cover
Contact Name
Akhmad Farid
Contact Email
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kelautan : Indonesian Journal of Marine Science and Technology
ISSN : 19079931     EISSN : 24769991     DOI : -
Core Subject :
This journal encompasses original research articles, review articles, and short communications, including: Marine and fisheries ecology and biology, Marine fisheries, Marine technology, biotechnology, Mariculture, Marine processes and dynamics, Marine conservation, Marine pollution, Marine and coastal resource management, Marine and fisheries processing technology, Salt technology, Marine geology, physical and chemical oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 394 Documents
PENYEBARAN IKAN PACIFIC SAURY (Cololabis saira) BERDASARKAN NIGHT-TIME VISIBLE IMAGES Achmad Fachruddin Syah
Jurnal Kelautan Vol 11, No 1 (2018)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v11i1.1620

Abstract

Pacific saury, Cololabis saira, merupakan species ikan penting di perairan Pacific Utara yang ditangkap dengan menggunakan alat bantu cahaya lampu untuk menarik mereka. Cahaya dapat dideteksi dengan menggunakan night-time visible images dari Defence Meteorological Satellite Program/Operational Linescan System (DMSP/OLS). Memahami penyebaran dan migrasi ikan berdasarkan posisi  lampu atau cahaya kapal merupakan salah satu cara baru yang efektif dan efisien yang dapat dilakukan guna mengatasi permasalahan tentang posisi penangkapan ikan yang selama ini sering terjadi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari penyebaran dan pola migrasi Pacifc saury berdasarkan posisi lampu kapal. Hasilnya menunjukkan bahwa OLS nighttime images sangat berguna untuk menginvestigasi distribusi cahaya lampu kapal. Frontal zone yang berjarak 0 - 50 km dengan Kuroshio warm core ring sangat penting sebagai rute migrasi dan feeding habitat bagi Pacific saury.DISTRIBUTION OF PACIFIC SAURY (COLOLABIS SAIRA) FISH BASED ON NIGHT-TIME VISIBLE IMAGESABSTRACTPacific saury, Cololabis saira, is an important fish species in the waters of North Pacific that are captured by using lighting tools to attract them. Light can be detected using night-time visible images from the Defense Meteorological Satellite Program / Operational Linescan System (DMSP / OLS). Understanding the spread and migration of fish based on the position of the light or ship's light is one of the new ways that are effective and efficient that can be done to overcome the problem of the position of fishing that has often happened. The purpose of this study was to study the distribution and migration pattern of Pacifc saury based on the position of the ship's lights. The results show that OLS nighttime images are very useful for investigating ship light distribution. Frontal zones within 0 - 50 km with Kuroshio warm core rings are very important as migration routes and feeding habitats for Pacific saury.Keywords: DMSP / OLS, distribution, ship lights, migration, Pacific saury.
KAJIAN PENGEMBANGAN PERIKANAN BERBASIS KOMODITAS UNGGULAN DI KABUPATEN MUNA Marlenny Sirait
Jurnal Kelautan Vol 6, No 2: Oktober (2013)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v6i2.789

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji komoditas unggulan perikanan dalam upaya pengembangan perikanan dan menyusun strategi kebijakan produksi perikanan yang didasarkan pada komoditas unggulan di Kabupaten Muna.  Hasil analisis LQ diperoleh  bahwa perikanan darat merupakan komoditi unggulan di Kabupaten Muna, dengan arah pengembangan komiditi rumput laut dan budidaya kerapu. Dalam menjamin keberlanjutan dari usaha perikanan di kabupaten Muna maka diarahkan diantaranya (1) Pengembangan sumber daya manusia mulai dari proses produksi, penanganan pasca panen dan pengolahan sampai kepada pemasaran (2) Pengembangan kelembagaan KUB pembudidaya rumput laut perlu segera difasilitasi di seluruh kawasan perikanan. (3) Pengembangan teknologi budidaya perlu dilakukan khususnya dalam rangka menghadapi perubahan iklim global (4) Pengembangan sarana dan prasarana pengembangan komoditas unggulan.Kata Kunci: perikanan, komoditas unggulan, Kabupaten Muna STUDY ON THE DEVELOPMENT OF FISHERIES MAIN COMMODITIES OF MUNA DISTRICT This study was conducted to assess the main commodity fishery in the development of fisheries and fishery production policy strategy that is based on the main commodity in the Muna District. LQ analysis results showed that inland fisheries were the main commodity in the Muna, especially supported by the development of seaweeds commodity and grouper aquaculture. In order to ensure the sustainability of fisheries in Muna then directed polices includes (1) development of human resources from production, post harvest handling and processing to fulfill market demand (2) institutional development KUB of seaweed farmers needs to be facilitated throughout the area of fisheries. (3) development of cultivation technology needs to be done, especially in order to face global climate change (4) development of infrastructure development of main commodities.Key Words : fisheries, main commodity, Muna district
KARAKTERISTIK OSEANOGRAFI FISIK (BATIMETRI, PASANG SURUT, GELOMBANG SIGNIFIKAN DAN ARUS LAUT) PERAIRAN TELUK BUNGUS Try Al Tanto; Semeidi Husrin; Ulung Jantama Wisha; Aprizon Putra; Radha Karina Putri; - Ilham
Jurnal Kelautan Vol 9, No 2: Oktober (2016)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v9i2.1240

Abstract

Perairan Teluk Bungus berlangsung cukup banyak aktivitas, namun belum ada data-data valid berkaitan dengan parameter oseanografi perairannya. Perlu dilakukan kajian dinamika pesisir, terutama berupa kajian oseanografi fisik, tujuannya adalah diperoleh informasi dasar parameter oseanografi fisik yang berguna untuk kelancaran aktifitas di sekitar perairan. Data batimetri diperoleh dari peta yang dikeluarkan oleh Dishidros, dianalisis berupa tampilan peta 2D dan 3D. Data pasang surut air laut terukur dari alat ukur ADCP yang memiliki sensor tekanan, merupakan alat ukur utama untuk arus laut. Sedangkan data gelombang diperoleh dari ECMWF berupa tinggi gelombang signifikan. Kedalaman laut Teluk Bungus tergolong dangkal, yaitu mencapai 30 m. Bentuk relief dasar lautnya tidak terlihat dampak signifikan dari pengaruh samudera, karena perairan cukup terlindungi oleh bentuk teluk. Pasang surut yang terjadi adalah tipe campuran dominan ganda, tunggang pasut sebesar 139.30 cm (Oktober - November 2014). Gelombang signifikan perairan Teluk Bungus dan sekitarnya (Januari - Oktober 2013) adalah 0.42-1.7 m. Tinggi gelombang cukup besar terjadi terutama tanggal 9 Oktober 2013 hingga 11 Oktober 2013 yaitu 1.5-1.7 m. Arus laut perairan Teluk Bungus umumnya didominasi oleh pengaruh arus zonal, baik arus kedalaman 10.5 m maupun arus pada kedalaman 18.5 m. Kecepatan rata-rata arus kedalaman 10.5 m sebesar 0.0477 m/s, namun terjadi arus cukup besar 0.5240 m/s tanggal 11 November 2013 pukul 14.50 WIB dengan arah Tenggara-Selatan. Pada kedalaman 18.5 m, kecepatan arus rata-rata 0.3799 m/s dan arus maksimum 0.9320 m/s tanggal 14 November 2013 pukul 22.00 WIB dengan arah Barat Daya. CHARACTERISTICS OF PHYSICAL OCEANOGRAPHY (BATHYMETRY, TIDE, WAVE SIGNIFICANT HEIGHT AND SEA CURRRENT) IN BUNGUS BAYBungus bay waters have a lot of activity, but there is no reliable data related to their oceanographic parameters. It is necessary to study their physical oceanography, to acquire basic information of physical oceanographic characteristics that are useful for the daily activities around these waters. Bathymetric data obtained from the map issued by Dishidros, analyzed in the form of 2D and 3D map display. Tide data measured from ADCP measuring devices, a measuring instrument for the major ocean currents, and also HOBO which has a pressure sensor in the device. While the wave data obtained from ECMWF in the form of significant wave height, but it also contained model / forecasting a significant wave height of BMKG. The depth of the bay of Bungus relatively shallow sea, which reaches 30 m. Form of the sea bottom relief not seen a significant impact on the influence of the ocean, because the waters are adequately protected by the shape of the bay. Tide that occur is predominantly a mixture of type double, 139.30 cm (October-November 2013). Significant wave Bungus bay waters and surrounding areas (January-October 2013) is 0.42 to 1.7 m and 0.3 to 2.5 m (August-December 2015). Largest wave height occurs mainly dated October 9, 2013 until October 11, 2013 is 1.5-1.7 m, and 8 to 14 September 2015 to reach 2.25 m. Currents in Bungus bay waters generally dominated by the influence of zonal flows, both the depth current of 10.5 m and 18.5 m. The average velocity of depth current of 10.5 m by 0.0477 m/s, but there was a large current 0.5240 m / sec November 11, 2013 at 14:50 am with the South-East direction. At a depth of 18.5 m, the average current velocity 0.3799 m/s and a maximum current of 0.9320 m/s on 14 November 2013 at 22:00 pm at South West direction. Keywords: Bathymetry, Tidal, Wave, Current, Bungus Bay
KUALITAS MUTU BAHAN MENTAH DAN PRODUK AKHIR PADA UNIT PENGALENGAN IKAN SARDINE DI PT. KARYA MANUNGGAL PRIMA SUKSES MUNCAR BANYUWANGI Dyah Agustin Wulandari; Indah Wahyuni Abida; Akhmad Farid
Jurnal Kelautan Vol 2, No 1: April (2009)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v2i1.901

Abstract

Mutu ikan kaleng tergantung pada kesegaran bahan mentah, cara pengalengan, peralatan dan kecakapan serta pengetahuan pelaksana-pelaksana teknis, sanitasi dan higiene pabrik dan lingkungan.  Kesegaran bahan mentah sangat penting dalam industri perikanan.  Kesegaran adalah tolak ukur untuk membedakan ikan jelek dan bagus kualitasnya.  Bila kualitas bahan mentah bagus, maka produk yang dihasilkan juga bagus.  Untuk mengendalikan mutu produk yang dihasilkan perusahaan diperlukan suatu sistem yang terkendali dan dapat mengendalikan seluruh aktifitas yang mempengaruhi mutu produk. Khusus untuk produk perikanan lahirnya konsep HACCP mendorong negara-negara maju menerapkan sistem pengawasan mutu ini kepada produsen sebagai jaminan mutu produknya. Dari hasi studi pustaka dan penelitian serta pengamatan langsung pada PT. Karya Manunggal Prima Sukses Muncar,  ternyata diketahui bahwa mutu bahan baku dan produk akhir berupa ikan kaleng sardine saus tomat yang dihasilkan sesuai dengan standart mutu SNI 01-3548-1994.  Sedangkan penerapan konsepsi HACCP belum terlaksana dengan baik sehingga diperlukan perbaikan, baik GMP dan SSOP pada unit pengolahan.Kata kunci : Mutu ikan kaleng, HACCP.  The quality of a certain tinned-fish depends on several things; those are the freshness of raw materials, tinning technique, devices, knowledge, and capability of the technicians, sanitation and hygienist of the factory. The freshness of raw materials is important in fishery industries.  Freshness is one of indicators in determining fish quality. If raw materials are in good quality so that the product will be. To maintain quality of a product in certain factory, system that are able to control all of the elements affecting product quality, is absolutely needed. In fishery product, availability of HACCP, encourage the advanced-countries to apply a monitoring system of product quality to the producer as a kind of quality guarantee. From the study of certain literature, research, and also direct observation in PT Karya Manunggal Prima Sukses, Muncar, it is known that the quality of raw materials and the final product in a form tinned-sardine with tomato sauce, produced by this factory, is in accordance with quality standard of SNI 01-3548-1994, even though the application of HACCP concept still needs several corrections. This is also available for GMP and SSOP in the processing unit. Keywords : Quality of Tinned-fish, HACCP 
HUBUNGAN ANTARA KELIMPAHAN FITOPLANKTON DENGAN ZOOPLANKTON DI PERAIRAN SEKITAR JEMBATAN SURAMADU KECAMATAN LABANG KABUPATEN BANGKALAN Novi Indriyawati; Indah Wahyuni Abida; Haryo Triajie
Jurnal Kelautan Vol 5, No 2: Oktober (2012)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v5i2.868

Abstract

Fitoplankton (plankton tumbuhan) merupakan produsen dalam rantai makanan sehingga sangat penting untuk mendukung kehidupan biota laut, sedangkan zooplankton (plankton hewan) merupakan konsumen pertama sehingga sangat penting sebagai penghubung antara produsen dengan hewan – hewan pada tingkat tropik yang lebih tinggi. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kelimpahan fitoplankton dengan zooplankton di perairan sekitar Jembatan Suramadu. Metode yang digunakan adalah analisis regresi linear sederhana untuk mengetahui hubungan antara kelimpahan fitoplankton dengan zooplankton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kelimpahan fitoplankton tinggi pada saat nilai kelimpahan zooplankton rendah dan nilai kelimpahan zooplankton tinggi pada saat nilai kelimpahan fitoplankton rendah. Hasil analisis regresi linear sederhana bahwa diketahui nilai R2 = 0.307 yang artinya bahwa kelimpahan zooplankton dipengaruhi 30.7 % oleh kelimpahan makanan yang dalam hal ini adalah fitoplankton, sedangkan 69.3 % dipengaruhi oleh faktor lain yaitu dapat berupa parameter perairan dan faktor ekologis seperti terjadi pemangsaan oleh predator. Kata kunci : Fitoplankton, zooplankton, Jembatan Suramadu
PERTUMBUHAN EUCHEUMA COTTONII PADA KEDALAMAN 150 CM DENGAN JARAK TANAM YANG BERBEDA Ihsan Fadilulhak; Nunik Cokrowati; P Paryono
Jurnal Kelautan Vol 5, No 1: April (2012)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v5i1.932

Abstract

Budidaya rumput laut memiliki peranan penting dalam usaha meningkatkan produksi perikanan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi serta memenuhi kebutuhan pasar dalam dan luar negeri. Budidaya rumput laut dapat dilakukan dengan menggunakan metode rawai, yang saat ini merupakan metode yang dapat dianggap fleksibel dalam pemilihan lokasi dan biaya lebih rendah dibanding metode lain. Namun pada saat ini, dari metode tersebut masih belum dapat memenuhi permintaan pasar. Untuk itu diperlukan penelitian yang berkaitan dengan metode budidaya yang tepat mengenai jarak tanam, sehingga dapat meningkatkan produksi rumput laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jarak tanam (30 cm, 35 cm, 40 cm, 45 cm, dan 50 cm) terhadap pertumbuhan Eucheuma cottonli pada kedalaman 150 cm. Rancangan yang digunalcan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktor tunggal yaitu jarak tanam yang terdiri was lima perlakuan jarak tanam yaitu ; 30 cm (JT(30)), 35 cm (JT(35)), 40 cm (JT (40)), 45 cm (JT(45)), dan 50 cm (JT(50)) dengan pengulangan sebanyak 3 kali. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai Agustus 2010 di perairan Gerupuk, Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi NTB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak tanam berpengaruh terhadappertumbuhan Eucheuma cottonii pada kedalaman 150 cm. Jarak tanam yang memberikan pertumbuhan paling balk pada kedalaman 150 cm untuk pertumbuhan Eucheuma cottonii adalah 45 clan 50 cm.Kata Kunci: Eucheuma cottonli, kedalaman, jarak tanam, pertumbuhan
KAJIAN PERTUMBUHAN Kappaphycus alvarezii HASIL KULTUR JARINGAN PADA PERLAKUAN SUHU YANG BERBEDA Apri Arisandi; M Marsoedi; Happy Nursyam; Aida Sartimbul
Jurnal Kelautan Vol 4, No 1: April (2011)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v4i1.893

Abstract

Saat ini awal dan akhir periode budidaya rumput laut sudah tidak dapat dipastikan lagi karena mengalami pergeseran yang diduga akibat perubahan iklim global.  Hal tersebut mengakibatkan gagal panen dan rendahnya rendemen karaginan.  Salah satu cara untuk mengetahui dampak perubahan iklim terhadap budidaya rumput laut (Kappaphycus alvarezii) adalah dengan mengkaji parameter kualitas air yang mempengaruhi pertumbuhannya yaitu suhu.  Melalui penelitian ini diharapkan diperoleh temuan baru mengenai pengaruh suhu terhadap pertumbuhan rumput laut.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa, Kappaphycus alvarezii yang diberi perlakuan suhu 200C, 250C, 300C, 350C dan 400C tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap rata-rata pertumbuhan hariannya. Kata kunci: suhu, pertumbuhan, Kappaphycus alvarezii
ANALISIS KONSENTRASI MERKURI (Hg) DAN CADMIUM (Cd) DI MUARA SUNGAI PORONG SEBAGAI AREA BUANGAN LIMBAH LUMPUR LAPINDO R Rachmawatie; Zainul Hidayah; Indah Wahyuni Abida
Jurnal Kelautan Vol 2, No 2: Oktober (2009)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v2i2.857

Abstract

Tujuan riset ini adalah untuk meneliti konsentrasi Merkuri ( Hg) dan Cadmium ( Cd) di  muara Sungai Porong serta menentukan tingkat pencemaran logam berat di area tersebut. Analisa statistic yang digunakan adalah  ANOVA  dan analisis regresi yang digunakan untuk menguji hubungan logam berat yang terdeteksi dengan parameter penunjang. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi Cd telah melewati batasan normal di area muara. Disamping itu, Merkuri (Hg) tidak terdeteksi. Rata-Rata konsentrasi Cd dari 9 stasiun adalah 0,025 - 0,075 mg/liter. Hasil ANOVA menunjukkan rata-rata konsentrasi Cadmium (Cd) dari seluruh stasiun pengamatan  adalah berbeda nyata (p 0,05). Selanjutnya, analisis regresi menunjukkan bahwa model regresi dapat menjelaskan hubungan konsentrasi logam berat Cadmium (Cd) dengan beberapa parameter kualitas air  ( R2 70%). Kata Kunci :  Cadmium, Merkuri, muara Sungai Porong
PENGARUH MOLTING TERHADAP STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN CANGKANG PADA LOBSTER HIJAU PASIR (Panulirus homarus L., 1758) T Trijoko; Heri Aji Nurcholis
Jurnal Kelautan Vol 11, No 2 (2018)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v11i2.3797

Abstract

Lobster merupakan komoditas laut yang memiliki nilai jual tinggi dan selalu mengalami kenaikan, khususnya pada lobster hijau pasir (Panulirus homarus L., 1758). Agar pemanfaatan sumberdaya lobster di perairan ini tetap lestari maka perlu dilakukan pengelolaan yang rasional dengan mempertimbangkan masukan dari aspek biologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh molting terhadap struktur dan perkembangan cangkang pada lobster hijau (Panulirus homarus L., 1758). Sampel yang digunakan berupa 35 lobster yang terdiri dari ukuran 50 gram hingga 250 gram, yang dipelihara di Unit Kerja Budidaya Air Laut Sundak, Yogyakarta. Analisa data yang dilakukan adalah dengan menggunakan prinsip dasar perbandingan data deskriptif, dimana digunakan perbandingan data dengan cangkang lobster sebelum molting (proecdysis), sesaat molting (ecdysis), dan sesudah molting (postecdysis). Hasil menunjukkan bahwa struktur cangkang pada lobster proecdysis memiliki struktur yang lengkap dan ketebalan cangkang yang paling tinggi. Unsur penyusun cangkang seperti C, O, N, dan Ca paling banyak ditemukan di dalam cangkang. Selain itu, cangkang lobster memiliki rasio berat yang lebih tinggi dibandingkan dengan daging lobster. Cangkang lobster postecdysis memiliki rasio berat cangkang tertinggi, sedangkan pada lobster ecdysis memiliki rasio berat daging yang paling tinggi.Kata Kunci: Struktur, Perkembangan, Cangkang, Lobster, Panulirus homarusABSTRACTLobster is a marine commodity that has a high selling value and always increases, especially in the Scalloped Spiny Lobsters (Panulirus homarus L., 1758). In order for the lobster resources in these waters remains sustainable it is necessary to do a rational management by considering the biological aspects. This study aims to analyze the effect of molting on to shell structure and development on Scalloped Spiny Lobsters (Panulirus homarus L., 1758). The sample used was 35 lobsters consisting of sizes 50 grams to 250 grams, which were kept in the Sundak Sea Water Farming Unit, Yogyakarta. Data analysis is done by using the basic principle of descriptive data comparison, where used comparison of data with lobster on proecdysis (before molting), ecdysis (on molting), and postecdysis (after molting). The results show that the shell structure of the lobster on proecdysis has the complete structure and the highest shell thickness. Shell constituent elements such as C, O, N, and Ca are found mostly in the shell. In addition, lobster shells have a higher weight ratio compared to lobster meat. The lobster shells on postecdysis has the highest shell weight ratio, whereas on the ecdysis lobster has the highest meat weight ratio.Key word: Structure, Development, Shell, Lobster, Panulirus homarus ABSTRACTLobster is a marine commodity that has a high selling value and always increases, especially in the Scalloped Spiny Lobsters (Panulirus homarus L., 1758). In order for the lobster resources in these waters remains sustainable it is necessary to do a rational management by considering the biological aspects. This study aims to analyze the effect of molting on to shell structure and development on Scalloped Spiny Lobsters (Panulirus homarus L., 1758). The sample used was 35 lobsters consisting of sizes 50 grams to 250 grams, which were kept in the Sundak Sea Water Farming Unit, Yogyakarta. Data analysis is done by using the basic principle of descriptive data comparison, where used comparison of data with lobster on proecdysis (before molting), ecdysis (on molting), and postecdysis (after molting). The results show that the shell structure of the lobster on proecdysis has the complete structure and the highest shell thickness. Shell constituent elements such as C, O, N, and Ca are found mostly in the shell. In addition, lobster shells have a higher weight ratio compared to lobster meat. The lobster shells on postecdysis has the highest shell weight ratio, whereas on the ecdysis lobster has the highest meat weight ratio.Key word: Structure, Development, Shell, Lobster, Panulirus homarus 
IDENTIFIKASI POTENSI KAWASAN SUMBERDAYA PULAU KANGEAN KABUPATEN SUMENEP MADURA SEBAGAI KAWASAN WISATA BAHARI Dyah Ayu Sulistyo Rini; Widi Agoes Pratikto; Kriyo Sambodo
Jurnal Kelautan Vol 8, No 2: Oktober (2015)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v8i2.814

Abstract

Kepulauan Kangean merupakan gugusan pulau-pulau kecil yang terletak di sebelah timur laut pulau Madura, dengan kepulauan terbesar adalah pulau Kangean. Pulau kangean sendiri termasuk dalam wilayah kabupaten Sumenep dan terbagi dalam Tiga wilayah kecamatan yaitu kecamatan Arjasa, Kecamatan Sapeken dan Kecamatan Raas. Aktivitas wisata bahari diantaranya adalah santai dipantai/menikmati lingkungan alam sekitar pantai, berenang, tour keliling (boat tour, cruising/extended bongat tour), surfing, diving, water sky dan sailing. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan manganalisa permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan wisata bahari Kepulauan Kangean, serta menganalisis rencana starategis pemetaan pengembangan wisata bahari di Kepulauan Kangean Kabupaten Sumenep, Madura. Hasil penilaian kesesuaian pulau kangean untuk wisata bahari diperoleh hasil 708 yang artinya sangat sesuai, sedangkan untuk analisa Internal Eksternal Faktor Analisys Summary (I-EFAS) adalah 2,8 – 2,9 yang artinya kondisi internal dan eksternal memiliki kekuatan untuk mengatasi situasi yang ada. Skala prioritas untuk pengembangan wisata bahari di pulau kangean berdasarkan analisis SWOT dan AHP adalah: 1). Peningkatan infrastruktur wisata bahari, 2). Pengelolaan wisata bahari berbasis masyarakat, 3). Promosi dan publikasi obyek wisata, 4). Peningkatan kerjasama antar sektor terkait, 5). Pembinaan dan pelatihan wisata bahari, 6). Peningkatan stabilitas keamanan wilayah, 7). Pembagian zonasi pemanfaatan perikanan dan pariwisata. Sedangkan untuk data citra ALOS diperoleh data dari masing-masing lokasi yang disurvey memiliki lokasi yang berkarakteristik dan memiliki kelemahan dan kekuatan masing-masing namun demikian secara umum lokasi ini dinilai semua kawasan ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata bahari.Kata Kunci: AHP, identifikasi, pemetaan, sumberdaya, SWOT, wisata bahariTHE IDENTIFICATION OF RESOURCE POTENTIAL AREA OF KANGEAN ISLAND, SUMENEP REGENCY, MADURA AS NAUTICAL TOURISM AREAABSTRACTKangean Islands is a cluster of small islands located at the north east of Madura Island. The biggest island is Kangean Island. Kangean Island is included in the territory of Sumenep Regency area and divided into three districts areas which are Arjasa, Sapeken and Raas Districts. The activity of nautical tourism some of which are relaxing on the beach/enjoying environment around the beach, swimming, touring around (boat tour, cruising/extended boat tour), surfing, diving, water skyingand sailing. This research had the objective to identify and analyze the problems dealt in developing nautical tourism in Kangean Islands, as well as to analyze the strategic plan of development mapping for nautical tourism in Kangean Islands, Sumenep Regency, Madura. The finding showed that Kangean Island was suitable for nautical tourism, the result was 708 which meant that it was highly suitable. While the Internal External Factor Analysis Summary (I-EFAS) was by 2.8 – 2.9 which meant that both internal and external conditions had strength to deal with the existing situation.The priority scales to develop nautical tourism in Kangean Island which was based on SWOT and AHP analysis were: 1). Improvement for nautical tourism infrastructure, 2). Community-based nautical tourism development, 3). Promotion and publication of tourism object, 4). Cooperation improvement among the relevant sectors, 5). Training and development of nautical tourism, 6). Improvement of security stability of the region, 7). The zone division of fisheries and tourism utilization. While for ALOS image data, there found the data of each surveyed location that they were characterized location which had their own strength and weakness. However, in general all locations were considered potential to be developed as nautical tourism area.Keywords: AHP, identification, mapping, nautical tourism, resource, SWOT

Page 3 of 40 | Total Record : 394