium (62,0%) sebagai sumber nektar, tingkat tiang Vitex pinnata (63,2 %) sebagai sumber polen, tingkat pancang Glochidion sp. (53,5%) sebagai sumber polen, dan tingkat semai Ficus variegata (34,3%) sebagai sumber polen. Hasil analisis laboratorium menunjukkan madu hutan hasil panen di KHDTK Rantau memenuhi sebagian kriteria (Standar Nasional Indonesia, 2013) (SNI) 01-3545-2013, terkecuali kadar air. Madu mengandung komponen fitokimia flavonoid, alkoloid, saponin, dan triterpenoid.Kata kunci: Analisis vegetasi, Apis dorsata, kualitas madu, tumbuhan pakan lebah madu
PAKU EPIFIT DAN POHON INANGNYA DI BUKIT PENGELENGAN, TAPAK DAN LESUNG, BEDUGUL, BALI I Dewa Putu Darma; Wenni Setyo Lestari; Arief Priyadi; Rajif Iryadi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2018.15.1.41-50

Abstract

ABSTRACTEpiphytic ferns grow attached to the phorophyte tree or rocks. This study aims to determine the diversity, distribution of epiphytic ferns and its phorophyte trees in the forests of Bedugul, Bali. The method used in this study was purposive random sampling. The study recorded 24 species of epiphytic ferns in the forest of Bedugul Bali (16 species in Bukit Pengelengan, 12 species in Bukit Tapak and 12 species in Bukit Lesung). Epiphytic ferns found limited in one study area are Arthropteris palisotii, Goniophlebium subauriculatum, Loxogramme avenia, Oleandra pistillaris, Asplenium caudatum, Belvisia mucronata, Ctenopteris obliquata, Davallia pentaphylla, Davallia solida, Drynaria sp., Hymenophyllum sp., Monogramma trichoidea and Nephrolepis sp1. Epiphytic ferns found spread over in more than one study areas are Asplenium nidus, Belvisia spicata, Davallia denticulata, Goniophlebium percisifolium, Pyrrosia varia and Selliguea enervis. The highest-distributed species of epiphytic ferns are occupied by Belvisia spicata and Davallia denticulate. There are 33 species of phorophyte trees recorded (22 species in Bukit Pengelengan, 21 species in Bukit Tapak and 11 species in Bukit Lesung). The favorite phorophyte trees are Platea latifolia in Bukit Pangelangan, Syzygium zollingerianum. in Bukit Tapak and Engelhardia spicata in Bukit Lesung.Key words: Bedugul, distribution, diversity, epiphytes fern.ABSTRAKPaku epifit merupakan tumbuhan paku yang tumbuh menempel pada pohon inang (phoropyte) atau bebatuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman serta persebaran paku epifit dan pohon inangnya di kawasan hutan Bedugul Bali. Kegiatan ini dilakukan dengan metode purposive random sampling. Hasil penelitian mencatat 24 jenis tumbuhan paku epifit yang teramati di kawasan hutan Bedugul Bali. Jumlah tersebut tersebar di Bukit Pengelengan 16 jenis, di Bukit Tapak 12 jenis dan di Bukit Lesung 12 jenis. Jenis paku epifit yang persebaranya terbatas hanya di satu area studi adalah Arthropteris palisotii, Goniophlebium subauriculatum, Loxogramme avenia, Oleandra pistillaris, Asplenium caudatum, Belvisia mucronata, Ctenopteris obliquata, Davallia pentaphylla, Davallia solida, Drynaria sp., Hymenophyllum sp., Monogramma trichoidea dan Neprolepis sp1. Sedangkan jenis yang tersebar di lebih dari satu area studi adalah Asplenium nidus, Belvisia spicata, Davallia denticulata, Goniophlebium percisifolium, Pyrrosia varia dan Selliguea enervis. Jenis paku epifit yang berdistribusi paling luas adalah Belvisia spicata dan Davallia denticulata. Keanekaragaman pohon inang tercatat 33 jenis (Bukit Pengelengan 22 jenis, Bukit Tapak 21 jenis dan Bukit Lesung 11 jenis). Jenis pohon inang yang disenangi oleh jenis tumbuhan paku epifit bervariasi, di Bukit Pengelengan adalah Platea latifolia, di Bukit Tapak adalah Syzygium zollingerianum dan di Bukit Lesung adalah Engelhardia spicata.Kata kunci: Bedugul, epifit, keanekaragaman, persebaran.
PENGUJIAN BAHAN ORGANIK SEBAGAI MEDIA TUMBUH FUSARIUM SP. PEMBENTUK GAHARU Denny - denny; Erika Deciawarman; Abu Bakar M. Lahjie
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2018.15.1.51-64

Abstract

ABSTRACTCultivated agarwood commodity is currently preferred by many people. Threefore, research on propagation of the agarwood forming fungi to increase agarwood productivity needs to be conducted. This study was aimed to determine the effectiveness of Fusarium sp. in some media and treatments to increase the agarwood formation. This study was conducted in the Laboratory of Forest Protection, Mulawarman University for fungipropagation and Bukit Raya village in East Kalimantan for agarwood inoculation. The growing media tested were potato, banana and cassava infusions, mixed with sawdust. Mycelium daily growth was measured andtested in three different media. The measurement result showed that there was no significant difference. Spore germination of potato infusion media is the fastest among other media after in contact with the potato and banana infusion. There were significant differences in infection area of some media and treatments. The most effective treatment was unpeeled bark with the average infection area of 17.87 cm2.Key words: Agarwood, Fusarium sp., inoculation, treatmentABSTRAKSaat ini komoditi gaharu budidaya semakin diminati konsumen gaharu dunia, karena menurunnya produksi gaharu alam secara drastis, sehingga penelitian tentang perbanyakan jamur pembentuk gaharu untukmengetahui perlakuan mana yang paling efektif perlu dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penggunaan jamur Fusarium sp. dengan beberapa media tumbuh dan perlakuan untuk mengetahui media dan perlakuan yang paling efektif dalam membentuk gubal gaharu. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Hutan Universitas Mulawarman untuk proses prbanyakan jamur dan Desa BukitRaya, Kalimantan Timur untuk proses inokulasi pada pohon penghasil gaharu. Media tumbuh yang digunakan adalah ekstrak kentang, pisang, singkong, campuran serbuk gergaji dengan ekstrak kentang, ekstrak pisang, dan ekstrak singkong. Hasil perhitungan kecepatan tumbuh miselia per hari masing-masing media berbedabeda, tetapi dari hasil uji statistik tidak terdapat perbedaan signifikan antara ketiga media dalam mempengaruhi pertumbuhan miselia. Media berbahan kentang setelah diencerkan dengan ekstrak kentang dan pisang adalah media dengan perkecambahan spora Fusarium sp. yang paling cepat. Kemudian hasil inokulasi pohon penghasil gaharu terdapat perbedaan luas infeksi yang signifikan terhadap beberapa media dan perlakuan. Media ekstrak kentang yang pertumbuhan miselia dan perkecambahan sporanya paling cepat merupakan media yang paling baik dalam menginfeksi pohon penghasil gaharu dengan nilai rata-rata luas infeksi 27,28 cm2. Perlakuan yang paling baik dalam menginfeksi pohon penghasil gaharu adalah perlakuan tanpa dikupas kulitbatangnya dengan luas infeksi sebesar 17,87 cm2.Kata kunci: Gaharu, Fusarium sp., inokulasi, perlakuan

Filter by Year

2004 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 6 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 4 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam More Issue