cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Respons Pertumbuhan Bibit Jeruk JC terhadap Pemberian CaCO3 dan Pupuk P pada Ultisol Martias, -
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian responss pertumbuhan bibit jeruk Japansche Citroen, terhadap pemberian CaCO3 dan pupuk P pada ultisoltelah dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada dari bulan Mei hingga Sep tem ber 2001.Penelitian bertujuan untuk mengetahui respons pertumbuhan bibit jeruk JC pada ultisol yang diberi CaCO3 dan pupukP. Hipotesis penelitian adalah pemberian CaCO3 dan pupuk P pada ultisol meningkatkan pertumbuhan bibit jeruk JCPenelitian disusun dalam rancangan acak lengkap faktorial. Faktor pertama adalah dosis CaCO3 dalam empat taraf(0,00; 7,31; 14,62; dan 21,93 g/kg tanah setara dengan 0; 6,25; 12,50; dan 18,75 ton/ha CaCO3) dan faktor keduaadalah dosis pupuk P dalam empat taraf (0,00; 0,052; 0,104; dan 0,156 g/kg P2O5 setara dengan 0; 100; 200; dan 300kg/ha P2O5). Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian CaCO3 hingga dosis 14,62 g/kg setara 12,50 ton/haCaCO3 jika dikombinasikan dengan dengan P2O5 meningkatkan pertumbuhan bibit jeruk secara nyata. Pertumbuhanterbaik diperoleh pada kombinasi 14,62 g/kg CaCO3 dengan 0,052 g/kg P2O5 setara 100 kg/ha. Pemberian CaCO3>14,62 g/kg berakibat menurunnya pertumbuhan tanaman meskipun diberi pupuk P. Hasil penelitian ini diharapkandapat mendukung penelitian dan pengembangan jeruk pada ultisol.The responsse of cit rus seed ling growth of Japansche Citroen to CaCO3 and P fer -til izer, to which were added on ultisol, has been stud ied. This study was con ducted from May un til Sep tem ber2001,and held at green house of Ag ri cul ture Fac ulty of Gadjah Mada Uni ver sity. The ob jec tive of the study was to findout the cit rus seed ling of JC grown on ultisol and added by sev eral dos ages of CaCO3 and P fer til izer. The hypotesis ofthe study was that there was an in crease of cit rus seed ling growth by sup ply ing of CaCO3 and P fer til izer. The de sign ofthe was com pletely ran dom ized fac to rial. The first fac tor was the dos age of CaCO3 which was given at four lev els (0;7,31; 14,62; and 21,93 g/kg soil were equiv a lent to 0; 6,25; 12,50; and 18,75 ton/ha CaCO3). The sec ond fac tor was Pfer til izer which con sisted of four lev els (0; 0,052; 0,104; and 0,156 g/kg soil corresponsd to 0; 100; 200; dan 300 kg/haP2O5). The re sult showed that the ap pli ca tion of 14,62 gkg-1 CaCO3 (12,50 ton/ha CaCO3) com bined with 0,052 g/kgP2O5 (100 kg/ha P2O5) gave the best growth while the ap pli ca tion of more than 14,62 g/kg CaCO3 de creased plantgrowth. This pre lim i nary study was hoped to be a ref er ence for fur ther re search and de vel op ment of cit rus in ultisol.
Pengaruh Kompos, Pupuk Ni tro gen dan Kalium pada Cabai yang Ditanam Tumpanggilir dengan Bawang Merah Suwandi, -; Rosliani, Rini
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh kompos, pupuk Ni tro gen dan Kalium terhadap pertumbuhandan hasil bawang merah dan cabai yang ditanam secara tumpanggilir pada tanah aluvial Kramat-Tegal di musim hujan.Rancangan percobaan yang digunakan adalah petak terpisah dengan ulangan tiga kali. Perlakuan terdiri atas dua tarafpemupukan kompos (sebagai petak utama) dan empat belas kombinasi perlakuan pemupukan N dan K (sebagai anakpetak). Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian pupuk kompos pada tanah aluvial untuk tanaman bawangmerah (tumpanggilir dengan cabai) tidak nyata meningkatkan hasil bawang merah, tetapi dapat menekan susut bobotbawang merah setelah dikeringkan/disimpan. Pemupukan N dan K serta kombinasinya dengan kompos berpengaruhnyata terhadap pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah buah sehat, dan bobot buah sehat cabai per petak.Dosis op ti mum pemupukan N dan K untuk tanaman cabai yang ditanam secara tumpanggilir dengan bawang merahdicapai pada dosis pemupukan 59,9 kg/ha N dan 55,1 kg/ha K20 yang diaplikasikan sebanyak tiga kali. Teknikpenanaman bawang merah dan cabai secara tumpanggilir tersebut dapat meningkatkan efisiensi pemupukan (N dan K)karena kebutuhan dosisnya lebih rendah dibandingkan dengan sistem monokultur, sehingga dapat meningkatkankeuntungan usahataninya.Ef fects of com post, ni tro gen, and po tas sium fer til iz ers on hot pep perplanted in re lay crop ping with shal lot. The ob jec tive of trial was to study the ef fects of com post, ni tro gen and po tas siumap pli ca tion on growth and yield of re lay crop ping be tween shal lot and hot pep per at al lu vial soil of Kramat-Tegal in rainysea son. A split-plot de sign with three rep li ca tions was ap plied. The treat ments con sisted of two lev els of com post ap pli ca -tions (as main plot) and 14 treat ments com bi na tion of N and K fer til iz ers (as sub-plot). The re sults showed that the ap pli ca -tion of com post did not sig nif i cantly in crease yield of shal lot (re lay crop ping with hot pep per), but its re duced weight lost ofshallot after dry ing/strorage. The application of N and K fertilizers and its com bination with com post affected significantlythe growth of plant height, num ber of branches, healthy fruit num ber, and healthy fruit weight of hot pep per per plot. Theop ti mum rate of N and K fer til iza tion on hot pep per cul ti va tion af ter shal lot are achieved at 59.9 kg N/ha and 55.1 kgK2O/ha which was ap plied three times. Re lay crop ping sys tems be tween shal lot and hot pep per could in crease NK fer til iz -ers ef fi ciency due to re duc tion of those NK dos ages com pared to mono cul ture sys tems, so it could in crease the profit oftheir farm ing.
Pengaruh Beberapa Jenis Car rier terhadap Daya Multiplikasi dan Infeksi Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) yang Dikemas ke Dalam Kapsul Anwarudinsyah, Muhamad Jawal; Jumjunidang, -; Herizal, Y
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan percobaan pengaruh beberapa jenis car rier terhadap daya multiplikasi dan infeksi cendawanmikoriza arbuskula (CMA) yang dikemas ke dalam kapsul, yang dilakukan di laboratorium Balitbu Solok. Penelitiandilaksanakan selama 10 bulan, mulai Oktober 2001 sampai Agustus 2002. Rancangan yang digunakan adalah acakkelompok faktorial dengan dua faktor perlakuan dan empat ulangan. Faktor pertama adalah jenis car rier, yang terdiridari tiga macam yaitu tanah hitam, tanah merah, dan tepung. Faktor kedua adalah jenis CMA, yaitu CMA campurandari Padang dan CMA campuran dari Sijunjung. Spora CMA dicampur dengan masing-masing car rier kemudiandimasukkan ke dalam kapsul. Selanjutnya setiap kapsul yang berisi spora CMA disimpan selama 2 bulan pada suhukamar, kemudian diinokulasikan ke bidang perakaran tanaman Puraria javanica. Pa ram e ter yang diamati meliputidaya multiplikasi dengan menghitung jumlah spora yang terbentuk dan persentase infeksi spora CMA pada akarP. javanica. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah hitam merupakan car rier yang terbaik dalam mengemasspora. CMA campuran dari Padang memiliki kemampuan multiplikasi dan menginfeksi akar P. javanica yang lebihbaik daripada CMA dari Sijunjung.Ef fect of sev eral car ri ers to mul ti plyand in fect arbuscular mycorhyza fungi (AMF) which pack ages into capsule. The ex per i ment was con ducted at thelab o ra tory of In do ne sian Fruit Re search In sti tute (IFRURI) Solok, from Oc to ber 2001 to Au gust 2002 in fac to rial ran -dom ized block de sign with two fac tors and four rep li ca tions. The first fac tor is car ri ers those were black soil, red soiland pow der and the sec ond fac tor is lo ca tion of AMF collected those were AMF from Padang and AMF fromSijunjung. AMF spores were mixed with each car rier and put into cap sule, stored for 2 months in room tem per a tureand then innoculated to the rhyzospere of P. javanica. The param eters observed were the ability of multiplication andthe per cent age of in fec tion of AMF spores in the root of Puraria javanica. The re sult in di cated that black soil was agood car rier for AMF spores pack age. While better mul ti pli ca tion and the per cent age of in fec tion were de rived ofAMF which was col lected from Padang, than from Sijunjung.
Transformasi cDNA Gen 1-Aminosiklopropan-1-Asam Karboksilat Oksidase untuk Penundaan Kematangan pada Pepaya Dampit dan Sarirona Makful, -; Subandiyah, S; Priyambada, I D; Artama, W T
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari 2002 sampai Februari 2003. Penelitian bertujuan untuk mendapatkankalus transforman gen 1-aminosiklopropan-1-asam karboksilat (ACC) oksidase yang mampu hidup dan dapatberdiferensiasi, wahana untuk membuat pepaya transgenik tahan simpan, telah dilakukan di Laboratorium BiologiMolekuler, Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, Bogor. Mutu buah pepaya salahsatunya ditentukan oleh kesegaran buah saat dikonsumsi. Proses pemasakan buah pepaya berlangsung sangat cepat,hal ini menyulitkan dalam transportasi pepaya, terutama untuk menjangkau tempat yang jauh. Proses pemasakan buahdikontrol oleh meningkatnya konsentrasi hormon etilen dan disintesis dari 1-aminosiklopropan-1-asam karboksilat.Produksi etilen dapat ditekan dengan memblok jalur biosintesis etilen. Mekanismenya adalah membuat antisens genreg u la tor biosintesis etilen. Transformasi pepaya varietas dampit dan sarirona dilakukan menggunakan par ti cle bom -bard ment. Rancangan percobaan adalah deskriptif kuantitatif dengan rancangan acak lengkap. Sumber eksplanpepaya berupa embrio zigotik yang digunakan untuk optimasi taraf kematian terhadap kanamisin, uji gusmenggunakan plasmid pRQ6 (gen gus, NPH, promotor 35S, dan ter mi na tor NOS) dan introduksi gen interes dalamplasmid pGA643 SM4 (gen antisens ACC oksidase, NPT II, promotor 35S, dan ter mi na tor NOS) pada me dia seleksi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua eksplan pepaya op ti mal pada kanamisin 150 mg/l, di mana padakonsentrasi ini eksplan mati seluruhnya. Pengujian gus terbanyak pada varietas sarirona 25% (25 spot biru) jarak 9cm, sedangkan varietas dampit 10% (9 spot biru) jarak 5 cm. Spot biru menandakan gen yang disisipi telah terintegrasipada gen tanaman. Efisiensi gen antisens ACC oksidase pada me dia seleksi kanamisin 150 mg/l menunjukkan 16%(14 embrio kotiledon) pada varietas dampit, sedangkan varietas sarirona tidak tumbuh. Tumbuhnya transforman padame dia seleksi menunjukkan eksplan tersebut sudah tersisipi pGA643 SM4 yang mengandung gen tahan terhadapkanamisin (gen NPT II ).Trans for ma tion of cDNAACC ox i dize gene for de lay rip en ing on pa paya dampit and sarirona. This re search was con ducted from Jan u ary2002 to Feb ru ary 2003. The aim of this re search was to find out trans formed cal lus by ACC ox i dize gene, there are via -ble and be able to dif fer en ti a tion, the means to de velop pa paya trans gen ic for de lay rip en ing. The re search was con -ducted at the Lab o ra tory of Mo lec u lar Bi ol ogy of Re search In sti tute for Bio tech nol ogy and Ag ri cul tural Ge neticRe sources, Bogor. One part of pa paya qual ity was de ter mined by fruit re fresh ment. The pro cess of pa paya ma tu ritywas went on very fast. This prob lem made dif fi cult for pa paya tranportation, ex cel lence to reach out long place. Thepro cess of ma tu rity was controled by incresing con cen tra tion of eth yl ene hor mone and it was syn the sized from ACC(1-aminocyclopropane-1-carboxylic acid). One of ef fort pressed eth yl ene pro duc tion with to block eth yl enebiosynthesis path way. Mech a nism of block ing eth yl ene biosynthesis path way was made antisens of gen reg u la tor.The trans for ma tion of pa paya dampit and sarirona va ri ety have been de rived by bom bard ment par ti cle. The ex per i -men tal de sign is de scrip tive quan ti ta tive and ran dom ized com plete de sign. The zy gotic em bryo as explant sourcewere used for op ti miz ing kanamycin lev els, gus as say with pRQ6 plasmid (gus gene, NPH, 35S pro moter, NOS ter mi -na tor) and in tro duc tion in ter est gene with pGA643 SM4 plasmid (antisens ACC ox i dize gene, NPT II, 35S pro moter,NOS ter mi na tor) on the se lec tive me dium. The re sult in di cated the op ti miz ing of both pa paya on 150 mg/l kanamycin.This concentration made explant die all of it. Gus as say pref er ence of sarirona 25% (25 blue spot) in dis tance 9 cm anddampit 10% (9 blue spot) in dis tance 5 cm. Ef fi ciency of antisens ACC ox i dize gene on se lec tive me dium con tain ing150 mg/l kanamycin in di cated 16% (14 cotyledonae em bryo) in dampit but in sarirona do not growth. Transformangrowth on se lec tive me dium in di cated pGA643 SM4 have in sert to zy gotic em bryo be cause plasmid con tain ing se lec -tion gene of kanamycin (NPT II gene).
Pengaruh Enzim Organik Campuran terhadap Kualitas Bibit Bawang Daun dalam Penyimpanan Soedomo, Raden Prasodjo
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 3 (2006): September 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Kebiasaan penanaman bawang daun oleh petani di Indonesia menggunakan anakan, induk, dan hampir tidak ada yang menggunakan biji. Pengiriman bibit ke luar daerah sering mengalami kerusakan sebelum sampai ke tempat tujuan. Percobaan ini bertujuan mengetahui pengaruh enzim organik campuran guna mengetahui pengaruhnya terhadap daya simpan bibit bawang daun. Percobaan dilakukan di Laboratorium Teknologi Benih Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang (1.250 m dpl), Jawa Barat, pada bulan Agustus sampai Desember 2005 untuk penyimpanan dan di lapangan untuk tes pertumbuhan. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap untuk di laboratorium dan acak kelompok untuk di lapangan, dengan model rancangan petak-petak terpisah dengan 3 ulangan. Kombinasi perlakuan ada 24, rincian perlakuan terdiri atas media simpan (petak utama): A (A1= pembanding/tanpa menggunakan media/kering, A2=kontrol/menggunakan air, A3=Dufic 0,1 ml/l air, A4=Dufic 0,2 ml/l air), ukuran bibit (anak petak): B (B1=super/ panjang batang palsu >15 cm dan diameternya >15 mm, B2=medium/panjang batang palsu 10-15 cm, dan diameter batang 10-15 mm dan B3=kecil atau pendek/panjang batang palsu <10cm, dan diameter batang <10 mm), lokasi penyimpanan (anak-anak petak): C (C1=tempat terbuka/greenhouse, C2=tempat tertutup/Laboratorium Benih). Hasil percobaan menunjukkan bahwa bibit bawang daun dapat disimpan maksimum 6 hari dengan syarat batangnya tidak terendam larutan Dufic 508 dosis 0,1 ml/l air dan bibit yang ukurannya besar mampu menstimulir aktivasi metabolisme sel dalam bentuk rendahnya kerusakan bibit dan berpengaruhnya terhadap partumbuhan tinggi tanaman. Interaksi perlakuan terbaik adalah penggunaan Dufic 508 dosis 0,1 ml/l air dan ukuran bibit super yang disimpan di dalam ruangan tertutup.ABSTRACT, Soedomo, R.P. 2006. The effect of organic enzyme mixture on bunching onions planting material quality in storage. Commonly Indonesian farmers use sucker of bunching onion as a planting material and never use seeds. Planting material transportation outside region encountered damages before reached the destination. The objective of this trial was to determine the effect of mixture of organic enzyme (Dufic 508) on bunching onions planting material storage quality. The experiment was carried out in the laboratory of Seed Technology and in the field of Indonesian Vegetable Research Institutes (1,250 m asl), West Java, from August to December 2005. The experimental design was a RBD for seed laboratory study and a RCBD for field test, a split split plot design with 3 replications. The treatment combinations were: keeping media (main plot) (A1=standard/without media/dry, A2=control/used water, A3=Dufic 0.1 ml/l of water, A4=Dufic 0.2 ml/1 of water), B. Planting material size (subplot) (B1=super/length of stem >15 cm and diameter > 15mm, B2 = Medium/length of stem 10-15 cm and diameter 10-15 mm, B3=small or short/stem <10 cm and diameter <10 mm), C. Storage (subsubplot) (C1=open storage/greenhouse, C2=close storage in the seed laboratory). The results showed that the planting material of bunching onion could be kept maximum for 6 days with unsoaked stem, Dufic 508 dosage 0.1 ml/1 liter of water in combination with super size of planting material could stimulate metabolism activation of plant cells described by decreasing of planting material damages and increasing of plant height. Interaction between Dufic 508 with dosage 0.1 ml/l of water, super size of planting material and keep in closed storage was the best.
Transformasi cDNA Gen 1-Aminosiklopropan-1-Asam Karboksilat Oksidase untuk Penundaan Kematangan Buah Pepaya Dampit dan Sarirona Makful, -; Purnomo, Sudarmadi; Sunyoto, -; Iswanto, R; Utami, T.I.R.
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari 2002 sampai Februari 2003, bertujuan untuk mendapatkan kalustransforman gen 1-aminosiklopropan-1-asam karboksilat oksidase yang mampu hidup dan dapat berdiferensiasi,wahana untuk membuat pepaya transgenik tahan simpan, telah dilakukan di Laboratorium Biologi Molekuler, BalaiBesar Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, Bogor. Mutu buah pepaya salah satunyaditentukan oleh kesegaran buah saat dikonsumsi. Proses pemasakan buah pepaya berlangsung sangat cepat, hal inimenyulitkan dalam transportasi pepaya, terutama untuk menjangkau tempat yang jauh. Proses pemasakan buahdikontrol oleh meningkatnya konsentrasi hormon etilen yang disintesis dari 1-aminosiklopropan-1-asam karboksilat.Produksi etilen dapat ditekan dengan memblok jalur biosintesis etilen. Mekanismenya adalah membuat antisens genreg u la tor biosintesis etilen. Transformasi pepaya varietas dampit dan sarirona dilakukan menggunakan bombardemenpartikel. Rancangan percobaan adalah deskriptif kuantitatif dengan rancangan acak lengkap. Sumber eksplan pepayaberupa embrio zigotik yang digunakan untuk optimasi taraf kematian terhadap kanamisin, uji gus menggunakanplasmid pRQ6 (gen gus, NPH, promotor 35S, dan ter mi na tor NOS) dan introduksi gen interes dalam plasmid pGA643SM4 (gen antisens 1-aminosiklopropan-1-asam karboksilat oksidase, NPT II, promotor 35S, dan ter mi na tor NOS)pada me dia seleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua eksplan pepaya op ti mal pada kanamisin 150 mg/l, dimana pada konsentrasi ini eksplan mati seluruhnya. Pengujian gus terbanyak pada varietas sarirona 25% (25 spotbiru) jarak 9 cm, sedangkan varietas dampit 10% (9 spot biru) jarak 5 cm. Spot biru menandakan gen yang disisipitelah terintegrasi pada gen tanaman. Efisiensi gen antisens ACC oksidase pada me dia seleksi kanamisin 150 mg/lmenunjukkan 16% (14 embrio kotiledon) pada varietas dampit, sedangkan varietas sarirona tidak tumbuh.Tumbuhnya transforman pada me dia seleksi menunjukkan eksplan tersebut sudah tersisipi pGA643 SM4 yangmengandung gen tahan terhadap kanamisin (gen NPT II ).Trans for ma tion of cDNAACC ox i dize gene for de lay rip en ing on pa paya dampit and sarirona. This re search was con ducted from Jan u ary2002 to Feb ru ary 2003. The aim of this re search was to find out trans formed cal lus by aminocyclopropane carboxylicacid (ACC) ox i dize gene, there are vi a ble and be able to dif fer en ti a tion, the means to de velop pa paya trans gen ic forde lay rip en ing. The re search was con ducted at the Lab o ra tory of Mo lec u lar Bi ol ogy of Re search In sti tute for Bio tech -nol ogy and Ag ri cul tural Ge netic Re sources, Bogor. One of pa paya qual ity was de ter mined by fruit fresh ness. The pro -cess of pa paya ma tu rity was very fast. This prob lem made dif fi cult for hap pened pa paya trans por ta tion. The pro cess ofma tu rity was con trolled by in creas ing con cen tra tion of eth yl ene hor mone and it was syn the sized from1-aminocyclopropane-1-carboxylic acid. One of ef fort pressed eth yl ene pro duc tion was long dis tance block ingethylene biosynthesis path way. Mech a nism of block ing eth yl ene biosynthesis path way was made antisens of genereg u la tor. The trans for ma tion of pa paya dampit and sarirona va ri ety have been de rived by bom bard ment par ti cle. Theex per i men tal de sign was de scrip tive quan ti ta tive with ran dom ized com plete de sign. The zy gotic em bryo as explantsource were used for op ti miz ing kanamycin lev els, gus as say with pRQ6 plasmid (gus gene, NPH, 35S pro moter, andNOS ter mi na tor) and in tro duc tion in ter est gene with pGA643 SM4 plasmid (antisens ACC ox i dize gene, NPT II, 35Spro moter, NOS ter mi na tor) on the se lec tive me dium. The re sults in di cated the op ti miz ing of both pa paya on 150 mg/lkanamycin. This con cen tra tion made all explant of results. Gus as say pref er ence of sarirona 25% (25 blue spot) in dis -tance 9 cm and dampit 10% (9 blue spot) in dis tance 5 cm. Ef fi ciency of antisens ACC ox i dize gene on se lec tive me -dium con tain ing 150 mg/l kanamycin in di cated 16% (14 cotyledone em bryo) in dampit but in sarirona was not growth.Transforman growth on se lec tive me dium in di cated pGA643 SM4 have in serted to zy gotic em bryo be cause plasmidcon tain ing se lec tion gene of kanamycin (NPT II gene).
Patogenisitas Penyakit Speckle Daun Pisang (Cladosporium musae Ma son) pada Tanaman Pisang Ahmad, ZAM; Meon, S; Wahab, Z; Singh, G
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dilakukandi Laboratorium Fitopatologi Fakulti Pertanian Universiti Putra Ma lay sia dari bulan Juni sampaiSep tem ber 2002. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui patogenisitas cendawan Cladosporium musae Ma sonpada tanaman pisang sebagai tanaman inangnya. Bibit tanaman pisang barangan (AAA) umur 8 minggu yang berasaldari kul tur jaringan dan potongan daun bibit pisang barangan umur 8 minggu diinokulasi dengan cara disemprotsuspensi konidia C. musae (106 konidia per ml). Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun bibit pisang barangan yangdiinokulasi dengan suspensi konidia C. musae dan dipelihara di dalam rumah kaca gagal menunjukkan gejala spesifikpenyakit speckle daun. Meskipun demikian, patogenisitas C. musae dapat dibuktikan melalui inokulasi potongandaun bibit pisang barangan dengan suspensi konidia cendawan tersebut. Pengujian secara mikroskopis menunjukkanbahwa infeksi penyakit terjadi melalui stomata. Selain itu pengujian secara histologis menunjukkan bahwa di dalamsel-sel daun, hifa C. musae tumbuh dan berkembang baik secara intrasel maupun antarsel.Patho ge nic ity study of ba nanaleaf speckle (Cladosporium musae Ma son) on ba nana. The ex per i ment was con ducted in Phytopathology Lab o ra -tory Fac ulty of Ag ri cul ture, Uni ver sity of Putra Ma lay sia from June - Sep tem ber, 2002. The aim of this ex per i mentwas to es tab lish and con firm the patho ge nic ity of Cladosporium musae Ma son on ba nana as the host plant. The ba nanaseed lings of barangan (AAA) of 8 weeks old pro duced by tis sue cul ture and de tached ba nana leaves of barangan werein oc u lated by spray ing with conidia sus pen sion of C. musae (106 conidia per ml). The re sults of this ex per i mentshowed that in oc u la tion of barangan seed lings which were main tained un der glass house con di tions was failed show -ing the speckle dis ease symp tom on ba nana leaves. How ever, ev i dence of patho ge nic ity was ob tained by a sim i lar in -oc u la tion done on de tached leaves of barangan. Mi cro scopic ex am i na tions re vealed hyphal pen e tra tion via stomatare sult ing in ne cro sis of the cells ad ja cent. Histological ex am i na tions also showed intracellular and intercellular growthof C. musae within leaf cells.
Standar Mutu Bunga Melati Segar dan untuk Bahan Baku Industri Suyanti, -; Prabawati, Sulusi; Sjaifullah, -
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bunga melati putih digunakan untuk rangkaian bunga segar, bahan baku industri teh dan minyak atsiri, sertakomoditas ekspor ke Singapura. Penelitian bertujuan untuk menyusun konsep standar mutu bunga melati segar danuntuk bahan baku industri. Standar mutu bunga melati segar dan bahan baku industri sangat diperlukan sebagaipatokan dalam pengembangan agribisnis bunga melati. Mutu bunga melati segar sangat ditentukan oleh ukurankuntum bunga, warna, dan kesegaran bunga. Bunga melati asal daerah Tegal, Tangerang, Cirebon, dan Bogor untukrangkaian bunga, dan bahan ekspor diamati karakteristik fisiknya (to tal panjang bunga, di am e ter kuntum bunga,panjang kuntum bunga, dan warna). Bunga melati untuk pabrik teh juga diamati fisik dan residu pestisidanya.Standar mutu bunga melati untuk rangkaian yaitu bunga kuncup berwarna putih, segar, dan berukuran besar (di am e terkuntum 6,58±0,733 mm, panjang kuntum 11,76±1,389 mm). Standar melati untuk ekspor adalah kuncup berwarnaputih, segar, dan berukuran besar (di am e ter kuntum 6,8640±0,5858 mm, panjang kuntum 12,454±1,040 mm). Standarmutu bunga untuk pewangi teh, kuntum bunga kuncup berwarna putih, tidak ada kotoran, dan jumlah bunga tidakdapat mekar terikut maksimum 10%. Standar bunga melati untuk minyak atsiri adalah, kuncup, segar, berwarna putih,dan tanpa tangkai. Kadar residu pestisida masih di bawah ketentuan dan residu pestisida pada tehnya adalah tidak ada.Qual ity of fresh white jas mines for stan dard freshus age and in dus trial pur pose. White jas mines have al ways been used for dec o ra tion, tea in dus try and es sen tial oilin dus try, as well as ex port com mod ity to Sin ga pore. The re search’s aims was to build a draft stan dard fresh jas minequal ity for fresh flow ers and in dus trial pur pose. The stan dard it self will be very use ful for agroindustry de vel op ment.Jas mine qual ity was af fected by the flower’s size, color, and its fresh ness. Jas mine from Tegal, Tangerang, Cirebon,and Bogor ar eas were mostly used as fresh flow ers. Tegal’s jas mines have been ex ported to Sin ga pore and have beenused for tea in dus try as well. Analized the jas mines for phys i cal ap pear ance (length, di am e ter, and color) and jas minefor ar o matic tea was for the pestiside res i due con tent. Qual ity stan dard for jas mine flower clus ter ar range ment re -quired bud white color, fresh, and should has rel a tively big size (6.58±0.733 mm in di am e ter, and 11.76±1.389 mm inlength). The ex ports qual ity have dif fer ent re quire ment, of white color and big size bud, (6.864±0.586 mm in di am e terand 12.454±1.040 mm in length). Stan dard qual ity for tea in dus try was white jas mine bud stages and free fromdispeckle with max i mum amount of bud flow ers was 10%. The stan dard for es sen tial oil was white col ored jas mineand bloomed yet, fresh, and stalkless. The res i due con tent on the jas mine was lower than the max i mum res i due limitand the res i due on the tea was un de tect able.
Persepsi Publik terhadap Keberadaan Pertanian Ur ban di Ja karta dan Bandung Adiyoga, Witono; Dimyati, Ahmad; Soetiarso, Thomas Agoes; Ameriana, Mieke; Suherman, Rahman
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus-No vem ber 2001 di dua daerah ur ban di Ja karta dan Bandung.Kegiatan survai dilakukan untuk menghimpun persepsi dan pengetahuan responden mengenai keberadaanpertanian ur ban, melalui wawancara menggunakan kuesioner. Responden sejumlah 39 orang (Ja karta) dan 41orang (Bandung) dipilih secara sengaja dari beberapa institusi terkait, perguruan tinggi, dan lembaga swadayamasyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden memberikan tanggapan positif terhadapkeberadaan pertanian ur ban. Sementara itu, jenis kegiatan yang menjadi preferensi sebagian besar responden adalahpengusahaan hortikultura (sayuran, buah-buahan, dan tanaman hias), tidak saja dari sisi produksi, tetapi juga termasukpengolahannya. Sebagian besar responden mendukung penempatan kegiatan pertanian ur ban hampir di setiap lokasiyang secara teknis memenuhi syarat dan secara ekologis maupun estetis tidak mengganggu/merusak atau mengarahpada kegiatan yang bersifat kontra produktif. Responden juga berpendapat bahwa sebaiknya ada ar eal khusus di daerahur ban yang dialokasikan maupun yang dilarang untuk kegiatan pertanian. Menurut persepsi responden, tanggung jawabpembinaan yang perlu dilaksanakan secara terpadu oleh institusi pertanian, penataan kota, dan perencanaan harusmeliputi (a) memberikan pelayanan penyuluhan dan bantuan teknis bagi pelaku pertanian ur ban, (b) mengidentifikasilokasi yang memungkinkan untuk kegiatan pertanian ur ban, (c) menyusun formulasi kebijakan atau peraturanmenyangkut kegiatan pertanian ur ban, (d) memonitor kegiatan pertanian ur ban, dan (e) melakukan registrasi danpemberian ijin untuk kegiatan pertanian ur ban. Namun demikian, pengamatan dan pengalaman pribadi respondenmengindikasikan bahwa peranan institusi terkait dalam melakukan fasilitasi pengembangan pertanian ur ban di Ja -karta dan Bandung masih perlu terus ditingkatkan. Dua isu penting yang dipersepsi responden membatasiperkembangan pertanian ur ban adalah isu akses dan ketersediaan lahan, serta isu kelembagaan berhubungan dengandukungan kebijakan, regulasi, dan perencanaan. Strategi promosi yang harus dilakukan oleh berbagai instansi terkait(pertanian, penataan kota, dan perencanaan) menurut pendapat responden pada dasarnya, mengarah pada berbagaiupaya untuk melembagakan (institutionalization) pertanian ur ban ke dalam perencanaan pengembanganperkotaan. Secara berurutan, responden berpendapat bahwa prioritas tindakan yang perlu dilakukan berkenaan denganpengembangan pertanian ur ban adalah (1) menetapkan kebijakan yang jelas mengenai keberadaan pertanian ur ban sertaketerpaduannya dengan perencanaan pengembangan perkotaan yang dituangkan ke dalam peraturan daerah, (2)melakukan sosialisasi pertanian ur ban ke semua tingkatan masyarakat, tidak saja menyangkut potensi manfaatnya,tetapi juga mengenai kemungkinan dampak negatifnya (ekonomis dan ekologis), (3) memberikan pelatihan/penyuluhanteknologi tepat guna untuk mendukung kegiatan produksi, pengolahan, dan pemasaran beserta pro grampercontohannya, dan (4) memberikan fasilitasi, terutama kemudahan memperoleh lahan garapan dan kredit, kepadapelaku pertanian ur ban.Pub lic per -cep tion of ur ban ag ri cul ture ex is tence in Ja karta and Bandung. This study was con ducted from Au gust to No -vem ber 2001 in ur ban Ja karta and Bandung. A sur vey was car ried out to col lect in for ma tion re gard ing pub licper cep tion and knowl edge on the ex is tence of ur ban ag ri cul ture, through in ter views by us ing a questionaire.Respondents (39 and 41 from Ja karta and Bandung, re spec tively) were se lected pur pos ively from some in sti tu -tions, such as ag ri cul tural of fices, city plan ning of fices, uni ver si ties, and non-gov ern men tal of fices. Re sults in di -cate that all re spon dents show pos i tive opin ion and re sponse with re gard to the ex is tence of ur ban ag ri cul ture.Ag ri cul tural ac tiv ity pre ferred by most re spon dents is hor ti cul ture (veg e ta bles, fruits, and ornamentals), not onlyfrom pro duc tion side, but also on pro cess ing. Most re spon dents sup port all lo ca tions that sat isfy the tech ni cal re -quire ments for car ry ing out ag ri cul tural ac tiv i ties as long as they are eco log i cally and aes thet i cally sound. Re spon -dents sug gest not only the al lo ca tion of spe cial area for con duct ing ag ri cul tural ac tiv i ties, but also the pro hi bi tionof par tic u lar area to be used that may lead to coun ter pro duc tive ac tiv i ties. Most re spon dents per ceive that the re -spon si bil ity for guid ing the de vel op ment of ur ban ag ri cul ture should be car ried out as an in te grated ef fort from ag -ri cul tural and city plan ning of fices that may in clude (a) pro vid ing ser vices, ex ten sion, and tech ni cal as sis tance tour ban ag ri cul ture ac tors, (b) iden ti fy ing lo ca tions most fea si ble for ur ban ag ri cul ture ac tiv i ties, (c) for mu lat ingpol i cies or legislations to reg u late ur ban ag ri cul ture ac tiv i ties, (d) mon i tor ing ur ban ag ri cul ture ac tiv i ties, and (e)con duct ing reg is tra tion and pro vid ing per mits for ur ban ag ri cul ture ac tiv i ties. How ever, re spon dents’ per sonal ob -ser va tion and ex pe ri ence in di cate that the ef fec tive ness of these in sti tu tions in car ry ing out their roles still needssome im prove ments. Two im por tant is sues con sid ered im por tant by most re spon dents that may limit or ham per thede vel op ment of ur ban ag ri cul ture are land ac cess/avail abil ity and in sti tu tional as pects re lated to pol icy, reg u la tionand plan ning sup ports. Most re spon dents per ceive that the pro mo tion strat egy of ur ban ag ri cul ture should beaimed at in sti tu tion al iz ing the in te gra tion of ur ban ag ri cul ture plan ning into ur ban/city de vel op ment plan ning.There are some pri or ity ac tions re spec tively sug gested by re spon dents in de vel op ing ur ban ag ri cul ture, those are(1) formulating clear policies regarding the existence of urban agri culture and its integration to the city development planning that is documented in regional legis lation/regulation, (2) socializing the existence of urban agri culture to alllev els, not only its po ten tials, but also its neg a tive im pacts, eco nom i cally, and eco log i cally, (3) pro vid ing train ing/ex -tension on appropriate technol ogy to support production, processing and marketing activities, including its dem onstra -tion programs/plots, and (4) providing facil itation, especially access to land and credit to urban agri culture producers.
Perkembangan dan Kemampuan Reproduksi Tungau Panonychus citri McGregor (Acarina:Tetranychidae) yang Resisten dan Peka terhadap Akarisida Istianto, M
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Panonychus citri adalah salah satu hama penting tanaman jeruk. Perbedaan sifat kepekaan tungau ini terhadap pestisida diduga menyebabkan perubahan karakter tungau ini. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan perkembangan dan kemampuan reproduksi tungau P. citri yang resisten dan peka terhadap akarisida pada saat tanpa dan dengan perlakuan minyak atsiri jeruk. Populasi tungau diambil dari kebun jeruk Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Tlekung, Batu, Malang dan kebun jeruk Kusuma Agrowisata Batu, Malang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2003-Februari 2004 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Tlekung. Tingkat kepekaan tungau P. citri terhadap akarisida dianalisis dengan analisis probit. Untuk mengetahui perbedaan perkembangan dan kemampuan reproduksi dan pengaruh minyak atsiri terhadap tu-ngau P. citri asal kedua kebun tersebut dilakukan menggunakan analisis uji-T. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk dapat membunuh 50-95% populasi P. citri asal Kusuma Agrowisata diperlukan konsentrasi propargite dan amitraze yang lebih tinggi dibanding P. citri asal Tlekung. Perkembangan dan kemampuan reproduksi tungau P. citri dari kedua lokasi tersebut tidak menunjukkan perbedaan nyata ketika tidak diperlakukan dengan minyak atsiri jeruk. Pada perlakuan minyak atsiri jeruk, tungau P. citri asal Kusuma Agrowisata relatif lebih toleran dibanding tungau asal Tlekung. Tungau asal Kusuma Agrowisata menghasilkan jumlah telur dan larva yang lebih banyak dibanding tungau asal Tlekung. Fakta ini menunjukkan bahwa resistensi hama sangat merugikan, karena selain hama tidak dapat dikendalikan dengan bahan kimia, sistem kekebalan yang dimiliki tanaman melalui metabolit sekunder juga menjadi tidak efektif. Oleh sebab itu aplikasi pestisida harus dilakukan hati-hati agar resistensi hama dapat dicegah.ABSTRACT. Istianto, M. 2007. The Development and Reproductive Capacity of Panonychus citri McGregor (Acarina:Tetranychidae) that is Resistance and Susceptible to Acaricides. Panonychus citri mite is one of the most economically important citrus pests in Indonesia. The different status of mite susceptibility to acaricides is suspected causing the characters of P. citri change. The objectives of this research were to understand the differences of development and reproductive capacity of P. citri that was resistance and susceptible to acaricides with or without citrus essential oil treatment. Samples of P. citri were collected from citrus orchards of Kusuma Agrowisata and Indonesian Citrus and Subtropic Fruit Research Institute, Tlekung. The studies were conducted from October 2003 to February 2004 in Indonesian Citrus and Subtropic Fruit Research Institute,Tlekung, Batu, Malang and Gadjah Mada University, Yogyakarta. The susceptibility level of P. citri populations to acaricides were analysed by probit analyses while development and reproductive capacity due to citrus essential oil application were analysed by T-test. The results showed that higher concentration of propargite and amitraze acaricides were needed to kill 50-95% of P. citri population from Kusuma Agrowisata than those from Tlekung. The development and reproductive capacity of P. citri from both locations were not significantly different in the condition without citrus essential oil treatment. Citrus essential oil treatment indicated that P. citri population collected from Kusuma Agrowisata was more tolerant than from Tlekung. The number of eggs laid and larva of P. citri from Kusuma Agrowisata were higher than those from Tlekung. This facts indicated that resistance insidence could cause more disadvantage effects. Resistance of miles to pesticides also caused secondary metabolites as resistance agent of plant to pests not effective. Pesticides must be applicated at exact time, target, and concentration to avoid extended disadvantages

Page 34 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue