cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Respons Tanaman Paprika (Capsicum annuum var. grossum) terhadap Serangan Thrips parvispinus Karny (Thysanoptera:Thripidae) Laksminiwati Prabaningrum; Tonny Koestoni Moekasan
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n1.2008.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian mengenai respons tanaman paprika terhadap serangan Thrips parvispinus Karny telah dilaksanakan dari bulan Maret sampai Desember 2003 di Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang (1.250 m dpl). Tujuannya adalah mengetahui pengaruh waktu penyerangan T. parvispinus terhadap kerusakan tanaman dan kehilangan hasil. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 macam perlakuan, dan tiap perlakuan diulang sebanyak 8 kali. Macam perlakuan yang diuji adalah tanaman yang terserang mulai (a) 2 minggu setelah tanam, (b) 4 minggu setelah tanam, (c) 6 minggu setelah tanam, dan (d) 8 minggu setelah tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) serangan trips dapat menurunkan hasil panen paprika secara nyata, (2) serangan T. parvispinus dalam bentuk nimfa maupun imago memiliki pengaruh nyata terhadap penurunan hasil panen paprika, (3) semakin awal terjadinya serangan, semakin tinggi kerusakan tanaman dan penurunan hasilnya, baik secara kualitas maupun kuantitas, (4) tanaman berumur muda atau pada fase vegetatif lebih rentan terhadap serangan trips, dan (5) pengendalian trips pada tanaman paprika harus dilakukan sejak awal tanam.ABSTRACT. Prabaningrum, L. and T.K. Moekasan. 2008. Response of Sweet Pepper (Capsicum annuum var. grossum) to Infestation of Thrips parvispinus Karny (Thysanoptera:Thripidae). The experiment was conducted from March until December 2003 at the Indonesian Vegetable Research Institute in Lembang. The aim of the study was to determine effect of time of initial infestation on plant damage and yield loss. Four treatments were arranged using randomized complete block design and each treatment was replicated 8 times. The treatments tested were plant infested at (a) 2 weeks after transplanting, (b) 4 weeks after transplanting, (c) 6 weeks after transplanting, and (d) 8 weeks after transplanting. Results showed that (1) thrips infestation could significantly reduce the yield, (2) infestation of both nymph and imago of thrips could significantly decrease the yield, (3) the earlier of plant infested the higher of plant damage and the yield loss, either the quantity or the quality, (4) the young plant or plant in vegetative periode was susceptible to thrips infestation, and (5) control measure of thrips has to be done earliest.
Spesies Lalat Buah yang Menyerang Sayuran Solanaceae dan Cucurbitaceae di Sumatera Selatan S Herlinda; - Zuroaidah; Y Pujiastuti; S Samad; T Adam
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n2.2008.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian bertujuan mengetahui spesies lalat buah yang menyerang sayuran Solanaceae dan Cucurbitaceae di sentra sayuran di Sumatera Selatan. Survei dilaksanakan mulai bulan Januari sampai Juni 2006 di sentra tanaman sayuran famili Solanaceae (Lycopersicum esculentum Miller, Solanum melongena L., Lycopersicum pimpinellifoliumL., dan Capsicum annuum L.), dan Cucurbitaceae (Cucumis sativus L., Luffa acutangula L., Momordica charantia, Linn., dan Sechium edule Jack.). Spesies lalat buah yang ditemukan di Sumatera Selatan ada 4, yaitu Bactrocera cucurbitae (Coquillett), B. dorsalis (Hendel), B. tau (Walker), dan B. umbrosus Fabricius. Dari keempat spesies tersebut B. cucurbitae muncul dari buah C. sativus, L. acutangulata, M. charantia, dan S. edule. Bactrocera tau muncul dari buah C. sativus, dan B. dorsalis muncul dari buah C. annuum, L. esculentum, L. pimpinellifolium, dan S. melongena. Lalat buah yang terperangkap melalui perangkap metil eugenol, yaitu B. dorsalis, B. cucurbitae, dan B. umbrosus.ABSTRACT. Herlinda, S., Zuroaidah, Y. Pujiastuti, S. Samad, and T. Adam. 2008. Species of Fruitfly Attacking Solanaceous and Cucurbitaceous Vegetables in South Sumatera. The research was aimed to identify the species of fruitfly infesting Solanaceous and Cucurbitaceous vegetables at the center of vegetable production in South Sumatera. Survey had been conducted in central areas of Solanaceous vegetable (Lycopersicum esculentum Miller, Solanum melongena L., Lycopersicum pimpinellifolium L., and Capsicum annuum L.), and cucurbitaceous vegetable (Cucumis sativus L., Luffa acutangula L., Momordica charantia Linn., and Sechium edule Jack). There were 4 fruitfly species found in South Sumatera, i.e. Bactrocera cucurbitae (Coquillett), Bactrocera dorsalis (Hendel), Bactroceratau (Walker), and Bactrocera umbrosus Fabricius. Among them, B. cucurbitae was found on fruits of C. sativus, L. acutangulata, M. charantia, and S. edule; Bactrocera tau was found on fruits of C. sativus; B. dorsalis was found on fruits of C. annuum, L. esculentum, L. pimpinellifolium, and S. melongena. Three species of fruitfly were trapped by methyl eugenol, namely B. dorsalis, B. cucurbitaceae, and B. umbrosus.
Idiotipe Durian Nasional Berdasarkan Preferensi Konsumen Panca Jarot Santoso; - Novril; Muhamad Jawal Anwaludin syah
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n4.2008.p%p

Abstract

ABSTRAK. Survei untuk menetapkan karakter idiotipe durian nasional berdasarkan preferensi konsumen terhadap karakter fisik dan citarasa (biofisik) dilakukan dari bulan November 2005 sampai Oktober 2006 di 7 provinsi, yaitu DKI Jakarta, Banten, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Kalimantan Tengah. Sampel dipilih menggunakan kaidah purposive random sampling. Data dikumpulkan melalui penyebaran angket dan wawancara terhadap 430 responden yang terdiri atas pegawai negeri sipil dan pensiunan, karyawan dan wiraswasta, pedagang buah, pekebun, penangkar bibit, pelajar, dan ibu rumah tangga. Hasil survei menunjukkan bahwa karakter biofisik dominan yang menjadi penentu responden memilih durian adalah ukuran buah sedang (1,6-2,5 kg), aroma kuat, daging tebal bertekstur lembut kering (pulen), dan rasanya manis legit, sedangkan bentuk buah lonjong, warna kulit hijau coklat, panjang duri sedang, warna daging kuning, serta biji berukuran kecil diidentifikasi sebagai karakter pendamping. Karakter-karakter biofisik dominan tersebut menggambarkan suatu karakter idiotipe durian nasional. Karakter ini disarankan sebagai acuan bagi pekebun dalam memilih varietas durian yang akan dikembangkan dan bagi pemulia tanaman durian untuk merakit atau menyeleksi varietas unggul baru.ABSTRACT. Santoso, P. J., Novaril, M. Jawal A. S., T. Wahyudi, and A. Hasyim. 2008. Idiotype of National Durian Based On Consumer’s Preference. A survey to determine idiotype characters of Indonesian durian based on consumer’s preference on fruit biophysic was conducted from November 2005 to October 2006 in 7 provinces of North Sumatera, West Sumatera, DKI Jakarta, Banten, West Java, East Java, and Central Kalimantan. Samples were determined using purposive random sampling. Data was collected through questioner distribution and interview on 430 respondents consisted of active and retirement government official, functionary and entrepreneur, durian trader, grower, nurseryman, student, and housewife. The results indicated that the predominant biophysic characters driving consumer to pick durian which denoting the idiotype of current Indonesian durian were medium fruit size (1,6-2,5 kg), strong aroma, thick flesh, fatty flesh texture, and deep-sweet flesh taste. Meanwhile, oblong shape, green brownish skin, medium spine, yellow aril, and small seeds are identified as co-idiotype characters. This idiotype was predicted persistent for next 10-20 years. It is, therefore, recommended as guidance for grower to choose the available durian varieties to be planted, and for durian breeder to establish or select new superior varieties.
Perilaku Konsumen terhadap Jeruk Siam di Tiga Kota Besar Di Indonesia Witono Adiyoga; T Setyowati; Mieke Ameriana; - Nurmalinda
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n1.2009.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian diarahkan untuk memperoleh pemahaman tentang perilaku konsumen terhadap jeruk siam asallokal dan impor. Penelitian survai dilaksanakan di 3 kota besar konsumen utama produk hortikultura, yaitu Jakarta(DKI Jaya), Bandung (Jawa Barat), dan Padang (Sumatera Barat) pada bulan Juni-September 2006. Respondenkonsumen adalah 339 ibu rumah tangga yang dipilih secara acak. Alat analisis yang digunakan adalah statistikdeskriptif, analisis conjoint, dan analisis klaster. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi konsumsi jeruk siamsebagian besar konsumen (53,7%) cukup tinggi, yaitu 1-2 kali seminggu. Perkiraan tren peningkatan konsumsi jeruksiam 25-75% dalam 5 tahun ke depan juga dipersepsi oleh 61,3% responden. Segmentasi a priori berbasis peubahdemografis mengindikasikan agar strategi pengembangan jeruk siam lebih diarahkan untuk segmen konsumen/pasaryang memiliki karakteristik: usia 30-39 tahun, pendidikan lebih tinggi dari SLTA, ibu rumah tangga bekerja, jumlahanggota keluarga 3-4 orang, jumlah anggota keluarga dewasa 1-2 orang, jumlah anggota keluarga balita 1-2 orang,dan total pengeluaran antara Rp. 2.500.001,00-Rp. 5.000.000,00/bulan. Atribut rasa dipersepsi konsumen sebagaiatribut paling penting (urutan 1), sedangkan atribut harga/kg dipersepsi sebagai atribut dengan urutan kepentinganterendah (urutan 8). Sementara itu, segmentasi a priori berbasis preferensi mengidentifikasi jeruk siam ideal dengankarakteristik: rasa manis, berserat banyak, kandungan air banyak, dan harga Rp. 4.000,00-Rp. 6.999,00/kg. Segmenkonsumen ini menempatkan atribut kandungan air sebagai faktor terpenting (49,52%), dan berturut-turut diikutioleh rasa (23,32%), harga per kg (16,15%), serta serat buah (11,01%). Analisis tanggap konsumen secara umummengindikasikan bahwa konsumen memberikan tanggapan lebih positif terhadap atribut produk jeruk siam impordibandingkan dengan jeruk siam lokal. Label impor cenderung dipandang sebagai salah satu atribut produk yangmerepresentasikan kualitas, dependabilitas, dan reliabilitas, terutama pada saat informasi tersedia dan upaya promosimengenai jeruk siam lokal relatif terbatas. Secara implisit, hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan impor jeruksiam tidak saja dihela oleh intervensi dan akses pasar (kebijakan), namun juga oleh permintaan konsumen.ABSTRACT. Adiyoga, W., T. Setyowati, M. Ameriana, and Nurmalinda. 2009. Consumer Behavior on Tangerinein Three Big-Cities in Indonesia. This study was aimed to obtain understandings with regard to consumer behaviortoward both local tangerine and imported tangerine. Consumer surveys were carried out in 3 big cities in Indonesia(Jakarta-DKI Jaya, Bandung-West Java, and Padang-West Sumatera) from June to September 2006. Respondents ofthese surveys were 339 household-moms who were randomly selected. Descriptive statistics, conjoint analysis, andcluster analysis were used for data elaboration. The results showed that there was a quite high consumption frequency(1-2 times a week) indicated by 53.7% respondents. Most respondents (61.3%) also expect an increasing tangerineconsumption trend of 25-75% in the next 5 years. A priori segmentation on the basis of demographic variablesindicated that the market development of tangerine was more toward market segment that has characteristics suchas: 30-39 years old, higher than high school education, employed household-mom, 3-4 persons family member, 1-2persons adult family member, 1-2 persons of ≤ 5 years old family member, and total expenditure of Rp. 2,500,001.00-Rp. 5,000,000.00/month. Taste was perceived as the most important attribute (1st rank) while price was consideredthe least important (8th rank). A priori segementation on the basis of consumer preference has identified an idealtangerine that has characteristics such as: sweet taste, high fiber, high water content, and price of Rp. 4,000.00-Rp.6,999.00/kg. This consumer segment considers water content as the most important factor (49.52%) contributes tothe preference, and subsequently followed by taste (23.32%), price (16.15%), and fruit fiber (11.01%). In general,consumers provide more positive opinions regarding some attributes of imported tangerine as compared to thoseof local tangerine. Consumers tend to perceive import label as one of the product attributes that represents quality,dependability, and reliability, especially when available information and promotion efforts of local tangerine wererelatively limited. This result implies that the increasing import of tangerine was not only driven by foreign marketintervention and market access (trade policy), but also by consumer demand.
Analisis Tingkat Preferensi Petani terhadap Karakterisitik Hasil dan Kualitas Bawang Merah Varietas Lokal dan Impor Rofik Sinung Basuki
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n2.2009.p%p

Abstract

ABSTRAK. Varietas lokal bawang merah yang kompetitif terhadap varietas impor perlu diketahui untuk mengurangipenggunaan varietas impor. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi varietas lokal yang lebih disukai petanidibanding varietas impor di sentra produksi di Kabupaten Brebes. Penelitian dilakukan di 2 desa di Kabupaten Brebespada bulan Juli-Oktober 2005. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian partisipatif yang didukung denganpercobaan lapangan. Percobaan lapangan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Perlakuan yangditeliti adalah 10 varietas lokal dan 2 varietas impor. Plot percobaan lapangan digunakan sebagai petak observasi bagipetani partisipan, 28 orang di Desa Kemukten dan 32 orang di Desa Slatri. Data penelitian partisipatif dikumpulkandari jawaban tertulis petani partisipan pada kuesioner yang dibagikan peneliti pada saat petani melakukan observasipada plot percobaan lapangan. Data petani berupa skor tingkat preferensi (TP) petani terhadap atribut karakteristikdaya hasil, jumlah anakan, bentuk umbi, ukuran umbi, warna umbi, dan aroma dari 12 varietas yang diteliti dianalisismenggunakan metode perceived quality. Hasil penelitan menunjukkan bahwa dari 10 varietas lokal yang diuji, varietaslokal Bima Curut adalah yang paling disukai petani. Walaupun secara agronomis tingkat hasil dan ukuran umbi hasil,varietas impor lebih unggul dibanding varietas lokal Bima Curut, namun TP petani terhadap varietas lokal Bima Curutlebih tinggi 10-23% dibanding TP petani terhadap varietas impor Tanduyung dan Ilokos. Hal ini terjadi karena totalkarakteristik Bima Curut dalam hal daya hasil, jumlah anakan, bentuk umbi, ukuran umbi, warna umbi, dan aromalebih disukai petani dibanding total karakteristik yang dimiliki kedua varietas impor tersebut. Diperlukan dukunganperakitan komponen teknologi pemupukan, budidaya, serta pengendalian hama dan penyakit agar keunggulan varietasBima Curut dapat lebih dioptimalkan.ABSTRACT. Basuki, R.S. 2009. Analysis of Farmer’s Preference on Yield and Quality Characteristic of Localand Imported Shallots Variety. Local variety of shallots that had competitiveness to imported variety needed tobe identified in order to reduce the use of imported seed variety. The objective of this research was to identify localvariety more preferred by farmers than that of imported variety. Research was conducted in Brebes District fromJuly to October 2005. The approach of research was farmer participatory research supported by field trial plot. Thefield trial design used was RCBD, with 10 local varieties and 2 imported varieties as treatments and 3 replications.The field trial plot was used as an observation plot for farmers participants, 28 farmers in Kemukten Village and 32farmers in Slatri Village. The data from farmer participatory research were collected from farmer’s written answers onthe questionnaire distributed by researchers. Farmers’ data were the level of farmer’s preference to the characteristicsof yield, number of sprouts, bulb shape, bulb size, bulb color, and flavor of 12 shallot varieties tested in the fieldtrial. The data were analyzed using perceived quality methods. The results showed that among local varieties, BimaCurut variety was the most preferred by farmers. Agronomically, the yield of imported varieties were higher and thebulb were bigger than that of Bima Curut. However, the level of farmers preference on Bima Curut were 10 to 23% higher than that of the imported varieties of Tanduyung and Ilokos. The reason was that the total characteristicsof Bima Curut in terms of yield, number of sprouts, bulb shape, bulb size, bulb color, and flavor were preferred byfarmers more than that of the total characteristics of imported varieties. Nonetheless, technological components offertilization, cultivation, disease and pest control still need improvements to increase the competitiveness of BimaCurut variety.
Insidensi dan Intensitas Serangan Penyakit Karat Putih pada Beberapa Klon Krisan I B Rahardjo; - Suhardi
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n3.2008.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penyakit karat putih adalah salah satu kendala dalam meningkatkan produksi bunga krisan. Penyakit karat putih pada tanaman krisan disebabkan oleh cendawan Puccinia horiana. Salah satu alternatif pengendalian adalah menggunakan varietas resisten. Tujuan penelitian adalah mengetahui insidensi dan intensitas penyakit karat putih pada klon-klon krisan. Penelitian dilakukan di Rumah Plastik Balai Penelitian Tanaman Hias di Segunung (1.100 m dpl.), sejak bulan September 2002 sampai Februari 2003. Pada penelitian ini dievaluasi sebanyak 13 klon harapan krisan hasil seleksi tahun 2000. Perlakuan terdiri 13 klon harapan krisan yaitu klon nomor 116.44, 116.53, 116.57, 125.14, 130.8, 131.1, 133.59, 133.7, 133.95, 135.6, 136.1, 136.11, 150.4, var. Saraswati, dan var. White Reagent, menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klon nomor 136.10 adalah klon yang memiliki sifat baik, paling lambat terinfeksi penyakit karat (133 HST), pada 15 MST paling rendah insiden penyakitnya (12,67%). Intensitas serangan kedua terendah (5,08%) setelah klon nomor 133.95 (4,6%), dan intensitas penyakit waktu panen juga rendah (4,44%).ABSTRACT. Rahardjo I.B. and Suhardi. 2008. Incidence and Intensity of White Rust Disease on Several Chrysanthemum Clones. White rust disease is one of constrain in increasing the production of chrysanthemum flower. White rust disease on chrysanthemum caused by Puccinia horiana. One of the control alternative was the use of resistant variety. The aim of the experiment was to know incidence and disease intensity of white rust on chrysanthemum clones. The experiment was done in Plastichouse at Indonesian Ornamental Crop Research Institute, Segunung (1.100 m asl), from September 2002 to February 2003. Evaluations were done on 13 chrysanthemum promising clones from selection in 2000. The treatments consisted of 13 chrysanthemum promising clones namely : 116.44, 116.53, 116.57, 125.14, 130.8, 131.1, 133.59, 133.7, 133.95, 135.6, 136.1, 136.11, 150.4, var. Saraswati, and var. White Reagent. RCBD with 3 replications were used in this experiment. The results of the experiment showed that clone 136.10 indicated good characteristic, with latest of disease infection (133 days after planting), lowest disease incidence at 15 weeks after planting (12.67%), and the second lowest for disease intensity (5.08%) after clone 133.95 (4.6%). While clone 136.10 showed lowest disease intensity on harvesting time (4.44%).
Pengaruh Pemberian Pupuk N dan K terhadap Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah Delima Napitupulu; Loso Winarto
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n1.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Bawang merah merupakan salah satu sayuran yang beradaptasi luas. Salah satu jenis bawang merah yang banyak dikembangkan di dataran rendah adalah varietas Kuning. Produksi bawang merah di Sumatera Utara cukup rendah dan belum mampu untuk memenuhi kebutuhan lokal. Rendahnya produktivitas bawang merah di Sumatera Utara di antaranya disebabkan karena penerapan teknologi pemupukan yang tidak tepat dan tidak tersedianya paket pemupukan spesifik lokasi. Pupuk yang digunakan sesuai anjuran diharapkan memberi hasil yang secara ekonomis menguntungkan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk N dan K terhadap pertumbuhan dan produksi bawang merah. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara, Medan pada ketinggian 30 m dpl. dari bulan April sampai Juni 2008. Faktor perlakuan adalah dosis pupuk N (0, 150, 200, 250) kg/ha dan K (0, 75, 100, 125) kg/ha, diatur dalam sebuah rancangan acak kelompok faktorial dengan empat ulangan. Bawang merah yang digunakan adalah varietas Kuning. Pupuk dasar meliputi pupuk kandang dengan dosis 15 t/ha dan SP-36 sebanyak 300 kg/ha, diberikan satu minggu sebelum tanam dengan cara dicampurkan ke dalam tanah. Pupuk N dan K diberikan pada umur 3, 21, dan 35 HST masing-masing ⅓ dosis. Penanaman dilakukan dengan membuat plot-plot pertanaman berukuran 1,5 x 1,5 m. Jarak antarpetak 0,3 m dan jarak antarblok 0,4 m. Jarak tanam bawang 25 x 25 cm.  Penanaman dilakukan dengan cara tugal pada kedalaman 5 cm. Pengamatan hama dan penyakit dilakukan dengan metode PHT-SDT. Hasil penelitian menunjukkan adanya efek interaksi antara takaran pupuk N dengan K terhadap bobot umbi basah dan kering. Penerapan teknologi pemupukan dapat meningkatkan produksi  bawang merah sebesar 64,69 g/rumpun diperoleh pada pemberian pupuk N 250 kg/ha dan K 100 kg/ha. Pemberian pupuk N dosis 250 kg/ha dan K  dengan dosis 100 kg/ha memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap peningkatan produksi bawang merah. Hasil produksi tersebut sejalan dengan parameter tumbuh seperti jumlah anakan per tanaman, jumlah umbi, bobot umbi basah, dan memberikan produksi yang tinggi pada bawang merah. Pemberian pupuk N dosis 250 kg/ha dan K dosis 100 kg/ha pada tanaman bawang merah memenuhi syarat sebagai dosis pupuk bagi tanaman bawang merah dalam meningkatkan hasil, sehingga layak untuk direkomendasikan.ABSTRACT. Napitupulu, D. and L. Winarto. 2010. The Effect of N and K Fertilizer on Growth and Yield of Shallots. Shallots is one of the vegetables that has wide adaptation. One variety of shallots that well adapted in the lowland is Kuning. Total shallots production in North Sumatera was still quite low and has not yet been able to meet the local needs. The low productivity of shallots in North Sumatera meanwhile, was due to inappropriate fertilizers application and no suitable recommendation of fertilization package technology for spesific location. Good recommendation of fertilization application was expected to increase productivity which economically profitable. The objective of this study was to find out the effect of N and K fertilizers on the growth and yield of shallots. The study was conducted in the Experiments Garden, Assessment Institute of Agriculture Technology Medan, North Sumatera, at 30 m asl, from April to June 2008.  Shallots variety used was Kuning. The treatments were four levels of N (0, 150, 200, 250 kg/ha) and four levels of K (0, 75, 100, 125 kg/ha). The experiment was arranged in a factorial randomized block design with four replications. Basic fertilizers used were manure (15 t/ha) and SP-36 (300 kg/ha), applied at one week before planting. N and K were given at the age of 3, 21, and 35 days after planting respectively with the dose of ⅓. The plot size was 1.5 x 1.5 m, and 0.3 m row spacing and distance beetween block 0.4 m, and 0.3 m respectively. Planting distance was 25 x 25 cm. Pest and disease observation were done using integrated pest control methods. The research results indicated that there was interaction between nitrogen and potassium fertilizers  application to the fresh weight and dry bulb per plant. Application of fertilizer could increase shallots dry bulb yield up to 64.69 g/plant that was obtained by the application of 250 kg/ha N and 100 kg/ha K. The fertilizer application of N (250 kg/ha) and K (100 kg/ha) was recommended to increase the productivity of shallots in the area.
Aplikasi Ribavirin Pada Shoot Tip Bawang Merah untuk Eliminasi Virus OYDV (Application of Ribavirin on Shoot Tip of Shallot for OYDV Eradication) Aqlima, nFN; Purwoko, Bambang Sapto; Hidayat, Sri Hendrastuti; Dinarti, Diny
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n2.2018.p251-258

Abstract

Kemoterapi merupakan aplikasi senyawa kimia (ribavirin) yang memiliki aktivitas antiviral guna menghambat ataupun menghentikan multiplikasi virus pada jaringan tanaman. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh konsentrasi ribavirin terhadap pertumbuhan shoot tip bawang merah untuk mengeliminasi virus OYDV. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan 3, Departemen AGH IPB dan Laboratorium Virologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman IPB, sejak bulan Oktober 2015 hingga Juni 2016. Rancangan percobaan yang digunakan adalah kelompok lengkap teracak dengan dua faktor dan empat ulangan, setiap ulangan terdiri atas empat tabung kultur yang ditanam satu eksplan. Percobaan dilakukan secara terpisah pada dua kultivar bawang merah, yaitu Bima Brebes dan Tiron. Faktor pertama adalah konsentrasi ribavirin, yaitu 0, 5, 10, 15, dan 20 mg/L. Faktor kedua adalah ukuran eksplan (shoot tip), yaitu 1,1–2,0 mm dan 2,1–3,0 mm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi ribavirin menekan tinggi tunas cv. Bima Brebes, waktu muncul daun, tinggi tunas, dan jumlah daun cv. Tiron. Ukuran shoot tip yang lebih besar (2,1–3,0 mm) dapat meningkatkan persentase tumbuh eksplan dan mempercepat waktu muncul daun pada cv. Bima Brebes dan Tiron. Konsentrasi ribavirin yang diaplikasikan pada dua ukuran shoot tip masih belum dapat mengeliminasi virus OYDV pada kedua kultivar bawang merah.KeywordsBawang merah; In vitro; Ribavirin; Shoot tipAbstractChemotherapy is an apllication of chemistry compound (ribavirin) that has antiviral activity to inhibit virus multiplication in plant tissues. The objective of the experiment was to evaluate the effect of ribavirin concentrations on shoot tip growth of shallot for OYDV eradication. The experiment was cunducted at Tissue Culture Laboratory 3, Agronomy Department and Plant Virology Laboratory, Plant Protection Department of IPB from October 2015 until June 2016. The experiment was arranged in a completely rendomized block design with two factors and four replications. Each experimental unit consisted of four bottles with one explant in it. The first factor was ribavirin concentrations, i.e. 0, 5, 10, 15, and 20 mg/L. Second factor was shoot tip sizes, i.e. 1.1–2.0 mm and 2.1–3.0 mm. The experiment showed that increasing ribavirin concentrations suppressed the shoot length of cv. Bima Brebes, and it also inhibited the time of leaf to emerge, shoot length, and leaf number of cv. Tiron. Increasing shoot tip size (2.1–3.0 mm) influenced percentage of explant growth and speed the time of leaf emergance of cv. Bima Brebes and Tiron. Ribavirin concentrations used in this treatment did not eradicate OYDV in both shoot tipe sizes of the two cultivars.
Pengaruh Kemasan terhadap Daya Simpan Umbi Bibit, Pertumbuhan, dan Hasil Bawang Putih Raden Prasodjo Soedomo
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n4.2006.p%p

Abstract

ABSTRAK. Di Indonesia bawang putih sudah merupakan bumbu masakan yang merakyat. Untuk konsumsi saat ini sebagian besar umbi berasal dari impor, padahal banyak daerah dataran tinggi di Indonesia yang sangat baik untuk penanaman bawang putih. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis pengemas yang terbaik guna memperpanjang daya simpan umbi bibit bawang putih serta pertumbuhan dan hasil di lapangan. Percobaan telah dilakukan di Laboratorium Benih, Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang (1.250 m dpl), pada bulan Oktober 2004–Februari 2005. Penelitian dilanjutkan di lapangan untuk observasi terhadap penampilan umbi bibit. Rancangan yang digunakan adalah acak lengkap untuk penelitian di laboratorium benih dan acak kelompok untuk penelitian di lapangan, dengan model rancangan petak terpisah, terdiri atas 4 ulangan dan 7 perlakuan. Perlakuan terdiri dari (1) kantong plastik + batu kapur, (2) kantong plastik + batu kapur (CaCO3) + O2, (3) kantong plastik + Aquastore, (4) kantong plastik + Aquastore + O2, (5) rajut plastik, (6) kantong kertas semen + batu kapur, dan (7) kantong kertas semen + Aquastore. Hasil menunjukkan bahwa pengemasan umbi bibit bawang putih yang berdampak terhadap pertumbuhan dan hasil terbaik adalah penggunaan jaring plastik dengan daya simpan 57 hari dan kerusakan 9,6%. Di lapangan tinggi tanaman pada umur 14, 28, 42, 56, dan 70 HST masing-masing adalah 6,00; 12,23; 30,00; 40,75; dan 49,0 cm, dengan daya tumbuh 87,60%. Bobot hasil per lubang tanaman 80,80 g, dan siung per umbi 10,80 buah, dan diameter umbi lapis 32,10 cm. Pengemas dalam kondisi tertutup dapat menggunakan kertas semen, dengan penyerap batu kapur maupun Aquastore, dengan nilai kerusakan pada penyimpanan masing-masing adalah 12,5 dan 11,00%, dan daya simpan masing-masing 62,0 hari. Di lapangan mempunyai daya tumbuh 92,80, 97,90% dan tinggi tanaman pada umur 14, 28, 42, 56, dan 70 HST masing masing adalah 6,90; 12,60; 30,90; 41,15; dan 49,27cm (penyerap kapur), dan 8,43; 14,50; 32,25; 42,50; dan 51,80 cm (penyerap Aquastore). Bobot umbi per lubang tanaman 78,60 dan 77,70 g, jumlah siung per lubang tanaman 10,60 dan 10,70 siung, dan diameter umbi lapis anakan 31,90 dan 30,66 cm.ABSTRACT. Soedomo, R.P. 2006. Effect of packaging materials on the keeping quality of seedbulbs, the growth, and yield performance of garlic. Garlic as cooking spices was widely used in Indonesia. Most of the garlic consumed was imported in fact that some potential higlands suitable for planting garlics were ignored. The objectives of the study were to find out the best packaging materials for seed bulbs and its impact to growth and yield in the field. The trial was conducted at the seed laboratory of Indonesian Vegetable Research Institute at Lembang (1,250 m asl) in October 2004-February 2005. The subsequent planting was done in the research field of the institute to observe the performance of the seedbulbs. The experimental design was CRD for storage laboratory study and RCBD for field observation, with a split plot design. There were 7 treatments and 4 replications. The treatments were (1) polyethylene wrap + CaCO3, (2) polyethylene wrap + CaCO3 + O2, (3) polyethylene wrap + Aquastore, (4) polyethylene wrap + Aquastore + O2, (5) polyethylene plastic net, (6) cement paper bag + CaCO3, and (7) cement paper bag + Aquastore. The results showed that the best packaging material was plastic net with seed bulb damages of 9.6%, and storage life of 57 days. The plant height at 14, 28, 42, 56, and 70 days after planting (dap) were 6.00, 12.23, 30.00, 40.75, and 49.0 cm respectively. The yield per plant was 80.80 g. Number of bulblet per bulb was 10.80, and diameter of bulb was 32.10 cm. Cement paper, with absorber materials of limestone and Aquastore showed damages of 12.5 and 11.0% respectively. The keeping quality stood for 62.0 days. The plant height at 14, 28, 42, 56, and 70 dap were 6.90, 12.60, 30.90, 41.15, and 49.27 cm (limestone absorber), and 8.43, 14.50, 32.25, 42.50, and 51.80 cm (Aquastore absorber) respectively. The plant survival in the field were 92.80 and 97.90%. The number of bulblets were 78.60 (limestone) and 77.70 (Aquastore).
Preferensi Ngengat Citripestis sagitiferella terhadap Minyak Atsiri Tiga Varietas Jeruk - Muryati; Y A Trisyono; - Witjaksono
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v15n1.2005.p%p

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi ngengat Citripestis sagitiferella terhadap minyakatsiri yang diekstrak dari tiga varietas jeruk (manis pacitan, besar nambangan, dan siem). Buah jeruk yang digunakansebagai materi untuk ekstraksi diambil dari Batu, Malang (untuk jeruk manis dan siem) dan Magetan (untuk jerukbesar) pada bulan Juli 2001. Minyak atsiri jeruk diperoleh dengan metode destilasi uap air. Ngengat C. sagitiferellayang digunakan untuk perlakuan diperoleh dengan mengumpulkan larva yang menyerang jeruk manis di Batu Malangpada bulan Oktober 2001, kemudian buah yang terserang dibawa ke laboratorium Ilmu Hama Tumbuhan FakultasPertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta untuk dipelihara sampai menjadi ngengat. Ngengat yang barumuncul kemudian digunakan untuk uji preferensi menggunakan olfaktometer yang berbentuk Y dan terbuat daritabung kaca py rex. Untuk mengetahui komposisi senyawa kimia dari minyak atsiri jeruk, dilakukan deteksimenggunakan kromatografi gas dan kromatografi gas-spektrofotometri massa. Hasil penelitian menunjukkan bahwangengat C. sagitiferella tertarik pada minyak atsiri dari ketiga varietas jeruk. Tingkat preferensi C. sagitiferellatertinggi adalah terhadap minyak atsiri dari jeruk manis, dan selanjutnya jeruk besar dan siem. Minyak atsiri yangdiekstrak dari jeruk manis yang berumur 6 bulan lebih menarik ngengat C. sagitiferella dibandingkan yang berumur 2bulan. The pref er ence of Citripestis sagitiferella mothsto vol a tile com pounds of three cit rus va ri et ies. The ob jec tive of this re search was to de ter mine the pref er ence ofC. sagitiferella moths to vol a tile com pounds ex tracted from three cit rus va ri et ies (pacitan sweet or ange, nambanganpom elo, and siem or ange). Citrus fruits were taken from Batu, Malang (sweet or ange and siem or ange) and Magetan(pom elo) in July 2001. The vol a tile com pounds were ob tained through a steam distilation method. The lar vae of C.sagitiferella were col lected from dam aged sweet or ange (Batu, Malang) in Oc to ber 2001, and brought to the lab o ra -tory for sub se quent de vel op ment. Newly emerged moths were used in this study. The pref er ence tests were car ried outus ing a Y shape olfactometer. The GC and GC-MS were used to de tect the com po nents of vol a tile com pounds. There sults showed that C. sagitiferella moths at tracted to vol a tile com pounds ex tracted from all cit rus va ri et ies tested,with sweet or ange was found to be the most pref er a ble, fol lowed by pom elo and siem or ange. Fur ther more, the vol a tilecom pounds ex tracted from 6 months (af ter fruit set ting) sweet or ange was more at trac tive for C. sagitiferella mothsthen the 2 months (af ter fruit set ting) or ange fruit.

Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue