cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Patogenisitas Isolat Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin dalam Mengendalikan Hama Penggerek Bonggol Pisang, Cosmopolites sordidus Germar Hasyim, Ashol; -, Azwana
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan di laboratorium Hama dan Penyakit, Balai Penelitian Tanaman Buah Solok pada bulan Mei sampai Oktober 2002. Sampel tanah dikoleksi dari sentral produksi pisang di daerah Baso, Sei Tarab, Sei Sariek, dan Sikabau Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh dosis spora Beauveria bassiana terhadap serangga dewasa dan fase kerentanan serangga pradewasa dan dewasa hama penggerek bonggol pisang. Penelitian ditata dalam rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan dan dua belas perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum efektivitas B. bassiana meningkat dengan meningkatnya dosis untuk keempat isolat yang diuji. Terlihat perbedaan yang nyata infektivitas untuk semua  isolat B. bassiana. Mortalitas serangga dewasa hama penggerek bonggol pisang yang disebabkan oleh jamur entomopatogen B. bassiana dari isolat Baso, Sei Tarab, Sei Sariek, dan Sikabau pada konsentrasi tertinggi (3,2X108 konidia/ml) setelah 14 hari perlakuan berturut-turut adalah 96,67; 90,00;60,00;  dan  83,33%. Jumlah  konidia  yang  dibutuhkan  isolat Baso  untuk  mematikan  50%  serangga  dewasa Cosmopolites sordidus relatif lebih rendah (17.782,79 konidia/ml) dan waktu yang dibutuhkan untuk mematikan 50% serangga uji juga lebih singkat (LT 50 = 7,22 hari) dibanding ketiga isolat lainnya. Isolat Baso memiliki patogenisitas yang lebih tinggi dibanding ketiga isolat lainnya. Mortalitas stadia hama penggerek bonggol pisang berkisar 76,67% sampai 100% setelah 15 hari diinokulasi dengan jamur B. bassiana. Mortalitas stadia larva 2 C. sordidus relatif tinggi dibanding dengan stadia uji lainnya pada 15 hari setelah inokulasi. Hasil penelitian ini meberikan informasi bahwa jamur B. bassiana mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai  agens pengendali hama penggerek bonggol. Kata kunci: Musa sp; Patogenisitas; Beauveria  bassiana; Cosmopolites sordidus; Penggerek bonggol; Mortalitas ABSTRACT. This experiment was conducted at the labora- tory of Entomologiy, Indonesian Fruit Research Institute from May to October 2002. The soil samples were collected from banana production centers at Baso, Sei Tarab, Sei Sariek and Sikabau. The objectives of this experiment were to investigate the influence of spore dose on the infectivity of the isolates against adult and the susceptibility host of im- mature stages and mature stage of banana weevil which were treated with B. bassiana isolates. A completely random- ized design with twelve treatments and three replications were used in this study. The result showed that the effectiveness of the B. bassiana from four isolates increased with increasing spore dose. There was a significant differ- ent in infectivity of all isolates of B. bassiana. The adult banana weevil mortalities caused by entomopathogen fungi of B. bassiana isolate from Baso, Sei Tarab, Sei Sariek and Sikabau at highest density (3.2X108 conidia/ml) after two weeks were 96.67%, 90.00%, 60.00%, and 83.33% respectively. The aqueous suspension of B. bassiana conidia from isolate Baso was the lowest with LC50’s of 1778289 conidia/ml and a Lethal time 50’s was faster 7.22 days compare than other isolate. It means that isolate B. basiana from Baso has higher patogenicity than other isolate. The mortality of banana weevil stages ranging from 76.67% to 100% at 15 days after inoculation of B. Bassiana. Mortality of larva at the second stadia was relatively higher compared to the other stadia of banana corm borers. This study was undertaken to provide more information on the potential for developing B. bassiana as a control agent for the banana weevil borer.
Isolasi dan Identifikasi Spesies Fusarium Penyebab Penyakit Layu pada Tanaman Markisa Asam Saragih, S Y; Silalahi, Frets H
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penyakit layu fusarium merupakan kendala yang amat besar dalam produktivitas tanaman markisa yang menyebar di seluruh Indonesia, khususnya beberapa daerah sentra produksi di Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Serangan penyakit layu mengakibatkan tanaman lebih cepat mati. Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui beberapa spesies fusarium penyebab layu pada tanaman markisa, dan (2) mengetahui sifat dan karakteristik spesies fusarium yang ditemukan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Penyakit Kebun Percobaan Tongkoh Berastagi mulai Oktober 2004 sampai Februari 2005. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 20 isolat yang diambil dari 5 desa (Salit, Aji Nembah, Tongkoh, Suka Dame, dan Regaji) diperoleh 8 warna biakan yang berbeda pada media PDA setelah dikelompokkan menjadi 8 kelompok, yaitu Kelompok 1 (Ungu), Kelompok 2 (Coklat putih berbelang), Kelompok 3 (Oranye pucat), Kelompok 4 (Coklat), Kelompok 5 (Putih tipis), Kelompok 6 (Merah jambu), Kelompok 7 (Putih tebal), dan Kelompok 8 (Kuning pucat). Hasil identifikasi lanjutan pada media CLA pada 8 warna biakan dari media PDA ditemukan 4 spesies fusarium sebagai penyebab layu pada tanaman markisa asam, yaitu Fusarium oxysporum, F. solani, F. tricintum dan F. poae.ABSTRACT. Saragih, Y.S. and F.H. Silalahi. 2006. Isolation and identification fusarium species causing wilt disease on passionfruit plant. Fusarium wilt disease was the main constraint in passion fruit productivity that spread in Indonesia, especially in some main production areas such as North Sumatera and South Celebes. The objectives of this research were (1) to find out fusarium species that caused wilt disease on passion fruit, and (2) to find out the characteristic of fusarium species that have been obtained. The experiment was conducted in Berastagi Fruits Plant Research Farm, from October 2004 until February 2005. The results showed that from 20 isolates that have been taken from 5 villages (Salit, Aji Nembah, Tongkoh, Suka Dame, dan Regaji) there were 8 distinct colors of culture on PDA. There were Group 1 (Violet), Group 2 (Brown stripped white), Group 3 (Pale orange), Group 4 (Brown), Group 5 (Thin white), Group 6 (Pink), Group 7 (Thick white) and Group 8 (Pale yellow). Result of continuously identification on CLA (carnation leaf agar) culture for to 8 colors of culture from PDA, there were found 4 species of fusarium that caused wilt disease on passion fruit plant, i.e. Fusarium oxysporum, F. solani, F. tricintum and F. poae.
Kemampuan Pemangsaan Pred a tor Kumbang Buas terhadap Hama Penggerek Bonggol Pisang Hasyim, Ahsol; Harlion, -; Yasir, H.
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 3 (2004): September 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kumbang pred a tor Plaesius javanus dikoleksi dari pertanaman pisang di Bukittinggi dan Sitiung. Percobaandilakukan di Laboratorium Proteksi, Balai Penelitian Tanaman Buah Solok dari bulan April sampai Desember 2001,menggunakan rancangan acak kelompok. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kemampuan individupemangsaan pred a tor kumbang buas dalam mengendalikan hama penggerek bonggol pisang. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa P. javanus dewasa dan larva dapat memangsa semua sta dia hama penggerek bonggol pisangsecara efektif. Setiap individu P. javanus dewasa dapat memangsa telur, larva instar 2, 3, 4, 5, serta pupa dan dewasaberturut-turut 7 butir, 4,9; 3,9; 2,9; 2,9; 2,0; 2,0; dan 1,9 ekor/hari. Kemampuan memangsa individu larva P. javanusrelatif lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan memangsa individu dewasa P. javanus. Sedangkan kemampuanmemangsa individu P. javanus betina relatif lebih tinggi dibandingkan dengan P. javanus jantan. Pred a tor inimempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai agens pengendali hayati di masa mendatang.Kata kunci: Musa sp.; Plaesius javanus; Cosmopolites sordidus; Sta dia hama penggerek bonggol; PemangsaanAB STRACT. Hasyim, A., Harlion, and H. Yasir. 2004. Pred a tory rate of histerid bee tles on ba nana wee vilborer. Pred a tory of histerid bee tles were col lected from ba nana field at Bukittinggi and Sitiung. This ex per i ment wascar ried out at lab o ra tory of In do ne sian Fruit Re search In sti tute from April to De cem ber 2001, used a ran dom ized blockde sign. The pur pose of this ex per i ment was to know the in di vid ual po ten tial of pred a tory bee tles, P. javanus to preyba nana wee vil borer. The re sults showed that adult and lar vae of P. javanus ef fec tively preyed ba nana wee vil borer,Cosmopolites sordidus. Each in di vid ual of P. javanus adult was able to prey 7 pieces 4.9, 3.9, 2.9, 2.9, 2.0, 2.0, and 1.9in di vid ual/day, re spec tively for egg, sec ond, third, fourth, fifth instar lar vae, pupa and adult. Pre da tion rate of individualP. javanus lar vae was higher com pare to adult in con trolling ba nana wee vil borer. Pred a tory rate of in di vid ual fe -male P. javanus was higher than the male. The pred a tor has a prom is ing po ten tial us age as bi o log i cal con trol agent innear fu ture.
Pengaruh Kemasan terhadap Daya Simpan Umbi Bibit, Pertumbuhan, dan Hasil Bawang Putih Soedomo, Raden Prasodjo
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Di Indonesia bawang putih sudah merupakan bumbu masakan yang merakyat. Untuk konsumsi saat ini sebagian besar umbi berasal dari impor, padahal banyak daerah dataran tinggi di Indonesia yang sangat baik untuk penanaman bawang putih. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis pengemas yang terbaik guna memperpanjang daya simpan umbi bibit bawang putih serta pertumbuhan dan hasil di lapangan. Percobaan telah dilakukan di Laboratorium Benih, Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang (1.250 m dpl), pada bulan Oktober 2004–Februari 2005. Penelitian dilanjutkan di lapangan untuk observasi terhadap penampilan umbi bibit. Rancangan yang digunakan adalah acak lengkap untuk penelitian di laboratorium benih dan acak kelompok untuk penelitian di lapangan, dengan model rancangan petak terpisah, terdiri atas 4 ulangan dan 7 perlakuan. Perlakuan terdiri dari (1) kantong plastik + batu kapur, (2) kantong plastik + batu kapur (CaCO3) + O2, (3) kantong plastik + Aquastore, (4) kantong plastik + Aquastore + O2, (5) rajut plastik, (6) kantong kertas semen + batu kapur, dan (7) kantong kertas semen + Aquastore. Hasil menunjukkan bahwa pengemasan umbi bibit bawang putih yang berdampak terhadap pertumbuhan dan hasil terbaik adalah penggunaan jaring plastik dengan daya simpan 57 hari dan kerusakan 9,6%. Di lapangan tinggi tanaman pada umur 14, 28, 42, 56, dan 70 HST masing-masing adalah 6,00; 12,23; 30,00; 40,75; dan 49,0 cm, dengan daya tumbuh 87,60%. Bobot hasil per lubang tanaman 80,80 g, dan siung per umbi 10,80 buah, dan diameter umbi lapis 32,10 cm. Pengemas dalam kondisi tertutup dapat menggunakan kertas semen, dengan penyerap batu kapur maupun Aquastore, dengan nilai kerusakan pada penyimpanan masing-masing adalah 12,5 dan 11,00%, dan daya simpan masing-masing 62,0 hari. Di lapangan mempunyai daya tumbuh 92,80, 97,90% dan tinggi tanaman pada umur 14, 28, 42, 56, dan 70 HST masing masing adalah 6,90; 12,60; 30,90; 41,15; dan 49,27cm (penyerap kapur), dan 8,43; 14,50; 32,25; 42,50; dan 51,80 cm (penyerap Aquastore). Bobot umbi per lubang tanaman 78,60 dan 77,70 g, jumlah siung per lubang tanaman 10,60 dan 10,70 siung, dan diameter umbi lapis anakan 31,90 dan 30,66 cm.ABSTRACT. Soedomo, R.P. 2006. Effect of packaging materials on the keeping quality of seedbulbs, the growth, and yield performance of garlic. Garlic as cooking spices was widely used in Indonesia. Most of the garlic consumed was imported in fact that some potential higlands suitable for planting garlics were ignored. The objectives of the study were to find out the best packaging materials for seed bulbs and its impact to growth and yield in the field. The trial was conducted at the seed laboratory of Indonesian Vegetable Research Institute at Lembang (1,250 m asl) in October 2004-February 2005. The subsequent planting was done in the research field of the institute to observe the performance of the seedbulbs. The experimental design was CRD for storage laboratory study and RCBD for field observation, with a split plot design. There were 7 treatments and 4 replications. The treatments were (1) polyethylene wrap + CaCO3, (2) polyethylene wrap + CaCO3 + O2, (3) polyethylene wrap + Aquastore, (4) polyethylene wrap + Aquastore + O2, (5) polyethylene plastic net, (6) cement paper bag + CaCO3, and (7) cement paper bag + Aquastore. The results showed that the best packaging material was plastic net with seed bulb damages of 9.6%, and storage life of 57 days. The plant height at 14, 28, 42, 56, and 70 days after planting (dap) were 6.00, 12.23, 30.00, 40.75, and 49.0 cm respectively. The yield per plant was 80.80 g. Number of bulblet per bulb was 10.80, and diameter of bulb was 32.10 cm. Cement paper, with absorber materials of limestone and Aquastore showed damages of 12.5 and 11.0% respectively. The keeping quality stood for 62.0 days. The plant height at 14, 28, 42, 56, and 70 dap were 6.90, 12.60, 30.90, 41.15, and 49.27 cm (limestone absorber), and 8.43, 14.50, 32.25, 42.50, and 51.80 cm (Aquastore absorber) respectively. The plant survival in the field were 92.80 and 97.90%. The number of bulblets were 78.60 (limestone) and 77.70 (Aquastore).
Seleksi Induk Tanaman Bawang Merah Soedomo, Raden Prasodjo
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Keterbatasan sumber genetik mengakibatkan program pemuliaan pada bawang merah tidak tercapai. Penggunaan induk sebagai bahan pemuliaan, perlu diseleksi dan dievaluasi terlebih dahulu. Percobaan ini bertujuan menyeleksi dan mengevaluasi penampilan fenotifik dan daya adaptasi untuk bahan induk tanaman. Percobaan dilakukan di Kebun Benih Induk Padi Kramat, daerah dataran rendah Kabupaten Tegal, Jawa Tengah pada bulan Oktober s/d Desember 2005 musim kemarau sampai dengan hujan, jenis tanah alluvial, pada ketinggian +5 m dpl. Menggunakan rancangan acak kelompok, jumlah ulangan 5 dan 13 perlakuan. Perlakuan tersebut adalah Ilokos, Bima Brebes, Bauji, Cokol Hijau, Singkil Gajah, Philipina, Timor, Bethok, Tiron, Kuning, Maja, Bangkok Warso, dan Bombay. Hasil menunjukkan bahwa kultivar yang mempunyai potensi sebagai bahan induk adalah kultivar Tiron, Bethok, dan Bima Brebes dengan kemampuan bertahan hidup cukup baik (92,92; 91,2; dan 81,54%), Jumlah anakan cukup banyak (9,90; 5,34; dan 7,24 anakan), jumlah daun tiap rumpun cukup lebat (35,50; 26,18; dan 21,62 helai), pertumbuhan tanaman tidak terlalu tinggi (8,42; 27,20; dan 23,62 cm), ukuran umbi relatif cukup besar dengan diameter umbi (24,2/25,4; 23,6/27,6; dan 22,4/26,6 mm), produksinya cukup tinggi dengan bobot hasil umbi kering per plot 6 m2 (5970,4; 5107,0; dan 4915,20 g), per dapur (92,6; 76,6; dan 76,7 g), dan per ha (9,26; 8,51; dan 8,18 t). Susut bobot cukup sedikit (18,34; 19,03; dan 21,73%), serta ketahanan hama penyakit cukup baik. Dilihat dari penampilan fenotifik secara umum dapat dibagi ke dalam 6–10 kelompok penampilan yang berbeda yang dapat digunakan sebagai bahan induk pemuliaan.ABSTRACT. Soedomo, R.P. 2006. The parent selection of shallots. Limiting genetic sources hindered breeding program of shallot. The breeding materials, must be selected and evaluated. The objective of this trial was to select and evaluate the phenotype and adaptability of shallot for breeding materials. This experiment was conducted at District of Tegal, Central Java (+ 5 m asl), from October to December 2005 (dry to rainy season), at alluvial soil. The experiment was set up in a randomized block design with 5 replications. The varieties of shallot used in this experiment were Ilokos, Bima Brebes, Bauji, Cokol Hijau, Singkil Gajah, Philipina, Timor, Bethok, Tiron, Kuning, Maja, Bangkok Warso, and Bombay. The results of this experiment showed that the potential cultivar for breeding materials were Tiron, Bethok and Bima Brebes cultivars, with survival rate i.e. 92.92; 91,2; and 81,54% respectively, moderate number of bulblet i.e. 9.90; 5.34 and 7.24 bulblet, respectively moderate number of leaf i.e. 35.50; 26.18; and 21.62 respectively, plant height (18.42; 27.20; and 23.62 cm), relatively big bulb size, with diameter 24.2/25.4; 23.6/27.6; and 22.4/26.6 mm respectively), relatively high production was rather yield i.e. dry bulb per plot 5,970.4; 5,107.0; and 4,915.20 g/6 m2 respectively; per hole 92.6; 76.6; and 76.7 g respectively, and per ha: 9.26; 8.51; and 8.18 t respectively. Weight losses was moderate i.e. 18.34; 19.03; and 21.73% respectively, and resistance of pest and diseases were moderate to good. Base on general phenotype appearance there were 6 to 10 groups considered as breeding materials.
Respons Tanaman Induk Klon Unggul Krisan terhadap ZPT dan Frekuensi Aplikasi Fungisida dalam Sistem Budidaya Lahan Terbuka Wasito, Antoro
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknologi produksi dan pemeliharaan terhadap induk klon-klon/varietasunggul krisan yang adaptif dibudidayakan di lahan terbuka. Penelitian dilaksanakan pada lahan terbuka tanpanaungan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung, berlangsung dari bulan Juli sampaiDesember 2002. Petak-petak percobaan disusun menurut rancangan petak-petak terpisah dengan tiga ulangan. Limaklon harapan digunakan sebagai perlakuan petak utama, aplikasi ZPT so dium nitroquaicol (tanpa dan denganaplikasi) digunakan sebagai anak petak, sedangkan aplikasi fungisida (1 dan 2 kali seminggu) digunakan sebagaianak-anak petak. Hasil percobaan menunjukkan bahwa semua klon tanaman induk mampu tumbuh dan dapatmenghasilkan stek pucuk pada kondisi lahan terbuka. Jumlah stek pucuk, bobot stek, di am e ter pangkal stek pucukdan kemampuan berakar dipengaruhi oleh klon, namun tidak dipengaruhi oleh perlakuan aplikasi ZPT so diumnitroquaicol dan perlakuan aplikasi fungisida. Ketahanan stek pucuk terhadap gejala serangan penyakit karat selamapengakaran dipengaruhi oleh klon yang ditanam, tetapi tidak dipengaruhi oleh aplikasi ZPT so dium nitroquaicol danperlakuan aplikasi fungisida.Kata kunci: Chry san the mum; Tanaman induk; ZPT; Fungisida; Budidaya lahan terbukaAB STRACT. Wasito, A. 2004. Re sponse of chry san the mum prom is ing clones stock plant to ward growthreg u la tors and fun gi cides ap pli ca tion at out door cultivation. The ob jec tive of this study was to find out the tech -nol ogy of cut ting pro duc tion on the chry san the mum prom is ing clones un der out door con di tion. The ex per i ment wascon ducted at the ex per i men tal gar den of In do ne sian Or na men tal Crop Re search In sti tute, Segunung 1,100 m asl fromJuly to De cem ber 2002. A split-split plot de sign was used con sisted of three fac tors with three rep li ca tions. The firstfac tor was five chyrsanthemum prom is ing clones, the sec ond fac tor was two lev els so dium nitroquaicol growth reg u -la tor ap pli ca tion (with and with out ap pli ca tion), and the third fac tor was two level fun gi cide ap pli ca tion (once aweek and twice a week). The re sults showed that five prom is ing clones of stock plant well grown and pro duced cut -ting eventhought un der out door con di tions. The prom is ing clones were sig nif i cantly af fected the num ber of cut ting,cut ting weight, cut ting di am e ter, root ing ca pa bil ity and white rust re sis tance, but not by growth reg u la tor and fun gi -cide application.
Pengendalian Hayati Layu Fusarium Pada Tanaman Pisang dengan Pseudomonas fluorescens dan Gliocladium sp. Djatnika, Ika; Hermanto, Catur; -, Eliza
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit layu fusarium yang disebabkan oleh F. oxysporum f.sp. cubense merupakan kendala yang amat besar dalam memproduksi pisang, bukan hanya di Indonesia tetapi hampir di seluruh pusat pertanaman pisang di dunia. Penelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh P. fluorescens dan Gliocladium sp. terhadap perkembangan intensitas penyakit layu fusarium pada tanaman pisang, dan menentukan cara aplikasi agens hayati tersebut yang efektif. Percobaan dilakukan di lahan petani di Desa Selayo Kabupaten Solok yang dilaporkan sebagai lahan endemik layu fusarium, mulai April 2000 sampai dengan Maret 2001. Percobaan dilaksanakan menggunakan rancangan acak kelompok dengan tujuh perlakuan dan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan P. fluorescens atau Gliocladium sp. yang  diaplikasikan dengan cara penyiraman pada tanah di sekitar bibit tanaman pisang dapat menekan perkembangan penyakit layu di lapang. Tampaknya penyiraman tanaman dengan mikrobe antagonis tersebut tidak cukup satu kali, melainkan perlu beberapa kali  supaya hasilnya lebih baik. Kata kunci: Pisang; Fusarium oxysporum; Pseudomonas fluorescens; Gliocladium sp.; Pengendalian hayati. ABSTRACT. Fusarium wilt caused by F. oxysporum f.sp. cubense is a main constrain in bananas plantation throughout the world, including in Indonesia. The objectives of this research were to study the effect of P. fluorescens and Gliocladium sp. in the development of wilt disease intensity on banana plants, and to know the application methods of the biological agents to control the disease. The experiment was conducted in the farmer’s area where the disease was reported in endemics level in Selayo district Solok country from April 2000 until March 2001. Randomized block design with seven treatments and three replications were used. The result showed that application by pour   P. fluorescens or Gliocladium sp. suspension to soil around banana seedling rhizosfeer reduced the diseased plants in the field. It seems that the antagonistic microbes should be applicated several times to reduce the diseased plants perfectly.
Peningkatan Pertumbuhan dan Mutu Alpinia purpurata melalui Pupuk P dan K Utami, Puji K; Tedjasarwana, R; Herlina, Deborah
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Alpinia purpurata merupakan salah satu komoditas tanaman hias tropis yang termasuk baru dari famili Zingiberaceae. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pupuk P dan K dalam memacu pertumbuhan vegetatif dan generatif A. purpurata. Penelitian dilaksanakan di rumah sere KP. Segunung, Balai Penelitian Tanaman Hias mulai bulan September 2004 sampai dengan Agustus 2005. Rancangan percobaan menggunakan acak kelompok pola faktorial dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Pemupukan P (0, 36, 72) kg P2O5/ha) sebagai faktor pertama dan pemupukan K (0, 60, 120, 180) kg K2O/ha sebagai faktor kedua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara pemberian pupuk P dan K terhadap pertumbuhan tanaman A. purpurata. Namun pemberian pupuk K (60 kg K2O/ha) meningkatkan produksi bunga/plot tertinggi (27,33 tangkai) pada bulan Februari 2005 demikian pula K 120 kg K2O/ha) nyata meningkatkan diameter bunga mekar tertinggi (3,97 cm). Sedangkan pemberian K nyata meningkatkan panjang daun (25,30 cm) dan diameter bunga mekar (3,97 cm).ABSTRACT. Utami, P.K., R. Tedjasarwana, and D. Herlina. 2006. Growth and flower quality improvement of A. purpurata through fertilization application of phosphate and potassium. Alpinia purpurata is one of the new tropical ornamental plants from Zingiberaceae family. The objective of the experiment was to determine the effect phosphate and potassium fertilizer application on promoting vegetative and generative growth of Alpinia. The experiment was conducted in the screenhouse at Segunung field station (1,100 m asl) at Indonesian Ornamental Crops Research Institute, Cianjur, from September 2004 to August 2005. The plots were arranged in a factorial completely randomized design with 3 replications and 2 factors. The first factor comprised of 3 level phosphate dosage i.e. 0, 36, 72 kg P2O5/ha. The second factor consisted of 4 level potassium dosage i.e. 0, 60, 120, and 180 kg K2O/ha. The results showed that there was no significant interaction between phosphate and potassium fertilizer application, but the use 60 kg K2O/ha increased of flower production on February 2005. K120 kg K2O/ha significantly increased of opened flower diameter (3.97 cm), and flower bud diameter (1.17 cm). Mean while, K application at 120 kg K2O and 60 kg K2O significantly increased the leaf length and mature flower (3.97 cm).
Variabilitas Genetik antara Tanaman Induk Manggis dan Keturunannya Mansyah, Elina; Anwaudinsyah, Muhamad Jawal; Usman, F.; Purnama, T.
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dilaksanakan mulai bulan Januari sampai Mei 2002 di laboratorium Biologi Molekuler dan Immunologi,Unit Penelitian Bioteknologi Perkebunan-Bogor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variabilitas genetikantara tanaman induk manggis dan keturunannya. Observasi dilakukan menggunakan tiga tanaman induk manggisyang berasal dari Sumatera Barat, yaitu Balai Baru (Kodya Padang), Padang Laweh dan Subarang Sukam (KabupatenSawahlunto/Sijunjung) dengan keturunannya masing-masing. Tanaman keturunan berupa bibit semaian darimasing-masing tanaman induk yang berumur 1 tahun. Analisis variabilitas genetik dilakukan melalui teknik RAPDmenggunakan lima primer terseleksi, yaitu SB-13 (AGTCAGCCAC), SB-19 (CAGCACCCAC), OPH-12(ACGCGCATGT), OPH-13 (CACGCCACAC), dan OPH-18 (GAATCGGCCA). Hasil penelitian menunjukkanbahwa terdapat variasi genetik antara induk manggis dan keturunannnya yang ditunjukkan oleh ketidakmiripan antarapola pita DNA. Variasi genetik rataan dari individu turunan adalah sebesar 56,35%. Hasil penelitian ini memperkuatinformasi tentang variabilitas genetik pada manggis, dan membuka peluang perbaikan varietas melalui seleksiterhadap populasi manggis indijenus.Kata kunci: Garcinia mangostana L.; Variabilitas genetik; Tanaman induk; Turunan; RAPD.AB STRACT. Mansyah, E., M. J. Anwaruddin Syah, F. Usman, and T. Purnama. 2004. Ge netic vari abil itybetween man go steen mother plants and their off springs. The re search was con ducted on Jan u ary un til May 2002 atMo lec u lar Bi ol ogy and Im mu nol ogy Lab o ra tory of Es tate Bio tech nol ogy Ex per i men tal Unit Bogor The ob jec tive ofthis study was to de ter mine the ge netic vari abil ity be tween man go steen mother plants and their off springs. Plant ma te -ri als used were three man go steen mother plants from West Sumatera i.e. Balai Baru (in clud ing in Padang mu nic i pal -ity), Padang Laweh, and Subarang Sukam (both in clud ing in Sawahlunto/Sijunjung re gency) and their off springs. Theoff springs were one year old seed ling which was de rived from each mother plants. Ge netic vari abil ity was ob served byus ing RAPD tech nique and five se lected prim ers i.e.: SB-13 (AGTCAGCCAC), SB-19 (CAGCACCCAC), OPH-12(ACGCGCATGT), OPH-13 (CACGCCACAC), and OPH-18 (GAATCGGCCA). The re sults showed that there werege netic variabilities be tween the mother plants and their off spring as in di cated by dis sim i lar i ties of DNA band ing pat -terns. The av er age of ge netic vari abil ity for the off spring was 56.35%. This re sults would sup port the in for ma tionabout the pres ence of ge netic vari abil ity on man go steen and lead ing to va ri etal im prove ment op por tu nity throughse lec tion of in dig e nous pop u la tion.
Evaluasi Daya Hasil dan Adaptasi Klon- klon Harapan Krisan Wasito, Antoro; Marwoto, Budi
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lima belas klon harapan krisan ditanamkan di lokasi dengan tinggi 700 , 800 , dan 1.200 m di atas permukaan laut menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan, pada bulan Oktober 2000 sampai dengan Maret 2001. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh klon-klon krisan yang berdaya hasil tinggi untuk persiapan pelepasan varietas baru. Luaran yang diharapkan adalah lima klon krisan yang berdaya hasil tinggi dan adaptif terhadap kondisi lingkungan di sentra-sentra produksi krisan. Hasil penelitian mendapatkan lima klon krisan yang adaptif dan berdaya hasil tinggi yang selanjutnya dapat direkomendasikan untuk pelepasan varietas baru. Kata kunci; Krisan; Klon harapan; Daya hasil; Adaptasi ABSTRACT. Fiveteen promising clones of chrysanthemum were planted at three locations with eleva- tion 700, 900, and 1,200 m. above sea level. A randomized design with three replications, and conducted from October 2000 to March 2001. The objective of this experiments was to evaluate the potential yield and adaptation of breeder promising clones related to selection method on chrysanthemum breeding program for releasing varieties. The results showed that five clones of chrysanthemum possesed superior characteristics i.e high yielding potential and adaptive that should be recommended for releasing varieties.

Page 40 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue