cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 50 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2018)" : 50 Documents clear
KAJIAN PERBAIKAN PONDASI KOMBINASI PLASTIC CONCRETE CUT OFF WALL DAN GROUTING PADA PEMBANGUNAN BENDUNGAN TUGU KABUPATEN TRENGGALEK Setiawan, Yahya Eko Maryanto; Asmaranto, Runi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (978.186 KB)

Abstract

ABSTRAK: Pondasi bendungan merupakan salah satu komponen bendungan yang harus diperhatikan. Dari hasil investigasi geologi pada pondasi Bendungan Tugu dijumpai kedalaman alluvial kollovial dasar sungai mencapai 5–36 m (dari dasar sungai) dengan rerata kualitas batuan dari nilai RQD adalah very poor dan poor. Dari hasil Water Pressure Test menunjukkan masih banyak nilai lugeon > 3. Dengan pertimbangan kondisi geologi pondasi, maka untuk memperbaiki kondisi geologi pondasi secara efektif dan efisien dibutuhkan perbaikan pondasi kombinasi plastic concrete cut off wall dan grouting. Kedalaman plastic concrete cut off wall direncanakan dengan mempertimbangkan kedalaman lapisan kollovial dan material mengacu pada ICOLD (1985). Grouting yang direncanakan pada Bendungan Tugu meliputi curtain, sub curtain dan consolidation grouting. Dilakukan analisa keamanan bendungan (debit rembesan, piping dan deformasi) menunjukkan bahwa bendungan dalam kondisi aman setelah perbaikan pondasi. Kata kunci: Bendungan Tugu, Geologi, Perbaikan Pondasi, Plastic Concrete Cut Off Wall, dan Grouting. ABSTRACT: The dam foundation is one of the dam components that must be considered. From the result of geological investigation on foundation of Tugu Dam found the depth of alluvial kollovial river basin reach 5-36 m (from river bed) with mean of rock quality from RQD value is very poor and poor. From the results of Water Pressure Test shows that there are still many lugeon values > 3. With consideration of the foundation's geology condition, to improve the foundation's geological condition effectively and efficiently it is needed to improve the foundation of plastic concrete cut off wall and grouting combination. The depth of the plastic concrete cut off wall is planned by considering the depth of the kollovial layer and the material refers to ICOLD (1985). Grouting planned at Tugu Dam covers curtain, sub curtain and consolidation grouting. Conducted a dam safety analysis (seepage discharge, piping and deformation) shows that the dam is in safe condition after the foundation repair. Keywords: Tugu Dam, Geology, Foundation Improvement, Plastic Concrete Cut Off Wall, and Grouting.ABSTRAK: Pondasi bendungan merupakan salah satu komponen bendungan yang harus diperhatikan.Dari hasil investigasi geologi pada pondasi Bendungan Tugu dijumpai kedalaman alluvial kollovial dasarsungai mencapai 5–36 m (dari dasar sungai) dengan rerata kualitas batuan dari nilai RQD adalah very poordan poor. Dari hasil Water Pressure Test menunjukkan masih banyak nilai lugeon > 3. Denganpertimbangan kondisi geologi pondasi, maka untuk memperbaiki kondisi geologi pondasi secara efektifdan efisien dibutuhkan perbaikan pondasi kombinasi plastic concrete cut off wall dan grouting. Kedalamanplastic concrete cut off wall direncanakan dengan mempertimbangkan kedalaman lapisan kollovial danmaterial mengacu pada ICOLD (1985). Grouting yang direncanakan pada Bendungan Tugu meliputicurtain, sub curtain dan consolidation grouting. Dilakukan analisa keamanan bendungan (debit rembesan,piping dan deformasi) menunjukkan bahwa bendungan dalam kondisi aman setelah perbaikan pondasi.Kata kunci: Bendungan Tugu, Geologi, Perbaikan Pondasi, Plastic Concrete Cut Off Wall, dan Grouting.ABSTRACT: The dam foundation is one of the dam components that must be considered. From the resultof geological investigation on foundation of Tugu Dam found the depth of alluvial kollovial river basinreach 5-36 m (from river bed) with mean of rock quality from RQD value is very poor and poor. From theresults of Water Pressure Test shows that there are still many lugeon values > 3. With consideration of thefoundation's geology condition, to improve the foundation's geological condition effectively and efficientlyit is needed to improve the foundation of plastic concrete cut off wall and grouting combination. The depthof the plastic concrete cut off wall is planned by considering the depth of the kollovial layer and the materialrefers to ICOLD (1985). Grouting planned at Tugu Dam covers curtain, sub curtain and consolidationgrouting. Conducted a dam safety analysis (seepage discharge, piping and deformation) shows that thedam is in safe condition after the foundation repair.Keywords: Tugu Dam, Geology, Foundation Improvement, Plastic Concrete Cut Off Wall, and Grouting.
Analisis Stabilitas Lereng Bendungan Sutami Berdasarkan Peta Gempa 2017 Fata, Yulia Amirul; Suhartanto, Ery
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.997 KB)

Abstract

Peta gempa 2017 menunjukkan percepatan gempa terbaru di Indonesia. Penelitian bertujuan mengetahui kondisi terkini dan stabilitas lereng Bendungan Sutami sehingga didapatkan batas aman kala ulang gempa dan rekomendasi. Analisis kondisi terkini menggunakan data instrumentasi dan gempa lalu stabilitas lereng dianalisis bertahap sesuai pedoman. Sehingga diketahui batas aman kala ulang gempa dan rekomendasi yang sesuai. Kondisi terkini Bendungan Sutami menyatakan hasil aman, namun terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan. Stabilitas lereng menunjukkan hasil kondisi statik 97,778% aman, OBE 100 81,111% aman, OBE 200 55,556% aman, dan MDE 100% tidak aman. Analisis dinamik Makdisi and Seed dan Swaisgood menyatakan aman. Batas aman pada percepatan 0,25g dengan kala ulang OBE 500 tahun serta intensitas gempa sebesar 4,3 M dan V MMI(II SIG BMKG). Rekomendasi dengan mengevaluasi sistem drainase permukaan dan penggunaan pola operasi dengan memperhatikan stabilitas lereng bendungan.   Kata kunci : peta gempa 2017, bendungan sutami, stabilitas lereng, batas aman, rekomendasi   ABSTRACT: The 2017 earthquake map showed the latest earthquake acceleration in Indonesia. The research was aimed to know the current condition and slope stability of the Sutami Dam so obtained safe limit of the earthquake and recommendation. Analysis of current conditions used instrumentation and earthquake data then slope stability was analyzed gradually according to the guidelines. So as to know the earthquake safe limit and fitted recommendations. The current condition of the Sutami Dam states results were safe, but there are things to be notice. Slope stability shows result 97.778% static were safe, OBE 100 81.111% safe, OBE 200 55.556% safe, and MDE 100% unsafe. The dynamic analysis of Makdisi and Seed and Swaisgood stated safe. Safe limit at 0.25g acceleration with OBE 500 years and earthquake intensity were 4.3 M and V MMI (II SIG BMKG). Recommendations by evaluated the surface drainage system and the use of operated patterns with respect to the stability of the dam slope. Keywords: 2017 earthquake map, sutami dam, slope stability, safe limit, recommendation 
RASIONALISASI JARINGAN POS STASIUN HUJAN PADA SUB DAS WIDAS KABUPATEN NGANJUK MENGGUNAKAN METODE KAGAN-RODDA DAN KRIGING DENGAN MEMPERTIMBANGKAN ASPEK TOPOGRAFI Putri, Fisabella Rilamsari; Chandrasasi, Dian; Purwati, Endang
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1382.709 KB)

Abstract

ABSTRAK: Kerapatanbjaringan stasiun hujan dapat dinyatakan sebagai luas Sub DAS yang diwakili olehbsatu stasiunbhujan. Semakin tinggi kerapatan stasiun hujan yang digunakan maka akan semakin tinggi pula ketelitian data yang diperoleh. Sub DAS Widasbmemilikibluas sebesarb1531,62 km2 dan jumlah stasiun hujan saat ini sebanyak 43 stasiun hujan dengan sebaran yang kurang merata dan kurang efektif dalam pemeliharaan. Oleh karena itu diperlukan kajian rasionalisasi stasiun hujan menggunakan metode Kagan-Rodda dan Kriging. Hasil analisa rasionalisasi stasiun hujan menggunakan data curah hujan kumulatif tahunan dari metode Polygon Thiessen, didapatkan jumlah ideal stasiun hujan berdasarkan standart WMO adalah 15 stasiun hujan. Untuk metode Kagan-Rodda dengan penggambaran jaring-jaring pada stasiun hujan didapatkan jumlah ideal hanya 11 stasiun hujan. Sedangkan untuk metode Kriging dengan input data dibantu aplikasi ArcGIS didapatkan jumlah ideal yaitu 35 stasiun hujan. Untuk hasil metode Kagan-Rodda, faktor topografi (jarak, elevasi, dan slope) memiliki hubungan antar parameter topografi paling kuat yaitu parameter elevasi terhadap jarak dengan nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,664. Sedangkan untuk hubungan topografi berdasarkan curah hujan dengan parameter topografi yaitu slope memiliki hubungan yang kecil dengan nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,557. Dan untuk hasil metode Kriging memiliki hubungan topografi yang cukup kecil antar parameter topografi yaitu parameter elevasi terhadap jarak dengan nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,508. Berdasarkan hasil analisa hubungan aspek topografi maka metode yang dapat dipertimbangkan untuk rasionalisasi stasiun hujan yaitu metode Kagan-Rodda karena hasil analisa hubungan aspek topografi memiliki nilai korelasi yang cukup kuat dibandingkan dengan metode Kriging. Kata kunci: rasionalisasi, standart WMO, Kagan-Rodda, Kriging, faktor topografi   ABSTRACT: The density of the rain station network can be expressed as the Sub-Watershed area that represented by one rain station. The higher of the density the data obtained will be more accurate. Sub-Watershed Widas has an area of ​​1531,62 km2 and the numbers of rain stations are 43 rain stations with uneven spread of and uneffectively in maintenance. Therefore it is necessary to study rationalization of rain stations using Kagan-Rodda and Kriging methods. The result of rationalization of rain station analysis using annual cumulative rainfall data from Polygon Thiessen method, were obtained the ideal numbers of rain stations based on WMO standard was 15 rain stations. For Kagan-Rodda method using by drawing of nets in the rain station, the ideal numbers were only 11 rain stations. As for the method of Kriging with data input using ArcGIS’s application was obtained the ideal numbers were 35 rain stations. For Kagan-Rodda method, the topography factors (distance, elevation, and slope) that had the strongest correlation was between the elevation to the distance parameter with the correlation coefficient (R) of 0.664. While for topographic relationship based on rainfall with slope parameter showed small correlation with correlation coefficient (R) of 0,557. And for the results of the Kriging method showed the small relationship between the elevation parameter to the distance with the value of correlation coefficient (R) of 0.508. Based on the result of the analysis of topography aspect, the method that could be considered for rain station rationalization was the Kagan-Rodda method because the result of the correlation analysis on topography aspect using the Kagan-Rodda method showed more stronger than the Kriging method. Key words: rationalization, WMO standard, Kagan-Rodda, Kriging, topography factors
STUDI POTENSI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MINI HIDRO (PLTM) DESA KEPIL, KABUPATEN WONOSOBO, JAWA TENGAH Anggraini, Fauziah Rahmawanti; Juwono, Pitojo Tri; Suhartanto, Ery
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.013 KB)

Abstract

ABSTRAK: NegaraaIndonesiaamempunyai potensi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sebesar 70.000 mega watt (MW). Potensi ini baru dimanfaatkanasekitar 6apersen atau 3.529 MW atau 14,2 % dariajumlah energi pembangkitan PT PLN. Untuk dapat mengoptimalkan potensi tersebut perlu dilakukan studi potensi, salah satunya di Desa Kepil, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Agar dapat dimanfaatkanaperlu diadakan kajian terkait perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTM). Berdasarkan hasil kajian didapatkan debit andalan sebesar 1,377 m3/detik. Tinggi jatuh efektif rata-rata yang digunakan untuk membangkitkan PLTM sebesar 24,08 meter. PLTM ini dibangunadengan komponen sipil yang meliputi bangunan pengambilan, bak pengendap, saluran pembawa, bak penenang, pipa pesat, rumah pembangkit, dan saluran pembuang. Turbin yang digunakan di daerah studi adalah jenis Francis. Besarnya rata- rata daya yang dapat dihasilkan sebesar 222,49 kW dan energi yang dihasilkan sebesar 1.942.040,87 kWh atau sebesar 1,943 GWh. Banyaknya rumah yang dapat terlayani dengan kapasitas terpasang setiap rumah sebesar 450 watt adalah sebanyak 494 rumah. Kata Kunci: PLTM, Turbin, Energi, Listrik, Debit.   ABSTRACT: Indonesian country has a potential hydroelectric power plant of 70,000 mega watts (MW). This potential was only used by about 6 percent, or 3,529 MW, or 14.2% of the total energy generation PT PLN. In order to optimize the potential need to do a study of potential, one of them in the Kepil village , Wonosobo, Central Java. So can be used there should be a study related to planning of Mini Hydro Power Plant (PLTM). Based on the study results obtained mainstay discharge of 1,377 m3/sec. High effective fall that was used to generate micro power plants amounted to 24,08 meters. This micro power plants were built with a civilian component that includes intake, sand trap, headrace, forebay, penstock, power house, and tailrace. Turbine used in the study area is kind of Francis. The amount of the average power that could be generated at 222.49 kW and the energy produced amounted to 1,942,040.87 kWh or a total 1,943 GWh. Keywords: Hydropower,Turbine, Energy, Electric, Discharg.
RASIONALISASI JARINGAN POS STASIUN HUJAN PADA DAS KEMUNING KABUPATEN SAMPANG MENGGUNAKAN METODE KAGAN-RODDA DAN KRIGING DENGAN MEMPERTIMBANGKAN ASPEK TOPOGRAFI Arifah, Shabrina; Suhartanto, Ery; Chandrasasi, Dian
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.14 KB)

Abstract

ABSTRAK: Dalam kegiatan analisis hidrologi dibutuhkan data hujan yang akurat. Mengingat pentingnya informasi data hujan maka diperlukan kajian rasionalisasi atau perencanaan jaringan stasiun hujan yang efektif dan efisien. Rasionalisasi dilakukan menggunakan metode Kagan-Rodda dan Kriging dalam menentukan jumlah stasiun hujan dan pola sebaran stasiun hujan dengan melihat keterkaitan antar jaringan stasiun hujan terhadap faktor topografi. Hasil analisa rasionalisasi berdasarkan standar WMO, DAS Kemuning dengan luas 344,23 km harus memiliki setidaknya 3 stasiun hujan. Sedangkan hasil dari metode Kagan-Rodda berdasarkan data curah hujan kumulatif tahunan dari metode Polygon Thiessen dan jaring-jaring Kagan-Rodda didapatkan 4 stasiun hujan. Dan berdasarkan metode Kriging dalam aplikasi GIS didapatkan 5 stasiun hujan. Untuk hasil metode Kagan-Rodda, faktor topografi (jarak, elevasi, dan slope) yang memiliki hubungan antar parameter topografi cukup kuat yaitu jarak dan elevasi dengan nilai R sebesar 0,416. Sedangkan untuk hubungan topografi berdasarkan curah hujan dengan parameter topografi yaitu slope memiliki hubungan yang cukup kuat dengan nilai R sebesar 0,591. Untuk hasil metode Kriging memiliki hubungan topografi yang cukup kuat antar parameter topografi yaitu parameter elevasi dan jarak dengan nilai R sebesar 0,701 dan untuk hubungan topografi berdasarkan curah hujan dengan parameter topografi yaitu slope memiliki hubungan yang cukup kuat dengan nilai R sebesar 0,648. Kata kunci: Rasionalisasi, standar WMO, Kagan-Rodda, Kriging, Faktor topografi. ABSTRACT: In the hydrological analysis activities accurate rainfall data was required. Considering  the importance of rainfall information, it was necessary to rationalize or plan an effective and efficient network of rainfall stations. Rationalization was used Kagan-Rodda and Kriging method in determining the number of rain stations and the pattern of the distribution of rain stations by looking at the relationship between the rain station network to the topography factor. The result of rationalization analysis based on WMO standard, DAS Kemuning with 344,23 km area must have at least 3 rain stations. While the result of Kagan-Rodda method based on annual cumulative rainfall data from Polygon Thiessen method and Kagan-Rodda nets obtained 4 rain stations, and based on Kriging method in GIS application got 5 rain station. For the results of Kagan-Rodda method, topography (distance, elevation, and slope) factors that have strong relation between topographic parameters were distance and elevation with R value 0,416. As for the topographical relationships based on rainfall with the topography parameters, slope had strong relation with value R equal to 0,591. For the results of Kriging method had a fairly strong topographic relationship between the topographic parameters of elevation and distance parameters with R values of 0,701 and for topographic relations based on rainfall with topographic parameters that slope had a strong enough relationship with R value of 0,648. Key words: Rationalization, WMO standards, Kagan-Rodda, Kriging, Topography Factor.
STUDI PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR (PLTA) DI SUNGAI KUALU KABUPATEN TOBA SAMOSIR PROVINSI SUMATERA UTARA Priambodo, Billy Mosis; Marsudi, Suwanto; Priyantoro, Dwi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.02 KB)

Abstract

Studi perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Air mendesain infrastruktur guna memanfaatkan potensi di Sungai Aek Kualu, Desa Lumban Raun, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Perencanaan pada studi ini didapatkan hasil debit pembangkit dengan keandalan 38% sebesar 18,04 m3/detik. Intake dengan lebar 3,5 meter, feeder canal dengan lebar 7 meter, bak pengendap dengan periode pembilasan 25 hari, saluran pembawa dengan lebar 5 meter , bak penenang dengan volume 1623,694 m3, pipa pesat dengan diameter 2,4 meter dan ketebalan 12 mm dan saluran pembuang dengan lebar 13 meter. Turbin yang digunakan adalah tipe francis, yang mampu menghasilkan 12483,82 kW dengan energi 71,171 GWh dalam 1 tahun. Estimasi Biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan Rp 439.636.321.497,28 dengan suku bungan 10,50%, Benefit Cost Ration (BCR) sebesar 1,35, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 11,15%, Payback Period selama 14,81 tahun. Dari beberapa metode analisa ekonomi yang digunakan dapat disimpulkan untuk pembangunan PLTA Kualu layak secara ekonomi.
STUDI PENENTUAN STATUS MUTU AIR DENGAN MENGGUNAKAN METODE INDEKS PENCEMARAN DAN WATER QUALITY INDEX (WQI) DI SUNGAI DODOKAN LOMBOK, NUSA TENGGARA BARAT Mandalika, Baiq Anggi; Prayogo, Tri Budi; Yuliani, Emma
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1036.904 KB)

Abstract

ABSTRAK:  Berkembangnya kegiatan penduduk di sekitar Sungai Dodokan mempengaruhi kualitas air Sungai Dodokan, hal ini disebabkan karena hasil buangan dari limbah penduduk langsung dibuang ke badan sungai tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu. Analisa ini dilakukan untuk mengetahui kualitas air Sungai Dodokan pada tahun 2012 -2016. Data Yang digunakan didapatkan dari Badan Lingkungan Hidup Provensi NTB (BLHP NTB) dengan 6 titik pemantauan yang akan dianalisa dengan Metode Indeks Pencemaran (IP), Water Quality Index (WQI) dan Qual2kw. Parameter yang digunakan pada penelitian ini meliputi Temperatur, BOD5, COD, DO, pH, TSS, NO2-N, PO43- dan Total Coliform. Hasil analisa dengan menggunakan metode Indeks Pencemaran (IP) mendapatkan hasil 3,33% dalam kondisi baik, 13,33% kondisi tercemar ringan, 23,33% kondisi tercemar sedang, dan 60% tercemar berat. Sedangkan hasil pada metode Water Quality Index (WQI) mendapatkan hasil 10% adalah kondisi bersih masuk kelas 2, 13,33% adalah kondisi tercemar ringan masuk kelas 3, 16,66% adalah kondisi tercemar sedang masuk kelas 4, 20% adalah kondisi tercemar berat masuk kelas 5, dan 40% adalah kondisi kotor masuk kelas 6. Hasil dari aplikasi pemodelan Qual2kw dapat diketahui bahwa pada simulasi I dan simulasi II kualitas air Sungai Dodokan pada parameter tertentu tidak memenuhi baku mutu air kelas II dan data yang dihasilkan disetiap segmennya bervariasi.Kata Kunci : Metode Indeks Pencemaran, Metode Water Quality Index (WQI), Qual2kw, Kualitas AirABSTRACT : The Increasing of peoples activity around the dodokan river was affects the water quality  of dodokan river, this was caused by the result of waste disposal from the people directly to the river body without going through the processing first. This analysis is conducted to determine the water quality of Dodokan River in 2012 -2016. The data was obtained from NTB Provincial Environmental Agency (BLHP NTB) with 6 points of observation that will be analyzed by Method of Pollution Index (IP), Water Quality Index (WQI) and Qual2kw. The parameters used in this study include Temperature, BOD5, COD, DO, pH, TSS, NO2-N, PO43- dan Total Coliform. The result of the analysis using the Pollution Index (IP) method yielded 3.33% in good condition, 13.33% mild contaminated condition, 23.33% medium polluted condition, and 60% polluted heavily. While the results on the Water Quality Index (WQI) method get 10% result is the net condition of class 2, 13.33% is mild contaminated condition entering grade 3, 16.66% is contaminated condition entering grade 4, 20% is condition heavily polluted in grade 5, and 40% is a gross condition in grade 6. Can be known from the results of Qual2kw modeling application  that in simulation I and simulation II the quality of Dodokan River’s water on  certain parameters is not appropriate for water quality class II and data which generated in each segment varies.Keywords: Pollution Index Method, Water Quality Index Method (WQI), Qual2kw, Water Quality
UJI MODEL FISIK BAFFLED CHUTE UNTUK PENINGKATAN PEREDAMAN ENERGI PADA PELIMPAH BENDUNGAN RIAM KIWA KECAMATAN PARAMASAN KABUPATEN BANJAR PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Rahman, Muhammad Adhia; Sholichin, Moh.; Cahya, Evi Nur
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1024.914 KB)

Abstract

ABSTRAK : Dengan melihat kondisi uji model Bendungan Riam Kiwa yang dilakukan sebelumnya, kondisi aliran pada saluran pengarah hilir dalam kondisi aliran subkritis namun dengan nilai bilangan froude ≈ 0,9 - 1 dan hal ini kurang dianjurkan secara keamanan hidraulis. Maka perlu dilakukan penelitian uji model perencanaan alternatif desain lain yang pada penelitian ini dengan menggunakan desain baffled chute pada saluran peluncur. Uji model fisik baffled chute Bendungan Riam Kiwa ini dilakukan dalam 2 kondisi yakni dengan tinggi baffled chute 3 meter dan 2 meter, yang dikombinasikan dengan peredam energi USBR tipe II dan I pada peredam energi akhir. Penelitian uji model fisik baffled chute Bendungan Riam Kiwa menggunakan model dengan skala 1:65 dan dilakukan dengan 5 seri percobaan. Hasil penelitian akan terfokus pada kondisi tinggi muka air dan besarnya kecepatan aliran dan akan dilakukan perbandingan pada tiap seri. Diketahui bahwa pada setiap seri percobaan kondisi kecepatan aliran telah berkurang dibandingkan model seri original design.   Kata kunci: Uji model fisik, baffled chute, peredam energi, efektifitas, dan trayektori aliran   ABSRACT : By looking at the condition of the model test Riam Kiwa Dam before, the flow conditions in the escape channel was in the sub-kritical flow conditions but with a value of froude number ≈ 0,9 – 1 and it is less recommended in the security of hidraulic. Then the research needs to be done to test another alternative planning model design at this time using design of baffled chute on the chute channels. The model test of baffled chute Riam Kiwa Dam is done in two conditions: with a height of 3 meters and 2 meters of baffled chute and combined with the USBR energy dissipator type II and I in the final stilling basin. The model test research of baffled chute on Riam Kiwa Dam using models with scale 1:65 and done with 5 experimental series. The research results will be focused on the condition of high water level and the velocity of the flow and also would do a comparison from each series. It is known that each series of experimental, the condition of the flow rate has been reduced compared to the original design series models. Keywords: Model test, baffled chute, energy dissipator, the effectiveness, and jet trajectories
UJI MODEL FISIK AMBANG BERCURAT SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI SKOT BALOK Suryarawit, Gigih; Priyantoro, Dwi; Wicaksono, Prima Hadi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.204 KB)

Abstract

Dalam praktek irigasi, pada bangunan sadap memanfaatkan peran skot balok un­tuk mengendalikan debit yang masuk ke bangunan sadap. Dilihat dari segi konstruksi, skot balok merupakan konstruksi yang sederhana, akan tetapi penggunaan skot balok dalam irigasi belum praktis, yaitu pemasangan dan pemindahan balok memerlukan sedikit-dikitnya dua orang dan memerlukan banyak waktu. Oleh sebab itu peningkatan efisiensi dalam pengoperasian bangunan irigasi perlu dilakukan. Dari hasil penelitian didapatkan nilai korfisien debit rata-rata curat adalah 0,894. Artinya memiliki perbedaan yang signifikan jika dibanding­kan dengan koefisien debit yang melalui lubang pada tanki yang nilai rata-ratanya 0,620. Batas rasio perbedaan muka air hilir dan muka air hulu, h2/hABC > 0,08 supaya tidak menimbulkan aliran tenggelam. Untuk menentukan dimensi ambang bercurat dapat didekati menggunakan kombinasi kurva hungungan antara (QABC/(√h15g)) dengan hABC/h1 dengan persamaan QABC = Cd.A.(2.g.hABC)0,5 pada kondisi aliran bebas dan  QABC = Cd.A.(2.g.(hABC – h2))0,5 pada kondisi aliran tenggelam.
STUDI PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKRO HIDRO (PLTMH) DESA CIKEUSIK KECAMATAN CIDAHU KABUPATEN KUNINGAN PROVINSI JAWA BARAT oktanti, vita; Juwono, Pitojo Tri; Wicaksono, Prima Hadi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (806.686 KB)

Abstract

ABSTRAK : Sungai Cisanggarung yang terletak di Kabupaten Kuningan ini memiliki tinggi jatuh yang sangat rendah setinggi 1,054 m dan pemilihan jenis turbin.yang digunakan tergolong Pumps As Turbin (PAT). Dalam kondisi tersebut, Sungai Cisanggarung mendukung untuk dibangunnya PLTMH. Sungai Cisanggarung dapat mengalirkan debit yang diandalkan sepanjang.tahunnya dan memiliki kontur sesuai dengan teknis perencanaan untuk dibangunnya PLTMH Cikeusik.Dalam perencanaan PLTMH Cikeusik, debit pembangkit Q90% sebesar 1,509 m3/detik dan bangunan sipil meliputi bangunan pengambilan memiliki lebar pintu 2,2 meter. Pipa pesat berdiameter 0,97 meter. Turbin yang digunakan adalah jenis Axial Flow Pump As Turbine, menghasilkan daya 11,934 kW dan energi sebesar 104.545,17 kWh. Hasil Rencana Anggaran Biaya (RAB) perencanaan PLTMH Cikeusik adalah Rp 1.242.193.008,33.   Kata kunci: PLTMH, Debit, Turbin, Listrik, Rencana Anggaran Biaya   ABSTRACT : Cisanggarung River located in the district Kuningan has a very low head as 1,054 m and selection different types of turbines used Pumps As Turbin (PAT). In these conditions, river Cisanggarung support for the building of PLTMH. Cisanggarung River can flow the discharge water that reliable throughout the year and have contours in accordance with technical planning to built a PLTMH Cikeusik. In plannings PLTMH Cikeusik, plant discharge Q90% of 1.509 m3/s and civic buildings include intake has 2.2 meters. Diameter penstockpipe of 0.97 m. The turbine used is type Axial Flow Pump Turbine, power of 11.934 kW and energy amounted to 104,545.17 kWh. The results of the budget plan costs (RAB) planning PLTMH Cikeusik is Rp 1,242,193,008.33. Key words: PLTMH, Flow, Turbine, Electric, Plans Cost Budget