cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019" : 15 Documents clear
Karakterisasi dan Keragaan Pertumbuhan Tiga Klon Cabai Merah (Capsicum annuum L.) Lokal (Characterization and Growth Performance of Three Clone of Local Hot Pepper) Agustina Erlinda Marpaung; Susilawati Barus; Darkam Musaddad
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n1.2019.p33-44

Abstract

Cabai merah merupakan komoditas sayuran utama yang memiliki nilai permintaan tinggi di masyarakat Indonesia sehingga ketersediaannya harus terus dilakukan termasuk upaya peningkatan produksi. Penggunaan varietas unggul spesifik lokasi memberi kontribusi cukup besar terhadap peningkatan produksi sayuran secara nasional. Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan keragaan pertumbuhan tiga varietas cabai merah lokal spesifik lokasi termasuk melihat keunggulannya dibandingkan dengan cabai merah varietas lainnya yang sudah beredar di pasar. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Berastagi, Kecamatan Dolat Rayat, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, dengan ketinggian tempat 1.340 m dpl dan jenis tanah Andisol. Kegiatan dilakukan sejak bulan Juni 2015 sampai dengan Maret 2016. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan lima kali ulangan. Kegiatan yang dilakukan meliputi karakterisasi dan keragaan pertumbuhan tanaman tiga cabai merah calon varietas lokal (Batang Ungu, Batang Ungu-Hijau, Batang Hijau) dan pembanding (Kencana dan Rampati). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga cabai merah varietas lokal memiliki perbedaan pada umur masa pertumbuhan. Pertumbuhan vegetatif cabai merah Batang Ungu dan Batang Ungu-Hijau berlangsung sampai umur 9 bulan setelah tanam, sedangkan cabai merah Batang Hijau hanya sampai umur 7 BST. Penampilan secara visual tanaman cabai merah Batang Ungu, Batang Ungu-Hijau, dan Rampati lebih tinggi, sedangkan cabai merah Batang Hijau lebih rendah namun diameter kanopi lebih lebar, sedangkan cabai merah Kencana lebih sempit. Waktu mulai berproduksi cabai merah Batang Ungu dan Batang Ungu-Hijau 1 bulan lebih lama dibandingkan cabai merah lainnya. Hasil per tanaman secara umum menunjukkan bahwa cabai merah Batang Ungu lebih tinggi dibandingkan dengan batang Ungu-Hijau, Batang Hijau, Rampati, dan Kencana, di mana total hasil per tanaman secara berurutan masing-masing adalah 1.183,15 g; 1.036,56 g; 700,55 g; 809,88 g ,dan 365,12 g. Hasil uji preferensi terhadap tanaman cabai merah di lapangan memperlihatkan bahwa cabai merah Batang Ungu dan Batang Ungu-Hijau memiliki tampilan keseluruhan dan bentuk/warna daun yang sangat bagus, sedangkan untuk kriteria tinggi tanaman, luas kanopi/tajuk, dan jumlah cabang tergolong bagus. Cabai merah Batang Hijau untuk setiap kriteria tergolong baik. Hasil uji preferensi terhadap buah cabai merah memperlihatkan bahwa cabai merah Batang Ungu, Batang Ungu-Hijau, Batang Hijau, dan varietas Kencana tergolong baik dilihat dari tampilan keseluruhan, yaitu ukuran, warna, bentuk, dan tekstur kulit buah.KeywordsCapsicum annum L.; Karakterisasi; Pertumbuhan; Hasil; Spesifik lokasiAbstractHot pepper is the main vegetable crops that have the highest demand value in Indonesian society, so that their availability should be continue to be made, including efforts to increase production. Using the best varieties specific location is giving a substantial contribution to the improvement of the national vegetable production. The research aims to identify characterize and performance of the growth of three varieties of local hot pepper specific locations including recognition its superiority compared to other varieties of hot pepper that have been released and are available in the market. The research conducted at Berastagi experimental farm, District Dolat Rayat, Karo, North Sumatera, with a height of 1,340 m above sea level (asl.) and the type of soil is Andisol, the activities conducted in June 2015 until March 2016. The design used was a randomized block design, consist of six treatments with five replications. The activities conducted on characterization and growth performance of three hot pepper plant local varieties (Purple Stems, Purple-Green Stems, Green Stem) and plant comparison (Rampati and Kencana). The result showed that three hot pepper local varieties differ in the age of infancy. Hot pepper vegetative growth of Purple Stems and Purple-Green Stems lasted until 9 month after planting (MAP), while the hot pepper Green Stem, growth only until the age of 7 MAP. Visual performance of hot pepper with Purple Stem, Purple-Green Stems, and Rampati variety have higher growth, the hot pepper Green Stems lower but the canopy diameter is wider, while the Kencana variety is narrower. The hot pepper Stems Purple And Purple-Green Stems harvest beginning one month longer than another. Generally, yielding per plant of hot pepper Purple Stem higher than the Purple-Green Stems, Green Stem, Rampati, and Kencana, where the total yield of each was 1,183.15 g; 1,036.56 g; 700.55 g; 809.88 g; and 365.12 g. The result of the preference for hot pepper plants in the field shows that hot pepper Stems Purple and Purple-Green Stems have the all performance and shape/color of the leaves is very good, while the criteria for plant height, diameter canopy, and the number of branches is quite good. Hot pepper Green Stem for each criterion is quite good. The result of the preference for hot peppers shows that hot pepper Stem Purple, Purple-Green Stems, Green Stems, and Kencana varieties quite good views from the overall appearance, size, color, shape, and texture of the skin of the fruit.
Efektivitas Pupuk Hayati Mikoriza Berbasis Azolla (Mikola) Pada Tanaman Bawang Merah (Effectiveness Of Biofertilizer Mycorrhiza Based Azolla (Mikola) On Shallot) Eny Rokhminarsi; Darini Sri Utami; nFN Begananda
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n1.2019.p45-52

Abstract

Bawang merah merupakan jenis sayuran umbi yang potensial secara ekonomi. Produksi dan harganya yang fluktuatif menjadikan komoditas ini perlu mendapat perhatian yang serius, khususnya untuk pengembangan budidayanya ke lahan marjinal yang masih luas di Indonesia. Tujuan penelitian adalah menerapkan bioteknologi pupuk hayati mikoriza spesifik lokasi lahan marjinal berbasis azolla (Mikola) dan pengurangan dosis pupuk anorganik pada budidaya tanaman bawang merah. Metode penelitian berupa percobaan pot di rumah plastik menggunakan rancangan Central Composit Second Order Design dengan 2 faktor. Faktor pertama, dosis pupuk Mikola yaitu 6, 12, 18, 24, 30 g tanaman-1 dan faktor kedua adalah pengurangan dosis pupuk anorganik Urea, ZA, SP 36 dan KCl yaitu 20%, 40%, 60%, 80% dan 100% dari dosis anjuran. Analisis dilakukan dengan metode Respon Surface Methodology (RSM) dengan model persamaan matematika : Yi= β0X0 + β1X1 + β2X2 + β11X1² 1+ β22X2² +β12X1X2 + εij dengan bantuan program minitab16. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa aplikasi pupuk Mikola pada budidaya tanaman bawang merah di pot dengan dosis 18 gram per tanaman dapat mengurangi pemakaian pupuk anorganik hingga 40% dari dosis rekomendasi dan meningkatkan hasil hingga 15%.KeywordsMikoriza, azolla, pupuk hayati, bawang merah, sayuranAbstractShallots is a kind of tuber vegetable economic potential. Production and the price fluctuating commodity makes it necessary for serious concer, particularly for the development of cultivation into marginal land that is still widespread in Indonesia. The objective of research was to apply of biofertilizer mycorrhizal marginal land of azolla based (Mikola) and dose reduction of inorganic fertilizers in the cultivation of shallot. The research was pot experiment using the Central Composite Second Order Design with 2 factors. The factors are the dose of Mikola namely 6, 12, 18, 24, 30 g plant-1 and reduction of Urea, ZA, SP 36, KCl i.e. 20%, 40%, 60%, 80% and 100% of recommended doses. The analysis using Response Surface Methodology, a mathematical equation: Yi= β0X0 + β1X1 + β2X2 + β11X1² 1+ β22X2² +β12X1X2 + εij. The conclusion showed that the application of Mikola fertilizers on the shallot planting with 18 grams per plant can eliminate the use of inorganic fertilizers up to 40% of the dose recommendation and increase the yield up to 15%.
Produksi Benih Kentang G0 Pada Berbagai Volume dan Frekuensi Fertigasi dengan Sistem Irigasi Tetes (Production of G0 Potato Seed on Many Fertigation Volumes and Frequencies on Drip Irrigation) Meksy Dianawati; Hilda Farida; Sri Muhartini
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n1.2019.p53-60

Abstract

Kentang merupakan sayuran yang memiliki prospek untuk mendukung program diversifikasi pangan. Akan tetapi saat ini produksi di dalam negeri masih rendah akibat penggunaan benih yang kurang bermutu. Sistem irigasi tetes berpeluang untuk diterapkan pada produksi benih kentang G0. Penelitian  bertujuan untuk mengetahui pengaruh frekuensi dan volume fertigasi terhadap produksi benih G0 kentang pada sistem irigasi tetes. Penelitian  dilaksanakan sejak bulan Mei sampai dengan September 2016 di Rumah Kassa Desa Cikahuripan, Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat dengan ketinggian 1.200 m dpl. Percobaan menggunakan rancangan petak terpisah (split plot design) dengan rancangan acak kelompok lengkap dan tiga ulangan. Sebagai petak utama adalah frekuensi fertigasi sebanyak 3, 5, dan 7 kali. Sebagai anak petak adalah volume fertigasi (ml) setiap aplikasi, yaitu 100, 200, 300, dan 400. Hasil penelitian menunjukkan tidak terjadi interaksi antara perlakuan frekuensi dan volume fertigasi terhadap semua peubah pengamatan. Frekuensi fertigasi terbaik terhadap bobot ubi per tanaman umur 100 HST adalah lima kali, yaitu jam 7, 10, 12, 14, dan 16. Volume fertigasi terbaik terhadap jumlah ubi ukuran besar umur 100 HST adalah 300 ml per aplikasi per polibag. Volume dan frekuensi fertigasi terbaik ini diharapkan tidak saja meningkatkan produksi benih, tetapi juga keuntungan usahatani yang diperoleh. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menginduksi pengumbian dengan mengalihkan ukuran ubi menjadi peningkatan jumlah ubi sebagai tujuan produksi benih G0.KeywordsSolanum tuberosum L.; Irigasi tetes; Fertigasi; Frekuensi; VolumeAbstractPotato is one of vegetables that can be used as an alternative to support food diversification programs. But the potato production domestically is still low because of low quality seed. One of the potato seed technologies that can be developed is arragement of fertigation volumes and frequencies on drip fertigation. The objective of this research was to determine the best fertigation volume and frequency in G0 potato seed production in drip irrigation. This research was conducted from May to September 2016 at Screen House Cikahuripan Village, Lembang, Bandung on 1,200 m asl. The treatments were arranged in split plot design with randomized complete block design and three replications. The main plot was fertigation frequency which was consisted of three levels; 3, 5, and 7 times per day. The subplot was fertigation volume which was consisted of four levels; 100, 200, 300, and 400 ml per aplication. The result showed there was no interaction between fertigation frequency and volume on all observation. The best fertigation frequency on tuber weight per plant at 100 day after planting was five  times, i.e. 7, 10, 12, 14, and 16 o’clock. The best fertigation volume on number of big tuber at 100 day after planting was 300 ml per application. The best fertigation volume and frequency will increase not only seed production, but also profit of bussiness. Next research will be done to induction tuberization by transfering measurement of tuber to increase the amount of tuber as goal of production of G0 potato seed. 
Dampak Program Gerakan Tanam Cabai Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Cabai Tingkat Rumah Tangga di Bogor dan Jakarta (Impact of Chilli Planting Program n Chilli Self Sufficiency at Household Level in Bogor and Jakarta) Rizka Amalia Nugrahapsari; Rima Setiani; Sulusi Prabawati; nFN Turyono; nFN Hardiyanto
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n1.2019.p119-128

Abstract

Program Gerakan Tanam Cabai (Gertam Cabai) dilatarbelakangi oleh fluktuasi harga cabai yang berlangsung tiap tahun. Program ini bertujuan membantu penyediaan cabai secara berkelanjutan pada tingkat rumah tangga. Penelitian bertujuan untuk mengkaji sejauh mana pengaruh Gertam Cabai terhadap kemandirian pemenuhan kebutuhan cabai tingkat rumah tangga di Kota Bogor dan Jakarta. Metode analisis yang digunakan adalah statistik deskriptif dan impact analysis. Pada metode impact analysis dilakukan pengukuran nilai indikator sebelum dan setelah intervensi program pada dua kelompok, yaitu kelompok yang mendapat intervensi program (Kelompok Aksi) dan kelompok yang tidak mendapat intervensi program (Kelompok Kontrol). Pada masing-masing kelompok dilakukan penghitungan selisih nilai indikator pada saat impact dan baseline. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program Gertam Cabai belum memberikan pengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan cabai tingkat rumah tangga. Hal ini terlihat dari: (1) tidak adanya perbedaan volume pembelian cabai antara sebelum dan sesudah Gertam Cabai pada kelompok penerima, dan (2) tidak adanya perbedaan volume pembelian cabai sesudah periode program tersebut antara kelompok penerima dan non penerima. Hal ini disebabkan karena banyak tanaman cabai yang mati, cabai yang dibagikan tidak sesuai dengan preferensi konsumen, dan cabai merupakan komoditas yang bersifat inelastis. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan apabila program itu masih akan dilaksanakan, yaitu: (1) jenis cabai dalam program itu agar disesuaikan dengan preferensi konsumen, dan (2) pembangunan sistem dan tatanan kelembagaan untuk memastikan keberlanjutan program meliputi sistem pembagian benih, penentuan kelompok penerima, pendampingan pra dan pasca pembagian benih, serta pembekalan teknis budidaya kepada kelompok penerima.KeywordsGerakan tanam cabai; Rumah tangga; Impact analysisAbstract Chilli planting program was motivated by the fluctuation of chili price every year. The objective of this program was to assist the household level for having sustainable supply of chilli. The purpose of this study was to analyze the influence of chilli Planting Program on the self sufficiency of household chilli needs in Bogor and Jakarta. The method of analysis used is descriptive statistics and impact analysis. In the impact analysis method, the indicator measurement before and after the program intervention was done in two groups: the group receiving the program (Action Group) and the group that did not participate in the program (Control Group). The next step is to calculate the difference between the indicators value at impact and baseline on each group. The results showed that chilli planting program has not affected chilli self sufficiency at household level. This can be seen from: (1) there is no difference in the volume of chilli purchasing before and after chilli planting program in the action group, and (2) there is no difference in the volume of chilli purchasing after chilli planting program period between action and control group. This is because a lot of chilli plants were dead, the chili was distributed not in accordance with consumer preferences, and chilli is an inelastic commodity. Some suggestions that should be considered if there is a continuation of the chilli planting program are (1) distributed chilli type has to satisfy household preferences, and (2) the program should be equipped by simultaneous development of system and institutional arrangement to ensure its sustainability, includes a system for distributing seeds, determining beneficiary groups, providing pre and post seed distribution, and providing technical training to the recipient groups. 
Analisis Korespondensi untuk Mengetahui Atribut Unggulan Jeruk Pamelo: Studi Kasus Pada Empat Aksesi Jeruk Pamelo di Magetan (Correspondence Analysis to Identified the Superior Attribute of Pummelo: Case Study on Four Pummelo Accession in Magetan) Budiyati, Emi; Pramesti, Arin; mufidah, lyli
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n1.2019.p129-136

Abstract

Pamelo (Citrus maxima) memiliki potensi untuk dikembangkan di Indonesia merujuk karakteristiknya yang unik, baik dari sisi ukuran, rasa, dan lama penyimpanan. Beberapa aksesi yang dibudidayakan di Magetan meliputi Nambangan, Magetan, Sri Nyonya, dan terdapat juga klon Adas yang belum dilepas. Analisis korespondensi dilakukan mengetahui atribut unggulan pada keempat aksesi jeruk pamelo tersebut, dengan menggunakan data primer dari panel terbatas atas 132 sampel buah, yang dilakukan pada tahun 2014. Beberapa tahapan yang dilakukan: (1) cleaning data yang bersumber dari penilaian panelis mengelompokkan data berdasarkan kesukaan, (2) melakukan uji asosiasi tabel kontingensi antara varietas pamelo dan kriteria unggul, dan (3) analisis korespondensi terhadap aksesi pamelo. Hasil yang diperoleh menunjukkan varietas Nambangan melekat dengan atribut unggul kebersihan, bentuk buah, warna, dan tebal kulit ; varietas Magetan terikat dengan jumlah biji, varietas Sri Nyonya dengan tebal, tekstur, dan rasa daging buah; serta klon Adas dengan warna daging buah. Berdasarkan hasil dari penilaian panelis atribut unggul utama dari penampilan dalam adalah rasa daging buah (18,98%) dan untuk penampilan luar adalah bentuk buah (18,32%). Hal ini menjadikan varietas Sri Nyonya menjadi pilihan pertama panelis (27,37%). Hasil tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran kepada petani terkait kesesuaian aksesi yang dipilih dengan pasar yang dibidik (terkait atribut unggulan yang disukai), serta menjadi acuan bagi pembuat kebijakan, terutama Pemerintah Kabupaten Magetan, terkait aksesi yang diprioritaskan untuk dikembangkan, mengingat pasar dalam negeri dan ekspor masih terbuka.KeywordsPamelo; Analisis korespondensi; Atribut unggul AbstractPummelo (Citrus maxima) has the potential to be developed in Indonesia, referring to its unique characteristics, both in terms of size, taste, and length of storage. Some accessions that common cultivated in Magetan are Nambangan, Magetan, Sri Nyonya, and there are also Adas clone that have not been released. Correspondence analysis was conducted to determine the superior attributes of the four pummelo citrus accessions, using primary data from limited panels for 132 fruit samples, which was carried out in 2014. Several steps were done: (1) cleaning data sourced from panel appraisal to group data based on their preference, (2) test the association of contingency tables between pummelo accessions and superior criteria, and (3) conduct correspondence analysis of pummelo accessions. The results show that the Nambangan variety is inherent with superior attributes of cleanliness, fruit shape, color, and thickness of the skin; the Magetan variety is tied to the number of seeds, while Sri Nyonya variety with thick flesh, flesh texture, and fruit flavor; while Adas clone with fruit flesh color. Based on the results, the panelist’s assessed the main superior attribute for internal appearance was fruit flesh flavor (18.98%) while the outer appearance was fruit shape (18.32%), where Sri Nyonya variety was the panelist’s first choice (27.37%). This result are expected to provide an overview to farmers regarding the suitability of the selected accessions, which will be developed, with targeted markets, as well as being reference for policy makers, especially Magetan district government, regarding the accessions that become priority to be developed, given that the domestic and export markets for this product are still widely open. 
Pengaruh Formulasi Biofungsida Berbahan Aktif Cladosporium sp. Terhadap Penyakit Karat Putih Pada Tanaman Krisan (Effect of Biofungcide Formulation Based on Cladosporium sp. Against White Rust Disease on Chrysanthemum) Evi Silvia Yusuf; Wakiah Nuryani; Kurniawan Budiarto
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n1.2019.p91-102

Abstract

Pengendalian penyakit karat putih pada tanaman krisan dengan menggunakan agens hayati merupakan salah satu upaya penting dalam mewujudkan sistem pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Penelitian bertujuan mengevaluasi kemangkusan biofungisida berbahan aktif Cladosporium sp. pada beberapa formulasi (WP-1, WP-2, dan WP-3) dibandingkan dengan penggunaan fungisida sintetik dan asam salisilat dalam mengendalikan penyakit karat pada krisan cv. Puspita Nusantara. Penelitian berlangsung selama 1 tahun dari bulan Januari hingga Desember 2016, dilakukan melalui dua tahap, yaitu penelitian super impose di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias dengan menggunakan rancangan acak lengkap terdiri atas enam perlakuan (WP-1, WP-2, WP-3, AS, FS, dan kontrol) dengan lima ulangan, setiap ulangan terdiri atas 100 tanaman. Aplikasi dilakukan setiap minggu pada sore hari dan verifikasi kemangkusan di lahan petani menggunakan uji t berpasangan terdiri atas dua perlakuan (WP-1 2 g/l dan fungisida sintetik berbahan aktif pyraclostrobin 250 g/l) dengan 10 ulangan. Hasil evaluasi kemangkusan perlakuan biofungisida menunjukkan bahwa seluruh formulasi mampu menekan serangan penyakit karat sebesar 17% hingga 27%. Demikian juga dengan hasil uji di lahan petani formulasi WP-1 mampu mengimbangi fungisida sintetik dengan menyisakan serangan karat 1,6% dan 1,7%. Hasil percobaan menunjukkan bahwa seluruh formulasi biofungisida mempunyai keefektifan yang sama dalam menurunkan intensitas dan perkembangan penyakit karat, dengan fungisida sintetik berbahan aktif pyraclostrobin 250 g/l dengan kualitas bunga yang cenderung lebih baik dibandingkan dengan kultur teknis petani yang berbasis fungisida sintetik.KeywordsDendranthema grandiflora; Agens hayati; Intensitas serangan; Evaluasi lapanganAbstract The application of biological agents to control white rust on chrysanthemum is one important issues in the era of ecofriendly and sustainable agriculture, including in chrysanthemum production system. The research was carried out to evaluate the application of several biofungicide formulations with the active ingredient of Cladosporium sp., i.e. WP-1, WP-2, and WP-3, synthetic fungicide and salicylic acid for white rust control in chrysanthemum cv. Puspita Nusantara. The research was conducted from January to December 2015, through two subsequent experiments, i.e. super-impose experiment that located in Indonesian Ornamental Crops Research Institution using a complete randomized design consisting of six treatments (WP-1, WP-2, WP-3, AS, FS, and control) and five replications and verification of biofungicide effectivess at the growers’ nursery using paired t test consisting of dua treatments (WP-1 2 g/l) dan synthetic fungicide with active ingridient pyraclostrobin 250 g/l) and 10 replications. The results of evaluation of biofungicide treatment efficacy showed that all of formulations biofungicide formulation were able to suppress rust attack by 17% to 27%. Likewise with the results of tests on farmer land the WP-1 formulation was able to compensate for synthetic fungicide with 1.6% and 1.7% rust attack. The results of this experiment showed that all of biofungicide formulations and synthetic fungicides had the same effectiveness in reducing the intensity and development of rust disease and improved flower quality compared to farmers’ technical culture based on synthetic fungicides.
Efek Aplikasi Fungi Mikoriza Arbuskula dan Pupuk KaliumTerhadap Pertumbuhan dan Produksi Pisang Ketan (Effects of Arbuscular Mycorrhizal Fungi and Potash Fertilizer Application on the Growth and Production of Banana cv. Ketan) Irwan Muas; nFN Jumjunidang; nFN Hendri; Deni Emilda; Dewi Fatria
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n1.2019.p61-68

Abstract

Aplikasi mikroba inducer dan pemupukan merupakan komponen teknologi yang dapat memengaruhi keberhasilan pengelolaan tanaman pisang. Informasi tentang pemanfaatan mikroba induser dan pemupukan kalium untuk meningkatkan produktivitas tanaman pisang di Indonesia masih sangat terbatas sehingga penelitian mengenai hal tersebut perlu dilakukan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efek aplikasi fungi mikoriza arbuskula (FMA) dan pemupukan kalium terhadap pertumbuhan   dan produksi pisang ketan. Penelitian disusun berdasarkan rancangan petak terbagi dan diulang tiga kali. Sebagai petak utama adalah aplikasi FMA (tanpa inokulasi dan diinokulasi FMA), sedangkan anak petak adalah pemberian pupuk kalium (0, 200, 400, dan 600 g K2O/ tanaman/tahun). Pengamatan karakter tanah   dilakukan sebelum dan setelah percobaan, antara lain terhadap  pH,  N total, P , K, Ca, Mg, dan  KTK efektif.   Pengamatan  karakter pertumbuhan tanaman (vegetatif dan generatif) meliputi tinggi  tanaman  , jumlah daun, diameter batang, yang dilakukan   1 bulan sekali, serta saat keluar jantung. Pengamatan terhadap  kandungan hara makro pada daun (N, P, K, Ca, Mg)  dan kolonisasi FMA pada akar pisang  dilaksanakan pada kondisi tanaman akan memasuki fase generatif. Parameter produksi  yang diamati meliputi bobot buah per tandan,  jumlah sisir per tandan dan jumlah buah per tandan. Jumlah tanaman sampel yang diamati adalah sebanyak delapan tanaman dari setiap perlakuan. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh interaksi aplikasi FMA dan pupuk kalium terhadap parameter pertumbuhan dan komponen produksi. Aplikasi FMA  memberikan pengaruh terhadap saat keluar jantung dan bobot buah/tandan, tetapi tidak memberikan pengaruh terhadap beberapa parameter produksi seperti saat panen, jumlah sisir serta jumlah buah per sisir.  Pemberian pupuk kalium   dapat meningkatkan tinggi tanaman, diameter batang, mempercepat saat keluar jantung, saat panen dan meningkatkan produksi.. Implikasi dari penelitian ini adalah dalam meningkatkan produksi pisang perlu dilakukan aplikasi FMA dan pemupukan kalium. KeywordsPisang;Fungi mikoriza arbuskula; Kalium; Produksi dan kualitasAbstractApplication of microbial inducer and fertilization is part of technology components that can affect the success of the banana cultivation management. Information about the use of microbial inducers and pottasium fertilizer to increase the productivity of banana plants in Indonesia is still very limited, further reseach is needed. The objective of this study was to determine the effects of application of arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) and potassium fertilization on the growth and production of banana (var. Ketan).   The study is based on split plot design and repeated three times. As main plot was application of arbuscular mycorrhizal fungi (without and with inoculation) while as subplot was different dose of potassium fertilizer (0, 200, 400 and 600 g K2O/plant/year). Observations of soil characteristics were carried out before and after the experiment, including pH, N total, P, K, Ca, Mg, and effective CEC. Observation of plant growth characters (vegetative and generative), including plant height, number of leaves, stem diameter, which is done once a month, and bud appearing. Observation of macro nutrient content in leaves (N, P, K, Ca, Mg) and FMA colonization on banana roots, carried out on plant conditions will enter the generative phase. Production parameters observed included fruit weight per bunch, hand number   and fnger number per bunch. The number of plants observed was 8 plants from each treatment. The results showed that there was no interaction effect between application arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) and potassium fertilizers to growth parameters, and production.  Application of FMA accelerated bud appearing and increased the yield of banana (fruit weight/bunch) but it did not give a real impact on some production parameters such as the harvesting time, hand number and finger number per bunch.  Application of potassium fertilizer increasedA plant height, stem diameter, accelerated bud appearing, harvesting time and increased the yield of banana (fruit weight/bunch). The implication of this research is to improve banana production with application FMA and potassium fertilizer.
Pemanfaatan Teknologi Indigenous ATECU untuk Mengendalikan OPT Utama Pada Tanaman Cabai Merah serta Pengaruhnya Terhadap Predator Menochilus sexmaculatus Wiwin Setiawati; Abdi Hudayya
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n1.2019.p81-90

Abstract

(The used of Indigenous ATECU Technology to Control Pest and Diseases on Chili Pepper and Safer to Predator Menochilus sexmaculatus)Meningkatnya kesadaran konsumen terhadap keamanan pangan dan issue pelestarian lingkungan menjadikan budidaya ramah lingkungan menjadi salah satu pilihan yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Budidaya ramah lingkungan tidak menimbulkan pencemaran serta tidak memerlukan input yang mahal seperti pupuk dan pestisida kimia sintetis. Kebutuhan bahan input tersebut dipenuhi dari bahan organik lokal (indigenous) yang tersedia di sekitar lahan pertanian (kearifan lokal) sehingga biaya produksi menjadi lebih murah. ATECU (akronim dari campuran Azadirachta indica, Tephrosia vogelli, dan urine sapi yang difermentasi selama 15 hari) merupakan salah satu teknologi indigenous yang efikasinya terhadap hama penting pada tanaman cabai sangat diperlukan. Tujuan penelitian adalah mengetahui efikasi teknologi indigenous ATECU (fermentasi mimba, kacang babi, dan urine sapi) terhadap OPT penting cabai merah yang dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia >50% dan aman terhadap predator M. sexmaculatus. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang (1.250 m dpl.) dengan jenis tanah Andisol dari bulan Maret sampai dengan bulan November 2016. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok terdiri atas enam perlakuan dan diulang empat kali. Perlakuan yang diuji adalah ATECU 10 ml/l yang diaplikasikan secara rutin berdasarkan ambang kendali dan kombinasi dengan insektisida kimia Spinetoram (1,0 ml/l ), insektisida Spinoteram (1,0 ml/l ) yang diaplikasikan secara rutin dan berdasarkan ambang kendali serta kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi teknologi indigenous ATECU 10 ml/l efektif mengendalikan OPT penting pada tanaman cabai merah seperti Thrips parvispinus dengan tingkat efikasi (53,56%), Polyphagotarsonemus latus (90,71%), Heliothis armigera (98,41%), Bractocera spp. (83,28%) dan penyakit yang diakibatkan oleh cendawan Colletotrichum acutatum dengan tingkat efikasi sebesar (70,18%). Selain itu aplikasi ATECU 10 ml/l dapat mengurangi penggunaan insektisida sebesar 40–50%, menghemat biaya penggunaan insektisida sebesar 45,38–95,36%, aman terhadap musuh alami (predator Menochilus sexmaculatus) serta menghasilkan hasil panen di atas 10 ton/ha. Penggunaan ATECU selain efektif untuk pengendalian OPT juga dapat meningkatkan produktivitas tanaman. Karena keefektifannya, sifat ramah lingkungan, dan relatif lebih ekonomis. ATECU dapat direkomendasikan sebagai pestisida potensial untuk pengendalian OPT dalam budidaya sayuran ramah lingkungan.KeywordsCabai merah; SDH indigenous; Azadirachta indica; Tephrosia vogelii; Urine sapiAbstractIncreased consumer awareness of food safety and environmental conservation issues make environmentally friendly cultivation to be one of the right choices to overcome the problem. Eco-friendly agriculture does not cause pollution and does not require expensive inputs such as synthetic chemical fertilizers and pesticides. Some potential of Biological Control Agent (BCA) indigenous included bio-pesticide (ATECU) should be manipulated. Most of the potential BCA is underutilized among common farmers. The used of indigenous ATECU technology (neem, tephrosia and cow urine fermented) to control pest and diseases on chili pepper is needed. The research aimed to determine the efficacy indigenous material ATECU (neem + tephrosia + cow urine fermented) to control pest and diseases of chili pepper that can reduce the use of chemical pesticides > 50% and safe to predator M. sexmaculatus. The research was conducted in Margahayu Station from March to November 2016. Randomized block design consisting of 6 treatments was used in this experiment with four replications. The treatment being tested is the use of applications of ATECU 10 ml/l based on routinely, action threshold and combine with Spinetoram 1 ml/l, Spinoteram 1 ml/l insecticide applied routinely and based on control threshold and control. The results showed that ATECU 10 ml/l was effective for controlling important pests in chili pepper such as Thrips parvispinus with efficacy levels (53.56%), Polyphagotarsonemus latus (90.71%), Helicoverpa armigera (98.41%), Bractocera spp. (83.28%) and Colletotrichum acutatum disease with efficacy 70.18%; ATECU 10 ml/l can reduce pesticide use by 40–50%, save pesticide usage 45.38–95.36%, and safe to predator Menochilus sexmaculatus and highest yield of chili up to 10 ton/ha. From this experiment which was strongly gave on indication that ATECU fermented from neem, tephrosia plants and cow urine would be able to replace synthetic pesticides in controlling pest and diseases, and to reduce the quantity of synthetic pesticide application on environmentally friendly cultivation of chili.
Uji Adaptasi dan Stabilitas Hasil Enam Genotipe Cabai Hibrida di Dataran Tinggi Jawa Barat (Adaptation and Yield Stability of Six Hybrid Chili Genotypes in Highland Area of West Java) nFN Kusmana; Rinda Kirana; Astiti Rahayu
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n1.2019.p17-22

Abstract

Uji adaptasi dilakukan untuk mengestimasi interaksi antara Genotipe dengan Lingkungan, sehingga dapat ditentukan apakah genotipe yang diuji adaptif pada lingkungan yang spesifik atau stabil pada lingkungan yang luas. Tujuan pengujian ialah mendapatkan informasi tentang stabilitas hasil cabai hibrida yang ditanam pada tiga lokasi di Jawa Barat. Pengujian ditata dengan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak pada tiga lokasi pengujian yaitu di Kab. Bandung, Kab. Bandung Barat dan Kab. Garut. Populasi tanaman untuk tiap-tiap plot penelitian ialah 30 tanaman  dengan empat ulangan. Hasil analisis ragam gabungan terlihat bahwa nilai kuadrat tengah genotipe lebih tinggi dari nilai kwadrat tengah interaksi genotipe x lingkungan hal ini memberikan indikasi bahwa pengaruh genetik lebih dominan dibandingkan faktor lingkungan. Varietas (genotipe) yang diuji berbeda sangat nyata sehingga menunjukkan adanya perbedaan potensi hasil diantara varietas dan terjadi interaksi antara genotipe dengan lingkungan. Genotipe stabil berdasarkan perhitungan MSTATC ialah H-1 dan  Cosmos. Genotipe Batalion dan Merona tidak stabil karena nilai T hitung lebih besar dari T tabel sementara Genotipe H 2 dan Hot Beauty tidak stabil karena hasil dibawah rerata. Implikasi dari penelitian ialah didapatkan informasi genotipe cabai yang stabil pada agroekosistem dataran tinggi Jawa Barat.  KeywordsGenotipe cabai hibrida (Capsicum annuum); Adaptasi; Stabilitas; Jawa BaratAbstractAn adaptation test was carried out to estimate the interaction between genotypes and the environment, to be able to determine whether the genotypes tested were adaptable in a specific or stable in a wide range of environments. The objective of this study were to obtain the stability level of the hybrid chili tested at three highland West Java locations. The study was arranged using a randomized complete block design with four replications. The treatment consisted of six hybrid chili genotypes tested at three test locations, i.e. West Bandung District, Bandung District, and Garut District. The experimental unit was a plot containing 30 plants. Results showed that the combined analysis of variance (ANOVA) showed that the mean square of the genotype was higher than that of genotype x environment interaction, indicating that the genetic effect was more dominant than that of environmental factors. Genotypes tested were highly significant (p < 0.01) indicating difference yield potential among the genotypes tested. There was a significant interaction between the genotype with that of the environment. The stable genotypes determined based on MSTATC analysis obtained two stable genotypes, i.e. H-1 and Cosmos. Genotypes Batalion and Merona, on the other hand were not stable because the T value counted was greater than that of T table. The genotypes H-2 and Hot Beauty were also found not stable because of low yield performances. The implication of this research was that the stable hybrid chili genotypes obtained from this study can be recommended to be registered as candidates as chili paper new varieties.
Respon Karakter Morfo-Fisiologi Genotipe Tomat Senang Naungan Pada Intensitas Cahaya Rendah (The Respon of Morpho-Physiological Characters of Loving-Shade Genotypes at Low Light Intensity) Dwiwanti Sulistyowati; Muhammad Ahmad Chozin; Muhammad Syukur; Maya Melati; Dwi Guntoro
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n1.2019.p22-32

Abstract

Tomat memiliki potensi untuk dikembangkan dengan sistem pertanaman berganda sebagai tanaman sela di bawah tegakan, baik di kehutanan, perkebunan, maupun pekarangan, sehingga mengalami stres cahaya rendah.  Stres cahaya rendah menyebabkan berbagai perubahan morfologi, anatomi dan fisiologi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari karakter morfologi, anatomi dan fisiologi genotipe tomat pada intensitas cahaya rendah. Percobaan dilaksanakan di kebun percobaan Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Bogor dari bulan Oktober 2014 sampai dengan Januari 2015. Percobaan menggunakan Rancangan Petak Tersarang (nested design) yang diulang tiga kali, faktor pertama terdiri atas dua taraf naungan, tanpa naungan (0%) dan naungan 50%. Faktor kedua berupa 50 genotipe tomat (ditapis menjadi 4 kelompok genotipe, yaitu senang, toleran, moderat dan peka naungan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe tomat senang naungan mampu berproduksi lebih tinggi saat ternaungi, karena genotipe ini mampu beradaptasi lebih baik. Yaitu dengan cara meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, jumlah bunga dan jumlah buah dibandingkan genotipe peka. Terjadi peningkatan klorofil b lebih tinggi daripada klorofil a, sehingga terjadi penurunan yang lebih tinggi pada rasio klorofil a/b. Karakter yang berkorelasi dan berpengaruh langsung terhadap produksi tomat pada naungan 50% adalah luas daun, jumlah bunga, umur panen, rasio klorofil a/b, jumlah buah dan bobot per buah.KeywordsIntensitas cahaya rendah; Karakter genotipe tomatABSTRACTTomatoes have the potential to be developed with multiple cropping systems as intercropping plants under stands, both in forestry, plantations, and yard, thus experiencing low light stress. Low light stress causes a variety of morphological, anatomical and physiological changes. The aim of this study was to investigate the morphological, anatomical and physiological characters of tomato genotypes at low light intensity. The experiments were conducted in the experimental field of Bogor Agricultural Extension Institute, in Bogor, from October 2014 to January 2015. The experiment was arranged in nested randomized design with two factors and three replication. The first factor consisted of two levels of shading intensity, i.e. without shade (0 %) and 50% shading. and the second factor was 50 tomato genotypes (4 groups of tomato genotypes, i.e. shade-loving, shade-tolerant, shade-moderate and shade-sensitive genotypes). The results showed that the shade-loving genotypes was capable of producing higher levels when shaded, as the genotype was able to adapt better. That was by increasing the plant height, leaf number, leaf area, flower number and fruit number compared to sensitive genotypes. Increased chlorophyll b is higher than chlorophyll a, resulting in a higher decrease in the ratio of chlorophyll a/b. Character that correlates and directly affects tomato production in 50% shade was leaf area, leaf number, harvesting time, a/b chlorophyll ratio, fruit number and fruit weight.

Page 1 of 2 | Total Record : 15


Filter by Year

2019 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue