cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Keragaman Genetik Pamelo Indonesia berdasarkan Primer Random Amplified Polymorphic DNA D Agisimanto; Arry Supriyanto
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v17n1.2007.p%p

Abstract

ABSTRAK. Analisis keragaman genetik diperlukan untuk mengetahui hubungan kekerabatan 18 varietas jeruk pamelo Indonesia. Penelitian bertujuan mengetahui keragaman genetik beberapa varietas pamelo berdasarkan primer RAPD. Daun dari tunas muda berumur 20-25 hari diekstrak untuk mendapatkan bulk DNA. Setiap sampel DNA dari setiap varietas diamplifikasi menggunakan 15 primer RAPD dan diseparasi menurut metode elektroforesis. Hasil visualisasi fragmen pita DNA dihitung berdasarkan ada dan tidaknya pita DNA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 2 primer RAPD, yaitu OPN14 dan OPN16 membedakan varietas pamelo yang dianalisis. Tiga kelompok besar pamelo telah terkelompok dan menunjukkan kekerabatan yang dekat serta memperlihatkan kesamaan yang tinggi menurut daerah asal dan karakter buah.ABSTRACT. Agisimanto, D. and A. Supriyanto. 2007. Genetic Diversity of Pummelo Based on Primer Random Amplified Polymorphic DNA. Genetic variablitiy is needed to understand relationship among 18 pummelo varieties in Indonesia. The objective of the research was to characterize genetic diversity of some pummelo varieties in Indonesia based on RAPD primer. Leaves from young flush, 20-25 days, were extracted and amplified by 15 RAPD primers. Bands of DNA were scored based on their presence and absence. Two primers of OPN 14 and OPN 16 were selected to visualize band pattern of pummelo varieties. At least, 3 groups of pummelos were clustered that showed closely relationship and highly similarity by place of origin and fruit characteristics.
Inokulasi Mikoriza Glomus sp. dan Penggunaan Limbah Cacing Tanah untuk Meningkatkan Kesuburan Tanah, Serapan Hara, dan Hasil Tanaman Mentimun Rini Rosliani; Yusdar Hilman
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v15n1.2005.p%p

Abstract

Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Wera, Subang mulai bulan Agustus sampai No vem ber2000. Tujuan penelitian adalah (i) mempelajari pengaruh inokulum mikoriza Glomus sp. dan limbah atau kotoranbekas cacing tanah (kascing) terhadap sifat-sifat kimia tanah, serapan N, P, dan K dan hasil buah mentimun, (ii)mengetahui efek inokulasi mikoriza dalam mengurangi pemakaian pupuk buatan NPK, dan (iii) mendapatkankombinasi pupuk hayati (mikoriza Glomus sp. dan kascing) dan pupuk NPK yang tepat dan efisien untuk mentimun.Rancangan penelitian menggunakan split-plot de sign dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas petak utama yaitupemberian mikoriza (tanpa dan dengan mikoriza), dan anak petak yaitu enam kombinasi penggunaan kascing + NPK.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kascing + NPK berpengaruh nyata terhadap serapan P vegetatiftanaman dan serapan N, P, dan K buah. Perlakuan mikoriza dan kascing dapat meningkatkan kesuburan (sifat kimiadan biologi) tanah. Dalam hal bobot buah, kascing dengan dosis 2,5 t/ha + ¾ x standar NPK merupakan aplikasi yangpal ing baik di antara perlakuan yang diuji.In oc u la tion of my cor rhi zal Glomus sp. and the use ofvermicompost to im prove soil fer til ity, nu tri ent up take, and cu cum ber yield. An experiment was conducted atWera ex per i men tal farm, Subang from Au gust to No vem ber 2000. The ob jec tives of the ex per i ment were: (i) to studymycorrhiza Glomus sp. in oc u la tion and vermicompost in im prov ing soil chem i cal prop er ties; NPK up take and yield ofcu cum ber, (ii) to find out the ef fect of my cor rhi za Glomus sp. in oc u la tion on the re duc tion of NPK fer til izer us age, and(iii) to screen the most ap pro pri ate and ef fi cient treat ment com bi na tion of biofertilizers (mycorrhyza) andvermicompost + NPK fer til izer on cu cum ber. A split plot de sign with three replications was used. Treat ments con -sisted of in oc u la tion of my cor rhi za (with and without in oc u la tion) as a main plot and six com bi na tions ofvermicompost + NPK fer til iz ers as subplot. Re sults of the ex per i ment in di cated that my cor rhi za and vermicompostap pli ca tion can im prove soil chem i cal and bi o log i cal fer til ity. Ap pli ca tion of vermicompost + NPK fer til izer sig nif i -cantly in flu enced P up take in plant veg e ta tive growth as well as N, P, and K up take in fruits. In terms of fruit weight,ap pli ca tion of vermicompost of 2.5 t/ha + ¾ x NPK stan dard was the best.
Adaptasi Agronomis dan Kelayakan Finansial Usahatani Krisan di Daerah Yogyakarta M F Masyhudi; - Suhardi
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n2.2009.p%p

Abstract

ABSTRAK. Krisan merupakan salah satu tanaman hias yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan sangat populer dikalangan masyarakat Yogyakarta. Akan tetapi kebutuhan bunga potong ini, di Yogyakarta, justru didatangkan dariluar daerah, seperti Bandungan (Jawa Tengah) dan Batu, Malang (Jawa Timur). Pengkajian yang dilakukan BPTPYogyakarta sejak Juli 2005 sampai Februari 2007 di Dusun Wonokerso, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem,Kabupaten Sleman, ditujukan untuk membuktikan bahwa tanaman krisan dapat beradaptasi dan dibudidayakan denganbaik di Daerah Istimewa Yogyakarta. Berbagai varietas bunga krisan dapat tumbuh subur dan terbukti budidaya tanamanhias ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Analisis ekonomi usahatani budidaya bunga krisan menunjukkanB/C rasio = 1,05 dan R/C rasio = 2,05 pada tahun 2005. Dengan meningkatnya pengalaman petani maka B/C rasio danR/C rasio berturut-turut menjadi 1,47 dan 2,47 pada tahun 2006, dan kemudian lebih meningkat lagi pada awal tahun2007 dengan B/C rasio= 2,12 dan R/C rasio= 3,12. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa budidaya tanamanbunga potong krisan sangat menguntungkan dan layak untuk dikembangkan di Daerah Istimewa Yogyakarta.ABSTRACT. Masyhudi, M.F. and Suhardi. 2009. Agronomical Adaptation and Financial Feasibility ofChrysanthemum in Yogyakarta Region. Chrysanthemum is one of the ornamental plants, potential to be developedin the area of Yogyakarta. It is very popular and has high economical value. However, the supply of this commodityin Yogyakarta was still fulfilled by other provinces such as Central Java (Bandungan) and East Java (Batu, Malang).The Assessment Institute for Agricultural Technology Yogyakarta (AIAT Yogyakarta) conducted some experiments onchrysanthemum from July 2005 to February 2007 in Hargobinangun Village, Pakem Subdistrict, Sleman District. Theobjectives of the study were to examine the agronomically adaptation and financial feasibility of chrysanthemum toprove that chrysanthemum can be cultivated and profitable in Yogyakarta. The results indicated that chrysanthemumadapted very well in Hargobinangun, Yogyakarta region. Several varieties of chrysanthemum growth well and gavebenefits to the local farmers. Financial analysis of chrysanthemum cultivation indicated that B/C ratio= 1.05 and R/Cratio = 2.05 can be reached in the first year (2005), with the increased experiences of the farmers in chrysanthemumfarming system, B/C ratio and R/C ratio were also increased to 1.47 and 2.47 in the year of 2006, and B/C ratio= 2.12and R/C ratio= 3.12 in 2007. It can be concluded that chrysanthemum was agronomically well adapted and financiallyviable, hence it was quite potential and prospective to be developed in Yogyakarta region.
Formula Media Kultur Endosperm Jeruk Hasil Persilangan Antarklon Siem dengan Keprok dan Jeruk Besar Sunyoto Sunyoto; Sudarmadi Poernomo; Makful Makful
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n4.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Pembentukan hibrida triploid renyah tanpa biji pada tanaman jeruk tipe keprok dapat dilakukan melaluikultur endosperm. Komposisi media yang tepat pada setiap tahapan kultur endosperm sangat menentukan keberhasilanpembentukan hibrida tersebut. Komposisi media induksi kalus sampai regenerasi jaringan endosperm jeruk belumbanyak diketahui. Penelitian bertujuan memperoleh formula media in vitro terbaik untuk pertumbuhan dan regenerasikalus endosperm jeruk hasil persilangan antarklon siem dengan keprok dan jeruk besar. Tanaman yang dihasilkandari kultur tersebut diharapkan menjadi kandidat varietas jeruk unggul baru yang mempunyai sifat buah tanpa bijidan berdaging buah renyah. Percobaan dilakukan di Laboratorium Kultur Biak Pemuliaan dan Plasma Nutfah BalaiPenelitian Tanaman Buah Tropika Solok. Penelitian menggunakan analisis diskriptif yang terdiri atas dua tahapkegiatan yang dilakukan mulai bulan Januari 2005 sampai dengan Januari 2006. Kegiatan pertama ialah produksikalus menggunakan media dasar MurashigeTungker (MT) dengan tiga formula. Kegiatan kedua yaitu regenerasikalus menggunakan media dasar MT dan Murashige Skoog (MS) dengan enam formula media. Hasil percobaanmenunjukkan bahwa media M3 = MT + 5 ppm BAP + 2 ppm 2,4-D + 500 ppm CH + 0,5 ppm KT + 500 ppm ME,merupakan formula media inisiasi kalus yang terbaik. Formula media tersebut mampu menginisiasi terbentuknya kaluslebih cepat, menginduksi kalus yang lebih banyak, kekompakan struktur kalus baik, dan berwarna hijau. Formulamedia regenerasi yang terbaik ialah R3 = MT + 0,25 ppm BAP + 2 ppm GA3 + 500 ppm CH + 40 ppm Ads. Mediatersebut mampu mendukung terbentuknya tunas lebih panjang, jumlah daun, jumlah tunas, dan peningkatan jumlahakar dibandingkan persilangan lainnya. Kalus endosperm hasil persilangan intervarietas siem x keprok Dancy, dansiem x keprok Cina Konde merupakan kalus terbaik untuk diregenerasikan.ABSTRACT. Sunyoto, S. Purnomo, and Makful. 2010. Media Formula for Citrus Endosperm Culture ofHybridization between Clones of Tangerine and Clones of Mandarin and Pummelo. Formation of triploid hybridsof crunchy seedless mandarin types of citrus can be established through the induction of endosperm culture. Thecomposition of appropriate media at each stage of endosperm culture determines the success of teh hybrid production.The media compositions of callus of endosperm induction and its regeneration have not been known yet so far. Theaim of this research was to determine the best formula of in vitro medium to induce and regenerate endosperm callusof citrus hybrids. Plantlets produced from the culture were expected to be new superior varieties bearing seedlessand crispy fruits. Research was carried out in the Tissue Culture Breeding and Germplasm Laboratory, IndonesianTropical Fruits Research Institute from January 2005 to January 2006. Discriptive analysis was used in this research.The research composed of consecutive activities.The first activity was to produce callus using basic medium MT(MurashigeTungker) with three medium composition treatments, and the second one, was to regenerate embryoidcallus using MT and MS medium with six medium compositions. The results showed that medium of M3 = MT +5 ppm BAP + 2 ppm 2.4-D + 500 ppm CH + 0.5 ppm KT + 500 ppm ME was the best formula for callus initiation.This medium initiated faster growth of callus and gave higher percentage of callus formation that was more compactin structure, and green in color, than other tested media. The best medium for regeneration of embryoid callus wasR3 = MT + 0.25 ppm BAP + 2 ppm GA3 + 500 ppm CH + 40 ppm Ads. This medium increased the length of shoots,the number of leaves, shoots, and roots more than the other media. Endosperm calli produced from hybridizationintervarieties of tangerine x mandarin Dancy and tangerine x mandarin Cina Konde were the best calli for regeneration
Tanggap Pertumbuhan Mawar Mini dan Produksi Bunga pada Berbagai Daya Hantar Listrik dan Komposisi Media Tanam Rahayu Tedjasarwana; ED S Nugroho; Debora Herlinaa; - Darliah
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n4.2009.p%p

Abstract

Budidaya mawar mini Rosa sinensis Hort. var. Red Baby Rose pada pot memerlukan daya hantar listrik(DHL) media dan komposisi media tanam yang tepat agar pertumbuhan dan hasil bunga tinggi. Tujuan percobaanuntuk mendapatkan informasi tentang DHL media dan komposisi media tanam yang tepat. Percobaan diselenggarakanpada pot dalam naungan rumah plastik pada ketinggian 1.100 m dpl. di Kebun Percobaan Segunung Balai PenelitianTanaman Hias, Pacet, Cianjur, pada bulan Desember 2004-Juni 2005. Petak-petak percobaan disusun menurutrancangan petak terpisah dengan 3 ulangan. Perlakuan petak utama adalah 3 DHL media tanam >0,35-0,50, >0,50-0,75, dan >0,75-1,00 mS/cm, sedangkan anak petak yaitu komposisi media tanam cocopeat (1v), arang sekam (1v),cocopeat : arang sekam (2:1 v/v), (1:2 v/v), (1:1 v/v), dan moss:arang sekam (4:1 v/v). Hasil percobaan menunjukkanbahwa tidak terjadi interaksi yang berbeda nyata antara DHL media tanam dan komposisi media terhadap semuapeubah yang diamati. Panjang tangkai bunga tertingi (5,54 cm) diperoleh pada DHL media tanam >0,50-0,75 mS/cm. Tinggi tanaman tertinggi 22,17 cm, jumlah tunas terbanyak 18,60 buah/tanaman, jumlah klorofil tertinggi 45,87unit, diameter bunga kuncup tertinggi 8,54 mm, diameter bunga mekar tertinggi 4,46 cm, diameter neck tertinggi 1,39mm, diameter tangkai bunga tertinggi 1,84 mm, produksi bunga tertinggi 9,18 kuntum/tanaman, dan lama kesegaranbunga terlama 12,38 hari, diperoleh dari komposisi media tanam moss:arang sekam (4:1 v/v). Hasil penelitian inibermanfaat sebagai acuan petani mawar mini dan pengguna lainnyaABSTRACT. Tedjasarwana, R., E.D.S. Nugroho, D. Herlina, and Darliah. 2009. Response of Mini Rose Growthand Flower Yield at Various Electrical Conductivity and Growing Media Compositions. Mini rose, Rosa sinensisHort var. Red Baby Rose pot plant need proper media electrical conductivity (EC) and growing media compositionto obtain good growth and high flower production. The objective of the experiment was to find out the best growingmedia EC and media composition. Experiment was conducted on the pot in the plastichouse at Segunung FieldExperiment, Indonesian Ornamental Crops Research Intitute, Pacet, Cianjur, West Java (1,100 m asl.) from December2004 up to June 2005. The experiment was arranged in a split plot design with 3 replications. The main plots wasEC of growing media, namely >0.35-0.50, >0.50-0.75, and >0.75-1.00 mS/cm. While the subplot was 6 growingmedia composition, namely cocopeat (1 v), ricehull charcoal (1 v), cocopeat : ricehull charcoal (2:1 v/v), (1:2 v/v),(1:1 v/v), and moss: ricehull charcoal (4:1 v/v). The results of this experiment showed that there was no significantinteraction between growing media EC and growing media composition in all variables observed. The highest offlower stem length (5.54 cm) was found in >0.50-0.75 mS/cm of growing media EC. The highest plant height (22.17cm), buds number (18.6 buds/plant), chlorophyl contains (45.87 units), flower bud diameter (8.54 mm), blossomdiameter (4.46 cm), neck diameter (1.39 mm), flower stem diameter (1.84 mm), flower yield (9.18 flowers/plant),and flower vaselife (12.38 days), were found from growing media composition of moss: rice hull charcoal (4:1 v/v).The results of this experiment can be used as reference for mini rose farmer and any other usage.
Induksi Mutasi Kecombrang (Etlingera elatior) Menggunakan Iradiasi Sinar Gamma Kristina Dwiatmini; Suskandari Kartikaningrum; Yoyo Sulyo
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n1.2009.p%p

Abstract

ABSTRAK. Etlingera elatior merupakan tanaman asli Indonesia yang berpotensi untuk dijadikan sebagai bunga potongbernilai komersial. Penelitian untuk mendapatkan keragaman yang luas telah dilaksanakan di Pusat Penelitian danPengembangan Teknologi Isotop dan Radiasi, Pasar Jumat Jakarta dan Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung daribulan Juni 2003 sampai Januari 2004 untuk mendapatkan variabilitas genetik kecombrang yang luas. Biji kecombrangdiiradiasi sinar gamma dengan dosis 0, 20, 40, 60, 80, dan 100 Gy, dengan laju dosis 2,044437 KGy/jam. Pengamatandilakukan pada jumlah tanaman yang tumbuh serta banyaknya tanaman normal dan abnormal. Hasil percobaanmenunjukkan bahwa LD50 adalah 62,074 Gy. Makin tinggi dosis, pertumbuhan tanaman makin terhambat. Pada dosis20-40 Gy, sebagian tanaman mengalami perubahan bentuk dan chimera, sedangkan dosis 60 Gy menyebabkan seluruhtanaman menunjukkan perubahan bentuk. Dosis anjuran iradiasi pada biji kecombrang adalah 20-40 Gy.ABSTRACT. Dwiatmini, K., S. Kartikaningrum, and Y. Sulyo. 2009. Mutation Induction of Etlingera elatiorUsing Gamma Ray Irradiation. The torch ginger (Etlingera elatior (Jack) R.M. Smith) is believed native to Indonesia,and has the potential for commercial cut flower. The experiment was conducted at Indonesian Isotope Technologyand Radiation Researh Institute, Pasar Jumat Jakarta and Indonesian Ornamental Crop Research Institute, Segunungfrom June 2003 until January 2004. The aim of the experiment was to obtain a wide torch ginger genetic variability.The torch ginger seeds was irradiated by gamma ray at 6 levels of 0, 20, 40, 60, 80, and 100 Gy, under 2.044437KGy/h dosage rate. Number of survival plants, normal and abnormal plants were evaluated. The results showed thatthe LD50 was at 62.074 Gy. The higher the dosage, the more restricted the growth. Dosages of gamma rays between20-40 Gy, resulted in chimeras for some plants. While 60 Gy dosage, all plants showed chimeras. Recomended dosagegamma ray irradiation for torch ginger seed was at the range of 20-40 Gy.
Pengaruh Kedalaman Pengolahan Tanah dan Penggunaan Kompos Sampah Kota terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kubis Holil Sutapradja
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n1.2008.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kedalaman pengolahan tanah dan takaran kompos sampah kota yang tepat untuk budidaya kubis. Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang dengan ketinggian 1.250 m dpl dari bulan September sampai dengan Desember 2005. Percobaan menggunakan rancangan petak terpisah dengan 9 macam kombinasi perlakuan. Petak utama terdiri dari 3 perlakuan, yaitu tanpa pengolahan tanah, kedalaman pengolahan tanah 20 dan 30 cm. Petak kedua berupa perlakuan dosis kompos sampah kota terdiri dari 5, 10, dan 15 t/ha. Luas plot 2 x 3 m = 6 m2 dan jarak tanam 60 x 50 cm. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kedalaman pengolahan tanah 30 cm dengan dosis kompos sampah kota 15 t/ha menghasilkan jumlah dan kualitas kubis terbaik.ABSTRACT. Sutapradja, H. 2008. The Effect of the Depth of Soil Cultivation and the Use of Urban Waste Compos t on the Growth and Yiel d of Cabb age. The aim of the study was to find out the proper depth of soil cultivation and the use of urban waste compost on cabbage. The experiment was conducted at Indonesian Vegetable Research Institute of Lembang, at 1,250 m asl from September to December 2005. A split plot design was used with 9 combination treatments and 3 replications. The main plot was the depth of soil cultivation, i.e. none, 20, and 30 cm. The subplot was dosage of compost, i.e. 5, 10, and 15 t/ha. Plot size was 2 x 3 m = 6 m2 with planting distance of 60 x 50 cm. Results of the experiment showed that the depth of soil cultivation of 30 cm with dosage of urban waste compost of 15 t/ha gave better yield of both quantity and quality of cabbage
Studi Pendasaran Sistem Usahatani Tanaman-Ternak pada Ekosistem Dataran Tinggi di Jawa Barat Witono Adiyoga; R Suherman
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n1.2008.p%p

Abstract

ABSTRAK. Kegiatan penelitian ini merupakan studi pendasaran yang dilaksanakan di daerah dataran tinggi Jawa Barat (Lembang: Desa Cibodas dan Suntenjaya, Pangalengan: Desa Pulosari dan Margamulya, dan Ciwidey: Desa Lebakmuncang dan Panundaan) pada bulan Mei-Oktober 2003. Responden di setiap lokasi ditentukan berdasarkan kriteria bahwa responden bersangkutan melakukan usahatani tanaman-ternak. Rincian jumlah responden di masing-masing lokasi adalah sebagai berikut. Lembang 40 orang, Pangalengan 45 orang, dan Ciwidey 44 orang. Hasil penelitian menunjukkan adanya beberapa komoditas sayuran yang sama diusahakan hampir di semua lokasi, misalnya kubis, tomat, dan kentang. Jika pada waktu tertentu terjadi kelebihan pasokan untuk komoditas tersebut akibat tidak adanya koordinasi pengaturan produksi, maka harga akan turun secara drastis. Informasi pola tanam setahun menunjukkan dominasi pemilihan sistem pertanaman monokultur. Kisaran produktivitas minimal dan maksimal yang cukup lebar secara tidak langsung tidak saja memberikan gambaran adanya keragaman intensitas penggunaan input, tetapi juga inefisiensi penggunaan input antarusahatani. Fluktuasi harga dan insiden hama penyakit dipersepsi sebagai 2 kendala terpenting usahatani sayuran. Jenis ternak yang dominan diusahakan adalah sapi perah. Sebagian responden juga mengusahakan ternak yang dikategorikan sebagai komoditas ternak sekunder, misalnya domba dan kelinci. Estimasi produktivitas sapi perah di ketiga sentra menunjukkan bahwa produktivitas sapi perah di Pangalengan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan produktivitas sapi perah di Lembang dan Ciwidey. Penghitungan kelayakan finansial memberikan gambaran bahwa pengusahaan 3 ekor sapi perah usia pedet dan 2 ekor sapi perah usia danten dikategorikan layak secara finansial. Peternak responden menganggap kualitas pakan, insiden penyakit, dan ketersediaan modal merupakan 3 kendala utama usaha ternak. Indikator kontribusi memberikan gambaran bahwa pengusahaan ternak memberikan kontribusi yang lebih dominan terhadap pendapatan rumah tangga tani di Lembang dan Ciwidey. Sementara itu, pengusahaan sayuran memberikan kontribusi yang lebih dominan terhadap pendapatan rumah tangga tani di Pangalengan. Petani mengusulkan perbaikan metode pengendalian hama penyakit, cara dan dosis pemupukan, serta pemilihan/penggunaan benih berkualitas untuk semua komoditas sayuran utama. Petani menghendaki adanya pemutakhiran teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas usahatani secara nyata. Untuk sapi perah, perbaikan komponen teknologi yang diusulkan petani adalah komponen teknologi peningkatan produksi dan kualitas susu, pembuatan pakan, sanitasi kandang, dan pengendalian penyakit.ABSTRACT. Adiyoga, W. and R. Suherman. 2008. A Baseline Study of Crop-livestock System in West Java Highland Ecosystem. A baseline study was carried out in West Java highland areas (Lembang: Cibodas and Suntenjaya Village, Pangalengan: Pulosari and Margamulya Village, and Ciwidey: Lebakmuncang and Panundaan Village) from May to October 2003. Respondents were those who grew vegetables and raised livestock simultaneously. Number of respondents selected were as follow: Lembang 40 respondents, Pangalengan 45 respondents, and Ciwidey 44 respondents. The results showed that some major vegetables, such as cabbage, potato, and tomato were grown in all production centers. Without any production regulation, the probability of excess supply that may decrease the price drastically was quite high. Yearly cropping pattern showed the domination of monocropping system. Wide gap between minimum and maximum yield provide an indirect indication that there was not only caused by wide variation in input-use intensity, but also inefficiency in input allocation among vegetable farms. Price fluctuation and pest and disease incidence were the most 2 important constraints in vegetable farming. Livestock dominantly raised in highland areas were dairy cow. Some respondents also raised goats and rabbits as secondary livestock. Productivity of dairy cows in Pangalengan was slightly higher than that in Lembang and Ciwidey. Feasibility analysis indicated that raising 3 cows (less than 18 months old) and 2 cows (more than 18 months old) was financially viable. Respondents perceived that feed quality, disease incidence and capital availability were the most 3 important constrains in dairy cows farming. Some indicators suggest that dairy cows farming contributed more dominantly to the household income in Lembang and Ciwidey. Meanwhile, the vegetable farming provided a more dominant contribution to the household income in Pangalengan. Farmers proposed the need for some improvements in pest and disease control, fertilization and selection or use of good quality seeds for all important vegetables. Implicitly, farmers asked for the most updated technology to increase their farm productivity significantly. For dairy cows, some improvements needed were techniques to increase milk production and quality, to prepare feeds, to improve cage sanitation, and to control disease.
Analisis Jarak Genetik dan Kekerabatan Aksesi-aksesi Pisang berdasarkan Primer Random Amplified Polymorphic DNA - Sukartini
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n3.2008.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Bogor pada bulan Oktober 2000. Tujuan penelitian adalah mengetahui jarak genetik dan kekerabatan 26 aksesi pisang berdasarkan primer RAPD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koefisien kemiripan genetik antara 26 aksesi pisang berkisar antara 0,452-0,976 atau jarak genetik 0,548-0,024. Genom A dan B berbeda klaster pada koefisien kemiripan genetik 0,80 atau jarak genetik 0,20, kecuali pada aksesi Ampyang (AAA), Nangka (AAB), Cici Kuning (AA), dan Sililit (AAB). Zuriat-zuriat dengan keragaman karakter yang tinggi diperoleh dari persilangan antaraksesi Cici Kuning (AA) dengan Klutuk (BB) atau Cici Kuning dengan Klutuk Wulung (BB). Primer RAPD dapat digunakan untuk tujuan meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan ketepatan identifikasi varietas pada program pemuliaan pisang.ABSTRACT. Sukartini. 2008. Analysis of Genetic Distance and Relationship of Banana Based on RAPD Primers. The research was conducted at Indonesian Biotechnology Research Institute for Estate Crops, Bogor, in October 2000. The research objective was to determine the genetic distance and relationship among 26 banana accessions based on RAPD. The results showed that the genetic distance was between 0.548-0.024. A and B genome were different cluster with genetic similarity coeffisient of 0.80 or genetic distance 0.20. Zuriates with high characters variability could be found from crossing of Cici Kuning (AA) with Klutuk (BB) or Cici Kuning with Klutuk Wulung (BB). RAPD primers could be used to increase efficiency and effectivity as well as precise variety identification in banana breeding.
Persepsi dan Preferensi Konsumen terhadap Atribut Produk Beberapa Jenis Sayuran Minor Thomas Agus Soetiarso
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n3.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian bertujuan mengidentifikasi persepsi konsumen terhadap atribut produk sayuran minor sesuaidengan preferensinya. Penelitian survai konsumen dilaksanakan di Kotamadya Bandung, Jawa Barat pada bulanJuni-Agustus 2006. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja, sedangkan pemilihan responden ibu rumah tanggasebanyak 49 orang dilakukan secara acak. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan kuesionerterstruktur. Pada penelitian ini komoditas sayuran minor (under-utilized/indigenous) yang dipilih adalah paria, seladaair, oyong, leunca, dan kemangi. Preferensi konsumen terhadap atribut kualitas sayuran minor dianalisis dengan teknikperingkat (ranking) dan diuji dengan Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sayuran kemangi dan oyonglebih disukai konsumen daripada paria, leunca, dan selada air. Konsumen relatif jarang memanfaatkan kelima jenissayuran minor tersebut, yaitu satu kali sebulan atau lebih. Dua kendala utama dalan konsumsi sayuran minor adalahterbatasnya variasi menu masakan untuk selada air, oyong, dan kemangi, dan rasa yang kurang enak untuk paria danleunca. Secara umum konsumen menempatkan atribut kemudahan memperoleh di pasar pada urutan pertama dalammengonsumsi kelima jenis sayuran minor tersebut, dan berturut-turut diikuti oleh rasa, kemultigunaan (sebagai obat),gizi, daya simpan, dan harga. Sementara itu, preferensi konsumen terhadap atribut kualitas kelima jenis sayuran minorsesuai urutan pertimbangannya dalam memilih atau membeli adalah: (1) paria: panjang sedang (20 cm), diameterbuah sedang (5 cm), permukaan buah bergerigi sedikit-banyak, bentuk buah lurus, kekerasan buah sedang, warnadaging putih kehijauan, daging tebal, rasa agak pahit, dan jumlah biji sedikit, (2) selada air: warna daun hijau muda,ukuran tangkai sedang, jumlah daun/tangkai sedang-banyak, kekerasan daun renyah, dan rasa agak manis, (3) oyong:warna kulit hijau muda, panjang sedang (30 cm), diameter sedang (5 cm), kekerasan buah sedang, bentuk buah lurus,warna daging putih, serta jumlah biji sedikit, (4) leunca: warna buah hijau muda, ukuran buah sedang, kekerasan buahrenyah, jumlah buah/tangkai banyak, dan rasa manis, (5) kemangi: warna daun hijau muda-tua, ukuran daun sedang(diameter 3,5 cm), jumlah daun/tangkai sedang-banyak, bau/aroma sedang-menyengat, tidak ada bunga, dan jumlahcabang/tangkai banyak. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk memperbaiki atribut sayuran minorsesuai dengan preferensi konsumen serta upaya untuk meningkatkan potensi ekonomis komoditas tersebut.ABSTRACT. Soetiarso, T. A. 2010. Consumer’s Perception and Preference on Product Attributes of SomeUnder-utilized (Minor) Vegetables. The study was aimed to identify consumer’s perception on some under-utilized(minor) vegetables product attributes that reflected their preferences. A consumer survey was carried out in Bandung,West Java from June to August 2006. Survey location were purposively selected, while 49 household mothers wererandomly chosen. Data were collected through interviews by using a structured questionnaire. Minor vegetablesincluded in this study were bitter gourd, water cress, ridged gourd, night shade, and basil. Consumer preferenceson product attributes of minor vegetables were analyzed by using a ranking technique and tested with Chi-square.Results indicated that basil and ridged gourd were more preferred by consumers than bitter gourd, night shade,and water cress. Those five minor vegetables were rarely consumed once a month or more by consumers. Twomain constraints of the low consumption as perceived by consumers were limited menu variation for water cress,ridged gourd, and basil and taste was not good for bitter gourd and night shade. In general, consumers consideredthe easiness to obtain the minor vegetables in the market as the most important product attribute and subsequentlyfollowed by taste, multi-usage (for medicine), nutrition, storage life, and price. Meanwhile, consumer preferences onproduct attributes for each minor vegetables were as follow: (1) bitter gourd: medium length (20 cm), medium fruitdiameter (5 cm), less to much serrated of fruit surfaces, straight fruit shape, medium fruit hardness, greenish-whiteflesh color, thick flesh, less bitter, and less number of seeds, (2) water cress: light green leaf color, medium size ofbranch, medium to much number of leaves/branches, crispy leaves, and slightly sweet, (3) ridged gourd: light greenskin color, medium length (30 cm), medium diameter (5 cm), medium fruit hardness, straight fruit shape, white fleshcolor and less number of seeds, (4) night shade: light green fruit color, medium fruit size, crisp fruit hardness, muchnumber of fruits/branches and sweet taste, (5) basil: light to dark green leaves, medium leaf size (diameter 3.5 cm),medium to much number of leaves, medium to strong aroma, no flower, and much number of branches. Resultsof this consumer survey may be used as a preference-based feedback for improving the product attibutes of minorvegetables to increase their economic potentials.

Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue