cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Articles 427 Documents
MODEL PENDUGA VOLUME POHON NYAWAI (Ficus variegata Blume) DI KALIMANTAN TIMUR Muhammad Abdul Qirom; Supriyadi Supriyadi
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 10, No 4 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2013.10.4.173-284

Abstract

Jenis nyawai baru dikembangkan untuk pengembangan hutan tanaman. Pendugaan potensi ini memerlukan instrumen penduga volume yang tepat. Namun, instrumen tersebut belum tersedia. Volume pohon ditentukan dengan Spiegel Relaskop Bitterlich (SRB) sehingga pohon-pohon contoh tidak ditebang. Penelitian ini bertujuan mendapatkan model penduga volume terbaik dan menduga potensi tegakan nyawai di PT. ITCI Kartika Utama Kalimantan Timur. Penyusunan model penduga volume menggunakan model linear dan non linear dengan peubah tunggal diameter, dua pubah (diameter dan tinggi), dan kombinasi diameter dengan tinggi. Model terbaik ditentukan menggunakan parameter statistik antara lain: standar error, signifikasi parameter dugaan, koefisien determinasi terkoreksi (R2adj), Root Mean Square Errors, Akaike Information Criteria (AIC), simpangan relatif dan agregatif, dan bias. Model terbaik penduga volume menggunakan diamater dan tinggi sebagai peubah bebasnya dengan persamaan: Ln Volume = –9,22846 + 1,7456Ln (Diameter) + 0,9759Ln (tinggi). Penambahan tinggi dalam penyusunan model penduga volume meningkatkan akurasi dan ketepatan dugaan dibandingkan model dengan peubah tunggal. Namun demikian, berdasarkan pertimbangan kepraktisan di lapangan, persamaan dengan variabel diameter yaitu: V = 0,00073 D2,0051  dapat digunakan. Model tersebut hanya digunakan dan hanya berlaku pada kondisi iklim dan tempat tumbuh yang sama. Potensi volume pohon berkisar antara 21,66 m3/ha–113,56 m3/ha untuk umur 4–7 tahun. Model penduga volume yang telah disusun dapat diterapkan pada tegakan dengan karakteristik tempat tumbuh hampir sama.
PENGARUH UKURAN BENIH TERHADAP PERKECAMBAHAN DAN PERTUMBUHAN BIBIT MINDI (Melia azedarach L.) Eliya Suita; Megawati Megawati
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 6, No 1 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (912.516 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2009.6.1.1-8

Abstract

Pengadaan benih untuk meningkatkan keberhasilan penanaman memerlukan benih dalam jumlah dan mutu yang baik. Permasalahan yang terkadang muncul dalam rangka pengadaan benih adalah menentukan cara seleksi benih yang memiliki mutu fisiologis yang tinggi, salah satunya berhubungan dengan ukuran benih. Benih mindi (Melia azedarach)mempunyai ukuran bervariasi. Penelitian seleksi benih mindi dilakukan karena adanya dugaan bahwa benih berukuran besar memberikan keuntungan dilihat dari mutu fisiologis kerena persediaan cadangan makanan yang lebih mencukupi untuk perkecambahan. Terkait dengan hal tersebut telah dilakukan penelitian dengan tujuan mengetahui pengaruh seleksi benih berdasarkan ukuran dan berat terhadap perkecambahan dan pertumbuhan bibit mindi. Rancangan percobaan untuk analisa data didekati dengan rancangan acak lengkap, dimana faktor ukuran benih meliputi : a0 = kontrol (benih campuran), a1 = ukuran benih kecil ( panjang < 11 mm dan diameter < 6,5 mm), a2 = ukuran benih sedang ( panjang 11- 14mm dan diameter 6,5-8,5 mm), a3 = ukuran benih besar ( panjang >14 mm dan diameter >8,5 mm). Parameter yang diamati adalah daya berkecambah, kecepatan berkecambah dan indeks mutu bibit. Hasil penelitian menunjukkan daya berkecambah benih tanpa perlakuan (kontrol) mempunyai daya berkecambah sebesar 70,33 % dan benih besar (73.00 %) lebih baik dan berbeda nyata dibandingkan dengan ukuran sedang (55,00%) dan kecil (32,67%), dengan demikian semakin besar ukuran benih maka semakin tinggi daya berkecambahnya. Kecepatan berkecambah tanpa perlakuan (kontrol) mempunyai kecepatan berkecambah sebesar 0,4023%  KN /et mal, ukuran besar (0,4147 % KN /et mal) dan sedang (0,3063 % KN /et mal) memiliki nilai yang hampir sama dan tidak berbeda nyata. Ukuran benih sedang memiliki pertunbuhan tinggi bibit terbesar (13,98 cm) dan berbeda nyata dengan lainnya, tetapi untuk pertumbuhan diameter, ukuran benih sedang dan besar memiliki nilai yang sama (1,84 mm) dan berbeda nyata dengan ukuran benih lainnya. Dari penelitian ini disarankan seleksi benih untuk mindi sebaiknya didasarkan pada ukuran benih sedang dan besar, dengan tetap memperhatikan benih hampa dan terkena serangan hama dan penyakit.
PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK PENYUSUNAN PETA KESESUAIAN JENIS KEMENYAN (Styrax spp.) DI SUMATERA UTARA Ahmad Dany Sunandar
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 9, No 2 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.345 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2012.9.2.63-73

Abstract

Kemenyan (Styrax spp.) adalah komoditas andalan Sumatera Utara yang mempunyai nilai ekonomis. Selama ini, kemenyan hanya dihasilkan dari daerah-daerah yang secara tradisional memang telah dikenal sebagai penghasil kemenyan. Sesungguhnya masih banyak daerah lain yang potensial untuk dikembangkan sebagai penghasil kemenyan, dengan demikian agar pengembangan jenis ini lebih terarah maka perlu disusun peta kesesuaian lahannya. Peta tersebut akan memberikan petunjuk daerah-daerah yang cocok untuk ditanami kemenyan. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor ketinggian merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam penyusunan peta kesesuaian lahan untuk jenis kemenyan. Berdasarkan hasil validasi, luas daerah yang mempunyai tingkat kesesuaian tinggi untuk pengembangan kemenyan seluas 2.191.931 hektar atau 30,37% dari total luas wilayah Propinsi Sumatera Utara. Model spasial yang digunakan mempunyai akurasi 85,27% sehingga dapat disimpulkan sebagai model yang valid.
DINAMIKA SERANGAN ULAT Heortia vitessoides Moore (Lepidoptera: Crambidae) PADA TANAMAN GAHARU DI HUTAN PENELITIAN CARITA, PROPINSI BANTEN Kuntadi Kuntadi; Ragil SB Irianto; Lincah Andadari
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 13, No 2 (2016): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2680.318 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2016.13.2.83-93

Abstract

ABSTRACTHeortia vitessoides Moore is the most serious pest on agarwood trees for causing defoliation. A three years survey was conducted at Carita Forest Research Station, Banten Province, to describe the pattern and dynamic of pest infestation. Monthly monitoring were done at 3 permanent plots, each representing planting block of agarwood with different ecological and stand conditions. Each plot contained six subplots and each subplot consisted of 15 agarwood trees. The presence of pests, the level of infestation, and the attacking frequency were recorded. The results showed that pests occurred throughout the year with attack patterns fluctuated. The highest infestation occurred during dry season. The pest was mostly found as one colony of gregarious caterpillars in various instar. Most of the agarwood trees had recurrent attacks with a frequency of 2-3 times per year. The intensity of attack tend to be higher in the seedling of agarwood trees grown in open areas with lower density of shrubs and vegetation.Key words: Agarwood trees, dynamics, frequency, intensity, pestABSTRAK Heortia vitessoides Moore adalah jenis rama-rama dari famili Crambidae. Larva serangga ini merupakan hama paling serius pada tanaman gaharu karena menyebabkan penggundulan daun. Penelitian ini bertujuan mengetahui pola dan dinamika serangan ulat H. vitessoides pada tanaman gaharu. Penelitian dilakukan selama 3 tahun di Hutan Penelitian Carita, Propinsi Banten, dengan melakukan monitoring berkala di 3 plot pengamatan permanen yang masing-masing mewakili blok penanaman gaharu dengan kondisi ekologis dan ukuran tegakan berbeda. Pada setiap plot penelitian terdapat 6 sub plot dan setiap sub plot terdiri dari 15 tanaman gaharu yang rutin diamati. Data yang dikumpulkan, yaitu keberadaan hama (meliputi stadia dan populasi hama), tingkat serangan dan frekuensi serangan hama yang dicatat setiap bulan. Hasil penelitian menunjukkan serangan hama terjadi sepanjang tahun dengan pola serangan berfluktuasi. Serangan tertinggi terjadi pada musim kemarau. Pada setiap pohon yang terserang rata- rata hanya ditemukan satu koloni ulat gaharu dalam berbagai instar. Sebagian besar tanaman gaharu mengalami serangan berulang dengan frekuensi 2-3 kali per tahun. Intensitas serangan cenderung lebih tinggi pada tingkat seedling dan pada pertanaman gaharu di lokasi terbuka dengan tingkat kerapatan vegetasi dan tumbuhan bawah yang semakin rendah.Kata kunci: Dinamika, frekuensi, hama, intensitas, tanaman gaharu,
KAJIAN PERTUMBUHAN TEGAKAN HYBRID Eucalyptus urograndis DI SUMATERA UTARA Growth of Eucalyptus urograndis Hybrid in North Sumatera Nina Mindawati; Andry Indrawan; Irdika Mansur; Omo Rusdiana
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 7, No 1 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.021 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2010.7.1.39-50

Abstract

Pertumbuhan tegakan adalah pertambahan (riap) dari suatu besaran seperti tinggi, diameter, volume atau luas bidang dasar pohon dalam periode tertentu. Model pertumbuhan digunakan untuk menduga besaran produktivitas dan sangat berguna dalam perencanaan pengelolaan hutan tanaman suatu jenis pohon. Kajian model pertumbuhan jenis Eucalyptus urograndis telah di lakukan tahun 2009 di PT Toba Pulp Lestari, sektor Aek Nauli, Sumatera Utara pada rotasi 1 dan rotasi 2 dengan tujuan untuk membandingkan pertumbuhan jenis tersebut antara rotasi 1 dan rotasi 2, dan menentukan daur volume optimalnya. Kajian dilakukan dengan menggunakan data dari PSP (Permanent Sample Plots) yang diukur secara periodik dan data hasil pengukuran sesaat pada TSP (Temporary Sample Plots) dari berbagai umur tegakan. Hasil kajian mendapatkan bahwa pendugaan pertumbuhan jenis E. urograndis dapat mengikuti persamaan tinggi (H), diameter (D) dan volume (V) sebagai berikut : ln H = 3,40434 - 1,73745 (1/umur); ln D = 2,99598 - 1,56925 (1/umur); ln V = 6,300505 - 5,63547 (1/umur) dengan daur volume optimal dicapai pada tahun 5,5 tahun untuk rotasi 1 dan persamaan : ln H = 3,342944 - 1,5336 (1/umur); ln D = 2,987992 - 1,44311 (1/umur) dan ln V = 6,205122 - 5,06804 (1/umur) dengan daur volume optimal dicapai pada tahun ke 5 untuk rotasi 2. Model pertumbuhan dan teknik yang sama dapat digunakan untuk jenis E. urograndis pada kondisi lingkungan yang relatif sama.
POLA PEMANFAATAN DAN PEMASARAN NIBUNG DI SEKITAR KAWASAN TAMAN NASIONAL SEMBILANG PROVINSI SUMATERA SELATAN Ari Nurlia; Hengki Siahaan; A.H. Lukman
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 10, No 4 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2013.10.4.241-251

Abstract

Nibung (Oncosperma tigillarium (Jack) Ridl) adalah sejenis Palmae yang tumbuh berkelompok dan berumpun pada ekosistem rawa pasang surut. Di Sumatera Selatan sebaran nibung terdapat di sekitar Taman Nasional Sembilang, yaitu di hilir Sungai Sembilang, Sungai Benawang dan Pulau Alang Gantang. Nibung merupakan komoditi utama bagi masyarakat yang tinggal di daerah pasang surut. Pemanfaatan nibung oleh masyarakat tidak disertai dengan kegiatan pembudidayaan membuat keberadaan nibung di alam semakin berkurang setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan status pemanfaatan dan pemasaran nibung di masyarakat. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survei dan dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa nibung dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan rumah, jembatan dan sarana penangkapan ikan seperti kilung, bagan dan toguk dengan kebutuhan mencapai 16.325 batang/tahun. Nibung dipasarkan berdasarkan pada panjang batangnya yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok satu dengan panjang ≤ 12 meter, kelompok dua dengan panjang antara 12-15 meter dan kelompok tiga dengan panjang > 15 meter. Pemasaran nibung sangatsederhana dimana hanya terdapat dua pelaku pemasaran yaitu kelompok pemanfaat utama dan penibung.
ANALISIS DAYA DUKUNG LAHAN DI KAWASAN PUNCAK KABUPATEN BOGOR Yunita Lisnawati; Ari Wibowo
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 6, No 1 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.816 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2009.6.1.45-54

Abstract

Kawasan Puncak di Kabupaten Bogor telah ditetapkan sebagai kawasan andalan, kawasan konservasi tanah dan air, daerah wisata dan penyangga ibu kota Jakarta. Akan tetapi kawasan ini telah mengalami banyak perubahan penggunaan lahan yang mempersempit lahan pertanian dan dapat menurunkan daya dukung lahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besarnya daya dukung lahan di kawasan Puncak Kabupaten Bogor pada tahun 2005. Daya dukung lahan adalah jumlah penduduk yang dapat didukung atau disokong oleh suatu luas sumberdaya lahan pada lingkungan tertentu dalam keadaan makmur, sesuai dengan teknologi dan pengelolaan usahatani yang dilakukan petani. Analisis dilakukan dengan menggunakan rumus Bayliss-Smith yang diwakili oleh 3 desa contoh yaitu desa Gadog, Batulayang dan Sukakarya. Hasil perhitungan daya dukung menunjukkan daya dukung lahan di desa Sukakarya 84,48 jiwa/ha, desa Batulayang 40,90 jiwa/ha dan desa Gadog sebesar 35,65 jiwa/ha. Dengan angka kepadatan penduduk yang sesungguhnya yaitu desa Sukakarya 14,71 jiwa/ha, Batulayang 26,61 jiwa/ha dan Gadog 36,05 jiwa/ha, maka diketahui bahwa desa Gadog sudah melampaui daya dukung lahannya.
PENYAKIT BERCAK DAUN PADA SEMAI NYATOH (Palaquium sp.) DI PERSEMAIAN BALAI PENELITIAN KEHUTANAN CIAMIS Illa Anggraeni; Benyamin Dendang
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 6, No 2 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4302.774 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2009.6.2.99-108

Abstract

Bibit nyatoh (Palaquium sp.) di persemaian Desa Pamalayan, Ciamis terserang penyakit bercak daun. Ciri dan gejala penyakit bercak daun pada umumnya sama pada setiap tanaman yaitu terbentuknya daerah yang mati pada daun (nekrosis). Bercak berwarna coklat dengan tepi agak kekuning-kuningan dan kemudian berubah menjadi merah kehitam-hitaman. Letak bercak pada permukaan daun dimulai dari tepi menuju ke bagian tengah daun. Apabila daun yang terserang disentuh, maka daun tersebut gugur, apabila dibiarkan lama kelamaan daun menjadi kering dan rontok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis patogen penyebab penyakit, informasi yang diperoleh merupakan proses awal untuk mengambil tindakan pengendalian penyakit. Dari hasil uji "Postulat Koch" dan identifikasi, ternyata penyebab penyakit bercak daun bibit nyatoh adalah fungi Colletotrichum sp. Persentase rata-rata kejadian penyakit bercak daun pada bibit nyatoh pada plot pengarnatan I sebesar 96%, plot I I sebesar 96% dan plot III mencapai 100%. Sedangkan rata-rata intensitas serangan penyakit pada plot pengamatan I sebesar 24,60%, plot II sebesar 28,87% dan plot III sebesar 31,45%.
APLIKASI CITRA ALOS PALSAR UNTUK PENDUGAAN SIMPANAN KARBON DI HUTAN TANAMAN AKASIA Muhammad Abdul Qirom; Muhammad Buce Saleh; Budi Kuncahyo
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 9, No 3 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.274 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2012.9.3.121-134

Abstract

Pendugaan persediaan karbon secara langsung mempunyai keterbatasan terkait dengan kecepatan memperoleh hasil, cakupan luasan yang terbatas dan biaya yang mahal. Penginderaan jarak jauh dapat dimanfaatkan untuk menduga persediaan karbon dengan akurasi yang cukup memadai. Tujuan penelitian ini yakni: 1) mendapatkan potensi simpanan karbon jenis A. mangium, 2) mendapatkan model penduga simpanan karbon berdasarkan citra Radar (nilai backscatter citra Alos Palsar), 3) mendapatkan peta sebaran potensi simpanan karbon jenis A. mangium di PT. Inhutani II, Kalimantan Selatan. Metode yang digunakan dengan melakukan inventarisasi persediaan karbon secara langsung yakni pembuatan plot pengukuran sebanyak 69 plot dengan luas masing-masing plot seluas 0,1 Ha tersebar pada beberapa umur. Hasil inventarisasi tersebut digunakan untuk membentuk hubungan dengan nilai polarisasi dari citra Alos Palsar. Hasil penelitian menunjukkan potensi simpanan karbon permukaan sebesar 32,03 - 46,10 ton/ha dengan rata-rata 39,06 ton/ha. Potensi simpanan karbon total per Ha berkisar antara 35,48 -51,01 ton/ha dengan rata-rata 43,24 ton/ha. Model alometrik terbaik hubungan antara simpanan karbon dan nilai polarisasi HH dan HV dari citra Alos Palsar adalah Simpanan karbon = 292 + 2,00 HH2 + 27,1 HV dengan koefisien determinasi sebesar 40,9%. Potensi sebaran simpanan karbon total terbesar berdasarkan aplikasi citra Alos Palsar yakni berkisar antara 40 - 80 ton/Ha. Penggunaan Alos Palsar untuk menduga simpanan karbon menghasilkan dugaan yang cukup akurat sehingga teknologi ini dapat digunakan untuk mengukur atau monitoring persediaan karbon pada tegakan hutan tanaman.
PEMILIHAN JENIS HIBRID MURBEI UNTUK DIKEMBANGKAN DI DATARAN TINGGI Sugeng Pudjiono; Lincah Andadari; Darwo Darwo
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 13, No 2 (2016): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1765.806 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2016.13.2.133-138

Abstract

ABSTRACTThe quality and quantity of feed silkworm affect the yield and quality of cocoon. Crossing among mulberry species was conducted in order to obtain new hybrids with higher productivity. This study aimed to select mulberry hybrid for highland cultivation purpose. Survival rate, length of branches, number of branches, and weight of wet leaves were measured to determine the productivity of five mulberry hybrids. Mulberry hybrids Morus cathayana x M. amakusaguwa IV.10 and M. cathayana x M. amakusaguwa IV.12 are selected hybrids for highland cultivation.Both hybrids produced leaves production increment by 158% and 145% compared to M. cathayana as control.Keywords: Highland, hybrid, mulberry and productivity.,ABSTRAKKualitas dan kuantitas pakan ulat sutera mempengaruhi produksi dan kualitas kokon. Persilangan antar spesies murbei telah menghasilkan hibrid baru dengan harapan mempunyai produktivitas yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hibrid murbei yang optimal untuk dikembangkan di dataran tinggi. Lima hibrid baru diuji produktivitasnya berdasarkan nilai persentase tumbuh, panjang cabang, jumlah cabang serta bobot daun basah per tanaman. Hasil penelitian menunjukkan murbei hibrid Morus cathayana x M. amakusaguwa IV.10 dan M. cathayana x M. amakusaguwa IV.12 paling optimal untuk dikembangkan di daerah tinggi. Kedua hibrid tersebut menghasilkan peningkatan produksi daun sebesar 158% dan 145% dibandingkan M. cathayana sebagai kontrol.Kata kunci: Dataran tinggi, hybrid, murbei dan produtivitas

Filter by Year

2004 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2023): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 17, No 2 (2020): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 17, No 1 (2020): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 16, No 2 (2019): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 16, No 1 (2019): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 15, No 2 (2018): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 15, No 1 (2018): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 14, No 2 (2017): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 14, No 1 (2017): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 13, No 2 (2016): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 13, No 1 (2016): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 3 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 12, No 2 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 2 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 1 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 11, No 3 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 11, No 2 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 11, No 1 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 1, No 1 (2014): JPHT Vol 10, No 4 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 4 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 3 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 2 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 2 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 1 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 1 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 4 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 4 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 3 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 3 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 2 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 2 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 1 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 1 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 5 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 5 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 4 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 4 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 3 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 3 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 2 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 2 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 1 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 1 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 5 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 4 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 3 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 2 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 1 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 5 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 4 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 3 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 2 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 1 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 5, No 3 (2008): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 5, No 2 (2008): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 5, No 1 (2008): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 4, No 2 (2007): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 4, No 1 (2007): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 3, No 3 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 3, No 2 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 3, No 1 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 2, No 3 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 2, No 2 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 2, No 1 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 1, No 1 (2004): JPHT More Issue