cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Eksplorasi dan Karakterisasi Plasma Nutfah Tanaman Markisa - Karsinah; F H Silalahi; A Manshur
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v17n4.2007.p%p

Abstract

ABSTRAK. Ketersediaan varietas unggul yang sesuai dengan kebutuhan konsumen menjadi syarat yang harus dipenuhi dalam industrialisasi pertanian dan liberalisasi perdagangan. Varietas unggul dapat dirakit jika tersedia keragaman sumberdaya genetik. Keberadaan koleksi plasma nutfah harus terus dipertahankan dan ditingkatkan sejalan dengan tuntutan perakitan varietas untuk memperkaya cadangan gen, kemudian dikonservasi secara ex-situ agar mudah dalam perawatan, evaluasi, pengamanan, dan pemanfaatannya. Eksplorasi plasma nutfah tanaman markisa dilakukan di beberapa daerah sentra produksi markisa di Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Koleksi plasma nutfah tanaman markisa dilakukan di Kebun Percobaan Tanaman Buah, Berastagi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2005 sampai Pebruari 2006. Penelitian bertujuan mengumpulkan dan mengkarakterisasi plasma nutfah, serta membentuk kebun koleksi plasma nutfah tanaman markisa. Hasil eksplorasi telah diperoleh 7 aksesi markisa yang terdiri dari 4 aksesi markisa asam (Passiflora edulis) dan 3 aksesi markisa manis (P. ligularis). Koleksi contoh tanaman dari 7 aksesi markisa tersebut telah ditanam di Kebun Percobaan Tanaman Buah, Berastagi dan masih dalam fase pertumbuhan vegetatif. Data diskripsi indigenous dari 7 aksesi markisa yang diperoleh telah disimpan dalam file elektronik.ABSTRACT. Karsinah, F. H. Silalahi, and A. Manshur. 2007. Exploration and Characterization of Passion Fruit Germplasm. The availability of superior varieties that suitable to consumer preference become very important on agriculture industrialization and free-trade liberalization. So that, the germplasm collection must be maintained and increased in accordance with demand for varieties improvement and enrichment of genes resources, afterwards those genes must be conserved by ex situ conservation to make easy in maintenance, evaluation, and utilization of those germplasm. The research was conducted from June 2005 to February 2006 in several areas of passion fruit production center in North Sumatera and West Sumatera. Collection of passion fruit germplasm were conducted in Berastagi Experimental Field. The aims of the study were to collect and characterize of passion fruit germplasm, as well as to establish passion fruit germplasm collection field. The results of the study showed that there were 7 accessions of passion fruit collected from exploration, consisted of 4 accessions of Passiflora edulis Sims and 3 accessions of Passiflora ligularis Juss. Collection of those 7 accessions of passion fruit have been planted in Berastagi Experimental Field and still in the vegetative growth stage. The data of indigenous description of 7 accessions have been stored in an electronic file disk.
Uji Efektivitas Biopestisida sebagai Pengendali Biologi terhadap Penyakit Antraknos pada Cabai Merah O S Gunawan
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v15n4.2005.p%p

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk menguji efektivitas PfM BO 001 50 WP biopestisida dan BsBE 001 50 WP terhadap penyakit antraknos pada cabai merah. Penelitian dilakukan di rumahkaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang pada bulan September sampai Desember 2003, menggunakan benih cabai merah varietas Jetset. Inokulasi cendawan patogen Colletrotrichum gloeosporioides dilakukan pada 70 hari setelah tanam dengan (4-5)x106 konidia. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok yang terdiri dari 8 perlakuan dengan 4 ulangan. Jenis perlakuan yang diuji yaitu PfMBO 001 50 WP 0,7 g/l, PfMBO 001 50 WP 0,35 g/l, PfMBO 001 50 WP 0,175 g/l, BsBE 001 50 WP 0,7g/l, BsBE 001 50 WP 0,35 g/l, BsBE 001 50 WP 0,175 g/l, fungisida Bion 1/48 WP 2 g/l, dan kontrol. Interval waktu aplikasi 7 hari setelah muncul buah. Hasil percobaan menunjukkan bahwa formulasi biopestisida PfMBO 001 50 WP dan BsBE 001 50 WP masing-masing konsentrasi 0,7 g/l, mempunyai potensi yang baik menekan intensitas serangan penyakit antraknos sebesar 2,60% dan 2,76% yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan fungisida standar Bion 1/48 WP 2g/l sebesar 2,07% dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya.Effectivity of biopesticides as biological control to anthracnose disease on red pepper. Objectives of the experiment was to determine the effect of various concentration formulation of Pseudomonas fluorescens PfM BO 001 50 WP and Bacillus subtilis BsBE 001 50 WP to anthracnose disease on red pepper. The experiment was conducted at the greenhouse of Indonesian Vegetable Research Institute Lembang from September to December 2003. Jetset variety of pepper was used. The experiment was arranged in a randomized block design, consisted of 8 treatments, i.e., PfMBO 001 50 WP (concentration: 0.7 g/l, 0.35 g/l, 0.175 g/l), BsBE 001 50 WP (concentration: 0.7g/l, 0.35 g/l, 0.175 g/l), fungicide Bion 1/48 WP 2 g/l, and control using water, with 4 replications. Results of this study showed that application of biopesticide formulation of PfMBO 001 50 WP and BsBE 001 50 WP 0.7 g/l, gave the best result to suppresed the intensity of anthracnose disease at 2.60% and 2.76% and was not significantly different with standard fungicide Bion 1/48 WP 2 g/l (2.07 %), and significantly different with the other treatments.
Penerapan Teknologi Pembibitan Salak Secara Cangkok F Karsijadi; T Purbiati; M C Mahfud; T Sudaryono; S R Soemarsono
Jurnal Hortikultura Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v9n1.1999.p%p

Abstract

Abstrak. Upaya menguji efisiensi penggunaan hormon untuk induksi akar dan penerapan teknologi perbanyakan bibit salak secara cangkok di sentra produksi salak Kabupaten Malang, Pasuruan. dan Karangasern (Bali) di Lakukan menggunak.an metode penelitian adaptif di kebun petani. Penelitian melibatkan kerja sama aktif antara peneliti dan petani, sejak persiapan pencangkokan hmgga panen bibit salak. Penelitian dilaksanakan dari bulan Aaustus 1995 hingga Maret 1996. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan rakitan teknologi pembibitan salak secara cangkok menggunakan limbah bawang merah takaran 75 g per cangkok untuk induksi akar dapat meningkatkan keberhasilan cangkok sebesar 10% dibandingkan menggunakan induksi akar IBA 1.000 ppm takaran 7,5 ml per cangkok. Pada saat harga bawang merah Rp.1.000 per kg dan harga IBA Rp.20.000,- per g, keuntungan dari penerapan teknologi dengan limbah bawang merah dapat menekan biaya bibit cangkok sebesar 28%. Setelah petani melihat cara pelaksanaan mencangkok tunas anakan salak dan kemudian melaksanakan pencangkokan sendiri, ternyata tingkat keberhasilan cangkok tidak berbeda dengan hasil yang dilaksanakan oleh peneliti, yakni mencapai 61% cangkok jadi.Tingkat keberhasilan cangkok yang dilakukan oleh petani yang pernah mencangkok lebih tinggi dari pada petani yang baru melihat atau mendengar cara mencangkok tunas anakan salak. Tingkat keberhasilan cangkok pada pohon salak umur 5-15 tahun lebih tinggi dari pada salak umur di atas 15 tahun. Luas pemilikan kebun salak berpengaruh terhadap keberhasilan cangkok, tetapi tingkat pendidikan dan umur petani salak serta jumlah cangkokan per pohon tidak berpengaruh.ABSTRAC'T, The application of technology on marcotting propagation of salacea. Adaptive research, on salacca propagation technique was done at farmer's field to evaluate the efficiency of the use of root induction, and to introduction salacca propagation using marcotting method to farmers in the salacca production center in Malang. Pasuruan. and Karangasem The research involved an active participation of farmers in all activities, from the preparation to the harvest of marcotting, from August 1995 to March 1996 The results showed that the use of discarded shallot at 75g 'in each marcotting increased the success of marcotting by 10% compared to the use of 100 ppm IBA at 7.5 ml, while the price or discarded shallot was Rp. 1000.-/kg and IBA was Rp. 20.000.-/g. therefore the use of discarded shallot reduced the marcotting cost by 28%. Farmers adopted the technology readily, as indicated by 61% of successful marcotting which was not much different to the results obtained by researchers The rate of succes of farmers who had experienced in marcotting practice was higher than those who unexperienced. The rate of success in marcotting of 5 to 15 years old plants was higher then those of more than 15 years. Size Of land ownership had a significant influence to the success of marcotting, while the number of marcotted sucker per plant, the education and the age of farmers had no Influence on the marcotting success.   
Respon Karakter Morfo-Fisiologi Genotipe Tomat Senang Naungan Pada Intensitas Cahaya Rendah (The Respon of Morpho-Physiological Characters of Loving-Shade Genotypes at Low Light Intensity) Dwiwanti Sulistyowati; Muhammad Ahmad Chozin; Muhammad Syukur; Maya Melati; Dwi Guntoro
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n1.2019.p22-32

Abstract

Tomat memiliki potensi untuk dikembangkan dengan sistem pertanaman berganda sebagai tanaman sela di bawah tegakan, baik di kehutanan, perkebunan, maupun pekarangan, sehingga mengalami stres cahaya rendah.  Stres cahaya rendah menyebabkan berbagai perubahan morfologi, anatomi dan fisiologi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari karakter morfologi, anatomi dan fisiologi genotipe tomat pada intensitas cahaya rendah. Percobaan dilaksanakan di kebun percobaan Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Bogor dari bulan Oktober 2014 sampai dengan Januari 2015. Percobaan menggunakan Rancangan Petak Tersarang (nested design) yang diulang tiga kali, faktor pertama terdiri atas dua taraf naungan, tanpa naungan (0%) dan naungan 50%. Faktor kedua berupa 50 genotipe tomat (ditapis menjadi 4 kelompok genotipe, yaitu senang, toleran, moderat dan peka naungan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe tomat senang naungan mampu berproduksi lebih tinggi saat ternaungi, karena genotipe ini mampu beradaptasi lebih baik. Yaitu dengan cara meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, jumlah bunga dan jumlah buah dibandingkan genotipe peka. Terjadi peningkatan klorofil b lebih tinggi daripada klorofil a, sehingga terjadi penurunan yang lebih tinggi pada rasio klorofil a/b. Karakter yang berkorelasi dan berpengaruh langsung terhadap produksi tomat pada naungan 50% adalah luas daun, jumlah bunga, umur panen, rasio klorofil a/b, jumlah buah dan bobot per buah.KeywordsIntensitas cahaya rendah; Karakter genotipe tomatABSTRACTTomatoes have the potential to be developed with multiple cropping systems as intercropping plants under stands, both in forestry, plantations, and yard, thus experiencing low light stress. Low light stress causes a variety of morphological, anatomical and physiological changes. The aim of this study was to investigate the morphological, anatomical and physiological characters of tomato genotypes at low light intensity. The experiments were conducted in the experimental field of Bogor Agricultural Extension Institute, in Bogor, from October 2014 to January 2015. The experiment was arranged in nested randomized design with two factors and three replication. The first factor consisted of two levels of shading intensity, i.e. without shade (0 %) and 50% shading. and the second factor was 50 tomato genotypes (4 groups of tomato genotypes, i.e. shade-loving, shade-tolerant, shade-moderate and shade-sensitive genotypes). The results showed that the shade-loving genotypes was capable of producing higher levels when shaded, as the genotype was able to adapt better. That was by increasing the plant height, leaf number, leaf area, flower number and fruit number compared to sensitive genotypes. Increased chlorophyll b is higher than chlorophyll a, resulting in a higher decrease in the ratio of chlorophyll a/b. Character that correlates and directly affects tomato production in 50% shade was leaf area, leaf number, harvesting time, a/b chlorophyll ratio, fruit number and fruit weight.
Pengaruh Transportasi, Tingkat Kemekaran Bunga, dan Kultivar Anggrek Pot Berbunga terhadap Ketahanan Segar pada Rumah Sere Dwi Amiarsi; - Yulianingsih; S D Sabari
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n1.2006.p%p

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendapatkan ketahanan segar bunga anggrek dendrobium pot di rumah sere penyinaran 55%. Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias Jakarta dari bulan Juli 1998 sampai bulan April 1999. Tanaman pot anggrek Dendrobium berbunga yang digunakan dalam penelitian merupakan tanaman yang berbunga pertama atau kedua. Tingkat kemekaran bunga yang dicoba  terdiri dari lima taraf yaitu 0-5% bunga mekar, 25–30% bunga mekar, 45–50% bunga mekar, 70–75% bunga mekar dan 90–95% bunga mekar. Pengangkutan dilakukan menggunakan mobil berpendingin (suhu 10-130C; RH 75-100%) selama 10 jam (±308,3 km). Penelitian dilakukan dengan rancangan acak lengkap, pola faktorial dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kemekaran bunga 0-5% baik  untuk kultivar anggrek Dendrobium Bandung Pink maupun kultivar Dendrobium Sakura White masing-masing mempunyai umur kesegaran 36,4 dan 37,9 hari dengan persentase kemekaran bunga 87,5% dan 92,5%, waktu kemekaran bunga maksimum 17,7 dan 18,3 hari, bunga pertama layu 12,9 dan 14,5 hari. Perlakuan tersebut dapat mempertahankan kualitas bunga tetap prima dan dapat memperpanjang masa kesegaran tanaman pot berbunga setelah pengangkutan.The experiment was conducted to find out the flower shelf-life of potted Dendrobium at screenhouse. The experiment was done at Research Institute of Ornamentals Plant Jakarta from July 1998 to April 1999. Potted Dendrobium used in the experiment was bearing first or second flowers. In this experiment, five blooming stages (0-5%, 25-30%, 45-50%, 70-75%, and 90-95% bud opening) of Dendrobium orchid were used. Potted plants were transported from Jakarta–Bandung vice-versa using refrigated vehicle (10-13oC of temperature and 75-100% RH) for about 10 hours (±308.3 km). The experiment was arranged in a factorial completely randomized design with 3 replications. The results of the experiment indicated that potted Dendrobium cultivar Bandung Pink and Sakura White with blooming stage of 0-5% gave the best keeping quality with percentage of bud opening 85.7 and 92.5%, time of maximal blooming 17.7 and 18.3 days, time of first wilting flowers 12.9 and 14.5 days, and shelf-life 36.4 and 37.9 days respectively. By applying those treatment the period of potted plant flower shelf-life could be extended and quality after transportation could be maintained.
Pengaruh Biokultur dan Pupuk Anorganik terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kentang Varietas Granola Nunung Nurtika; Eri Sofiari; G A Sopha
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n3.2008.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penggunaan pupuk buatan dapat meningkatkan hasil panen namun dampak negatifnya menurunkan tingkat kesuburan tanah. Untuk mengatasi hal ini diperlukan teknologi yang dapat menghemat penggunaan bahan agrokimia untuk mempertahankan kesuburan tanah, meningkatkan kualitas produk, dan meningkatkan pendapatan petani. Salah satu cara untuk mengatasi hal ini yaitu dengan teknologi enzimatis, seperti dengan penggunaan biokultur. Penelitian dilaksanakan di K.P. Margahayu, Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Lembang pada tanah Andisol, ketinggian tempat 1.250 m dpl, mulai bulan Maret sampai dengan Juli 2006. Tujuan penelitian untuk mendapatkan kombinasi takaran biokultur dan pupuk anorganik yang memberikan pertumbuhan tanaman paling baik dan hasil yang paling tinggi. Perlakuan terdiri dari 8 kombinasi biokultur dan pupuk buatan. Pupuk kimia 180 kg N/ha + 92 kg P2O5/ha + 150 kg K2O/ha adalah dosis rekomendasi Balitsa. Dosis biokultur terdiri dari normal, yaitu 1.750 l/ha, di atas normal 2.000 l/ha, dan di bawah normal 1.500 l/ha. Dosis pupuk anorganik yaitu dosis rekomendasi Balitsa dan setengah dosis Balitsa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah acak kelompok dengan 4 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan biokultur dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kentang. Hasil umbi paling tinggi dicapai dengan perlakuan pupuk kimia 180 kg N/ha + 92 kg P2O5/ha + 150 kg K2O/ha (rekomendasi Balitsa) + biokultur 2.000 l/ha, yaitu 15,30 kg/10,5 m2 (14,57 t/ha) tetapi tidak berbeda nyata dengan rekomendasi Balitsa tanpa biokultur yaitu 13,06 kg/10,5 m2 (12,43 t/ha).ABSTRACT. Nurtika, N., E. Sofiari, and G.A. Sopha. 2008. Effect of Bioculture and Anorganic Fertilizer on Growth and Yield of Potato Granola Variety. Experiment was carried out at Margahayu Experimental Garden, Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI), Lembang on Andisol soil type, 1,250 m asl from March until July 2006. The aim of this experiment was to observe the effect of combination of bioculture and anorganic fertilizer on the growth and yield of potato. The treatments consisted of 8 combinations of chemical fertilizer and bioculture. The chemical fertilizer dosage recommended by IVEGRI was 180 kg N/ha + 92 kg P2O5/ha + 150 kg K2O/ha. Dosages of bioculture i.e. normal 1,750 l/ha, upper 2,000 l/ha, and lower 1,500 l/ha. Dosages of anorganic fertilizers i.e. recommended dosage and half of recommended dosage of IVEGRI. The experiment was laid in a randomized block design with 8 treatments and 4 replications. The results indicated that the combination of bioculture 2,000 l/ha with 180 kg N/ha + 92 kg P2O5/ha + 150 kg K2O/ha (IVEGRI recommendation) gave the highest yield, i.e. 15.30 kg/10.5 m2 or equivalent to 14.57 t/ha and did not significantly different with the application of recommended fertilization by IVEGRI without bioculture with the yield of 13.06 kg/10.5 m2 or equal to 12.43 t/ha.
Pengaruh Rachis Pisang terhadap Perkembangan Penyakit Embun Tepung dan Bercak Hitam pada Daun Mawar I Djatnika
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n2.2008.p%p

Abstract

ABSTRAK. Embun tepung dan bercak hitam merupakan penyakit utama pada tanaman mawar. Dilaporkan bahwa ekstrak rachis pisang dapat mengendalikan penyakit. Untuk mendapatkan cara pengendalian penyakit yang mudah diaplikasikan dan aman terhadap lingkungan, maka ekstrak tersebut berpotensi untuk dikembangkan penggunaannya. Percobaan ini bertujuan mengetahui pengaruh ekstrak rachis pisang terhadap intensitas penyakit embun tepung dan bercak hitam pada tanaman mawar var. Black Magic di lapangan. Hasilnya menunjukkan bahwa ekstrak rachis dengan konsentrasi 10% sudah dapat mengendalikan embun tepung, tetapi tidak mempengaruhi intensitas penyakit bercak hitam.ABSTRACT. Djatnika, I. 2008. The Effect of Banana Rachis on Development of Powdery Mildew and Black Spot on Rose Plant. Powdery mildew and black leaf spot are the important diseases on rose plant. Banana rachis was reported to be able to reduce some plant diseases and has the potency to be developed for disease control method which is easy to apply and environmentally friendly. The objective of the research was to find out the effect of banana rachis extract to control powdery mildew and black spot on rose plant var. Black Magic. The results indicated that 10% of banana rachis extract was able to control the powdery mildew, but not on the black spot disease intensity.
Koleksi dan Identifikasi Tungau Predator (Ascidae: Asca) Serta Kelimpahannya pada Ekosistem Jeruk Mandarin - Affandi
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n3.2008.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis tungau predator genus Asca dan kelimpahannya pada ekosistem jeruk mandarin. Survei dilakukan pada kebun jeruk mandarin di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok, Sumatera Barat menggunakan metode purposive sampling. Penelitian dilakukan pada bulan September 2003 sampai Juli 2004. Hasil penelitian telah berhasil mengoleksi dan mengidentifikasi 18 spesies tungau predator genus Asca dengan jumlah total 3.919 ekor. Di antara tungau predator tersebut, spesies Asca longiseta, A. labrusca, A. vulgaris, A. butuanensis, dan A. breviseta merupakan spesies yang paling berlimpah jumlahnya secara berurutan dari yang tertinggi sampai yang terendah. Habitat gulma di bawah kanopi tanaman jeruk merupakan habitat yang paling disukai oleh tungau predator genus Asca (rerata 2,33/sampel) daripada habitat kanopi tanaman jeruk (rerata 0,75/sampel) dan serasah di bawah kanopi tanaman jeruk (rerata 0,51/sampel). Di antara tanaman gulma, tungau predator genus Asca paling banyak ditemukan pada jenis gulma Chromolaena odorata dengan populasi rerata 5 tungau predator per sampel (75 g). Tungau predator cenderung migrasi ke habitat gulma saat populasi mangsa pada kanopi tanaman jeruk rendah. Hasil penelitian ini bermanfaat untuk mengetahui jenis-jenis tungau predator khususnya genus Asca yang berpotensi sebagai agens pengendali hayati terhadap tungau fitofag.ABSTRACT. Affandi . 2008 . Collection and Identification of Predatory Mites (Ascidae: Asca) and its Population on Mandarin Citrus Ecosystem. The objectives of the research were to find out the type of genera Asca predatory mites and its population on ecosystem of mandarin citrus. A purposive sampling survey method was conducted at a mandarin citrus orchard at Aripan Research Station of the Indonesian Tropical Fruits Research Institute, Solok, West Sumatera in the periode of September 2003 to July 2004. The results showed that there were 18 species of genera Asca predatory mites with total number of 3,919 were collected and identified. Among them, predatory mites Asca longiseta, A. labrusca, A. vulgaris, A. butuanensis, and A. breviseta were the most populous from the highest to the lowest, respectively. The most preferable habitat of genera Asca predatory mites was the weed under the canopy of citrus (average 2.33/sample), followed by the canopy of citrus (average 0.75/sample), and the plant wates under the canopy of citrus (average 0.51/sample). Among the weed, Chromolaena odorata was the most preferable habitat of genera Asca predatory mites with average population of 5 predatory mites per sample (75 g). Predatory mites tend to migrate to weed habitat when the population of prey in the canopy of citrus was low. The results of this research was useful to determine the type of predatory mites especially on genera Asca that has potential as biological control against phytophagous mites.
Potensi Kandungan Antosianin pada Daun Muda Tanaman Mangga sebagai Kriteria Seleksi Dini Zuriat Mangga Sukartini Sukartini; Muhammad Jawal Anwarudinsyah
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n1.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Antosianin pada buah, batang, dan daun tanaman mangga terekspresi sebagai karakter warna merah, ungu,dan biru. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui korelasi antara kandungan antosianin pada daun muda dengankandungan antosianin pada kulit buah mangga, serta potensi kandungan antosianin daun muda sebagai kriteria seleksidini terhadap warna merah kulit buah mangga. Penelitian dilakukan dari bulan Januari - Desember 2004 dan Januari- Desember 2006 di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Penelitian menggunakan 11varietas mangga berkulit buah merah (Delima, Irwin, Haden, Kartikia, Saigon, Gedong, Apel, Liar, Keitt, Beruk, Ayu)dan 1 varietas mangga berkulit hijau yaitu Arumanis 143. Metode Horwitz digunakan untuk mengetahui kandunganantosianin pada daun muda dan kulit buah mangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan antosianin padadaun muda berkorelasi positif secara linier dengan kandungan antosianin pada kulit buah mangga dengan persamaanregresi Y=60,14+3,02X (r=0,83**). Kandungan antosianin pada daun muda mangga dapat digunakan untuk kriteriaseleksi dini terhadap karakter warna merah kulit buah zuriat-zuriat mangga.ABSTRACT. Sukartini and M. Jawal Anwarudin Syah. 2009. Potency of Anthocyanin Compound in the YoungLeaves for Early Selection Criteria of Mango Zuriat. Anthocyanin in fruits, stems, and leaves are expressedas red, blue, and purple hues characteristic. The objective of the research was to find out the correlation betweenanthocyanin compound on mango young leaves and anthocyanin compound on fruit peel. The research was doneduring January- December 2004 and January-December 2006 in Indonesian Center for Agricultural PostharvestResearch and Development. Eleven red peel mango varieties (Delima, Irwin, Haden, Kartikia, Saigon, Gedong, Apel,Liar, Keitt, Beruk, Ayu) and 1 green peel mango variety (Arumanis 143) were used in the research. Horwitz methodswas used to determined anthocyanin compound in the young leaves and in the peel of mango. The results showedthat anthocyanin compound in the young leaves have linear correlation with anthocyanin compound in the peel atY=60.14+3.02X (r=0.83**) regression formula. Young leaves anthocyanin compound of mango was potentially usedas early selection criteria for red peel of mango zuriat.
Kalium Sulfat dan Kalium Klorida Sebagai Sumber Pupuk Kalium pada Tanaman Bawang Merah Nikardi Gunadi
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n2.2009.p%p

Abstract

Percobaan untuk mengetahui pengaruh 2 sumber pupuk kalium, yaitu kalium sulfat (K2SO4) dan kaliumklorida (KCl) serta dosis pupuk kalium terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah. Penelitian dilaksanakan dilahan petani di Desa Ciledug (12 m dpl.), Cirebon, Jawa Barat dari bulan Juni sampai dengan Agustus 2003. Duasumber pupuk kalium, yaitu kalium sulfat dan kalium klorida ditempatkan sebagai petak utama dan dosis pupuk kalium,yaitu 50, 100, 150, 200, dan 250 kg K2O/ha sebagai anak petak dalam rancangan petak terpisah dengan 3 ulangan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh sumber pupuk kalium tidak nyata terhadap parameter pertumbuhan,seperti tinggi tanaman, jumlah tunas, dan bobot kering komponen tanaman. Namun pada saat panen pupuk kaliumberpengaruh nyata. Tanaman yang mendapat pupuk K2SO4 mempunyai hasil umbi kering per tanaman, hasil umbisegar per petak, dan hasil umbi kering per petak yang lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan tanamanyang diberi pupuk KCl. Penggunaan pupuk kalium sulfat tidak nyata meningkatkan kualitas umbi bawang merahpada saat panen dibandingkan dengan penggunaan pupuk kalium klorida. Pengaruh dosis pupuk kalium terhadapbeberapa parameter pertumbuhan tanaman bawang merah, seperti tinggi tanaman, jumlah tunas per tanaman, jumlahdaun per tanaman, dan juga bobot kering komponen tanaman serta pada saat panen, hasil umbi segar dan umbi keringbaik per tanaman maupun per petak (15 m2) tidak nyata.ABSTRACT. Gunadi, N. 2009. Potassium Sulphate and Potassium Chloride as Sources of Potassium Fertilizeron Shallots. An experiment to determine the effect of 2 sources of potassium fertilizer i.e. potassium sulphate (K2SO4)and potassium chloride (KCl) and the rate of potassium fertilizer on the growth and yield of shallots was conductedat farmer’s field in Ciledug Village (12 m asl.), Cirebon, West Jawa from June until August 2003. Two sources ofpotassium fertilizers i.e. potassium sulphate and potassium chloride were assigned as main plots and the rates ofpotassium fertilizers i.e. 50, 100, 150, 200, and 250 kg/ha were assigned as subplots. The experiment was arrangedin a split plot design with 3 replications. The results indicated that the effect of source of potassium fertilizer was notsignificantly affect the growth parameters such as plant height, shoot number, leaf number, and dry weight of plant.While at harvest, however, the effect was significant. The application of potassium sulphate gave higher dry yieldper plant, fresh yield per plot, and dry yield per plot (15 m2) compared to potassium chloride. The use of potassiumsulphate did not significantly increase the quality of shallot bulb at harvest compared to the use of potassium chloride.The effect of potassium fertilizer rate was not pronounced on some growth parameters and yield of shallots such asplant height, shoot number per plant, and leaf number per plant, total plant dry matter, fresh and dry yield either perplant or per plot (15 m2).

Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue