cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Karya Ilmiah S.1 Ilmu Keperawatan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 237 Documents
PENGARUH MOBILISASI DINI TERHADAP PENGELUARAN LOKIA RUBRA PADA IBU PASCA BEDAH SESAR DI RSUD TUGUREJO SEMARANG Charisti, Stevani
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 1, No 3 (2013): Juni 2013
Publisher : STIKES Telogorejo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh fenomena bahwa kebanyakan ibu  pasca bedah sesar masih takut untuk melakukan mobilisasi, hal ini dikarenakan adanya rasa nyeri di luka  pasca bedah sesar. Mobilisasi dini diperlukan untuk merangsang peredaran darah ke otot dan organ tubuh lain serta memperbaiki tonus otot termasuk otot uterus, yang berpengaruh terhadap kontraksi uterus. Jika kontraksi uterus semakin baik maka pengeluaran lokia menjadi lancar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mobilisasi dini terhadap pengeluaran lokia rubra pada ibu  pasca bedah sesar di RSUD Tugurejo Semarang. Jenis penelitian ini adalah Quasi Eksperimen, sampel dalam penelitian ini adalah  sebanyak 30 responden. Metode yang digunakan adalah purposive sampling, pengambilan data menggunakan lembar observasi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh mobilisasi dini terhadap pengeluaran lokia rubra pada ibu  pasca bedah sesar. Dari hasil pengukuran jumlah pengeluaran lokia rubra menunjukkan nilai rata – rata perbedaan antara jumlah lokia sebelum mobilisasi dini dengan jumlah lokia setelah mobilisasi dini hari kesatu adalah 42,00 cc dan nilai rata – rata perbedaan antara jumlah lokia sebelum mobilisasi dini dan jumlah lokia setelah mobilisasi dini hari kedua adalah 93,88 cc. Hasil uji paired T test dengan taraf signifikan α = 0,05, diperoleh nilai ρ value = 0,000 < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan ada pengaruh mobilisasi dini terhadap pengeluaran lokia rubra pada ibu  pasca bedah sesar. Rekomendasi penelitian ini ditujukan kepada petugas pelayanan kesehatan agar memobilisasikan ibu  pasca bedah sesar segera setelah ibu keluar dari kamar operasi.
STUDI DESKRIPTIF STATUS MENTAL LANSIA BERDASARKAN KARAKTERISTIK LANSIA DI KELURAHAN KARANGAYU SEMARANG BARAT Riani, Suksi
Karya Ilmiah S.1 Ilmu Keperawatan Tahun 2013
Publisher : STIKES Telogorejo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hasil prediksi menunjukkan persentase penduduk lansia mencapai 9,77% dari total penduduk tahun 2010 dan menjadi 11,34% pada tahun 2020. Faktor-faktor predisposisi sehat sakit mental diantaranya yaitu biologis, psikologis dan karakteristik sosial budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan status mental lansia berdasarkan karakteristik lansia di Kelurahan Karangayu Semarang Barat. Desain penelitian ini adalah Cross-sectional, jumlah sampel 240 responden dari 601 populasi dengan tekhnik Proportional  Stratified Random Sampling. Pada penelitian ini menggunakan uji Mann-Whitney U Test dan uji Kruskal-Wallis Test. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara status mental lansia berdasarkan karakteristik lansia. Pada karakteristik responden jenis kelamin perempuan terdapat 128 (53,3%) sedangkan laki-laki 112 (46,7%). Responden yang berpendidikan dasar sebanyak 132 (55%), responden yang berpendidikan menengah sebanyak 91 (37,9%) dan responden yang berpendidikan tinggi sebanyak 17 (7,1%). Responden yang tidak bekerja sebanyak 123 (51,3%), responden yang pekerjaannya swasta sebanyak 78 (32,5%) dan responden yang pekerjaannya pensiunan PNS sebanyak 39 (16,3%). Responden yang statusnya kawin sebanyak 129 (53,8%), responden yang tidak kawin sebanyak 12 (5%) dan responden yang statusnya janda atau duda sebanyak 99 (41,2%). Lansia disarankan untuk menjaga kemampuan kognitif dengan melatih memorinya seperti mengisi teka-teki silang, membaca buku dan mengikuti kuis. Kata Kunci     :  Status mental, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, dan lansia
HUBUNGAN ANTARA MENYUSUI SEJAK DINI DENGAN PENURUNAN TINGGI FUNDUS UTERI PADA IBU POSTPARTUM DI RSUD. TUGUREJO SEMARANG Indarwati, Tiyas
Karya Ilmiah S.1 Ilmu Keperawatan Tahun 2013
Publisher : STIKES Telogorejo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program menyusui sejak dini di Indonesia dalam pelaksanaannya masih kurang, hal ini dapat terlihat masih rendahnya kesadaran ibu dalam menyusui sejak dini pada bayinya dikarenakan kurangnya pemahaman ibu tentang manfaat ASI dan menyusui yang benar. Menyusui sejak dini sangat bermanfaat bagi ibu, karena pada saat bayi mengisap payudara akan menstimulasi produksi oksitosin secara alami. Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot uterin sehingga membantu untuk proses involusi uteri yang ditandai dengan penurunan tinggi fundus uteri, oleh karena itu dianjurkan bagi ibu untuk menyusui bayinya segera setelah lahir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara menyusui sejak dini dengan penurunan tinggi fundus uteri pada ibu postpartum di RSUD. Tugurejo Semarang. Jenis penelitian ini observasional analitik, sampel dalam penelitian ini sebanyak 69 responden. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah sampel total, pengambilan data menggunakan lembar pengamatan. Analisa data menggunakan Mann-Whitney Test dengan α < 0,05. Hasil dari uji Mann-Whitney Test dengan taraf signifikan α < 0,05, diperoleh nilai ρ value = 0,033 (α < 0,05) artinya Ho ditolak atau  ada hubungan antara menyusui sejak dini dengan penurunan tinggi fundus uteri pada hari ke-1 dengan penurunan tinggi fundus uteri pada hari ke-9. Rekomendasi penelitian ini ditujukan kepada petugas pelayanan kesehatan untuk memfasilitasi bagi ibu postpartum untuk  menyusui bayinya segera setelah lahir.   Kata kunci : menyusui sejak dini, penurunan tinggi fundus uteri, postpartum
PENGARUH KOMUNIKASI TERAPEUTIK (SP 1-4) TERHADAP KEMAUAN DAN KEMAMPUANPERSONAL HIGIENE PADA KLIEN DEFISIT PERAWATAN DIRI DI RSJD Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG Khaeriyah, Uswatun
Karya Ilmiah S.1 Ilmu Keperawatan Tahun 2013
Publisher : STIKES Telogorejo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skizofrenia merupakan suatu gangguan jiwa berat yang akan membebani masyarakat sepanjang hidup penderita, dikarakterisasikan dengan disorganisasi pikiran, perasaan dan perilaku defisit perawatan diri. Defisit perawatan diri merupakan suatu kondisi pada seseorang yang mengalami kelemahan kemampuan dalam  melengkapi aktivitas perawatan diri secara mandiri seperti mandi, berhias, makan dan BAK/BAB (toileting) Tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh komunikasi terapeutik  terhadap kemauan dan kemampuan personal higiene pada klien defisit perawatan diri Jenis penelitian adalah quasi eksperiment dengan rancangan one-group pre test and post test design dengan sampel sebanyak 50 responden. Uji statistik menggunakan Wilcoxon Signed Range Test. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada pengaruh komunikasi terapeutik terhadap kemauan personal higiene (makan dan mandi)dengan  masing-masing p value 0,000 dan kemampuan personal higiene (mandi, makan, dan eliminasi) dengan masing-masing p value 0,000. Diharapkan perawat dapat lebih memperhatikan proses komunikasi teraupetik pada klien defisit perawatan diri sesuai rencana tindakan keperawatan dan secara berkesinambungan.   Kata kunci : kemauan dan kemampuan personal higiene, defisit perawatan diri
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN POLA ASUH IBU TERHADAP KEMAMPUAN TOILET TRAINING PADA ANAK USIA 2-3 TAHUN DI PAUD ASA BUNDA SEMARANG. Effendi, Wieke
Karya Ilmiah S.1 Ilmu Keperawatan Tahun 2013
Publisher : STIKES Telogorejo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut hasil observasi sementara oleh peneliti di PAUD ASA BUNDA bahwa banyak ibu-ibu yang belum banyak mengajakan anaknya cara toilet training dengan baik, seperti masih banyak anak-anak yang menggunakan pampers dan kencing sembarangan di PAUD ASA BUNDA Semarang.Penelitian ini bertujuan Mengetahui hubungan antara pengetahuan dan pola asuh ibu terhadap kemampuan toilet training pada anak usia 2-3 tahun di PAUD ASA BUNDA Semarang.toilet training adalah suatu usaha untuk melatih anak untuk mengontrol dalam melakukan buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB). Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini setelah orang melakukan penginderaan terhadap obyek tertentu. Pola asuh adalah pola interaksi antara orang tua dan anak, yaitu bagaimana cara sikap atau perilaku orang tua saat berinteraksi dengan anak, termasuk cara penerapan aturan, mengajarkan nilai atau norma, memberikan perhatian dan kasih sayang serta menunjukkan sikap dan perilaku baik sehingga dijadikan panutan bagi anaknya.Jenis penelitian ini adalah cross sectional dengan jumlah responden 74 ibu di PAUD ASA BUNDA dengan metode total sampling. Analisa data dilakukan dengan analisa univariat. Hasil penelitian menunjukkan sebagaian umur responden didapat >35 (36,5%). Pengetahuan ibu dalam toilet training sebagian besar 52 responden (70,3%). Pola asuh dalam toilet training sebagaian besar 45 responden (60,8%). kemampuan ibu dalam pelatihan toilet training (86,4 %). Hasil uji bivariat menunjukan ada hubungan antara pengetahuan ibu dan kemampuan toilet training pada anak usia 2-3 tahun di peroleh p value = 0,000 < 0,05. Ada hubungan antara pola asuh ibu dengan kemampuan toilet training pada anak usia 2-3 tahun di peroleh p value = 0,000 < 0,05.Berdasarkan kesimpulan diatas, sebaiknya orang tua mencari informasi yang sebanyak-banyaknya tentang toilet training, dan melakukan pelatihan khusus untuk ibu-ibu tentang toilet training yang benar, sehingga nantinya akan dapat melakukan toilet training yang baik untuk anak-anaknya.Kata kunci : Pengetahuan, pola asuh, dan toilet training
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KECACATAN DENGAN GAMBARAN DIRI (BODY IMAGE) PADA PENDERITA KUSTA DI RUMAH SAKIT KUSTA DONOROJO JEPARA Lusianingsih, Yuliana
Karya Ilmiah S.1 Ilmu Keperawatan Tahun 2013
Publisher : STIKES Telogorejo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia menempati posisi ke 3 didunia setelah India dan Brazil sebagai negara yang memiliki penderita kusta terbanyak. Pada akhir Desember 2011 prevalensi kusta sebesar 1,16/10.000 penduduk dengan jumlah kusta tercacat 202 kasus. Kecacatan yang berlanjut dan tidak mendapat perhatian serta penanganan yang tidak baik akan menimbulkan ketidakmampuan fungsi sosial secara progresif, terisolasi dari masyarakat, keluarga dan teman-temannya, sedangkan secara psikologis bercak, benjolan-benjolan pada kulit penderita membentuk paras yang menakutkan sehingga menyebabkan penderita kusta merasa rendah diri, depresi dan menyendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecacatan dengan gambaran diri (body image) pada penderita kusta. Jenis penelitian ini adalah descriptive correlation dengan rancangan penelitian Cross Sectional. Metode sampling yang digunakan yaitu total sampling, dengan jumlah sampel 40  responden. Pengambilan data dengan menggunakan kuesioner, Analisis menggunakan uji Continuity Correction. Hasil penelitian menujukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat kecacatan dengan gambaran diri (body image) pada penderita kusta dengan (p-value 0.001) dengan OR (Odd Ratio) = 16.800. Perlu adanya dukungan yang penuh dari keluarga dan masyarakat dalam menjalani pengobatan yang tuntas dan perawatan baik secara fisik maupun secara psikologis sehingga tidak terjadi kecacatan kusta yang berat dan gangguan gambaran diri.   Kata Kunci : Tingkat Kecacatan, Gambaran diri (Body Image) , Penderita Kusta
HUBUNGAN MOTIVASI DENGAN KINERJA PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP RSUD UNGARAN Setiyaningsih, Yuliana
Karya Ilmiah S.1 Ilmu Keperawatan Tahun 2013
Publisher : STIKES Telogorejo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Derajat kesehatan yang optimal dapat dicapai oleh perawat dengan adanya motivasi kerja. Motivasi kerja yang tinggi akan berpengaruh terhadap penilain prestasi kerja dalam melakukan kegiatan keperawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan motivasi kerja perawat terdahap kinerja perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Ungaran dan mengidentifikasi karakteristik perawat di RSUD Ungaran (umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan lamanya bekerja). Desain penelitian ini menggunakan cross sectional, jumlah sampel 66 responden dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian ini berupa kuesioner dan lembar checklist. Prosedur pengumpulan data pada penelitian ini terdiri dari prosedur administratif dan prosedur teknis. Hasil analisa univariat menunjukkan karakteristik perawat pelaksana di ruang rawat inap RSUD Ungaran paling banyak meliputi usia ≥ 32 tahun 40 orang (60,6%), berjenis kelamin perempuan 55 orang (83,3%), berpendidikan D3 Keperawatan 63 orang (95,5%) dengan lamanya bekerja ≥ 5 tahun 38 orang (57,6%), untuk motivasi perawat yang persepsikan oleh perawat (61%) mempersepsikan baik dan kinerja perawat pelaksana (43,9%) mempersepsikan baik. Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak ada hubungan antara umur (p=1,000), jenis kelamin (p=1,000), pendidikan (p=1,000), dan lamanya kerja (p=0,366) dengan kinerja perawat pelaksana, ada hubungan motivasi dengan kinerja perawat pelaksana (p=0,000). Peneliti menyimpulkan agar motivasi perawat perlu ditingkatkan dengan memberikan tunjangan, jenjang karir agar tercapai kinerja perawat yang baik.   Kata Kunci: motivasi, kinerja perawat, dan rumah sakit.
HUBUNGAN ANTARA PARITAS DAN UMUR IBU DENGAN KEJADIAN PERDARAHAN POST PARTUM DI RS. PANTI WILASA “Dr. CIPTO” YAKKUM CABANG SEMARANG TAHUN 2008 Sulistiyani, Cicilia Ninik
Karya Ilmiah S.1 Ilmu Keperawatan Tahun 2013
Publisher : STIKES Telogorejo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perdarahan postpartum adalah perdarahan yang terjadi setelah bayi lahir dimana perdarahan tersebut adalah perdarahan yang lebih dari normal yang mana telah menyebabkan perubahan tanda vital (sistolik < 90 mmHg, nadi > 100 per menit, kadar Hb < 8 gr%, muka terlihat pucat) faktor predisposisi terjadinya perdarahan postpartum adalah paritas, umur, gemeli, dan hidramnion. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah ada hubungan antara paritas dan umur ibu dengan kejadian perdarahan postpartum di RS Panti Wilasa Dr. Cipto Semarang” Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi responden berdasarkan paritas dan umur ibu, mengetahui distribusi responden yang mengalami kejadian perdarahan postpartum, untuk mengetahui hubungan antara paritas dan umur ibu dengan kejadian perdarahan postpartum. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan retrospektif, metode pengambilan sampel yang digunakan adalah sampling jenuh, yaitu semua ibu nifas yang mengalami perdarahan postpartum di RS Panti Wilasa Dr Cipto Semarang selama kurun waktu tahun 2008. Instrumen penelitian menggunakan check list. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji statistik hubungan antara paritas dan umur ibu didapatkan X² Hitung sebesar 7,322 yang lebih besar dari X² Tabel dan nilai p value 0,026 yang lebih kecil dari α, sehingga ada hubungan antara paritas dengan kejadian perdarahan postpartum. Sedangkan pada uji statistik pada hubungan umur ibu dengan kejadian perdarahan postpartum diperoleh X² Hitung 0,000 yang lebih kecil dari X² Tabel dan nilai p value 1,000 yang lebih besar dari α, sehingga artinya tidak ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian perdarahan postpartum. Kata kunci : Perdarahan postpartum, paritas, umur
PENGALAMAN KEROKAN SEBAGAI TERAPI KOMPLEMENTER Suryani, Maria; Sianturi, Medina
Karya Ilmiah S.1 Ilmu Keperawatan Tahun 2013
Publisher : STIKES Telogorejo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terapi komplementer adalah suatu terapi pengganti atau pelengkap dari terapi medis yang digunakan.  Saat ini terapi komplementer banyak dikembangkan dalam dunia keperawatan. Salah satu jenis terapi komplementer adalah kerokan. Kerokan bagi masyarakat khususnya pada masyarakat suku Jawa dipercaya dapat mengobati beberapa penyakit, Seringnya masyarakat Jawa menggunakan terapi ini, membuat masyarkat pada umumnya menganggap bahwa kerokan merupakan suatu budaya yang melekat pada suku Jawa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan bagaimana pengalaman seseorang yang menggunakan kerokan sebagai terapi komplementer. Desain penelitian ini adalah kualitatif etnografi, Sample dalam penelitian ini berjumlah 4 orang yang bersuku Jawa dan sering melakukan kerokan. Metode pengumpulan data dengan cara wawancara mendalam dengan bantuan panduan wawancara mendalam dan tape recorder. Hasil dari penelitian ini ditemukan 2 tema tentang kerokan. Tema yang pertama yaitu kerokan merupakan budaya yang turun temurun. Hal ini dibuktikan dengan kerokan dilakukan dari anggota keluarga. Tema yang kedua yaitu kerokan dipercaya sebagai terapi. Dari tema ini didapat 3 sub tema, yaitu (1) kerokan sebagai terapi yang mudah, murah dan manjur, (2) kerokan sebagai terapi alternative dan pelengkap dari terapi konvensional, (3) kerokan merupakan terapi yang mengakibatkan kecanduan. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar menjadikan kerokan sebagai terapi komplementer dalam dunia keperawatan.   Kata kunci: kerokan, terapi komplementer
PENGARUH PEMBERIAN ASAM LEMAK TRANS TERHADAP PENYAKIT PERLEMAKAN HATI NON ALKOHOL TIKUS SPRAGUE DAWLEY Sianturi, Medina
Karya Ilmiah S.1 Ilmu Keperawatan Tahun 2013
Publisher : STIKES Telogorejo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsumsi asam lemak trans (ALT) dosis tinggi telah diketahui dapat menyebabkan penyakit perlemakan hati non alkohol. Kerusakan hati akibat ALT dosis  5 % dan 10 %   pada tikus Sprague Dawley belum pernah diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh pemberian ALT dosis 5 % dan 10 % terhadap penyakit perlemakan hati non  alkohol tikus Sprague Dawley. Desain penelitian adalah eksperimen dengan sampel 18 ekor tikus jantan Sprague Dawley dibagi secara random menjadi 3 kelompok: K (pakan standar),  P1 ( asam lemak trans 5 %) dan P2 (asam lemak trans 10 %) selama 8 minggu. Jaringan diwarnai dengan HE dan diperiksa steatosis hepatosit, inflamasi lobuler dan degenerasi ballooning menggunakan skoring metode NAFLD activity score (NAS), analisis statistik dengan uji nonparametrik Kruskal-Wallis dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan perlemakan hati terjadi pada kelompok P1dan P2.Terdapat perbedaan bermakna steatosis , inflamasi dan degenerasi ballooning kedua kelompok yang diberi asam lemak trans (P1,P2) dibandingkan dengan kelompok kontrol ( p < 0,001) . Kelompok asam lemak trans 10 %  mengalami steatosis dan inflamasi derajat sedang ke berat dan jumlah degenerasi balonning yang sedikit, sedangkan kelompok asam lemak trans 5 % mengalami steatosis dan inflamasi ringan ke sedang dan tidak ada degenerasi ballooning. Simpulan penelitian adalah pemberian asam lemak trans dosis 5 % dan 10 % dapat menyebabkan penyakit perlemakan hati non alkohol. Kata kunci: Penyakit perlemakan hati non alkohol, asam lemak trans, steatosis, inflamasi lobuler dan degenerasi ballooning

Page 11 of 24 | Total Record : 237