cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 30 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 3 (2008): September 2008" : 30 Documents clear
Seleksi Ketahanan Klon-klon Harapan Krisan terhadap Penyakit Karat Budiarto, K; Rahardjo, I B; Suhardi, -
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Sifat ketahanan terhadap penyakit merupakan salah satu kriteria dalam seleksi progeni hasil persilangan untuk pelepasan varietas baru krisan. Untuk mendapatkan klon-klon unggul krisan tahan karat, sejumlah progeni telah dievaluasi ketahanannya. Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias (1.100 m dpl) dari bulan Oktober 2002 hingga September 2003 untuk mengevaluasi 13 aksesi yang terdiri dari 12 klon krisan, yaitu nomor 151.13, 159.79, 162.7, 164.28, 164.37, 164.64, 164.82, 164.88, 164.97, 164.102, 164.156, 165.12, dan 1 varietas kontrol (cv. White Reagent) terhadap penyakit karat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa awal terjadinya gejala dan insidensi penyakit bervariasi pada klon-klon yang dicoba. Berdasarkan kriteria tingkat ketahanan, terdapat 2 klon, yaitu No. 151.13 dan 164.64, dikategorikan sangat tahan terhadap penyakit karat. Selain itu terdapat 2 klon yang termasuk kriteria tahan dan 7 klon yang dikategorikan agak tahan. Sedangkan cv. White Reagent dan klon No. 164.37 termasuk dalam kategori agak rentan terhadap penyakit karat.ABSTRACT. Budiarto, K., I. B. Rahardjo, and Suhardi. 2008. Resistant Evaluation of Chrysysanthemum Promising Clones to Japanese White Rust Dise ase . Resistance to major disease is one of important criteria in the selection of chrysanthemum for new released varieties. Japanese white rust is considered one of constrained-diseases and become major problems in commercial chrysanthemum growers in Indonesia up to this moment. Thus, selection of progenies against this disease became important. The research was conducted from October 2002 to September 2003 to evaluate 13 accessions of chrysanthemum, comprised of 12 promising clones of no. 151.13, 159.79, 162.7, 164.28, 164.37, 164.64, 164.82, 164.88, 164.97, 164.102, 164.156, 165.12, and 1 commercial variety (cv. White Reagent) as control to white rust disease. The results of the experiments showed that the initial symptoms and white rust incidence were varied among clones tested. Among the 13 accessions, 2 clones (no. 151.13 and 164.64) were considered strongly resistant. The other 2 and 7 clones were included to the criteria of resistant and moderate resistant, respectively. While cv. White Reagent (control) and clone no. 164.37 were categorized as moderate susceptible.
Penampilan Fenotipik Tujuh Spesies Jamur Kuping (Auricularia spp.) di Dataran Tinggi Lembang Djuariah, Dini; Sumiati, E
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Jamur kuping (Auricularia spp.) merupakan salah satu jamur edibel komersial yang merupakan komoditas sayuran bernilai ekonomi tinggi serta merupakan sumber devisa. Tujuh spesies jamur kuping berasal dari berbagai tempat dievaluasi hasil dan kualitasnya di dataran tinggi Lembang. Penelitian dilakukan di laboratorium dan di rumah jamur (kumbung) sejak bulan Juli-Desember 2004, menggunakan rancangan acak kelompok yang diulang 3 kali. Hasil evaluasi memperlihatkan bahwa Auricularia sp.-7 dari BP2APH-Kaliurang memiliki produktivitas lebih tinggi dibandingkan 6 spesies jamur kuping lainnya.ABSTRACT. Djuariah, D. and E. Sumiati. 2008. Phenotypic Performance of Seven Species Auricularia spp. in Lembang Highland. Auricularia spp. is one of edible commercial mushroom which have high economic value and as a source of foreign exchange for the government. Seven species of Auricularia spp. were evaluated for their yield and quality in Lembang highland. Research was conducted in the laboratory and mushrooms house from July until December 2004, using completely randomize block design with 3 replications. The results showed that Auricularia sp.-7 from BP2APH-Kaliurang Yogyakarta significantly gave the highest yield among 6 species.
Analisis Jarak Genetik dan Kekerabatan Aksesi-aksesi Pisang berdasarkan Primer Random Amplified Polymorphic DNA Sukartini, -
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Bogor pada bulan Oktober 2000. Tujuan penelitian adalah mengetahui jarak genetik dan kekerabatan 26 aksesi pisang berdasarkan primer RAPD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koefisien kemiripan genetik antara 26 aksesi pisang berkisar antara 0,452-0,976 atau jarak genetik 0,548-0,024. Genom A dan B berbeda klaster pada koefisien kemiripan genetik 0,80 atau jarak genetik 0,20, kecuali pada aksesi Ampyang (AAA), Nangka (AAB), Cici Kuning (AA), dan Sililit (AAB). Zuriat-zuriat dengan keragaman karakter yang tinggi diperoleh dari persilangan antaraksesi Cici Kuning (AA) dengan Klutuk (BB) atau Cici Kuning dengan Klutuk Wulung (BB). Primer RAPD dapat digunakan untuk tujuan meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan ketepatan identifikasi varietas pada program pemuliaan pisang.ABSTRACT. Sukartini. 2008. Analysis of Genetic Distance and Relationship of Banana Based on RAPD Primers. The research was conducted at Indonesian Biotechnology Research Institute for Estate Crops, Bogor, in October 2000. The research objective was to determine the genetic distance and relationship among 26 banana accessions based on RAPD. The results showed that the genetic distance was between 0.548-0.024. A and B genome were different cluster with genetic similarity coeffisient of 0.80 or genetic distance 0.20. Zuriates with high characters variability could be found from crossing of Cici Kuning (AA) with Klutuk (BB) or Cici Kuning with Klutuk Wulung (BB). RAPD primers could be used to increase efficiency and effectivity as well as precise variety identification in banana breeding.
Pengaruh Biokultur dan Pupuk Anorganik terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kentang Varietas Granola Nurtika, Nunung; Sofiari, Eri; Sopha, G A
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penggunaan pupuk buatan dapat meningkatkan hasil panen namun dampak negatifnya menurunkan tingkat kesuburan tanah. Untuk mengatasi hal ini diperlukan teknologi yang dapat menghemat penggunaan bahan agrokimia untuk mempertahankan kesuburan tanah, meningkatkan kualitas produk, dan meningkatkan pendapatan petani. Salah satu cara untuk mengatasi hal ini yaitu dengan teknologi enzimatis, seperti dengan penggunaan biokultur. Penelitian dilaksanakan di K.P. Margahayu, Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Lembang pada tanah Andisol, ketinggian tempat 1.250 m dpl, mulai bulan Maret sampai dengan Juli 2006. Tujuan penelitian untuk mendapatkan kombinasi takaran biokultur dan pupuk anorganik yang memberikan pertumbuhan tanaman paling baik dan hasil yang paling tinggi. Perlakuan terdiri dari 8 kombinasi biokultur dan pupuk buatan. Pupuk kimia 180 kg N/ha + 92 kg P2O5/ha + 150 kg K2O/ha adalah dosis rekomendasi Balitsa. Dosis biokultur terdiri dari normal, yaitu 1.750 l/ha, di atas normal 2.000 l/ha, dan di bawah normal 1.500 l/ha. Dosis pupuk anorganik yaitu dosis rekomendasi Balitsa dan setengah dosis Balitsa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah acak kelompok dengan 4 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan biokultur dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kentang. Hasil umbi paling tinggi dicapai dengan perlakuan pupuk kimia 180 kg N/ha + 92 kg P2O5/ha + 150 kg K2O/ha (rekomendasi Balitsa) + biokultur 2.000 l/ha, yaitu 15,30 kg/10,5 m2 (14,57 t/ha) tetapi tidak berbeda nyata dengan rekomendasi Balitsa tanpa biokultur yaitu 13,06 kg/10,5 m2 (12,43 t/ha).ABSTRACT. Nurtika, N., E. Sofiari, and G.A. Sopha. 2008. Effect of Bioculture and Anorganic Fertilizer on Growth and Yield of Potato Granola Variety. Experiment was carried out at Margahayu Experimental Garden, Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI), Lembang on Andisol soil type, 1,250 m asl from March until July 2006. The aim of this experiment was to observe the effect of combination of bioculture and anorganic fertilizer on the growth and yield of potato. The treatments consisted of 8 combinations of chemical fertilizer and bioculture. The chemical fertilizer dosage recommended by IVEGRI was 180 kg N/ha + 92 kg P2O5/ha + 150 kg K2O/ha. Dosages of bioculture i.e. normal 1,750 l/ha, upper 2,000 l/ha, and lower 1,500 l/ha. Dosages of anorganic fertilizers i.e. recommended dosage and half of recommended dosage of IVEGRI. The experiment was laid in a randomized block design with 8 treatments and 4 replications. The results indicated that the combination of bioculture 2,000 l/ha with 180 kg N/ha + 92 kg P2O5/ha + 150 kg K2O/ha (IVEGRI recommendation) gave the highest yield, i.e. 15.30 kg/10.5 m2 or equivalent to 14.57 t/ha and did not significantly different with the application of recommended fertilization by IVEGRI without bioculture with the yield of 13.06 kg/10.5 m2 or equal to 12.43 t/ha.
Penggunaan Spesies Kerabat Manggis sebagai Akar Ganda dan Model Sambung dalam Mempercepat Penyediaan dan Pertumbuhan Bibit Manggis Anwarudin syah, Muhammad Jawal
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Indonesia kaya akan spesies kerabat manggis dan banyak di antaranya yang memiliki sistem perakaran cukup baik. Penerapan akar ganda menggunakan spesies kerabat manggis untuk memperbaiki sistem perakaran manggis diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan semai manggis karena memiliki 2 sistem perakaran sehingga jumlah akar dan jangkauannya bertambah dan kemampuan menyerap hara meningkat. Penelitian pemanfaatan spesies kerabat manggis sebagai akar ganda dan model sambung dalam mempercepat penyediaan dan pertumbuhan bibit manggis dilakukan di Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok mulai bulan Januari sampai dengan Desember 2003, dalam rancangan acak kelompok faktorial dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah 7 spesies kerabat manggis yang terdiri dari Garcinia celebica, G. dulcis, G. phicorrhiza, G. porrecta, G. mangostana, kandis Pariaman, dan kandis Aripan. Faktor kedua adalah model penyambungan yang terdiri dari penyambungan model sisip dan model susuan. Peubah yang diamati meliputi persentase keberhasilan sambung dan pertumbuhan bibit (tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, diameter batang, dan berat kering tanaman). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan bibit manggis yang berakar ganda cenderung lebih baik daripada pertumbuhan bibit manggis akar tunggal, kecuali pada bibit manggis dengan akar ganda dari kandis Aripan dan G. phicorrhiza yang memiliki pertumbuhan kurang baik daripada manggis akar tunggal. Penyambungan model susuan cenderung lebih baik daripada model sisip.ABSTRACT. Jawal, M. Anwarudin Syah. 2008. The Use of Related Species of Garcinia as Double Rootstock and Grafting Model to Accelerate the Growth and the Availability of Mangosteen Seedling. The experiment was conducted in the Screenhouse of Indonesian Tropical Fruit Research Institute, Solok during January to December 2003, and arranged in a 7 x 2 factorial design with 3 replications. The first factor was related species of garcinia which consisted of Garcinia celebica, G. dulcis, G. phicorrhiza, G. porrecta, G. mangostana, kandis Pariaman, and kandis Aripan. While the second factor was grafting model i.e. cleft grafting and approach grafting. The variables observed were persentage of successful grafting, plant height, leaf number, leaf area, stem diameter, and plant dry weight. The results showed that the growth of mangosteen seedling with double rootstock was better than mangosteen seedling with single rootstock, except double rootstock using G. pichorrhiza and kandis Aripan. Meanwhile, approach grafting model was better than cleft grafting in accelerating the growth of mangosteen seedling.
Korelasi Kadar Hara Fosfor Daun dengan Produksi Tanaman Manggis Liferdi, Lukman; Poerwanto, R; Susila, A D; Idris, K; Mangku, I W
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Analisis daun dapat digunakan sebagai pedoman dalam mendiagnosis status hara dan rekomendasi pupuk pada tanaman manggis. Namun demikian, standar teknik pengambilan contoh daun harus ditentukan secara akurat. Umur daun adalah faktor utama dalam menentukan status hara tanaman buah-buahan. Daun yang tepat dijadikan contoh, yaitu ketika konsentrasi haranya mempunyai korelasi terbaik dengan pertumbuhan dan produksi. Konsentrasi hara mineral pada daun diamati pada 3 lokasi perkebunan manggis, yaitu Kabupaten Bogor, Tasikmalaya, dan Purwakarta mulai Mei 2003 sampai Mei 2004. Dua puluh pohon manggis dewasa yang relatif seragam dari masing-masing kebun diambil daunnya setiap bulan dan dianalisis kandungan P nya. Contoh daun diambil dari daun berumur 2 bulan setelah trubus dan seterusnya secara periodik hingga umur 10 bulan. Pengamatan produksi mencakup jumlah bunga yang mekar, jumlah bunga yang rontok, dan jumlah serta bobot buah per pohon. Sedangkan kualitas buah dilihat dari konsentrasi N,P, dan K dari masing-masing bagian buah dan padatan terlarut total. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi hara nitrogen, fosfor, dan kalium pada daun berkurang dengan bertambahnya umur. Pada daun asal Purwakarta, kadarnya lebih tinggi daripada Tasikmalaya dan Bogor serta berkorelasi positif dengan produksi. Korelasi konsentrasi P dari beberapa umur daun dengan produksi yang paling baik adalah daun umur 4 dan 5 bulan, dengan koefisien korelasi masing-masing di atas 0,7. Oleh karena itu, daun yang tepat sebagai alat diagnosis hara P untuk tanaman manggis adalah daun umur 4-5 bulan. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman dalam menyusun rekomendasi pemupukan untuk tanaman manggis.ABSTRACT. Liferdi, R. Poerwanto, A.D. Susila, K. Idris, and I.W. Mangku. 2008. Correlation Test of Leaf Phosphor Nutrient with Mangosteen Production. Leaf analysis can be used as a guide to diagnose nutritional status and as a fertilizer recommendation tool for mangosteen tree. Therefore, sampling technique of standard leaf sampled should be established acurately. Leaves age are the main important factor to estimate plant nutritional status. The best of leaf sampling was the one which has the best correlation between leaf nutrients concentration with growth and yield. Leaf nutrient concentration was investigated on the mangosteen production orchard, at Bogor, Tasikmalaya, and Purwakarta Regency. Twenty relatively uniform and representative mangosteen trees had been selected, and every month leaf sample was analyzed for P concentration. Leaves sample were taken at 2 months after flush and then periodically up to 10 moths. Observations were done for number of open flower, number of dropped flower, and number as well as weight of fruit per plant. While for fruit quality analysis was done on the TSS of the flesh and the N, P, and K content of fruit parts. The results showed that 4 and 5 months leaf age were the best to be used as a leaf sample to diagnose P status since it has the highest correlation (above 0.7) between P concentration in the leaf and mangosteen fruit production. Phosphor concentration on the leaves decreased with the age of leaves increased. Mangosteen leaves from Purwakarta contained more P than those from Tasikmalaya and Bogor. This results can be used as a guide to estimate fertilizers recommendations for mangosteen.
Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Paprika yang Ditanam pada Dua Tipe Konstruksi Rumah Plastik dan Dua Jenis Media Tanam Moekasan, Tonny Koestoni; Everaars, A; de Putter, H; Subhan, -; Adiyoga, Witono; Gunadi, N
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Percobaan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil tanaman paprika yang ditanam pada 2 tipe konstruksi rumah plastik dan 2 jenis media tanam, dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang (1.250 m dpl.), Jawa Barat dari bulan Mei 2004 sampai Februari 2005. Tanaman paprika ditanam pada 2 tipe konstruksi rumah plastik, yaitu (1) rumah plastik bambu dan (2) rumah plastik tipe kayu-metal. Jarak tanam yang digunakan pada masing-masing rumah plastik adalah 1,20x0,50 m. Dua jenis media tanam yaitu perlite dan arang sekam juga diteliti sebagai faktor perlakuan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok dan masing-masing kombinasi perlakuan diulang 6 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe konstruksi rumah plastik berpengaruh terhadap intensitas cahaya matahari yang dapat diintersepsi di rumah plastik dan rumah plastik tipe kayu-metal dapat mengintersepsi cahaya matahari 12,6% lebih tinggi daripada rumah plastik bambu. Bobot dan jumlah buah per tanaman dari tanaman paprika yang ditanam di rumah plastik tipe kayu-metal lebih tinggi daripada tanaman paprika yang ditanam di rumah plastik bambu. Tanaman paprika yang ditanam di media tanam arang sekam memberikan bobot dan jumlah buah per tanaman paprika lebih tinggi daripada media tanam perlite. Untuk mengatasi temperatur terlalu tinggi di rumah plastik tipe kayu-metal dapat dilakukan dengan membuat ventilasi di atap dan dengan cara menambah populasi tanaman.ABSTRACT. Gunadi, N., T.K. Moekasan, A. Everaarts, H. de Putter, Subhan, and W. Adiyoga. 2008. The Growth and Yield of Sweet Pepper Planted on Two Types of Plastichouse Construction and Two Kinds of Growing Media. An experiment to determine the growth and yield of sweet pepper grown in 2 different plastichouse constructions and 2 growing media was conducted at the field experiment of Indonesian Vegetable Research Institute, Lembang (1,250 m asl.), West Java from May 2004 to February 2005. Sweet pepper plants were grown at 2 different plastichouse constructions i.e. (1) bamboo plastichouse and (2) wood-metal type plastichouse. Plant spacing in each plastichouse was 1.20x0.50 m. Two planting media i.e. perlite and rice husk were also evaluated as the treatment factor. The experiment was arranged in a randomized complete block design and each treatment combination was replicated 6 times. The results indicated that plastichouse construction affected the light intensity intercepted in each plastichouse and the wood-metal type plastichouse intercepted light 12.6% higher than that in the bamboo plastichouse. Fruit weight and fruit number per plant of sweet pepper grown at the wood-metal type plastichouse were higher than those of grown at the bamboo plastichouse. Sweet pepper plant grown in rice husk growing media gave higher either fruit weight or fruit number per plant than those grown in perlite. In order to reduce the high temperature occurred in the wood-metal type plastichouse, ventilation could be provided on the roof or increasing the plant population.
Pengaruh KNO3 dan (NH4)2SO4 terhadap Pertumbuhan Bibit Anggrek Vanda Widiastoety, Dyah
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sumber nitrogen antara KNO3 dan (NH4)2SO4 terhadap pertumbuhan bibit anggrek Vanda. Unsur N diperlukan untuk pertumbuhan vegetatif. Penelitian dilaksanakan di Rumah Sere Balai Penelitian Tanaman Hias di Pasarminggu, mulai bulan November 2006 sampai dengan Mei 2007. Bahan penelitian yang digunakan adalah bibit anggrek Vanda dengan ukuran tinggi 3 cm dan jumlah daun 5 helai. Media tumbuh yang digunakan adalah arang dan sabut kelapa. Metodologi penelitian yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah 0 (kontrol), 0,4%, 0,5%, dan 0,6% KNO3, 0,4%, 0,5%, dan 0,6% (NH4)2SO4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan KNO3 0,5% memperlihatkan pertumbuhan tinggi bibit, panjang daun, lebar daun, luas daun, jumlah daun, dan jumlah akar paling baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Penggunaan KNO3 sebagai sumber nitrogen lebih baik bila dibandingkan dengan (NH4)2SO4 pada pertumbuhan anggrek Vanda.ABSTRACT. Widiastoety, D. 2008. The Effect of KNO3 and (NH4)2SO4 on the Growth of Vanda Seedling. The objective of the research was to determine the nitrogen sources from KNO3 and (NH4)2SO4 on the growth of Vanda seedling. N nutrient is needed for vegetative growth. The experiment was conducted in the Greenhouse of Indonesian Ornamental Crops Research Institute at Pasarminggu, from November 2006 to May 2007. Vanda seedlings used in the experiment were 3 cm of height with initially had 5 leaves. The seedlings were grown on the media of charcoal and coconut husk mixture. The experiment was arranged in a randomized block design with 7 treatments and 4 replications. The treatments were control, 0.4%, 0.5%, and 0.6% KNO3, 0.4%, 0.5%, and 0.6% (NH4)2SO4. The results showed that 0.5% KNO3 indicated the best growth of leaf length, leaf width, leaf area, leaf number, and root number compared to other treatments. The use of KNO3 as nitrogen source was better than (NH4)2SO4 on the growth of Vanda seedling.
Insidensi dan Intensitas Serangan Penyakit Karat Putih pada Beberapa Klon Krisan Rahardjo, I B; Suhardi, -
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penyakit karat putih adalah salah satu kendala dalam meningkatkan produksi bunga krisan. Penyakit karat putih pada tanaman krisan disebabkan oleh cendawan Puccinia horiana. Salah satu alternatif pengendalian adalah menggunakan varietas resisten. Tujuan penelitian adalah mengetahui insidensi dan intensitas penyakit karat putih pada klon-klon krisan. Penelitian dilakukan di Rumah Plastik Balai Penelitian Tanaman Hias di Segunung (1.100 m dpl.), sejak bulan September 2002 sampai Februari 2003. Pada penelitian ini dievaluasi sebanyak 13 klon harapan krisan hasil seleksi tahun 2000. Perlakuan terdiri 13 klon harapan krisan yaitu klon nomor 116.44, 116.53, 116.57, 125.14, 130.8, 131.1, 133.59, 133.7, 133.95, 135.6, 136.1, 136.11, 150.4, var. Saraswati, dan var. White Reagent, menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klon nomor 136.10 adalah klon yang memiliki sifat baik, paling lambat terinfeksi penyakit karat (133 HST), pada 15 MST paling rendah insiden penyakitnya (12,67%). Intensitas serangan kedua terendah (5,08%) setelah klon nomor 133.95 (4,6%), dan intensitas penyakit waktu panen juga rendah (4,44%).ABSTRACT. Rahardjo I.B. and Suhardi. 2008. Incidence and Intensity of White Rust Disease on Several Chrysanthemum Clones. White rust disease is one of constrain in increasing the production of chrysanthemum flower. White rust disease on chrysanthemum caused by Puccinia horiana. One of the control alternative was the use of resistant variety. The aim of the experiment was to know incidence and disease intensity of white rust on chrysanthemum clones. The experiment was done in Plastichouse at Indonesian Ornamental Crop Research Institute, Segunung (1.100 m asl), from September 2002 to February 2003. Evaluations were done on 13 chrysanthemum promising clones from selection in 2000. The treatments consisted of 13 chrysanthemum promising clones namely : 116.44, 116.53, 116.57, 125.14, 130.8, 131.1, 133.59, 133.7, 133.95, 135.6, 136.1, 136.11, 150.4, var. Saraswati, and var. White Reagent. RCBD with 3 replications were used in this experiment. The results of the experiment showed that clone 136.10 indicated good characteristic, with latest of disease infection (133 days after planting), lowest disease incidence at 15 weeks after planting (12.67%), and the second lowest for disease intensity (5.08%) after clone 133.95 (4.6%). While clone 136.10 showed lowest disease intensity on harvesting time (4.44%).
Efikasi Pestisida Biorasional untuk Mengendalikan Thrips palmi Karny pada Tanaman Kentang Suryaningsih, E
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Dalam upaya untuk mendapatkan pestisida alternatif, percobaan lapangan telah dikerjakan di Kebun Percobaan Margahayu (elevasi 1.250 m dpl), Lembang, Jawa Barat dari bulan Oktober 2001 sampai Januari 2002. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok, 12 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari pestisida biorasional Phrogonal 866, 666, 466, Phronical 826, 626, 426, 846, 646, 446, Agonal 866, dan pestisida sintetis Deltametrin 2.5 EC. Hasil percobaan menunjukkan bahwa semua pestisida biorasional sama efektifnya dibandingkan dengan Deltametrin 2.5 EC konsentrasi 0,25%. Hasil penelitian ini paralel dengan hasil-hasil penelitian tentang pestisida biorasional lainnya, dengan sangat kuat memberi indikasi bahwa pestisida biorasional yang berasal dari tumbuhan akan mampu menggantikan posisi pestisida sintetik dalam mengendalikan T. palmi untuk mengurangi penggunaan pestisida sintetik pada budidaya kentang.ABSTRACT. Suryaningsih, E. 2008 . The Efficacy of Biorational Pesticides to Control ontrol Thrips palmi Karny on Potato Plant . In order to investigate an alternative pesticide, namely biorational pesticides, field experiment was conducted at Margahayu Research Station (elevation 1,250 m asl), Lembang, West Java, from October 2001 until January 2002. The treatments was laid in a randomized block design, with 3 replications. The treatments were biorational pesticides Phrogonal 866, 666, 466, Phronical 826, 626, 426, 846, 646, 446, Agonal 866, and syntetic pesticides Deltamethrin 2.5 EC. The results of the experiment showed that all of the biorationals tested were found to be as effective as Deltamethrin 2.5 EC (0.25%) in controlling T. palmi on potato. However, biorationals consisting A. indica, T. candida, and N. tabacum in higher portion gave higher efficacy compared with synthetic insecticide Deltamethrin 2.5 EC. The results of this experiment were in line with the results of other biorational pesticide experiments, which was strongly gave indication that biorational pesticides derived from plants would be able to replace synthetic pesticides in controlling T. palmi, and to reduce the quantity of synthetic pesticide application on potato cultivation.

Page 1 of 3 | Total Record : 30


Filter by Year

2008 2008


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue