cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Iptek Tanaman Pangan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 189 Documents
Pengembangan Tanaman Sela di Bawah Tegakan Tanaman Tahunan Didy Sopandie; Trikoesoemaningtyas Trikoesoemaningtyas
Iptek Tanaman Pangan Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Development of Crops Variety Tolerant to Low-light Intensity for Intercropping. The effort to increased food crops production is limited by the lack of arable land. Therefore, there is a need to utilize marginal areas such as land under estate crops which is partly shaded and hence have low light intensity as well as high acidity and drought condition. Production increase is marginal areas, such as lands under canopies of estate crops, could be achieved by improvement in (1) crop adaptation to abiotic stresses and resistance to biotic stress, (2) yield potential, and (3) cultural techniques which are based on knowledge in plant physiology and ecophysiology. A collaborative research on plant physiology, molecular biology and plant breeding is affected to be able to create approviate technologies to overcome those problems. Food crops which are potential to be produced under shaded condition as intercrops are upland rice, soybean, taro, elephant foot yams, and legume crops. Plant adaptation to low-light intensity is achieved through efficiency in light interception (avoidance) and utilization (tolerance). Through integrated research of interdisciplinary approach several promising lines of soybean having high productivity under 50% shading were selected.
Integritas Kelembagaan Petani Gapoktan dan P3A Sri Wahyuni
Iptek Tanaman Pangan Vol 5, No 1 (2010): Juli 2010
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peraturan pemerintah No 38 tahun 2007 yang menetapkan bahwa Departemen Pertanian di samping bertanggung jawab terhadap pembinaan kelompok tani/Gapoktan juga terhadap P3A (semula menjadi tanggung jawab Departemen Pekerjaan Umum, PU), mulai berlaku pada tahun 2009. Anggota Gapoktan dan P3A adalah individu yang sama, dengan lingkungan alam dan sosial ekonomi yang sama. Maka mengintegrasikan kedua kelembagaan tersebut menjadi “Kelembagaan Kesejahteraan Petani” akan lebih efektif dan bermanfaat. Kelembagaan mencakup aspek “keorganisasian” dan “kelembagaan”. Teori pembangunan masyarakat “struktural fungsional” menekankan kedua aspek tersebut harus bekerjasama dengan baik sebagai suatu sistem. Kelembagaan Gapoktan yang memiliki multi peran tepat sebagai kelembagaan integrasi, dengan minimal lima subdivisi/seksi yaitu keuangan/ekonomi, pengadaan saprotan, pemasaran, teknologi plus menejemen ketersediaan air dalam struktur keorganisasian. Substansi “aspek kelembagaan” disarikan dari kelembagaan yang sukses, yang dimulai dari pemimpin yang mempunyai kepemimpinan yang kuat dan berorientasi bisnis.
Pemanfaatan Mikroba Penyubur Tanah sebagai Komponen Teknologi Pertanian Rasti Saraswati; Sumarno Sumarno
Iptek Tanaman Pangan Vol 3, No 1 (2008): April 2008
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemakaian pupuk sintetis yang makin meningkat setiap tahun mengindikasikan terjadinya penurunan efisiensi pemupukan. Berbagai teknik pemupukan dikembangkan untuk mengurangi kehilangan N, namun efisiensi penggunaan pupuk N belum optimal. Efisiensi pemupukan dapat ditingkatkan dengan menggunakan mikroba fiksasi N2, pelarut hara P dan K, dan pemacu pertumbuhan tanaman. Penggunaan mikroba penyubur tanah dapat menyediakan hara bagi tanaman, melindungi akar dari gangguan hama dan penyakit, menyediakan metabolit pengatur tumbuh dan menstimulasi sistem perakaran agar berkembang sempurna. Teknologi mikroba penyubur tanah yang dikenal sebagai pupuk hayati (pupuk mikroba) merupakan produk biologi aktif yang terdiri atas mikroba penyubur tanah untuk meningkatkan efisiensi pemupukan, kesuburan, dan kesehatan tanah. Dari aspek kemajuan teknologi, pemanfaatan mikroba sebagai pupuk hayati di Indonesia belum sepenuhnya berkembang, terutama karena belum adanya standar dan sistem pengawasan mutu pupuk hayati yang beredar di pasaran. Agar pemanfaatan pupuk hayati berdampak terhadap peningkatan pendapatan petani, maka teknologi pupuk hayati yang dimanfaatkan harus sudah matang, teruji dengan tingkat efisiensi tinggi dan memenuhi baku mutu. Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan pupuk hayati adalah: (1) pupuk hayati merupakan makhluk hidup yang perlu dipelihara dan memerlukan penanganan yang khusus agar tetap hidup sebelum diaplikasi- kan dan dapat berkembang di dalam tanah setelah inokulasi, (2) cara pengiriman pupuk hayati kepada pengguna (petani) dan cara penyimpanannya agar mikroba yang dikandungnya tetap hidup. Oleh karena itu, dalam pemanfaatannya diperlukan penyuluhan agar pemanfaatan pupuk hayati berdampak terhadap peningkatan produksi dan pendapatan usahatani. Penggunaan pupuk hayati diharapkan dapat mendukung program kelestarian lahan dan penyelamatan ekosistem. Pemahaman proses dan strategi pemanfaatan pupuk hayati untuk memperbaiki kualitas tanah, dan memelihara keanekaragaman hayati akan menunjang keberlanjutan produktivitas lahan pertanian.
Kontribusi Hara Sulfur terhadap Produktivitas Padi dan Emisi Gas Rumah Kaca di Lahan Sawah A. Wihardjaka; Poniman Poniman
Iptek Tanaman Pangan Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

National food demand, especially rice increases in accordance with the rate of population growth. The availability of rice mostly is still relying on the intensification of irrigated and rainfed lowlands, through applying balance nutrients fertilization, including the management of sulfur (S). Sulfur as one of the essential nutrients, is required for protein and enzyme syntheses, amino acids formation and metabolic acticities in plants. However, the program of rice production increases is also impacting on the increase of atmospheric greenhouse gases. The objective of this paper was to discuss sulfur management on rice production system and its impact on greenhouse gas emissions in lowland rice areas in Indonesia. Sulfur fertilization of 20 kg S/ha along with the application of N, P, K fertilizers was considered adequate to provide better plant growth and to yield of 5 t grains/ha. Sulfur fertilization should be applied before active tillering phase by broadcasting on the surface of flooded lowland rice field to obtain higher efficiency of S fertilizer. Besides increasing crop yield, sulfuric fertilization on rice crop played a role in mitigating greenhouse gases emission. The sulfuric fertilizer application reduced atmospheric greenhouse gases (GHGs) release, especially CH4 and N2O from lowland rice. Balance sulfur fertilization could improve yield and grain quality of rice as well as mitigated greenhouse gas emissions from the lowland rice areas.
Kualitas Sumber Daya Air di Pantai Utara Wilayah Pengairan Jatiluhur Achmad M. Fagi
Iptek Tanaman Pangan Vol 1, No 2 (2006): November 2006
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Intensifikasi padi sawah mendorong pemakaian pupuk buatan dan insektisida yang dikhawatirkan mencemari air limbah sawah di sungai-sungai dan tambaktambak. Contoh air limbah dari sembilan desa di Kabupaten Karawang dan tiga desa di Kabupaten Bekasi yang potensial bagi budi daya udang windu dianalisis selama Mei-Oktober 1985. Contoh-contoh air tersebut diambil dari laut, muara sungai, saluran air, sungai, dan/atau tambak. Semuanya menunjukkan konsentrasi residu insektisida pada tingkat yang aman. Suhu air, pH, kandungan oksigen, salinitas, NO2, NO3, dan NO4 cukup baik untuk pertambakan udang windu. Mulai tahun 1987, pemakaian 57 jenis insektisida untuk padi sawah dilarang, kemudian diikuti oleh pencabutan subsidi insektisida. Pelarangan itu pasti membuat konsentrasi residu insektisida di air sawah saat ini jauh lebih rendah daripada saat analisis pada tahun 1985. Jika konsentrasi residu insektisida akan dipantau terus disarankan agar contoh air dimasukkan ke dalam botol gelas dan disimpan dalam ice box sebelum dan pada saat dibawa ke laboratorium untuk analisis.
Perkembangan Biotipe Hama Wereng Coklat pada Tanaman Padi Baehaki S. E.
Iptek Tanaman Pangan Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Brown planthopper (BPH) had attacked rice in Darmaga-Bogor since 1939, followed attacks in Yogyakarta and Mojokerto in 1940. In 1967, Indonesian goverment introduced high yielding rice varieties IR5 and IR8 with no resistance gene against BPH. In 1971 the explosion of BPH occured, because the BPH produced biotype 1. In 1975, to overcome the BPH biotype 1 outbreak, variety IR26 carrying resistant genes Bph1 was introduced, but in 1976 again an outbreak of BPH occured due to the BPH population had changed from biotype 1 to biotype 2. In 1980, to overcome the BPH biotype 2 rice variety IR42 (with resistant genes bph2) was introduced from IRRI, but in 1981 the outbreak occurred in Simalungun, North Sumatra and some other areas, because the BPH population had changed from biotype 2 to biotype 3. To overcome the BPH biotype 3 rice variety IR56 (Bph3 resistance gene) had been introduced in 1983 and rice variety IR64 carrying resistant genes Bph1+ in 1986. In 1991 seed of variety IR74 carrying resistant genes Bph3 was distributed. In 2006, resistance gene for BPH population in IR64 had brokendown, due to BPH population had changed to biotype 4. The stability of BPH biotype 0 had survived for 41 years before becoming BPH biotype 1. Changes of BPH biotype 1 to BPH biotype 2 took just four years, and changes of BPH biotype 2 to BPH biotype 3 required of only 5 years. Stability of BPH biotype 3 was the longest, from 1981 up to 2005, or about 24 years, of which the BPH population stable in biotype 3. The occurance of BPH biotype 3 was quite long times, due to the double genes resistant on variety IR64 (Bph1+) which resulted in a sustainable, durable resistance, acting as a buffer against the changes in BPH to more higher order of biotype. To stabilize the state of BPH biotype, various strategies are recommended, including varietal rotations and growing many varieties in one area to prevent a directional selection against new BPH biotype. Growing variety containing resistance gene to higher order of BPH is also prohibited.
Potensi Peningkatan Hasil Ubikayu melalui Stek Sambung (Mukibat) Budhi S. Radjit; Nila Prasetiaswati; Erliana Ginting
Iptek Tanaman Pangan Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budi daya ubikayu stek sambung (mukibat) telah lama dikenal, namun sejauh ini belum dikembangkan secara komersial oleh petani. Dengan meningkatnya permintaan ubikayu sebagai bahan baku bioetanol, maka cara ini mempunyai prospek yang baik dan mulai dikembangkan oleh beberapa pemerintah daerah dan petani, dengan harapan dapat meningkatkan produksi dan pendapatan petani. Hasil survei kelayakan usahatani menunjukkan belum ada teknologi baku untuk ubikayu stek sambung di tingkat petani. Meskipun demikian, penanaman ubikayu stek sambung mempunyai potensi hasil yang baik di Kabupaten Banyuwangi, Gunung Kidul, dan Lampung Tengah, masing-masing dapat mencapai 59,0 t, 72,0 t dan 59,8 t/ha dengan keuntungan Rp 23.450.000 (B/C ratio 2,6), Rp 8.027.000 (B/C ratio 1,3), dan Rp 22.315.000 (B/C ratio 2,1). Hasil percobaan di KP Genteng menunjukkan bahwa dengan stek sambung, klon Adira-4, UJ-5, Kaspro, dan lokal Dampit dapat memberi hasil 90,4-99,7 t/ha, sedangkan dengan stek biasa hanya 54,3-61,9 t/ha. Kadar pati ubikayu stek sambung lebih rendah dibanding stek biasa masing-masing 20,8% dan 22,5%, sedangkan kadar air dan kadar HCN umbi stek sambung cenderung lebih tinggi dibanding stek biasa. Kadar bahan kering dan kadar gula total relatif sama antara ubikayu stek sambung dengan stek biasa.
Pemahaman dan Kesiapan Petani Mengadopsi Padi Hibrida Sumarno Sumarno; Unang G. Kartasasmita; Inu Gandana Ismail; J. Soejitno
Iptek Tanaman Pangan Vol 3, No 2 (2008): Oktober 2008
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Padi hibrida dianjurkan sebagai komponen teknologi dalam Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) sejak MT 2006/2007. Untuk mengetahui tingkat pemahaman dan kesiapan petani dalam mengadopsi padi hibrida, dilakukan penelitian di enam kabupaten sentra produksi padi, masing-masing dua kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Penelitian menggunakan metode Pemahaman Pedesaan Partisipatif (Participatory Rural Appraisal), dengan responden kelompok tani padi, dua kelompok tani per kecamatan, dua kecamatan per kabupaten. Petani padi umumnya belum memahami berbagai aspek teknis varietas hibrida. Hibrida sebagai salah satu bentuk varietas, oleh petani diposisikan sejajar dengan nama varietas, sehingga semua varietas hibrida dinilai sama, dan nama varietas hibrida tidak dipentingkan. Petani belum memahami cara produksi benih padi hibrida, dan tidak mengerti alasan harga benih padi hibrida yang sangat mahal. Oleh sebagian petani, harga benih padi hibrida yang tinggi dianggap sebagai jaminan produktivitas yang tinggi. Harapan petani terhadap produktivitas padi hibrida sangat tinggi 20-60%di atas produksi varietas inbrida. Teknik budi daya padi hibrida yang tepat juga belum diketahui oleh petani. Dibandingkan dengan tanaman yang dikawal oleh peneliti-penyuluh, tanaman padi hibrida petani menunjukkan stabilitas hasil yang lebih rendah. Adopsi padi varietas hibrida pada tahun 2008-2009 diperkirakan masih rendah, karena harga benih yang dinilai mahal. Demo area padi hibrida skala luas diperlukan, 100-500 ha pada sentra produksi padi guna menyakinkan petani akan keunggulan padi hibrida. Untuk menyiapkan petani agar mengadopsi varietas hibrida disarankan hal-hal berikut: (1) lokakarya dan pelatihan padi hibrida bagi pejabat dinas pertanian dan penyuluh, (2) pelatihan dan penyuluhan padi hibrida diintensifkan, (3) penyediaan teknologi budi daya yang bersifat spesifik agroekologi, (4) sekolah lapang teknik budi daya padi hibrida pada areal demo 100-500 ha/ hamparan, (5) pemberian subsidi harga benih, (6) pelepasan varietas hibrida perlu persyaratan heterosis minimal 20% dan bersifat stabil, (7) guna menanggapi kekhawatiran masyarakat bahwa petani kehilangan kemandiriannya dalam penguasaan peyediaan benih, padi hibrida dianjurkan ditanam petani yang mengelola lahan seluas minimal 1 ha. Pilihan varietas yang paling tepat menurut petani merupakan penentu produktivitas yang terpenting, sehingga apabila varietas hibrida yang adaptif, berproduktivitas tinggi dan stabil telah teridentifikasi, maka adopsi varietas hibrida diperkirakan berjalan lebih cepat.
Teknologi Produksi dan Strategi Pengembangan Kedelai pada Lahan Kering Masam Subandi Subandi
Iptek Tanaman Pangan Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan areal tanam kedelai pada lahan kering masam merupakan alternatif strategis bagi peningkatan produksi nasional menuju swasembada. Lahan kering tersebut tergolong suboptimal karena tanahnya kurang subur, bereaksi masam, mengandung Al, Fe, dan atau Mn dalam jumlah tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Lahan masam pada umumnya miskin bahan organik dan hara makro N, P, K, Ca, dan Mg. Pemberian bahan ameliorasi kapur, bahan organik, dan pemupukan N, P, dan K merupakan kunci untuk memperbaiki kesuburan lahan kering masam. Penelitian telah berhasil memperoleh komponen teknologi produksi yang dapat memberikan produktivitas kedelai dan keuntungan yang memadai. Budi daya kedelai dengan pendekatan pengelolaan sumber daya dan tanaman terpadu (PTT) mampu menghasilkan 1,76-2,03 t/ha dengan keuntungan Rp 2.153.000-3.781.000/ha. Dalam pengembangannya, kedelai dapat diusahakan pada areal tanaman pangan yang sudah ada (ubi kayu, jagung, padi gogo), pada lahan perkebunan kelapa sawit dan karet muda, serta pada areal padang alang-alang/semak belukar. Beberapa aspek yang membutuhkan dukungan pemerintah antara lain adalah penyediaan sarana produksi (benih, amelioran, pupuk), bimbingan petani dari penyuluh, dan pemasaran produk di tingkat petani.
Peluang Pengembangan Kedelai pada Areal Pertanaman Ubi Kayu di Lahan Kering Masam Arief Harsono; Subandi Subandi
Iptek Tanaman Pangan Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cassava crop occupies the largest land area among the food crops in the acid soil drylands. Farmers tend to grow cassava as a monocrop, so that farmers’ income derived solely from cassava only. Intercopping of cassava + soybean following the cropping pattern of cassava + soybean/+ goundnut or cassava + groundnut /+ soybean, could improve farmers’ income derived from the soybean and groundnut crops, without reducing the cassava tuber yield. Technology to improve soil productivity for such cropping pattern is available, consisting of soil amelioration using dolomite, high nutrient organic fertilizer “Santap-M” rhizobium innoculation “Illetrisoy stain” and inorganic fertilizer. The cropping pattern is considered suitable for improving soil fertility on cassava planted area.

Page 4 of 19 | Total Record : 189