cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Mortalitas Stadia Pradewasa Hama Penggulung Daun Pisang, Erionota tharax (L.) yang Disebabkan Oleh Parasitoid Hasyim, Ashol; -, Kamisar; Nakamura, K
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mortalitas stadia pradewasa hama penggulung daun pisang   yang disebabkan oleh parasitoid dan fase awal penyerangan parasitoid terhadap inang. Untuk mengetahui parasitoid hama penggulung daun pisang Erionota thrax, telur, larva, dan pupa hama penggulung daun pisang diambil dari pertanaman pisang petani, kemudian dipelihara di laboratorium Kebun Percobaan Bandar Buat, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat. Setiap kelompok telur, larva, dan pupa dimasukkan ke dalam kotak plastik berukuran dengan garis tengah 13 cm dan tinggi 5 cm, serta diberi makan daun pisang. Pengamatan terhadap stadia telur diamati dengan menghitung telur yang menetas, diserang parasitoid, tidak menetas, dan diserang jamur. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa hama penggulung daun pisang mempunyai dua jenis parsitoid telur, dua jenis parasitoid larva, dan empat jenis parasitoid pupa.  Kedua jenis parasitoid telur    Pediobius erionotae dan Ooncyrtus erionotae dapat menyebabkan kematian tertinggi dan membunuh 55,6% stadia telur. Parasitoid larva mulai menyerang stadia larva instar kedua. Indeks parasitisme tertinggi disebabkan oleh parasitoid larva Casinaria sp. Adalah 15,7% dan yang pal- ing rendah disebabkan oleh   parasitoid pupa, Theronia zebra-zebra mencapai 0,8%. Hasil penelitian tentang parasitoid hama penggulung daun pisang ini merupakan informasi dasar dalam rangka pengembangan pengendalian hama secara terpadu. Kata kunci: Musa paradisiacal; Erionata thrax; Hama penggulung daun; Parasitoid; Mortalitas; Stadia pradewasa ABSTRACT. This study aims to contribute to the knowledge of immature mortality of ba- nana leaf roller Erionota thrax (L.) and early susceptible stage of parasitoid attacking the host. To obtain parasitoid, the eggs, larvae, and pupae of banana leaf roller, Erionota thrax (L.) were collected from farmer banana field and reared in the laboratory under room temperature at Bandar Buat, West Sumatera Assessment Institute for Agriculture Technology. Each egg mass, larvae, and pupae were isolated in plastic container dimensions of 13 cm in diameter and 5 cm in dept feeding, with leaf of banana. The following categories were recognized of egg stage, hatched, parasitic by wasps, hatching failure, and fungus diseased. The result indicated that E. thrax had two species of egg parasitoid, two species of parasitoid emerged from larvae, and four species of parasitoid emerged from pupae stages. Both of egg parasitoid species, Pediobius erionotae and Ooncyrtus erionotae, caused the highest mortality and kiled 55,6% of the eggs. The earliest parasitized stage of larva was the second instar. Index of parasitism rate by larval and pupae parasitoid which mostly caused by  Casinaria erionotae was at 15.7% and the lowest caused by  pupae parasitoid, Theronia zebra-zebra was at 0.8. The results of banana leaf roller parasitoid research were to provide basic information for the development of integrated pest managemen.
Pengaruh Larutan Pulsing dalam Pengemasan dan Pengangkutan Bunga Mawar Potong Amiarsih, Dwi; -, Yulianingsih; Broto, Wisnu; -, Sjaifullah
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan larutan pulsing bunga sebelum pengemasan dan pengangkutan sangat berguna untuk menggantikan sumber karbohidrat, melindungi tangkai bunga dari serangan mikroorganisme penyebab penyumbatan, menjaga kualitas bunga tetap prima, dan dapat memperpanjang masa kesegaran bunga setelah pengangkutan. Penelitian bertujuan mendapatkan larutan pulsing dalam pengemasan dan pengangkutan bunga mawar potong varietas kiss guna memperpanjang masa kesegaran setelah pengangkutan. Bunga mawar potong kiss dipanen di Sukabumi dengan tingkat kemekaran 0-10%, kemudian direndam dalam larutan pulsing (AgNO3 20 ppm + gula pasir 5% + asam sitrat 320 ppm selama 16 jam). Selanjutnya bunga mawar dikemas dalam wadah ( berisi masing-masing larutan holding; akuades dan dikemas kering) dan diletakkan dalam karton berukuran 78 x 20 x 8 cm berkapasitas 20 tangkai bunga mawar potong. Sebagai kontrol bunga tanpa direndam dalam larutan pulsing. Setelah bunga dikemas, kemudian diangkut dengan mobil pendingin (5o-10oC) dan tanpa pendingin (27o-30oC) selama 20 jam. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan pengemasan dengan akuades selama pengangkutan 20 jam merupakan perlakuan yang terbaik dengan masa kesegaran bunga mencapai 9 hari dan persentase kemekaran bunga mencapai 100%. Perlakuan tersebut dapat mempertahankan kualitas bunga tetap prima dan dapat memperpanjang masa kesegaran bunga setelah pengangkutan. Kata kunci: Mawar; Pengemasan; Larutan perendam; Suhu pengangkutan; Mempertahankan mutu ABSTRACT. Dipping the lower portion of flower stems in the solution containing sugar and germicides before packaging and transportation was to supply carbohydrate and prevented the plugging of flower stems by microbial growth. Furthermore, in was prolonged the periode of flowers vaselife and kept flower quality af- ter transportation. The objective of the study was to find out both of proper pulsing solution, packaging and transporta- tion to keep the prime quality of flower cut Rose c.v. Kiss. The flowers were harvested from the field when the flowers was at 0-10% bud opening stages and then they were pulsed with solution of AgNO3 20 ppm + sugar 5% + citric acid 320 ppm for 12 hours. Each the flower was placed in the vials containing aquades; holding solution) and put them in the boxes (78 x 20 x 8 cm) with capacity 20 inflorescences. All treated cut flowers were transported for 20 hours with carchamber with temperature of 5o-10oC and 27o-30oC. The experiment was arranged on a completely randomized de- sign with three replications. The results indicated that wet packaging with aquades during 20 hours transportation was the best treament which prolonged vaselife until 9 days and kept the enflorescence up to 100% bud opening. By ap- plying those treatment, the periode of flowers vaselife could be extended and quality after transportation could be maintained.
Karakterisasi Fisiko-Kimia Bunga Melati Putih Suyanti, -; Prabawati, Sulusi -; Sjaifullah, - -
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bunga melati putih dari Tegal, Jawa Tengah dipanen pada tingkat ketuaan M-1 atau 1 hari menjelang mekar, M-2 atau2 hari menjelang mekar, dan mekar penuh. Bunga setelah dipanen diamati sifat fisik, meliputi berat kuntum, ukurankuntum, warna bunga, keharuman, dan kandungan minyak atsirinya. Tujuan penelitian untuk mendapatkan sifat fisikdan kimia bunga melati putih pada berbagai tingkat ketuaan panen dan sesuai penggunaan. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa bunga yang dipanen pada tingkat ketuaan M-2 berwarna putih kekuningan, tidak harum, dantidak dapat mekar. Tingkat ketuaan panen M-1 ukuran kuntum bunga telah op ti mal, berwarna putih, dapat mekar, danberbau harum sedangkan bunga mekar penuh, warna bunga putih, dan kurang harum. Bunga dengan tingkat ketuaanM-2 hanya cocok untuk hiasan sanggul dengan bentuk tertentu. Tingkat ketuaan bunga M-1 dapat digunakan untukrangkaian bunga, hiasan sanggul, industri teh, dan atsiri, sedangkan tingkat kemekaran penuh hanya cocok untukbunga tabur. Komponen dominan keharuman bunga adalah linalol, benzil asetat, metil salisilat, z-jasmone, neurolidol, dan indol. Persentase tertinggi adalah z-jasmone (34,133%), disusul oleh neurol idol (19,955%), metil salisilat(15,762%), linalol (10,133%), benzil alkohol (9,233%), benzil asetat (6,734%), dan indol (4,049%).AB STRACT. Suyanti, S. Prabawati, and Sjaifullah. 2004. Physico-chem i cal char ac ter iza tion of white jas mine.White jas mine from Tegal, Cen tral Jawa was har vested at three stages of ma tu ri ties, M-1 (1 day be fore flower open -ing), M-2 (2 days be fore flower open ing), and open flower. Ob ser va tion on physico-chem i cal char ac ter is tics was onweight of flower, size of flower, aroma, and chem i cal con tent of flower. The re sults showed that those flower werehar vest at stage ma tu rity of M-2, color of se pal was white yel low ish, there was no aroma, and flow ers failed to open.The flow ers was very pop u lar for hair ac ces so ries in tra di tional style (sanggul). The ma tu rity stage of flow ers of M-1can be very use ful for hair accesories, tea in dus try or es sen tial oil in dus try. On the other hand, open flow ers were use fulonly for spread ing out flower. Ar o matic fla vor was dom i nantly com posed of z-jasmone (34.133%) and fol lowed ofneurol idole (19.955%), methyl salycilate (15.762%), lynalole (10.133%), benzyl al co hol (9.233%), benzyl acetat(6.734%), and indole (4.049%).
Virulensi dan Ras Ralstonia solanacearum pada Pertanaman Kentang di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat Gunawan, oni Setiani
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 3 (2006): September 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Tujuan penelitian mengetahui virulensi dan ras bakteri patogen Ralstonia solanacearum, pada pertanaman kentang di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-Desember 2001 di 83 lokasi dari 13 desa. Pengumpulan sampel tanah, tanaman, dan umbi kentang menggunakan metode Kiraly. Pengujian NCM Elisa dengan metode Sylvie Priouw. Kemampuan R.solanacearum mengoksidasi 6 karbohidrat dan uji patogenisitas menggunakan metode AVRDC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat R. solanacearum mempunyai sifat virulensi yang berbeda. Hasil uji patogenisitas bakteri ini sangat virulen pada famili solanaceae tomat dan kentang tetapi kurang virulen pada tanaman cabai, jahe, dan terung. Hasil uji kemampuan bakteri dalam mengoksidasi 6 jenis karbohidrat menunjukkan bahwa semua isolat yang dikoleksi dari 13 desa tergolong dalam 2 grup, yaitu bakteri ras 1 biovar III yang berasal dari sampel tanah dan ras 3 biovar II untuk bakteri yang dikoleksi dari sampel tanaman dan umbi kentang.ABSTRACT. Gunawan, O.S. 2006. Race and virulence of Ralstonia solanacearum in potato growing at Pangalengan,West Java. Research was conducted on January-December 2001. Samples of soil, infected plants, and tuber of potato were collected from 83 sites in 13 villages using the Kiraly method. Nitro cellular membrane Elisa test was done using Sylvie Priouw (1996) method. The ability of R. solanacearum to oxydize 6 kinds of carbohydrates and pathogenicity test were done by AVRDC method. The results shown that virulence of R. solanacearum isolates were different among locations. Pathogenicity test of those bacteria shown high virulence in solanaceae family such as tomatoes and potatoes but less virulence in pepper, eggplant, and ginger. Based on the ability of bacteria to oxydize 6 kinds of carbohydrates, all isolates collected from 13 villages were belong to 2 groups, i.e. ras 1 biovar III from soil samples, and race 3 biovar II from plants and potato tubers.
Perlakuan Biji Pepaya dalam Larutan 3-Indolebutyric Acid, Absicic Acid dan Ukuran Polibag terhadap Perkecambahan dan Pertumbuhannya Triatminingsih, Rahayu; Handayani, Sri; Subakti, Hary; Purnomo, Sudarmani
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hasil persilangan antartanaman berdasarkan tipe seks menghasilkan segregasi dengan proporsi yang berbeda-beda. Teknik identifikasi seks sejak fase benih sangat dibutuhkan dalam upaya mempercepat siklus generasi dan efisiensi ruang uji dalam uji persilangan. Penelitian ini merupakan tahap awal untuk mengidentifikasi bibit sejak dini yaitu dengan memperlakukan biji dalam larutan auksin dan ABA.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data daya pertumbuhan bibit pepaya yang diperlakukan dengan indole butyric acid (IBA) dan absicic acid (ABA). Penelitian ini dilaksanakan di Sumatera Barat mulai bulan Agustus 1999 sampai dengan Maret 2000. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok sebanyak tiga ulangan yang disusun secara faktorial. Untuk mendapatkan teknik identifikasi tersebut dapat didekati dengan mendiskripsikan benih semaian sampai dengan tanaman di polibag. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan IBA dan ABA berpengaruh terhadap pertumbuhan daun dan tinggi tanaman. IBA dan ABA tidak berpengaruh nyata terhadap diameter batang. Pada awal pertumbuhan, diameter batang dipengaruhi oleh tempat. Pengaruh IBA dan ABA nyata pada perkecambahan biji terutama untuk dampit, lokal kuning dan lokal jingga. Kata kunci : Carica papaya; Biji pepaya; IBA; ABA ABSTRACT. This experiment has been done at Solok Re- search Institute for Fruit Crops. Outpolynation the plant according to sex type produced highly segregation. The pro- portion of segregate was not the same. Identity of variety is the main key in papaya crossing. Sex identification technique at seedling was demanded. This technique can be used to accelarate regeneration cycle and efficiency on testing the new clones. The aims of this experiment was to find out the seed germination and seedling growth. The re- search was conducted at West Sumatera from August 1999 until March 2000. The experiment was using a Random- ized Block Design with three replication. The technique can be worked out by morphology description from seedling up to the plant that was grown in a polybag. The results indicated that ABA and IBA was significant by affect the leaf growth and hight of stem. There was no significantly different on stem diameters. At early growth polybag sizes was significantly affect the stem diameter. IBA and ABA was affected to the germination of papaya seed variety, dampit, local kuning and local jingga.
Teknik Pengeringan dalam Oven untuk Irisan Wortel Kering Bermutu Histifarina, Dian; Musaddad, Darkam; Murtiningsih, E.
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian untuk mengkaji pengaruh suhu dan lama pengeringan terhadap karakteristik mutu sayuran wortelkering. Penelitian dilakukan di Laboratorium Fisiologi Hasil Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang daribulan Juli sampai Oktober 2000. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok pola faktorial dengantiga ulangan dan dua faktor. Faktor pertama adalah suhu pengeringan (40, 50, dan 60°C) dan faktor kedua adalah lamapengeringan (17, 22, 27, dan 32 jam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan lama pengeringan 32 jam yangdikombinasikan dengan suhu pengeringan 50°C menghasilkan wortel kering terbaik berdasarkan nilai kadar air(9,15% bb), kadar beta karoten (0,019%), persentase rehidrasi tinggi (520,44%), dan penilaian sensori terhadap warnaserta tekstur yang baik.AB STRACT. Histifarina, D., D. Musaddad, and E. Murtiningsih. 2004. De hy dra tion tech nique us ing an ovenfor qual ity dried sliced car rot. The aim of this re search was to study the ef fect of tem per a ture and dry ing du ra tion onthe dried car rot qual ity char ac ter is tics. The re search was con ducted at Postharvest Phys i ol ogy Lab o ra tory of In do ne -sian Veg e ta bles Re search In sti tute, Lembang from July to Oc to ber 2000. The ex per i ment was laid in a fac to rial ran -dom ized block de sign with three rep li ca tions and two fac tors. The first fac tor was the tem per a ture (40, 50, and 60°C)and the sec ond fac tor was dry ing du ra tion (17, 22, 27, and 32 hours).The re sult showed that the dry ing du ra tion 32hours com bined with dry ing tem per a ture of 50°C gave the best dried car rot char ac ter is tics based on wa ter con tent(9.15% bb), beta car o tene con tent (0.019%), high est rehydration ca pac ity (520.44%), and sensoriccally best color andtex ture.
Analisis Pengelompokan dan Hubungan Kekerabatan Spesies Anggrek Phalaenopsis Berdasarkan Kunci Determinasi Fenotipik dan Marka Molekuler RAPD Dwiatmini, Kristina; Mattjik, N.A; Aswidinnor, H; Touran-Matius, N.L
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hubungan kekerabatan antara 19 anggrek phalaenopsis dianalisis menggunakan random amplified polymorphic DNA   pada tingkat molekuler dan secara fenotipik menggunakan kunci determinasi dari Sweet. Dendrogram kekerabatan anggrek phalaenopsis tersebut diperoleh dari 300 pola pita DNA dan 27 karakter fenotipik. Hubungan kekerabatan secara genetik dianalisis menggunakan koefisien kemiripan Dice dan jarak genetik secara fenotipik menggunakan koefisien Dist. Korelasi antara keduanya dianalisis menggunakan statistik Mantel dengan prosedur MXCOMP pada program NTSYS. Hasil penelitian menunjukkan hubungan kekerabatan berdasarkan koefisien kemiripan Dice adalah 0,24-0,66 (jarak genetik antara 0,34-0,76), sedangkan jarak taksonomi berdasarkan koefisien Dist adalah 1,42-0,08. Nilai korelasi antara matriks kemiripan dan matriks jarak adalah kecil yaitu -0,38, dengan nilai koefisien determinasi R2  = 0,15. Nilai koefisien determinasi yang kecil menunjukkan bahwa hanya 15% data morfologi dapat digunakan untuk mengestimasi kemiripan genetiknya. Hasil analisis komponen utama menunjukkan terdapat 231 pita yang berperan dalam pengelompokan secara terpisah 19 spesies anggrek phalaenopsis, namun tidak dapat mengidentifikasi pita spesifik untuk karakter atau genotip tertentu. Kata kunci : Kunci determinasi; Kekerabatan genetic; Phalaenopsis; Penanda molekuler RAPD; Analisis pengelompokan. ABSTRACT. Genetic relationships among 19 genotypes of phalaenopsis orchid were investigated us- ing random amplified polymorphic DNA technique at the DNA level and using the determination key introduced by sweet at the phenotypical level. Orchid dendrogram was obtained from banding patterns of DNA and from 27 phenotypic traits scored, using Dice similarity and average taxonomic distances respectively. Correlation between a pair of proximity matrices was tested with the Mantel statistic generated by the MXCOMP procedure in NTSYS-pc software. The results showed that constant similarity coefficient and relative order were obtained with 16 primers (300 DNA bands). Genetic relationships among 19 species of phalaenopsis orchids based on Dice similarity coefficient var- ied from 0.24 – 0.66 (genetic distance 0.34 – 0.76). Cluster analysis based on the determination key indicated that the genetic distance (Dist coefficient) varied from 1.42 – 0.08. Grouping of phalaenopsis species using RAPD technique was different from the one using phenotypic characters as used by Sweet with correlation value -0.38 and coefficient determination value 0.15. A small correlation coefficient indicated that the relationship between variables is weak, meaning that average taxonomic distance could not be used to estimate the genetic similarity. The principal compo- nent analysis showed the relative position of 19 genotypes of phalaenopsis in two and three dimensions (principal component). The same procedure also identified the most important DNA bands (231 bands) having very important roles in the grouping, but failed to identify any specific band for any particular character or genotype.
Evaluasi Bahan Carrier dalam Pemanfaatan Jamur Entomopatogen, Beauveria bassiana (BALSAMO) Vuillemin untuk Mengendalikan Hama Penggerek Bonggol Pisang, Cosmopolites sordidus GERMAR Hasyim, Ahsol
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 3 (2006): September 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok, dari Juli sampai Desember 2002. Penelitian bertujuan mengetahui bahan carrier terbaik dalam pemanfaatan Beauveria bassiana untuk mengendalikan hama penggerek bonggol pisang, Cosmopolites sordidus GERMAR. Penelitian ditata dalam rancangan acak lengkap, dengan 7 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari 6 bahan carrier, yaitu tepung jagung, tepung beras, talk, tepung maizena, minyak Sania, air, dan kontrol (konidia kering). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung beras merupakan carrier yang paling baik dalam pemanfaatan B. bassiana dan menyebabkan mortalitas hama penggerek bonggol paling tinggi dibandingkan dengan carrier minyak Sania yang menyebabkan mortalitas paling rendah. Mortalitas hama penggerek bonggol C. sordidus yang paling tinggi yakni 90% diperoleh jika menggunakan B. bassiana dengan tepung beras sebagai carrier pada batang semu pisang. Sedangkan B. bassiana yang diaplikasikan pada batang pisang semu dengan menggunakan minyak atau air hanya dapat menyebabkan mortalitas hama penggerek bonggol paling rendah, yaitu berkisar antara 61-65%. Nilai LT50 dan LT95 dari bahan carrier tepung beras adalah 12,93 hari dan bahan carrier minyak adalah 23,34 hari. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa bahan carrier berbentuk tepung dapat mempertinggi kemampuan jamur entomopatogen, B. bassiana dalam mengendalikan hama penggerek bonggol pisang, C. sordidus.ABSTRACT. Hasyim, A. 2006. Evaluation of carrier materials for Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin to control banana corm borer, Cosmopolites sordidus GERMAR. The experiment was conducted at Entomological Laboratory, Indonesian Tropical Fruit Research Institute from July to Desember 2002. The objective of the study was to determine the best carrier for B. bassiana to control banana weevil borer, C. sordidus GERMAR. A randomized completely design with 7 treatments and 3 replications were used. Treatments consisted of 6 carriers, such as corn powder, talc, rice powder, maizena powder, Sania oil, water, and control (dry conidia). The results showed that rice powder was the best carrier for B. bassiana and caused highest mortality of banana corm borer. Whereas Sania oil carrier gave the lowest mortality of banana corm borer. The highest mortality of adult banana weevil borer, C. sordidus obtained when B. bassiana was exposed using rice powder carrier on pseudostem, which was 90%. While the B. bassiana exposed at liquid carrier of oil or water carrier on pseudostem, caused the lowest mortality of C. sordidus by 61 and 65%, respectively. The value of LT50 and LT95 from rice powder was lowest (12.93 days) and oil carrier was highest (23.34 days). The results demonstrated that powder as a carrier can enhance the efficacy of the insect pathogenic fungus B. bassiana against banana weevil borer, C. sordidus.
Pendugaan Umur Simpan Kentang Tumbuk Instan Berdasarkan Kurva Isotermi Sorpsi Air dan Stabilitasnya Selama Penyimpanan Histifarina, Dian
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar air kritis berdasarkan kurva sorpsi isotermi dan mengkaji stabilitasproduk kentang tumbuk instan selama penyimpanan, serta menduga umur simpannya. Penelitian dilaksanakan diLaboratorium Rekayasa Proses Pangan dan Pi lot Plan Pusat Studi Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor dariFebruari – Sep tem ber 2002. Bahan yang digunakan adalah kentang varietas atlantik. Penelitian terdiri dari dua tahap,yaitu kadar air kesetimbangan dan pendugaan umur simpan kentang tumbuk instan. Penelitian tahap pertama adalahpenentuan kadar air kesetimbangan kentang tumbuk instan secara absorbsi menggunakan 21 jenis larutan garamjenuh. Penelitian tahap kedua meliputi perlakuan kemasan PET 12/Aluvo 7/LLDPE 40, PET 12/LLDPE 25, danHDPE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemasan PET 12/Aluvo 7/LLDPE 40 memberikan umur simpan pal -ing lama (209 hari) berdasarkan perubahan kadar air maupun nilai asam barbiturat, dengan nilai kadar air 10,43% bkdan nilai asam thiobarbiturat 1,072 mg/kg untuk sampel pada 8 minggu penyimpanan.AB STRACT. Histifarina, D. 2004. Pre dict ing the self life of mashed po tato in stant based on sorp tion iso thermscurve and its sta bil ity dur ing stor age. The ob jec tive of this re search was to know the crit i cal mois ture con tent basedon sorp tion iso therms curve and to study of mashed po tato in stant sta bil ity dur ing stor age and its selflife pre dic tion.The ex per i ment was con ducted at Lab o ra tory Rekayasa Food Pro cess and Pi lot Plan PSPG IPB from Feb ru ary un tilSep tem ber 2002. At lan tic va ri ety was used on these ex per i ment. The ex per i ment con sists of two steps i.e mois turecon tent equi lib rium of mashed po tato in stant and pre dict ing the selflife of pack aged mashed po tato in stant. The firststage was found out mois ture equi lib rium by ab sorp tion method us ing 21 kinds of salt sat u rated so lu tion. The sec ondex per i ment was com par ing of three type of pack ages those were PET 12/Aluvo 7/LLDPE 40, PET 12/LLDPE 25, andHDPE. The re sult showed that the pack age of PET 12/Aluvo 7/LLDPE 40 gives the lon ger selflife (209 days) based onchange of mois ture con tent and thiobarbiturat acid value with mois ture con tent value was 10.435% db andthiobarbiturat acid value was 1.072 mg/kg sam ple dur ing 8 weeks of stor age.
Peranan Cendawan Mikoriza Arbuskula terhadap Peningkatan Serapan Hara Oleh Bibit Pepaya Muas, Irwan
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui peran lima jenis isolat cendawan mikoriza arbuskula dalam meningkatkan serapan hara dan biomassa dua kultivar bibit pepaya. Penelitian dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, dari bulan Agustus 2001 hingga Januari 2002. Penelitian ini disusun berdasarkan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah jenis isolat cendawan mikoriza terdiri dari kontrol, Glomus etunicatum, Glomus manihotis, Gigaspora margarita, Acaulospora tuberculata dan Scutellospora heterogama, dan faktor ke dua adalah kultivar pepaya Dampit dan Sari Rona. Hasil penelitian menunjukkan bahwa derajat infeksi akar bibit pepaya pada umur dua bulan setelah inokulasi dipengaruhi oleh efek interaksi antara isolat cendawan mikoriza dan kultivar pepaya. Isolat A. tuberculata, G. etunicatum, dan Gi. margarita menunjukkan derajat infeksi akar yang sangat tinggi, yaitu lebih  dari 76% untuk kedua kultivar pepaya, sedangkan dua jenis isolat lainnya menunjukkan tingkat infeksi yang lebih rendah (21,33%-59,67%). Serapan hara N, P, K, dan bobot kering pupus, secara mandiri dipengaruhi oleh jenis isolat cendawan mikoriza dan kultivar pepaya. Acaulospora tuberculata dan G. etunicatum meningkatkan bobot kering total bibit berturut-turut 1.028% dan 1.632% lebih tinggi dibanding kontrol. Kultivar Sari Rona menunjukkan serapan hara N, P, K, dan bobot kering pupus lebih tinggi dibanding kultivar Dampit. Prospek aplikasi cendawan mikoriza untuk tanaman pepaya cukup baik, namun masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui keefektifan dalam efisiensi penggunaan pupuk. Katakunci:  Carica papaya; Bibit; Mikoriza arbuskula; Serapan hara; Pertumbuhan. ABSTRACT. An experiment was aimed to find out the role of five arbuscular mycorrhizal fungus isolates in increasing nutrient uptake and biomass production on two cultivars of papaya seedling. The research was conducted at a screen house of Agricul- ture Faculty, Padjadjaran University, from August 2001 until January 2002. This experiment was laid in Randomized Blocks Design in factorial pattern with three replications. The first factor was the kind of mycorrhizaes isolates, con- trol, Glomus etunicatum, Glomus manihotis, Gigaspora margarita, Acaulospora tuberculata and Scutellospora heterogama, and the second factor was papaya cultivars of Dampit and Sari Rona. The results showed that root infec- tion level of papaya seedlings on two months after inoculation influenced by interactions between mycorrhizaes iso- late and papaya cultivars. Acaulospora tuberculata, G. etunicatum, and Gi. margarita isolates showed very high root infection level which was higher than 76% from both papaya cultivars, whereas two other mycorrhizaes isolate showed the lower infection 21.33-59.67%. Nutrient uptake on N,P,K, and shoot dry weight, in autonomous caused by kinds of mycorrhizaes isolate and papaya cultivars. Acaulospora tuberculata and G. etunicatum isolates increased to- tal dry weight 1.028% and 1.632% respectively higher than control. Sari Rona cultivar showed higher nutrient uptake on N, P, K, and shoot dry weight than Dampit cultivar. The mycorrhizaes application for papaya have good prospect, but there needs further studies to know the effectiveness in fertilizer efficiency.

Page 36 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue