cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Karakterisasi Ras Fusarium oxysporum f. sp. cubense dengan Metode Vegetative Compatibility Group Test dan Identifikasi Kultivar Pisang yang Terserang N Nasir; Jumjumidang -
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v13n4.2003.p276-284

Abstract

Beberapa isolat Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc) di Sumatera Barat telah dikoleksi untuk mengkaji karakterisasi, distribusi, serta kultivar-kultivar pisang yang terserang. Penelitian dilakukan dari bulan Mei 1999 sampai dengan bulan Maret 2000 di enam dari 14 Daerah Tingkat II, yaitu Solok, Tanah Datar, Agam, Bukit Tinggi, Padang, dan Sawahlunto Sijunjung. Isolat Foc dikumpulkan dari tanaman pisang yang memperlihatkan gejala luar terserang Foc. Isolat-isolat ini selanjutnya dimurnikan dengan teknik spora tunggal dan ras Foc diidentifikasi secara vegetative compatibility group (VCG). Gejala layu fusarium ditemukan di semua lokasi penelitian pada 15 kultivar pisang, baik pisang buah meja seperti pisang buai (AAA), pisang raja serai/sereh (AAB), dan pisang ambon (AAA), maupun pisang olahan seperti pisang kepok (ABB/BBB). Tiga puluh tujuh isolat Foc dikoleksi dari jaringan vaskular pisang yang memperlihatkan gejala luar serangan Foc. Isolat-isolat tersebut terkelompok ke dalam vegetative com- patibility group 0120, 0124, 0125, 01213, 01215, 01216, 0128, dan 01219. Tiga puluh dua dari 37 isolat Foc yang dikoleksi ini diidentifikasi sebagai Foc ras 4, yaitu VGC 0120, 01213, 01215, 01216, dan 01219. Sedangkan lima isolat lainnya termasuk ke dalam  VCG 0124 dan 01218 Foc ras 1. Isolat VCG 01216 ditemukan di semua lokasi pengamatan pada 14 dari 15 kultivar terserang Foc. Sedangkan VCG 0120 hanya di temukan di Padang. Distribusi dari VCG lainnya lebih bervariasi di setiap daerah pengamatan. Kultivar cavendish (buai, AAA) yang dinyatakan resisten terhadap ras 1, ternyata ditemukan diserang oleh Foc ras 1 VCG 01218. Kultivar kepok yang diakui tahan terhadap Foc ras 4 dan merupakan salah satu kultivar andalan di Sumatera Barat, ditemukan diserang oleh Foc ras 4 VCG 0120, 01215, 01216, dan 01219, kultivar ini bahkan juga diserang oleh Foc ras 1 VCG 0124. Kata kunci: Pisang; Vegetative compatibilty group; Ras; Fusarium oxysporum cubense; Distribusi. ABSTRACT. Several isolates of Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc) in West Sumatera have been collected to investigate their characterizations, distributions, and cultivars affected. The research was conducted from May 1999 to March 2000 in six out of 14 dis- tricts of this province: Solok, Tanah Datar, Agam, Bukit Tinggi, Padang, and Sawahlunto Sijunjung. Isolates derived from diseased plant showing external Foc symptoms. Pure isolate was resulted by using single spore techniques (sst) then race of Foc were identified based on vegetative compatibility group (VCG) test. Wilt Fusarium symptoms were found in 15 banana cultivars at six (out of 14) districts in West Sumatera. The attacked cultivars included popular des- sert bananas in West Sumatera are pisang buai (AAA), pisang raja serai/sereh (AAB) and pisang ambon (AAA). The most popular cooking banana, pisang kepok (ABB/BBB) was also succumbed to Foc. Thirty seven isolates of the pathogen Foc have been collected from cultivars with symptoms of Foc. The isolates were grouped into vegetative compatibility groups (VCGs) 0120, 0124, 01213, 01215, 01216, 01218, and 01219. Thirty two out of the 37 isolates were identified as Foc race 4 in VCG 0120, 01213, 01215, 01216, and 01219. While five isolates were grouped into VCG 0124 and 01218 Foc race 1. Isolat VCG 01216 distributed widely in all of the observed areas in the 14 out of 15 cultivars infected with Foc. In contrast, VCG 0120 was only found in the district of Padang among the six of observed areas. Cavendish cultivar buai AAA which is stated resistant to Foc ras 1, surprisingly, was infected by Foc race 1 VCG 01218 in this study. Kepok which is formerly considered resistant to Foc race 4, was attacked by VCG 0120, 01215, 01216, and 01219, those all are race 4 of Foc. Ironically, kepok was also succumbed to Foc race 1 VCG 0124.
Pengaruh Dosis Pupuk N dan Varietas Terhadap pH Tanah, N-Total Tanah, Serapan N, dan Hasil Umbi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) pada Tanah Entisols-Brebes Jawa Tengah Imam Firmansyah; Nani Sumarni
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n4.2013.p358-364

Abstract

Brebes merupakan sentra bawang merah di Jawa Tengah dengan jenis tanah Alluvial yang mempunyai kadar bahan organik dan N-total tergolong sangat rendah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan ialah dengan menambahkan bahan organik dan pupuk N dengan dosis yang tepat. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui pengaruh varietas bawang merah dan dosis pemberian pupuk N terhadap pH tanah, N-total tanah, serapan N, dan hasil dua varietas tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.) pada tanah Entisols Brebes, Jawa Tengah. Percobaan dilakukan di Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Jawa Barat (1.250 m dpl.) dari Bulan November 2011 sampai dengan Januari 2012. Rancangan percobaan yang digunakan ialah petak terbagi dengan tiga kali ulangan. Petak utama ialah varietas, terdiri atas varietas Bangkok dan Kuning. Anak petak ialah dosis pupuk N, terdiri atas lima taraf yaitu 0, 45, 90, 135, dan 180 kg/ha. Hasil percoban menunjukkan bahwa dosis pupuk N dan varietas bawang merah berinteraksi memengaruhi penurunan pH tanah, tetapi tidak demikian halnya dalam meningkatkan N-total tanah, serapan N tanaman, dan hasil tanaman bawang merah. Secara mandiri varietas dan dosis pupuk N memberikan pengaruh yang nyata terhadap peningkatan N-total tanah, tetapi tidak terhadap serapan N hasil tanaman bawang merah. Tidak didapat dosis optimum pupuk N untuk varietas Bangkok maupun varietas Kuning. Implikasi penelitian ini bahwa pupuk N dalam dosis yang cukup diperlukan untuk meningkatkan produktivitas tanah Entisols dan tanaman bawang merah.
Faktor-faktor yang Memengaruhi Keputusan Konsumen dalam Mengonsumsi Sayuran Minor (Under-utilized) Katuk Soetiarso, Thomas Agus
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v21n1.2011.p89-100

Abstract

Upaya penggunaan spesies sayuran yang lebih beragam pada dasarnya sejalan dengan perhatian dan kebutuhan yang semakin meningkat berkaitan dengan konservasi biodiversitas dan kecukupan pangan. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi keputusan konsumen dalam konsumsi katuk (Sauropus androgynus). Kegiatan penelitian berupa survai konsumen yang dilaksanakan di Kelurahan Suka Asih, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kotamadya Bandung, Jawa Barat mulai bulan Agustus sampai dengan November 2007. Pemilihan responden ibu rumah tangga sebanyak 50 orang dilakukan secara acak. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Data kualitatif dianalisis menggunakan statistik deskriptif, sedangkan analisis jalur (path analysis) digunakan untuk menguji faktor-faktor yang memengaruhi keputusan konsumen dalam mengonsumsi katuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi konsumen terhadap pengolahan produk, pengetahuan konsumen, kesadaran konsumen terhadap kesehatan, serta persepsi konsumen terhadap ketersediaan produk merupakan faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap keputusan konsumen dalam mengonsumsi sayuran minor katuk.Efforts for the use of more diverse vegetables are in parallel with an increasing attention on biodiversity conservation and food security. This study was aimed to identify factors that may influence consumer’s decision making in consuming star gooseberry (Souropus androgynus), an under-utilized vegetable.  A survey was carried out at Suka Asih Village, Bojongloa Kaler Subdistrict, Bandung, West Java from August to November 2007. Fifty housewife were randomly selected as respondents. A structured questionnaire was used for interviewing respondents in data collection. Data were qualitatively elaborated by using descriptive statistics and quantitatively analyzed by using path analysis. Results show that consumers’ perceptions on how to process the product, knowledge, awareness on health, and perceptions on product availability were the most important factors that influencing consumers’ decision making in consuming under-utilized vegetable star gooseberry.  
Kelayakan Teknis dan Ekonomi Budidaya Cabai Merah di Dalam Rumah Kasa untuk Menanggulangi Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan Tonny Koestony Moekasan; Nikardi Gunadi; Witono Adiyoga; Ineu Sulastrini
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n2.2015.p180-192

Abstract

K. Pada satu dasawarsa terakhir produktivitas cabai merah mengalami penurunan akibat meningkatnya serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang dipicu oleh dampak perubahan iklim. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan melakukan budidaya cabai merah di dalam rumah kasa. Budidaya cabai merah di dalam rumah kasa di dataran rendah mampu meningkatkan hasil panen > 9 kali dibandingkan dengan budidaya cabai merah di lahan terbuka, sedangkan di dataran tinggi mampu mengurangi penggunaan pestisida dengan hasil panen tetap tinggi. Namun demikian, kelayakan teknis dan ekonominya belum diketahui. Penelitian bertujuan mengetahui kelayakan teknis dan ekonomi budidaya cabai merah di dalam rumah kasa di dataran tinggi dalam upaya menanggulangi serangan OPT. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu, Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang (± 1.250 m dpl.), Jawa Barat, sejak bulan Juni sampai November 2014. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode petak berpasangan dan diulang empat kali. Petak perlakuan berukuran 75 m2, varietas cabai yang ditanam adalah Ciko. Dua macam perlakuan yang diuji adalah (a) budidaya tanaman cabai di dalam rumah kasa dan (b) budidaya tanaman cabai merah di lahan terbuka. Penyemprotan insektisida dilakukan berdasarkan ambang pengendalian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan rumah kasa dapat mengurangi serangan hama sehingga biaya insektisida dapat dikurangi sebesar 73,19% dengan produksi lebih tinggi sebesar 106,45–109,00% dibandingkan dengan budidaya tanaman cabai merah di lahan terbuka, dengan tingkat pengembalian (R) mencapai 2,36. Dengan demikian, penggunaan rumah kasa dapat direkomendasikan sebagai teknologi budidaya cabai merah di dataran tinggi karena secara teknis dapat menekan serangan OPT dan mengurangi penggunaan insektisida dan secara ekonomi menguntungkan.
Me dia Sapih Alternatif untuk Plantlet Anggrek Vanda Y A Bety
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n1.2004.p1-2

Abstract

Untuk membantu usaha pembibitan anggrek vanda perlu disediakan me dia sapih alternatif yang lebih murah danberkualitas baik sebagai pengganti me dia Vacin & Went atau Knudson. Penelitian dilaksanakan di laboratorium PemuliaanKebun Percobaan Pasarminggu, Balai Penelitian Tanaman Hias mulai bulan Mei sampai dengan No vem ber 1999.Perccobaan dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak kelompok dengan lima ulangan. Bahan yang diuji adalahprotokorm dari populasi F1 vanda hasil persilangan antara V. tri color X V. Dewi sri. Perlakuan terdiri atas delapan jenis me -dia sapih plantlet yang mengandung pupuk daun dengan N tinggi dan me dia Vacin & Went sebagai pembanding.Konsentrasi yang digunakan adalah 3 g/l me dia untuk pupuk kristal dan 3 ml/l me dia untuk pupuk cair. Kedelapan pupukdaun tersebut adalah pupuk daun kristal No.63; pupuk daun lengkap kristal, pupuk majemuk kristal larut air, pupuk dauncair dengan EDTA che lates, pupuk organik cair plus, pupuk daun kristal untuk sayuran dan rumput taman, pupuk daunkristal dengan tonik spesial, pupuk cair kandungan N tinggi. Pengamatan dilakukan pada bulan ketujuh setelah penyapihankecambah. Pa ram e ter yang diamati adalah panjang daun, jumlah daun, panjang akar, jumlah akar, tinggi tanaman, jumlahtu nas dan berat basah plantlet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagai me dia sapih, pupuk daun cair dengan EDTAche lates, dan pupuk daun No. 63 memberikan pengaruh yang sama baiknya dengan me dia Vacin dan Went terhadappertumbuhan panjang daun, jumlah daun, panjang akar, jumlah akar, tinggi tanaman, jumlah tu nas, dan berat basah plantlet.Kedua pupuk daun di atas dapat digunakan sebagai me dia sapih plantlet anggrek vanda.Al ter na tive me dia for vanda seed ling. The study aimed to find suit able and cheapermedia for Vanda seed ling to sub sti tute the stan dard me dia Vacin and Went. The ex per i ment was per formed at PasarmingguRe search Sta tion for In do ne sian Or na men tal Plant Re search In sti tute since May to No vem ber 1999. The treat ments werear ranged in ran dom ized block de sign us ing five rep li ca tions. The treat ments were eight me dia con tain ing fo liar fer til iz ers asal ter na tive me dia and Vacin and Went as stan dard me dia to grow the protocorms of F1 pop u la tion of V. tri color x V. Dewisri. The eight fo liar fer til iz ers used for sup ple ment of me dia were crys tal line fo liar fer til izer No. 63, com plete el e ments fo -liar fertilizer, soluble com plete elements foliar fertilizer, liquid foliar fertilizer with EDTA chelates, liquid organic foliar fer -til izer plus, crystallyne fo liar fer til izer for veg e ta ble and lawn, crystallyne fo liar fer til izer with spesial tonic, and liq uid fo liarfer til izer with high ni tro gen con tent. Ob ser va tions were taken on seven months af ter protocorms be ing planted. Assesmentwere done on the leaf length, the num ber of leaves, root length, the num ber of roots, plant height, the num ber of shoots, andplant fresh weight. The re sult in di cated that the liq uid fo liar fer til izer with EDTA che lates and crystallyne fo liar fertilizerNo. 63 sup ported the growth of seed ling of vanda or chid as good as the stan dard me dia Vacin and Went did. There -fore, it should be used as sub sti tute me dia for Vacin and Went me dium for grow ing vanda seedling.
Persilangan Cabai Merah Tahan Penyakit Antraknosa (Colletotrichum acutatum) Rinda Kirana; Kusmana Kusmana; Ahsol Hasyim; Rahmat Sutarya
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n3.2014.p189-195

Abstract

Perakitan varietas cabai tahan penyakit antraknosa relatif memerlukan waktu yang lama, tetapi varietas tahan antraknosa tetap penting  diwujudkan sebagai kontribusi bidang pemuliaan tanaman untuk menurunkan tingkat pemakaian pestisida oleh petani, menjaga keseimbangan lingkungan, dan menyediakan produk yang aman bagi konsumen. Penelitian ini bertujuan menyeleksi tetua tahan antraknosa dan mengetahui keberhasilan persilangan antara tetua tahan dengan varietas Balitsa yaitu Kencana dan Tanjung-2 dalam rangka memperluas keragaman genetik ketahanan terhadap antraknosa sebagai bahan dasar untuk program seleksi. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mikologi dan Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Sayuran dari bulan Januari-Juli 2013. Penelitian dibagi menjadi dua tahap, tahap pertama adalah pemilihan tetua di laboratorium mikologi dan tahap kedua adalah  persilangan antara tetua tahan dan tetua rentan di rumah kasa. Penelitian dibagi menjadi dua tahap, tahap pertama ialah pengujian ketahanan enam tetua di laboratorium mikologi yang didisain menggunakan  rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat ulangan. Tahap kedua adalah persilangan antara tetua tahan dan tetua rentan di rumah kasa, tetua betina dan jantan ditanam menggunakan RAL faktorial dengan lima ulangan. Faktor pertama ialah tetua betina yang terdiri atas dua varietas yaitu Kencana dan Tanjung-2, dan faktor kedua adalah tetua jantan yang terdiri atas empat genotip hasil introduksi yaitu AVPP 0207, AVPP 0407, PP 0537–7558, dan Perisai. Berdasarkan hasil pengujian tingkat ketahanan terhadap antraknosa di laboratorium, AVPP 0207 dan Perisai diketahui tahan terhadap antraknosa (Colletotrichum acutatum). Persilangan empat tetua jantan donor tahan antraknosa dengan dua tetua betina varietas Balitsa (Kencana dan Tanjung-2) telah dilaksanakan tanpa adanya barrier. Keberhasilan persilangan dan pembentukan biji sangat dipengaruhi oleh tetua betina dan tidak dipengaruhi oleh tetua jantan. Kisaran keberhasilan persilangan antara 37,16–67,64%, sedangkan benih bernas yang dihasilkan bervariasi antara 269–784 benih per tanaman. Daya berkecambah benih hasil persilangan berkisar antara 68–96%. Persilangan dengan tetua betina Kencana menghasilkan persentase benih baik yang lebih tinggi dengan kualitas benih yang lebih baik dibandingkan dengan persilangan menggunakan Tanjung-2 sebagai tetua betina. Penelitian ini perlu dilanjutkan untuk mengetahui penampilan fenotipik dan status ketahanan terhadap antraknosa generasi F1.
Pencampuran Spodoptera exigua Nu clear Polyhedrosis Virus dengan Insektisida Kimia untuk Mortalitas Larva Spodoptera exigua Hbn. di Laboratorium Tony Koestony Moekaan
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 3 (2004): September 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n3.2004.p178-187

Abstract

Percobaan laboratorium telah dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang ( ± 1.250 m dpl), mulaibulan Agustus sampai No vem ber 1999. Tujuan percobaan untuk mengetahui pengaruh pencampuran insektisida,efikasi, dan tenggang waktu membunuh campuran SeNPV dengan beberapa insektisida kimia terhadap larva S.exigua instar-2 atau 3. Sampel larva S. exigua dikumpulkan dari pertanaman petani bawang merah di daerah Brebes,Jawa Tengah dan diperbanyak di Rumahkasa Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Percobaan menggunakan metodepencelupan daun bawang merah ke dalam larutan for mula insektisida. For mula insektisida secara tunggal dancampuran diujikan pada 30 larva S. exigua di dalam cawan plastik, dengan empat ulangan pada tiap perlakuan.Mortalitas larva S. exigua diamati setiap 24 jam sampai dengan 168 jam setelah perlakuan. Data mortalitas larva diolahmenggunakan analisis probit untuk menetapkan nilai LC50. Berdasarkan nilai LC50 campuran insektisida, campuranSeNPV dengan insektisida klorfluazuron, betasiflutrin, fifronil, profenofos, dimetoat, deltametrin, lamda sihalotrin,dan tebufenosida, menunjukkan efektivitas sinergistik dan meningkatkan efikasi, masing-masing sebesar 18,9; 24,3;19,0; 19,3; 19,5; 22,3; 16,3; dan 7,0 kali lipat jika dibandingkan dengan SeNPV secara tunggal. Selain itu, nilaitenggang waktu membunuh LT50 berkisar antara 86,4 sampai 136,8 jam atau kira-kira 4 sampai 6 hari.AB STRACT. Moekasan, T.K. 2004. Mix tures of SeNPV and chem i cal in sec ti cides against lar vae mor tal ity ofSpodoptera exigua Hbn. in lab o ra tory. A laboratory study has been conducted at Indonesian Vegetables ResearchIn sti tute, Lembang (±1,250 m asl), from Au gust to No vem ber 1999. The aim of the study was to de ter mine the ef fect ofbi nary mix tures, their ef fi cacy and le thal time against sec ond/third instar of S. exigua lar vae. Sam ple of S. exigua lar -vae were col lected from farm ers’ field in Brebes, Cen tral Jawa and mass pro duc tion done in a screenhouse. A dip pingmethod of cut ting shal lot leaves in a for mu lated of tested in sec ti cides was used. The for mu lated con cen tra tion of in -sec ti cides, alone and mix tures was tested to thirty S. exigua lar vae in a plas tic cup with four rep li ca tions. Mor tal ity of S.exigua lar vae was ob served at 24 hours af ter ex po sures and re peat edly ev ery 24 hours up to 168 hours of ex po sures.The mor tal ity data was an a lyzed us ing probit anal y sis to de ter mine the LC50 val ues. Based on LC50 value of in sec ti -cides mix tures, the ad di tion of chlorfluazurone, betacyfluthrine, fifronile, profenofos, dimethoate, deltamethrine,lamda sihalothrine, and tebufenozide to the SeNPV, in di cated syn er gism and in creased their ef fi cacy by 18.9; 24.3;19.0; 19.3; 19.5; 22.3; 16.3; and 7.0 fold higher, re spec tively, com pared to SeNPV singly. In ad di tion, the LT50 valuewere rang ing from 86.4 up to 136.8 hours or 4 to 6 days.
Eksplorasi, Karakterisasi, dan Pemanfaatan Cendawan Berguna untuk Memperbaiki Pertumbuhan Sayuran Suwandi Suwandi; Rahmat Sutarya; Wiwin Setiawati
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n2.2013.p143-152

Abstract

Penggunaan mikrob efektif sebagai komponen habitat alam mempunyai peran dan fungsi penting mendukung keberhasilan usahatani ramah lingkungan, melalui proses seperti dekomposisi dan mineralisasi senyawa organik, fiksasi hara, pelarut hara, dan nitrifikasi hara tanaman. Penelitian bertujuan untuk mengeksplorasi dan mengisolasi sumber daya hayati lokal berupa cendawan berguna sebagai pupuk hayati pelarut fosfat untuk memperbaiki pertumbuhan tanaman sayuran. Eksplorasi dilaksanakan di daerah sentra produksi sayuran dataran tinggi dan dataran rendah mulai Bulan Juli sampai dengan Desember 2011. Metode pengambilan contoh tanah dilakukan secara komposit pada areal pertanaman sayuran dengan kondisi pertanaman sehat, kemudian cendawan berguna dari contoh tanah diisolasi dan diseleksi di Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Jenis cendawan yang diidentifikasi pada media tumbuh ialah Aspergillus dan Penicillium, sedangkan pengujian efektivitasnya dilakukan pada pertanaman di rumah sere. Dari hasil eksplorasi ditemukan spesies cendawan potensial yang berguna sebagai pelarut fosfat sebanyak 20 isolat dari spesies Aspergillus spp. dan tiga isolat spesies Penicillium spp.. Adapun 12 isolat lainnya tergolong spesies cendawan Trichoderma sp. yang tidak termasuk mikrob pelarut fosfat. Beberapa spesies cendawan teridentifikasi sebagai pelarut fosfat mempunyai indeks melarutkan fosfat (IMP) yang cukup tinggi, yaitu isolat Kb-3-lg-as-1, Bm14-mj-pe-1, dan Cb9-gt-as-3 dengan nilai IMP > 2,50. Hasil uji efektivitas spesies cendawan Aspergillus spp. dan Penicillium spp. memberikan pengaruh/rangsangan positif terhadap pertumbuhan tanaman tomat, kubis, dan beet.
Studi Pengaruh Substitusi Hara Makro dan Mikro Media MS dengan Pupuk Majemuk dalam Kultur In Vitro Krisan Herni Shintiavira; Mochdar Soedarjo; Suryawati Suryawati; Budi Winarto
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n4.2012.p334-341

Abstract

Studi substitusi hara makro dan mikro media Murashige & Skoog (MS) menggunakan pupuk majemuk untuk meningkatkan efisiensi kultur in vitro krisan (Dendranthema grandiflora) dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan, Kebun Percobaan Cipanas, Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) dari Bulan Januari hingga Desember 2010. Aplikasi pupuk majemuk sebagai substitusi hara makro-mikro MS diharapkan dapat menurunkan biaya produksi benih melalui kultur in vitro, khususnya dalam penyediaan media tanam. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh varietas dan kombinasi pupuk majemuk dalam meningkatkan efisiensi aplikasi kultur in vitro krisan. Varietas yang diuji ialah D. grandiflora cv. Dwina Kencana dan Pasopati, sementara pupuk majemuk yang digunakan ialah Hyponex Hijau (20:20:20), Hyponex Merah (25:5:20), dan Growmore (32:10:10) dengan komposisi uji (1) media ½ MS + 0,1 mg/l indole acetic acid (IAA) sebagai kontrol, (2) 1 g/l Hyponex Hijau + 0,1 mg/l IAA, (3) 2 g/l Hyponex Hijau + 0,1 mg/l IAA, (4) 3 g/l Hyponex Hijau + 0,1 mg/l IAA 0,1, (5) 1 g/l Hyponex Merah + 0,1 mg/l IAA, (6) 2 g/l Hyponex Merah + 0,1 mg/l IAA, (7) 3 g/l Hyponex Merah + 0,1 mg/l IAA, (8) 1 g/l Growmore + 0,1 mg/l IAA, (9) 2 g/l Growmore + 0,1 mg/l IAA, dan (10) 3 g/l Growmore + 0,1 mg/l IAA. Percobaan disusun menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis varietas dan media kultur berpengaruh terhadap keberhasilan kultur in vitro krisan. Varietas Dwina Kencana memiliki respons pertumbuhan yang lebih baik dibanding varietas Pasopati. Konsentrasi 3 g/l Hyponex Hijau yang ditambah dengan 0,1 mg/l IAA merupakan medium pengganti medium ½ MS terbaik yang mampu mendukung pertumbuhan eksplan pada Dwina Kencana maupun Pasopati. Pada umur 8 minggu setelah kultur, perlakuan tersebut memberikan rerata terbaik jumlah daun, jumlah nodus, jumlah akar, panjang akar, dan berat basah planlet. Aplikasi medium tersebut mampu menekan biaya penyediaan medium kultur per liter hingga 34,7% dibanding biaya penyediaan medium ½ MS yang mencapai Rp6.561,00 per liter. Aplikasi hasil penelitian ini memberikan dampak positif terhadap efisiensi biaya produksi kultur  in vitro  krisan, khususnya terkait dengan penyediaan media kultur.
Respons Tanaman Bawang Merah terhadap Pemupukan Fosfat pada Beberapa Tingkat Kesuburan Lahan (Status P-Tanah) N Sumarni; R Rosliani; R S Basuki; Yusdar Hilman
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n2.2012.p130-138

Abstract

ABSTRAK. Pemupukan sebaiknya didasarkan pada kebutuhan tanaman akan unsur hara dan kandungan hara dalam tanah, agar diperoleh hasil yang optimal. Tujuan penelitian ialah untuk mendapatkan dosis optimal pupuk P pada dua varietas bawang merah pada beberapa tingkat kesuburan tanah (status P-tanah). Penelitian dilakukan di Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang, dari bulan Mei sampai dengan Desember 2008. Rancangan percobaan yang digunakan ialah split-split plot design dengan tiga ulangan. Petak utama ialah varietas bawang merah, terdiri atas varietas Bangkok dan Kuning. Anak petak ialah kandungan/status P-tanah (Bray 1), terdiri atas rendah (<15 ppm P2O5), sedang (16–25 ppm P2O5), dan tinggi (>26 ppm P2O5). Anak-anak petak ialah dosis pupuk P (P2O5), terdiri atas 0, 60, 120, 180, dan 240 kg/ha. Pupuk N dan K diberikan sebagai pupuk dasar dengan dosis N 150 kg/ha dan K2O 150 kg/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara varietas, status P-tanah, dan dosis pupuk P terhadap luas daun, bobot umbi segar, dan bobot umbi kering eskip per tanaman, serta serapan P tanaman bawang merah. Pada status P-tanah rendah dan sedang, dosis optimal pupuk P untuk varietas Bangkok dan Kuning masih belum diketahui, karena kurva respons hubungan antara dosis pupuk P dan hasil umbi kering eskip masih linier. Pada status P-tanah tinggi, hubungan antara dosis pupuk P dan hasil umbi kering eskip varietas Bangkok ataupun Kuning bersifat kuadratik. Hasil umbi kering eskip maksimal diperoleh dengan dosis pupuk P sebesar 126,50 kg/ha P2O5 untuk varietas Bangkok dan 0 kg/ha P2O5 untuk varietas Kuning. Makin tinggi dosis pupuk P yang diberikan, maka makin tinggi pula residu pupuk P terdeteksi dalam tanah. Implikasi hasil penelitian ialah kebutuhan  pupuk P yang optimal pada bawang merah berbeda bergantung pada status P-tanah dan varietas yang digunakan.ABSTRACT. Sumarni, N, Rosliani, R, Basuki, RS,  and Hilman, Y 2012. Response of Shallots Plant to Phosphat Fertilization on Several Soil Fertility Levels (Soil-P Status). To achieve an optimum yield, fertilization should be applied based on plant nutrient requirement and soil nutrient content. This experiment was carried out at Screenhouse of Indonesian Vegetable Research Institute from May to December 2008, to find out the optimum dosage of P fertilizer for two shallots varieties on several soil fertility levels (soil-P status). A split-split plot design with three replications was set up for this experiment. Main plots were shallots varieties i.e.: Bangkok and Kuning. Subplots were three soil-P statuses i.e.: low (<15 ppm P2O5), medium (16–25 ppm P2O5), and high (>26 ppm P2O5). Sub-subplots were five levels of P fertilizer dosage of 0, 60, 120, 180, and 240 kg/ha P2O5. Nitrogen fertilizer of 150 kg/ha and K fertilizer (K2O) of 150 kg/ha were applied to all. The results showed that there were interaction effect among varieties, soil-P status, and P fertilizer dosages influencing leaf area, fresh, and dry weight of bulb yield, and P uptake by shallots plant. The optimal dosage of P fertilizer for Bangkok and Kuning varieties on low and medium of soil-P status was still unknown yet, since the relation response curve of relationship between P fertilizer dosages and dry bulb yield was still linear. Meanwhile, in high of soil-P status, the response curve was quadratic for both Bangkok and Kuning varieties. The maximum dry bulb yield was obtained by 126.50 kg/ha P2O5 for Bangkok and 0 kg/ha P2O5 for Kuning. The higher of P fertilizer dosage applied, the higher of residual of P fertilizer detected in soil. The optimum dosage of P fertilizer for shallots production was different depend on variety and soil-P status.

Page 62 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue