cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Pengendalian Lalat Pengorok Daun pada Tanaman Kentang Menggunakan Pestisida Biorasional Dirotasi dengan Pestisida Sintetik secara Bergiliran Suryaningsih, Euis
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 3 (2006): September 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Percobaan lapang telah dikerjakan di kebun percobaan Margahayu (elevasi 1250 m dpl.), Lembang, Bandung, Jawa Barat dari bulan Agustus sampai November 2002, dengan tujuan mencari metode pengendalian alternatif terhadap lalat pengorok daun Liriomyza huidobrensis pada tanaman kentang. Percobaan digelar menggunakan rancangan acak kelompok dengan 7 perlakuan, ulangan 4 kali. Pestisida biorasional Phrogonal (866) diaplikasikan baik secara tunggal maupun diselang-seling (digilir) dengan pestisida sintetik Pyrethroid 2,5 EC 0,2% dengan skema rotasi yang bervariasi untuk mengendalikan L. huidobrensis pada kentang. Phrogonal (866) adalah campuran ekstrak kasar dari Tephrosia candida 8 bagian berat (bb) + Andropogon nardus 6 bb + Alpinia galanga 6 bb. Hasil percobaan memberi indikasi bahwa pestisida biorasional Phrogonal (866) diaplikasikan secara tunggal 8 kali berkesinambungan selama periode budidaya kentang terbukti paling efektif mengendalikan lalat pengorok daun L. huidobrensis. Meskipun begitu, apabila Phrogonal tersebut diaplikasikan berselang-seling dengan pestisida sintetik Pyrethroid 2.5 EC 0.2% dengan skema yang bervariasi, efikasi dari perlakuan tersebut sama efektifnya dengan aplikasi Pyrethroid 2.5 EC 0,2% tunggal 8 kali berkesinambungan. Hasil penelitian ini sangat mendukung penemuan sebelumnya bahwa pestisida biorasional Phrogonal (866) adalah pestisida yang sangat efektif dan dapat menggantikan pestisida sintetik dalam upaya mengurangi aplikasi berlebihan dari barang beracun tersebut.ABSTRACT. Suryaningsih, E. 2006. The control of leafminer fly on potato using biorational pesticide rotated with synthetic pesticide alternately. In order to determine an alternative control method of leafminer fly Liriomyza huidobrensis on potatoes, a field experiment was carried out at Margahayu research station (elevation 1,250 m), Lembang, Bandung, West Java from August to November 2002. The experiment was set up in a randomized block design with 7 treatments, and 4 replications. Biorational pesticide Phrogonal (866) was applied singly or alternated with synthetic pesticide Pyrethroid 2.5 EC 0.2%, with varied rotation to control L. huidobrensis on potato. Phrogonal (866) was simply crude extract mixture of Tephrosia candida 8 weight parts (wp) + Andropoghon nardus 6 wp + Alpinia galanga 6 wp respectively. Detail explanation of the treatments were presented elsewhere. The results of the experiment indicated that biorational pesticide Phrogonal (866) when applied singly eight times continuously during the periode of potato cultivation was found to be the most effective to control leafminer fly L. huidobrensis. However, when Phrogonal (866) was applied alternately with synthetic pesticide Pyrethroid 2.5 EC in varied schemes, the efficacy of those treatments were as effective as Pyrethroid 2.5 EC 0.2% applied singly eight times continuously as well. The results of this experiment strongly support previous findings that biorational Phrogonal (866) is a very effective pesticide and was able to replace synthetic pesticides in order to reduce the excessive application of this toxic material.
Tanggapan Tiga Kultivar Mawar terhadap Media Tumbuh Tanpa Tanah Wuryaningsih, Sri; Muharram, Agus; Rusyadi, Iyus
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Media tanpa tanah mempunyai peluang untuk dikembangkan karena lebih bersih, ramah lingkungan, dan bahan – bahannya banyak terdapat di alam Indonesia. Percobaan dilakukan di rumah plastik  pada bulan Juni 1999 sampai dengan Februari 2000 dengan tujuan untuk mengetahui tanggapan tiga kultivar mawar terhadap media tumbuh yang mengandung zeolit + serbuk sabut kelapa dan zeolit + serbuk gergaji. Rancangan percobaan adalah acak kelompok dengan pola faktorial, dua buah faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah tiga kultivar mawar (Selabintana, maribaya, dan cipanas dwiwarna). Sedangkan faktor kedua adalah delapan komposisi serbuk sabut kelapa/serbuk gergaji + zeolit dan tanah sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa tunas yang terbentuk pada media serbuk sabut kelapa maupun serbuk sabut kelapa + zeolit kultivar selabintana mencapai 2,42 kali, Maribaya 2,59 kali, dan cipanas dwiwarna 3,4 kali lebih tinggi dibandingkan pada media serbuk gergaji. Pertumbuhan vegetatif dan generatif mawar pada media  serbuk sabut kelapa, serbuk sabut kelapa + zeolit, dan tanah lebih baik dibandingkan pada serbuk gergaji. Rataan tinggi tanaman pada penggunaan serbuk sabut kelapa + 100 g zeolit adalah tertinggi yaitu 39,4 cm. Bobot total tanaman dan waktu inisiasi bunga pada penggunaan media serbuk sabut kelapa mencapai 1,8 kali lebih besar dan 29 hari lebih pendek dibandingkan pada media serbuk gergaji. Tanaman mawar yang ditumbuhkan pada media serbuk sabut kelapa + zeolit menghasilkan daun lebih hijau dan tanaman lebih tegar dibandingkan pada media serbuk gergaji + zeolit. Komposisi media serbuk sabut kelapa + zeolit 100 dan 200 g memenuhi syarat sebagai media tanam bagi budidaya mawar dan dapat digunakan sebagai media pengganti tanah. Kata kunci : Rosa hybrida L.; Mawar taman; Media tumbuh tanpa tanah; Pertumbuhan; Serbuk sabut kelapa; Zeolit; Serbuk gergaji. ABSTRACT. Soilless media has opportunity for development because of clean, environmentally sound, and the material could be found in Indonesia. Research on the response of rose cultivars to soilless media (coirdust + zeolite and saw- dust + zeolite) was conducted at plastic house from June 1999 to February 2000. Randomized complete block design with factorial pattern consists of two factors and three replications were used in this experiment. The first factor was three cultivars of rose and the second factor was eight combination compositions of sawdust/sawdust + zeolite and soil as control. The results showed that cultivars of Selabintana grown bud on sawdust or sawdust + zeolite media 2.4 times, maribaya 2.6 times, and cipanas dwiwarna 3.4 times higher than those on sawdust media. The vegetative and generative development of such cultivars on the coirdust, coirdust + zeolite, and soil were better than those on sawdust media. Coirdust + 100 g zeolite produced the highest plant high of 39.4 cm. The use coirdust media yielded plant total weight of 1.8 times, higher, fastened flower initiation time of 29 days and improved flower numbers of 3,84 times than those of sawdust media. The rose cultivars planted on zeolite + coirdust had leaf more greenery and heavier compared to those on zeolite + sawdust. The composition of 100 g coirdust and 200 g zeolite could be recommended as alterna- tive media for growing of rose.
Uji Kepekaan Gamma-Glob u lin An ti serum Poliklonal Cu cum ber Mo saic Vi rus untuk Deteksi Cepat CMV dengan Metode Elisa Tidak Langsung pada Tanaman Tapak Dara Rahardjo, Indiyarto Budi; Sulyo, Yoyo; Diningsih, Erniawati
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Vi rus mosaik ketimun merupakan salah satu patogen penting pada berbagai tanaman hortikultura, termasuk tanamantapak dara. Untuk dapat mengetahui secara dini infeksi vi rus pada tanaman, perlu dikembangkan metode deteksicepat. Salah satu metode serologi yang pal ing banyak digunakan dewasa ini untuk deteksi vi rus secara cepat adalahen zyme-linked immunosorbent as say (ELISA). Penelitian ini bertujuan memperoleh gamma-glob u lin murni dari an ti -serum poliklonal cucumber mosaic virus (CMV) dan mengetahui konsentrasi optimalnya untuk deteksi cepat.Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Virologi, Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung, dari bulan Januarisampai Desember 2001. An ti serum diproduksi dengan cara penyuntikan vi rus murni CMV secara bertahap padakelinci dengan konsentrasi setiap penyuntikan sebesar 1 mg/ml yang dilakukan pada penelitian sebelumnya.Pemurnian gamma-glob u lin mengikuti metode Clark & Adam. Konsentrasi gamma-glob u lin diukur denganspektrofotometer pada panjang gelombang 280 nm. Pengujian kepekaan gamma-glob u lin terhadap an ti gen dilakukandengan metode ELISA tidak langsung. Hasil pengujian menunjukkan konsentrasi gamma-glob u lin sebesar 1 mg/mldengan uji ELISA tidak langsung, konsentrasi gamma-glob u lin yang op ti mal untuk deteksi CMV adalah sebesar 1mg/ml dengan pengenceran enzim con ju gated goat antirabbit dan sampel, masing-masing sebesar 1/25.000 dan 1/10atau konsentrasi gamma-glob u lin sebesar 1mg/ml dengan pengenceran enzim con ju gated goat antirabbit dan sampel,masing-masing sebesar 1/10.000 dan 1/100.AB STRACT. Rahardjo, I.B., Y. Sulyo, and E. Diningsih. 2004. Sen si tiv ity test of gamma-glob u lin of cu cum bermo saic vi rus polyclonal an ti serum for rapid de tec tion of CMV with in di rect ELISA on Vinca sp. Cu cum bermo saic vi rus is one of the ma jor patho gens on some hor ti cul ture crops in clud ing Vinca sp. A rapid de tec tion methodshould be de vel oped to sup port the eval u a tion of ini tial in fec tion of the vi rus on crops. A serological method com -monly used for rapid de tec tion of plant vi ruses is ELISA. The ob jec tives were to pro duce pu ri fied gamma-glob u lin ofCMV an ti serum and to de ter mine the op ti mum con cen tra tion for rapid de tec tion of the vi rus. The ex per i ment was donein Virological Lab o ra tory of In do ne sian Or na men tal Crops Re search In sti tute in Segunung, from Jan u ary to De cem -ber 2001. A polyclonal CMV an ti serum had been pro duced by in jec tions of pu ri fied CMV into rab bit with the con cen -tra tion of 1 mg/ml each in jec tion from pre vi ous re search. Clark & Adam method for gamma-glob u lin pu ri fi ca tion wasfol lowed. Gamma-glob u lin con cen tra tion was mea sured with spectrophotometer on wave length of 280 nm. The testof gamma-glob u lin sen si tiv ity was car ried out with in di rect ELISA method. The re sults showed that the gamma-globulincon cen tra tion ob tained in this study was 1 mg/ml. The op ti mum con cen tra tion of the gamma-glob u lin for CMVde tec tion with in di rect ELISA was 1 mg/ml with 1/25,000 and 1/10 of en zyme con ju gated goat antirabbit di lu tion andsam ples, re spec tively, or the op ti mum con cen tra tion of the gamma-glob u lin was 1 mg/ml with 1/10,000 and 1/100 ofen zyme con ju gated goat antirabbit di lu tion and sam ples, re spec tively.
Peranan Cendawan Mikoriza Arbuskula terhadap Peningkatan Serapan Hara Bibit Pepaya Muas, Irwan
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui peran lima jenis isolat cendawan mikoriza arbuskula dalam meningkatkan serapan hara dan biomassa dua kultivar bibit pepaya. Penelitian dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, dari bulan Agustus 2001 hingga Januari 2002. Penelitian ini disusun berdasarkan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah jenis isolat cendawan mikoriza terdiri dari kontrol, Glomus etunicatum, Glomus manihotis, Gigaspora margarita, Acaulospora tuberculata dan Scutellospora heterogama, dan faktor ke dua adalah kultivar pepaya Dampit dan Sari Rona. Hasil penelitian menunjukkan bahwa derajat infeksi akar bibit pepaya pada umur dua bulan setelah inokulasi dipengaruhi oleh efek interaksiantara isolat cendawan mikoriza dan kultivar pepaya. Isolat A. tuberculata, G. etunicatum dan Gi. margarita menunjukkan derajat infeksi akar yang sangat tinggi, yaitu lebih  dari 76% untuk kedua kultivar pepaya, sedangkan dua jenis isolat  lainnya menunjukkan tingkat infeksi yang lebih rendah (21,33%-59,67%). Serapan hara N, P, K, dan bobot kering pupus, secara mandiri dipengaruhi oleh jenis isolat cendawan mikoriza dan kultivar pepaya. Acaulospora tuberculata dan G. etunicatum meningkatkan bobot kering total bibit berturut-turut 1.028% dan 1.632% lebih tinggi dibanding kontrol. Kultivar Sari Rona menunjukkan serapan hara N, P, K, dan bobot kering pupus lebih tinggi dibanding kultivar Dampit. Prospek aplikasi cendawan mikoriza untuk tanaman pepaya cukup baik, namun masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui keefektifan dalam efisiensi penggunaan pupuk. Katakunci:  Carica papaya; Bibit; Mikoriza arbuskula; Serapan hara; Pertumbuhan. ABSTRACT. Muas, I. 2003. Role of arbuscular mycorrhizal fungus on nutrient uptake of papaya seedlings. An experiment was aimed to find out the role of five arbuscular mycorrhizal fungus isolates in increasing nutrient uptake and biomass production on two cultivars of papaya seedling. The research was conducted at a screen house of Agriculture Faculty, Padjadjaran University, from August 2001 until January 2002. This experiment was laid in Randomized Blocks Design in factorial pattern with three replications. The first factor was the kind of mycorrhizaes isolates, control, Glomus etunicatum, Glomus manihotis, Gigaspora margarita, Acaulospora tuberculata and Scutellospora heterogama, and the second factor was papaya cultivars Dampit and Sari Rona. The results  showed that root infection level of papaya seedlings on two months after inoculation influenced by interactions between mycorrhizaes isolate and papaya cultivars. Acaulospora tuberculata, G. etunicatum, and Gi. margarita isolates showed very high root infection level which was higher than 76% from both papaya cultivars, whereas two other mycorrhizaes isolate showed the lower infection 21.33-59.67%. Nutrient uptake on N,P,K, and shoot dry weight, in autonomous caused by kinds of mycorrhizaes isolate and papaya cultivars. Acaulospora tuberculata and G.etunicatum isolates  increased total dry weight 1,028% and 1,632% respectively higher than control. Sari Rona cultivar showed higher nutrient uptake on N, P, K, and shoot dry weight than Dampit cultivar. The mycorrhizaes application for papaya have good prospect, but there needs further studies to know the effectiveness in fertilizer efficiency.
Uji Kelayakan Teknis dan Finansial Penggunaan Pupuk NPK Anorganik pada Tanaman Kentang Dataran Tinggi di Jawa Barat Sutrisna, Nana; Suwalan, S; Ishaq, I
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung pada musim kemarau 2001. Lokasi penelitian termasuk lahan dataran tinggi dengan ketinggian 1.400 m dari permukaan laut dengan jenis tanah andosol. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kandungan unsur hara beberapa jenis pupuk alternatif NPK anorganik dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan, produksi, dan pendapatan usahatani kentang sebagai dasar penyusunan  rekomendasi teknologi penggunaan  pupuk  alternatif. Percobaan  menggunakan  rancangan  acak kelompok dengan delapan perlakuan dan empat ulangan. Hasil analisis tanah menunjukkan bahwa tanah di lokasi penelitian memiliki ketersediaan unsur N rendah, namun P2O5 dan K2O tinggi, serta pH tanah agak rendah (5,2). Hasil analisis hara dari beberapa jenis pupuk alternatif NPK anorganik menunjukkan bahwa kandungan unsur N, P2O5, dan K2O yang tertera pada label/kemasan tidak sesuai dengan hasil analisis di laboratorium. Dari 10 jenis pupuk yang diuji hanya 30% yang unsur N-nya sesuai, 40% unsur P2O5  sesuai,  dan 50% unsur K2O-nya yang sesuai. Pengaruh penggunaan pupuk NPK anorganik terhadap tinggi tanaman dan jumlah tunas tidak berbeda nyata dengan kontrol, namun pupuk NPK 20-9-9 dapat meningkatkan produksi  umbi sebesar 13,34% dari rata-rata produksi di tingkat petani. Pupuk NPK 20-9-9 pada tanaman kentang memberikan tingkat pengembalian marginal tertinggi, yaitu 1,74 (174%), sehingga paling menguntungkan dibandingkan perlakuan lainnya dan layak untuk direkomendasikan. Kata kunci : Solanum tuberosum; Pupuk anorganik; Kentang; Lahan dataran tinggi; Pertumbuhan; Hasil. ABSTRACT. The research of NPK fertilizers usage was carried out on dry season of 2001 in Alamendah village, Rancabali, Bandung. The experimental location was 1,400 meters above sea level and of andosol soils. The objective of the study was to investigate the composition of several NPK anorganic fer- tilizers and the effects on growth, yield, and profit for potato farming as the basis for technical recommendations re- garding the usage. The experimental was randomized block design with eight treatments and four replications. The soil analysis results showed that the plots were low in nitrogen availability while P2O5 and K2O levels were quite high. The investigation revealed that the stated compositions of nitrogen, phosphorus, and potassium on the respective la- bels were not in accordance with the results of laboratory analysis. Among ten fertilizers tested, the number actually containing the stated levels of nitrogen, phosphorus, and potassium were 30, 20, and 40% respectively. Plant height and number of shoots/plant were not significantly different from the control for any of the alternative fertilizers NPK anorganic used. The use of fertilizer NPK 20-9-9 showed an average yield increase of 13.34% over typical farmer pro- duction methods. The increase in yield was one of the main factors resulting in a marginal return of 174% for fertilizer NPK 20-9-9 as well. Form these results it appears the fertilizer NPK 20-9-9 may be recommended for potato farming in West Java.
Tingkat Kematangan Panen Buah Nenas Sampit untuk Konsumsi Segar dan Selai Diharjo, Sabari Sosro; Suyanti, -; Sunarmani, -
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 3 (2006): September 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Nenas Sampit dari Kalimantan Tengah merupakan nenas bermutu terbaik dan dikenal luas. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendapatkan tingkat kematangan optimum nenas Sampit untuk konsumsi segar dan pembuatan selai nenas. Nenas Sampit dipanen pada 6 tingkat kematangan, yaitu tua, breaker, breaker 25% matang, >25-50% matang, >50-75% matang, dan >75% matang. Nenas dipanen dari sentra produksi nenas di Sampit dan diangkut dengan mobil ke Palangkaraya serta dilanjutkan dengan pesawat terbang ke Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nenas Sampit untuk konsumsi segar dapat dipanen pada >breaker-25% matang dengan daging buah 69,92% dan nisbah PTT/asam 18,9. Buah segar tahan disimpan selama 4 hari pada kondisi kamar dan 6 hari pada suhu 150C. Sebagai dasar selai, nenas dapat dipetik pada >breaker-25% matang dan diproses menjadi selai dengan penambahan 65% gula dan 2% asam sitrat. Dengan formula di atas, rendemen selai mencapai 67,30% dengan kualitas baik yang ditunjukkan dengan skor warna dan rasa masing-masing 3,37 dan 3,95. Untuk keperluan industri, menyimpan hancuran daging buah nenas lebih menguntungkan karena tahan simpan selama 30 hari pada suhu 150C. Untuk menjaga mutu dan percepatan proses pemasakan dan meningkatkan rendemen, pencampuran gula dilakukan pada saat 20% air telah diuapkan dan penggunaan 0,5% pektin dalam adonan.ABSTRACT. Sabari, S.D., Suyanti, and Sunarmani. 2006. Maturity of Sampit pineapple for table fruit and jam. Sampit pineapple was a welknown pineapple cultivar produced in Central Kalimantan Province due to its best quality. A study was conducted to determine the proper maturity of pineapple for table fruit as well as for jam. Sampit pineapple cultivar was picked at 6 maturities based on the yellow color development as sign of the ripeness, i.e. breaker, >breaker-25% ripen, >25-50% ripen, >50-75% ripen, and >75% ripen. Harvested pineapple was transported by car from Sampit District to Palangkaraya and continued by plane to Jakarta. The results indicated that as table fruit the pineapple could be harvested at >breaker-25% ripe with 69.92% of flesh and TSS acidity ratio of 18.9. The fresh pineapple stood for 4 days at ambient condition and for 6 days at 150C of storage. For pineapple jam, the proper fruit maturity was at >breaker-25% ripen. At such ripeness, the best jam quality was achieved by the formula of 65% sugar and 2% citric acid, as indicated by 67.30% of rendemen and good quality shown by score of color and taste of 3.37 and 3.95, respectively. The crushed pineapple flesh maintain its quality for 30 days stored at 150C. To improve jam quality, less prosessing time and higer rendemen, the sugar used for jam processing was added at the time when 20% of water was evaporated and the addition of 0.5% pectin
Kekerabatan 13 Genotip Anggrek Subtribe Sarcanthinae Berdasarkan Karakter Morfologi dan Pola Pita DNA Kartiningrum, Suskandari; Hermiati, N; Baihaki, A; Karmana, M. H; Toruan-Mathius, N
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abnormalitas meiosis dan rendahnya fertilitas sering terjadi pada persilangan interspesifik maupun intergenerik pada beberapa  tanaman anggrek  subtribe  sarcanthinae.  Kendala  tersebut  mungkin  berkaitan  dengan  jauh-dekatnya hubungan kekerabatan. Hubungan kekerabatan antara dua individu atau populasi dapat diukur berdasarkan kemiripan dari sejumlah karakter, dengan asumsi karakter-karakter berbeda menggambarkan perbedaan susunan genetiknya. Penelitian dilakukan mulai Januari-Desember 2001. Tujuan penelitian adalah mengetahui kekerabatan antar-13 genotip anggrek subtribe sarcanthinae serta korelasi antara jarak taksonomi berdasarkan karakter morfologi dan tingkat kemiripan berdasarkan pola pita DNA. Pengelompokan 13 genotip anggrek dianalisis berdasarkan 22 data morfologi dan 185 pita DNA yang diperoleh dari hasil amplifikasi 14 primer dekamer acak random amplified poly- morphic DNA berbasis polymerase chain reaction. Analisis gerombol  13 genotip anggrek subtribe sarcanthinae dilakukan berdasarkan karakter morfologi menggunakan rumus rataan jarak taksonomi dan berdasarkan pola  pita DNA menggunakan  rumus Nei & Li atau koefisien Dice. Dari hasil analisis  diperoleh matriks kemiripan yang digunakan untuk menentukan nilai korelasi antara hasil pengelompokan dengan data fenotipik dan data pola pita DNA. Hasil pengelompokan tanaman anggrek subtribe sarcanthinae berdasarkan karakter morfologi tidak konsisten dengan hasil yang diperoleh dari analisis pola pita DNA. Jarak genetik yang berasal dari data fenotip tidak dapat digunakan untuk menduga kemiripan genetik. Rataan jarak taksonomi 13 genotip anggrek berdasarkan karakter morfologi berkorelasi negatif (r = -0,586, P < 0,01) dengan tingkat kemiripan berdasarkan pola pita DNA. Kata kunci : Anggrek; Kekerabatan; Jarak genetik; Subtribe sarcanthinae; Karakter morfologi; Pola pita DNA; Random amplified polymorphic DNA ABSTRACT. Several interspesific and intergeneric hybrid of subtribe sarcanthinae showed meiotic abnor- mality and poor fertility. This condition was caused by the distant genetic relationship. Genetic relationships between individuals and populations can be measured based on similarity of traits, assuming that the different traits describe the genetic composition. This experiment was begun in January-December 2001. The objective of this study was to esti- mate the correlation between taxonomic distance based on phenotypic performance and genetic similarity based on DNA banding pattern among 13 different genotype of orchid member of subtribe sarcanthinae. The genetic relation- ship analysis among those genotypes was based on 22 morphological traits and 185 DNA bands generated from 14 random amplified polymorphic DNA primers by polymerase chain reaction procedure. Cluster analysis of the geno- types based on phenotypic performance was computed by average taxonomic distance and the DNA banding pattern was calculated by the Dice coefficient of Nei & Li. The analysis resulted in a distance and similarity matrix which was used to determine correlation value between phenotype and DNA. Subtribe sarcanthinae clusters were not consistent with DNA banding pattern. Genetic distance from phenotypic data cant be used to estimate genetic similarity distance based on phenotypic performance which was negatively correlated (r = -0.586, P < 0.01) with that of similarity based on DNA banding pattern.
Lesio sebagai Komponen Tanggap Buah 20 Galur dan atau Varietas Cabai terhadap Inokulasi Colletotrichum capsici dan Colletotrichum gloeosporioides Hidayat, Iteu Margareta; Sulastrini, Ine; Kusandriani, Yeni; Pemadi, A. H.
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 3 (2004): September 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengevaluasi tanggap dari buah cabai pada sta dia hijau dan merah, dan untukmenentukan taraf resistensi dari 20 galur dan atau varietas cabai terhadap inokulasi Colletotrichum capsici danColletotrichum gloeosporioides. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak lengkap dengan tiga ulangandan penelitian dilaksanakan di Rumahkasa dan Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Sayuran, dari bulan Maretsampai Desember 1999. Tanggap buah cabai terhadap C. capsici dan C. gloeosporioides dievaluasi berdasarkan lebardan panjang lesio, di am e ter lesio, dan nisbah panjang/lebar lesio. Penentuan taraf resistensi berdasarkan taraf bedanyata Duncan P<0,05, dari di am e ter lesio pada hari keempat setelah inokulasi, dan pengelompokan denganmenggunakan pro gram systat. Buah pada sta dia hijau galur No. 327 dan serrano menunjukkan taraf resistensi yanglebih tinggi terhadap C. capsici; sedangkan buah pada sta dia merah jalapeno, serta buah hijau dan merah MC11resisten terhadap C. capsici dan C. gloeosporioides.AB STRACT. Hidayat, I. M., I. Sulastrini, Y. Kusandriani, and A.H. Permadi. 2004. Le sion as com po nent offruit re sponse of 20 lines and or va ri et ies of chilli pep per to in oc u la tion of Colletotrichum capsici andColletotrichum gloeosporioides. The ob jec tives of the ex per i ment were to eval u ate the re sponses of green and redfruits, and to de ter mine the re sis tant level of 20 lines and or va ri et ies of chilli pep per to both fungi through woundinoculation of C. capsici and C. gloeosporioides. The ex per i ment was ar ranged in com pletely ran dom ized de sign withthree rep li cates, and con ducted in Screenhouse and Lab o ra tory, of the In do ne sian Veg e ta bles Re search In sti tute,(IVEGRI) Lembang, from March to De cem ber 1999. The re sponses were eval u ated based on width and length of le -sion, di am e ter of le sion, and the ra tio of length/width le sion. De ter mi na tion of re sis tant level based on Duncan mul ti -ple range test P<0.05 and systat programme on le sion di am e ter at 4 days af ter in oc u la tion. Green fruits of the va ri et iesNo. 327 and serrano showed a higher re sis tance level to C. capsici; whereas red fruits jalapeno as well as green and redfruits of MC11 con sis tently re sis tant to both C. capsici and C. gloeosporioides.
Pengaruh Bubur Ubikayu dan Ubijalar terhadap Pertumbuhan Plantlet Anggrek Dendrobium Widiastoety, Diah; -, Purbadi
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian bubur ubikayu dan ubijalar terhadap pertumbuhan plantlet anggrek dendrobium.  Percobaan dilakukan pada bulan Februari sampai Juni 2001, menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bubur ubikayu putih memberikan hasil yang sama baik dengan pisang ambon terhadap pertumbuhan tinggi plantlet, jumlah, dan luas daun. Akar plantlet pada media mengandung bubur ubikayu kuning lebih banyak dan lebih panjang dibandingkan akar plantlet pada me- dia lainnya, sedangkan pemberian ubijalar merah menghambat pertumbuhan tinggi, luas daun, jumlah, dan panjang akar. Kata kunci : Anggrek  dendrobium ; Pisang; Ubikayu; Ubijalar; Media; Bubur; Pertumbuhan plantlet. ABSTRACT. The aim of this experiment was to investigate the effect of cassava and sweet potatoes pastes incorporated in the growth medium on the growth of plantlets of dendrobium orchid. The result of research showed that addition of white cassava or banana pastes in the media, significantly increased plantlet height, leaf num- ber, and leaf size. The highest number of roots and length of root were found on the media suplemented with yellow cassava paste. Inversely, addition of red sweet potatoe paste inhibited plantlet height, leaf size, and number and length of roots.
Mortalitas Stadia Pradewasa Hama Penggulung Daun Pisang Erionota thrax (L) yang Disebabkan oleh Parasitoid Hasyim, Ashol; -, Kamisar; Nakamura, K
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui mortalitas stadia pradewasa hama penggulung daun pisang yang disebabkan oleh parasitoid dan fase awal penyerangan parasitoid terhadap inang. Untuk mengetahui parasitoid hama penggulung daun pisang Erionota thrax, telur, larva, dan pupa hama diambil dari pertanaman pisang petani, kemudian dipelihara di laboratorium Kebun Percobaan Bandar Buat, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat. Setiap kelompok telur, larva, dan pupa dimasukkan ke dalam stoples plastik berdiameter 13 cm dan tinggi 5 cm, serta diberi makan daun pisang. Pengamatan terhadap stadia telur diamati dengan menghitung telur yang menetas, diserang parasitoid, tidak menetas, dan diserang jamur. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa hama penggulung daun pisang mempunyai dua jenis parasitoid telur, dua jenis parasitoid larva, dan empat jenis parasitoid pupa.  Kedua jenis parasitoid telur Pediobius erionotae dan Ooncyrtus erionotae dapat menyebabkan kematian tertinggi dan membunuh 55,6% stadia telur. Parasitoid larva mulai menyerang stadia larva instar kedua. Indeks parasitisme tertinggi disebabkan oleh parasitoid larva Casinaria sp. adalah 15,7% dan yang paling rendah disebabkan oleh parasitoid pupa, Theronia ze- bra-zebra mencapai 0,8%. Hasil penelitian tentang parasitoid hama penggulung daun pisang ini merupakan informasi dasar dalam rangka pengembangan pengendalian hama secara terpadu. Kata kunci: Musa paradisiaca; Erionota thrax; Hama penggulung daun; Parasitoid; Mortalitas; Stadia pradewasa ABSTRACT. This study was aimed to determine immature mortality of banana leaf roller Erionota thrax (L.) and early susceptible stage of the host parasitoid attacking. To obtain parasitoid, the eggs, larvae, and pupae of banana leaf roller, E. thrax were collected from farmers banana fields and reared in the laboratory under room temperature at Bandar Buat, West Sumatera Assessment Institute for Agriculture Technology. Each egg mass, larvae, and pupae was isolated in plastic container dimensions of 13 cm in diameter and 5 cm in depth feeding, with a leaf of banana. The following categories were recognized for egg stage, hatched, parasitic by wasps, hatching failure, and fungal diseased. The result indicated that E. thrax had two species of egg parasitoid, two species of parasitoid emerged from larvae, and four species of parasitoid emerged from pupal stages. Both egg parasitoid spe- cies, Pediobius erionotae and Ooncyrtus erionotae, caused the highest mortality and killed 55.6% of the eggs. The earliest parasitized stage of larvae was the second instar. Parasitism rate by larval and pupal parasitoid which was mostly caused by Casinaria sp. was at 15.7% and the lowest caused by pupae parasitoid, Theronia zebra-zebra was 0.8. The results of banana leaf roller parasitoid research provide basic information for the development of integrated pest management.

Page 37 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue