cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Karakteristik Teknis Sistem Pertanaman Polikultur Sayuran Dataran Tinggi Adiyoga, Witono; Suherman, Rachman; Gunadi, Nikardi; Hidayat, A.
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di sentra produksi sayuran dataran tinggi Pangalengan, Jawa Barat pada bulan No vem ber2001. Observasi lapang dan survai for mal melalui wawancara dengan 23 orang petani responden diarahkan untukmemperoleh data/informasi dasar mencakup karakteristik teknis sistem pertanaman polikultur pada komunitassayuran dataran tinggi. Hasil penelitian menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat dari penggunaansistem pertanaman polikultur. Kombinasi tanaman yang pal ing sering dipilih petani adalah cabai + petsai, kemudiandiikuti oleh tomat + petsai, cabai + siampo, kubis + petsai, dan cabai + kentang + petsai. Secara umum, pemilihan jenissayuran yang dikombinasikan telah sejalan dengan prinsip dasar polikultur yang mengisyaratkan maksimisasisinergisme dan minimisasi kompetisi antartanaman. Petani pada umumnya memilih tanaman kombinasi yangcenderung berumur lebih pendek dan memiliki kanopi lebih sempit dibandingkan dengan tanaman utama.Pengalaman petani mengindikasikan bahwa (a) tomat+petsai dikategorikan memiliki hubungan kompetitif, (b)cabai+petsai dikategorikan tidak saja memiliki hubungan komplementer, tetapi juga hubungan suplementer, (c)tomat+cabai, kentang+tomat, tomat+siampo, dikategorikan memiliki hubungan komplementer/kompetitif, dan (d)cabai+tomat dikategorikan memiliki hubungan suplementer/kompetitif. Kemungkinan kekurangan air ataukekeringan dipersepsi memiliki bobot pengaruh terpenting terhadap keberhasilan sistem pertanaman polikultur.Berdasarkan urutan kepentingannya, bobot pengaruh tersebut diikuti oleh curah hujan per tahun, efek naungan daritanaman lain yang dapat mengurangi radiasi sinar matahari, to tal kebutuhan air, curah hujan efektif per tahun dan efeklindungan. Dukungan hasil penelitian hulu yang bersifat teknis mencakup optimasi penataan spasial dan tem po ral(waktu tanam), optimasi kombinasi tanaman berdasarkan potensi sinergi dan kompetisi, seleksi, dan pemuliaantanaman spesifik untuk tumpangsari, aplikasi pemupukan dan pemulsaan, serta pengendalian hama penyakit secarabiologis, masih sangat diperlukan agar diperoleh suatu acuan atau bahan pembanding yang dapat digunakan untukmelakukan evaluasi, konfirmasi, dan pengembangan sistem polikultur lebih lanjut.Kata kunci: Polikultur; Sayuran dataran tinggi; Sinergisme; KompetisiAB STRACT. Adiyoga, W., R. Suherman, N. Gunadi, and A. Hidayat. 2004. Tech ni cal char ac ter is tics ofpolyculture sys tem of high land vegetables. This study was car ried out in No vem ber 2001, in the high land veg e ta blepro duc tion cen ter, Pangalengan, West Jawa. Field ob ser va tion and for mal sur vey to in ter view 23 re spon dents wereaimed to ob tain data tech ni cal char ac ter is tics of veg e ta ble mul ti plecrop ping sys tems in the high land. Re sults sug gestthat there is an in creas ing trend the use of multiplecropping by veg e ta ble farm ers. The most fre quent crop com bi na tioncho sen by farm ers is hot pep per + chi nese cab bage, fol lowed by to mato + chi nese cab bage, hot pep per + chi nese mus -tard, cab bage + chi nese cab bage, and hot pep per + po tato + chi nese cab bage. In gen eral, the choice of crop com bi na -tion has been in agree ment with the ba sic re quire ment of multiplecropping that is max i miz ing syn er gism, whilemin i miz ing com pe ti tion be tween crops. Farm ers usu ally choose a com pan ion crop that is early ma tur ing and haslower/smaller can opy than the main crop. Farm ers’ ex pe ri ence sug gests that (a) to mato+chi nese cab bage tends to havea com pet i tive re la tion ship, (b) hot pep per+chi nese cab bage, not only has a com ple men tary, but also a sup ple men taryre la tion ship, (c) to mato+hot pep per; po tato+to mato; and to mato+chi nese mus tard have a com ple men tary/com pet i tivere la tion ship, and (d) hot pep per+to mato has a sup ple men tary/com pet i tive re la tion ship. The pos si bil ity of wa ter short -age is per ceived to be the most sig nif i cant fac tor that may af fect the suc cess of multiplecropping sys tems. This is fol -lowed by other fac tors, such as rain fall per year, shad ing ef fect, to tal wa ter re quire ment, ef fec tive rain fall per year, andshel ter ef fect. The sup port of tech ni cal ba sic re search that in cludes the op ti mi za tion of spa tial and tem po ral ar range -ments, op ti mi za tion of crop com bi na tion that con sid ers syn er gism and com pe ti tion as pects, se lec tion of and breed ingof crop va ri et ies which are par tic u larly suited to mul ti ple crop ping, fer til iza tion and mulch ap pli ca tion, and biologicalpest and disease control, is still needed to establish a guidance for evaluating, con firm ing, and further developing theadvantages of multiplecropping sys tem.
Seleksi Jenis Bunga untuk Produksi Mutu Minyak Mawar Yulianingsih, -; Amiarsih, Dwi; Tahir, Ridwan; Diharjo, Sabari Sosro
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Mawar yang banyak ditanam petani mempunyai potensi sebagai bahan baku pembuatan minyak bunga yang dapat meningkatkan manfaat dan nilai tambah bunga, yang selama ini hanya digunakan sebagai bunga segar dan bunga tabur. Penelitian ini bertujuan mendapatkan jenis mawar yang tepat dalam upaya mendapatkan concrete dan minyak mawar berkadar tinggi dengan mutu prima. Bunga mawar diekstraksi dengan pelarut heksan, perendaman, dan pengadukan. Perbandingan bunga dan pelarut 1:2 dengan lama ekstraksi 12 jam. Pengambilan filtrat melalui penyaringan dan pemerasan. Ekstrak dievaporasi vakum untuk mendapatkan concrete. Concrete yang diperoleh diekstrak dengan etanol 96% dan diuapkan kembali untuk mendapatkan minyak. Rancangan penelitian menggunakan acak lengkap pola faktorial dengan 3 ulangan. Pengamatan dilakukan terhadap rendemen concrete, minyak, indeks bias, dan komposisi kimiawi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis mawar Americana Beauty menghasilkan rendemen concrete dan absolut tertinggi, yaitu 0,14% dan 0,06%. Nilai indeks bias tertinggi dimiliki jenis mawar putih tabur (1,45-1,47). Komponen utama penyusun absolut mawar adalah fenil etil alkohol, sitronellol, dan geraniol. Pada mawar Americana Beauty didominasi senyawa metil eugenol.ABSTRACT. Yulianingsih, D. Amiarsi, R. Tahir, and Sabari S.D. 2006. Selection of roses for producing good quality of rose oil. Roses flower is potential for producing rose oil for product diversivication and for increasing its value added which usually just used as cutflower and grave yard flower. The objective of this research was to determine kinds of rose varieties (Local Red Rose, Local White Rose, Americana Beauty, and Holland Red Rose) for producing good quality and quantity of concrete/absolute. Rose flowers were extracted by dipping flower in to hexane solution for 12 hours. Ratio of flower and solvent was 1:2. Solution was harvested by filtering and manual pressing. Solution was vacuum evaporated to produce concrete, from which absolute would be produced by dissolving in ethanol 96% followed by vacuum evaporation. Observations were done on rendemen of concrete and absolutes, refraction index, and chemical composition of absolutes. The experiment was arranged in a factorial completely randomized design with 3 replications. The results showed that Americana Beauty variety gave the highest rendemen of concrete and absolutes of rose i.e. 0.14% and 0.06% respectively. The highest refraction index was found in Local White Rose (1.45-1.47). The specific components in absolute rose oil were fenyl ethyl alcohol, citronellol, and geraniol. While methyl eugenol was a dominantly found in absolute oil of Americana Beauty roses.
Karakterisasi dan Evaluasi Beberapa Aksesi Nanas Hadiati, Sri; Purnomo, Sudarmadi; Meldia, Y; Sukmayadi, I; -, Kartono
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengarakterisasi dan mengevaluasi karakter-karakter penting beberapa aksesi nanas dalam upaya mendapatkan tetua untuk perakitan varietas unggul. Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Buah, Solok mulai bulan  Januari 2001 sampai Februari  2002. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan 24 nomor aksesi sebagai perlakuan dan diulang dua kali. Setiap perlakuan terdiri dari empat tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter antaraksesi nanas berbeda, kecuali jumlah dan lebar daun. Aksesi dengan tepi daun tidak berduri ditampilkan oleh aksesi nomor 4C, 5C, 8C, 20C, 26C, 27C, dan 34C. Aksesi yang mempunyai karakter unggul pada komponen buah, yaitu mempunyai mahkota tunggal ditampilkan oleh semua nomor aksesi, kecuali nomor 30H dan 32H; tangkai buah pendek oleh nomor 2Q, 4C, 5C, 8C, 20C, 26C, 27C, dan 34C; bobot buah>1.000 g oleh nomor 26C, 30H, 32H, dan 34C; mata dangkal oleh nomor 2Q, 16Q, 4C, 5C, 8C, 20C, 27C, dan 34C; serta aksesi yang mempunyai diameter buah >9,5 cm ditampilkan oleh nomor 3H, 30H, 32H, 4C, 8C, 26C, 27C, dan 34C. Aksesi yang mempunyai karakter unggul pada kualitas buah, yaitu kandungan TSS ³16° Brix adalah nomor 2Q, 16Q, 18Q, 4C, 5C, 8C, 20C, 27C, dan 34C; vitamin C tinggi aksesi nomor 1MP, 45MP, 3H, 30H, 32H, 10M, 33M, dan 4C; kadar serat rendah ditampilkan oleh semua nomor aksesi kecuali nomor 1MP dan 45MP; rasio daging/hati yang besar oleh nomor 3H, 30H, 32H, 10M, dan 33M. Aksesi yang mempunyai jumlah karakter unggul terbanyak, yaitu tepi daun tidak berduri, mahkota tunggal, tangkai buah pendek, mata dangkal, diameter buah >9,5 cm, TSS ³16° Brix, kadar serat rendah ditampilkan oleh nomor 4C, 8C, 27C, dan 34C. Bobot buah ditentukan oleh karakter diameter dan panjang buah. Pada jarak taksonomi 1,95 terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok A (klon merah, hijau, queen, dan cayenne) dan kelompok B (klon merah pagar). Informasi karakter ini dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk pemilihan tetua dalam program perakitan varietas unggul. Kata kunci: Ananas comosus; Aksesi; Karakterisasi; Evaluasi;  Pertumbuhan dan hasil; Mutu buah. ABSTRACT. The aim of the research was to characterize and evaluate the important characters of some pineapple accessions to obtain the parents for establishing the superior variety. This research was conducted at Indonesian Fruit Research Institute from January 2001 to February 2002. The experiment was arranged in a com- pletely randomized block design with 24 accessions as treatments and two replications. Each experimental unit con- sisted of four plants. The results showed that all characters were significantly different among accessions, except the number and width of leaves. The leaves margin whithout  spine were showed by accessions number of 4C, 5C, 8C, 20C, 26C, 27C, and 34C; superior characters of fruit component, i.e single crown were showed by all accessions, ex- cept accession number 30H and 32H; short peduncle showed by 2Q, 4C, 5C, 8C, 20C, 26C, 27C, and 34C; fruit weight >1000 g showed by 30H, 32H, 26C, and 34C; flat eyes showed by 2Q, 16Q, 4C, 5C, 8C, 20C, 27C, and 34C of accessions number. Superior characters of fruit quality, i.e. TSS ³16°Brix were showed by accessions number of 2Q, 16Q, 18Q, 4C, 5C, 8C, 20C, 27C, and 34; high vitamin C content showed by 1MP, 45MP, 3H, 30H, 32H, 10M, 33M, and 4C; low fibre content showed by all accessions except accessions number 1MP and 45MP; high flesh/core thickness ratio showed by 3H, 30H, 32H, 10M, and 33M. It’s looked that accessions number 4C, 8C, 27C, and 34C had more su- perior characters than the others, i..e leave margin whithout spine, single crown, short peduncle, fruit diameter >9.5 cm, TSS ³16 °Brix, and low fibre content. Fruit weight was determined by diameter and length of fruit characters. There were two clone groups at 1.95 taxonomic distance, i.e group A consisted of merah, hijau, queen, and cayenne clones, and group B consisted of merah pagar clone. The information about the characters observed could be used to obtain the parents for establishing the superior variety.
Uji Resistensi beberapa Kultivar Markisa Asam terhadap Penyakit Layu Fusarium S, Saragih Y; Silalahi, Frets H; Marpaung, Agustina M
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mendapatkan kultivar markisa yang toleran terhadap penyakit layu fusarium. Pelaksanaan penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Tanaman Buah Berastagi mulai bulan Januari sampai Desember 2004. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari 2 faktor yaitu (1) kultivar markisa (markisa sambung, markisa asam asal Deli Serdang, markisa asam asal Simalungun, dan markisa asam asal hutan), (2) Trichoderma koningii (tanpa T. koningii/kontrol dan dengan T. koningii). Hasil yang telah diperoleh menunjukkan bahwa kultivar markisa asam asal Deli Serdang merupakan kultivar yang tahan terhadap layu fusarium dengan persentase dan intensitas penyakit layu sebesar 0%. Trichoderma koningii mampu menekan persentase layu fusarium sebesar 15% dan menekan intensitas penyakit layu sebesar 8,4% dari kontrol.ABSTRACT. Saragih, Y. S., F. H. Silalahi, and A. E. Marpaung. 2006. Resistance test of some passionfruit cultivars to fusarium wilt. The aim of this experiment was to find out tolerant passion fruit cultivar to fusarium wilt. The experiment was conducted at Fruit Plantation Experiment Garden Berastagi, since January-December 2004. The experiment was set up in a randomized block design with 3 replications. The treatments were 2 factors (1) cultivars of passionfruit (grafting, Deli Serdang cultivar, Simalungun cultivar, cultivar from the forest), (2) Trichoderma koningii (without T. koningii/control and with T. koningii). The results indicated that cultivar from Deli Serdang was resistant to fusarium wilt disease with 0% of with intensity and percentage of disease incident. Trichoderma koningii was able to suppress fusarium wilt disease incident up to 15% and disease intensity up to 8.4% compare to control.
Peranan Pseudomonas fluorescens MR 96 pada Penyakit Layu Fusarium Tanaman Pisang Djatnika, Ika; -, Sunyoto; -, Eliza
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pseudomonas fluorescens dilaporkan dapat menekan layu fusarium pada tanaman pisang, tetapi mekanisme kerja bakteri itu dalam mengendalikan penyakit belum diketahui. Penelitian bertujuan  mempelajari mekanisme kerja P. fluorescens strain MR 96 dalam menekan perkembangan layu fusarium pada tanaman pisang. Percobaan dilakukan di rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Buah Solok, mulai Januari sampai dengan Desember 2001. Hasil percobaan menunjukkan bahwa P. fluorescens dapat menekan serangan penyebab layu fusarium dengan cara induksi resistensi tanaman pisang dan antibiosis, serta bakteri antagonis itu mempengaruhi pertumbuhan tanaman pisang. Di samping itu, keefektifan bakteri antagonistik tersebut dalam menekan F. oxysporum f.sp. cubense tidak dipengaruhi oleh jenis tanah di sekitar rizosfer, tetapi perkembangan penyakit layu dan pertumbuhan tanaman pisang dipengaruhi oleh jenis tanah. Kata kunci : Musa sp.; Fusarium oxysporum f.sp. cubense; Pseudomonas fluorescens strain MR 96; Mekanisme antagonis ABSTRACT. Pseudomonas fluorescens MR 96 was reported of its ability to suppress fusarium wilt on banana plants, but the mechanism of the disease suppresion was not known. The aim of this research was to know the mechanism of P. fluorescens in controlling the disease on banana plants. The research was held in greenhouse of Indo- nesian Fruit Research Institute in Solok, from January  until December 2001. The results of the research showed that P. fluorescens controlled the disease with resistance induction in banana plant and antibiosis mechanism, and the an- tagonistic bacteria affected the plant development. Beside that, effectiveness of the bacteria to control F. oxysporum f.sp. cubense was not affected by soil type in rizosphere, but wilt disease and banana plants growth were affected by soil type.
Penggunaan Pupuk NP Cair dan NPK (15-15-15) untuk Meningkatkan Hasil dan Kualitas Buah Tomat Varietas Oval Subhan, -; Nurtika, Nunung
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pupuk NP cair, dan dosis pupuk NPK (15-15-15) terhadap hasil dan mutubuah tomat varietas oval, pada lahan petani di Kabupaten Garut dengan ketinggian 650 m dpl. Rancangan yangdigunakan ialah petak terpisah dengan ulangan tiga kali. Sebagai petak utama adalah konsentrasi pupuk NP cair,kontrol 2,5 ml/l, dan 5,0 ml/l. Sub plot adalah dosis pupuk NPK (15-15-15), 200, 400, 600, 800, dan 1.000 kg/ha. Hasilmenunjukkan adanya efek interaksi antara NP cair dan pupuk majemuk NPK (15-15-15) pada to tal bobot buah, tinggitanaman, dan kekerasan buah waktu panen. Penggunaan pupuk NP cair 2,5 ml/l yang dikombinasikan dengan NPK(15-15-15) 1.000 kg/ha nyata menaikkan bobot buah dan adanya kecenderungan bahwa penggunaan NP cair yangtinggi diikuti pula penggunaan pupuk majemuk NPK (15-15-15) yang tinggi pula. Pada pupuk NP cair 2,5 ml/l yangdikombinasikan dengan NPK (15-15-15) 800 kg/ha nyata menaikkan kekerasan buah.Kata kunci : Lycopersicum esculentum; Pupuk NP; Pupuk cair; Dosis NPK (15-1-15); Hasil; Kualitas.AB STRACT. Subhan and N. Nurtika. 2004. Uti li za tion of liq uid NP and NPK (15-15-15) fer til iz ers on yield andqual ity of to mato fruit of oval va ri ety. A split plot de sign with three rep li ca tions was used to study ef fect of liq uid NPand NPK (15-15-15) fer til izer on yield and qual ity of to mato fruit of oval va ri ety, on farm ers land at 650 m asl in Garut.A mainplot fac tor con sisted of liq uid NP fer til izer consentrations: con trol, consentration of 2.5 ml/l and 5.0 ml/l. Sub -plot fac tor con sisted of dos ages of NPK (15-15-15) fer til izer 200, 400, 600, 800, and 1,000 kg/ha. Re sults in di catedthat there were in ter ac tion ef fects be tween liq uid NP fer til izer and NPK com pound fer til izer on to tal fruit weight plant,height, and fruit hard ness at har vest. Ap pli ca tion of liq uid NP fer til izer 2.5 ml/l com bined with NPK (15-15-15) 1,000kg/ha sig nif i cantly in creased fruit weight and there was strong ten dency that the higher the liq uid NP consentrationsused the higher the NPK com pound used too. Fruit hard ness was sig nif i cantly in creased by treat ment of liq uid NP fer -til izer 2.5 ml/l com bined with NPK (15-15-15) 800 kg/ha.
Hubungan Laju Pertumbuhan dengan Saat Berbunga Untuk Seleksi Kegenjahan Tanaman Pepaya Anwarudin Syah, Muhammad Jawal; Santoso, Panja Jarot; Usman, F; Purnama, T
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui hubungan antara laju pertumbuhan tanaman dengan saat berbunganya beberapa aksesi pepaya di Kebun Percobaan Aripan, Balai Penelitian Tanaman Buah di Solok mulai bulan Agustus 1999 sampai Februari 2000. Penelitian merupakan percobaan pot di lapangan yang dilakukan dalam rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Jumlah aksesi yang diuji sebanyak 40 nomor yang diperoleh dari Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, dan Jawa Timur. Parameter yang diamati meliputi laju tumbuh relatif, laju asimilasi bersih, bobot kering tanaman, tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, dan saat tanaman mulai berbunga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan pertumbuhan serta saat tanaman mulai berbunga antarnomor aksesi pepaya yang diuji bervariasi secara nyata. Komponen laju pertumbuhan tanaman pepaya tidak ada yang berkorelasi secara nyata dengan saat tanaman mulai berbunga. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk mendapatkan varietas pepaya genjah tidak dapat dilakukan dengan seleksi terhadap laju pertumbuhan. Aksesi No. 029 merupakan aksesi yang tumbuh cepat dan genjah sehingga dapat dijadikan sebagai calon varietas unggul. Kata kunci: Carica papaya; Laju tumbuh; Pembungaan ABSTRACT. The research has been conducted at Aripan Experimental Station , Indone- sian Fruit Research Institute at Solok from August 1999 to February 2000 in randomized block design with three repli- cations and 40 accessions of papaya as treatments were collected from West Sumatera, Bengkulu, South Sumatera, Lampung, and East Jawa. The research was using container trial in field. The parameters observed were relative growth rate, net assimilation rate, plant dry weight, plant height, leaf number, stem diameter, and flowering time. The results of the experiment indicated that growth rate and flowering time among accessions are enough variations. No correlation between growth rate component and flowering time of papaya. The experiment results indicated that selec- tion of early flowering papaya by exploited of plant growth rate can not be applied. Accesion No. 029 which indicated faster growth and early flowering can be used as an candidate of superior variety.
Lalat Pengorok Daun Liriomyza sativae Blanchard Hama Baru pada Beberapa Sayuran Dataran Rendah Susilawati, -
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lalat pengorok daun Liriomyza sativae Blanchard merupakan hama baru yang pada tahun 1996 ditemukan menyerangberbagai jenis sayuran dataran rendah di Karawang. Di dataran rendah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah,survai terhadap hama ini dilaksanakan di tujuh lokasi dari bulan Januari hingga Juli 2002. Tujuan dari kegiatan iniadalah untuk mengetahui keberadaan/sebaran lalat pengorok daun L. sativae dan tingkat kerusakan yang disebabkanhama tersebut pada berbagai sayuran dataran rendah. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa lalat pengorok dauntelah menyerang berbagai tanaman sayuran dataran rendah di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Tingkatkerusakan yang ditimbulkannya bervariasi menurut jenis sayuran dan waktu pertanaman. Pada bulan Januari danMaret atau musim hujan, tigkat serangannya mencapai 10-45% dan pada bulan Mei atau awal musim kemarau, tingkatserangan hama sebesar 70%. Tanaman buncis di daerah Indra Sari dan Bincau pada musim kemarau adalah yangpaling parah terserang dengan kerusakan 70% dan untuk kacangpanjang di Kalampangan kerusakannya mencapai60%.Kata kunci : Liriomyza sativae; Dataran rendah; Tingkat kerusakan.AB STRACT. Susilawati. 2004. Leafminer Liriomyza sativae Blanchard a new pest on sev eral low landvegatables. Leafminer Liriomyza sativae Blanchard was a new pest that at tacked veg e ta ble crops in low landKarawang on 1996. Sur vey to this pest in low land of South and Cen tral Kalimantan were con ducted in seven lo ca tionsdur ing Jan u ary-July 2002. The ob jec tives of this ac tiv ity were to de ter mine the ex is tence of the in sect and to know thelevel of its dam ages. Re sults in di cated that leafminer L. sativae at tacked al most all veg e ta bles in South and Cen tralKalimantan. Level of dam ages was var ied ac cord ing to kind of veg e ta bles and time of planted. On Jan u ary and Marchor of rainy sea son, the level of dam ages reached 10-45% while on May or of be gin ning dry sea son, the dam ages leveldue to the this pest was 70%. Frenchbean planted at Indra Sari and Bincau was most se verely at tacked up to 70% dam -ages while for yardlongbean at Kalampangan was at tacked by such pest at 60% dam ages.
Pengujian Keefektivan Gliokompos terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Krisan Wasito, Antoro; Marwoto, Budi
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh aplikasi gliokompos terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman krisan yang dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung dari bulan September 1999 sampai dengan Januari 2000. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Delapan komposisi media tanam berupa perbandingan volume gliokompos, pupuk kandang dan tanah sebagai faktor pertama dan tiga varietas, yaitu saraswati, retno dumilah dan varietas   dewi sartika sebagai faktor kedua. Data diperoleh dari beberapa peubah pertumbuhan dan hasil bunga. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa penggunaan gliokompos efektif dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman, hasil bunga serta ketahanan tanaman terhadap serangan penyakit tular tanah.  Pertumbuhan dan hasil bunga  terbaik ditunjukkan oleh varietas Retno Dumilah, disusul dengan varietas saraswati dan dewi sartika.  penggunaan pupuk kandang sebagai media tanam cenderung menurunkan ketahanan tanaman akan serangan beberapa penyakit tular tanah.   Sebaliknya penggunaan gliokompos mampu menekan serangan penyakit tular tanah serta meningkatkan hasil bunga. Kata kunci: Dendrathema grandiflora Tzvelev; Gliokompos; Kesehatan tanaman; Pertumbuhan tanaman;Hasil bunga ABSTRACT. The objective of this experiment was to evaluate effectiveness of gliocompost as soil sterillant on the cutting production and healthiness. Experiment was conducted at Indonesian Or- namental Research Institute Segunung  from September 1999 to January 2000.  A factorial randomized block design with three replications was used in this experiment.  Eight medium compositions described by volume ratio of gliocompost, chicken manure and soil, were notated as first factor. Three varieties, namely saraswati, retno dumilah and dewi sartika, were used as second factor. Data collected were plant growth and healthiness as well as flower pro- duction. Based on the available data, concluded that the best plant growth performance and flowers production were showed by retno dumilah, followed by saraswati and dewi sartika. The use of chicken manure as a planting medium tended reduce plant resistance to soil borne diseases. Inversely, the use of gliocompost as planting medium increased plant resistance and  flower production.
Perbanyakan Bibit Jeruk Citromelo dan JC Secara In Vi tro Triatminingih, R.; Karsinah, -
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Buah, Solok, Sumatera Barat, pada Februari sampai denganDesember 2002. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan me dia perbanyakan dan protokol teknikperbanyakan tanaman jeruk citromelo dan Japanche citroen secara in vi tro. Penelitian menggunakan rancangan acaklengkap dengan sembilan ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas mempunyai respons yangberbeda-beda terhadap me dia perlakuan, namun secara keseluruhan biaya produksi bibit batang bawah jeruk dapatditekan dari penggantian sukrosa dengan gula pasir. Komposisi me dia untuk regenerasi tu nas citromelo yang cocokadalah MT + 0,5 mg/l BAP + 0,02 mg/l NAA + 40 mg/l adenin sulfat + 30 g/l gula pasir dengan kecepatan multiplikasitu nas citromelo mencapai 6,25 tu nas per eksplan. Komposisi me dia pengakaran yang cocok untuk citromelo adalahMS + 1 mg/l NAA + 30 g/l gula pasir. Me dia untuk regenerasi tu nas JC adalah MT+0,5 Mg/l BAP+0,02 mg/l NAA+30g/l gula pasir. Protokol dalam proses produksi bibit batang bawah jeruk JC dan citromelo dimulai dari inisiasi kaluspada me dia B5 yang diperkaya dengan BAP+2,4-D kemudian kalus disubkulturkan ke me dia 0,1-0,5 mg/l BAP+0,02mg/l NAA. Setelah terbentuk tu nas dengan tinggi 2-3 cm dipindahkan ke me dia pengakaran, dan 3-4 minggukemudian plantlet siap diaklimatisasi atau ditransplan ke me dia campuran tanah dalam polibek.Kata kunci: Jeruk; Citromelo; Japanche citroen; Perbanyakan; Me dia; In vi troAB STRACT. Triatminingsih, R. and Karsinah. 2004. In vi tro prop a ga tion of citromelo and JC. This re searchwas con ducted at In do ne sian Fruit Re search In sti tute, Solok, West Sumatera, from Feb ru ary un til De cem ber 2002.The ob jec tive of the re search was to find out tech nol ogy in vi tro re gen er a tion of citromelo and JC. The treat ments werear ranged in RCBD with nine rep li ca tions. Re sults showed that the va ri ety tested have in di cated the same re sponse tothe me dia used and the cost was sig nif i cantly re duced through the re place ment of su crose with sug ar cane. Com po si -tion of me dia for citromelo re gen er a tion is MT + 0,5 mg/l BAP + 0,02 mg/l NAA + 40 mg/l ad e nine sul phate + 30 g/lsugarcane with rate of sprouts pro duc tion at 6.25 plantlets each explant, while for root ing me dia was MS + 1 mg/lNAA + 30 g/l sugar cane. Me dia for JC sprout re gen er a tion was MT+0,5 mg/l BAP+0,02 mg/l NAA+30 mg/lsugarcane. Pro to col for understam seed ling pro duc tion of citromelo and JC was ini ti ated by us ing B5 me dia en richwith BAP+2,4-D for cal lus ini ti a tion and then subcultured to me dia of 0,1-0.5 mg/l BAP+0.02 mg/l NAA. Af ter thesprout reached 2-3 cm height then transfered to root ing me dia. Af ter 3-4 weeks, the plantlets were ac cli ma tized andtransplanted to mix ture soil me dia in a polybag.

Page 41 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue