cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016" : 14 Documents clear
Mengatasi Cemaran Getah Kuning pada Buah Manggis (Garcinia mangostana) dengan Aplikasi Kalsium dan Teknologi Lubang Resapan Biopori Kurniadinata, Odit Ferry; Poerwanto, Roedhy; Efendi, Darda; Wachjar, Ade
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n1.2016.p59-66

Abstract

[The Effect of Calcium and Bio-Pores Absorption Holes Technology to Reduce Yellow Sap Contamination in Mangosteen (Garcinia mangostana)]Cemaran getah kuning pada buah manggis akan menurunkan kualitas buah. Cemaran getah kuning terjadi pada saat getah mencemari permukaan kulit buah atau aril akibat pecahnya saluran getah kuning. Pecahnya saluran getah kuning berkaitan dengan keberadaan kalsium dalam pericarp buah. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendapatkan dosis dan sumber kalsium terbaik dan efisien dalam menurunkan cemaran getah kuning pada buah manggis, (2) mengetahui pengaruh lubang resapan biopori di dalam usaha mengatasi cemaran getah kuning pada buah manggis, dan (3) mengetahui kombinasi terbaik dari aplikasi kalsium dan lubang resapan biopori untuk meningkatkan serapan dan translokasi kalsium ke buah dan dapat menanggulangi cemaran getah kuning pada buah manggis. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) pemberian kalsium, baik bersumber dari dolomit maupun kalsit, mampu menurunkan cemaran getah kuning pada aril maupun kulit buah manggis, (2) berdasarkan efisiensi dan efektifitas maka dosis pupuk kalsium sebesar 1,6 kg kalsium kalsit/pohon/tahun menjadi dosis terbaik dalam mengatasi cemaran getah kuning, (3) teknologi lubang resapan biopori dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan akar muda yang selanjutnya dapat meningkatkan serapan kalsium dan menurunkan cemaran getah kuning setelah 2 tahun aplikasi, (4) kombinasi 1,6 kg kalsium kalsit/pohon/tahun dengan teknologi lubang resapan biopori (LRB) merupakan teknik yang efektif dan mampu meningkatkan persentase produksi buah manggis berkualitas bebas cemaran getah kuning.KeywordsGetah kuning; Manggis; Kalsium; Xylem; Pita kaspari; Biopori; AkarAbstractThe yellow sap contamination caused poor quality of mangosteen fruit. Yellow sap will be an issue when the sap is contaminating the surface of the fruit or aryl caused by the break of yellow sap channels. The break of yellow sap channel is associated with the low concentration of calcium in the fruit pericarp. The study was aimed to: (1) obtain the optimum dose and source of calcium, (2) determine the effect of biopore on efforts to increase the abundance of calcium uptake and translocation to the optimization of calcium in the mangosteen fruit, and (3) determine the best combination of application calcium and biopore to increase the uptake and translocation of calcium to fruit and can cope with yellow sap contamination in the mangosteen fruit. The results show that calcium sources, both of dolomite and calcite, are able to reduce contamination of yellow sap on aryl or mangosteen rind. Based on efficiency and effectiveness, 1.6 kg calcium calcite/tree/year is the best dose to reduce yellow sap contamination. Biopore affects the increase in calcium uptake into fruit pericarp tissues indirectly. The application of 1.6 kg calcium calcite/tree/year and biopore is an effective and easy to apply and is able to increase the percentage of the mangosteen fruit with yellow sap contaminant free.
Optimasi Metode Cryotherapy untuk Mengeliminasi Virus pada Tunas Kentang In Vitro (Optimation of Cryotherapy Method to Eliminate Virus on In Vitro Potato Shoot Tips) Ida Ayu Astarini; Angel Chappell; Douglas Scheuring; Sean Michael Thompson; Julian Creighton Miller Jr.
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n1.2016.p97-102

Abstract

Penggunaan benih kentang generasi awal dan bebas virus merupakan kunci keberhasilan produksi kentang berkualitas. Cryotherapy (perendaman dalam nitrogen cair) merupakan teknik terbaru untuk mengeliminasi virus pada benih kentang. Salah satu kendala dalam penerapan teknologi cryotherapy ialah tingkat daya hidup eksplan yang masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas teknik enkapsulasi-dehidrasi untuk mendapatkan tunas yang sehat setelah perendaman dalam nitrogen cair. Ujung tunas in vitro ukuran 2–3 mm dari empat genotipe kentang di prakultur selama 3 hari secara bertahap pada media MS dengan penambahan gula 0,25 M, 0,5 M, dan 0, 75 M. Kemudian tunas dienkapsulasi, didehidrasi selama 5 jam, lalu direndam dalam nitrogen cair selama 60 menit lalu dihangatkan kembali dalam waterbath selama 3 menit. Tunas dalam kapsul kemudian dikulturkan pada media MS +30 g/l sukrosa + 8 g/l agar + 0,4 mg/l BAP + 1 mg/l GA3 untuk pemulihan, lalu dipelihara di ruang kultur dengan suhu 24oC. Daya hidup ujung tunas diamati pada minggu ke-8 dengan menggunakan kriteria skoring sebagai berikut: (1) pemutihan jaringan dan tidak ada respons pertumbuhan, (2) kalus mencokelat, (3) kalus hijau, (4) tumbuh tunas, dan (5) planlet sehat. Hasil penelitian menunjukkan daya hidup ujung tunas bervariasi antargenotipe. Skor daya hidup berkisar 1–2 (frekuensi 2–10) pada perlakuan nitrogen cair, yang menunjukkan tidak ada respons pertumbuhan tunas, beberapa memperlihatkan pertumbuhan kalus. Tunas pada perlakuan kontrol (tanpa perendaman dalam nitrogen cair) menunjukkan skor daya hidup 5 (frekuensi 1–7), di mana ujung tunas mampu beregenerasi menjadi planlet.KeywordsCryopreservation; Solanum tuberosum; Kultur jaringan tanaman; Eliminasi virusAbstractVirus-free, early generation seed is a key in the production of high quality potatoes. Cryotherapy (exposure to liquid nitrogen) is a new and promising method of virus elimination. One bottleneck in cryotheraphy method is survival of the explants after treatment with liquid nitrogen. This study investigated the effectiveness of enkapsulasi-dehidrasi method to obtain survival explants. Shoot tips were precultured for 3 days in MS media with sucrose addition of 0.25 M, 0.5 M and 0.75 M. Shoot tips were then encapsulate, dehydrate for 5 hours, expose to liquid nitrogen for 60 minutes and rewarm in waterbath for 3 minutes. Beads with shoot tips were then cultured in MS media + 30 g/l sucrose + 8 g/l agar + 0.4 mg/l BAP + 1 mg/l GA3 for recovery, and placed in 24oC culture room. Shoot tip survival was assessed at 8 weeks using the following scoring criteria: (1) tissue bleaching and no growth response, (2) brown callus, (3) green callus, (4) shoot growth, and (5) plantlet establishment. Survival was varied among genotypes. Survival scored between 1–2 (frequency 2–10) on liquid nitrogen treatment, showing shoot tips are mostly has no growth response, only some callus growth. Shoot tips on control treatment (without exposure in liquid nitrogen) shows survival scored 5 (frequency 1–7), i.e. shoot tips able to regenerate into plantlets.
Tanggap Empat Varietas Paprika (Capsicum annuum var. Grossum) terhadap Jumlah Cabang Berbeda di Dataran Tinggi Lembang, Jawa Barat Nikardi Gunadi
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n1.2016.p67-80

Abstract

(Response of Four Sweet Pepper (Capsicum annuum var. Grossum) Varieties to Different Stem Number Per Plant Grown in the Highland of Lembang, West Java)Pada saat ini, beberapa varietas paprika baru telah tersedia sebagai pilihan alternatif petani. Setiap varietas paprika mempunyai tipe pertumbuhan dan kapasitas masing-masing dalam memproduksi buahnya. Di Indonesia, penelitian tentang pengaruh jumlah cabang per tanaman baru dilakukan pada beberapa varietas saja tetapi pada varietas paprika lainnya belum dilakukan.Penelitian dengan tujuan mengetahui tanggap empat varietas paprika (Capsicum annuum var. Grossum) terhadap jumlah cabang berbeda telah dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang (1.250 m dpl.), Jawa Barat dari bulan April sampai bulan Desember 2010. Dua faktor perlakuan yang dicoba pada penelitian ini, yaitu (1) jumlah cabang per tanaman (dua, tiga, dan empat cabang), dan (2) varietas (Spider, E 41.9560, Zamboni, dan Inspiration). Kombinasi perlakuan tersebut diatur dengan menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah cabang per tanaman berpengaruh nyata terhadap hasil paprika dan tanaman paprika dengan tiga cabang per tanaman memberikan hasil total dan kelas buah >200 g tertinggi yang berbeda nyata dengan tanaman paprika dengan dua dan empat cabang per tanaman. Rerata hasil total paprika dengan tiga cabang per tanaman ialah 19% lebih tinggi daripada dengan dua cabang per tanaman dan 15% lebih tinggi daripada dengan empat cabang per tanaman. Pada kelas buah >200 g, tanaman paprika yang ditanam dengan tiga cabang per tanaman berturut-turut 16% dan 19% lebih tinggi daripada tanaman paprika yang ditanam dengan dua dan empat cabang per tanaman. Hasil paprika tidak berbeda nyata di antara keempat varietas yang dicoba dan rerata hasil total paprika pada percobaan ini ialah 12,05 kg/m2. Rerata bobot buah varietas E 41.9560 tertinggi yang berbeda nyata dibandingkan dengan rerata bobot buah ketiga varietas lainnya. Rerata bobot buah yang tertinggi kedua ditunjukkan oleh varietas Zamboni, kemudian diikuti oleh varietas Inspiration dan Spider. Rerata bobot buah dari varietas E 41.9560, Zamboni, Inspiration, dan Spider berturut-turut 250, 231, 220, dan 205 g. Hasil penelitian ini merekomendasikan bahwa apabila yang diinginkan buah dengan ukuran besar maka varietas E 41.9560 atau Zamboni yang ditanam, sedangkan bila yang diinginkan buah dengan ukuran sedang maka varietas Spider atau Inspiration yang ditanam. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai rekomendasi untuk pemilihan varietas dan teknik budidaya paprika dalam kondisi rumah plastik di dataran tinggi.KeywordsCapsicum annuum var. Grossum; Jumlah cabang; Varietas; HasilAbstractAt present, several new sweet pepper varieties are available as the alternative options for farmers. Each variety has its own characters in terms of growth type and the capacity of fruit production. In Indonesia, research on the effect of number of stems per plant were carried out only on limited varieties and not yet on the new varieties. An experiment with the aims at determining the response of four sweet pepper (Capsicum annuum var. Grossum) varieties to different stem number per plant was conducted at the field experiment of Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI), Lembang (1,250 m asl.), West Java from April to December 2010. Two factor treatments were determined i.e. (1) number of stem per plant (two, three, and four stems), and (2) varieties (Spider, E 41.9560, Zamboni, and Inspiration). The treatment combinations were arranged in a randomized complete block design with three replications. The results indicated that the number of stem per plant significantly affected total yields and plants grown with three stems per plant gave highest total yields and yield of class >200 g as compared to plants grown with two and four stems per plant. In average, the total yields of plants grown with three stems per plant were 19% higher than those of plants grown with two stems per plant and 15% higher than those of plants grown with four stems per plant. In class >200 g, plants grown with three stems per plant gave 16% and 19% higher yields than plants grown with two and four stems per plant, respectively. In this experiment, the total yields were not significantly different between varieties and in average the total yields were 12.05 kg/m2. Mean fruit weight of E 41.9560 was significantly highest compared to those of other varieties. The second highest of mean fruit weight was indicated by Zamboni, followed by Inspiration and Spider. Mean fruit weight of E 41.9560, Zamboni, Inspiration, and Spider were 250, 231, 220, and 205 g, respectively. The results suggest that to obtain relatively big size fruit, E 41.9560 or Zamboni is recommended, however, in order to obtain relatively medium size fruit, Spider or Inspiration is recommended. The results can be used as a recommendation in variety selection and growing technique of sweet pepper grown under plastic house.
Potensi Campuran Spodoptera exigua Nucleopolyhedrovirus (SeNPV) dengan Insektisida Botani untuk Meningkatkan Mortalitas Ulat Bawang Spodoptera exigua (Hubner) (Lepidoptera: Noctuidae) di Laboratorium Luluk Sutji Marhaen; Fahmi Aprianto; Ahsol Hasyim; Liferdi Lukman
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n1.2016.p103-112

Abstract

[Potential Mixtures Between SeNPV with Botanical Insecticides to Increase Larvae Mortality of Spodoptera exigua (Hubner) (Lepidoptera: Noctuidae) in Laboratory]Hama Spodoptera exigua (Hübner) (Lepidoptera: Noctuidae) merupakan hama penting pada tanaman bawang di Indonesia. Pengendalian hama ini dengan insektisida kimia sintetik tidak memuaskan, bahkan telah menyebabkan hama menjadi resisten. SeNPV bila diaplikasikan secara tunggal untuk pengendalian hama S. exigua hasilnya masih kurang memuaskan. Namun, diharapkan SeNPV bila dicampurkan dengan insektisida botani dapat memberikan hasil yang lebih baik untuk mengendalikan hama S. exigua. Penelitian bertujuan mengetahui potensi campuran SeNPV dengan insektisida botani terhadap mortalitas larva S. exigua instar 3 di laboratorium. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Entomologi Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang ( ± 1.250 m dpl.), mulai bulan Juli sampai Oktober 2014. Larva S. exigua dikumpulkan dari pertanaman petani bawang merah di daerah Cirebon, Jawa Barat dan diperbanyak di Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Penelitian dilaksanakan dalam dua tahap kegiatan, yaitu (1) uji pendahuluan dosis SeNPV dan empat jenis ekstrak tumbuhan, yaitu legundi (Vitex trifolia Linn.), serai wangi (Cymbopogon nardus), daun jeruk purut (Citrus hystrix DC), ubi gadung (Dioscorea hispida) dan (2) uji campuran beberapa dosis SeNPV dengan dosis sublethal dari ekstrak daun legundi (Vitex trifolia Linn.). Rancangan percobaan yang digunakan ialah rancangan acak lengkap yang terdiri atas enam perlakuan dan empat ulangan. Mortalitas larva S. exigua diamati mulai 24 jam sampai dengan 168 jam setelah perlakuan. Data mortalitas larva diolah menggunakan analisis probit untuk menetapkan nilai LC50. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai LC50 SeNPV sebesar 424,67 ppm dan dari empat ekstrak insektisida botani yang terendah diperoleh dari insektisida daun legundi, yaitu 2.199, 277 ppm. Berdasarkan nilai LC50 campuran SeNPV dengan insektisida botani daun legundi menunjukkan efektivitas sinergistik dan meningkatkan efikasi 12,24 kali lipat jika dibandingkan dengan SeNPV secara tunggal. Kombinasi SeNPV dengan ekstrak daun legundi konsentrasi sublethal dapat meningkatkan efikasi virus SeNPV dalam mengendalikan S. exigua.KeywordsSpodoptera exigua; SeNPV; Vitex trifolia; Sinergisme; Mortalitas larvaAbstractThe beet armyworm, Spodoptera exigua (Lepidoptera: Noctuidae) is a serious pest of shallot in Indonesia. Chemical methods have failed to control this pest as this has developed resistance to almost all synthetic insecticides available. SeNPV effectiveness when applied singly for S. exigua result is still unsatisfactory, but it is expected when SeNPV mixed with botanical insecticides give satisfactory result to control S. exigua. The aim of the study was to determine the potential of SeNPV with botanical insecticides to control third instars of S. exigua larvae under laboratory condition. This study has been conducted at Indonesian Vegetables Research Institute Lembang (±1,250 m asl), from July to October 2014. Sample of S. exigua larvae were collected from farmers’ field in Cirebon, West Java and mass production done in a screen house. Two bioassay steps were performed i.e. (1) preliminary test of SeNPV doses and botanical insecticides doses of extract of Vitex trifolia leaves, extract of Citronelol leaves (Cymbopogon nardus), extract of kaffir lime leaves (Citrus hystrix DC), extract of Dioscorea hispida tuber and (2) the combination of several doses of SeNPV and sublethal doses of extract of Vitex trifolia leaves. The experimental design used completely randomized design consist of six treatments and four replications. Mortality of S. exigua larvae was observed at 24 hours after exposures and repeatedly every 24 hours up to 168 hours of exposures. The mortality data was analyzed using probit analysis to determine the LC50 values. The analysis showed that the LC50 value of the lowest SeNPV is 424,67 ppm, and from four extracts botanical insecticide the lowest LC50 derived from extract of Vitex trifolia leaves namely 2,199, 277 ppm. Based on LC50 value of SeNPV mix with extract of Vitex trifolia leaves demonstrate the effectiveness of the synergistic and 12.24 fold increased their efficacy when compared to SeNPV singly. SeNPV in combination with sublethal concentration of extract of Vitex trifolia leaves can be increasing the efficacy of SeNPV in controlling S. exigua.
Analisis Lokus dan Keragaman Sumber Daya Genetik Durian (Durio sp.) Berdasarkan Marka Mikrosatelit [Loci Analysis and Diversity of Durian (Durio sp.) Germplasm Based on Microsatellite Markers] Panca Jarot Santoso; Andisa Granitia; Ni Luh Putu Indriyani; Adi Pancoro
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n1.2016.p9-20

Abstract

Durian merupakan salah satu tanaman buah asli Indonesia dengan tingkat keragaman genetik yang tinggi. Informasi keragaman genetik durian diperlukan untuk mendukung kegiatan perbaikan varietas. Penelitian ini bertujuan mempelajari karakteristik 10 lokus mikrosatelit dan keragaman genetik tujuh populasi durian menggunakan marka mikrosatelit. DNA genom durian diisolasi dari sampel daun muda menggunakan protokol berbasis CTAB. Amplifikasi lokus mikrosatelit menggunakan teknik PCR berlabel fluorescent 6-FAM dan HEX. Analisis data dilakukan menggunakan program Genemarker 2.4.0, GenAlex 6.5, dan Cervus 3.0.3. Hasil analisis menunjukkan bahwa 10 lokus mikrosatelit yang diuji memiliki polimorfisme dan tingkat informatifitas beragam dari tingkat rendah sampai tinggi. Dua lokus DzMTa005 dan DzMTa006 memiliki nilai PIC yang tinggi sehingga keduanya berpotensi sebagai penanda molekuler yang informatif. Analisis PCO secara intra-populasi menunjukkan distribusi alel cukup merata di antara 94 SDG durian yang digunakan. Sebaliknya, secara inter-populasi menunjukkan variasi genetik yang cukup tinggi, dan membuktikan bahwa Kalimantan sebagai pusat asal durian yang kemudian menyebar pada wilayah lainnya.KeywordsDurian; Marka mikrosatelit; Keragaman genetik; Durio sp.AbstractDurian is one of the fruit crops native to Indonesia which consists of highly genetic variation. Information regarding genetic variation of durian germplasm is required to support efforts of varietal improvement. This research was aimed to study the characteristic of 10 microsatellite loci and diversity of seven populations of durian germplasm using microsatellite markers. Durian genomic DNA was isolated from young leaf using CTAB based protocol. Amplification of microsatellite loci was conducted through 6-FAM and HEX fluorescent labeled PCR. Data were analysed using PC-softwares Genemarker 2.4.0, GenAlex 6.5, and Cervus. The result showed that 10 microsatellite loci tested demonstrated polymorphism with informativity values varied from low to high. Two loci, DzMTa005 and DzMTa006, have high PIC value, therefore both loci are potential as informative molecular markers. PCO analysis at intra-population showed allele distribution evenly amongst 94 durian germplasms used. At inter-population, however, they possessed high genetic variation and indicated that Kalimantan as the center of origin of durian which were then distributed to the other regions.
Pelengkungan Cabang dan Pemupukan Jeruk Keprok Borneo Prima pada Periode Transisi di Lahan Rawa Kabupaten Paser Kalimantan Timur Muhamad Noor Azizu; Roedhy Poerwanto; M. Rahmad Suhartanto; Ketty Suketi
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n1.2016.p81-88

Abstract

(Bending and Fertilization in Transition Period of Mandarin Citrus cv. Borneo Prima in Wetlands Paser Regency East Kalimantan)Jeruk keprok Borneo Prima (Citrus reticulata cv. Borneo Prima) merupakan komoditas lokal unggulan yang perlu dikembangkan sebagai upaya untuk mengurangi impor jeruk. Tanaman jeruk keprok Borneo Prima telah berumur 5 tahun, namun belum memasuki periode berbunga dan berbuah. Hal ini diduga karena kondisi lingkungan dan teknik budidaya yang belum sesuai. Tujuan penelitian ini ialah untuk mendapatkan teknik pelengkungan cabang dan dosis pupuk kandang yang tepat jeruk keprok Borneo Prima pada periode transisi di lahan rawa. Penelitian dilaksanakan di kebun jeruk petani Desa Padang Pengrapat, Kecamatan Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, di lahan rawa pada bulan Oktober 2013 sampai dengan Maret 2014, dengan rancangan acak kelompok faktorial dan tiga ulangan. Faktor pertama ialah pelengkungan cabang dengan dua taraf, yaitu tidak dilengkungkan dan dilengkungkan. Faktor kedua ialah dosis pupuk kandang dengan empat taraf, yaitu 0, 40, 60, dan 80 kg/tanaman. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pelengkungan cabang dapat menyebabkan tanaman jeruk keprok Borneo Prima yang berumur 5 tahun menjadi berbunga dan berbuah, sedangkan yang tidak dilengkungkan cabangnya tidak berbunga dan tidak berbuah. Selain itu pelengkungan cabang meningkatkan pertumbuhan vegetatif (jumlah tunas baru, total panjang tunas baru per pohon, dan total daun baru per pohon). Pemberian pupuk kandang sampai dengan 80 kg/tanaman pada periode transisi belum dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan generatif (jumlah bunga per cabang dan jumlah buah per cabang) sampai dengan 90 hari setelah perlakuan. Tidak terdapat interaksi antara pemberian pupuk kandang dan pelengkungan cabang terhadap pertumbuhan vegetatif dan generatif. Bunga pertama muncul dari cabang atau tunas yang terletak di bagian dalam tajuk lalu diikuti tajuk yang terletak di luar. Untuk membungakan tanaman jeruk keprok Borneo Prima yang telah memasuki periode transisi atau pada periode transisi dapat dilakukan pelengkungan cabang.KeywordsJuvenil; Lahan rawa; Pupuk kandang; JerukAbstractMandarin citrus cv. Borneo Prima (Citrus reticulata cv. Borneo Prima) is superior local variety that needs to be developed in order to reduce citrus import. This citrus are 5 years old at wetlands in Paser East Kalimantan, but the citrus crop has not entered a fruitful period. This is allegedly due to environmental conditions and cultivation techniques are not appropriate. The purpose of this research was to find out the bending technology and best manure rate fertilization on transition period of mandarin citrus cv. Borneo Prima at wetlands.The experiment was conducted from October 2013 to March 2014 in the citrus farm orchard in Village of Padang Pengrapat, Tanah Grogot, Paser, East Kalimantan. The research used randomized block design with three replication. The first factor is bending (without bending and bending) and the second factor is manure rate (0, 40, 60, and 80 kg/plant). The results showed that bending can cause into flowering and fruiting mandarin citrus plant cv. Borneo Prima 5 year old, whereas that is without bending branches not flowering and not fruiting, in addition to the bending branches increase vegetative growth (number of new shoots, the total length of new shoots per plant, and total new leaves per plant). Manure up to 80 kg/plant in the period of transition has not been able to increase the vegetative and generative growth (number of flowers per branch and the number of fruits per branch) to 90 days after treatment.There is no interaction effect between bending and manure rate for vegetative and generative growth mandarin citrus cv. Borneo Prima. The first flowers appear from the branches or shoots located inside the canopy and canopy followed that outside located. Lend at interest mandarin citrus plant cv. Borneo Prima which has entered a transition period or in the period of transition can be done bending branches.
Kemangkusan Kandidat Biofungisida Berbahan Aktif Bakteri Antagonis terhadap Fusarium oxysporum pada Phalaenopsis (Effectiveness of Biofungicide Candidate with Bacteria Active Ingredient Againts Fusarium oxysporum on Phalaenopsis) I Djatnika; nFN Hanudin; Wakiah Nuryani
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n1.2016.p121-132

Abstract

Layu fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum pada tanaman anggrek dapat menimbulkan kerusakan tanaman hingga mencapai 40%. Bakteri antagonis B 37 dan B 26 hasil isolasi dari tanaman anggrek efektif mengendalikan penyakit layu fusarium pada tanaman anggrek masing-masing sebesar 65,3 dan 48,9%. Isolat bakteri tersebut belum diidentifikasi, diuji kompatibilitasnya, dan diaplikasikan masih dalam bentuk biakan murni. Tujuan penelitian ini ialah: (a) mengidentifikasi secara biokimia isolat bakteri B 26 dan B 37, (b) mendapatkan formulasi bahan pembawa organik yang kompatibel dengan isolat bakteri B 26 dan atau B 37, serta (c) mengendalikan F. oxysporum pada tanaman anggrek Phalaenopsis dengan menggunakan kedua bakteri tersebut yang sudah dikemas dalam bahan pembawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) hasil identifikasi secara biokimia bakteri B 26 dan B 37 ialah Bacillus spp., (b) semua bahan aktif calon biopestisida (Bacillus spp. B 26 dan B 37) kompatibel terhadap bahan pembawa dari bahan alami yang mengandung karbohidrat dan protein minimal, tetapi kurang kompatibel pada media pembawa dari bahan alami yang mengandung karbohidrat dan protein optimal serta air steril, dan (c) perlakuan Bacillus spp. B26 atau B 37 dalam media pembawa yang mengandung karbohidrat dan protein minimal atau disuspensikan dalam air (disuspensikan dalam air setiap akan dilakukan perlakuan) yang diaplikasikan dengan merendam benih selama 1 jam yang kemudian diikuti dengan penyemprotan tanaman setiap 7 hari, efektif mengendalikan penyakit layu fusarium pada anggrek Phalaenopsis.KeywordsPhalaenopsis; Fusarium oxysporum; Identifikasi; Kemangkusan; BiopestisidaAbstractFusarium wilt caused by Fusarium oxysporum on orchid plants caused damage plants up to 40%. Antagonistics bacteria isolate B 37 and B 26 effectively control fusarium wilt on orchids respectively by 65.3 and 48.9%. The isolates has not been yet identified, tested for compatibility and are applied in the form of a pure culture. Purposes of the study were (a) identify bacteria isolates of B 26 and B37 biochemically, (b) obtain isolates of Bacillus spp. B 26 and or B 37 are compatible with the organic carrier, and (c) controlling of F. oxysporum on Phalaenopsis orchid plant by using both the bacteria that have been packaged in a carrier. The results showed that (a) results of biochemical identification, biopesticide active ingredient B 26 and B 37 concluded as bacteria of Bacillus spp., (b) all biopesticides active ingredient (Bacillus spp. B 26 and B 37) are compatible to the carrier material that contains carbohydrates and protein minimum, but not in carrier contains carbohydrates and protein optimum, as well in sterile water, and (c) the treatments of Bacillus spp. B 26 or B 37 were suspended in carrier of natural ingredients that contains carbohydrates and protein minimum or in sterile water (suspended in the water each will be treated) were applied by means of dipping of seedling for 1 hour and followed by spray on plants every 7 days, consistently suppress fusarium wilt on Phalaenopsis orchids.
Seleksi dan Adaptasi Empat Calon Varietas Unggul Buncis Tegak untuk Dataran Medium (Selection and Adaptation of Four Variety Candidates Superior Bush Bean Varieties for Medium Land) Diny Djuariah; Rini Rosliani; Helmi Kurniawan; Liferdi Lukman
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n1.2016.p49-58

Abstract

Buncis merupakan salah satu sayuran yang mempunyai peranan penting sebagai sumber gizi masyarakat dan sebagai sumber ekonomi. Rerata hasil buncis masih rendah (< 15 t/ha). Salah satu cara untuk meningkatkan produksi buncis baik kuantitas maupun kualitas, yaitu melalui penggunaan benih bermutu tinggi. Benih bermutu tinggi dapat berupa varietas unggul baru buncis tegak, yang sampai saat ini belum ada varietas yang didaftar. Skrining kultivar-kultivar buncis tegak telah dilakukan dan menghasilkan empat kultivar yang menunjukkan hasil yang baik. Hasil dari uji pendahuluan dan uji lanjutan menunjukkan ternyata buncis tegak cocok untuk dikembangkan di dataran medium dan dataran rendah sampai 200 m dpl. Oleh karena itu, sebagai syarat untuk pendaftaran varietas telah dilakukan uji keunggulan di tiga lokasi dataran medium dan dua musim tanam. Penelitian ini bertujuan mendapatkan varietas unggul buncis tegak untuk dataran medium, kualitas baik (seragam, renyah, dan polong hijau terang) dan produksi tinggi (> 20 t/ha). Rancangan percobaan yang digunakan ialah acak kelompok dengan enam perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan terdiri atas lima nomor yang diuji, yaitu Le - 02, Le - 44, Balitsa 1, Balitsa 2, dan Balitsa 3 serta BC 02 sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Balitsa 1, Balitsa 2, dan Balitsa 3 merupakan varietas unggul buncis tegak untuk dataran medium yang disukai konsumen dan produksi lebih besar, masing-masing 16,25 t/ha, 19,50 t/ha, dan 19,71 t/ha. Dari hasil kegiatan uji keunggulan ini didapat tiga calon varietas unggul buncis tegak berkualitas baik dan produksi tinggi dan beralasan untuk didaftarkan.KeywordsVarietas unggul; Buncis tegak; Seleksi dan adaptasi; Dataran mediumAbstractBush bean is one of vegetable crops as a sources of nutrient and valuable economically. Average yield is still low (<15 t/ha). Application of new superior varieties may be improve yield and quality of bush bean. From cultivar selection activities, it has been gained four new superior cultivars. Results from preliminary and further studies it was revealed that the new superior cultivars are suitable and adapted, and can be developed for both medium and low altitudes up to 200 m asl. Those new superior varieties were tested for multi-locations test at three different medium land for two planting seasons (rainy). The goal of these experiments is to find out the new superior varieties of bush beans for medium land which give high yield and quality (>15 t/ha). A randomized block design with four replications will be arranged in the field. Treatments comprised of four candidate of superior cultivars of bush beans, viz. Le-02, Le-44, Balitsa 1, Balitsa 2, and Balitsa 3 and BC 02 (control cultivars). The result showed that Balitsa 1, Balitsa 2 and Balitsa 3 the superior cultivars that are suitable for medium land and the yield > each production is 16,25 t/ha, 19,50 t/ha, and 19,71 t/ha. If can be concluded superior test, all list three candidat strains with high yield and qualities are suitable and reasonable to be released.
Pengaruh Naungan Plastik dan Fungisida Berbahan Aktif Asam Fosfit terhadap Perkembangan Penyakit dan Produksi Tomat (Effect of the Rain Shelters and Fungicide with Phosphorous Acid’s Ingredient on Diseases Infestation and Production of Tomatoes) Eli Korlina; Evy Latifah; Kuntoro Boga Andri
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n1.2016.p89-96

Abstract

Kendala utama yang dihadapi pada budidaya tomat di musim penghujan ialah serangan penyakit tanaman. Upaya yang telah dilakukan petani ialah dengan menggunakan fungisida. Salah satu alternatif cara pengendalian yang ramah lingkungan, yaitu penanaman tomat menggunakan naungan yang dikombinasikan dengan biofungisida. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Karangploso Malang, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur, pada bulan Desember 2013 sampai dengan April 2014, dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh naungan plastik dan fungisida berbahan aktif asam fosfit terhadap perkembangan penyakit dan produksi tomat. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama ialah sistem tanam (S) terdiri atas S0 (lahan terbuka) dan S1 (naungan plastik). Faktor kedua ialah jenis fungisida (F) terdiri atas F0 (tanpa fungisida) F1 (fungisida berbahan aktif asam fosfit), F2 (fungisida berbahan aktif azoxystrobin 200 g/l dan difenokonazol 125 g/l). Tiap kombinasi perlakuan diulang empat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naungan plastik dan fungisida tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman dan lebar kanopi), namun naungan plastik dan fungisida secara tunggal berpengaruh nyata terhadap perkembangan penyakit layu dan busuk kering. Jumlah dan bobot tomat yang diperoleh dari perlakuan di bawah naungan plastik maupun yang diperlakukan dengan fungisida berbahan aktif asam fosfit, lebih tinggi daripada perlakuan lainnya. Penerapan dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menekan penyakit tanaman tomat dan fungisida berbahan aktif asam fosfit dapat dijadikan substitusi fungisida yang sudah ada.KeywordsLycopersicon lycopersicum L; Naungan plastik; Asam fosfit; Penyakit tanaman; ProduksiAbstractThe major constraint of the tomato cultivation during the rainy season is plant diseases’s attack. Farmers have been using chemicals to cope it. Tomato cultivation using rain shelter combined with biofungicides is one of the environmentally friendly technology to control diseases. The study was conducted during December 2013 to April 2014 at Karangploso Experimental Field in Assessment Institute for Agriculture Technology in Malang, East Java. The aim of the study was to determine the effect of rain shelter and phosphorous acid fungicide active ingredient toward development of the tomato’s disease and production. Factorial randomized block design was used with the two factors. The first factor was planting system (S) i.e. S0 (open field) and S1 (rain shelter). The second factor was fungicides (F) i.e (F0 = without fungicide, F1 = the phosphorous acid fungicide active ingredient, and F2 = the fungicide active ingredient is azoxystrobin 200 g/l and difenokonazol 125 g/l). The results showed that the rain shelter and fungicides have no significant effect on plant growth (height and width of the canopy). It was found that the rain shelter as a single factor had affected the development of wilt and leaf spot diseases, significantly. The tomato production under the rain shelter with application active fungicide ingredient phosphorous acid was higher compared to other treatments. Result of this study is expected to be implemented in control of the tomato plant diseases.
Evaluasi Nilai Heterosis dan Heterobeltiosis Beberapa Persilangan Mentimun (Cucumis sativus L.) pada Berbagai Altitud [Evaluation of Heterosis and Heterobeltiosis Value of Some Cucumber Crosses (Cucumis sativus L.) at Different Altitude] Gungun Wiguna; Uun Sumpena
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n1.2016.p1-8

Abstract

Pemanfaatan efek heterosis dalam perakitan varietas hibrida sering dilakukan untuk meningkatkan produksi hasil pertanian. Identifikasi ekspresi heterosis dan heterobeltiosis dari suatu persilangan perlu dilakukan karena tidak semua persilangan memberikan efek heterosis dan heterobeltiosis yang dikehendaki. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kombinasi persilangan yang menunjukkan nilai heterosis dan heterobeltiosis terbaik untuk karakter kegenjahan, agronomi, dan daya hasil. Evaluasi nilai heterosis dan heterobeltiosis dilakukan terhadap 10 kombinasi persilangan dan lima galur tetua di dua lokasi dengan altitud yang berbeda (100 m dpl dan 1.250 m dpl). Penelitian dirancang menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Pengamatan dilakukan terhadap tinggi tanaman, jumlah ruas, jumlah cabang, umur panen pertama, jumlah buah per tanaman, berat buah per tanaman, berat per buah, panjang buah, dan diameter buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persilangan yang berumur genjah dengan nilai heterosis dan heterobeltiosis negatif dihasilkan oleh persilangan P2 x P5. Kombinasi persilangan yang memiliki potensi produksi tinggi dengan nilai heterosis dan heterobeltiosis positif dan tinggi di dataran tinggi maupun rendah dihasilkan oleh P2 x P5. Persilangan yang memiliki efek heterosis dan heterobeltiosis tinggi untuk beberapa karakter di dataran tinggi dihasilkan oleh P1 x P2. Persilangan yang memiliki efek heterosis dan heterobeltiosis tinggi untuk karakter agronomi di dataran rendah ialah P3 x P4. Ketiga persilangan tersebut dapat diuji lebih lanjut untuk menghasilkan varietas hibrida berumur genjah, karakter agronomi baik, dan produktivitas tinggi.KeywordsCucumis sativus; Heterosis; Heterobeltiosis; Persilangan dialelAbstractUtilization of heterosis effect in developing new hybrid is often done to increase agricultural production. Identification expression of heterosis and heterobeltiosis of a cross is necessary because not all crosses showed desired effect of heterosis and heterobeltiosis. The aims of this study was to identify the cross combinations showed best value of heterosis and heterobeltiosis for early maturity, agronomy, and yield characters. Evaluation of value of heterosis and heterobeltiosis performed on 10 cross combinations and five parental lines at two locations with different altitude (100 m asl and 1,250 m asl). The research was designed using randomized block design with three replications. Data of plant height, number of nodes, number of branches, the time to first harvest, number of fruits per plant, fruit weight per plant, weight per fruit, fruit length, and fruit diameter were collected. The results showed that early maturity cross with the negative value of heterosis and heterobeltiosis produced by cross of P2 x P5. Cross combination that had positive and high value of heterosis and heterobeltiosis for some character on upland generated by P2 x P5. Cross that had a good heterosis and heterobeltiosis effect for some characters in the upland generated by P1 x P2. Cross that had a good heterosis effect on the agronomic characters on lowland was generated by P3 x P4. The three crosses could be tested further for obtained early maturity, good agronomy character, and high yielding hybrid variety.

Page 1 of 2 | Total Record : 14


Filter by Year

2016 2016


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue