cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 322 Documents
PERENCANAAN SISTEM JARINGAN PIPA DISTRIBUSI AIR BERSIH DI DESA GENENGAN, KECAMATAN DOKO, KABUPATEN BLITAR Cucu Radya, Agdels Pandhomas; Ismoyo, M. Janu; Dermawan, Very
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Genengan terletak di Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, berbatasan dengan Desa Doko, Desa Slorok, Desa Jambepawon dan Desa Suru. Jumlah..penduduk Genengan pada..tahun 2017 adalah..sebesar 2217 jiwa. Saat ini, penduduk Genengan menggunakan air bersih dari PDAM Kecamatan Doko, karena di Genengan belum terdapat layanan air bersih. Studi ini bertujuan untuk mengetahui debit yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Genengan, mengetahui perencanaan pipa, membuat rencana anggaran biaya, dan menentukan harga air. Simulasi sistem jaringan pipa distribusi air bersih dilakukan dengan menggunakan program yang umum digunakan. Suplai air berasal dari sumber air baru Genengan dengan debit 13 lt/dt. Dari sumber tersebut akan dipompa menuju tandon dengan volume 50 m3. Total kebutuhan air rata-rata yang dibutuhkan sebesar 2,50 lt/dt. Persyaratan teknis perencanaan telah memenuhi syarat kecepatan..0,1–2,5..m/dt, headloss..gradient 0–15 m/km, dan..tekanan 0,5-8 atm. RAB pada perencanaan di desa Genengan adalah sebesar Rp 120.036.400. Analisa ekonomi pada tingkat suku bunga 9,75% didapatkan  nilai BCR sebesar 1,40; nilai manfaat harga air sebesar Rp 53.997.200/tahun, nilai IRR 18,82% dan periode pengembalian selama 4,36 tahun dengan harga air Rp 800,-/m3. Genengan Village is located in Doko District of Blitar Regency, neighboring the villages of Doko, Slorok, Jambepawon, and Suru. The number of residents of Genengan are 2217 people. Recently, the residents of Genengan use fresh water from PDAM Doko, as Genengan doesn’t have a proper fresh water facility. This study is purposing to determine the flow discharge which is necessary to meet the demands of fresh water in Genengan, to understand the pipeline planning, to make a budget plan, and to determine the water price. The freshwater pipe network system is being simulated by a common program. Freshwater supply comes from the new Genengan spring with a flow of 13 l/s. The springwater will be pumped to a water tank with a capacity of 50m3.Total average water demand is 2.50 m/s. The planning has met technical requirementsof 0.1-2.5 m/s velocity, 0-15 m/km headloss gradient, and 0.5-8 atm pressure. The budget plan is determined on Rp 120.036.400. Economic analysis on 9.75% interest and water price of Rp 800,-/m3 shows a BCR value of 1.40; water price benefit of Rp 53.997.200/year, IRR value of 18.82%, and payback period of 4.36 years.
EVALUASI SISTEM DISTRIBUSI AIR BERSIH DI ZONA WENDIT PDAM KOTA MALANG DENGAN MENGGUNAKAN PAKET PROGRAM WATERCAD V8i Nuramalia, Rafika; Haribowo, Riyanto; Siswoyo, Hari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Evaluasi sistem distribusi air bersih bertujuan untuk mengetahui besar kebutuhan air, kondisi hidraulik, sisa klorin, dan kondisi hidran ideal di Zona Wendit. Perhitungan yang dilakukan yaitu proyeksi penduduk dengan metode aritmatik dan kebutuhan air berdasarkan Peraturan Menteri PU dan Peraturan Walikota Malang. Hasil perhitungan kebutuhan air kondisi eksisting yaitu 303,95 l/detik, kondisi pengembangan yaitu 704,81 l/detik dan kebutuhan dengan satu hidran yaitu 744,81 l/detik. Hasil tersebut tidak mencukupi karena ketersediaan air di Sumber Wendit II yaitu 370,16 l/detik. Oleh karena itu perlu menambahkan debit pada sumber. Selanjutnya melakukan simulasi dengan software WaterCAD V8i. Berdasarkan simulasi, didapatkan tekanan -1,29 – 10,56 atm, kecepatan 0 – 5,47 m/detik, headloss gradient 0 – 335,06 m/km pada kondisi eksisting dan tekanan 0,51 – 10 atm, kecepatan 0 – 3,79 m/detik, headloss gradient 0 – 15 m/km pada kondisi pengembangan. Hasil kecepatan tersebut belum memenuhi syarat, untuk itu perlu menambah katup penguras agar tidak tejadi sedimentasi. Hasil sisa klorin berdasarkan simulasi pada kondisi eksisting yaitu 0,503 – 0,797 mg/l dan kondisi pengembangan yaitu 0,312 – 0,398 mg/l. Hasil simulasi lainnya yaitu hidran dengan debit 40 l/detik didapatkan tekanan -35,45 – -34,22 atm. Hasil ini tidak memenuhi syarat pada SNI 03-1735-2000. Oleh karena itu perlu menambah jaringan baru untuk hidran agar tekanan dapat sesuai syarat.   Evaluation of fresh water distribution systems aims to determine the amount of water needed, hydraulic conditions, chlorine residual, and ideal hydrant conditions in the Wendit Zone. Calculations is done by the population projections with arithmetic methods and water demand based on the Regulation of Minister o Public Works and Regulation of Malang Mayor. The results of the calculation of the existing water condition requirements are 303.95 l/second, the development conditions are 704.81 l/second and the demand for a single hydrant is 744.81 l/second. These results were inadequate because of the availability of water at Sumber Wendit II was 370.16 l/second. Therefore it is necessary to add debit of water to the source. A simulation is done using WaterCAD V8i software, obtained a pressure of -1.29 – 10.56 atm, velocity 0 – 5.47 m/second, headloss gradient 0 – 335.06 m/km in the existing conditions and pressure 0.51 – 10 atm, velocity 0 – 3.79 m/second, headloss gradient 0 – 15 m/km under development conditions. The velocity results are not eligible, so it is necessary to add a drain valve to avoid sedimentation. The results of residual chlorine based on simulation in the existing conditions are 0.503 – 0.797 mg/l and the development conditions are 0.312 – 0.398 mg/l. Other simulation results are hydrants with a discharge of 40 l/second obtained pressure of -35,45 – -34,22 atm. These results do not meet the requirements of SNI 03-1735-2000. Therefore it is necessary to add a new network for hydrants so that the pressure can be in accordance with the requirements.
PEMETAAN INDEKS KUALITAS AIR TANAH UNTUK IRIGASI DAN KESESUAIANNYA DENGAN JENIS TANAMAN PADA LAHAN IRIGASI AIR TANAH DI KECAMATAN PLUMPANG KABUPATEN TUBAN Kurniawan, Joko; Siswoyo, Hari; Yuliani, Emma
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketidakmampuan petani dalam menanggung biaya operasional dan pemeliharaan sumur-sumur produksi untuk irigasi di wilayah Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban menjadi salah satu penyebab terjadinya kerusakan pada beberapa sumur tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kesesuaian kualitas air tanah untuk irigasi dengan jenis tanaman paling menguntungkan yang dapat diusahakan di wilayah setempat guna meningkatkan pendapatan petani. Penentuan jenis tanaman yang sesuai berdasarkan kualitas air irigasinya dapat dilakukan dengan menggunakan model Indeks Kualitas Air Irigasi (IWQI). Berdasarkan hasil penelitian dapat ditunjukkan bahwa kualitas air tanah untuk irigasi di lokasi penelitian termasuk dalam kategori batasan penggunaan air rendah dengan nilai IWQI berkisar 72,45-74,53. Rekomendasi tanaman pertanian yang sesuai dan paling menguntungkan untuk dibudidayakan setelah masa tanam padi I berdasarkan kualitas air tersebut adalah melon dan semangka.The farmer’s inability in bearing operational cost and maintaining production wells for irrigation in Plumpang district area, Tuban is one of the damage causes to some wells. The aim of this research is to determine the suitability of groundwater quality for irrigation with the most profitable plants that could be cultivated in the area to increase farmer’s income. The determination of plants which are suitable based on irrigation water quaility could be conducted by using Irrigation Water Quality Index (IWQI). Based on the research, it demonstrates that groundwater quality for irrigation in research area is in the category of low limit water use with IWQI value range 72,45-74,53. Recommendations for suitable and profitable agriculutral plants after first rice planting based on groundwater quality are melon and watermelon.
TRANSFORMASI DATA HUJAN MENJADI DEBIT MENGGUNAKAN METODE FJ MOCK DAN THORNTHWAITE MATHER DI SUB DAS KALI GUNTING KABUPATEN JOMBANG. Almira, Aufa Hanan; Harisuseno, Donny; Soetopo, Widandi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transformasi data hujan menjadi debit adalah mengolah data hujan di lapangan menjadi data debit dengan pemodelan hidrologi. Metode-metode ini digunakan untuk menghitung besarnya nilai debit aliran sungai. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah Metode FJ Mock dan Thornthwaite Mather. Hasil dari kedua metode ini akan dibandingkan dengan debit pengamatan AWLR (Automatic Water Level Recorder) Karangwinongan untuk mengetahui tingkat kesesuaian metode pada daerah studi. Berdasarkan uji kesesuaian metode dari kedua metode yang digunakan, metode FJ Mock dipilih menjadi metode yang terbaik untuk Sub DAS Kali Gunting. Berdasarkan uji kesesuaian metode ini dihasilkan Nash Sutcliffe Efficiency (NSE) = 0,42 , Koefisien Korelasi (R) = 0,75 , Root Mean Squared Error (RMSE) = 0,25, dan Kesalahan Relatif (KR) = 0,14 %. Perhitungan dengan metode FJ Mock menghasilkan debit maksimum = 14,31 m3/dt dan minimum = 0,54 m3/dt. The transformation of rainfall data into discharge is to process the rainfall data on the field into a discharge data of hydrological modeling. These methods are used to assess the amount value of river flow discharge. The methods that used in this study are FJ Mock and Thornthwaite Mather methods. The result of these two methods will be compared to the discharge observation AWLR (Automatic Water Level Recorder) Karangwinongan to know the level of conformity of methods in the area of study. Based on the conformity test method of both methods used, the FJ Mock method was chosen to be the best method for Kali Gunting Sub Watershed. Based on the conformity test this method was produced by Nash Sutcliffe Efficiency (NSE) = 0,42, correlation coefficient (R) = 0,75, Root Mean Squared Error (RMSE) = 0,25, and relative error (KR) = 0,14%. Calculations by FJ Mock methods produce a maximum discharge = 14.31 m3/dt and a minimum = 0,54 m3/dt.   
STUDI ALTERNATIF PERENCANAAN JARINGAN AIR BAKU DI KECAMATAN POLEWALI KABUPATEN POLEWALI MANDAR Asprilian, Gio Fonseca; Haribowo, Riyanto; Siswoyo, Hari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Polewali mengalami pertambahan penduduk sebanyak 54.843 jiwa pada Tahun 2010, menjadi sebanyak 61.072 jiwa pada Tahun 2017, hal ini menyebabkan kebutuhan air baku meningkat. Penelitian dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan air baku dengan intake bendung dari Sungai Madatte. Pemenuhan kebutuhan air baku dilakukan dengan melakukan perencanaan distribusi air baku yang  meliputi kebutuhan dan ketersediaan air baku, perencanaan distribusi dan rencana anggaran biaya. Pemenuhan kebutuhan tersebut dapat diidentifikasi berdasarkan kebutuhan domestik, non domestik, fluktuasi kebutuhan air dan proyeksi pertumbuhan jumlah penduduk. Sedangkan ketersediaan air baku dapat diidentifikasi dengan melakukan analisis frekuensi terhadap data debit yang tersedia. Perencanaan jaringan distribusi air baku dilakukan dengan mengidentifikasi nilai debit dengan menggunakan persamaan Hazen-Williams. Perhitungan rencana anggaran biaya dilakukan berdasarkan pedoman Peraturan Menteri Pekerjaan Umum 18/PRT/M/2007. Berdasarkan Penelitian diketahui besarnya kebutuhan air baku sebesar 121,526 liter/detik dan ketersediaan debit sebesar 347,78 liter/detik. Perencanaan jaringan distribusi air baku dialirkan melalui pipa dari intake bendung ke tandon yang bervolume 1.000 meter kubik sepanjang 7.207 meter. Distribusi dari tandon hingga ke daerah layanan menggunakan pipa sepanjang 35.123 meter. Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang diperlukan untuk perencanaan sebesar Rp. 84.337.300.000 terbilang (Delapan puluh empat milyar tiga ratus tiga puluh tujuh juta tiga ratus ribu rupiah).Polewali district had a population increase of 54,843 in 2010, becoming as many as 61,072 in 2017, this led to increased water demand. This research was conducted to fulfill the need of water with the weir intake of the Madatte River. Fulfillment of water needs is done by conducting water distribution planning which includes the needs and availability of water, distribution planning and budget plan. The fulfillment of these needs can be identified based on domestic, non-domestic needs, fluctuations in water demand and projected population growth. While the availability of water can be identified by performing frequency analysis of the available debit data. Planning of water distribution network is done by identifying the value of discharge by using Hazen-Williams equation. The calculation of budget plan is done based on the ministerial regulation guidelines of the general works of 18/PRT/M/2007. Based on research, it is known that the water demand is 121.526 liters/second and the availability of discharge is 347.78 liters/second. Planning of the water distribution network is streamed through the pipeline from the weir intake to the Reservoir which has a volume of 1,000 meter kubik along 7,207 meters. Distribution from Tandon to the service area using pipes over 35,123 meters. Budget plan (RAB) is required for planning amounting to Rp. 84,337,300,000 (eighty-four billion three hundred thirty-seven million three hundreds thousand rupiah). 
ANALISA KERUNTUHAN BENDUNGAN DAWUHAN MADIUN DENGAN PROGRAM ZHONG XING HY21 Rachmanda, Valdi Cahya; Juwono, Pitojo Tri; Suprijanto, Heri
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bendungan Dawuhan yang terdapat di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, merupakan bendungan yang dibangun pada tahun 1958 – 1962. Setiap bendungan memiliki potensi keruntuhan, begitu juga dengan Bendungan Dawuhan. Keruntuhan Bendungan Dawuhan dapat disebabkan karena overtopping dan piping. Berdasarkan hasil dari aplikasi Zhong Xing HY21, dampak keruntuhan Bendungan Dawuhan yang paling parah disebabkan karena overtopping. Simulasi keruntuhan Bendungan Dawuhan akibat  overtopping dilakukan dengan menggunakan QInflow banjir desain PMF sebesar 486,018 m³/det dan menghasikan luas genangan sebesar 12,768 km2 dengan tinggi genangan maksimum 2,89 m. Terdapat 16 desa yang terdampak akibat keruntuhan Bendungan Dawuhan dengan jumlah penduduk terkena risiko sebanyak 12.724 jiwa. Banjir yang dihasilkan menyebabkan genangan terjauh 9,41 km dari lokasi bendungan yaitu, pada skenario piping atas dan piping tengah. Dawuhan Dam located in Madiun Regency, East Java, is a dam that was built in 1958 – 1962. Each dam has the potential to collapse, as well as the Dawuhan Dam. Dawuhan Dam break can be caused by overtopping and piping. Based on the results of the application Zhong Xing HY21, the impact of the Dawuhan Dam break is themost severe due to overtopping. Dawuhan Dam break simulation due to overtopping was carried out using the PMF flood design QInflow of 486,018 m3/sec and produced the inundation area of 12,768 km2 with the maximum height inundation of 2,89 m. There were 16 villages affected by the collapse of the Dawuhan Dam with 12.724 people at risk. Floods caused inundation farthest 9,41 km from the location of the dam that is, scenario top piping and middle piping.
EVALUASI PENGELOLAAN LIMBAH CAIR TAMBANG BATUBARA DENGAN TEKNOLOGI SETTLING POND PT. BAHARI CAKRAWALA SEBUKU DI KABUPATEN KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Awfiyaa, Husna Nadhira; Haribowo, Riyanto; Prayogo, Tri Budi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air limbah tambang batubara di inlet dan outlet lokasi lubang tambang dan stockpile PT. BCS serta mengevaluasi kondisi dimensi eksisting settling pond. Penelitian menggunakan metode survei dengan mengumpulkan data primer dan sekunder.  Baku mutu air limbah batubara dinilai berdasarkan Pergub Kalsel No.36 Tahun 2008. Kualitas air limbah pada outlet settling pond lubang tambang untuk parameter TSS, Fe, Mn, Cd dan pH secara berurutan adalah 14 mg/l; 0,238 mg/l; 2,960 mg/l; 0,005 mg/l dan 2,76 sedangkan pada outlet settling pond stockpile adalah 11 mg/l; 0,112 mg/l; 1,220 mg/l; 0,004 mg/l dan 6,11. Hasil perhitungan waktu pengendapan pada kondisi eksisting settling pond lubang tambang adalah 13 menit dan waktu tinggal untuk kolam 1-5 adalah 8,2 menit; 8,6 menit; 12,4 menit; 11,7 menit dan 24,2 menit. Sedangkan pada kondisi eksisting settling pond stockpile waktu pengendapan adalah 3,3 menit dan waktu tinggal kolam 1-3 adalah 6 menit; 11,9 menit dan 8,7 menit. Hasil perhitungan perluasan settling pond lubang tambang hingga tahun 2028 menjadi (2 m x 47 m x 70 m) untuk kolam 1-5 sehingga waktu pengendapannya menjadi 13,4 menit dengan waktu tinggalnya menjadi 1,1 jam. Dosis kapur yang dibutuhkan untuk settling pond lubang tambang adalah 0,038 kg/m3.This study aimed to determine the quality of coal mine wastewater in the inlet and outlet locations of the mining pit and stockpile of PT. BCS and evaluate the dimensions of the existing settling pond. The study used survey methods by collecting primary and secondary data. Coal mine wastewater quality standard was assessed based on the Regulation of the Governor of South Kalimantan No.36 Year 2008. The quality of wastewater at the outlet of mine pit settling pond for TSS, Fe, Mn, Cd and pH parameters respectively was 14 mg/l; 0,238 mg/l; 2,960 mg/l; 0,005 mg/l and 2,76 while at the outlet of stockpile settling pond is 11 mg/l; 0,112 mg/l; 1,220 mg/l; 0,004 mg/l and 6,11. The results of the calculation of settling time in the existing condition of the mine pit settling pond are 13 minutes and the retention time for ponds 1 to 5 is 8,2 minutes; 8,6 minutes; 12,4 minutes; 11,7 minutes and 24,2 minutes. Whereas in the existing condition of stockpile settling pond the settling time is 3,3 minutes and the retention time for ponds 1 to 3 is 6 minutes; 11,9 minutes and 8,7 minutes. The results of the calculation of the expansion of mine pit settling pond until 2028 is (2 m x 47 m x 70 m) for ponds 1 to 5 so that the settling time is 13,4 minutes with the retention time is 1,1 hours. The dosage of lime needed for mine pit settling pond is 0,038 kg/m3.
EVALUASI PENGELOLAAN LIMBAH CAIR TAMBANG BATUBARA DENGAN TEKNOLOGI SETTLING POND PT. BAHARI CAKRAWALA SEBUKU DI KABUPATEN KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Awfiyaa, Husna Nadhira; Haribowo, Riyanto; Prayogo, Tri Budi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air limbah tambang batubara di inlet dan outlet lokasi lubang tambang dan stockpile PT. BCS serta mengevaluasi kondisi dimensi eksisting settling pond. Penelitian menggunakan metode survei dengan mengumpulkan data primer dan sekunder.  Baku mutu air limbah batubara dinilai berdasarkan Pergub Kalsel No.36 Tahun 2008. Kualitas air limbah pada outlet settling pond lubang tambang untuk parameter TSS, Fe, Mn, Cd dan pH secara berurutan adalah 14 mg/l; 0,238 mg/l; 2,960 mg/l; 0,005 mg/l dan 2,76 sedangkan pada outlet settling pond stockpile adalah 11 mg/l; 0,112 mg/l; 1,220 mg/l; 0,004 mg/l dan 6,11. Hasil perhitungan waktu pengendapan pada kondisi eksisting settling pond lubang tambang adalah 13 menit dan waktu tinggal untuk kolam 1-5 adalah 8,2 menit; 8,6 menit; 12,4 menit; 11,7 menit dan 24,2 menit. Sedangkan pada kondisi eksisting settling pond stockpile waktu pengendapan adalah 3,3 menit dan waktu tinggal kolam 1-3 adalah 6 menit; 11,9 menit dan 8,7 menit. Hasil perhitungan perluasan settling pond lubang tambang hingga tahun 2028 menjadi (2 m x 47 m x 70 m) untuk kolam 1-5 sehingga waktu pengendapannya menjadi 13,4 menit dengan waktu tinggalnya menjadi 1,1 jam. Dosis kapur yang dibutuhkan untuk settling pond lubang tambang adalah 0,038 kg/m3.This study aimed to determine the quality of coal mine wastewater in the inlet and outlet locations of the mining pit and stockpile of PT. BCS and evaluate the dimensions of the existing settling pond. The study used survey methods by collecting primary and secondary data. Coal mine wastewater quality standard was assessed based on the Regulation of the Governor of South Kalimantan No.36 Year 2008. The quality of wastewater at the outlet of mine pit settling pond for TSS, Fe, Mn, Cd and pH parameters respectively was 14 mg/l; 0,238 mg/l; 2,960 mg/l; 0,005 mg/l and 2,76 while at the outlet of stockpile settling pond is 11 mg/l; 0,112 mg/l; 1,220 mg/l; 0,004 mg/l and 6,11. The results of the calculation of settling time in the existing condition of the mine pit settling pond are 13 minutes and the retention time for ponds 1 to 5 is 8,2 minutes; 8,6 minutes; 12,4 minutes; 11,7 minutes and 24,2 minutes. Whereas in the existing condition of stockpile settling pond the settling time is 3,3 minutes and the retention time for ponds 1 to 3 is 6 minutes; 11,9 minutes and 8,7 minutes. The results of the calculation of the expansion of mine pit settling pond until 2028 is (2 m x 47 m x 70 m) for ponds 1 to 5 so that the settling time is 13,4 minutes with the retention time is 1,1 hours. The dosage of lime needed for mine pit settling pond is 0,038 kg/m3.
PENERAPAN METODE STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) DAN EFFECTIVE DROUGHT INDEX (EDI) UNTUK MENGESTIMASI KEKERINGAN DI DAS REJOSO KABUPATEN PASURUAN Khairani, Dwi; Harisuseno, Donny; Suhartanto, Ery
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terdapat 19 desa di 5 (lima) kecamatan yang termasuk daerah rawan kekeringan di Kabupaten Pasuruan pada tahun 2018. Perlu adanya pemetaan sebaran kekeringan guna mengetahui wilayah mana saja yang menjadi prioritas dalam penanganan mitigasi dan adaptasi bencana kekeringan untuk instansi terkait. Kekeringan dianalisis dengan indeks kekeringan meteorologi metode Standardized Precipitation Index (SPI) dan Effective Drought Index (EDI). Hasil indeks kekeringan meteorologi dibandingkan dengan indeks kekeringan hidrologi utuk mengatahui hubungan kesesuaian terkuat di antara indeks SPI dan EDI. Kejadian kering terparah menggunakan metode SPI terjadi sebanyak 141 kejadian dan bulan terjadinya kekeringan terparah adalah bulan Januari dan April. Kejadian kering terparah menggunakan metode EDI terjadi sebanyak 237 kejadian dan bulan terjadinya kekeringan terparah adalah bulan Januari dan Februari.  Setelah dilakukan analisis hubungan kesesuaian indeks SPI dan EDI terhadap indeks kekeringan hidrologi, ditemukan korelasi negatif dan persentase kesesuaian bersifat lemah. Kemudian, diambil opsi membandingkan indeks SPI dan EDI terhadap data curah hujan bulanan. Indeks EDI memiliki hubungan terkuat terhadap data curah hujannya, yaitu sebesar 65,69%. Hasil sebaran kekeringan di DAS Rejoso Kabupaten Pasuruan menggunakan metode interpolasi spasial IDW dengan kategori Amat Sangat Kering terjadi di 30 desa.There are 19 villages in 5 (five) sub districts that are classified as drought prone areas at Pasuruan Regency in 2018. A drought mapping is needed to understand which areas are priority in handling drought mitigation and adaptation for related institution. Drought is analyzed by the meteorological drought index methods which are Standardized Precipitation Index (SPI) and Effective Drought Index (EDI). The results of the meteorological drought indexes are compared with the hydrological drought indexes to find out the strongest correspondence relationship between the SPI and EDI. A total of 141 cases of worst drought using SPI were occurred and the worst drought cases were happened in January and April. A total of 237 cases of worst drought using EDI were occurred and the worst drought cases were happened in January and Februari. After analyzing the relationship between the suitability of the SPI index and EDI to the hydrological drought indexes, it was found a negative correlation and the percentage of suitability was weak. And then, it is needed to take another option for comparing the SPI and EDI by using monthly rainfall data. The EDI index has the strongest correspondence relationship with rainfall data which is 65.69%. The result of the spatial drought distribution in the Rejoso Watershed Pasuruan Regency using IDW interpolation method with Extremly Dry category is occurred in 30 villages.
PENERAPAN METODE STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) DAN EFFECTIVE DROUGHT INDEX (EDI) UNTUK MENGESTIMASI KEKERINGAN DI DAS REJOSO KABUPATEN PASURUAN Khairani, Dwi; Harisuseno, Donny; Suhartanto, Ery
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terdapat 19 desa di 5 (lima) kecamatan yang termasuk daerah rawan kekeringan di Kabupaten Pasuruan pada tahun 2018. Perlu adanya pemetaan sebaran kekeringan guna mengetahui wilayah mana saja yang menjadi prioritas dalam penanganan mitigasi dan adaptasi bencana kekeringan untuk instansi terkait. Kekeringan dianalisis dengan indeks kekeringan meteorologi metode Standardized Precipitation Index (SPI) dan Effective Drought Index (EDI). Hasil indeks kekeringan meteorologi dibandingkan dengan indeks kekeringan hidrologi utuk mengatahui hubungan kesesuaian terkuat di antara indeks SPI dan EDI. Kejadian kering terparah menggunakan metode SPI terjadi sebanyak 141 kejadian dan bulan terjadinya kekeringan terparah adalah bulan Januari dan April. Kejadian kering terparah menggunakan metode EDI terjadi sebanyak 237 kejadian dan bulan terjadinya kekeringan terparah adalah bulan Januari dan Februari.  Setelah dilakukan analisis hubungan kesesuaian indeks SPI dan EDI terhadap indeks kekeringan hidrologi, ditemukan korelasi negatif dan persentase kesesuaian bersifat lemah. Kemudian, diambil opsi membandingkan indeks SPI dan EDI terhadap data curah hujan bulanan. Indeks EDI memiliki hubungan terkuat terhadap data curah hujannya, yaitu sebesar 65,69%. Hasil sebaran kekeringan di DAS Rejoso Kabupaten Pasuruan menggunakan metode interpolasi spasial IDW dengan kategori Amat Sangat Kering terjadi di 30 desa.There are 19 villages in 5 (five) sub districts that are classified as drought prone areas at Pasuruan Regency in 2018. A drought mapping is needed to understand which areas are priority in handling drought mitigation and adaptation for related institution. Drought is analyzed by the meteorological drought index methods which are Standardized Precipitation Index (SPI) and Effective Drought Index (EDI). The results of the meteorological drought indexes are compared with the hydrological drought indexes to find out the strongest correspondence relationship between the SPI and EDI. A total of 141 cases of worst drought using SPI were occurred and the worst drought cases were happened in January and April. A total of 237 cases of worst drought using EDI were occurred and the worst drought cases were happened in January and Februari. After analyzing the relationship between the suitability of the SPI index and EDI to the hydrological drought indexes, it was found a negative correlation and the percentage of suitability was weak. And then, it is needed to take another option for comparing the SPI and EDI by using monthly rainfall data. The EDI index has the strongest correspondence relationship with rainfall data which is 65.69%. The result of the spatial drought distribution in the Rejoso Watershed Pasuruan Regency using IDW interpolation method with Extremly Dry category is occurred in 30 villages.