cover
Contact Name
Akhmad Farid
Contact Email
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kelautan : Indonesian Journal of Marine Science and Technology
ISSN : 19079931     EISSN : 24769991     DOI : -
Core Subject :
This journal encompasses original research articles, review articles, and short communications, including: Marine and fisheries ecology and biology, Marine fisheries, Marine technology, biotechnology, Mariculture, Marine processes and dynamics, Marine conservation, Marine pollution, Marine and coastal resource management, Marine and fisheries processing technology, Salt technology, Marine geology, physical and chemical oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 396 Documents
PENGELOLAAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG AKIBAT PEMUTIHAN (BLEACHING) DAN RUSAK Dafiuddin Salim
Jurnal Kelautan Vol 5, No 2: Oktober (2012)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v5i2.870

Abstract

Terumbu karang dan segala kehidupan yang terdapat di dalamnya merupakan salah satu kekayaan alam yang bernilai tinggi. Namun di sisi lain terumbu karang juga merupakan salah satu ekosistem yang sangat terancam karena merupakan sumber keuntungan ekonomi yang besar dari perikanan dan pariwisata. Hingga kini, tekanan yang disebabkan oleh kegiatan manusia seperti pencemaran dari daratan dan praktek perikanan yang merusak telah dianggap sebagai ancaman utama untuk terumbu karang. Sementara ancaman lain yang lebih potensial adalah kenaikan suhu permukaan air laut yang dapat menyebabkan pemutihan karang (coral bleaching). Pemutihan dan kematian karang secara besarbesaran yang pernah terjadi pada tahun 1998. Tulisan ini akan menampilkan beberapa bentuk pengelolaan dengan pemanfaatan sumberdaya yang sustainable untuk menyelamatkan ekositem terumbu karang dari pemutihan dan kerusakan oleh dampak manusia yakni dengan menetapkan daerah terumbu karang sebagai Kawasan Konservasi Laut (KKL); perikanan yang sustainable dan ramah lingkungan; pariwisata yang sesuai dengan daya dukung. Kata kunci:terumbu karang, pemutihan, pengelolaan
VARIASI PRODUK PUPUK MAJEMUK DARI LIMBAH GARAM (BITTERN) DENGAN PENGATUR BASA BERBEDA Rahmad Fajar Sidik
Jurnal Kelautan Vol 6, No 2: Oktober (2013)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v6i2.782

Abstract

Pupuk majemuk dibuat dari limbah produksi garam yang disebut bittern dengan sumber ligan pengendap ammonia dan asam fosfat. Produksi pupuk tersebut dilakukan dengan mencampurkan bittern sebanyak 145 mL ke dalam gelas kimia ukuran 500 mL (reaktor), sambil diaduk ditambahkan asam fosfat dan amonia dengan perbandingan molar stoikiometris (1:1:1). Dengan tetap dilakukan pengadukan, ditambahkan pengatur basa (kalium hidroksida, natrium hidroksida dan kalsium hidroksida) yang sesuai tetes demi tetes untuk mengatur pH reaksi hingga mencapai pH 9. Setelah itu tetap dilakukan pengadukan selama 1 jam penuh untuk memberikan waktu bagi masing-masing campuran bereaksi secara sempurna. Produk pupuk yang dihasilkan langsung dicuci dengan aquades, kemudian dikering udarakan dibawah cahaya matahari. Untuk mengetahui nilai rendemen, pupuk yang telah kering ditimbang kemudian dianalisa dengan menggunakan XRF (X-Ray Fluorosence). Variasi formula struktur pupuk majemuk yang terbentuk secara berturut-turut adalah Mg2(NH4)2(PO4)2·4H2O, KMg(NH4)(PO4)2·4H2O dan NaMg(NH4)(PO4)2· 4H2O.Kata Kunci: bittern, variasi produk, pupuk majemuk
STUDI KARAKTERISTIK GELOMBANG DI KABUPATEN BANGKALAN SEBELUM JEMBATAN SURAMADU Aries Dwi Siswanto
Jurnal Kelautan Vol 5, No 1: April (2012)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v5i1.934

Abstract

Gelombang sebagai salah satu parameter penting dalam mempelajari dinamika perairan laut. Perairan pantai di Kabupaten Bangkalan merupakan kemasan strategis pengembangan kawasan pesisir, ternama pasca Jembatan Suramadu. Meningkatnya pemanfaatan areal pantai berpotensi menimbulkan gangguan terhadap lingkungan.Pemahaman tentang karakteristik gelombang menjadi penting dalam upaya untuk memahami perubahan lingkungan yang terjadi. Teori gelombang amplitude kecil menjadi dasar dalam analisa gelombang yang dikonversikan dari data angin. Analisa gelombang menjadi input utama dalam model untuk refraksi gelombang Angin digunakan untuk mendapatkan properties gelombang, don dilakukan analisa refraksi. Asumsi yang digunakan dalam model refraksi adalah tidak ada perubahan batimetri, sudut kemiringan pantai homogen, dan kisaran sudut datang gelombang yang kecil. Hasil analisa refraksi menunjukkan bahwa gelombang di lokasi penelitian relatif kecil dan tidak signifikan perubahannya.Kata Kunci: gelombang, model refraksi gelombang
PENGARUH KOMBINASI PAKAN BUATAN DAN PAKAN ALAMI CACING SUTERA (Tubifex tubifex) DENGAN PERSENTASE YANG BERBEDA TERHADAP RETENSI PROTEIN, LEMAK DAN ENERGI PADA IKAN SIDAT (Anguilla bicolor) Sri Subekti; Mutia Prawesti; Muhammad Arief
Jurnal Kelautan Vol 4, No 1: April (2011)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v4i1.894

Abstract

Indonesian short fin eel (Anguilla bicolor) was one of Indonesian fishery commodities which have high value not only in local market but also western market. Advantages of Indonesian short fin eel not only their high value because of prospectively in international market, but also the quality of  Indonesian short fin eel itself that contain high vitamin and micronutrient. Weaknesses of Indonesian short fin eel was their growth classified slow. That was can be overcome by giving the exact feed. The purpose of this research was to know the effect of combination between artificial feed and natural feed with different percentage to protein retention, fat retention and energy retention of Indonesian short fin eel (Anguilla bicolor). This research used experimental method and Completely Random Design method with five treatments. Each treatment was replicated four times. The treatment used were : 100% of artificial feed (A), 75% of artificial feed and 25% of natural feed (B), 50% of artificial feed and 50% of natural feed (C), 25% of artificial feed and 75% natural feed (D), and 100% natural feed (E). The main parameters measured were protein, fat, and energy retentions. The supporting parameters observed was growth rate and water quality. Data analysis used analysis of variance (ANOVA) to know the effect of the treatments. The  difference among treatments were known by using Duncan’s Multiple Range Test (DMRT).The result showed that combination between artificial  and natural feeds with difference percentage showed different effect (p0,05) to fat retention of Indonesian short fin eel therefore they didn’t showed different effect to protein and energy retentions of Indonesian short fin eel (p0,05). Water quality of Indonesian short fin eel rearing medium was 28-31oC in temperatures, 7-8,5 in pH, 3,5-5,8 mg/l in dissolved oxygen and 0,003 mg/l in ammonia. Keywords : Anguilla bicolor, artificial feed, Tubifex tubifex, protein retention, fat retention, energy retention.
PENDEKATAN SISTEM DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA DAN PEMANFAATAN RUANG PESISIR DAN LAUTAN Mahfud Effendy
Jurnal Kelautan Vol 2, No 2: Oktober (2009)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v2i2.858

Abstract

Pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan secara terpadu mencakup banyak aspek didalamnya, bersifat kompleks dan dinamis sesuai dengan perubahan waktu. Untuk mengatasi masalah tersebut suatu pendekatan dan cara ilmu sistem dapat dipergunakan, sehingga keputusan yang diambil dalam pegelolaan sumberdaya pesisir dan lautan terpadu lebih baik, tepat waktu dan operasional.Dengan begitu akan dihasilkan pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan secara terpadu yang kuat untuk pencapaian pembangunan sumberdaya dimaksud secara optimal dan berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat. Pendekatan sistem dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan secara terpadu adalah penerapan kaidah sistem dalam pengelolaan (perencanaan, pengorganisasian, pengaktualisasian dan pengontrolan) sumberdaya pesisir dan lautan yang dilakukan secara terpadu dan terintegrasi terhadap keseluruhan proses pengelolaannya dan keseluruhan sumberdaya pesisir dan lautan dimaksud. Pendekatan sistem ini dimaksudkan untuk mencari keterpaduan antar bagian melalui pemahaman yang utuh dengan memperhatikan berbagai kendala yang ada. Kata Kunci : Sumberdaya Pesisir, Pengelolaan, Sistem 
PROTOTYPE PUPUK MULTINUTRIENT BERBASIS PHOSPATE BERBAHAN DASAR LIMBAH GARAM (BITTERN) SEBAGAI ALTERNATIF SOLUSI PENUMBUH PAKAN ALAMI Mirza Nadia; Muhammad Zainuri; Mahfud Efendy
Jurnal Kelautan Vol 8, No 2: Oktober (2015)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v8i2.816

Abstract

Bittern sebagai limbah dari proses produksi garam rakyat bisa bermanfaat untuk mendukung kegiatan budidaya perairan. Hal ini menjadi tujuan dari penelitian ini. Penelitian dilakukan dengan dimulai membuat formulasi pembuatan pupuk selanjutnya diujicobakan di lapangan dengan menggunakan dua petak tambak berukuran 100m2 dengan ikan contoh adalah ikan Bandeng (Chanos chanos). Hasil penelitian menunjukkan, bahwa dengan formulasi Na2HPO4 250 ml + NaOH 250 ml + bittern 250 ml bisa menghasilkan pupuk berbasis phosphat sebanyak 46,4994 gram yang selanjutnya diujicobakan ke tambak. Indikator yang diperoleh dari hasil ujicoba adalah ikan yang dipeliharan di tambak yang dipupuk menhasilkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan dari ikan yang dipelihara pada tambak yang tidak diberi pupuk.Kata Kunci: bittern, pakan alami, phospate, pupuk multinutrientPROTOTYPE BASED PHOSPHATE FERTILIZER MULTINUTRIENT BASED WASTE BASIC SALT (BITTERN) AS AN ALTERNATIVE SOLUTION FEED NATURAL GROWERSABSTRACTBittern as a waste of people's salt production process could be useful to support aquaculture. It is the goal of this research. Research carried out by starting to make fertilizer formulations subsequently tested in the field by using two ponds with fish measuring 100m2 example is fish milkfish (Chanos chanos). The results showed that the formulation Na2HPO4 NaOH 250 ml + 250 ml + 250 ml bittern could produce phosphate -based fertilizers as much as 46.4994 grams were subsequently tested to the pond. Indicators derived from the results of tests are fish in ponds fertilized dipeliharan yielding better growth than the growth of fish reared in ponds that are not fertilized.Keywords: bittern, fertilizers multinutrient, natural food, phosphate
PEMETAAN PASANG SURUT DAN ARUS LAUT PULAU BATAM DAN PENGARUHNYA TERHADAP JALUR TRANSPORTASI ANTARPULAU Sudra Irawan
Jurnal Kelautan Vol 9, No 1: April (2016)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v9i1.1150

Abstract

TIDAL AND CURRENT MAPPING OF BATAM ISLAND AND THEIR EFFECT ON THE INTER-ISLAND TRANSPORTATIONThe strategic geographical position of Batam Island makes sea transportation become a basic means connecting the islands of the Riau Islands, Riau, Kalimantan, even with neighboring Singapore and Malaysia. The development of coastal areas and the determination of the transportation ways needs tidal and ocean currents data. This study measures and analyzes the tidal type usingmeasuring signs and current patterns using Lagrangian method, then presented in the web form. Five research sites were selected by purposive sampling method with a measurement time of 24 hours in one hour intervals. The results showed that the type of tidal in Batam Island in general is semidiurnal tide. Tidal period an average of 12 hours and 24 minutes. Wave height of about 0.2 to 2.77 meters from the south to the northwest. Batam Island ocean current patterns ranging from 0.02 m/s to 0.1 m/s from north towards the northeast. Tidal and current survey is one of the conditions in developing inter-island transportation. The tidal and current is useful in design port building, determining the route of transport, port basin design and planning of the breakwater.Keywords: current patterns, lagrangian, signs measure, tidal, transport route.ABSTRAKPosisi geografis Pulau Batam yang strategis membuat jalur transportasi laut merupakan sarana dasar menghubungkan antarpulau di Kepulauan Riau, Riau, Kalimantan, bahkan dengan negara tetangga Singapura dan Malaysia. Pengembangan wilayah pesisir dan penentuan jalur transportasi membutuhkan data pasang surut dan arus laut. Penelitian ini mengukur dan menganalisis tipe pasang surut dengan rambu ukur dan pola arus dengan metode metode Lagrangian, kemudian disajikan dalam bentuk web. Dipilih lima lokasi penelitian berdasarkan metode Purposive Sampling dengan waktu pengukuran 24 jam dalam interval satu jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe pasang surut pulau Batam secara umum adalah pasang surut harian ganda (semidiurnal tide). Periode pasang surut rata-rata 12 jam 24 menit. Tinggi gelombang sekitar 0,2 sampai 2,77 meter dari arah selatan ke arah barat laut. Pola arus laut pulau Batam berkisar antara 0,02 m/s sampai 0,1 m/s dari arah utara ke arah timur laut. Survei pasang surut dan arus laut merupakan salah satu syarat dalam mengembangkan transportasi antarpulau. Pasang surut dan arus berguna dalam kegiatan perancangan bangunan pelabuhan, penentuan rute transportasi, perancangan kolam pelabuhan, dan perencanaan pemecah gelombang.Kata kunci: jalur transportasi, lagrangian, pasang surut, pola arus, rambu ukur.
PEMANTAUN KONDISI INVERTEBRATA MENGGUNAKAN METODE REEF CHECK, DI PERAIRAN SELAT SEMPU, KABUPATEN MALANG Oktiyas M Luthfi; Alan Saputra P; R.A Mutiara N.F; Aldy Arisyaputra R; Jimmi K. Sinaga; Mauli Bisel R.S; Ninik Ika S; Mayda Ria A; Hari Murti M.P; Alief Girindra L; Rhomantino Rizal S; Mohammad Bagus N; Ahmad Naufal; Mohammad Raditya N
Jurnal Kelautan Vol 10, No 2 (2017)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v10i2.2711

Abstract

Reef Check merupakan sebuah organisasi yang didedikasikan untuk konservasi ekosistem terumbu karang dengan menggunakan metode pemantauan ekosistem terumbu karang dan lingkungan. Teknik yang digunakan sangat sederhana serta datanya dapat dipastikan kuat secara ilmiah. Data yang didapat berupa perhitungan penutupan jenis substrat, ikan, invertebrata, spesies langka dan dampak kerusakan. Invertebrata merupakan hewan bertulang belakang yang memiliki peranan penting dalam ekosistem terumbu karang. Data invertebrata yang diambil di lapang merupakan spesies ekonomis penting yang ada di Perairan Sendang Biru. Lokasi penelitian berada di wilayah Perairan Sendang Biru, Malang Selatan. Dilakukan pengambilan data di 4 stasiun pengamatan yakni, Teluk Semut 1, Teluk Semut 2, Fish Apartment, dan Watu Meja agar dapat dilakukan adanya perbandingan kelimpahan. Metode penelitian dengan menggunakan metode transek sabuk  sejauh 100 m pada 4 stasiun, dilakukan pengamatan dengan pola zig-zag dengan 5 kali pengulangan. Hasil dari monitoring 4 stasiun ini terdapat 2 ekor invertebrata Diadema urchin pada stasiun Teluk Semut 1 dan Teluk Semut 2, 3 ekor invertebrata Pencil urchin pada stasiun 3Fish Apartment, dan 2 ekor Kima dengan besar 10-20 cm pada stasiun Fish Apartment dan Watu Meja. Ketiga spesies invertebrata diatas mewakili semua invertebrata yang ditemukan di lokasi penelitian. Sedikitnya jumlah kelimpahan invertebrata yang ditemukan tersebut sebanding dengan kondisi kesehatan terumbu karang yang kurang baik dan rendahnya jumlah biota pada lokasi tersebut. Kondisi kesehatan karang yang rusak diakibatkan adanya aktivitas perikanan, bleaching, dan penyakit karang. Kegiatan monitoring mengenai invertebrata di daerah tersebut perlu dilakukan kembali secara berkala agar dapat mengetahui kondisi perairan tersebut dengan adanya kelimpahan pada invertebrata.  Kata kunci: Invertebrata, Reef Check, Selat Sempu  INVERTEBRATE MONITORING USING REEF CHECK METHOD IN SELAT SEMPU WATERS, MALANG ABSTRACTReef Check is an organization which dedicated to the conservation of coral reef ecosystems by using monitoring coral reef ecosystems and the environment method. The technique was simple and can be done by every one who had scientific. The data collected is the calculation of the cover substrates, fish, invertebrates, rare species and damage Invertebrates are vertebrates that have an important role in the ecosystem of coral reefs. invertebrates data which taken in the field is an economically important species in Sendang Biru. The data collected is the calculation of the closing type of substrates, fish, invertebrates, rare species and impacts that occur by looking at the research site conditions. The research location is in the area of Sendang Biru, South Malang. The data collection is done in four station in order to compare and get a calculation of the observations. The research method using belt transect as far as 100m on 4 stations, the observation done with a zig-zag pattern and visually observe the coral reff. Data collection was performed in five repetitions. The Result oh the monitoring in 4 stations, show 2 individual Diadema urchin on the Teluk Semut 1 and 2, 3 Individual of Pencil urchin on Fish Apartment station, and 2 Kima with a size 10-20cm on Fish Apartment and Watu Meja station. The least amount of invertebrate discovered show the ecological balance between the coral cover and fish populayion. The ecological condition of corals were damaged due to their fishing activities, bleaching and coral disease. Monitoring activities of the invertebrates in the area needs to be continue in order to determine the condition of these area.  Keywords : Invetebrate, Reef Check, Selat Sempu
KARAKTERISTIK PROKSIMAT DAN KANDUNGAN SENYAWA KIMIA DAGING PUTIH DAN DAGING MERAH IKAN TONGKOL (Euthynnus affinis) H Hafiludin
Jurnal Kelautan Vol 4, No 1: April (2011)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v4i1.885

Abstract

Indonesia has a marine biological resources are very large with the content of various types of creatures living in it. The biological richness of which are fish that have a benefit in the field of food and health. Tunafish (Euthynnus affinis) is a species that is very interesting to study both in terms of nutritional composition and in terms of its economy. The purpose of this study was to determine the nutrient content and chemical compounds contained in red meat and white meat tuna. Research methodology includes observation of morphology, proximate analysis and phytochemical analysis of tuna. The highest yield was found in meat that  50%. Proximate protein content of the highest in the white meat that was 68.36%, the highest fat in red meat was 5.6%, the highest in red meat ash 3.29%, and the highest water on the white meat that was 12.16%. In the white meat and red meat tuna contained alkaloid, steroid, and carbohydrate compounds (molisch). Keywords: proximate, chemical compounds, tuna (Euthynnus affinis)
APLIKASI DATA CITRA SATELIT NOAA-17 UNTUK MENGUKUR VARIASI SUHU PERMUKAAN LAUT JAWA Ashari Wicaksono; Firman Farid Muhsoni; Achmad Fachruddin Syah
Jurnal Kelautan Vol 3, No 1: April (2010)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v3i1.849

Abstract

Satelit NOAA-17 adalah salah satu seri satelit yang dimiliki oleh NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) Amerika dan juga merupakan satelit lingkungan dan cuaca yang memiliki resolusi temporal yang tinggi. Seri dari satelit NOAA telah mencapai seri ke 19 yang dapat diartikan bahwa satelit ini telah beroperasi cukup lama. Satelit ini telah banyak digunakan oleh para peneliti untuk mengetahui Tingkat Kehijauan Vegetasi (NDVI), Suhu Permukaan Laut (SPL),  Hotspot. Pada penggunaannya untuk mengetahui SPL, satelit NOAA memiliki band 4, band 5 yang merupakan band Thermal Infrared dan merupakan band yang sensitif terhadap perubahan suhu di laut. Pengolahan untuk mengukur variasi SPL yang menggunakan band 4 dan band 5 yang telah dikalibrasi, hasil dari kalibrasi tersebut yang kemudian dimasukkan kedalam algoritma Mc Millin dan Crosby, sehingga didapatkan nilai suhu permukaan laut dari setiap data citra satelit NOAA-17 Tanggal 15 Juni 2009; 6 Juli 2009; 1 Agustus 2009 yang diolah. Kata Kunci : Data Citra NOAA-17, Suhu Permukaan Laut, Algoritma Mc Millin dan Crosby