cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
DINAMIKA DAN STRUKTUR PENDAPATAN USAHATANI PADI D! SULAWESI TENGGARA iruddin Syam, Am; Sahara, Dewi Sahara
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research was aimed at knowing the rice dynamic in Kendari and Kolaka Regency, Southeast Sulawesi, including the increase trend of areas, production and productivity, yield and rice price, and the structure of rice farming system before and after the increase of fuels price. The research used the secondary data collected from 1995 to 2004 and primary data collected by a survey method involving 40 farmers in each- regency started from February till March 2006. The results showed that the rice production increased by 1.37% per year although the harvest area decreased to 0.06% per year. Kolakas rice production contributes 30% and Kendari contribution is 50.39% of the total province rice production. The development of post harvest rice price (from 2000-2004) showed an average increase of 8.39% per year while the rice price paid by consumers increased 7.06% per year. Therefore, the rice price on the farmers level was around 41.07% per year. From the financial analysis point of view, this indicated that the farmers income in Kendari increased by 20.87% and the farmers income in Kolaka increased by 22.73% as compared to before and after the increase of fuels price. The increase of price was due to the increase of rice price from Rp.1.100,- /kg to Rp.1.350,- /kg of yields (dried rice) or an increase of 22.75%. Key words: dynamics, income, rice farming system.   Penelitian bertujuan untuk mengetahui dinamika padi di Sulawesi Tenggara yang menyangkut trend luas area, produksi dan produktivitas, perkembangan harga gabah dan beras, serta struktur pendapatan usahatani padi antara sebelum dan sesudah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Penelitian menggunakan data sekunder dari tahun 1995 — 2004 dan data primer. Untuk mengetahui struktur pendapatan usahatani padi dilakukan survey pada bulan Pebruari — Maret 2006 di sentra produksi padi Sulawesi Tenggara, yaitu Kabupaten Kendari (Desa Langgomea dan Duriaasi) dan Kabupaten Kolaka (Desa Mowewe dan Tahoa) terhadap 40 petani di setiap kabupaten. Hasil penelitian menunjukkan produksi padi meningkat 1,37% per tahun walau luas panen menurun 0,66% per tahun. Kontribusi produksi dari Kabupaten Kendari dan Kolaka sebesar 50,39% dan 30% dari total produksi provinsi. Perkembangan harga gabah (periode 2000 — 2004) meningkat rata-rata 8,39% per tahun sedangkan harga beras yang dibayar konsumen meningkat 7,06% per tahun, dengan demikian harga gabah di tingkat petani sekitar 41,07% dari harga beras. Analisis finansial usahatani padi selama dua musim tanam (MT 1 dan MT 11) yaitu periode sebelum dan sesudah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) Oktober 2005 menunjukkan bahwa pendapatan yang diterima petani di Kabupaten Kendari meningkat 20,87% dan pendapatan petani di Kabupaten Kolaka meningkat 22,73%. Peningkatan pendapatan ini disebabkan oleh harga gabah di tingkat petani meningkat 22,75% dari Rp.1.100/kg gabah kering panen (GKP) menjadi Rp.1.350/kg GKP.Kata kunci: dinamika, pendapatan, usahatani padi Kata kunci: dinamika, pendapatan, usahatani padi
PREDIKSI EROSI TANAH PODSOLIK MERAH KUNING BERDASARKAN METODE USLE DI BERBAGAI SISTEM USAHATANI: Studi Kasus di Kabupaten Barito Utara dan Gunung Mas Anang Firmansyah, M.
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The USLE (Universal Soil Loss Equation) method is generally used to predict the soil erosion. The aim of this study is to apply this method to predict the erosion rate of soil in RYP (Red Yellow Podzolic or Ultisol) on different of farming systems (FS), i.e., rice up-land cassava, rice-corn-peanut, oil palm, and rubber with low capital. The soil samples used are taken from different precipitation location, i.e., North Barito Regency and Gunung Mas Regency in Central Kalimantan Province. The results indicated that the soil loss in RYP in Barito Utara is higher than that in Gunung Mas. The land use on FS of food crops without soil conservation can decrease the sustainability time of soil from 250 years to 38 years on rice up-land — cassava in North Barito. This indicates that the land use FS of crop estate is in line with the sustainability program. The improvement of soil conservation by building up the bench terrace can support the sustainability of soil in RYP on different FS of food crops. Key words: erosion, USLE, Red Yellow Podzolic Soil, farming system.   Metode USLE (Universal Soil Loss Equation) umum digunakan untuk memprediksi erosi tanah. Tujuan penelitian ini menggunakan persamaan tersebut untuk memprediksi erosi di tanah PMK (Podsolik Merah Kuning atau Ultisol) pada SUT (Sistim Usaha Tani) berbeda yaitu: padi ladang-ubi kayu, padi-jagung-kacang tanah, kelapa sawit, dan karet dengan modal rendah. Contoh tanah diambil di lokasi berbeda kondisi curah hujan, yaitu dari Kabupaten. Barito Utara dan Kabupaten Gunung Mas, Propinsi Kalimantan Tengah. Hasil pendugaan erosi menunjukkan kehilangan tanah di PMK Barito Utara lebih tinggi daripada di Gunung Mas. Pengelolaan SUT tanaman pangan tanpa perbaikan tindakan konservasi menurunkan kelestarian tanah dari 250 tahun menjadi 38 tahun di SUT padi ladang-ubi kayu di Barito Utara. Pengelolaan SUT perkebunan sejalan dengan kelestarian tanah. Perbaikan teknik konservasi tanah dengan membangun teras bangku mampu mendukung kelestarian tanah PMK pada SUT tanaman pangan.Kata kunci: erosi, USLE, Podsolik Merah Kuning, sistim usaha tani.
STRATEGI PENGELOLAAN DAN ANALISIS STATUS KEBERLANJUTAN KETAHANAN PANGAN DI KABUPATEN HALMAHERA TENGAH , Syafruddini; Hadi Sutjahjo, Surjono; Farida Baliwati, Yayuk; Nurmalina, Rita
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of the research is to construct the planning of the desirable dietary based on potential area in sustainability food security development frame. This research was done on a survey research basis. The types of data consist of primary and secondary data. The Rapfish method was used for continuing analysis, whereas the Analysis Hierarchy Process (AHP) method was used to decide the strategy for sustainability food security management. The results of this research are: I) the sustainability index or scales value of ecology dimension falls into "good" category, the cultural-society dimension is in -fine" category and the economy dimension is included in "less" category. And (2) Management strategy in an attempt to achieve the sustainability of food security in Central Halmahera is low food price as the first priority, this is then followed by the increases of food production, farming incentive, friendl environmental in agriculture, eradication of poor society, and the improvement of human resource quality Key words: management strategy, food security, sustainability, Central Halmahera.   Penelitian ini bertujuan untuk menyusun perencanaan pangan harapan berbasis potensi wilayah dalam kerangk pembangunan ketahanan pangan berkelanjutan. Penelitian ini merupakan penelitian survey. Jenis data yank digunakan adalah data primer dan data sekunder. Untuk analisis keberlanjutan digunakan metode rapfish selanjutnya untuk menentukan strategi pengelolaan ketahanan pangan digunakan metode Analysis Hierarchy Proces (AHP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi termasuk kategori baik dimensi sosial-budaya termasuk kategori cukup dan dimensi ekonomi termasuk kategori kurang berkelanjutan pa skala sustainabilitas, 2) Strategi pengelolaan dalam upaya pencapaian ketahanan pangan berkelanjutan di Kabupaten Halmahera Tengah adalah harp pangan murah sebagai prioritas pertama, diikuti peningkatan produksi pangan insentif usahatani, pertanian ramah lingkune,an, pengentasan kemiskinan dan peningkatan kualitas SDM. Key words: strategi manajemen, ketahanan pangan, keberlanjutan, Halmahera Tengah
ANALISIS USAHATANI SISTEM TANAM DOUBLE ROW PADA TANAMAN UBIKAYU (Manihot esculenta) DI LAMPUNG Asnawi, Robet
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The assessment of double row planting system of cassava was aimed at solving the low productivity of cassava due to the decrease of planting area in Lampung which was changed to palm oil, rubber, and cocoa as well as to fulfill the need of tapioca/cassava flour and bio-ethanol gas. The experiment was conducted at Natar Experimental Garden in South Lampung and on farmers land in North Lampung from November 2004 to October 2005. The double row planting system treatment was a packet of technology that uses double row planting system with a distant between rows is 80 cm and 60 cm and a space within a row is 80 cm. The experiment used a UJ-5 variety in addition to the use of 200 kg of Urea, about 150 kg of SP-36 and around 100 kg of KCl with a 5 ton cattle-manure per ha. As a comparison, an observation was carried out on conventional technology where the planting is 70 x 80 cm in addition to the use of 75 kg Urea, 50 kg SP-36, 50 kg KCl and a UJ-5 variety. The results showed that the productivity of double row planting system produces as twice many as the traditional method, as shown by 60.24 ton/ha at Natar and 53.25 ton/ha in North Lampung compared to 28.45 ton/ha and 17.56 ton/ha respectively. It is increased more than 100% compared to farmers conventional planting system. In short, the• double row planting system is more feasible and profitable at R/C of 2.55 as compared to R/C of 1.65 in farmers conventional planting system. Although with a decrease of price up to 20% occurs it would likely to proof that the double row planting system is still feasible and profitable. Key word: double row, farming system, produktivity, Manihot esculenta   Kajian sistem tanam double row pada tanaman ubikayu bertujuan untuk mengatasi rendahnya produktivitas ubikayu di Lampung, sebagai akibat dari menurunnya luas areal ubikayu menjadi kelapa sawit, karet, dan kakao serta untuk memenuhi kebutuhan bahan baku tapioka dan bio-etanol. Kajian ini telah dilaksanakan di Kebun Percobaan. Natar, Lampung Selatan dan lahan petani di Kecamatan Abung Semuli, Lampung Utara, mulai bulan Nopember 2004 sampai Oktober 2005. Penerapan paket teknologi sistem tanam double row yakni jarak antar barisan 80 cm dan 160 cm dengan jarak dalam barisan sama yakni 80 cm. Paket ini menggunakan varietas UJ-5 dan pemupukan 200 kg Urea/ha + 150 kg SP36/ha + 100 kg KCl/ha + 5 ton pupuk kandang/ha. Sebagai pembanding dilakukan pengamatan terhadap ubikayu yang umum dilakukan petani yakni jarak tanam 70 x 80 cm, pupuk 75 kg Urea/ha + 50 kg SP36 + 50 kg KCl serta varietas UJ-5. Hasil kajian menunjukkan bahwa produktivitas ubikayu dengan teknologi petani menghasilkan 28,45 ton/ha di KP Natar dan 17,56 ton/ha di Lampung Utara, sedangkan sistem tanam double row adalah 60,24 ton/ha di KP Natar dan 53,52 ton/ha pada lahan petani di Lampung Utara atau terjadi peningkatan produktivitas lebih dari 100%. Usahatani ubikayu dengan sistem tanam double row kompetitif dan layak diusahakan dengan nilai R/C 2,55, sedangkan pada cara petani memiliki nilai R/C 1,65. Walaupun terjadi penurunan harga jual ubikayu sampai 20%, sistem tanam double row masih layak dan menguntungkan. Kata Rand: double row, usahatani, produktivitas, Manihot esculenta
KAJIAN PEMBERIAN PUPUK NPK PADA BEBERAPA VARIETAS UNGGUL PADI SAWAH DI SERAM UTARA P. Sirappa, M.; Rieuwpassa, A.J.; D. Waas, Edwen
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The assessment was conducted to 4 newly pre-eminent varieties of rice that aimed at knowing t performance of growth and potential yields on lowland rice irrigation at North Seram. The treatment w conducted on a 4—ha of farmers land by involving 8 cooperator farmers and 7 non cooperator farmers as comparison. The dosage of fertilizer used by cooperator farmers consists of 300 kg NPK Pelangi and 11 kg Urea/ha. The research was done from June 2006 until October 2006. The results indicate that the fo varieties of pre-eminent that were assessed, they are Fatmawati, Way Apo Buru, Gilirang and Ciherang I using NPK Pelangi, gives a higher average results of the growth and yields. The average yield of grains obtained was 6.44 ton — 8.20 ton GKP / ha which was higher 21 - 54% compared to the average yield grain obtained from farmers outside the assessment (non cooperator farmers) which was 5.30 ton GKP/ h The NPK Pelangi Fertilizer can be used to replace the single fertilizer in case the scarcity of fertiliz occurs since it provides high enough yields. From the four varieties assessed, for further development rice in North Seram it is recommended to employ Ciherang and Way Apo Buru varieties. Key words: NPK Fertilizer, pre-eminent variety newly, lowland rice, North Seram   Telah dilakukan kajian terhadap 4 varietas unggul baru padi sawah yang bertujuan untuk mengetahui keragaz pertumbuhan dan potensi hasilnya pada lahan sawah irigasi di Seram Utara. Kajian dilakukan pada lahan milik petal seluas 4 ha dengan melibatkan 8 petani kooperator, dan sebagai pembanding adalah 7 petani non kooperator. Takan pupuk yang digunakan petani kooperator adalah 300 kg NPK Pelangi dan 100 kg urea/ha. Kajian berlangsung da bulan Juni sampai Oktober 2006. Hasil kajian menunjukkan bahwa keempat varietas unggul yang dikaji, yail Fatmawati, Way Apo Buru, Gilirang dan Ciherang dengan menggunakan pupuk NPK Pelangi, rata-rata memberik pertumbuhan dan hasil yang cukup tinggi. Rata-rata hasil ubinan yang diperoleh 6,44 ton — 8,20 ton GKP/ha, leb tinggi sekitar 21 — 54% dibandingkan dengan hasil gabah yang diperoleh petani di luar kajian (petani non kooperator yaitu 5,30 ton GKP/ha. Pupuk NPK Pelangi dapat digunakan sebagai pengganti pupuk tunggal jika terjadi kelangkaz pupuk karena dapat memberikan hasil yang cukup tinggi. Dari keempat varietas yang dikaji, untuk pengembangz lebih lanjut di wilayah Seram Utara disarankan menggunakan Ciherang dan Way Apo Buru. Kata kunci: pupuk NPK, varietas unggul baru, padi sawah, Seram Utara
KERAGAAN DAN DAMPAK PENGKAJIAN USAHATANI KONSERVASI TANAMAN KENTANG DI LAHAN KERING DATARAN TINGGI BERLERENG DI KABUPATEN LUMAJANG Santoso, Pudji; Soleh, Moh.; Arifin, Zainal; Wahab, Ismail
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This assessment was the evaluation of the potato conservation farming assessment activity which was done by the Assessment Institute for Agricultural Technology (AIAT) in Argosari Village, Senduro District, Lumajang Regency East Java from 2002 until 2004. The recommended technology package which was applied during the activity includes (1) the use of 45° sloppy beds, (2) the use of stripped cropping plant, (3) the use of Granule potato variety, (4) the use of manure, (5) the use of rational fertilizer. This assessment was done from January to February 2004 using survey method aiming at ( I) to find the information on the performance of potato farming technology, (2) to find the information on the performance of farming conservation technology on potato, and (3) to find the information on the impact of the assessment on farming conservation which was done by AIAT East Java in 2002 until 2004 concerning the productivity, yield quality and farmers income of potato farming. The results showed that the conservation technology of potato in sloppy dry upland has a potential power to minimize the soil erosion and is feasible to be developed in this area. The development of farming conservation technology on potato gives a positive impact towards the increase of productivity, yields quality and farmers income. Among of the 5 recommended technologies, the use of Granule variety potato was the most adopted by the farmers. In order to continue the adoption process by the farmers, the following requirements are needed, they are (1) the constant supply of the qualified potato seed on the right time, (2) continuous coaching to the farmers from the beginning of the preparation to the harvesting process, (3) the guarantee of stable and feasible price, (4) the consciousness and full participation of the farmers themselves, and (5) the presence and continuous support from the local government. Key words : technology impact, conservation, potato Pengkajian ini merupakan evaluasi dari kegiatan pengkajian usahatani konservasi usahatani pada tanaman kentang yang telah dilakukan oleh BPTP Jawa Timur di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang tahun 2202 sampai 2004. Rakitan teknologi yang diterapkan pada saat kegiatan tersebut meliputi : (1) pembuatan guludan dengan arah 45°, (2) penggunaan tanaman strip cropping, (3) varietas kentang yang ditanam (4) penggunaan pupuk kandang dan (5) pemupukan rasional. Kajian ini menggunakan metode survei dan dilakukan pada bulan Januari Pebruari 2005. Tujuan dari pengkajian adalah (1) mendapatkan informasi keragaan teknologi usahatani konservasi pada tanaman kentang dan (2) mendapatkan informasi dampak kegiatan pengkajian usahatani konservasi yang telah dilakukan oleh BPTP Jawa Timur terhadap produktivitas, mutu hasil dan pendapatan usahatani kentang. Hasil kajian menunjukkan bahwa usahatani konservasi pada tanaman kentang di lahan kering dataran tinggi berlereng mempunyai kemampuan yang cukup baik dalam menekan erosi tanah serta layak untuk dikembangkan di wilayah tersebut di atas. Pengembangan teknologi usahatani konservasi pada tanaman kentang telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan produktivitas dan mutu hasil serta pendapatan petani. Dari lima komponen teknologi anjuran tersebut di atas, ternyata varietas kentang yang ditanam yang paling banyak diadopsi oleh petani. Agar adopsi teknologi usahatani konservasi pada tanaman kentang dapat berlanjut, maka diperlukan: (1) penyediaan bibit kentang yang bermutu tepat waktu, (2) bimbingan oleh petugas secara terus-menerus, sejak persiapan hingga panen, (3) adanya jaminan harga yang layak dan stabil, (4) kesadaran dan partisipasi petani sendiri serta (5) dukungan pemerintah daerah. Kata kunci : dampak teknologi, usahatani konservasi, kentang
KAJIAN TEKNOLOGI ENZYM REVOLUSI AGRO DAN PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU DI SULAWESI SELATAN , Arafah; , Sahardi
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Technological study of agro-enzyme revolution and integrated crop management in South Sulawesi was carried out to know the effectiveness and efficiency of Enzyme Revolutionize Agro and PTT as opposed to the increase of paddy products and farmers earnings. This study was executed in Tabaringan Village, Sub District Galesong Utara, and District Takalar from the plantation date 16 May to the harvest date 11 August 2006. This study was done on farmers farms with the following treatment formula: (1) Enzyme, (2) PTT and (3) Non Enzyme. The results of the study indicated that the highest production of rice was obtained at the PTT treatment which was equal to 8.800 kg/ha compared to Enzyme treatment and Non Enzyme treatment which produced only 7.040 kg/ha. The highest production cost obtained at Enzyme treatment that was equal to Rp.8.526.224,- followed by PTT treatment that was equal to Rp.5.850.280,- and the lowest at Non-Enzyme treatment which yielded Rp.5.551.224,-. The efficiency of production cost at PTT treatment was 31.38% higher compared to Enzyme treatment. The highest farmers earnings was obtained at PTT treatment that was equal to Rp.9.989.720,-/ha, while at Enzyme and non Enzyme treatments reached Rp.4.145.776,- and Rp.7.120.776,- /ha respectively. Therefore, the provision of Enzyme it self in form of bio-culture cannot improve the paddy productions and further does not give any benefit for the farmers. Keywords: enzym, 1CM, productivity, farmer income   Kajian teknologi enzym revolusi agro dan pengelolaan tanaman terpadu di Sulawesi Selatan dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat efektivitas dan efisiensi Enzym Revolusi Agro dan PTT terhadap peningkatan produksi padi dan pendapatan petani. Kajian ini dilaksanakan di Kelurahan Tabaringan, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, tanam tanggal 16 Mei dan panen tanggal 11 Agustus 2006. Kajian ini dilaksanakan di lahan petani dengan susunan perlakuan: (1) Enzym, (2) PTT dan (3) Non Enzym. Hasil kajian menunjukkan bahwa hasil gabah tertinggi diperoleh pada perlakuan PTT yaitu sebesar 8.800 kg/ha, sedangkan pada perlakuan Enzym dan Non Enzym hanya 7.040 kg/ha. Biaya produksi yang paling tinggi terdapat pada perlakuan Enzym yaitu sebesar Rp.8.526.224 disusul perlakuan PTT yaitu sebesar Rp.5.850.280 dan yang paling rendah adalah pada perlakuan Non Enzym yaitu Rp.5.551.224. Pendapatan usahatani tertinggi diperoleh pada perlakuan PTT yaitu sebesar Rp.9.989.720/ha, sedangkan pada perlakuan Enzym dan Non Enzym masing-masing hanya Rp.4.145.776 dan Rp.7.120.776/ha. Dengan demikian pemberian enzym biokultur tidak meningkatkan hasil tanam padi. Kata kunci: enzym, PTT, produktivitas dan pendapatan petani
PLASMA NUTFAH TANAMAN OBAT SEBAGAI SUMBER BIOFARMAKA DI KALIMANTAN TENGAH Yuniar Galingging, Ronny
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Central Kalimantan Province covers an area of 15.380.000 ha or about 7.93 % of Indonesian area and consists of coastal region open waters and open land area, owns a potential biodiversity such as herbal medicine. This massive land area consists of various types of land. The wide area combined with high variability of land may resulted in a variability of genetic diversity resources medicinal which were found in Central Kalimantan. Due to the increasing rate of forest exploitation such as illegal logging and land clearing or burning, those medicinal and ornamental crops are in an endangered phase of extinction. To conserve these medicinal plants or germplasms some critical steps such as exploration, collection and conservation should be taken. The purpose of this study is to explore, collect, conserve and document medicinal plants species and as well as to find out the potency of such plants in Central Kalimantan. The exploration and colection were conducted at five districts, i.e. Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Barito Selatan, Barito Utara and Murung Raya, from March 2005 until December 2005. The aim of this study was as follows : (1). The exploration process, (2). The ex-situ and in-situ conservation, (3). The characterization process, (4). The documentation process. The results of these activities was there were an ex situ collection of 5 accessions of medicinal plants that can be used as a source of biofarmaca. Key word : exploration, characterization, conservation and medicinal plants.   Kalimantan Tengah dengan luas wilayah 15.380.000 ha atau 7,93% dari luas Indonesia banyak menyimpan keanekaragaman hayati (biodiversity), antara lain tanaman obat. Tanaman obat banyak tersebar di daerah-daerah pedalaman dan kawasan hutan Kalimantan Tengah yang merupakan habitat alami tanaman tersebut. Adanya eksploitasi hutan dan industri perkayuan yang semakin meningkat, kebakaran hutan serta pembukaan hutan untuk perkebunan, tambang dan pemukiman transmigrasi, maka spesies-spesies tanaman obat khawatirkan akan punah. Sebagian kecil masyarakat setempat sudah mengusahakan tanaman obat sebagai obat tradisional yang diambil baik dari akar, daun maupun buah, tetapi belum terinventarisasi dengan baik. Oleh karena itu perlu adanya upaya perlindungan dan inventarisasi tanaman obat sebagai pengetahuan tradisional dan kekayaan intelektual, yang pada waktunya nanti diperlukan sebagai referensi dalam pengembangan lebih lanjut. Kegiatan eksplorasi dilakukan di lima kabupaten yaitu Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Barito Selatan, Barito Utara dan Murung Raya, mulai bulan Maret sampai dengan Desember 2005. Tujuan kegiatan ini adalah Mendapatkan informasi tentang jenis dan karakteristik tanaman obat secara ex-situ, dokumentasi serta informasi pemanfaatannya oleh masyarakat lokal. Kegiatan yang dilakukan meliputi: (1) Eksplorasi, (2) Karakterisasi, dan (3) Konservasi ex-situ, tiap kegiatan diikuti dengan dokumentasi data. Hasil kegiatan tersebut ditemukan 5 tanaman obat yang dapat digunakan sebagai sumber biofarmaka. Kata kunci: eksplorasi, konservasi, karakterisasi dan tanaman obat
KAJIAN TEKNOLOGI USAHATANI PADI DI LAHAN KERING KALIMANTAN TENGAH Krismawati, Amik
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Central Kalimantan is an Indonesian province that very potential to create paddy production due to its huge area (it has 14.63 million ha up land). BPTP Central Kalimantan has conducted a technological study based on paddy farming during rainy season. The study was conducted on a dry land at Rodok Village, Dusun Tengah District, Barito Timur Residency from September 2003 until January 2004. The purpose of this study was: 1). to find out the information on characteristic location, 2). to identify the right paddy variety which has a high yield and adaptive on dry land, 3). to find out the technological component of paddy system in dry land. The model used on this study is an `on farm research activity. The preliminary activity was to identify the characteristics of the specific location by using Participatory Rural Appraisal (PRA). The assessment was set in Randomized Block Design with twelve treatments and four replications. The treatments were: adaptive technology test of paddy VI = Towuti, V2 = Situbagendit, V3 = Situpatenggang. The dosages of fertilizing patterns were P1 = 100 kg Urea + 50 kg SP-36 + 50 kg KCI + 2.000 kg compost, P2 = 200 kg Urea + 50 kg SP- 36 + 50 kg KC1 + 1.000 compost, P3 = 250 kg Urea + 150 kg SP-36 + 100 kg KCI. The results showed that the best paddy variety and adaptive one was Situpatenggang and the best fertilizer pattern was P2 = 200 kg Urea + 50 kg SP 36 + 50 kg KCI + 1.000 kg compost. The data were analyzed using ANOVA and BNJ 5%. The results showed that those combination mentioned above, produced paddy seed yields as many as 4.65 ton/ha with R/C 2.12, providing a net income of Rp.3.180.000,-. Key words: variety, fertilizer, paddy, dry land farming, Central Kalimantan   Kalimantan Tengah merupakan salah satu provinsi yang berpotensi cukup besar dalam upaya peningkatan produksi padi nasional, karena memiliki lahan kering seluas 14,63 juta hektar. Salah satu upaya yang ditempuh oleh BPTP Kalimantan Tengah dalam peningkatan produksi padi adalah melaksanakan Pengkajian Sistem Usahatani Padi di Lahan Kering. Pengkajian dilaksanakan pada musim hujan dengan luas hamparan 5,3 hektar yang melibatkan 12 petani kooperator. Tujuan kegiatan adalah (1) mendapatkan informasi karakteristik lokasi pengkajian, (2) mengetahui varietas padi yang unggul dan adaptif untuk lahan kering dan (3) mendapatkan komponen teknologi usahatani padi di lahan kering. Kegiatan dilakukan secara on farm research dan diawali dengan karakterisasi lokasi pengkajian dengan metode Participatory Rural Appraisal (PRA). Pengkajian dilaksanakan di Desa Rodok, Kecamatan Dusun Tengah, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah. Pengkajian berlangsung mulai bulan September 2003 sampai dengan Januari 2004. Pengkajian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan dua betas perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan berupa varietas unggul padi yaitu VI = Towuti, V2 = Situbagendit, dan V3 = Situpatenggang. Perlakuan pemupukan terdiri dari PI = 100 kg Urea + 50 kg SP-36 + 50 kg KC1 + 2.000 kg kompos, P2 = 200 kg Urea + 50 kg SP-36 + 50 kg KCI + 1.000 kg kompos, P3 = 250 kg Urea + 150 kg SP-36 + 100 kg KCI. Data dianalisis dengan menggunakan ANOVA dilanjutkan uji BNJ 5 %. Hasil pengkajian menunjukkan varietas padi yang adaptif adalah Situpatenggang dengan dosis P2 = 200 kg urea + 50 kg SP 36 + 50 kg KCI + 1.000 kg kompos. Kombinasi perlakuan tersebut memberikan hasil 4,65 ton/ha gabah kering dengan R/C 2,12 dengan keuntungan sebesar Rp.3.180.000,-. Kata kunci: varietas, pupuk, padi, usahatani lahan kering„ Kalimantan Tengah
ANALISIS KUALITAS RELATIF PROTEIN JAGUNG SECARA IN VIVO DENGAN METODE PDCAAS Wylis Arief, Ratna
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The protein content in each maize varies depends on its quantity and quality. The quality of protein in food materials is determined by its protein rate and amino acid pattern, because every type of Cereal has different composition and amino acid pattern. The protein is needed to grow and produce and to keep a normal health, so that the ideal protein must have amino acid formation that matches with the requirement of human and animal. PDCAAS represents a way of newly introduced by FAO to compare the quality of all kinds of protein pursuant to requirement of amino acid at human being. The research was executed by using in vivo method on white mice (Sparague Dawley) as an attempted animal, and applies 4 maize varieties as main feed to know the quality of protein. The four maize varieties used are QPM Srikandi Kuning (A); QPM Srikandi Putih (B); Bisi 2 (C); Lamuru (D), and group of metabolite (E) which only perceived its protein rate of digestion. The parameters observed are amino acid score, protein consumed, protein in fesses, digestion power, real digestion power and PDCAAS. The results showed that Lamuru variety has the best quality of protein with PDCAAS value is 46.02 and statistically not different with Srikandi Kuning variety that has PDCAAS value is 42.92. To conclude, the varieties are acceptable as a primary food for developed countries such as Indonesia, because they contain good protein quality. Key words: maize, quality, protein, PDCAAS   Protein yang terdapat di dalam setiap varietas jagung sangat bervariasi baik jumlah maupun kualitasnya. Kualitas protein bahan pangan ditentukan oleh kadar protein dan pola asam amino penyusunnya dan setiap jenis serealia mempunyai komposisi dan pola asam amino yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas protein beberapa varietas jagung dengan menggunakan metode PDCAAS dan dilakukan secara in vivo. Sasaran dari penelitian ini adalah sebagai bahan pangan bagi manusia, karena itu digunakan tikus putih jenis Sparague Dawley sebagai hewan percobaan karena sistim pencernaan pada tikus putih mirip dengan sistim pencernaan pada manusia dan 4 varietas jagung yang akan diketahui kualitas proteinnya, masing-masing adalah: QPM Srikandi kuning (A); QPM Srikandi putih (B); Bisi 2 (C); Lamuru (D), dan kelompok metabolit (E) yang hanya diamati kadar protein fesesnya untuk penghitungan daya cerna sejati. Perlakuan disusun dalam RAK, dengan 8 ulangan. Parameter pengamatan meliputi skor asam amino, jumlah protein yang dikonsumsi, jumlah protein dalam feses, daya cerna, daya cerna sejati, dan PDCAAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan penentuan nilai PDCAAS, jagung varietas Lamuru mempunyai kualitas protein yang terbaik dengan nilai PDCAAS sebesar 46,02 dan secara statistik tidak berbeda nyata dengan jagung QPM Srikandi Kuning dengan nilai PDCAAS sebesar 42,92, sehingga dapat menjadi salah satu makanan pokok dengan kualitas protein yang baik, terutama untuk negara berkembang seperti Indonesia. Kata kunci:jagung, kualitas, protein, PDCAAS

Page 10 of 64 | Total Record : 634


Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue