cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. purworejo,
Jawa tengah
INDONESIA
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa
ISSN : 23030631     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ADITYA adalah jurnal yang diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa FKIP Universitas Muhammadiyah Purworejo sebagai media publikasi hasil karya ilmiah. Terbit dua kali setahun tiap bulan November dan Mei. Redaksi menerima artikel dari kalangan mahasiswa, budayawan, ahli sastra maupun praktisi pendidikan.
Arjuna Subject : -
Articles 523 Documents
PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DENGAN METODE EVERYONE IS TEACHER HERE UNTUK MEMAHAMI DAN MENDENGARKAN BERITA PADA SISWA KELAS VII SMP TAMAN DEWASA KEBUMEN TAHUN PELAJARAN 2013/2014 Rani Nurinawati
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 4, No 5 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.382 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) pembelajaran keterampilan memahami dan mendengarkan berita pada siswa kelas VII E SMP Taman Dewasa Kebumen tahun ajaran 2013/ 2014, (2) respon siswa terhadap keterampilan memahami dan mendengarkan berita siswa kelas VII SMP Taman Dewasa tahun ajaran 2013/ 2014 setelah memperoleh pembelajaran dengan menggunakan metode Everything is Teacher Here, dan (3) peningkatan hasil belajar dan keterampilan berbahasa Jawa siswa kelas VII SMP Taman Dewasa Kebumen tahun ajaran 2013/2014 dalam pembelajaran Bahasa Jawa. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Pengumpulan data dalam penelitian ini digunakanteknik tes dan nontes. Instrumen penelitian ini berupa soal tes essay, pedoman observasi, dan angket. Sumber data penelitian ini berupa hasil observasi siswa kelas VII SMP Taman Dewasa tahun ajaran 2013/2014 yang berjumlah 41 siswa. Metode analisis data yang digunakan adalah teknik kualitatif dan kuantitatif. Teknik penyajian hasil analisis data yang digunakan adalah metode penyajian informal. Dari hasil penelitian tindakan kelas ini diperoleh simpulan bahwa: (1) Pembelajaran memahami dan mendengarkan berita dengan menggunakan metode everyone is teacher here pada siswa kelas VII SMP Taman Dewasa Kebumen dilakukan dalam tiga tahap yaitu prasiklus, siklus I, dan siklus II. Proses pada siklus I dan siklus II pembelajaran memahami dan mendengarkan berita dengan menggunakan metode everyone is teacher here menembuh beberapa tahapan, yakni: (i) tahap pendahuluan, (ii) tahap inti, dan (iii) tahap penutup, (2) respon siswa terhadap keterampilan memahami dan mendengarkan berita siswa kelas VII SMP Taman Dewasa tahun ajaran 2013/2014 setelah memperoleh pembelajaran dengan menggunakan metode Everyone is Teacher Here sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari aktivitas siswa, pada kondisi awal hanya 26,5% lalu siklus I menjadi 43,2% dan siklus II meningkat menjadi 62,4%, dan (3) peningkatan aktivitas siswa juga diikuti dengan peningkatan hasil belajar siswa dari 56,2% dengan ketuntasan sebesar 53,6% pada kondisi awal, hasil belajar siswa meningkat menjadi 61,4% dengan ketuntasan 63,4% pada siklus I dan pada siklus II meningkat menjadi 74,6% dengan ketuntasan 87,8%.   Kata Kunci: Pendekatan Kontekstual, Metode Everyone is Teacher Here
ANALISIS SOSIOLOGI BUDAYA DALAM KESENIAN TRADISIONAL JATHILAN TRI TUNGGAL MUDA BUDAYA DUSUN GEJIWAN DESA KRINJING KECAMATAN KAJORAN KABUPATEN MAGELANG Martina Catur Nugraheni
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 4, No 5 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.796 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan prosesi dan urutan tarian dalam pertunjukan kesenian tradisional Jathilan Tri Tunggal Muda Budaya; (2) mengetahui persepsi masyarakat Dusun Gejiwan Desa Krinjing terhadap kesenian tradisional Jathilan Tri Tunggal Muda Budaya; dan (3) menjelaskan nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam kesenian tradisional Jathilan Tri Tunggal Muda Budaya. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, sehingga menghasilkan data deskriptif. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wujud data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah informasi yang berkaitan dengan kesenian tradisional Jathilan Tri Tunggal Muda Budaya dan berupa foto-foto dan video pertunjukan kesenian tradisional Jathilan yang di dalamnya mencakup persepsi masyarakat, proses pertunjukan, tarian, sesaji, doa-doa, gerak, pakaian, persepsi masyarakat dan perlengkapan lainnya yang digunakan dalam pertunjukan tersebut. Data-data tersebut kemudian dianalisis dengan cara mereduksi, mengklasifikasi, dan mendeskripsikan untuk selanjutnya disimpulkan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kesenian tradisional Jathilan Tri Tunggal Muda Budaya merupakan satu-satunya kesenian tradisional yang masih hidup di Dusun Gejiwan. Prosesi pertunjukan meliputi gladi bersih, kepung tumpeng, membaca doa, tetabuhan, dan obong menyan. Gerakan tarian dalam penelitian ini meliputi empat periode yaitu periode pertama tarian pembuka, periode kedua tarian inti, periode tiga tarian puncak, dan periode empat tarian penyembuhan penari yang kesurupan. Persepsi masyarakat terhadap kesenian Jathilan ada yang menganggap hal itu bagus untuk melestarikan kebudayaan. Selanjutnya ada yang mengatakan bahwa kurang baik karena dianggap musyrik, dan bersikap netral bagi yang kurang paham dan memilih hiburan yang mengikuti trend. Selanjutnya kesenian tradisional Jathilan ini juga mengandung nilai-nilai pendidikan yang meliputi nilai agama, nilai sosial atau kemasyarakatan, dan nilai pendidikan budi pekerti atau kesusilaan. Kata kunci: bentuk, persepsi masyarakat, nilai, kesenian jathilan
KAJIAN FONOLOGI DAN LEKSIKOLOGI BAHASA JAWA DI DESA PESAWAHAN KECAMATAN BINANGUN KABUPATEN CILACAP Lia Indarwati
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 4, No 5 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (a) bentuk fonologi bahasa Jawa di Desa Pesawahan, Kecamatan Binangun, Kabupaten Cilacap; (b) bentuk leksikologi pemakaian bahasa Jawa di Desa Pesawahan, Kecamatan Binangun, Kabupaten Cilacap. Teknik pengumpulan data dilakukan menggunakan metode cakap dengan cara pencatatan langsung dan rekaman. Objek dalam penelitian ini adalah unsur fonologi dan unsur leksikologi dialek bahasa Jawa yang terdapat di Desa Pesawahan, Kecamatan Binangun, Kabupaten Cilacap. Subjek penelitian ini adalah tuturan masyarakat Desa Pesawahan, Kecamatan Binangun, Kabupaten Cilacap. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakankan metode agih dan metode padan, sedangkan teknik penyajian data disajikan secara deskriptif dengan metode formal.  Hasil penelitian ini adalah : (1) Dilihat dari sudut pandang bidang fonologi, bahasa Jawa di Desa Pesawahan memiliki 7 fonem vokal dan 20 fonem konsonan. Masing-masing fonem vokal tersebut yaitu: /a/, /ↄ/, /i/, /u/,/e/, /ǝ/, dan /o/, sedangkan fonem konsonannya yaitu: /b/, /c/, /d/, /ḍ/, /g/, /h/, /j/, /k/, /l/, /m/, /n/, /ŋ/, /p/, /r/, /s/, /t/, /ṭ/, /w/ dan /y/.  Perbedaan bahasa Jawa di Desa Pesawahan dengan bahasa Jawa baku adalah pada pemakaian bahasa Jawa ngoko yang lebih cenderung melafalkan fonem /a/ dilafalkan tetap dalam fonem /a/ baik posisi awal kata maupun akhir kata, namun untuk pemakaian bahasa Jawa krama, fonem /a/ dilafalkan menjadi fonem /ↄ/ pada posisi tengah kata dan akhir kata; (2) Berdasarkan analisis leksikologi bahasa Jawa di Desa Pesawahan Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap, terdapat persamaan dan perbedaan dengan bahasa standar. Pemakaian leksikon khas yang masih digunakan di desa Pesawahan seperti kata [kampil] ‘bantal’, [genↄh] ‘kamar’, [beḍog] ‘golok’, [gəlis] ‘cepat’, [mbəsil] ‘nakal’, [guris] ‘becanda’. Persamaan leksikon bahasa di desa Pesawahan dengan bahasa Jawa standar juga terdapat pada kata : [siji] ‘satu’, [wingi] ‘kemarin’, [səkilan] ‘satu jengkal’, [untu] ‘gigi’. Dalam percakapan sehari-hari, masyarakat Desa Pesawahan menggunakan bahasa Jawa ngoko, tetapi pada keadaan dan waktu tertentu (biasanya dalam situasi yang resmi) menggunakan bahasa Jawa krama.   Kata kunci: fonologi, leksikologi, dialek, desa Pesawahan
PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS HURUF JAWA DENGAN MEDIA TEKA-TEKI SILANG PADA SISWA KELAS XI TKR 4 SMK N 2 KEBUMENTAHUN AJARAN 2013/2014 Eprilia Cahyaningtyas
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 4, No 5 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.449 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) Proses langkah-langkah pembelajaran menulis huruf Jawa dengan media teka-teki silang pada siswa kelas XI TKR 4 SMK N 2 Kebumen; (2) mendeskripsikan peningkatan prestasi menulis huruf Jawa  setelah mendapatkan pembelajaran menulis huruf Jawa dengan media teka-teki silang pada siswa kelas XI TKR 4 SMK N 2 Kebumen. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMK N 2 Kebumen pada bulan Agustus sampai September 2013. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI TKR 4 sejumlah 32 siswa, laki-laki 29 dan perempuan 3. Objek penelitian adalah keterampilan siswa dalam menulis huruf Jawa dengan media teka-teki silang. Penelitian ini terdiri dari dua kali kegiatan, yaitu kegiatan siklus I, dan siklus II. Masing-masing siklus mengacu pada prosedur penelitian yaitu rencana (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan releksi (reflection). Pengumpulan data dilakukan dengan teknik tes dan nontes. Teknik tes yang digunakan yaitu hasil menulis huruf Jawa siswa, nontes terdiri dari hasil observasi, jurnal, wawancara, dan dokumentasi foto. Teknik analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan media teka-teki silang mampu meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis huruf Jawa. Penerapan pembelajaran menulis dengan media teka-teki silang meliputi: prasiklus, yaitu hasil menulis huruf Jawa  siswa untuk mengetahui kemampuan awal siswa; siklus I, berisi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi; siklus II merupakan kelanjutan dan perbaikan dari siklus I. Langkah-langkah pembelajaran media teka-teki silang yaitu: kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna; melaksanakan kegiatan inkuiri; mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan membaca; menciptakan masyarakat belajar; menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran; refleksi diakhir pertemuan. Dari hasil tes prasiklus terlihat persentase ketuntasan sebesar 21,87% meningkat menjadi 50% pada siklus I dengan peningkatan sebesar 28,13%. Setelah dilakukan dengan siklus II persentase ketuntasan mencapai 93,75% dengan peningkatan sebesar 43,75% hasil prasiklus, dan sebesar 15,62% dari siklus I. Berdasarkan hasil nontes yang meliputi observasi, jurnal , wawancara dan dokumentasi foto, hasilnya juga sangat baik. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan media  teka-teki silang mampu meningkatkan keterampilan menulis huruf Jawa pada siswa kelas XI TKR 4 SMK N 2 Kebumen.   Kata kunci: Huruf Jawa, Teka-teki Silang
Onomatope dalam Novel Emas Sumawur Ing Baluwarti Karya Partini B. Isna Siti Mulyani
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 5, No 1 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.95 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan jenis-jenis onomatope dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B, (2) mendeskripsikan bentuk onomatope dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B dan (3) mendeskripsikan fungsi onomatope dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari novel  Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. Data yang ada dalam penelitian ini berupa satuan gramatikal yang berwujud kata atau kalimat yang mengandung onomatope pada novel  Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan teknik pustaka, teknik observasi dan teknik simak catat. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis. Dalam penyajian data menggunakan teknik formal dan informal.Hasil penelitian pemerolehan data dan pembahasan yaitu (1) Dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. terdapat empat jenis onomatope yang digunakan dalam novel tersebut. Jenis-jenis onomatope yang terdapat dalam novel ialah a) tiruan bunyi benda, b) tiran bunyi hewan, c) tiruan bunyi alam, dan d) tiruan bunyi manusia. Dari semua jenis onomatope ini, memiliki bentuk frasa, yaitu frasa yang terbentuk dari kata mak dan pating dengan kata-kata yang lain sehingga bernilai onomatope, misalnya mak byar, pating pleyot, dan sebagainya, (2)Bentuk dasar onomatope yang digunakan dalam novel ialah bentuk satu silabel, bentuk dua silabel, bentuk tiga silabel tidak ditemukan dalam novel,namun terdapat bentuk multisilabel, dan bentuk frasa. Dari bentuk dasar tersebut ada yang mengalami pengulangan sehingga bentuk onomatopenya menjadi pengulangan satu silabel, pengulangan dua silabel, dan pengulangan tiga silabel. Onomatope berbentuk frasa dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti, terbentuk dari frasa, yang terbentuk dari kata mak dan pating. (3) Fungsi onomatope yang terdapat dalam novel, terbagi menjadi empat fungsi, yaitu sebagai berikut. (a) Penggambaran suasana hati, yaitu: cinta, terkejut, manja, malu, bahagia, dan berani.(b) Memberikan kesan pada benda yang dilihat, didengar atau dirasakan, (c) Mendeskripsikan tentang keadaan, (d) Meniru perbuatan atau benda yang menghasilkan bunyi.   Kata kunci : onomatope, Emas Sumawur ing Baluwarti
Analisis Semiotik dalam Suluk Pakeliran Lakon Retno Sentiko Oleh Ki Seno Nugroho Eka Homsatun
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 5, No 1 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.405 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan pembacaan heuristik dalam syair Suluk Pakeliran lakon Retno Sentiko oleh Ki Seno Nugroho . 2) mendeskripsikan pembacaan hermeneutik dalam syair–syair tentang Suluk Pakeliran lakon Retno Sentiko oleh Ki Seno Nugroho.Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu bersifat deskriptif kualitatif.Sumber data dalam penelitian ini adalah VCD syair Suluk Pakeliran lakon Retno Sentiko oleh Ki Seno Nugroho.Data dalam penelitian ini adalah satuan bahasa teks syair suluk pakeliran oleh Ki Seno Nugroho.Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik baca dan teknik catat.Instrumen penelitian yang dipakai adalah peneliti sebagai sumber instrumen dibantu dengan kartu pencatat data.Teknik analisis data digunakan teknik deskriptif kualitatif model analisis konten.Penyusunan data menggunakan teknik induktif yaitu menarik kesimpulan setelah data disajikan. Hasil penelitian dalamcakepan Suluk Pakeliran lakon Retno Sentiko oleh Ki Seno Nugroho ditemukan banyak penyimpangan frasa (kata) dan kalimat (sintaksis) yang disebabkan oleh penggunaan konvensi guru lagu, guru gatra dan guru wilangan, sehingga pembacaan heuristik dianggap sangat membantu pembaca dalam memaknai teks tembang tersebut. Namun hasil pembacaan heuristik yang dilakukan dengan pengembangan frasa dan kalimat belum dapat memaknai teks secara lengkap, karena dalam teks terdapat makna yang lebih luas yang disebabkan konvensi bahasa kiasan sarana retorika dan gaya bahasa pada umumnya, sehingga diperlukan analisis pembacaan hermeneutik. Makna yang didapatkan dari isi syair Suluk Pakeliran lakon Retno Sentiko oleh Ki Seno Nugroho adalahtentang kewaspadaan, nasehat, kesedihan, kemarahan, kebahagiaan, dan kepatuhan prajurit kepada raja.     Kata Kunci: Semiotik,Suluk Pakeliran
Analisis Deiksis dalam Komik Angkara Tan Nendra Karya Resi Wiji S. dalam Majalah Panjebar Semangat Anis Cahyani
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 5, No 1 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.002 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) jenis dan bentuk deiksis dalam komik Angkara Tan Nendra karya Resi Wiji S. dan (2) pengacuan deiksis dalam komik Angkara Tan Nendra karya Resi Wiji S. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Subjek penelitian ini adalah komik Angkara Tan Nendra karya Resi Wiji S. Selanjutnya, objek penelitian ini adalah satuan gramatikal berupa kata, frasa, klausa maupun kalimat yang mengandung jenis, bentuk, dan pengacuan deiksis dalam komik Angkara Tan Nendra karya Resi Wiji S. Data dikumpulkan menggunakan teknik dasar dengan metode simak dan teknik lanjutan berupa teknik catat. Kemudian, data dianalisis menggunakan metode content analysis atau analisis isi. Adapun pemaparan hasil analisis menggunakan metode informal. Metode informal tersebut digunakan untuk memaparkan jenis, bentuk, dan pengacuan deiksis dalam komik Angkara Tan Nendra karya Resi Wiji S. Hasil penelitian ini adalah ditemukannya (1) tiga jenis deiksis dengan berbagai bentuk deiksisnya dalam komik Angkara Tan Nendra karya Resi Wiji S. dan (2) dua jenis pengacuan dalam komik Angkara Tan Nendra karya Resi Wiji S., yaitu a) pengacuan endofora, yang mencakup pengacuan anafora dan pengacuan katafora; dan b) pengacuan eksofora. Tiga jenis deiksis dalam komik Angkara Tan Nendra karya Resi Wiji S. tersebut meliputi (a) deiksis persona, (b) deiksis ruang, dan (c) deiksis waktu. Bentuk deiksis persona dalam komik Angkara Tan Nendra karya Resi Wiji S. meliputi (i) bentuk bebas ‘aku’, ‘kula’, ‘kawula’, ‘awake dhewe’, ‘kita’, ‘sliramu’, ‘kowe’, ‘paduka’, ‘panjenengan sakarone’, ‘kowe sakarone’, ‘dheweke’, ‘panjenengane’; (ii) bentuk terikat ‘dak-‘, ‘tak-‘, ‘-ku’, ‘kok-‘, ‘-mu’, ‘-e’, ‘-ipun’; dan (iii) bentuk ketakziman ‘kakang’, ‘dhimas’, ‘adhi’, ‘kisanak’, ‘ngger’, ‘kulup’. Selanjutnya, bentuk deiksis ruang dalam komik Angkara Tan Nendra karya Resi Wiji S. meliputi bentuk ‘kene’, ‘kono’, ‘kana’, ‘iki’, ‘iku’. Selain itu, bentuk deiksis waktu dalam komik Angkara Tan Nendra karya Resi Wiji S. meliputi bentuk ‘saiki’, ‘seprene’, ‘nalika’, ‘mengko’, ‘banjur’, ‘nuli’, ‘sesuk’, ‘candhake’.   Kata Kunci: Deiksis, komik  
Persepsi Masyarakat terhadap Kirab Budaya dalam Nawu Sendhang Seliran di Mataram Islam Sayangan Jagalan Banguntapan Bantul Etmi Amaneti
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 5, No 1 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.506 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan : (1)Mendeskripsikan sejarah munculnya tradisi Nawu Sendhang Seliran dalam Kirab Budaya Ambengan Ageng; (2) Mendeskripsikan Prosesi dari tradisi Nawu Sendhang seliran dalam Kirab Budaya Ambengan Ageng yang ada di Kota Gede; (3) Untuk mengetahui Persepsi Masyarakat terhadap tradisi Nawu Sendhang Seliran dalam Kirab Budaya Ambengan Ageng. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik wawancara, dokumentasi dan observasi. Teknik wawancara yang digunakan yaitu teknik wawancara mendalam, dimana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama . Analisis data digunakan tiga teknik yaitu (1) reduksi data yaitu merangkum, memilih hal-hal yang pokok; (2) penyajian data, disajikan dalam bentuk sekumpulan informasi yang tersusun dengan baik melalui ringkasan atau rangkuman-rangkuman berdasarkan data-data yang telah diseleksi atau direduksi; (3) verifikasi data, merupakan tinjauan terhadap catatan yang telah dilakukan di lapangan. Teknik keabsahan data yang digunakan adalah triangulasi sumber. Selanjutnya, dalam teknik penyajian hasil analisis data digunakan teknik informal. Hasil penelitian yang diperoleh meliputi (1) bentuk sejarah munculnya tradisi Nawu Sendhang Seliran dan Kirab Budaya Ambengan Ageng dilatarbelakangi oleh adanya petilasan kraton Mataran dan diprakarsani oleh lurah pada masa itu. (2) Prosesi dari tradisi Nawu Sendhang seliran dalam Kirab Budaya Ambengan Ageng, diantaranya pembukaan, pentas seni budaya, kirab pasrah gunungan, kirab Ambengan Ageng dan Nawu Sendhang.(3) persepsi masyarakat terhadap tradisi Nawu Sendhang Seliran dalam Kirab Budaya Ambengan Ageng yang setujub dari respoden golongan wong cilik dan kaum ningrat, masyarakat yang berasal dari kaum priyayi tidak mengatakan setuju dan tidak setuju, hanya saja jika bermanfaat bisa dilaksanakan., dan yang tidak setuju dari golongan santri atau tokoh masyarakat. Kata kunci: tradisi nawu sendhang, kirab budaya
Analisis Kalimat Interogatif pada Novel Garuda Putih Karya Suparto Brata April liyanti
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 5, No 1 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.689 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) jenis kalimat interogatif pada novel Garuda Putih karya Suparto Brata; (2) fungsi kalimat interogatif pada novel Garuda Putih karya Suparto Brata. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data berupa novel Garuda Putih karya Suparto Brata. Data penelitian ini meliputi kutipan-kutipan langsung dan tidak langsung novel Garuda Putih karya Suparto Brata. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik pustaka, teknik observasi, dan teknik catat. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri (human instrument) dibantu dengan kartu data. Teknik keabsahan data menggunakan teknik triangulasi. Analisis data dilakukan dengan metode analisis isi (content analysis). Teknik penyajian hasil analisis ini dilakukan dengan menggunakan teknik informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kalimat interogatif pada novel Garuda Putih karya Suparto Brata terdiri atas; (1) kalimat interogatif keniscayaan; (2) kalimat interogatif alternatif; (3) kalimat interogatif informatif. Fungsi kalimat interogatif pada novel Garuda Putih karya Suparto Brata meliputi (1) metapesan ketidaksetujuan; (2) metapesan keragu-raguan; (3) metapesan keterkejutan; (4) metapesan ketidaksenangan; (5) metapesan ketidapercayaan; (6) metapesan kemarahan; (7) metapesan fatis; (8) metapesan kekhawatiran; (9) metapesan ajakan; (10) metapesan perintah; (11) metapesan membujuk; (12) metapesan penawaran; (13) metapesan meyakinkan; (14) metapesan menuduh; (15) metepesan kesombongan; (16) metapesan keheranan; (17) metapesan sindiran; (18) metapesan mengejek; (19) metapesan kegembiraan; (20) metapesan keyakinan; (21) metapesan ketakutan; (22) metapesan kesedihan, (23) metapesan mengelak atau berkilah; (24) metapesan kekaguman; (25) metapesan pengalihan pembicaraan.   Kata kunci: kalimat interogatif, novel Garuda Putih
Analisis Penggunaan Interjeksi dalam Novel ‘T Spookhuis (Gedhong Setan) Karya Suparto Brata Ika Kartika Angellya
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 5, No 1 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.208 KB)

Abstract

Abstrak : Penelitian ini bertujuan :  (1) mendeskripsikan bentuk interjeksi dalam novel ‘t Spookhuis (Gedhong Setan) (2) mendeskripsikan fungsi interjeksi dalam novel ‘t Spookhuis (Gedhong Setan), yaitu : (a) bentuk primer (ah, lo, wah, oh, wis, uh, o, hiih, huh, wih, ooo, hmm, e, eh, uuh,). (b) bentuk sekunder (gedheng, jamput, gemang, alaa, edan, astagfirullahaladzim, ayo, aja, apa, wadhuh, aduh, embuh, he-eh, iki, ora. Di dalam bentuk sekunder juga terdapat interjeksi yang berbentuk pengulangan kata seperti: ha-ha-ha, aja-aja, lo-lo-lo-lo, hi-hi-hik, uh-uh-uh, embuh-mbuh-mbuh, dan wis-wis-wis. Bentuk interjeksi memiliki fungsi berbeda-beda: (1) mengungkapkan rasa kecewa (ah, gendheng, lo, ora dan alaa), (2) mengungkapkan rasa kekesalan (oh, la, wes, iki, alaa, uh, embuh dan gemang), (3) mengungkapkan rasa kekaguman (wih, dan wah), (4) mengungkapkan rasa kesenangan (o, ah, hihik, dan ha), (5) mengungkapkan rasa kemarahan (he-eh, wis, ah, embuh dan ora), (6) mengungkapkan rasa harapan (ah, eh), (7) mengungkapkan rasa kepuasan (we dan o), (8) mengungkapkan rasa ketakutan (ah, edan, hmm), (9) mengungkapkan rasa ajakan (ayo), (10) mengungkapkan rasa kekagetan (lo, e, ah, ooo, embuh, apa, huh, wadhuh dan astaghfirullohhal’adzim), (11) mengungkapkan rasa keheranan (o, aneh, la, dan wo), (12) mengungkapakan rasa panggilan (heh), (13) mengungkapkan rasa kesakitan (adhuh), (14) mengungkapkan rasa keterkejutan (lo, ah dan hmm).   Kata kunci: interjeksi, novel ‘t Spookhuis