cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
PENGKAJIAN BUDIDAYA ULAT SAGU SEBAGAI SUMBER PROTEIN PAKAN TERNAK Nagib Edrus, Isa; Bustaman, Sjahrul
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 3 (2007): November 2007
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Assessment on Sago Larva Cultivation as a Protein Source of Feed. The area of sago crops in Moluccas is 31.360 ha with the number of sago tree ready to be harvested amounted 86 trees per ha. One of the wastes from harvesting sago crop is the tree sprouts which are not utilized and become places for coconut red beetles (Rhynchophorus ferrugenesis) to lay eggs. Larva from these beetles is known as sago larva, usually consumed by Moluccas and Papua societies. When the sago larvas become adults, they will transform into coconut beetles, which are pests for coconut crops. Research on potencies and cultivation techniques was conducted in 2006 with purposes to obtain: 1) natural and artificial cultivation techniques, 2) spawning time and season, and 3) nutrient value and potencies of sago larva. The estimation on potency was obtained from surveys at sago processing centers in South East Moluccas Regency, Central Moluccas Regency, and Western Seram. Cultivation techniques were differentiated between natural and artificial. Laboratory analysis was conducted to obtain the nutrient value and essential amino acid content. Statistical test was conducted on the data resulting from treatment comparisons. The result of the study shows that larva sago potency in Moluccas is estimated to be equal to 935 tons based on sago crop area, with a productivity of 2.52 kg/ m. Spawning season is all year long with harvesting time of 39-45 days post tree cutting. Natural cultivation is more successful compared to the artificial one. Sago larva contains 13.80% protein, 18.04% fat and essential amino acids. Sago larva is expected to be used as source of proteins to substitute fish meal. Key word: Cultivation, sago larva, Moluccas. Luas areal tanaman sagu di Maluku 31.360 ha dengan jumlah pohon sagu siap panen sebanyak 86 pohon per ha. Salah satu limbah dari hasil panen sagu adalah batang bagian pucuk pohon yang tidak dimanfaatkan, dan tempat bertelurnya kumbang merah kelapa (Rhynchophorus ferrugenesis). Larva dari kumbang ini dikenal dengan ulat sagu, yang biasanya dikonsumsi oleh masyarakat Maluku dan Papua. Apabila ulat sagu menjadi dewasa akan berubah menjadi kumbang kelapa, yang merupakan hama pada tanaman kelapa. Pengkajian besarnya potensi dan teknik budidaya telah dilakukan pada tahun 2006 dengan tujuan: 1) mendapatkan teknik budidaya secara alami dan buatan (artifisial), 2) musim dan waktu pemijahan, 3) besarnya potensi dan nilai gizi ulat sagu. Perkiraan besarnya potensi didapat dari survei di sentra-sentra pengolahan sagu di Maluku pada Kab Maluku Tenggara, Kab Maluku Tengah dan Seram Bagian Barat. Sedangkan teknik budidaya dibedakan secara alami dan buatan (artifisial). Pengujian laboratorium dilakukan untuk mendapatkan nilai gizi dan kandungan asam amino esensial. Uji statistik dilakukan pada data hasil perbandingan perlakuan. Hasilpengkajian menunjukan berdasarkan ketersediaan luas areal tanaman sagu di Maluku, potensi ulat sagu diperkirakan sebesar 935 t, dengan produktivitas 2,52 kg/m. Musim pemijahan sepanjang tahun dengan waktu panen 39-45 hari dari pasca tebang pohon. Budidaya secara alami lebih berhasil dibandingkan dengan cara buatan (artifisial). Ulat sagu memiliki kandungan protein 13,80%, lemak 18,04% dan asam amino esensial. Ulat sagu diharapkan dapat dipakai sebagai sumber protein pada pembuatan pakan sebagai pengganti tepung ikan. Kata kunci: Budidaya, ulat sagu, Maluku
PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK BATANG (Zeuzera coffeae Neitner) PADA TANAMAN KELENGKENG (Dimocarpus longan (Lour) Steud.) , Yulianto
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 3 (2007): November 2007
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Control of Stem Borer (Zeuzera coffeae Neitner) on Longan Plants (Dimocarpus longan (Lour) Steud.). Stem borer (Zezcera coffeae Neitner) is one of major pests having an economic importance on longan (Dimocarpus longan (Lour) Steud.) in Temanggung Regency of Central Java Province. The larvae bore into the cambium then girdle the stem or branch of longan causing death to the plants starting from the girdled parts. The assessment was designed using Factorial Design with two replicates. The first factor was the severity levels of the attacked plants attacked by the pest, i.e.: a. light, b. medium, c. severe. The second factor was the controlling techniques, i.e.: a. applied with carbofuran G, b. applied with fipronil EC, c. applied with the combination of carbofuran G and fipronil EC, d. without insecticide application as the control. Each severity level consists of 5 plants. The objective of this assessment was to obtain the controlling technique for stem borers on longan. The assessment results show that carbofuran G was more effective in controlling the pest than fipronil EC. Plants attacked with light and medium severity levels which were treated with carbofuran G or carbofuran G + fipronil EC could completely recover and yielded normally. By the controlling method, the plants attacked severely could be 67% and 73% recovered. Key words: Stem borer, longan, carbofuran, fipronil Penggerek batang (Zeu:era coffeae Neitner) adalah salah satu hama utama yang mempunyai arti ekonomi penting pada tanaman kelengkeng (Dimocarpus longan (Lour) Steud.) di Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah. Larva penggerek batang membuat lubang hingga mencapai kambium kemudian menggerek kayu batang atau dahan melingkar hingga dapat menyebabkan mati ujung tanaman mulai dari bagian yang digerek. Pengkajian ini disusun menggunakan rancangan Faktorial, dengan dua ulangan. Faktor pertama adalah tingkat keparahan tanaman yang diserang penggerek batang, yaitu: a. ringan, b. sedang, c. berat. Faktor kedua adalah teknik pengendalian, yaitu: a. diaplikasi dengan karbofuran G, b. diaplikasi dengan fipronil EC, c. diaplikasi dengan kombinasi karbofuran G dan Fipronil EC, d. tanpa aplikasi insektisida sebagai kontrol. Setiap tingkat keparahan terdiri atas 5 pohon. Tujuan dari pengkajian ini adalah untuk mendapatkan teknik pengendalian penggerek batang pada tanaman kelengkeng. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa insektisida karbofuran G lebih efektif untuk pengendalian hama tersebut daripada fipronil EC. Tanaman yang terserang dengan tingkat keparahan ringan dan sedang yang diaplikasi karbofuran G atau karbofuran G + fipronil EC dapat pulih kembali dan berproduksi normal. Melalui cara pengendalian tersebut, tanaman yang terserang dengan tingkat keparahan berat dapat pulih kembali masing-masing sebanyak 67% dan 73%. Kata kunci: Penggerek batang, kelengkeng, karbofuran, fipronil
ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGEMBANGAN INDUSTRI KELAPA TERPADU SKALA PEDESAAN DI SULAWESI UTARA G. Kindangen, Jantje
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 3 (2007): November 2007
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Feasibility Analisis on The Developmet of Rural Scale Integrated Coconut Industry in North Sulawesi. Based on the coconut potencial at the rural of coconut central in North Sulawesi indicates that there can be built coconut industry exertion integratedly so that the economical coconut value of the farmers will be shifted to the processed product. The aim of this research is to know the worthiness of developing the integrated coconut industry. The rusult showed that some central villages of coconut have the opportunity to be built integrated coconut industries with the products of more than 200 ton/rural/year. The economical value of famers coconut depends on the primary product, such as coconut shells or copra with the price or 400-500 rupiahs/granule, or 2000-2500 rupiahs/kg of copra. The analysis result of financial indicated that the products of VCO, nata de coco, vinegar acid, charcaol and fiber husk are profitable things, for commercial exertion with the value of B/C is greater than 1, NPV is positive, and IRR value is greater than the rate of return. By applying this integrated industrial exertion, its production value is more than 1 milliard rupiahs or NPV is more than 600 million rupiahs/rural/year. Comparing with the primary products it only has production value of 225 million rupiahs or its NPV only 112.5 million rupuiahs. Beside of that from this exertion it can absorb labourers at least 12-15 workers with the value of 180-225 million rupiahs/year. By the existence of the integrated coconut industry at the rural of coconut central, the economical value of coconut can achieve to 5-7 times from the primary product. Key words: Feasibility exertion, coconut industry, processed, rural Berdasarkan potensi kelapa di Sulawesi Utara, pada desa-desa sentra kelapa sangat berpeluang untuk dibangun usaha industri kelapa secara terpadu sehingga nilai ekonomi kelapanya di tingkat petani akan beralih pada beberapa produk olahan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kelayakan usaha pengembangan industri kelapa secara terpadu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di desa-desa sentra kelapa berpeluang untuk dibangun industri kelapa secara terpadu dimana pada lokasi ini mempunyai potensi produksi kelapa setara kopra lebih dari 200 t/desa/tahun. Nilai ekonomi kelapa yang dinikmati petani masih sangat tergantung dari produk primer, berupa butiran atau kopra dengan harga masing-masing Rp.400 — Rp.500/butir atau Rp.2.000— Rp.2500/kg. Hasil analisis kelayakan finansial menunjukkan bahwa usaha industri berupa produk VCO, nata de coco, asam cuka, arang tempurung, dan serat sabut adalah layak atau menguntungkan untuk usaha komersial dengan nilai B/Clebih besar 1, NPV bernilai positif, serta nilai IRR lebih besar dari rate of return. Melalui penerapan usaha industri ini secara terpadu diperoleh nilai produksi lebih dari Rp.1 milyar atau nilai kini bersih lebih dari Rp.600 juta/desa/tahun. Dibandingkan dengan produk primer saja hanya diperoleh nilai produksi Rp. 225 juta atau nilai pendapatan bersih hanya Rp.112.5 juta/tahun.. Selain itu, dari usaha ini dapat menyerap tenaga kerja sepanjang tahun sekitar 12-15 orang dengan nilai Rp.180 juta—Rp.225 juta/tahun. Dengan adanya usaha industri kelapa secara terpadu pada desa-desa sentra kelapa, nilai ekonomi kelapa meningkat sekitar 5-7 kali dari produk primer.Kata kunci: Kelayakan usaha, industri kelapa, olahan , pedesaan
PENINGKATAN NILAI TAMBAH PRODUK TEH HIJAU RAKYAT DI KECAMATAN CIKALONG WETAN-KABUPATEN BANDUNG Herawati, Heny; Nurawan, Agus
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 3 (2007): November 2007
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Increasing the Added Value of Green Tea Product at Cikalong Wetan Sub Distric, Bandung. Green tea has great function such as antioxidant, cholesterol reducer, antivirus, tumor and cancer prevent, stimulant and deodorant. Tea as one of priority commodity in west java is public plantation domain. Tea public plantation still faced several restricted. The alternative of solution increased the added value of public green tea. To Increase the added value of green tea with recovered processing unit, grading and packaging. The assessment held in August 2005 — December 2006 in East Cikalong sub district, Bandung district with involved farmer group such as Tunas Maju, Mekar Harapan, Bale Pulang Cipicung, Merpati and Bintara. The methodology was descriptive method through green tea recovering and shelf life technology. Based on the assessment, farmer income raise with R/C 2,34 or B/C 1,34. Key words: Increasing, added value, green tea   Teh hijau memiliki banyak nilai fungsional diantaranya sebagai antioksidan, menurunkan kolesterol, antivirus, menghambat pertumbuhan tumor dan kanker, stimulant serta penghilang bau (deodorant). Teh merupakan salah satu komoditas unggulan Jawa Barat dengan sebagian besar merupakan perkebunan teh rakyat. Dalam pengusahaannya, teh rakyat masih mengalami beberapa kendala. Salah satu alternatif usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut, dengan jalan meningkatkan nilai tambah teh hijau rakyat. Untuk lebih meningkatkan nilai tambah teh hijau diantaranya yaitu dengan melakukan perbaikan proses pengolahan, kegiatan sortasi dan perbaikan pengemasan teh hijau. Pengkajian dimulai dari bulan Agustus 2005 - Desember 2006 di Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung dengan melibatkan gabungan kelompok tani yang terdiri dari kelompok tani Tunas Maju, Mekar Harapan, Bale Pulang Cipicung, Merpati dan Bintara. Metodologi pendekatan yang dilakukan yaitu dengan metode diskriptif melalui kegiatan perbaikan mutu teh hijau dan teknologi penyimpanan teh hijau. Berdasarkan pelaksanaan kegiatan pengkajian tersebut, diperoleh peningkatan pendapatan petani teh rakyat dengan nilai R/C sebesar 2,34 atau WC sebesar 1,34. Kata kunci: Peningkatan, nilai tambah, teh hijau
PENGKAJIAN PENGENDALIAN PENYAKIT BUSUK KERING BUAH PALA (Stigmina myristicae (Stein.) Mand.-Sum. et Rifai) DI TIDORE KEPULAUAN Lala, Fredy; Assagaf, M.; J. Mejaya, Made
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 3 (2007): November 2007
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Assessment on the Control of Dry Blight Nutmeg Fruit (Stigmina myristicae (Stein.) Mand.-Sum. et Rifai) in Tidore Island. North Maluku is one of the nutmeg central areas with its productivity of 0.25 t per hektar. Low productivity is due to the high invation of dry blight desease on nutmeg fruit of appoximately 50 percent. The assesment was aimed to optain the production technology to control effectively dry blight desease, increase production, and enhance farmers income. The assessment was conducted at Jaya village, Tidore Kepulauan city, North Maluku Province from March to November 2006 by applying before and after application approach. The number of cooperator farmers were twelve people, each farmer have ten nutmeg tree which were productive and more than 15 years old trees. Introduction technology package were mechanism technis + cultural + chemical and were comparised to farmers technology. The observation parameter is fresh fruits number, infected fruits number, desease intencity, nutmeg fruit production and farmers response to technology. Technically and financially technology properness were measured using R/C, B/C and MBCR indicators. The result of the assessment was the introduction technology package to control effective dry blight desease of until 28.7 percent, increased nutmeg fruit production 76.1 percent and increased income 76.1 percent. Introduction technology package is proper at R/C = 7.75 and B/C = 6.75, and acceptanced and recommended proper at MBCR = 5.29 Farmers response was positive and it gave a satisfying value on the introduction of technology package. Key words: Nutmeg fruit, control, dry blight Maluku Utara adalah salah satu daerah sentra tanaman pala dengan tingkat produktifitas 0,25 t/ha. Rendahnya produktifitas salah satunya disebabkan tingginya tingkat serangan penyakit busuk kering pada buah pala yaitu hingga 50%. Pengkajian bertujuan untuk mendapatkan teknologi produksi yang efektif mengendalikan penyakit busuk kering, meningkatkan produksi dan pendapatan petani. Kajian dilakukan di Kelurahan Jaya, Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara, dari bulan Maret sampai November 2006 dengan menggunakan pendekatan sebelum dan sesudah perlakuan. Jumlah petani kooperator 12 orang dan masing-masing memiliki 10 pohon pala yang produktif dan berumur diatas 15 tahun. Paket teknologi introduksi yaitu teknik mekanis + kultural + kimia dan sebagai pembanding yaitu teknologi petani. Parameter pengamatan adalah jumlah buah sehat, buah terserang penyakit, intensitas serangan penyakit, produksi buah pala dan respon petani terhadap teknologi. Kelayakan teknologi secara teknis dan finansial diukur dengan indikator R/C, B/C dan MBCR. Hasil pengkajian diperoleh paket teknologi introduksi yang efektif mengendalikan penyakit busuk kering buah pala hingga 28,7%, meningkatkan produksi buah pala sehat sebesar 76,1% dan menambah pendapatan petani sekitar 76,1%. Nilai R/C : 7,75 dan B/C : 6,75 menunjukkan bahwa introduksi paket teknologi layak untuk dilakukan sedangkan MBCR = 5,29 menunjukkan bahwa introduksi paket teknologi dapat diterima oleh petani dan layak direkomendasikan. Respon petani positif dan memberikan nilai yang memuaskan terhadap introduksi paket teknologi.Kata kunci : Pala, pengendalian, busuk kering
TEKNOLOGI PENINGKATAN INTENSITAS PERTANAMAN SAWAH TADAH HUJAN DI SULAWESI TENGAH Bakhri, Syamsul; , Hartono; Sannang, Zaenaty; Purwaningsih, Heny
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The assessment was aimed at obtaining the technology packages of cropping patterns in the specificlocation of rainfed lowland using soybean, mung bean, rice ratooning of the first planting season. Theassessment was conducted in Wanagading village, Moutong subdistrict, Donggala, Central Sulawesi from Marchto December 2001. The assessment was done using randomized block design with four replications. Thetechnology packages of cropping patterns assessed were (1) rice-soybean with minimal inputs, (2) rice-soybeanwith optimal inputs, (3) rice-mungbean with low inputs, (4) rice-mungbean with optimal inputs, (5) rice-ricerationing, and (6) farmers’ cropping pattern as the control. Rice crops in the first planting season used Digulvariety with fertilizers dosage of 200 kg of Urea, 100 kg of SP36, and 50 kg of KCl per hectare. In the secondplanting season, soybean and mungbean with optimal input were treated with Urea of 100 kg per hectare,respectively, and those with low input were treated with Rhizobium for soybean and no fertilizer for mungbean.The cropping patterns of rice-soybean and rice-rice ratooning could increase cropping intensity up to 134.6 and96.8 percent, respectively, and R/C ratio of farmers income to 2.24 and 2.34, respectively.Key words : technology packages, cropping patern, rice, soybean, mungbean, ratooningPengkajian bertujuan untuk mendapatkan paket teknologi pola tanam spesifik lokasi denganmemanfaatkan tanaman kedelai, kacang hijau dan pemeliharaan ratun tanaman padi pertama. Kegiatan perakitanpaket teknologi dilaksanakan di Desa Wanagading Kecamatan Moutong Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengahdari bulan Maret sampai Desember 2001. Pengkajian bertujuan untuk mendapatkan paket teknologi pola tanamspesifik lokasi dengan memanfaatkan tanaman kedelai, kacang dan hijau dan pemeliharaan ratun tanaman padipertama. Pengkajian menggunakan rancangan acak kelompok dengan empat ulangan. Paket teknologi yangdikaji adalah : (1) pola tanam padi-kedelai dengan masukan minimal, (2) pola tanam padi-kedelai denganmasukan optimal, (3) pola tanam padi-kacang hijau dengan masukan rendah, (4) pola tanam padi-kacang hijaudengan masukan optimal, (5) pola tanam padi-pemeliharaan ratun, (6) pola petani (kontrol). Tanaman padi padamusim pertama mengunakan varietas Digul dengan pemupukan 200 kg urea, 100 kg SP36 dan 50 kg KCL perha. Pada musim kedua, tanaman kedelai dan kacang hijau pada masukan optimal dipupuk dengan Urea sebanyak100 kg/ha sedangkan untuk masukan rendah hanya diberi Rhizobium sebagai seed treatment untuk tanamankedelai, sedangkan untuk tanaman kacang hijau tidak dipupuk. Hasil pengkajian menunjukkan bahwapemupukan NPK pada tanaman padi pada musim pertama cenderung meningkatkan hasil panen padi, demikianpula terhadap tanaman kedelai dan kacang hijau yang dipupuk dengan urea. Pola tanam padi-kedelai denganmasukan rendah dan padi-pemeliharaan ratun dapat meningkatkan intensitas pertanaman, panen dan pendapatanusahatani lahan sawah tadah hujan masing-masing sebesar 134,6 dan 96,8 persen dengan nilai R/C masingmasing2,24 dan 2,34.Kata kunci : paket teknologi, pola tanaman, padi, kedelai, kacang hijau, ratun.
PERILAKU PETANI DALAM KONSERVASI LAHAN PADA SISTEM USAHA PERTANIAN PADI SAWAH IRIGASI DI IMOGIRI, BANTUL Ratnada, Made; , Yusuf
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study aimed to identify farmers’ behavior in land conservation on irrigated lowland rice farmingsystem, factors affecting farmers’ behavior level, and correlation between farmers’ behavior level and both farmincomes and productivity. The study was conducted in Kebon Agung village, Imogiri subdistrict, Bantul,Yogyakarta province from May to June 2002. There were 80 respondents of farmers selected through stratifiedrandom sampling out 5 farmers’ groups, i.e., 16 farmers for each group. Farmers’ behavior was analyzed usingChi Square (2). The factors affecting farmers’ behavior were analyzed using Ordinary Least Square continuedwith path analysis. Correlation between farmers’ behavior and both farm incomes and productivity wasevaluated using Product Moment Pearson. The results showed that on general the farmers’ behavior level wasmoderate. Factors affecting farmers’ behavior in land conservation were farmers’ motivation to reach success,farmers’ knowledge on land conservation, farmers’ initiatives to get information, and extension intensity.Farmers’ behavior in land conservation was highly correlated with farm incomes and productivity.Key words : farmers’ behaviour land, conservation, irrigated rice field, rice farming. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari tingkat perilaku petani dalam konservasi lahan pada SistemUsaha Pertanian (SUP) Padi Sawah Irigasi; serta faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan antara tingkatperilaku tersebut dengan produktivitas dan pendapatan usahatani padi. Penelitian dilaksanakan di Desa KebonAgung, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta selama dua bulan dari bulan Meisampai Juni 2002. Petani responden berjumlah 80 orang yang diambil secara Stratified Random Sampling dari 5kelompok tani, yaitu 16 petani untuk setiap kelompok. Untuk mengetahui tingkat perilaku digunakan pengujianChi Square (X2 ), sedangkan untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi diidentifikasi dengan modelregresi linear berganda dengan metode Ordinary Least Square, yang dikembangkan ke analisis jalur (pathanalysis). Korelasi antara perilaku petani dengan produktivitas dan pendapatan usahatani padi sawah irigasidievaluasi dengan menggunakan teknik korelasi product moment pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwapada umumnya tingkat perilaku petani dalam Konservasi Lahan pada SUP Padi Sawah Irigasi tergolong sedang.Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku petani dalam konservasi lahan adalah motivasi petanimencapai keberhasilan, wawasan petani tentang konservasi lahan, keaktifan petani mencari informasi konservasilahan, dan intensitas penyuluhan tentang konservasi lahan. Perilaku petani dalam konservasi lahan mempunyaikorelasi yang kuat dan positif dengan produktivitas dan pendapatan usahataninya.Kata kunci : perilaku petani, konservasi lahan, sawah irigasi, usahatani padi
TINGKAT ADOPSI TEKNOLOGI USAHATANI PADI LAHAN SAWAH DI JAWA TIMUR : Suatu Kajian Model Pengembangan “Cooperative Farming” , Wahyunindyawati; Kasijadi, F.; , Heriyanto
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study aimed at assessing factors affecting farmers to adopt technology of lowland rice farmingsystem using cooperative farming model. The study was conducted in Jember district during the wet season of2000/2001. Total samples were 105 farmers and data collection was done through a farm record keeping method.Data were analyzed using logit function. The results showed that factors affecting farmers’ adoption of culturalpractices were plant spacing within a legowo parallel system, choice of improved variety of Way Apu Buru,quantity of seed, and balanced fertilizer in the specific location. Factors affecting adoption of legowo parallelsystem and choice of the Way Apu Buru variety were costs of inputs, total labor, farming experiences, andprofitability. The factor of land area affected only plant spacing of legowo parallel system. Adoption of seedapplication was affected by total labor, land area, and educational background of the farmers. Balanced fertilizerapplication in the specific location was affected by costs of inputs and profitability. To encourage farmers toadopt new technology of rice farming system in the cooperative farming model, it requires the governmentprograms to improve farmers’ skills and knowledges through extension and capital credit.Key words : technology adoption, rice field, cooperative farming. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat adopsi petaniterhadap teknologi sistem usahatani padi di lahan sawah dalam model cooperative farming. Penelitiandilaksanakan di Kabupaten Jember pada musim hujan 2000/2001. Total petani contoh sebanyak 105 orang, danmetode pencatatan usahatani farm record keeping method digunakan dalam pengumpulan data. Analisa datamenggunakan model fungsi logit. Hasil penelitian menunjukkan keragaman faktor-faktor yang mempengaruhitingkat adopsi petani terhadap beberapa teknologi budidaya, antara lain : jarak tanam sistem jajar legowo;pemilihan varietas unggul padi Way Apu Buru; jumlah benih yang digunakan; dan penggunaan pupukberimbang spesifik lokasi. Faktor yang mempengaruhi adopsi jarak tanam sistem jajar legowo dan pemilihanvarietas Way Apo Buru adalah biaya sarana produksi, jumlah tenaga kerja, pengalaman usahatani dan tingkatkeuntungan. Faktor luas lahan, hanya mempengaruhi adopsi jarak tanam sistem jajar legowo. Adopsipenggunaan benih dipengaruhi oleh jumlah tenaga kerja, luas lahan dan tingkat pendidikan petani. Sedangkanpenggunaan pupuk berimbang spesifik lokasi dipengaruhi oleh biaya sarana produksi dan tingkat keuntungan.Dalam upaya peningkatan adopsi petani terhadap teknologi usahatani padi dalam model kooperatif usahatanimasih diperlukan dukungan program peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani melalui penyuluhan danbantuan permodalan.Kata kunci : adopsi teknologi, padi sawah, usaha kooperatif
KAJIAN ADOPSI PAKET TEKNOLOGI SISTEM USAHA PERTANIAN KEDELAI DI JAWA TIMUR Santoso, Pudji; Suryadi, Agus; Subagiyo, Herman; , Yuniarti
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study was conducted on irrigated lowland in Bojonegoro district and on dryland in Pasuruandistrict in 1999/2000. Data collection was done through survey method and consisted of farmers’ characteristics,technology applied, productivity and farms’ incomes. The study aimed to get information on (1) adoption anddiffusion levels of the recommended technology, (2) impacts of recommended technology on productivity andfarms’ incomes. Adoption level of recommended technology was higher in lowland in Bojonegoro (67%) thanthat in dry land in Pasuruan (44%). Diffusion level of technology to the non participating farmers in Bojonegorowas higher (55%) than that to the non participating farmers in Pasuruan. Productivity and income of soybeanfarms in Bojonegoro increased by 21and 104 percents, respectively. In Pasuruan, productivity and farms incomesincreased by 11 and 89 percents, respectively. To sustain adoption of recommended technology on soybeanfarming system, it requires (1) on time inputs provision, (2) extension workers’ guidance since planting to postharvest, (3) feasible and stable floor price, (4) farmers’ participation and awareness, and (5) local governments’supports.Key words : farming system pattern, technology, lowland, adoption, diffusionKajian adopsi paket teknologi ini dilakukan di Kabupaten Bojonegoro untuk lahan sawah dan diKabupaten Pasuruan untuk lahan tegal, tahun 1999/2000. Pengumpulan data yang meliputi karakteristik petani,penerapan teknologi serta produktivitas dan pendapatan usahatani kedelai dilakukan dengan metode survai.Kajian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang (1) tingkat adopsi dan difusi paket teknologi anjurandan (2) dampak teknologi anjuran terhadap produktivitas dan pendapatan usahatani. Hasil kajian menunjukkanbahwa tingkat adopsi paket teknologi anjuran untuk lahan sawah di Bojonegoro (67%) lebih tinggidibandingkan paket teknologi anjuran lahan tegal di Pasuruan (44%). Demikian pula paket teknologi anjuranyang terdifusi oleh petani non-peserta di Bojonegoro lebih tinggi dibandingkan di Pasuruan (42%). Produktivitasdan pendapatan usahatani kedelai lahan sawah di Bojonegoro masing-masing meningkat sebesar 21 dan 104persen, sedangkan lahan tegal di Pasuruan meningkat sebesar 11 dan 89 persen. Agar adopsi teknologi budidayakedelai dapat berlanjut, maka diperlukan; (1) penyediaan sarana produksi tepat waktu, (2) bimbingan olehpetugas secara terus menerus, sejak tanam hingga pasca panen, (3) jaminan harga yang layak dan stabil, (4)kesadaran dan partisipasi petani dan (5) dorongan pemerintah daerah.Kata kunci : pola usahatani, teknologi, lahan sawah, adopsi dan difusi
KAJIAN RAKITAN TEKNOLOGI BUDIDAYA BAWANG DAUN (Allium fistulosum L) PADA LAHAN DATARAN TINGGI DI BANDUNG, JAWA BARAT Sutrisna, Nana; Ishaq, Iskandar; Suwalan, S.
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Welsh onion is prosperous to grow intensively to its increasing demand for either domestic or exportmarkets. Productivity at farm level, however, is still low due to unavailable appropriate cultural practice. Thisstudy aimed to know the technical and finacila performances of application of improved cultural practice ofwelsh onion carried in Alamendah village, Rancabali subdistrict, Bandung district with elevation of 1,400 mabove sea level on 2001 dry season (April-June 2001). The method used was “On-Farm Client OrientedAdaptive Research” (OFCOAR). Experimental plots were divide into two treatments, i.e., improved culturalpractice of welsh onion (T1) and local cultural practice (T2) with replications of 8 farmers. The results showedthat improved cultural practice significantly affected crops’ height, total shoots, and yields. The yield increasedby 6.6 tons/ha or 78.6 percents, and net profits increased by Rp 3,865,525 or more than 129 percents withparticipating farmers’ B/C ratio of 1.34 and that of non participating farmers of 0.80. The value of IBCR of 2.73indicated that addition of one unit of input could increase wells onion farm business by 2.73 times.Key words : cultural practice, welsh onion, highland farmingBawang daun memiliki prospek yang cukup baik seiring dengan peningkatan kebutuhan permintaankonsumen domestik maupun untuk tujuan ekspor. Namun demikian, pada saat ini produktivitas rata-rata ditingkat petani masih relatif rendah akibat belum tersedianya rakitan budidaya yang optimal. Pengkajian inibertujuan mengetahui keragaan teknis dan finansial penerapan perbaikan rakitan teknologi budidaya bawangdaun yang dilaksanakan di desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, dengan tinggi tempat1.400 m dari permukaan laut (dpl) pada MK 2001 (April-Juni 2001). Pendekatan dilakukan berdasarkan “On-Farm Client Oriented Adaptive Research” (OFCOAR). Rancangan percobaan petak dibagi menjadi duaperlakuan, yaitu (T1) perbaikan rakitan teknologi budidaya bawang daun dan (T2) teknologi petani setempatyang diulang pada 8 orang petani. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa penerapan perbaikan teknologibudidaya memperlihatkan perbedaan yang sangat nyata pada tinggi tanaman, jumlah tunas, dan hasil bawangdaun. Hasil panen meningkat 6,6 ton/ha atau 78,6 persen dan pendapatan bersih meningkat sebesar Rp.3.865.525,00 atau lebih dari 129 persen dengan BC ratio 1,34 pada petani kooperator dan 0,80 pada petani nonkooperator.Nilai IBCR 2,73 berarti bahwa penambahan satu satuan input dapat meningkatkan pendapatanusahatani bawang daun sebesar 2,73 kali.Kata kunci : teknologi budidaya, bawang daun, usahatani dataran tinggi

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue