cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Eksplorasi, Karakterisasi, dan Evaluasi Beberapa Klon Bawang Putih Lokal Hardiyanto, -; Devy, Nirmala Friyanti; Supriyanto, Arry
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Bawang putih lokal saat ini sangat sulit dijumpai di pasaran setelah membanjirnya bawang putih impor ke Indonesia. Hal ini tentunya diperlukan upaya perbaikan produktivitas dan kualitas bawang putih lokal sekaligus sebagai konservasi. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi mengenai karakter morfologi beberapa klon bawang putih lokal dan mendapatkan klon-klon bawang putih lokal hasil evaluasi yang potensial dan prospektif yang dapat bersaing dengan bawang putih impor. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Banaran, Batu pada ketinggian 900 m dpl. mulai bulan Juli sampai Oktober 2005. Eksplorasi dilakukan di beberapa daerah sentra produksi bawang putih. Karakterisasi dan evaluasi dilakukan berdasarkan descriptor lists dari IPGRI yang meliputi morfologi tanaman, produksi, dan kualitas umbi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok terdiri dari 10 klon diulang 3 kali. Hasil eksplorasi diperoleh 3 klon bawang putih baru, yaitu Teki, Ciwidey, dan Lumbu Kayu. Daya tumbuh 10 klon bawang putih yang ditanam di KP Banaran, Batu umumnya tinggi yaitu sekitar 95%. Dilihat dari umur panen, klon dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu umur panen pendek (90-110 hari setelah tanam) meliputi NTT, Teki, Sanggah, dan Lumbu Kuning, umur panen sedang (111-131 hari setelah tanam) meliputi Saigon, Lumbu Hijau, Krisik, Tawangmangu, dan Ciwidey, dan umur panen dalam (di atas 131 hari), yaitu Tiongkok. Tinggi batang semu bervariasi antara 9-26 cm. Klon Ciwidey dan Tiongkok terlihat paling pendek dibandingkan dengan klon lainnya. Diameter batang semu klon Tawangmangu terlihat paling besar dibandingkan klon lainnya meskipun tidak berbeda nyata dengan klon Teki. Terhadap jumlah daun, klon Ciwidey paling sedikit (9 helai) dibandingkan klon lainnya (11-15 helai). Hasil dan komponen hasil terlihat bahwa klon Tawangmangu dan Krisik memiliki bobot umbi yang paling tinggi, yaitu masing-masing 66,67 g dan 58,33 g/tanaman dibandingkan 8 klon lainnya. Sedangkan klon Sanggah dan NTT memiliki bobot umbi terendah, yaitu hanya 23,67 g dan 24,33 g/tanaman. Adapun produksi total tertinggi dicapai oleh klon Tawangmangu dan Lumbu Hijau masing-masing mencapai 33,21 t/ha dan 29,49 t/ha.ABSTRACT. Hardiyanto, N.F. Devy, and A. Supriyanto. 2007. Exploration, Characterization, and Evaluation of Several Local Garlic Clones. Currently local garlics were rarely found in the market due to the flooding of imported garlic to Indonesia. Therefore, some efforts are needed to improve the productivity and quality as well as the conservation of local garlic clones. The aim of this research was to obtain some information on morphological characteristics of local garlic clones and the potential and prospective of local garlic clones which can compete with imported garlic. This research was conducted in Banaran Experimental Garden, Batu (900 m asl) from July to October 2005. Exploration was carried out in several centers of local garlic production. Characterization and evaluation were based on descriptor lists published by IPGRI such as morphology, yields, and quality. Randomized block design was used in this research consisted of 10 clones with 3 replications. Three new garlic clones were collected through exploration, those were Teki, Ciwidey, and Lumbu Kayu. Growth percentage of 10 local garlic clones grown in Banaran Experimental Garden, Batu was relatively high, it was 95%. Based on harvesting time, clones were classified into 3 groups, those were short period (90-110 days after planting) i.e: NTT, Teki, Sanggah, and Lumbu Kuning; medium period (111-131 days after planting) i.e.: Saigon, Lumbu Hijau, Krisik, Tawangmangu, and Ciwidey; and long period (more than 131 days after planting) i.e. Tiongkok. Plant height was varied between 9-26 cm. Plant height of Ciwidey and Tiongkok were relatively shorter than others, whereas diameter of Tawangmangu and Teki were relatively bigger than others. Total leaf number of Ciwidey (9 leaves) was lower than others (11-15 leaves). Based on yields and yield components, bulb weight of Tawangmangu and Krisik were higher than others, i.e. 66.67 g and 58.33 g/plant respectively, whereas Sanggah and NTT were lower than others, i.e. 23.67 g and 24. 33 g/plant. The high yield were performed by Tawangmangu and Lumbu Hijau, it reached 33.21 t/ha and 29.49 t/ha, respectively.
Keterpautan Marka Amplified Fragment Length Polymorphism dengan Sifat Resisten Penyakit Antraknos pada Cabai Berdasarkan Metode Bulk Segregant Analysis Sanjaya, Lia
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan varietas resisten merupakan cara yang potensial untuk mengendalikan penyakit antraknos. Untuk mendapatkan varietas yang resisten perlu penerapan teknik seleksi yang efektif. Marka molekuler sebagai alat seleksi dalam program pemuliaan telah terbukti sangat handal dalam mempercepat perakitan varietas unggul. Di dalam penelitian ini marka amplified fragment length polymorphism (AFLP) yang terpaut erat dengan sifat tahan antraknos telah  diidentifikasi berdasarkan  metode bulk  segregant  analysis.  Penelitian  menggunakan populasi F2   hasil persilangan interspesifik antara jatilaba, C. annuum sebagai tetua rentan dan sebagai tetua resisten adalah PI 315023, C. chinense. Teknik molekuler AFLP memungkinkan menganalisis ribuan marka dalam waktu relatif singkat. Analisis bulk segregant adalah metode yang memfasilitasi identifikasi marka yang terpaut erat dengan gen yang dimaksud.  Dari  penelitian  ini  diperoleh  satu  marka AFLP  yang  terpaut  erat  dengan  sifat  tahan  antraknos (Colletotrichum capsici dan C. gloeosporioides) berdasarkan analisis fragmen yang teramplifikasi secara selektif menggunakan 96 kombinasi primer EcoRI/MseI. Marka E37M51184 dapat digunakan sebagai marker assisted selec- tion dalam program pemuliaan tanaman cabai dan merupakan dasar untuk mengkloning gen resisten. Kata kunci:  Capsicum annuum; Amplified fragment length polymorphism; Analisis bulk segregant; Antraknos; Collotetrichum capsici; Collotetrichum gloeosporioides. ABSTRACT. The use of resistant varieties is recommended to be as the most reliable method to control the antracnose disease on hot-pepper. To produce those varieties, effective selec- tion technique must be applied.  Molecular marker technologies have eased and potentiated for genetic analysis of plants and have become an extremely useful tool in plant breeding. Using F2, an intercross Jatilaba as susceptible par- ent and PI 315023 as resistance parent for segregation population as a model, this paper was aimed to show and discuss the possibility of  applying amplified fragment length polymorphism to assess the disease resistance against antracnose, Colletotrichum gloeosporioides and Colletorichum capsici, using bulk segregant analysis. A marker was identified linked to antracnose resistance based on selective amplified fragments using 96 EcoRI/MseI primer combi- nation. Marker E37M51184 can be used for hot-pepper breeding program as marker assisted selection and clonning of resistance gene.
Produksi dan Mutu Umbi Klon Kentang dan Kesesuaiannya sebagai Bahan Baku Kentang Gor eng dan Keripik Kentang Kusmana, -; Basuki, Rofik Sinung
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan No vem ber 2002 di Pangalengan dengan ketinggiantempat 1.300 m dpl. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui produksi dan mutu serta mendapatkan klon yangcocok sebagai bahan baku keripik dan kentang gor eng. Klon dan varietas yang diuji sebanyak 16, terdiri dari 13 klonyang berasal dari CIP dan tiga varietas pembanding. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan tigaulangan, masing-masing unit penelitian terdiri dari 20 tanaman. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa klonmerbabu-17 diikuti klon 380584.3, AGB 69.1, dan MF-II menampilkan hasil tinggi masing-masing 57,9; 44,4; 41;8;dan 41,1 t/ha yang nyata lebih tinggi dari varietas pembanding atlantik (28,5 t/ha) dan panda (25,2 t/ha). Untukproporsi umbi konsumsi tertinggi adalah klon I-1085 (87%), CFQ 69.1 (84%), dan TS-2 (83%) yang nyata lebih tinggidaripada varietas atlantik (60%) dan panda (64%). Spe cific grav ity tertinggi adalah klon TS-2 (1.095), FBA-4 (1.084),378501.3 (1.084), I-1085 (1.084), panda (1.082), atlantik (1.080), dan MF-II (1.072). Klon terbaik untuk industrikeripik adalah TS-2 dan MF-II sementara untuk kentang gor eng adalah TS-2 dan I-1085. Dampak dari penelitian inimemberikan informasi mengenai klon prosesing harapan untuk diusulkan dilepas sebagai varietas baru.Kata kunci : Klon kentang; Umbi bibit; Produksi; Mutu umbi; Kentang olahanAB STRACT. Kusmana and R.S. Basuki, 2004. Yield and qual ity of po tato clones tu bers and meets as raw ma -te rial for chips and french fries. The ex per i ment was con ducted at Pangalengan at el e va tion of 1,300 m asl. Ob jec -tives of the re search were to ob tain promissing clones for raw ma te rial of chips and french fries. Plant ing was done onAu gust and har vest was on No vem ber 2002. The ex per i men tal de sign was ran dom ized com plete block de sign withthree rep li ca tions. Num bers of plant per plot were 20 hills. Num ber of clones tested were 16 in cluded 3 con trol va ri -et ies. The re sults proved that the high yield ing clones were ob tained from clones merbabu-17 (57.9) fol lowed by380584.3 (44.4), AGB 69.1 (41.8) and MF-II (41.1) t/ha and sig nif i cantly dif fer ent from con trol va ri et ies of at lan tic(28.5) and panda (25.2) t/ha. The high est mar ket able yield were ob tained from clones I-1085 (87%), CFQ 69.1 (84%),and TS-2 (83%) sig nif i cantly dif fer ent to at lan tic (60%) and panda (64%). The high of spe cific grav ity were ob tainedfrom clones TS-2 (1.095), FBA-4 (1.084), 378501.3 (1.084), I-1085 (1.084), panda (1.082), at lan tic (1.080), andMF-II (1.072) . The best clones for chip were TS-2 and MF-II. Whereas, the best clones for french fries were TS-2 andI-1085. The im pact of the reserch was pro vide in for ma tion about ad vanced proscessing clones to sub mit for re leas ingthe va ri et ies.
Produktivitas Tanaman Induk dan Kualitas Stek Varietas Krisan di Rumah Plastik dan Lahan Terbuka Budiarto, Bagus Kukuh; Marwoto, Budi
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Krisan merupakan komoditas tanaman hias yang penting pada industri florikultura nasional. Peningkatan harga input produksi akhir-akhir ini menyebabkan penurunan pendapatan petani, sehingga dikhawatirkan dapat mengakibatkan kelesuan pada agribisnis tanaman hias. Usaha peningkatan pendapatan petani krisan dapat dilakukan melalui efisiensi penggunaan input produksi, salah satunya adalah melakukan budidaya tanaman induk pada kondisi terbuka. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui performa pertumbuhan varietas-varietas krisan sebagai tanaman induk dan kualitas stek yang dihasilkan di lahan terbuka dan di bawah kondisi rumah plastik. Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung dari bulan November 2003 hingga Mei 2004. Dua belas varietas krisan komersial, yaitu Sakuntala, Larasati, Kartini, Nyi Ageng Serang, Dewi Ratih, Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Saraswati, Chandra Kirana, Cut Nyak Meutia, Cat Eye, dan Town Talk ditanam sebagai tanaman induk untuk produksi stek pada 2 kondisi pertanaman. Kondisi pertanaman tersebut adalah di bawah kondisi rumah plastik dan kondisi lahan terbuka. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons varietas terhadap kondisi pertanaman berbeda nyata terlihat dari perbedaan produktivitas tanaman induk dan kualitas stek yang dihasilkan. Secara umum produktivitas tanaman induk dan kualitas stek varietas-varietas krisan yang ditanam di lahan terbuka lebih rendah daripada yang ditanam di bawah kondisi rumah plastik. Namun, di antara 12 varietas krisan yang dicoba, hanya cv. Cut Nyak Dien yang mempunyai daya adaptasi yang paling baik di antara varietas lainnya, terbukti dari produktivitas tanaman induk dan kualitas stek yang tidak berbeda nyata antarkedua tempat tersebut.ABSTRACT. Budiarto, K. and B. Marwoto. 2007. Mother Plant Productivity and Cutting Quality of Chrysanthemum Varieties Grown Under Plastichouse and Open Conditions. Chrysanthemum was one of the important ornamental plant in national floriculture agribusiness. The increase of production cost due to the increase of input prices have led in to the unfavorable business conditions. Efforts have been made to make chrysanthemum production become more competitive and profitable. One of the production input cost, that can be reduced was planting the stock plants for cutting production under open conditions. The research was conducted to find out the stock plant productivity and the cutting quality produced under plastichouse and open conditions. The research was carried out in Indonesian Ornamental Plant Research Institute, from November 2003 to May 2004. Twelve commercial chrysanthemum varieties, i.e. Sakuntala, Larasati, Kartini, Nyi Ageng Serang, Dewi Ratih, Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Saraswati, Chandra Kirana, Cut Nyak Meutia, Cat Eye, and Town Talk were planted as mother stock for cutting production under 2 set of environmental conditions, i.e. under plastichouse and open conditions. A randomized completely block design with 3 replications was used in each location. The results of the experiment showed that varietal differences were found significant among the varieties tested in terms of plant productivity and cutting quality, in both locations. To all varieties tested, better productivity and cutting quality were produced by the stock plants grown under plastichouse than those under open conditions. However, insignificant differences of cutting quality and average number of cuttings produced per plant were found by well adapted cv. Cut Nyak Dien at both planting conditions
Respons Pertumbuhan Cabai dan Selada terhadap Pemberian Pukan Kuda dan Pupuk Hayati Rosliani, R., A. Hidayat, dan A. A. Asandhi Rosliani, Rini; Hidayat, A.; Asandi, Azis Azirin
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Percobaan dilaksanakan di Rumahkasa Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang 1.250 m dpl dari Juli 2001sampai Januari 2002. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui keragaan pukan kuda dan pupuk hayati terhadappertumbuhan dan hasil sayuran cabai dan selada yang ditanam dalam pot. Rancangan percobaan menggunakan acaklengkap dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas pukan kuda 0,7 kg + 33 g NPK per pot (isi 10 kg) atau setara 20 t/ha+ pupuk NPK 1 t/ha sebagai kontrol, lima dosis pemberian pukan kuda tanpa pupuk NPK dan lima dosis pukan kuda +pupuk hayati (mikroba berguna: lactobacillus, mikoriza, dan saccharomyces) tanpa pupuk NPK. Dosis pukan kudayang digunakan yaitu 1, 2, 3, 4, dan 5 kg per pot atau setara 30, 60, 90, 120, dan 150 t/ha. Hasil percobaanmenunjukkan bahwa pemberian pukan kuda dan pupuk hayati meningkatkan tinggi tanaman dan hasil panen seladaserta meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman, luas daun, biomassa tanaman, hasil buah cabai, serapan hara, dankandungan hara tanah. Pukan kuda 3 kg per pot (90 t/ha) atau 2 kg per pot (60 t/ha) dengan pupuk hayati merupakanperlakuan yang terbaik dalam menghasilkan buah cabai. Peningkatan hasil cabai pada kedua dosis tersebutmasing-masing adalah 1.316 dan 1.194% dibandingkan dengan kontrol (0,7 kg per pot pukan kuda + 33 g NPK atau 20t/ha pukan kuda + 1 t/ha pupuk NPK). Untuk tanaman selada, perlakuan terbaik adalah pukan kuda 1 kg per pot (30t/ha) atau meningkatkan 69% dibandingkan dengan kontrol (20 t/ha pukan kuda + pupuk NPK).Kata kunci : Cap si cum annuum; Lactuva sativa; Pukan kuda; Mikroba; Lactobacillus; Mikoriza; Saccharomyces;Kesuburan tanah; Pertumbuhan; HasilAB STRACT. Rosliani, R., A. Hidayat, and A.A. Asandhi. 2004. Re sponse of ap pli ca tion of horse ma nure andbiofertilizer on hot pep per and let tuce growth. Ex per i ment was con ducted in a Screenhouse of In do ne sian Veg e ta -bles Re search In sti tute, 1,250 m asl, from July 2001 un til Jan u ary 2002. The ob jec tive of the ex per i ment was to findout the per for mance of or ganic mat ter and biofertilizer in put on the growth and the yield of hot pep per and let tuceplanted in the pot. The ex per i men tal de sign used was com pletely ran dom ized de sign with three rep li ca tions. The treat -ments con sist of ap pli ca tion of 0.7 kg horse ma nure + 33 g NPK per pot (con tent of 10 kg) or about 20 t/ha or ganic mat -ter + 1 t/ha NPK, five kinds ap pli ca tion of horse ma nure with out syn thetic anorganic fer til izer (NPK), and five kindsap pli ca tion of horse ma nure + biofertilizer (ben e fi cial mi crobe: lactobacillus, my cor rhi za, and saccharomyces) with -out syn thetic anorganic fer til izer (NPK). Dos age of horse ma nure was 1, 2, 3, 4, and 5 kg per pot or about 30, 60, 90,120, and 150 t/ha. The re sults showed that ap pli ca tion of horse ma nure and biofertilizer in creased plant height andyield of let tuce and in creased plant height, leaf area, plant bio mass, yield of hot pep per, its nu tri ent up take, and soil nu -tri ent con tent. Horse ma nure sin gly at 3 kg per pot (90 t/ha) or 2 kg per pot (60 t/ha) + biofertilizer were the best treat -ment in terms of yield of hot pep per. These two dos ages could in crease hot pep per yield by 1,316 and 1,194%,re spec tively, com pared to con trol (0.7 kg horse ma nure per pot + 33 g NPK per pot or about 20 t/ha horse ma nure + 1t/ha NPK). The best treat ment for let tuce yield was 1kg/pot horse ma nure or 30 t/ha horse ma nure). The yield in creasewas 69% com pared to con trol (0.7 kg horse ma nure per pot + 33 g NPK per pot or about 20 t/ha horse ma nure +anorganic NPK fer til izer).
Isolasi dan Identifikasi Penyebab Penyakit Speckle Daun Pisang -, Sahlan; Ahmad, Z. A. M
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fitopatologi Fakultas Pertanian Universiti Putra Malaysia dari bulan Mei sampai dengan Desember 2001. Penelitian bertujuan mengisolasi dan mengidentifikasi secara mendetail morfologi cendawan penyebab penyakit speckle daun pisang. Teknik isolasi menggunakan cellotape imprint, isolasi secara langsung dengan contoh daun sakit, dan isolasi spora tunggal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik isolasi pal- ing sesuai untuk mendapatkan cendawan penyebab speckle daun pisang adalah isolasi spora tunggal. Berdasarkan atas pengamatan menunjukkan bahwa konidia cendawan yang berasal dari media buatan didominasi oleh konidia bersel tunggal, terbentuk dalam rangkaian, berbentuk oval atau membulat, tidak berwarna, berukuran panjang 3-21 mm dan lebar 2-6 mm.  Sementara konidia yang diambil secara langsung dengan selotip berukuran sedikit lebih besar, berukuran panjang 5-22 mm dan lebar 3-7 mm, terbentuk dalam rangkaian dan tidak berwarna. Berdasarkan atas sifat-sifat morfologinya, cendawan yang berasal dari contoh daun yang terserang penyakit speckle ada kesamaan dengan cendawan Cladosporium musae Mason sebagaimana telah dilaporkan sebelumnya. Kata kunci: Pisang; Penyakit speckle; Isolasi; Identifikasi ABSTRACT. The experiment was conducted at Phytopathology Laboratory of Universiti Putra Malaysia from May to De- cember 2001. The aim of this study was to isolate and to identify the causal agent of speckle disease from banana leaves. The isolation techniques used were cellotape imprint, direct plating diseased banana leaves, and single spore isolation. The results showed that the suitable technique for isolation agent of speckle disease was single spore isola- tion. Observation showed that the conidia in cultures were predominantly one-celled, colorless, produced in catenulate chains, and were ellipsoidal, ovate cylindrical or fusiform in shape. The average conidial dimension in cul- tures was 3-21 mm in length and 2- 6 mm in width. Those observed from cellotape imprints made on banana leaves were larger, averaging 5 -22 mm in length and 3 -7 mm in width. The cultural and morphological characteristics of the fungus isolated from diseased banana leaf samples are discussed.
Peningkatan Infektivitas Jamur Entomopatogen, Beauveria bassiana (Balsamo) Vuill. pada Berbagai Bahan Carrier untuk Mengendalikan Hama Penggerek Bonggol Pisang, Cosmopolites sordidus Germar di Lapangan Hasyim, Ahsol
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini dilaksanakan di kebun petani pisang di daerah Baso, Kabupaten Agam dari bulan Oktober 2002 sampai Februari 2003. Penelitian bertujuan mengetahui peningkatan infektivitas jamur entomopatogen, Beauveria bassiana menggunakan bahan carrier dan model bahan perangkap yang baik untuk mengendalikan hama penggerek bonggol pisang, Cosmopolites sordidus Germar. Untuk mengetahui peningkatan infektivitas jamur B. bassiana, penelitian ditata dalam rancangan acak lengkap dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari 6 bahan carrier sebagai perlakuan, yaitu tepung jagung, tepung beras, tepung maizena, talk, minyak sayur, air, dan kontrol (konidia kering). Jamur B. bassiana yang telah dicampur dengan bahan carrier sebanyak 100 g atau 100 ml disebarkan pada potongan bonggol bagian atas kemudian ditutup dengan batang semu pisang. � � Sedangkan untuk mengetahui model alat perangkap yang baik digunakan 3 macam bahan perangkap yaitu (1) bonggol pisang + batang semu, (2) bonggol pisang, dan (3) batang semu dengan 6 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung beras merupakan carrier yang paling baik dalam pemanfaatan B. bassiana dan menyebabkan mortalitas hama penggerek bonggol paling tinggi dibandingkan carrier minyak sayur dan air yang menyebabkan mortalitas paling rendah atau sama dengan B. bassiana tanpa bahan carrier. Mortalitas hama penggerek bonggol C. sordidus yang paling tinggi, yakni 95% diperoleh jika menggunakan B.bassiana dengan tepung beras sebagai carrier pada perangkap bonggol dan ditutupi batang semu pisang. Sedangkan B. bassiana dengan menggunakan minyak atau air dan tanpa substrat carrier hanya dapat menyebabkan mortalitas hama penggerek bonggol paling rendah, yaitu berturut-turut 72, 75, dan 70%. Mortalitas hama penggerek bonggol pisang yang disebabkan oleh jamur B. bassiana yang dicampur dengan carrier tepung beras, paling tinggi diperoleh menggunakan alat perangkap bonggol pisang dengan batang semu. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa berbagai carrier berbentuk tepung dapat meningkatkan infektivitas jamur entomopatogen, B. bassiana dalam mengendalikan hama penggerek bonggol pisang, C. sordidus di lapangan.ABSTRACT. Hasyim, A. 2007. Enhancing Infectious Capacity of Entomopathogen Fungi, Beauveria bassiana (Balsamo) Vuill. Using Various Carrier Materials in Controlling Banana Corm Borer, Cosmopolites sordidus Germar under Field Condition. This experiment was conducted at Baso banana farmer field, Agam District from October 2002 to February 2003. The objectives of these studies were to know the infectious capacity of entomopathogen fungi, Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin using various carrier materials and to know the best trapping model in controlling banana corm borer Cosmopolites sordidus Germar. A randomized complete design with 7 treatments and 4 replications were used in this study. The treatments consisted of 6 carriers, i.e. corn powder, talc, rice powder, maizena powder, vegetable oil, water, and control (dry conidia). Amount of 100 g or 100 ml mixture of B. bassiana were distributed by hand or sprayed with water on cut surface of the banana corm then covered by sliced banana pseudostem. Futhermore, 3 types of trapping model i.e (1) banana corm + pseudostem, (2) banana corm, and (3) pseudostem were used with 6 replications to find out the best trapping design. The results showed that rice powder was the best carrier for delivery of B. bassiana and caused highest mortality of banana corm borer. On the other hand, vegetable oil, water, and without carrier material caused the lowest mortality of banana corm borer. The highest mortality of adult banana weevil borer, C. sordidus reached 95% when weevil exposure using rice powder carrier on corm and pseudostem. While the B. bassiana exposure using liquid carrier such as vegetable oil, water carrier, and without carrier material on corm and pseudostem caused the lowest mortality of C. sordidus of 72, 75, and 70% respectively. The highest mortality of banana corm borer caused by B. bassiana was found in the treatment with rice powder as a carrier material and pseudostem trapping design. The results demonstrated that powder as a carrier could enhance the infectious capacity of entomopathogenic fungus B. bassiana against banana weevil borer, C. sordidus under field condition
Peningkatan Mutu Bunga dan Produktivitas Dua Kultivar Sedap Malam dengan Pemupukan N, P, dan K Wasito, A; Tedjasarwana, R
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan mengetahui tanggap kultivar sedap malam terhadap pemberian beberapa kombinasi dosis pupuk dalam rangka peningkatan produktivitas dan mutu bunga. Penelitian dilaksanakan di Cianjur dari bulan September 1998 sampai dengan bulan Juli 1999. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan.  Dua kultivar, yaitu kultivar berbunga tunggal dan berbunga ganda sebagai  faktor pertama  dan tujuh kombinasi dosis pupuk inorganik (N, P2O5, dan K2O) sebagai faktor kedua. Didapatkan bahwa keragaan tumbuh dan hasil bunga  kultivar bunga berpetal  ganda  lebih adaptif dibandingkan dengan kultivar bunga berpetal tunggal. Kombinasi dosis pupuk inorganik dengan N tertinggi (40 g/m2/tahun), menampakkan keragaan yang paling baik dan berbeda nyata dengan beberapa kombinasi di bawahnya sepanjang diimbangi dengan  jumlah unsur P dan K. Kata kunci:  Polianthes tuberose; Kultivar; Pemupukan; Produktivitas bunga; Kualitas bunga. ABSTRACT. The objective of this experiment was to evaluate response of two cultivars P. tuberose treated with several inorganic fertilizer dosages application. Experiment was conducted in Cianjur from September 1998 until July 1999. A factorial randomized block design with three replications was used in this experiment. The first factor consisted of two cultivars meanwhile the second factor com- prised of seven dosages inorganic fertilizers ( N, P2O5, and K2O) compositions. The results indicated that  the double petals cultivar was significantly more adaptive compared to those of single petal cultivar.  Dosage of   N inorganic fertilizer applications up to 40 g/m2/year gave significantly different  compared to that below  dosages.
Pengaruh Posisi Sayatan dan Penyisipan Entris pada Batang Bawah terhadap Keberhasilan Penyambungan dan Kecepatan Pertumbuhan Benih Manggis Anwarudin syah, Jawal M; Poerwanto, Rudi; Purnama, T; Usman, F; Muas, I
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Bibit manggis sambung dapat berproduksi dalam waktu cepat, tanamannya relatif rendah, dan mudah dikelola tetapi pertumbuhannya lambat sehingga perlu dipacu agar pengembangan manggis dengan bibit sambung diminati petani. Penelitian untuk mengetahui pengaruh posisi sayatan dan penyisipan entris pada batang bawah terhadap keberhasilan sambung pucuk dan pemacuan pertumbuhan dilakukan di Rumah Pembibitan Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok dilakukan mulai bulan Juli 2003 sampai Maret 2005. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok faktorial dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah posisi sayatan entris yang terdiri dari penyayatan entris di bawah buku, di atas buku, dan di tengah buku. Faktor kedua adalah posisi penyisipan entris pada batang bawah yang terdiri dari penyisipan entris di bawah buku, di atas buku, dan di tengah buku dari ruas batang bawah. Setiap unit perlakuan terdiri dari 5 tanaman manggis yang disambung. Parameter yang diamati meliputi keberhasilan penyambungan, frekuensi pecah tunas, jumlah daun, tinggi tanaman, diamater batang, dan jumlah cabang lateral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyayatan entris di bagian bukunya dapat memberikan tingkat keberhasilan penyambungan dan pertumbuhan bibit sambung yang terbaik. Posisi penyisipan entris pada bagian buku dari batang bawah dapat meningkatkan keberhasilan penyambungan sedangkan posisi penyisipan entris di atas buku dapat memacu pertumbuhan bibit sambung manggis.ABSTRACT. Jawal, M. Anwarudin Syah, R. Poerwanto, T. Purnama, F. Usman, and I. Muas. 2007 . The effeect of Slice and Insertion Scion Position on Rootstock for Succ essful Grafting and the Growth of Mangosteen Seedling. The objective of this study was to find out the best position of slice and insertion of the scion on rootstock of mangosteen grafting. This study was conducted at nursery of Indonesian Tropical Fruit Research Institute Solok from July 2003 to March 2005 by using factorial randomized block design with 3 replications. The first factor was the slice position of scion (on the top the node, below the node, and at the node), while the second factor was the insertion position of scion on rootstock (on the top of the node, below the node, and at the node). The parameters observed were grafting successfulness, frequency of flush, leaf number, plant height, stem diameter, and number of lateral branch. The results indicated that slice position of scion at the node increased the successfulness of grafting and growth of mangosteen grafting. Insertion position of scion at the node increased the successfulness of grafting, while insertion position of scion on the top of the node stimulated the growth of mangosteen grafting.
Pengaruh Suhu dan Kelembaban Relatif terhadap Perkecambahan dan Perkembangan Tabung Kecambah Konidia Cladosporium musae Mason -, Sahlan
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian  dilakukan  di  Laboratorium Fitopatologi  Fakultas  Pertanian,  Universiti  Putra  Malaysia  dari  bulan Januari-Maret 2002. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan kelembabam relatif terhadap perkecambahan dan perkembangan tabung kecambah konidia C. musae. Rancangan percobaan menggunakan faktorial  dengan  suhu  sebagai  faktor pertama  dan  kelembaban  relatif  sebagai  faktor kedua. Hasil  penelitian menunjukkan bahwa konidia C. musae dapat berkecambah pada kisaran suhu dan kelembaban relatif yang lebar masing-masing 22-34oC dan 88,5-100%. Pada kelembaban relatif yang rendah, rataan jumlah konidia yang berkecambah berkurang secara drastis. Perkecambahan maksimum terjadi pada suhu 26oC dengan kelembaban relatif 99-100%. Tabung kecambah terpanjang 133,64 mm terdapat pada suhu 26oC dengan kelembaban relatif 100% diikuti 116,5 mm  pada suhu 22oC. Panjang tabung kecambah berkurang pada suhu tinggi dan kelembaban relatif rendah. Dibahas juga perbedaan pengaruh suhu dan kelembaban relatif terhadap perkecambahan dan perkembangan tabung kecambah. Kata kunci: Cladosporium musae; Suhu; Kelembaban relatif; Konidia; Perkecambahan; Tabung kecambah. ABSTRACT. The experiment was conducted in Phytopathology Laboratory of Faculty Agriculture, Universiti Putra Malaysia from January-March 2002. The aim of this experiment was to study effect of temperature and RH on the germination and germ tubes development of conidia C. musae. The experimental design used a factorial with temperature as the first factor and RH as the second factor. The results of this experiment showed that conidia of C. musae germinated over a wide range temperature of 22-34oC and of RH 88.5-100%. Mean percent- age conidial germination generally decreased drastically at lower RH. Maximum germination was observed at temper- ature 26oC with RH 99-100%. The longest of germ tubes conidia of C. musae 133.64 mm was occurred at temperature 26oC with RH 100% followed by 116.50 mm 22oC. Germ tubes length was decreased at high temperature and at lower RH. Differences effect of temperature and RH on the conidial germination and germ tubes development are discussed

Page 42 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue