cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Pengaruh Umur Buah dan Faktor Iklim terhadap Serangan Penggerek Buah Jeruk Citripestis sagitiferella Mr. (Lepidoptera:Pyralidae) -, Muryati
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh umur buah dan faktor iklim terhadap serangan hama penggerek buah jeruk Citripestis sagitiferella. Penelitian ini dilakukan di Batu, Malang mulai bulan Agustus 2001 sampai dengan Juli 2002. Penelitian untuk mendapatkan data serangan penggerek buah jeruk pada berbagai umur buah dan iklim dilakukan dengan metode survei, sedangkan untuk mengetahui komposisi senyawa atsiri pada berbagai umur buah dilakukan dengan jalan ektraksi kulit buah dengan distilasi uap. Minyak hasil ekstraksi tersebut dianalisis komposisinya dengan metode kromatografi gas di Laboratorium Analisis Kimia dan Fisika Pusat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat serangan C. sagitiferella di lapang dipengaruhi oleh perubahan konsentrasi dari komponen senyawa atsiri dari umur buah yang berbeda dan jumlah hari hujan. Komponen utama minyak atsiri jeruk, yaitu limonen secara sendiri tidak mempunyai pengaruh yang nyata terhadap preferensi ngengat C. sagitiferella, tetapi bersama komponen yang lain berpengaruh meningkatkan preferensi dan jumlah hari hujan yang tinggi meningkatkan tingkat serangan ngengat. Hasil penelitian ini bermanfaat untuk monitoring hama penggerek C. sagitiferella sehingga saat pengendalian yang tepat dapat ditentukan.ABSTRACT. Muryati. 2007. The Effect of Fruit Maturity and Climatic Factors on Damage Intensity of Citrus Fruit by Fruit borer Citripestis sagitiferella (Lepidoptera:Pyralidae).The objective of this research was to understand the effect of fruit maturity and climatic factors on damage intensity of citrus fruit by fruit borer C. sagitiferella. The experiment was conducted at Batu, Malang from August 2001 to July 2002. The experiment to observe the fruit damage by citrus fruit borer on several fruit maturity and climatic conditions were conducted by survey method, while the composition of volatile compounds was done by extraction of fruit peel through steam distilation. Characterization of volatile compounds composition were analized by gas chromatography at Laboratorium of Physic and Chemistry Analysis, Gadjah Mada University, Yogyakarta. The results showed that damage intensity of fruit caused by C. sagitiferella was influenced by concentration of the component of volatile compounds on the different fruit maturity and the number of the rainy days. Limonen as the dominant component on citrus volatile compounds did not affect the preference of C. sagitiferella moth, but along with other components increased the preference. The high number of rainy days increased fruit damages by the moth. The results of this research was usefull for minitoring programe of C. sagitiferella so that the right time of controlling the pest can exactly be decided.
Penampilan Fenotipik Beberapa Hibrida F1 Pepaya Indriyani, N L P
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 3 (2007): September 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dilakukan di desa Banjarsari (±5 m dpl), Probolinggo, Jawa Timur, mulai bulan Nopember 2000 sampai September 2001 menggunakan rancangan acak kelompok lengkap. Perlakuan terdiri dari 10 hasil persilangan dan 3 ulangan. Peubah yang diamati adalah saat muncul bunga pertama, letak bunga pertama, letak buah jadi yang pertama, umur panen buah pertama, panjang tangkai buah, panjang buah, diameter buah, tebal buah, jumlah biji, berat buah, jumlah buah, hasil, padatan terlarut total, kadar air, dan kadar vitamin A. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua karakter berbeda nyata di antara hibrida F1 kecuali saat muncul bunga pertama, letak bunga pertama, kadar air buah, dan vitamin A. Hibrida F1 dari persilangan 99-015 x 99-020, 99-015 x 99-017, dan 99-020 x 99-017 mempunyai karakter unggul yang paling banyak (7 karakter). Hibrida F1 yang mempunyai letak buah jadi yang pertama yang rendah ditampilkan oleh persilangan 99-015 x 99-020, 99-015 x 99-017, dan 99-020 x 99-017. Hibrida F1 yang mempunyai umur panen buah pertama yang paling cepat ditampilkan oleh persilangan 99-015 x 99-017. Hampir semua hibrida F1 mempunyai hasil yang tinggi kecuali dari persilangan 99-015 x 99-010, 99-014 x 99-010, dan 99-010 x 99-017. Hibrida F1 dari persilangan 99-015 x 99-017 mempunyai keunggulan letak buah jadi yang rendah, umur panen buah pertama yang cepat, hasil tinggi, dan padatan terlarut total yang tinggi. Hasil ini dapat digunakan untuk memilih hibrida F1 dalam rangka peningkatan produktivitas dan kualitas pepaya.ABSTRACT. Indriyani, N.L.P. 2007. Phenotypic Performance of some F1 Hybrids of Papaya. The aim of the research was to obtain the best phenotypic performance of papaya hybrids. The experiment was conducted at Banjarsari (± 5 m asl), Probolinggo, East Java, from November 2000 to September 2001, using a randomized complete block design. The treatment consisted of 10 populations of artificial cross pollination and 3 replications. Parameters observed were time of first flower emergence, first flower position, first fruit position, harvest time of first fruit, length of fruit stalk, fruit length, fruit diameter, flesh thickness, seed number, fruit weight, fruit number, yield, total soluble solid, moisture, and vitamin A. The results showed that almost all of characters observed among the hybrids were significantly different with exception for emergence of first flower, position of first fruit, moisture, and the vitamin A. Among 10 hybrids, 3 F1 hybrids were found to have highest superior character (7 characters). The lowest of first fruit position was presented by F1 hybrid from crossing of 99-015 x 99-020, 99-015 x 99-017, and 99-020 x 99-017. The earliest of harvest time of first fruit was presented by F1 from 99-015 x 99-017. Almost all of F1 hybrids were found to have high yield except for F1 hybrid of 99-015 x 99-010, 99-014 x 99-010, and 99-010 x 99-017. The lowest of first fruit position, the earliest of harvest time of first fruit, high yield, and high total soluble solid was presented by F1 hybrid of 99-015 x 99-017. This results can be used to select F1 hybrid in supporting the productivity and quality of papaya.
Kekerabatan Genetik Beberapa Spesies Jeruk Berdasarkan Taksonometri Hardiyanto, -; Mujiarto, E; Sulasmi, E S
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 3 (2007): September 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Metode karakterisasi yang dilakukan pada koleksi jeruk di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Tlekung sampai saat ini masih terbatas pada pengamatan morfologi. D� � � � � Dengan demikian, data yang diperoleh belum cukup untuk menggambarkan kekerabatan spesies jeruk, sebab deskripsinya belum menggambarkan karakter sebenarnya dari berbagai spesies jeruk yang dikoleksi. Tujuan penelitian adalah memperoleh informasi mengenai karakter morfologi varietas-varietas lokal jeruk dari beberapa spesies dan menentukan kedudukan takson/kategori secara hierarki untuk varietas jeruk lokal. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biologi, Jurusan Biologi, Universitas Negeri Malang dan di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Tlekung-Batu. Jeruk yang digunakan pada penelitian ini adalah 3 spesies jeruk komersial masing-masing 3 varietas, yaitu Citrus reticulata Blanco (Cinakonde, Batu, dan Pulung), C. maxima Merr. (Nambangan, Sambas, dan Sri Nyonya), dan C. sinensis Osbeck. (Pacitan, Kupang, dan Punten). Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan secara morfologi maupun anatomi diantara spesies jeruk dan varietas jeruk lokal. Tingkat kekerabatan genetik pada 3 spesies jeruk juga sangat rendah. Adapun nilai kekerabatan untuk variets jeruk lokal pada C. maxima merr, C. reticulata Blanco, dan C. sinensis Osbeck masing-masing adalah 68%, 54%, dan 47%. Namun demikian, varietas lokal Nambangan (C. maxima Merr) dan Cinakonde (C. reticulata Blanco) ternyata terpisah dari kelompoknya pada analisis klaster dan menunjukkan ciri-ciri yang berbeda. V� � � � � � � � � � � � Varietas jeruk lokal yang diteliti tidak semua dapat dikategorikan sebagai varietas. Secara hierarki Nambangan dan Cinakonde dapat dikategorikan sebagai varietas, sedangkan varietas jeruk lokal yang lain dikategorikan sebagai subspesies sebab tidak adanya karakter yang membedakan dari kelompoknya secara jelas.ABSTRACT. Hardiyanto, E. Mujiarto, and E.S. Sulasmi. 2007. Genetic Relationship Among Several Citrus Species Based on Taxonometry. Characterization method applied on citrus collection in Indonesian Citrus and Subtropical Fruit Research Institute, up to now was only based on morphological observation. Therefore, the obtained data have not really described the citrus relationship because the descriptions have not yet expressed the real characters of collected citrus species. The aim of this research was to obtain some information on morphological characteristics and a hierarchy taxon status of local varieties derived from several species. The research was carried out at Biology laboratorium, Malang University and Indonesian Citrus and Subtropical Fruit Research Institute. Three citrus species with 3 varieties, respectively, were used in this research, those were Citrus reticulata Blanco (Cinakonde, Batu, and Pulung), C. maxima Merr. (Nambangan, Sambas, and Sri Nyonya), and C. sinensis Osbeck (Pacitan, Kupang, and Punten). The results indicated that there were morphological and anatomical different among citrus species as well as local citrus varieties. The level of genetic relationship among three citrus species was aslso very low. Moreover, the level of genetic relationship of local citrus varieties of C. maxima Merr, C. reticulata Blanco, and C. sinensis Osbeck was 68, 54, and 47%, repectively. Nevertheless, Nambangan (C. maxima Merr) and Cinakonde (C. reticulata Blanco) were separated from its group based on cluster analysis and showed different characters. It seems that not all citrus varieties studied were categorized as varieties. It was only Nambangan and Cinakonde were categorized as varieties, while other citrus varieties were categorized as subspecies because there was no different character identified within their groups.
Pengaruh NAA dan BAP terhadap Pertumbuhan Jaringan Meristem Bawang Putih pada Media B5 Karjadi, A K; Buchory, A
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 3 (2007): September 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang dari bulan Juni-Oktober 2004. U��������������������������������������������������������������Untuk mengetahui interaksi antara NAA dan BAP dalam beberapa konsentrasi yang berbeda terhadap jumlah daun, tinggi plantlet, dan jumlah akar dari penumbuhan jaringan meristem bawang putih kultivar Lumbu Hijau. Rancangan yang dipergunakan acak lengkap faktorial, setiap perlakuan menggunakan tanaman dalam 20 tabung reaksi dengan volume media 3 ml. Perlakuan yang diuji adalah penanaman jaringan meristem varietas Lumbu Hijau pada media dasar B5, NAA (0, 2,5, 5,0, 7,5, dan 10 mg/l), BAP (0, 2,5, 5,0, 7,5, dan 10 mg/l). Setelah jaringan meristem tumbuh dan berkembang, plantlet ditransfer ke media B5 ditambah zat pengatur tumbuh IAA 8 mg/l dan Kinetin 2,5 mg/l. Hasil analisis statistik terdapat interaksi antara perlakuan zat pengatur tumbuh NAA dan BAP terhadap jumlah daun, tinggi plantlet, dan jumlah akar per plantlet. Hasil terbaik dari masing-masing peubah yaitu perlakuan tanpa NAA dengan BAP 2,5-7,5 mg/l untuk jumlah daun, tanpa NAA dengan BAP 2,5 mg/l untuk tinggi plantlet dan NAA 2,5 mg/l dengan BAP 2,5 mg/l untuk jumlah akar per plantlet.ABSTRACT. Karjadi, A.K. and Buchory A. 2007. The Effe ct of NAA and BAP on Me ristem Growt h of Garlic in B5 Me dium. The experiment was conducted in Tissue Culture Laboratory of Indonesian Vegetable Research Institute from June-October 2004. The experiment design was RCD factorial with 20 test tubes per treatment, each test tube consist of 3 ml medium. The treatments were garlic meristem of cv. Lumbu Hijau, planted in B5 medium with supplement NAA (0, 2.5, 5.0, 7.5, and 10 mg/l), BAP (0, 2.5, 5.0, 7.5, and 10 mg/l). After the meristem have been proliferated then transfered to B5 medium with hormone IAA 8 mg/l and Kinetin 2.5 mg/l. The results indicated that there were interaction between treatment NAA and BAP on leaf number, plantlet height, and root number per plantlet. The best results were NAA 0 mg/l with BAP 2.5-7.5 mg/l for leaf number, NAA 0 mg/l with BAP 2.5 mg/l for plant height; NAA 2.5 mg/l with BAP 2.5 mg/l for number of roots per plantlets, respectively.
Pengaruh Bahan Organik dan Interval serta Volume Pemberian Air terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kentang di Rumah Kaca Sutrisna, N; Surdianto, Y
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 3 (2007): September 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Kentang merupakan sumber kalori dan mineral penting bagi pemenuhan gizi masyarakat dan permintaannya setiap tahun terus meningkat, sehingga produksi dan produktivitasnya harus ditingkatkan. Lembang merupakan salah satu sentra produksi kentang di Jawa Barat, petaninya sudah menggunakan bibit bermutu baik dan menerapkan teknologi pemupukan sesuai dengan rekomendasi setempat, namun produktivitasnya hingga saat ini masih tergolong rendah, yaitu 16,12 t/ha. Rendahnya produktivitas kentang di Lembang antara lain disebabkan oleh menurunnya kandungan bahan organik tanah dan sistem pengairan masih tradisional terutama pada musim kemarau, yaitu dengan sistem leb dan tidak disesuaikan dengan kebutuhan air tanaman kentang. Oleh karena itu pengelolaan lahan dan air dalam usahatani kentang di Lembang sangat penting, di antaranya dengan pemberian bahan organik dan interval serta volume pemberian air pada periode tumbuh tanaman. Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Kabupaten Bandung pada bulan Juni sampai September 2004. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh takaran bahan organik dan interval serta volume pemberian air terhadap pertumbuhan dan hasil kentang. Percobaan menggunakan rancangan petak-petak terpisah dan kombinasi perlakuannya disusun dalam rancangan acak lengkap dengan 3 ulangan. Petak utama adalah bahan organik terdiri dari 3 taraf, yaitu (B0) tanpa bahan organik, (B1) 0,125 kg/tanaman, dan (B2) 0,250 kg/tanaman. Anak petak adalah interval pemberian air yang terdiri dari 3 taraf, yaitu (I1) 3 hari, (I2) 6 hari, dan (I3) 9 hari. Anak-anak petak adalah volume pemberian air yang terdiri dari 4 taraf, yaitu (P1) 211,01 ml/hari pada periode pertumbuhan awal + 581,53 ml/hari pada periode vegetatif + 787,51 ml/hari pada periode pembentukan umbi + 265,02 ml/hari pada periode menjelang panen, (P2) 422,02 ml/hari pada periode pertumbuhan awal + 290,76 ml/hari pada periode vegetatif + 787,51 ml/hari pada periode pembentukan umbi + 265,02 ml/hari pada periode menjelang panen, (P3) 422,02 ml/hari pada periode pertumbuhan awal + 581,53 ml/hari pada periode vegetatif + 393,75 ml/hari pada periode pembentukan umbi + 265,02 ml/hari pada periode menjelang panen, dan (P4) 422,02 ml/hari pada periode pertumbuhan awal + 581,53 ml/hari pada periode vegetatif + 787,51 ml/hari pada periode pembentukan umbi + 265,02 ml/hari pada periode menjelang panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) takaran bahan organik dan interval, serta volume pemberian air masing-masing memberikan pengaruh yang berbeda terhadap tinggi tanaman kentang, bobot kering tanaman, nisbah bobot kering akar, jumlah umbi per tanaman, persentase kelas umbi, bobot umbi per tanaman, dan hasil kentang per hektar dan (2) takaran bahan organik 0,250 kg/tanaman, interval pemberian air 6 hari, dan volume pemberian air 211,01 ml/hari pada periode pertumbuhan awal + 581,53 ml/hari pada periode vegetatif + 787,51 ml/hari pada periode pembentukan umbi + 265,02 ml/hari pada periode menjelang panen memberikan pengaruh yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan yang diuji lainnya terhadap tinggi tanaman pada umur 50 dan 60 hari setelah tanam, hasil kentang pertanaman dan per hektar di lahan dataran tinggi Lembang.ABSTRACT. Sutrisna, N. and Y. Surdianto. 2007. Effect of Organic Manuring and Interval and Water Supply on Growth and Yield of Potato in the Greenhouse. Potato is an important source of calorie and minerals for human diet and the demand of potato increase every year, so that its production and productivity should be improved. Lembang is a center of potato production in West Java and the potato farmers have implemented good quality potato seeds and recommended fertilization, but until now the productivity was still low. This were caused by degradation of organic matters in the soil and unsufficient irrigation system in dry season, namely ‘leb’ system and did not in accordance with the need of potato plant. Therefore, the soil and water management in the potato farming system is important, such as the application of organic matters, interval and water supply at the growth period. Study on the effect of organic matters, interval and water supply was carried out at the greenhouse of Indonesian Vegetable Research Institute, Lembang, Bandung from June until September 2004. The objectives of the research were to observe the effect of organic matters, the interval and water supply on the growth and yield of potato in the highland. The design was split-split plot and the treatment was completely randomized design with 3 replications. The main plot was the organic matters, consisted of 3 levels (B0) without organic matters, (B1) 0,125 kg/plant, and (B2) 0,250 kg/plant. The subplot was the water supply interval, conssisted of 3 levels (I1) 3 days interval, (I2) 6 days interval, and (I3) 9 days interval. Sub-subplot was the water supply volume in accordance with the plant growth period, consisted of 4 levels: (P1) 211,01 ml/day at the beginning of growth period + 581,53 ml/day at the vegetative period + 787,51 ml/day at the tuber formation + 265,02 ml/day at just before harvested, (P2) 422,02 ml/day at the beginning of growth period + 290,76 ml/day at the vegetative period + 787,51 ml/day at the tuber formation + 265,02 ml/day at just before harvested, (P3) 422,02 ml/day at the beginning of growth period + 581,53 ml/day at the vegetative period + 393,75 ml/day at the tuber formation +
Pembibitan Manggis Secara Cepat Melalui Teknik Penyungkupan Akar Ganda dan Pemberian Cendawan Mikoriza Arbuskula Anwarudin Syah, M Jawal; Purnama, T; Fatria, D; Usman, F
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 3 (2007): September 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Telah dilakukan penelitian penyediaan bibit manggis secara cepat melalui manipulasi CO2, teknik akar ganda, dan penggunaan cendawan mikoriza arbuskula (CMA) di Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok mulai Januari sampai Desember 2003. Rancangan percobaan yang digunakan adalah petak-petak terpisah dengan 3 ulangan. Petak utama adalah manipulasi CO2 , yaitu penempatan semai manggis di dalam dan di luar sungkup plastik beralaskan jerami dalam rumah kasa. Subplot adalah sistem perakaran, yaitu semai manggis berakar tunggal dan semai manggis berakar ganda, sedangkan sub-subplotnya adalah mikoriza, yaitu semai manggis yang diberi dan tanpa CMA. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, diameter batang, bobot kering akar, dan bobot kering total tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penempatan bibit manggis di dalam sungkup plastik beralaskan jerami dapat tumbuh lebih cepat daripada semai manggis di luar sungkup plastik. Sistem perakaran belum menunjukkan pengaruhnya terhadap pertumbuhan bibit manggis, walaupun bibit manggis berakar tunggal masih cenderung tumbuh lebih baik daripada bibit berakar ganda. Pemberiaan CMA belum menunjukkan pengaruh walaupun sudah memperlihatkan kecenderungan bahwa bibit manggis yang diinokulasi CMA memiliki pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan bibit manggis tanpa CMA.ABSTRACT. Jawal, M. Anwarudin Syah, T. Purnama, D. Fatria, and F. Usman. 2007. Acceleration of Mangosteen Seedling Growth through CO2 Manipulation, Double Root System, and Arbuscular Mychorriza Fungi (AMF) Application. The research was conducted in the Screenhouse of Indonesian Tropical Fruit Research Institute from January to December 2003 using a split-split plot design with 3 replications. The main plot was CO2 manipulation (mangosteen seedlings were placed in the screenhouse with: 1) plastic cover and rice stalk as a base, and 2) without plastic cover. The subplot was rooting system (mangosteen seedling with 1 rooting system and 2 rooting system), and sub-subplot was arbuscular mycorrhizae fungi (mangosteen seedling with and without AMF application). The parameters observed were plant height, leaf number, leaf area, stem diameter, dry weight of root, and dry weight of plant. The results of the experiment indicated that mangosteen seedling put in a plastic cover growth faster compared to uncovered seedling. The rooting system, 1 and 2 rooting system, did not show any significant different in stimulating mangosteen seedling growth, whereas application of AMF could stimulate mangosteen seedling growth.
Keefektifan Entomopatogen Hirsutella citriformis (Deuteromycetes: Moniliales) pada Kutu Psyllid Diaphorina citri Kuw. Dwiastuti, Mutia Erti; Kurniawati, M Y
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 3 (2007): September 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Diaphorina citri Kuw. (Homoptera:Psylidae) adalah salah satu hama penting pada tanaman jeruk dan merupakan vektor penyakit CVPD. Diaphorina citri dapat dikendalikan dengan insektisida, predator, parasitoid, dan patogen serangga. Pengendalian dengan patogen serangga, khususnya dengan entomopatogen sedang dikembangkan, salah satu yang ditemukan menginfeksi D. citri adalah Hirsutella citriformis. Di lapang H. citriformis ditemukan pada serangga dewasa dan tidak pernah menyerang stadia nimfa. Tujuan penelitian adalah mengetahui stadia D. citri yang dapat terinfeksi oleh konidia jamur H. citriformis. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak lengkap faktorial 2 faktor, dengan 20 perlakuan kombinasi, masing-masing diulang 3 kali. Faktor pertama stadia D. citri, yaitu imago, nimfa instar 3, 4, dan 5. Faktor kedua, yaitu konsentrasi konidia jamur, yaitu kontrol, 105 konidia/ml, 106 konidia/ml, 107 konidia/ml, dan 108 konidia/ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa H. citriformis lebih patogenik terhadap stadia imago daripada nimfa (instar 3, 4, dan 5) dengan konsentrasi 108 konidia/ml dengan median lethal time 11,72 hari. Patogenisitas H. citriformis pada D. citri dipengaruhi oleh konsentrasi dan stadia D. citri.ABSTRACT. Dwiastuti, M.E. and M. Y. Kurniawati. 2007. The Efectivity of Entomopathogen of Hirsutella citriformis (Deuteromycetes: Moniliales) on Psyllid Diaphorina citri Kuw. Diaphorina citri Kuw. (Homoptera Psyllidae) is one of the important pest in citrus, and the vector of CVPD disease. D. citri is normally controlled by using insectiside, parasitoid, predator, and insectpathogen. The control measured using insectpathogen, especially entomophatogen fungi has still being developed. The entomopathogen which was found attacking D. citri was H. citriformis. The research was intended to know which stadium of D. citri can be infected by H. citriformis. The study was designed in a complete randomize factorial with 2 factors. The first factor was D. citri stadium, i.e. adults, nymphs instar 3, instar 4, and instar 5. While the second factor was concentration of H. citriformis conidium, consisted of control (untreated), 105 conidia/ml, 106 conidia/ml, 107 conidia/ml, and 108 conidia/ml. The results showed that H. citriformis was more pathogenic on the adults of D. citri than the nymphs, and at 108 conidia/ml was the most effective concentration to kill D. citri with 11.72 days of median lethal time. The pathogenicity of H. citriformis on D. citri was affected by concentration of conidia rather than D. citri stadia.
Efikasi Ekstrak Kasar Baculovirus Crocidolomia pavonana terhadap Ulat Krop Kubis di Rumah Kaca Uhan, T S
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 3 (2007): September 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian bertujuan menentukan konsentrasi Baculovirus Crocidolomia pavonana (BVCp) yang paling baik dalam menekan perkembangan Crocidolomia pavonana. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Hama Penyakit dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Bandung, dari bulan November 2001 sampai Februari 2002. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diuji 4 macam konsentrasi ekstrak larva C. pavonana yang terinfeksi oleh BVCp (5, 10, 20, dan 40 ekor per l air), formulasi Bacillus thuringienis (Dipel WP® 2,00 g/l), dan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah 6 hari (144 jam) aplikasi ekstrak 40 larva C. pavonana yang terinfeksi oleh BVCp per l air (116,64 x 1010 PIBs/ml) menyebabkan mortalitas larva tertinggi, yaitu 94,45%, dengan LT50 yang tercepat yaitu 64,81 jam setelah aplikasi.ABSTRACT. Uhan, T.S. 2007. The Effect of Baculovirus Crocidolomia pavonana (BVCp) Concentration Againts Crocidolomia pavonana Zell. in a Greenhouse. The purpose of this experiment was to determine the best concentration of BVCp in suppressing C. pavonana growth. This experiment was carried out at Laboratory of Pest and Diseases and in the Greenhouse of Indonesian Vegetable Research Institute, Lembang District, Bandung , from November 2001 to February 2002. The experiment was arranged in a randomized block design with 6 treatments and 4 replications. The treatments were 4 extract concentrations of C. pavonana larvae which were infected by BVCp (5, 10, 20, and 40 larvae per l of water), formulation of Bacillus thuringiensis (Dipel WP® 2.00 g/l), and control. The results showed that after 6 days (144 hours) of application the extract of 40 C. pavonana larvae infected by BVCp per l of water (116.64 x 1010 PIBs/ml) caused the highest larvae mortality (94.45%). The fastest LT50 was 64.81 hours after application.
Pengendalian Hama dan Penyakit Penting Cabai dengan Pestisida Biorasional Suryaningsih, E; Hadisoeganda, A W W
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 3 (2007): September 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Akibat samping penggunaan pestisida sintetik yang berlebih pada budidaya cabai telah dideteksi di berbagai tempat. Dalam upaya mengurangi kuantum aplikasi pestisida sintetik dapat dengan jalan menggantinya dengan pestisida lain, yang disebut dengan pestisida biorasional. Percobaan lapang telah dilaksanakan di kebun petani di Rancaekek (elevasi 650 m dpl), Bandung, Jawa Barat, dari Juli 2001 sampai dengan Februari 2002. Percobaan ini menggunakan rancangan acak kelompok 4 ulangan dan 4 perlakuan dengan perlakuan-perlakuan sebagai berikut. Pestisida biorasional 866 (campuran ekstrak kasar A. indica 8 bagian + A. nardus 6 bagian + A. galanga 6 bagian), TdNt 102 (campuran T. diversifolia 10 bagian + N. tabacum 2 bagian), TdMa 106 (campuran T. diversifolia 10 bagian + M. azedarach 6 bagian), tigonal 1066 (campuran ekstrak kasar T. diversifolia 10 bagian + A. nardus 6 bagian + A. galanga 6 bagian). Keempat formula tersebut diaplikasikan dengan interval 4 hari dan 7 hari. Insektisida sintetik pirethroid 2.5 EC 0,2% dan fungisida sintetik propineb 70 WP 0,2% diaplikasikan dengan interval 7 hari. Selama percobaan berlangsung, hama dan penyakit yang paling prevalen adalah C. capsici, C. gloeosporioides, T. palmi, dan A. gossypii. Hasil penelitian memberi indikasi bahwa semua biorasional yang digunakan ternyata sama efektifnya dengan pestisida sintetik dalam mengendalikan hama dan penyakit cabai, dengan tingkat efikasi yang bervariasi. Perlakuan yang paling efektif untuk mengendalikan C. capsici adalah biorasional yang mengandung A. indica sebagai komponennya, sedangkan biorasional dengan komponen T. diversifolia ternyata lebih efektif dalam mengendalikan C. gloeosporioides dan T. palmi. Dipihak lain, biorasional yang mengandung komponen M. azedarach dan N. tabacum ternyata efikasinya dalam mengendalikan T. palmi dan A. gossypii sama dengan insektisida sintetik pirethroid 2,5 EC 0,2%. Hasil penelitian ini mencatat bahwa pestisida biorasional yang digunakan dalam penelitian ini dapat digunakan untuk menggantikan peran pestisida sintetik dalam mengendalikan hama dan penyakit penting pada cabai.ABSTRACT. Suryaningsih, E. and A.W.W. Hadisoeganda. 2007. Control Measure for Important Pests and Diseases of Hot Pepper by Applying Biorational Pesticide. The side effects of the overuse of synthetic pesticides on pepper cultivation have been detected in various locations. The use of other pesticide, such as biorational pesticide could reduce the quantity of synthetic pesticide application. A field experiment was conducted at farmers’s field in Rancaekek (elevation 650 m), Bandung, West Java, from July 2001 to February 2002. A randomized block design with 4 replications was employed in this experiment.The treatments were biorational pesticide agonal 866 (crude extract mixture of A. indica 8 parts + A. nardus 6 parts + A. galanga 6 parts), TdNt 102 (mixture of T. diversifolia 10 parts + N. tabacum 2 parts), TdMa 106 (mixture of T. diversifolia 10 parts + M. azedarach 6 parts), tigonal 1066 (crude extract mixture of T. diversifolia 10 parts + A. nardus 6 parts + A. galanga 6 parts). The treatments were applied at 4 and 7 days interval. Synthetic insecticide pirethroid 2.5 EC 0.2% and propineb 70 WP 0.2%, both applied at 7 days interval. During the experiment, the most prevalent pests and deseases were C. capsici, C. gloeosporioides, T. palmi, and A. gossypii, respectively. The results of the experiment indicated that all of the biorational applied were as effective as synthetic pesticides in controlling pests and diseases of pepper with varying degree of efficacy. The most effective in controlling C. capsici were biorationals which contain A. indica component, while biorationals with T. diversifolia as a component seem to be much more effective in controlling C. gloeosporioides as well as T. palmi, respectively. On the other hand, biorationals with M. azedarach and N. tabacum component were found to be as effective as synthetic insecticide pirethroid 2.5 EC 0.2% in controlling T. palmi and A. gossypii. The results of the experiment showed that biorational pesticides can be used to replace synthetic pesticide in controlling important pests and diseases on pepper.
Optimalisasi Cara, Suhu, dan Lama Blansing sebelum Pengeringan pada Wortel Asgar, Ali; Musaddad, Darkam
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 3 (2006): September 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian bertujuan mengetahui cara, suhu, dan lama blansing yang optimum sebelum pengeringan wortel. Penelitian dilakukan dari Oktober sampai dengan November 2004. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen di laboratorium menggunakan rancangan kelompok pola petak terpisah. Petak utama yaitu cara blansing menggunakan air dan uap. Anak petak yaitu kombinasi suhu dan lama blansing yang terdiri dari (1) suhu 65°C selama 15 menit, (2) 65°C selama 30 menit, (3) 75°C selama 10 menit, (4) 75°C selama 20 menit, (5) 85°C selama 5 menit, dan (6) 85°C selama 10 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk wortel kering yang terbaik yaitu hasil blansing menggunakan air dengan suhu 85°C selama 10 menit (1,533 = sangat disukai) dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Perlakuan tersebut mempunyai kadar air 7,53%, rendemen 9,27%, rasio rehidrasi 340,83%, vitamin C 68,55 mg/100 g, dan β-karoten 0,197%.ABSTRACT. Asgar, A. and D. Musaddad, 2006. Optimizing of method, temperature, and time of blanching for processing of dried carrot. The purpose of this research was to find out the method, temperature, and time of blanching on the characteristics of dehydrated carrot. The research was conducted from October to November 2004. The research was arranged in a split plot design with 2 x 6 factorial and, 3 replications. Main plot consisted of steam blanching and water blanching. Subplot consisted of temperature and time of blanching (1) 65°C for 15 minutes, (2) 65°C for 30 minutes, (3) 75°C for 10 minutes, (4) 75°C for 20 minutes, (5) 85°C for 5 minutes, and (6) 85°C for 10 minutes. The results of this research showed that dried carrot processed using water blanching at 85°C for 10 minutes was the best, with the properties of dried carrot were 7.53% moisture, 9.27% dry matter, 340.83% rehydration ratio, 68.55 mg/100 g ascorbic acid, and 0.197% β-caroten.

Page 35 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue